CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH eisode 170


__ADS_3

HARI sudah semakin gelap,sinar matahari udah mulai meredup waktu sudah menunjukan pukul 5 sore.Waktunya semua karyawan menghentikan kegiatannya di kantor.


Banny menoleh ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kekarnya tersebut.


Acara meeting sore ini dengan beberapa klien mengenai bisnis perusahaanya itu sudah selesai.Banny dan Arnetta berjalan keluar dari ruangan meeting tersebut lalu menghentinkan langkahnya tepat di hadapan lift.


Seraya menunggu lift itu terbuka Banny merogoh gawainya yang berada di balik saku celananya,lalu menekan layar notifikasi ponselnya tersebut.


Arnetta yang sedari tadi memperhatikan sikap bosnya itu sedikit penasaran,sebab selama meeting berlangsung sang bos tampannya itu seolah-olah hilang kefokusannya sehingga beberapa kali pria tampan itu meralat akan ucapannya sehingga di buatnya terlihat gugup dan tidak tenang.


Entahlah,apa yang sedang terjadi kepada pria angkuh tersebut.


" Hallo !" Sapa pria itu setelah terhubung dengan seseorang via telepon.


Arnetta menatap lekat puggung datarnya pria tampan tersebut.


Tingg.....


Suara dentingan lift terdengar nyaring,lalu pintu lift itu terbuka.Banny beserta sekertarisnya itu memasuki kapsul lift tersebut secara bersamaan.


" Kamu dimana ?" Tanya Banny lantang.


" Apa,kamu sudah pulang ?" Balas kembali Banny dengan raut wajah kecewa.


" Kenapa kamu tidak menunggu ku ?" Alis pria tampan itu terangkat tinggi.


" Ok,aku mengerti !!" Ujar pria itu menjawab dingin.


Lalu tak menunggu lama ia pun mengakhiri panggilan tersebut dengan raut wajah tertekuk.


" Mas," Panggil Arnetta ragu mendapati raut wajah pria itu berubah kecewa.


Banny menoleh ke arah gadis cantik itu dengan perasaan malas.


" Mas akan langsung pulang ?" Tanya Arnetta memelan.


" Tentu saja." Jawab banny singkat.


" Hmm,gimana kalau sebelum pulang kita minum kopi sebentar ? agar kita lebih santai." Ujar gadis itu terlihat ragu untuk mengajak bosnya itu mampir ke sebuah caffe yang tak jauh dari gedung kantornya tersebut.


Namun sepertinya Banny menanggapinya hanya angin lalu.Banny tidak begitu terlalu memperdulikan tawaran gadis cantik itu.


Memang gadis itu siapanya dia?pacar bukan,melainkan hanya sebatas sekertarisnya saja.


Pikir pria itu melirik dengan ujung matanya.


" Tidak terimakasih !!" Balas Banny jutek.


Lift terbuka di lantai dasar Banny keluar dari dalam kafsul lift tersebut.Di dapatinya kedua sahabat Mona sedang berdiri memandang tepat ke arahnya yang keluar secara bersamaan dengan sekertaris cantiknya itu.


Sekilas Banny dapat menangkap kilasan pandangan kedua sahabatnya Mona yang menatap panjang ke arah dirinya beserta sekertarisnya tersebut.Namun bukan lah Banny jika harus menegur atau sekedar menyapa jika kebetulan bertemu dengan beberapa staff perusahaannya melainkan acuh dan dingin.


Arnetta berjalan dengan berusaha mengimbangi pria tampan itu.Mencoba mensejajarkan langkahnya.


Kedua sahabat Mona yang kebetulan pulang di jam yang sama hanya menatap sinis ke arah gadis itu yang berjalan dengan begitu semangat di samping bosnya tersebut.


Tepat di teras perkantoran itu Banny menghentikan langkahnya setelah melihat hujan begitu deras mengguyur bumi sore ini.


" Yahh hujan!" Pekik gadis cantik itu berseru dengan pilu.Seolah memberi kode agar pria tampan itu mengantarnya pulang.


Banny mengela napas setelah melihat hujan itu lumayan deras.


" Lumayan bikin dingin mas hujannya." Ucap lagi Arnetta berguman pelan namun cukup terdengar oleh telinganya Banny.Gadis itu berharap pria yang berdiri di sampingnya akan peka akan gumanannya tersebut dan bersedia merelakan jas hitamnya yang di kenakan pria itu di pakaikan kepada dirinya,layaknya seperti adengan romantis di dalam sebuah film-film yang pernah ia tonton.


Banny menoleh ke arah gadis cantik itu yang merapatkan tangannya ke tubuhnya.


Pria tampan itu melihat sikap gadis itu yang mencoba menarik simpatinya.


" Mas Banny akan pulang sekarang ?" Tanya Arnetta dengan lembut yang terdengar di buat-buat untuk menggoda bos tampannya tersebut.


Reaksi Banny tetap sama menatapnya dengan dingin.


" Ya !" Jawabnya singkat sembari menatap kembali ke arah hujan yang turun.


" Mas !" Panggil lagi Arnetta semakin lembut.


Banny menoleh kembali dengan menatap kaku gadis cantik itu.


" Kali ini saja,boleh kah saya pulang bersama mas?" Tawar Arnetta dengan terlihat mengiba.


Banny terdiam menatap resah ke arah gadis itu yang memintanya untuk pulang bersama dalam satu mobil.


Sejenak Banny mencoba mempertimbangkan permintan gadis itu.


Tak samapai hati juga jika ia harus membiarkan gadis itu pulang sendiri dengan menebus rinai hujan,dan setelah mempertimbangan pria tampan itu mengangguk.


" Baiklah !!" Akhirnya Banny menyetujui permintaan gadis cantik itu.


" Makasih banyak mas." Sorak gadis itu girang lalu dengan repleks melingkarkan kedua tangannya ke tangan kekarnya Banny, sang pria tampan itu terkejut melihat aksi genitnya gadis cantik tersebut.


" Kamu bisa jaga sikap ??" Desisnya dengan menatap dingin ke arah tangan gadis itu.


" Maaf mas !" Ucap Arnetta dengan segera melepaskan gendengan tangannya tersebut.


Banny menggeleng lalu berlari kecil menerobos air hujan itu guna menuju mobilnya yang terpakir di luar gedung perkantorannya tersebut.


__________


Banny mendorong pelan pintu di hadapannya,dengan perlahan dia memasuki ruangan afartemennya.Suasana ruangan terlihat begitu lengang seperti tak ada kehidupan.


Dengan perlahan pria tampan itu mendudukan tubuhnya di sofa besar yang berada di tengah ruangan tersebut dengan menghela napas kasar.


Pikirannya entah kenapa langsung tertuju kepada gadis sederhana itu.Dimana dia?sedang apa dia ? otaknya memberodong dengan berbagai pertanyaan.


Dengan begitu santai Banny melepas dasi serta jasnya lalu menghela napas panjang dengan perasaan yang begitu sesak.


Seorang gadis baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang masih basah,gadis itu mengenakan piaya berwarna hijau toska.


Banny melirik ke arah gadis itu dan menatapnya dengan sinis.


" Jadi hal penting itu yang kamu bicarakan terhadap nenek mu itu." Ujar pria itu dengan suara pelan namun itonasinya terdengar begitu kuat.


Mona baru menyadari jika Banny sudah berada di kamar afartemennya tersebut.Ia pun menoleh ke arah pria tampan itu dengan menyipitkan kedua matanya.


" Hal pentinga apa mas ?? " Balas Mona berpura-pura untuk tidak memahami.


Banny mendecih lalu tersenyum dengan kaku.


" Pantas saja kamu ingin sekali pergi ke rumah nenek kamu,ternyata ada sesuatu hal yang sedang kalian rencanakan ternyata." Ungkap Banny dengan nada yang tak biasa.


Tidak nyaman di curigai Mona menyeringai dengan perasaan kesal.


" Mas,maksud mas apa ?sungguh aku tidak mengerti." Mona mencoba bertanya dengan sikap yang baik.


Lagi lagi pria itu hanya tersenyum kian sinis seolah-olah ia muak dengan ketidak pahaman gadis tersebut.

__ADS_1


" Sepertinya aku tidak perlu penjelasaan dan kamu pun tidak perlu menjelaskan hal penting apapun." Ungkanya lagi dengan nada bicara yang begitu sarkastik.


" Mas,aku bertemu dengan Angkasa disana hanya kebetulan saja,sama sekali tidak di rencanakan." Sergah Mona,berusaha memberikan penjelasan.


" Kebetulan atau tidaknya,aku yakin jika pertemuan ini tak lain hanya untuk membahas perjodohan kalian.Benarkan ???" Tanya nya dengan tatapan yang begitu menakutkan.


Mona menghela napas panjang melihat sikap sinis pria tampan itu,dan seolah-olah jika Banny mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi antara dirinya dengan Angkasa di pertemuan tak sengaja tadi itu.


" Jadi mas berpikiran jika pertemuan aku dengan pak Angkasa itu di rencanakan hah ?" Mona terlihat mulai jengkel.


" My be?" Pria tampan itu mengangkat tinggi pundaknya dengan enteng lalu senyuman sinsinya menguar tajam.


" Mas," Panggil gadis itu tak lantas.


" Aku ingin istirahat.Aku tak bersela untuk bedebat." Ujar pria itu seraya beranjak dari duduknya.


" Aku pastikan,percerai an ini akan segera aku proses." Ujarnya lagi dingin seraya meninggalkan gadis itu yang masih melongo menatapnya tak percaya atas pernyataan yang terakhir di ucapkan pria tampan itu.


Perceraian ????


Semudah itu kah pikirannya berubah ???


Ratap Mona dengan menatap nanar langkah pria tampan itu yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


Yang benar saja ???


Pikir Mona dengan badan mulai terasa melemah.


Mona terlihat bingung dengan sikap pria tampan itu yang benar-benar menuduhnya telah merencanakan pertemuan dengan Angkasa.Padahal dirinya pun tidak menduga jika dia akan bertemu dengan pria itu di kediaman sang nenek secara tidak sengaja.


Yaa dapat di pastikan jika Banny memang salah paham atas permasalahan ini.


Mona menghela napas dengan kasar,rasanya permasalahan ini akan menjadi bomerrang untuk part kesekian kalinya.


Oh TUHAN !!!


Desahnya pilu.


Malam ini seharusnya ia memberi jawaban yang akan menggembirakan hati pria itu.


Seharusnya malam ini menjadi moment yang begitu mengesankan bagi dirinya untuk menerima cintanya pria angkuh tersebut.


Tapi kenyataannya,kenapa berubah drastis seperti ini ???


Rutuk Mona menatap kian pilu atas perasaannya itu.Ya rasanya hatinya ini terasa hancur mendengar kata perceraian itu terucap kembali.


Namun apalah daya,TUHAN selalu berkesan lain sehingga permasalahan ini muncul membuyarkan rencananya untuk menjawab daripada harapan yang di pertanyakan oleh sang pria tampan itu.


Mona berjalan mendekati meja riasnya lalu mendudukan tubuhnya dengan pasrah.Tatapan nya kosong menatap ke arah cermin,ia hanya mampu mematung dengan perasaan yang mulai meresahkan seisi perasaanya.


Entah kenapa ketakutannya kini menjelma kembali,apakah pria tampan itu berubah pikiran setelah melihat keberadaan Angkasa di rumah neneknya tersebut sehingga perceraian itu akan benar benar terjadi.


Meski memang tadi ada membahas masalah perjodohan itu,tapi dengan tegas dirinya menolak kembali akan perjodohannya itu .Dia datang menemui neneknya hanya ingin mengatakan jika dirinya akan menerima Banny sebagai suami sungguhan nya tanpa harus bersandiwara lagi.


Namun apalah daya,kesalah pahaman ini membuat rencannya gagal berantakan.


Gadis itu meraup wajahnya merasakan perasaannya kian hancur.Harus bagaimana lagi dia menjelaskan kepada Banny bahwa pertemuan itu benar benar murni ketidak sengajaan nya.Akan tetapi Banny telah di butakan oleh prasangka buruknya hingga menutup kebenaran itu.


Mona meremas pelan jemarinya guna menyalurkan resah yang perlahan hinggap.Bahkan,sudah berulang kali ia menarik dan menghembuskan napas nya pelan pelan.


Mencoba menenangkan jantungnya yang sejak tadi berdekup kencang setelah melihat amarah pria tampan itu hingga berniat akan menceraikan dirinya.


Astaga TUHAN !!! kenapa berubah secepat ini ??


Rasanya sesakit ini perkataan yang di lontarkan pria tampan itu dan pria itupun enggan menerima kebenarann yang terjadi.


_______


Banny tengah memasuki ruangan kerjanya dengan pandangan dingin.Tidak ada senyuman yang tulus dari bibir pria itu setibanya di kantornya tersebut sehingga membuat seluruh karyawannya yang berpapasan hanya memanggutkan kepalanya dengan perasaan takut akan diamnya sosok pria pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Dengan kasar pria tampan itu mendorong kuat pintunya lalu membiarkanya sedikit terbuka.Berjalan mendekati meja kerjanya dan menyimpan tas kopernya di atas meja.


Ia pun meletakan gawainya tepat di samping laptop lalu pandangannya menyapu ke arah menja kerjanya tersebut.


Tap.....


Tatapannya tertuju pada sebuah map yang sudah tersimpan rapih di atas meja tugasnya tersebut,tak lama kemudian mata elangnya mengernyit setelah melihat ke arah vas bunga yang kini berubah warna.Kini bunga mawar putih itu terggantikan oleh seikat bunga mawar merah merona,dan disana pun tersedia secangkir kopi susu hangat favoritnya yang sudah terhidang dengan aroma yang begitu khas.


Sejenak pria tampan itu berpikir.


Adakah Ob baru yang merapihkan ruangannya itu sehingga sedikit merubah tataan benda-benda yang setiap harinya menghiasi meja kerjanya tersebut.


Antensinya teralihkan setelah mendengar pintu ruangannya terketuk.


" Masuk !!" Balasnya pelan.


Seorang gadis menyembul dari balik pintu dengan penampilan yang begitu sempurna.


Sesaat Banny terkesima menatap ke arah gadis itu,terpaku dengan penampilan menawannya gadis cantik itu.Semerbak aroma parfumnya seketika menguar ke seantereo ruangannya tersebut.


Arnetta tersenyum lembut dengan menampilkan senyuman sensualnya,namun dengan cepat Banny segera mengalihkan tatapannya dan berusaha mengusir perasaan yang mulai tak biasa,sekuat tenaga dia menenggelamkan perasaannya tersebut.


" Pagi mas !" Sapa gadis cantik itu seraya berjalan mendekat.


" Pagi Ane !" Balas pria tampan itu seraya mengalihkan perhatiannya untuk tidak menatap lama wajah gadis itu yang terus menerus tersenyum dengan cemerlang.


" Mas,itu ada beberapa berkas yang harus mas tanda tangani yang sudah di siapkan oleh pak Hendra tadi pagi." Jelas Arnetta menatap dengan lembut.


" Ok,thank's !" Jawab pria tampan itu singkat.


" Siang ini akan ada kunjungan dari pimpinan pemilik PT Angkasa group mas,ada beberapa hal yang akan di bahas oleh beliau." Ungkap Arnetta dengan lugas.


Banny menghentikan dari kegiyatannya yang sedang mengecek berkas berkas tersebut yang hendak ia tanda tangani.Perlahan lalu ia pun mengangkat sedikit wajahnya menatap tajam ke arah gadis cantik itu.


Entah kenapa ia merasa perasaanya terusik ketika harus mendengar nama sang pemilik perusahaan tersebut.


Perasaanya sejadi-jadi menjadi marah serta gusar.


Sesaat ia seperti sedang berpikir namun dengan cepat ia memberikan kepastian.


" Tolong kamu cansel kunjungan itu !!" Titahnya dengan jutek.


" Apa mas ??" Arnetta tercekat setelah mendengar titah pria itu yang begitu kejam untuk mengcansel pertemuan yang sudah di agendakannya tersebut.


" Tapi mas,sebelumnya kita memang sudah ada janji dengan pemilik perusahaan tersebut mengenai sistem....." Belum juga gadis cantik itu menyelesaikan ucapannya,pria tampan itu segera memotong kalimat gadis cantik itu dengan raut wajah menyeramkan.


" Lalukan perintah saya dan jangan membantah !!" Gertaknya dengan galak.


Arnetta membisu menatap dengan berbagai perasaan.


" Baik mas !" Jawab gadis cantik itu pasrah.


" Siang ini tolong kamu aturkan waktu makan siang saya nanti dengan Zenanu,kamu hubungi dia atas nama saya." Jelas Banny dengan wajah kian asam.


Bibir tipis gadis cantik itu terlipat dalam.Sedikitnya gadis cantik itu mulai bisa memahami karakter sang pria tampan itu sehingga tidak melakukan perlawanan apapun lagi.

__ADS_1


" Baik mas." Ucap Gadis cantik itu mengangguk.


" Dan satu hal lagi,saya tidak suka jika meja kerja saya ini ada yang merubahnya sedikitpun !!apapun itu bentuknya." Ujarnya dengan intonasi semakin dalam.


Arnetta menenggelamkan kepalanya dengan pilu,ia salah telah begitu lancang mengganti bunga itu dengan bunga yang lain.


" Maaf mas,tadi saya hanya mengganti bunganya saja.Karena bunga sudah tidak segar lagi." Balas Arnetta dengan menatap takut.


" Kenapa harus mawar merah ?saya tidak suka bunga warna itu." Banny menatap galak gadis cantik itu.


" Maaf mas,nanti saya akan ganti lagi." Balas Arnetta kian panik.


" Kopi susunya terlalu manis !" Sela Banny dingin.


" Untuk kopi susunya saya yang membuat mas,karena Lisa hari ini ijin cuti." Jelas Arnetta dengan harap harap cemas.


" Aku tidak suka minuman yang terlalu manis.Dan jangan lupa tolong ganti bunganya dan singkirkan bunga warna ini !!" Ucap pria tampan itu bengis tanpa ampun lagi.


Mona tercekat mendengar titah pria tampan itu yang begitu sadis.


" Kamu bekerja sebagai sekertaris saya,bukan offis girls." Ucap pria itu menegaskan suaranya.


" Saya minta maaf mas !" Ucap Arnetta mengangguk penuh hormat seraya mengambil vas bunga yang berisikan seikat mawar merah cantik tersebut.


Banny menggeleng dengan perasaan kesal.Gadis cantik itu berjalan mundur lalu membalikan badannya melangkah keluar meninggalkan ruangan Direktur itu dengan helaan napas yang cukup menegangkan.


Sumpahh !!! ini adalah kesekian kalinya bosnya tersebut membuat perasaanya semakin tak nyaman.


Tidak !! harus kuat.Bantin gadis itu dengan lirih.


Banny menggeleng frustasi menatap seluit gadis itu yang menghilang di balik pintu.


Rasanya emosinya terasa kian membuncah jika dia harus mendengar nama Angkasa mampir di telinganya tersebut.


Rasanya amarah itu kian terasa begitu besar mengalir di peredaraan darahnya.


Sejak bangun tidur ia merasakan hawa perasaanya semakin tak menentu.Tentu saja ini efek dari kemarahan dirinya terhadap Mona,istri dari sandiwaranya tersebut.


Bahkan saking masih emosinya,dirinya membiarkan Mona berangkat menggunakan kendaraan umum,ia berangkat terlebih dahulu tanpa mengantarkan Mona ke kantornya.perasaan cemburunya benar benar menutup akal sehatnya tersebut.


Benar benar telah di kuasai prasangka buruk sehingga membutakan mata hatinya.Entah kenapa jika dirinya berkeyakinan,bahwa Mona akan menerima kembali perjodohan tersebut,sebab itu lah Mona ragu menerima permintaan dirinya untuk menjadi istri sungguhannya.


________


Banny meletakan garfu beserta sendok di piringnya lalu ia menyeka bibirnya dengan tisu.


Gadis cantik yang menjadi sekertarisnya itu duduk menemani pria itu dengan wajah begitu berseri-seri.


Tentu saja,moment seperti ini tak akan terlewatkan begitu saja olehnya.Bisa duduk berdua menemani pria tampan itu makan siang.


" Jam berapa Zeanu akan datang ?" Banny menatap gadis cantik itu yang sedang menikmati santapannya.


" Mungkin beberapa menit lagi beliau akan tiba.Tadi sempat bilang pada saya,jika dia agak sedikit terlambat." Jelas gadis cantik itu dengan lembut.


Pria tampan itu mengangguk paham.


Mereka sudah 15 menit yang lalu berada di caffe tersebut namun mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata indah dengan sedikit berkaca-kaca menatap ke arah mereka.


" Mas,ternyata jus buah naganya enak juga,mas mau coba ?" Jelas Arnetta seraya menyodorkan gelas berisi jus buah miliknya ke arah Banny.Namun di abaikan oleh pria dingin itu.Justru salah satu tangan Banny terulur mengambil secangkir kopi susu hangat yang sudah ia pesan,lantas menyesapnya dengan pelan.Netranya menatap ke berbagai pelosok ruangan tersebut.


Gelas jus buah milik gadis itu masih terangkat di udara.


" Mas tidak suka jus buah ?" Tanya lagi gadis cantik itu dengan penasaran.Berusaha untuk menarik perhatiann sang pria itu.


" Aku tidak suka !" Jawabnya singkat.


" Mas,jus itu baik untuk kesehatan loh,coba deh !" Rayu gadis itu tetap berusaha menawarkan kembali.


Banny menatap dingin ke arah wajah gadis itu.Selintas raut wajah gadis cantik itu mampu menarik kembali perhatiannya.Farasnya yang cantik mampu membuatnya menikmati kencantikannya tersebut.


" Ayolah coba mas !" Kekeh gadis itu begitu antusias.


Pria tampan itu tak bergeming hanya saya kepalanga menggeleng menolak dengan pasti.


" Mas,bibirnya belepotan !" Repleks gadis cantik itu ketika melihat ujung sudut pria tampan itu lalu ia pun mengambil tisu di atas meja dan mengusapkannya ke sudut bibir Banny yang terdapat bekas kopi susu yang sempat tadi ia sesap.


Sesaat mereka pun terlibat aksi tatap tatapan.


Setetes air mata lolos dari kelopak matanya yang indah.Entah kenapa hati sang pemerhati sejak tadi itu merasa marah menatap ke arah mereka yang sejenak hanya saling tertahan dengan menatap satu sama lain.Hatinya sakit karena cemburu.dia saja istri sahnya pria tampan itu tidak berani mengelap sudut bibirnya,kenapa gadis cantik itu berani menyentuhnya.Adalah Mona yang sedari tadi memperhatikan dengan jelas sikap Banny dengan sekertarisnya tersebut.Dan Banny pun tidak sama sekali menolaknya.


Dengan perasaan tak tahan seseorang yang sedari tadi menyaksikan ke arah gadis dan pria itu akhirnya beranjak lalu berjalan melintas ke arah hadapan pria itu berusaha menyadarkan aksi tatap tatapan gadis cantik itu dengan pria tampan tersebut.


Dengan sengaja Mona berjalan melewati dimana Banny dan sekertarisnya itu sedang makan siang.


" Mas !" Panggil seorang perempuan itu memanggil seorang pelayan dengan suara cukup lantang.


Banny menoleh ke arah suara lantang perempuan tersebut dan di lihatnya Mona menduduki kursi yang tak jauh darinya.


Deggg....


Mata pria tampan itu membelalak,menatap tak berkedip hingga terlihat kesusahan menelan salivanya.


Dengan cepat Banny menarik wajahnya dari tangan sekertarisnya itu yang masih menempel di ujung bibirnya lalu merubah posisi duduknya dengan perasaan tak menentu setelah melihat keberadaan Mona di caffe tersebut secara tiba tiba.


Mengetahui perubahaan sikap bosnya tersebut Arnetta merasa heran,lalu ia pun menoleh ke arah tatapan pria tersebut dan ia pun berhasil di buatnya terkejut setelah melihat kehadiran Mona di tempat tersebut.


" Mas,ada ibu !" Pekik Arnetta menatap tidak enak.Namun entah kenapa ia merasa puas dengan apa yang di lihat Mona antara dirinya dengan pria itu.Ia menduga jika gadis itu merasa cemburu atas aksinya tersebut.Gadis cantik itu tersenyum penuh kemenangan ke arah gadis itu.


Mona membuang muka dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Banny membisu dan memilih bersikap abai.


" Aku panggil ya Mas." Bisik Arnetta dengan lembut.Tak ingin terlihat buruk gadis cantik itu berusaha bersikap baik.


" Tidak perlu !!" Sergah Banny acuh.


Arnetta mengernyit menatap sikap pria tampan itu.


Seperti ada sesuatu hal yang sedang terjadi antara pasangan itu.Pikir Arnetta dengan sedikit menoleh ke arah Mona yang sedang duduk tanpa teman di meja yang tak jauh dari tempat duduknya tersebut.


Apakah ini ada hubungannya dengan ketidak fokusan bosnya di beberapa hari yang lalu ??


Pikir Arnetta berusaha menebak.


" Sebaiknya kita kembali ke kantor !" Ujar Banny singkat.


" Tapi mas,bukannya kita sedang menunggu pak Zeanu,teman mas untuk bertemu ?" Alih Arnetta dengan heran.


" Ganti lokasi,pertemuannya di kantor saja." Imbuh pria itu semakin mempersingkat jawabannya.


Arnetta menghela,dugaanya benar jika di antara bos dan istrinya itu sedang terjadi sesuatu yang menegangkan sehingga kehadiran perempuan itu begitu sangat mengusik keberadaan pria tampan itu.


" Baiklah !!" Ucap gadis cantik itu tersenyum lega.


Seperti ada kemenangan yang sebentar lagi dapat ia raih.

__ADS_1


__ADS_2