CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 33


__ADS_3

 


BANNY duduk menghadap lurus ke arah Mona dengan raut wajah Mona mulai memucat,lalu Mona mengalihkan pandangannya kearah sang nenek yang masih tersenyum penuh arti ke arahnya entah apa yang ada dalam benaknya, namun ia sekilas menangkap ekspresi lebih dari rasa terharu.


Senyuman sang nenek semakin lebar ketika melihat Mona salah tingkah jika sedang berhadapan dengan kekasihnya itu.


Mona melirik kecil ke arah Banny yang masih memandanginya dengan tatapan seolah-olah menelanjangi dirinya Mona merasa ada yang berbeda dengan tatapan sang Bosnya itu sehingga membuat ia tak nyaman dan mendadak gerogi.


 


" Nak Banny,terimakasih banyak ya sudah mau memenuhi undangan nenek.Jujur saja nenek sangat bahagia karena pada akhirnya Mona bisa juga mendapatkan seorang pacar." Ucap Nenek dengan menoleh Mona yang masih terdiam dengan wajah kakunya.


" Padahal nenek sudah mulai khawatir loh akan keadaan Mona yang masih saja trauma dengan masa lalunya ." Jelas nenek dengan melirik Mona.


" Nenek !!" Sela Mona dengan cepat menyela ucapan sang neneknya seraya mendelik tajam ke arah sang nenek yang akan berbicara kembali. 


Banny menoleh ka arah Mona yang raut wajahnya berubah pias yang menatap lurus sang nenek.


Sontak hal itu membuat Banny merasa penasaran dengan apa yang akan di bicarakan kembali oleh sang nenek.


" Nenek,Apa penting menceritakan masa lalu ?" Sela Mona dengan melirik ke arah Banny yang masih memandanginya sedari tadi.


" Loh memangnya kenapa ?Kalian kan sudah mau serius apa salahnya nenek menceritakan masa lalu kamu,Setidaknya nak Banny tidak menyia nyiakan kamu dan akan menjaga kamu dengan sepenuh hati." Jelas Sang Nenek sembari tersenyum simpul.


 


" *Mampus dah gue.Kenapa jadi begini see yaa TUHAN*.!!" 


Pekik Mona ngebatin.


Mona melirik Banny dengan ragu dia berharap Banny tidak akan berminat untuk menanggapi perkataan sang Neneknya,Namun Ternyata Banny sedari tadi menyimak dan memperhatikan sikapnya yang terlihat gelisah.


 


" Memangnya Apa yang telah terjadi sama Mona nek ?" Tanya Banny yang masih menatap kaku Mona seolah olah ia mulai penasaran dengan cerita sang nenek.


 


" Nek !.Sepertinya Banny harus pulang karena besok Banny harus kerja lagi,jadi... Kapan kapan lagi kita ceritanya ya ! takutnya Banny kemalaman pulanganya kan kasian Nek." Sela Mona seraya bangkit dari duduknya lalu ia pun duduk percis di sampingnya Banny.


" Masyaallah Nenek lupa saking senengnya ngobrol,Yaa sudah kapan kapan lagi kita cerita ya Nak Banny." Jawab si Nenek dengan tersenyum lembut.


Mona tersenyum terpaksa ke arah Banny dan ia seolah olah mengisyaratkan untuk meminta sang Bosnya untuk segera pulang.


" Sayang besok kita kerjakan ?Jadi kapan-kapan lagi kamu bercerita sama nenek aku ya." Ucap Mona dengan berpura-pura bersikap manis terhadap Banny.


padahal Sejujurnya Mona merasa risih dengan sikap manisnya itu terhadap sang Bos rasanya ia mendadak migren ketika ia harus bersikap manis layaknya sepasang kekasih.


Banny mengernyitkan kedua alisnya dan menatap Mona dengan perasaan campur aduk lalu Banny pun menatap lucu ketika melihat tingkah Mona yang ikut serta dalam sandiwara yang di ciptakannya itu mau tak mau Monapun harus bisa mengimbanginya.


 


" Oh.Ya." Jawab Banny dengan terlihat mati gaya.


Banny merasakan jika untuk saat ini ia seperti bukan seperti dirinya sendiri yang selalu bersikap tegas dan dingin.Tetapi kali ini dirinya benar benar terlihat seperti kambing ompong yang melongo dan tak tau apa yang harus di lakukannya.

__ADS_1


 


" Oke Nek Banny pamit dulu ya !" Ucap Banny dengan segera bangkit dan merapihkan jas bajunya.


" Iya Nak Banny,Sekali lagi Nenek ucapkan terimaksih banyak kerena nak Banny sudah mau berkenan datang." Ucap sang Nenek dengan ikut berdiri.


Banny tak menjawab dia hanya mengangguk pelan sementara Mona hanya menatap cuek ke arah Banny yang mulai berjalan menuju pintu.


 


" Mona ! Antarkan Nak Banny sampe mobil,Kok kamu malah cuek cuek aja see." Ucap sang nenek sedikit kesal melihat sikap Mona.


 


" Haah...!!!" Pekik Mona polos ia menatap Banny yang sudah berdiri di ambang pintu dengan pandangannya yang mulai menakutkan.


" Baiklah.." Jawab Mona dengan cepat menghampiri ke arah Banny lalu berjalan di sampingnya untuk keluar.


Sang Nenek hanya menggeleng seraya tersenyum lucu ketika melihat sikap Mona yang masih canggung terhadap Banny.


Dengan terpaksa Mona menggadeng tangan sang Bosnya itu meski dalam keadaan setengah tak percaya ia berjalan beriringan menuju ke mobilnya Banny.


Seperti adegan di sebuah sinetron Mona di tuntut harus terlihat mesra dalam menggandeng tangannya Banny,Padahal dalam kenyataannya Banny adalah seorang CEO yang benar benar di segani olehnya.


" Maaf ya Pak." Bisik Mona dengan tersenyum kaku sementara Banny hanya membuang jauh pandanganya tanpa ekspresi.


Sesampai di hadapan mobil mewahnya Banny Mona segera melepaskan gendengannya dan segera menjaga jarak seraya menatap lurus ke hadapan sang Bosnya itu.


" Maaf pak saya sudah lancang." Ucapnya seraya membungkuk penuh hormat.Banny tidak menjawab ia segera merapihkan lengan baju jasnya yang bekas Mona gandeng.


 


" pikiran saya berubah ketika melihat raut wajah nenek kamu.Nantilah saya akan cari waktu yang tepat untuk mengakhiri sandiwara ini." Ucap Banny seraya membuka pintu mobilnya.


" Tapi saya jadi tidak enak pak.Kebohongan ini pasti akan terus berlanjut kalau bapak tidak berterus terang secepatnya.Gini saja pak gimana kalo saya saja yang akan mengatakan semua ini kepada nenek saya. ?"


" Jangan !!" Sergah Banny dengan cepat.


Mona mendongkak dan menatap lurus ke arah wajah sang Bosnya itu yang mulai gamang.


" Maksud saya jangan dulu.Biar saya saja yang akan mengakatakan semuanya." Ucap Banny dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


 


Dahi Mona mengerut mendandakan suatu kejanggalan dari raut wajah Banny yang tak sengaja tertangkap basah olehnya ketika menatapnya penuh arti.


" Tapi kebohongan ini awal akhir akan ketahuan juga pak,Menurut saya lebih baik bapak sekarang saja berterus terang sebelum makin rumit kedepannya."Ucap Mona dengan tetap menatap lurus Banny.


 


" Nanti saja itu kamu urusin! Ikutin saja apa mau saya dan Sekarang kamu istirahat saja." Ucap Banny dengan nada suara kaku lalu ia menutup pintu mobilnya dan tak lama ia menyalakan mesin mobilnya.


Mona menganga tak percaya dengan apa yang di katakan sang Bosnya itu Bibirnya terasa kelu entah apa yang akan di rencanakan sang Bosnya selanjutnya untuk dirinya itu.


Mobil Banny perlahan lahan berjalan meninggalkan pelataran rumah Mona sedikitpun Banny tidak menghiraukan Mona yang masih berdiri memandanginya. Mobil Bannypun perlahan lahan menjauh.Sedangkan Mona masih tertegun menatap laju mobil itu dengan begitu lekat.

__ADS_1


 


" Nak Banny itu ganteng sekali ya Mon udah gitu baik lagi,Tapi sepertinya ia tidak terlalu banyak bicara ya? seperti pendiam gitu orangnya." Tiba tiba sang Nenek sudah berdiri di sampingnya Mona yang masih terus menatap Mobil Banny yang sudah jauh darinya.


 


Mona hanya menggangguk tersenyum pasi dan menoleh ke arah sang nenek yang memasang wajah sangat bahagia.


Mona menarik napas panjang saat ia teringat akan ucapan sang bosnya yang ingin berterus terang kepada neneknya namun Banny mengurungkannya dengan dalih tak tega melihat raut wajah sang nenek yang begitu tulus menyambut kehadirannya.


Banny sepertinya tidak mau merusak kebahagian sang neneknya sehingga Banny tidak sanggup untuk jujur.Dan ternyata selama ini Mona sudah berpikiran buruk kepadanya Bosnya itu.


Selama ini ia selalu beranggapan berbalik dengan pikirannya terhadap sang bosnya itu dan kini pikiran itu di patahkannya setelah melihat sikap Banny yang begitu tulus menghargai perasaan Neneknya.


 


" Semoga kalian berjodoh dan secepatnya menikah." Ucap sang Nenek seraya mengelus ngelus pundak Mona dengan penuh kasih sayang.Ada yang berdesir di dalam perasaan Mona do'a yang di ucapkan sang nenek begitu dalam tersimpan di hati Mona,Itu entah harapan ataukah hanya hiasan mimpi di siang bolong saja jika harus mengaamiinkan do'a sang nenek yang terlalu muluk baginya.


 


Mona tesenyum hambar ia tak tau harus mengakhiri dengan apa sandiwaranya ini.


" Ayo Mona kita masuk !Oia Nak Banny itu pekerjaanya apa Mon ?" Tanya sang nenek dengan mengandeng mesra Mona.


GLEEKKK.......


Mona hampir terkejut di buatnya ia menatap pias ke arah sang Nenek dengan sorot mata yang benar benar syok.


Bingung setengah mati akan pertanyaan sang Nenek yang terlontar dari mulutnya itu dan sandiwara apa lagi yang akan di jadikan babak kedua olehnya atas jawaban dari pekerjaan seorang Banny.


Mona terdiam seraya tersenyum kaku ia pun segera merangkul sang nenek dan memapahnya masuk kedalam rumah.


" Hmm..Itu,Anu....,Banny satu kantor sama Mona." Ucap Mona dengan ragu.


" Oalah.....,Satu kantor sering ketemu dong yaa ?." Ucap sang Nenek polos lalu sang nenek pun menutup pintu.


" Nek Mona istirahat dulu yaa.." Ucap Mona mulai tidak nyaman dengan sorot mata sang Nenek yang terlihat bersiap siap untuk bertanya lagi tentang sosok Banny.


 


" Ya sudah istirahat sana.Oya besok sampai kan salam nenek buat Nak Banny ya." Ucap Sang nenek dengan semeringah.


Mona mengangguk seraya tersenyum simpul dan dengan cepat ia bergegas memasuki kamarnya.


Mona bersandar di balik pintu dengan perasaan yang cukup dalam.Ia berpikir keras kenapa ceritanya harus begini


Semua ini di luar dugaannya jika ia harus terjerat dalam sandiwara yang cukup rumit ini sedangkan untuk mengakhirinya ia harus punya nyali cukup kuat untuk menerima konsekwensinya dari sandiwara ini dan ini menyangkut sebuah kepercayaan sang Neneknya terhadap dirinya.


" Kenapa juga sii pak Banny itu harus ngaku ngaku pacar gue,kan jadi panjang ini." Gumannya dengan kesal lalu ia pun menjatuhkan badannya di kasur empuknya dengan posisi telungkup.


Tetapi ada perasaan yang menganjal dalam pikirannya akan sosok Banny yang begitu saja merasa iba terhadap sang neneknya malahan justru Banny dengan sengaja tidak mengatakan apa yang menjadi kebenarannya.


Mona mencoba berpikir keras alasan apa yang begitu kuat hingga Banny membatalkan rencananya untuk mengatakan siapa dia sebenarnya terhadap sang Nenek itu.


Di usap usapnya wajah Mona dengan kedua telapak tangannya dengan frustasi ia pasrah atas apa yang akan di rencanakan oleh sang Bosnya kedepannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2