CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 160


__ADS_3

MONA melempar tasnya ke atas kasur dengan kasar,lalu taklama tubuhnya ikut terhempas di atas kasut empuk tersebut.Membiarka tubuhnya terbaring dengan pasrah.


Mona menatap jauh ke langit kamarnya merasakan perasaan kian terbawa oleh suasana hatinya.


Banny pria angkuh itu yang selalu menatapnya dingin akan tetapi kali ini sorot mata pria itu selalu terasa hangat bahkan dalam setiap kali ada kesempatan,tatapan itu benar-benar berbeda dan sosok pria itu selalu menunjukan sikap perhatiannya.


Walau tidak seutuhnya pria itu menunjukan perhatiannya namun terkadang aksinya itu tak ayal membuat dirinya merasa terlena.


Ah rasanya ia ingin sekali merobek isi hati pria itu dan memastikan adakah nama dirinya yang bertahta di dalam hati pria dingin tersebut.


Gadis itu terbagun mengubah posisinya menjadi duduk,tak lama ia pun membuka sanggulnya lalu membiarkan rambutnya terurai.Ia berusaha memijit kepalanya dengan perlahan yang terasa berdenyut hebat.Akhir-akhir ini kepala sering terasa sakit,apa mungkin karena dia terlalu memikirkan pria dingin itu beserta pekerjaan nya yang baru saja ia terima dari mertuanya tersebut ?


Akh rasanya terlalu lemah jika dirinya harus sesetres itu menanggapi permasalahan ini.


Tentunya ia harus memutar keras otak untuk tetap merasa waras akan situasi yang sedang menekan alam sadarnya.


" Minumlah !!" Banny tiba-tiba membawakan beberapa obat di tangannya dengan segelas air putih.


Mona mengangkat wajahnya lalu menatap heran atas sikap pria tampan berwajah dingin tersebut.


" Untuk apa ? " Tanyanya penuh selidik.


" Sepertinya kamu sedang merasakan sakit kepala,aku perhatikan dari tadi kamu memijat kepala kamu terus." Jelas Banny datar.


Mona menatap pria itu dengan berbagai perasaan,ada apa pria ini hingga sepeduli itu kepadanya ?


Mona menatap penuh curiga.


" Tenang saja ini bukan pil tidur,ini hanya obat pereda sakit kepala." Ujar pria itu setelah melihat reaksi Mona yang terlihat ragu untuk menerima obat darinya.


Banny masih menunggu rekasi gadis itu yang masih menatapnya dengan berbagai prasangka.


" Yaa kalau kamu tidak mau tidak apa,aku hanya ingin membantumu untuk meredakan rasa sakit di kepala kamu itu." Ujar pria itu berkeinginan mengurungkan niatnya.


" Mas tahu dari mana jika aku sakit kepala ? " Tanya Mona datar.


" Aku merhatiin kamu sedari tadi memegangi terus kepala mu." Ucap Banny pelan.


" Saya tidak sakit kepala.Hanya butuh tenang saja." Ucap Mona tertunduk.


Banny menghela,di rasa ucapan gadis itu terlalu mengada-ngada.


Banny mendecih lalu melangkah menuju nakas di samping tempat tidurnya dan meletkan obat-obat itu di atas nya.


" Pastinya kamu sedang memikirkan perceraian kita ini,kenapa harus tertunda ?" Tanyanya menoleh ke arah Mona.


" Saya sedang tidak ingin membahasnya." Balas Mona pelan.


" Kenapa ? " Lagi-lagi pria itu bertanya dengan begitu penasaran.


" Boleh saya minta mas tinggalkan saya sebentar saja,saya ingin istirahat." Ujar gadis bermata indah itu menghempaskan napas kasarnya.


Banny menghela sesaat permintaan gadis itu terasa mengusirnya secara tidak langsung.


Banny menatap panjang ke arah gadis itu,dan gadis itu pun hanya mengabaikan nya dengan pasrah.


" Minum obatnya dan istirahatlah." Ucap Banny seraya berjalan menuju pintu.


Mona terdiam dengan meremas lembut rambutnya dengan perasaan yang dalam setelah melihat sikap pria itu begitu peduli kepadanya.


**********


Mona di buat terkesima akan melihat penampilan Banny yang begitu berbeda malam ini,yang biasa pria itu mengenakan kaos oblong dengan celana pendek kali ini kesan pria dingin di diri Banny sekejap lenyap di balik sweater panjang dengan celana joger yang di kenakannya.


Dari pertama kali lihat Mona kerap melihat pria itu selalu mengenakan pakaian formal,tak pernah lepas dari balutan kemeja dan juga tuskedo yang selalu membuat penampilan pria itu terkesan angkuh dan membuat siapa saja membeku saat melihatnya.


" Astaga !! kenapa dia setampan itu ?" Mona terhenyak dan ia pun nyaris kehilangan kata-kata saat memergoki dirinya yang tengah diam-diam memperhatikan Banny yang melangkah menuju balkon afartemennya.


Banny melenggangkan kakinya keluar kamarnya dan Meletakan secangkir kopi panas di atas meja yang sudah tersedia disana lalu pria tampan itu pun mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kota menikmati udara malam yang terasa dingin.


" Haiss...." Mona mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur setelah pria itu tidak peduli akan kehadirannya.Ia pun merasa sebal setelah pria itu mengabaikan begitu saja.


" Meyebalkan !!" Mona memutar kedua bola matanya.


Mona memaksakan diri untuk beranjak dari duduknya dan bergerak menuju dapur setelah merasakan lapar yang luar biasa meneror perutnya.


Padahal jauh dari lubuk hatinya ia sudah merasa malas jika harus keluar dari kamarnya dan mencari makanan di dapur di jam malam seperti ini.


Namun apalah daya isi perutnya semakin membuatnya tak karuan,Mona menggerutu kecil sesaat perutnya terasa benar-benar tidak bisa di ajak berkompromi lagi.


Perlahan Mona menginjakan kakinya di atas ubin lantai tersebut lalu perlahan berjalan dengan sangat hati-hati,ia tak ingin membuat antesi pria itu teralihkan kepadanya.


Mona perlahan berjalan mengendap-ngedap bak seorang pencuri,ia pun menuju lemari es lalu perlahan pintu lemari es tersebut di buka.Bola matanya menyapu ke seluruh isi kulkas tersebut dan di sana hanya ada buah-buahan segar serta beberapa botol minuman segar.Mona menarik napas,kebingungannya kian melanda atas apa yang akan di makan nya untuk memberinya makan pada caing-cacing yang sudah berkerumun heboh di dalam perutnya tersebut.


Tampa berpikir panjang ia pun mengambil dua buah apel ia berharap bisa menganjal rasa laparnya tersebut.


" Kamu lapar ??" Tiba-tiba suara bariton itu mengejutkan dari arah belakang.


Mona tersentak ketika dirinya hendak mebalikan tubuhnya dan pria tampan itu berdiri tepat di hadapannya.Mona menatap kaget sejak kapan pria tampan ini berada di belakangnya ? Wajah gadis itu terlihat panik sekaligus terlihat menahan malu.


Nyaris saja buah apel yang berada di tangannya terloncat cantik dari gengamannya.


" Heu !!" Mona terlihat gugup.


" Kita cari makan di luar !" Ucap pria tampan itu menatap dingin.


" Tidak usah,saya tidak terlalu lapar kok." Balas Mona dengan memalingkan wajahnya.Ia berusaha menghindari tatapan teduh pria itu.


" Aku tidak suka berbohong,ikut saja denganku !" Ucap pria itu dengan menarik tangan gadis itu dan menuntunnya untuk keluar.


Mona tidak bisa menolak sesaat pria itu menariknya dan berjalan mendekati pintu apartemennya tersebut.Mona hanya menurut tampa banyak berkomentar.


" Kita cari makan dimana ?" Tanya Mona menyela di tengah perjalannya.


" Kita cari di restoran yang masih buka di jam seperti ini." Ucap Banny menoleh gadis itu.


" Sebaiknya kita cari makanan di sekitar afartemen ini saja." Usul Mona menatap sempurna.


" Maksud kamu ? " Banny menyeringah.


" Saya sudah lama tidak makan nasi goreng jadi saya ingin beli nasi goreng di abang-abang gerobak depan sana." Tunjuk Mona mengarah ke luar afartemennya.


" Apa ?? " Pria itu tersentak menatap tak percaya ke arah gadis itu.


" Saya rasa itu tidak terlalu buruk ?" Ujar gadis itu tersenyum.


" Tapi itu...!" Tolak Banny tak lantas.


" Tidak higenis ?,jorok dan banyak debu ? " Potong Mona dengan melirik jutek.


" Kita cari makan di lestoran saja yang sudah pasti akan kebersihannya." Tungkas Banny dengan melambatkan langkahnya.

__ADS_1


" Kalau begitu saya tidak ikut. Ucap Mona menepis tangan pria itu yang baru tersadar jika tangan itu masih di cekalnya.


Banny terhenti langkahnya lalu menoleh ke arah gadis itu yang menghentikan langkahnya.


" Saya ingin makan nasi goreng yang tak jauh dari afartemen sini." Ujar Mona dengan ketus.


Banny menghela napas melihat sikap keras kepalanya seorang Mona mulai tak tertandingi.


Bibir pria itu terkatup rapat menatap jengkel akan sikap gadis itu,rasanya gila saja ia akan membiarkan gadis itu mencari makan sendiri di kondisi larut malam seperti ini.


" Baiklah !!" Akhirnya pria itu menyetujui permintaan gadis itu meski perasaanya di dera rasa dongkol.


Mona berjalan kembali melewati pria itu yang masih menatapnya dengan perasaan sebal.


Beberapa menit kemudian.


Mona terduduk tak jauh dari Banny yang sedang menanti dua porsi nasi goreng yang sudah di pesannya.


Tak biasanya malam di ibu kota ini terasa begitu sunyi,hingar bingar kota metropolitan ini biasanya selalu terasa begitu penat di benak setiap insan yang masih terjaga kala malam itu.


" Kamu sering makan seperti ini ?" Tanya Banny mengawali pembicaraanya.


Mona menoleh ke arah pria tampan itu yang terlihat kurang menikmati keadan di sekitarnya yang bercampur dengan asap kendaraan hingga debu.


" Ya,dan ini merupakan hal yang sering saya lakukan ketika saya masih kos sendirian." Jawab Mona mengangguk.


Banny terlihat menyugar rambutnya dengan risih lalu mengamati sikap Mona yang terlihat kedinginan.


" Kenapa kamu tidak tukar pakaianmu ?" Tanya Banny setelah tahu Mona hanya mengenakan kaos putih kebesaran dengan celana pendek di atas lutut.


Mona menilik tubuhnya.


" Mas tidak memberi kesempatan untuk saya tukar baju." Ucap Mona dengan melipatkan tangannya di dada menahan dinginnya angin yang tertiup kencang ke tubuhnya.


Banny dengan cepat segera membuka sweater bajunya dan menyodorkan ke hadapan Mona untuk di pakainya hingga menyisakan kaos oblong putihnya tersebut.


" Pakailah,nanti kamu masuk angin !" Ujar pria itu dengab tersenyum.


Mona menatap tak percaya ke arah wajah pria itu yang begitu tulus melepas sweater untuk dirinya.


Mona terlihat ragu menerimanya.


" Pakailah !" Ucap kembali Banny menegaskan.


" Tapi mas." Sergah Mona tetap ragu.


" Aku tidak ingin kamu kedinginan." Ucap Banny tersenyum.


Perlahan Mona pun menerima tawaran pria itu dan memakai sweater putih milik pria tampan tersebut.


Perasaannya bercampur haru biru di hatinya,entahlah rasanya ia seperti mimpi ketika pria itu begitu sangat perhatian kepadanya.


Tidak Mona !! dia baik sekarang bukan berarti mencintaimu !!


Guman gadis itu membatin.


Banny terdiam dengan perasaan tak kalah resahnya seraya memandangi si tukang nasi goreng itu yang sedang asik membuatkan nasi goreng untuknya.Hal pertama kalinya dia berada di tempat seperti ini dan hal ini pun merupakan pengalaman pertama kalinya membeli makanan yang nota benenya jauh dari kebiasaanya dia beli atau pun ia kosumsi.


Seperti apa rasanya ?


dan makannya di luaran seperti ini ? Pikir pria itu dengan penuh rasa heran.


" Mas belum pernah makan seperti ini ?" Tanya Mona membuyarkan lamunan pria tampan itu.


" Aku tidak suka,menurutku ini tidak higenis." Ujarnya lagi dengan datar.


Mona mendesis lalu tersenyum dengan enteng.


" Mas salah,jangan pernah melihat segala sesuatu dari luxsnya dan mas terlalu cepat menyimpulkan jika setiap makanan yang di olah seperti ini tidak higenis dan itu bisa menyebabkan penyakit.Saya rasa makanan mewahpun tidak akan terlepas dari kata higenis yahh walaupun kita tahu percis cara mengolahnya." Terang gadis itu dengan nada sinis.


" Tapi setidaknya aku yakin jika olahan di restoran sana jauh lebih meyakinkan,secara tempat mereka lebih higenis dan tentunya lebih bergensi." Imbuh Banny berusaha menyanggah pernyataan gadis itu.


" Tapi tidak semua orang bisa membelinya,apa mas pikir mereka yang jauh nasibnya lebih baik dari kita dapat mencicipi olahan sekelas lestoran ???" Tanya Mona dengan menyipitkan mata belonya tersebut.


Banny terdiam menanggapi pernyataan gadis itu dengan seksama.Diam-diam dia membenarkan ucapan gadis itu bahwa tak semua orang akan bernasib sama dengannya.


Tak lama penjual nasi goreng tersebut menyodorkan dua piring nasi goreng yang sudah siap di santap ke hadapan Mona dan Banny.


" Makasih bang." Ucap Mona tersenyum lembut ke arah si penjual nasi goreng tersebut yang menyambutnya dengan sopan.


Si abang nasi goreng itu hanya mengangguk lalu kembali ke gerobaknya.


Banny menatap lekat ke arah seporsi nasi goreng miliknya yang masih terlihat mengepul asapnya,dan aroma makanan tersebut berhasil menggoda indra penciumannya.


Mona yang duduk tak jauh darinya tersenyum tipis melihat sikap pria tampan itu yang terlihat kaku dengan menatap penuh selidik ke arah makanan tersebut.


" Ini enak." Ucap Mona seusai mencicipi nasi goreng itu.


Banny terlihat ragu untuk melakukan hal yang sama.


Mona kian menatap lucu ke arah pria yang pernah menjadi bosnya tersebut yang meragukan akan kehigenisaannya makanan tersebut.


" ini !!" Ucap Mona tiba tiba menyodorkan suapan nasinya ke arah pria itu untuk di cicipinya.


Banny terdiam menatap gadis itu yang berniat akan menyuapinya.


Tatapan pria itu begitu lekat setelah merasakan hatinya terpana atas sikap gadis itu.


" Ayo! Saya suapin.Mas harus coba jika nasi goreng sekelas kaki lima pun tak akan kalah rasanya dengan di lestoran sana." Ucap Mona dengan tersenyum menggoda.


Banny perlahan membuka mulutnya dan satu sendok nasi goreng itupun meluncur kedalam mulutnya.


Perlahan pria tampan itu mencoba mengunyahnya memusatkan indra pengecapnya untuk merasakan cita rasa olahan makanan tersebut.


" Gimana ? " Tanya Mona menatap penuh rasa cemas.


" Hmmm.... " Banny masih mempertimbangkan rasa makanan tersebut.


" Mas suka ?" Tanya lagi Mona dengan tak sabar.


Belum pria itu menjawab pertanyaanya dengan repleks gadis itu menyeka makanan yang masih tertinggal di ujung sudut pria itu.


Banny terdiam seluruh tubuhnya merasakan panas dingin ketika gadis itu memberikan perhatiaan yang begitu besar kepadanya.


Tangan gadis itu masih tertahan sesaat pandangan pria itu begitu berbeda dalam menyoroti dirinya.Jelas hal itu bukan pertama kalinya mereka terlibat tatap-tatapan sedalam ini.


Bola mata indah itu menatapnya dengan berbagai perasaan jika adengan ini di push tentunya akan ada perasaan yang luar biasa terlibat di dalamnya.Tentunya mereka akan kembali merasakan debaran yang indah dijantungnya masing-masing.


" Maaf !!" Desis gadis itu dengan segera menurunkan tangannya.


Suasana berubah canggung entah apa yang sedang di rasakan pria tampan itu sehingga menatapnya dengan tatpan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Banny tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang ada di hadapannya lalu perlahan ia pun mencoba menikmati makanan tersebut.


Dengan perasaan bercampur aduk gadis itu terlihat nervouse merasakan cita rasa nasi goreng itu berubah hingga ia kesulitan untuk menikmati kembali rasa makanan tersebut.


Lagi-lagi perasaan cintanya itu kian tertambah.


Dan dibalik aksi ke romantisan mereka yang secara tidak langsung ada si abang nasi goreng yang tengah memperhatikan ke arah mereka dengan tersenyum penuh arti,sepertinya ia ikut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh dua insan tersebut.


Tentu saja dia pernah merasa muda dan tidak mungkin dia terlagir dengan langsung seperti itu.


" Nasi gorengnya aku suka." Ujar Banny menoleh ke arah Mona yang masih menikmati nasi goreng tersebut.


Gadis itu melambatkan kegiatan makannya lalu menoleh ke arah pria itu.


" Syukurlah." Ucapnya dengan tersenyum canggung.


" Kamu bisa buat seperti ini ? " Tanyanya dengan menggoda.


" Apa ? " Mona tersentak menatap kaget.


" Jika kamu bisa buat seperti ini,maka aku ingin kau membuatkannya untukku besok." Pinta Banny tersenyum lembut.


Mona tersadar ketika senyuman ajaib pria itu mampu melenyapkan rasa dahaga di musim kemarau panjang.


Ya.. Senyuman yang selalu di rindukannya di tengah sikap dinginnya pria tampan tersebut.


" Tentu saja rasanya tidak akan sama seperti ini." Balas Mona menatap ragu.Pria tampan itu masih mengulas senyuman manisnya.


" Kan kamu belum mencobanya." Banny berusaha meyakinkan kemampuan gadis itu.


" Tapi mas. " Sergahnya menggantung.


" Mencoba sesuatu yang tak pasti tidak ada salahnya kan ?" Lagi-lagi pria itu berusaha keras membujuk gadis itu .


Mona menghela napas,pikirnya seorang Banny tidak akan pernah bisa berubah hanya dengan memakan makanan kaki lima seperti ini akan selalu bersikap keras kepala jika sesuatu hal yang belum bisa ia miliki.


Sesaat gadis itu menatap seksama wajah pria itu.


" Akan saya coba." Ujarnya seraya menurunkan pandangannya.


" Selama ini aku selalu berpikir buruk akan hal ini,tapi setelah ini aku rasa tidak terlalu buruk untuk menikmati makan seperti ini." Ujar Banny seraya kembali menikmati makananya tersebut.


" Justru saya lebih suka hal seperti ini." Balas Mona dengan menyuapkan suapan terakhirnya.


Banny menoleh lalu menatap kembali ke arah wajah gadis itu.Ada yang berubah dari cara pandang dirinya terhadap makanan yang di jajajakan di kaki lima tersebut dan setidaknya dia lebih menghargai pekerjaan orang-orang yang jauh kurang beruntung darinya.


Sesaat Banny terdiam menatap dalam wajah gadis itu namun tiba-tiba pria tampan itu nampak memegangi perutnya seraya meringis kesakitan.


" Aduhh !!" Rintihnya pelan.


Sontak hal itu membuat perhatian gadis itu tertuju padanya.


" Mas !" Panggil Mona menoleh setelah melihat pria itu mengerang kesakitan,entah kenapa raut wajahnya berubah cemas akan kondisi pria tersebut.


" Kok perutku sakit." Ucapnya lirih.


" Kok sakit sih mas ?" Tanya Mona panik.


Banny masih merintih kesakitan seraya memegangi perutnya.Mona terlihat semakin panik menatap pria tampan itu,berbagai pikiran buruk mulai bermunculan di benaknya.


" Gak tau nih,rasanya perutku jadi mules begini." Terang Banny menyeringai kesakitan.


" Sebaiknya kita ke afartemen saja sekarang mas, atau.... " perkataan gadis itu terhenti ketika melihat pria itu semakin meringis ke sakitan.


" Aduhh sakit sekali perutnya." Wajah pria tampan itu terlihat menahan kesakitannya.


" Mas jangan bikin saya khawatir,saya tidak mau mas kenapa-napa hanya gara-gara makan nasi goreng di pinggir jalan begini." Rengek Mona terlihat wajahnya kian menatap cemas.


" Sakit sekali." Pria itu mengerang kesakitan.


Mona segera medekatkan badannya lalu mencondongkan wajahnya ke arah wajah pria itu yang masih meringis kesakitan,ia mencoba memastikan keadaan pria tersebut.


" Mas !!" Mona menatap resah raut wajah pria tanpan itu dengan tatapan yang terlihat sulit di artikan.Kekhawatirannya nampak begitu kontras wajahnya.


Penyesalan itu diam-diam menyelinap ke dalam hatinya.


Raut wajah gusar sekaligus cemas campur aduk di dalam benaknya antara percaya dan curiga tertera di benaknya.


" Kamu cemas sekali ya ?" Tanya Banny di sela rintihannya tersenyum menggoda ke arah gadis itu.


Mona terdiam saat pria itu menatapnya berubah dalam.


Mona menatap datar dengan perasaan yang sulit di kendalikan.


Lelucon apa ini ???


Mona menatap dengan tajam mencoba menduga jika ini adalah kekonyolan pria tersebut.


" Maksud mas apa sih ?" Tanya nya dengan mulai kesal.


" Aku baik-baik saja." Jawab Banny singkat.


Mona menghela napas kasar sekiranya pria tampan yang ada di hadapannya ini sedang ngeprank dirinya dengan berpura-pura sakit perut.


" Gak lucu mas !!" Desis Mona segera menjauh dari tubuh pria itu.


Banny tertawa cukup lebar sehingga membuat Mona semakin jengkel.


" Kenapa kamu khawatir sekali ?" Tanya Banny menatap serius.


Mona mendilak mengerlingkan matanya dengan judes nyaris wajahnya berubah memerah saat pertanyaan pria itu terasa mengusik perasaanya.


" Jawab Mona." Desak pria itu tak sabar.


" Yaa jelas lah mas saya cemas,secara hal ini pertama kalinya mas lakukan dan saya takut harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama diri mas itu." Ujar gadis itu panjang lebar.


" Kurasa bukan jawaban itu yang aku mau." Balas lagi Banny menatap kian serius.


" Lalu ??" Jawab Mona dengan mengangkat tinggi kedua alisnya menatap harap-harap cemas jika pria ini akan mempertanyakan perasaannya.


Banny terdiam lalu ia pun hanya memberi ekspresi di luar dugaannya dengan cara mengangkat tinggi kedua pundaknya melupakan apa yang menjadi pernyataannya tersebut.


" Sudah lah,dan lupakan! kita pulang.Besok hari pertama kamu kerja di perusahaan anak cabang." Ucap Banny seraya bangkit dari tempat duduknya dan mengakhiri obrolannya tersebut.


Belum saja gadis itu mengartikan apa yang menjadi ucapan pria itu namun dengan mudahnya Banny meralat kembali ucapannya.Mona menggeleng,ia merasa jika sikap gengsinya seorang Banny memang sudah menjadi hak ciptanya sehingga tidak bisa di gangu gugat.


Mona menghela pelan merasakan kekecewaan yang dalam atas ketidak pekaannya terhadap pertanyaan pria tersebut,padahal selangkah lagi pria itu menginginkan hal yang lain darinya namun sayang pikiran pria itu kembali berubah sehingga tidak memaksa dirinya untuk mengungkapkan perasaanya yang sesungguhnya.


Sudahlah !


lupakan !! dan jangan mengingatnya kembali.

__ADS_1


Rutuk gadis itu dengan menatap sebal ke arah pria tampan itu yang masih menunggunya pulang.


__ADS_2