
" SELAMAT pagi mas !" Sapa suara merdu menyapa Banny yang baru saja memulai pekerjaannya.
Banny menoleh sesaat,lalu kemudian dia mulai sibuk kembali menatap layar laptopnya.
" Pagi Arnetta,kamu sudah pulih ?" Tanya Banny tanpa menghiraukan Arnetta yang berjalan menuju meja kerjanya.
" Alhamdulillah mas sudah mendingan,hanya saja kaki saya masih agak linu bekas terseleo kemarin." Jawab Arnetta nyaris dengan suara pelan.
" Kenapa harus di paksakan,jika kamu belum merasa pulih?jangan memaksa untuk bekerja,saya tidak ingin membebanimu dengan pekerjaan saya." Ujar Banny dengan masih acuh,pandangannya masih berkutat di layar laptop miliknya.
" Tidak apa-apa mas,lagian aku sudah merasa bosan jika harus rebahan terus di rumah." Sergah Arnetta berdiri tepat di hadapan meja sang Direktur.
" Baiklah,kalau begitu tolong kamu siapkan meeting untuk hari ini,karena ada beberapa pertemuan yang harus saya hadiri setelah metteng selesai nanti,dan ada beberapa pekerjaan yang sudah menunggumu untuk kamu selesaikan." Ucap Banny seraya terus fokus mata elangnya menatap intens layar laptop miliknya,sekalipun dia tidak membiarkan tatapannya menatap gadis cantik tersebut.
" Baik mas," Balas Arnetta penuh semangat.
" Oya,ada beberapa berkas yang harus saya periksa,dan berkas tersebut kamu bisa ambil di ruangannya Amel,soalnya pas kamu tidak masuk dia yang menghandle semua laporan yang masuk." Jelas Banny begitu lugas.
" Amel ??" Tanya Arnetta mengulang nama tersebut,lalu ia terlihat mengernyitkan dahinya.
" Yaa Amel,staff Admin,kamu kenal dia kan ?" Tanya Banny mengalihkan pandanganya ke arah gadis itu.
Arnetta mengangguk pelan,setelah mengingat kembali wajah perempuan yang di maksud oleh Banny.
" Saya belum mengecek semua skejul untuk hari ini mas,namun tadi saya sempat mengecek beberapa skejul yang masuk di angenda hari ini,salah satunya ada acara makan siang bersama klien kita Bapak Atmaja,di jam dua belas siang nanti." Ucap Arnetta dengan raut wajah berbinar-binar.
Ada kesempatan baik bisa menemani Banny untuk makan siang bersama,walaupun hanya sekedar menemaninya.
" Tolong yang itu kamu cansel dulu !" Titah Banny singkat.
" Cansel ??Kenapa mas ?" Tanya Arnetta heran.
" Siang ini saya akan makan siang bersama istri saya." Ungkapnya dengan menatap lurus Arnetta.
" Istri mas ??" Ucap Arnetta mengulang kata terakhir yang di ucapkan Banny.
" Yaa istri saya,karena saya sudah berjanji sama dia,jika siang ini saya akan mengajaknya makan siang di luar." Tegas Banny seraya kembali menatap layar lapotop miliknya.
" Oh...." Ucapanya menggantung ada perasaan yang membuatnya kecewa kembali.
" Baiklah mas !" Ucap Arnetta dengan perasaan bergetar.
Arnetta berharap dia bisa makan siang dengan Banny justru pria itu malah membatalkan rencananya dan Banny memilih makan siang bersama istrinya.
Perasaan Arnetta sedikit teriris,hari pertama dia bekerja harus menelan pil pahit,Banny membuat semangatnya kembali lenyap seketika.
Banny sekilas menangkap gelagad tak biasa dari raut wajah gadis cantik tersebut,dia yakin jika Arnetta merasa kecewa atas keputussnnya.
Tapi Banny tidak mau tau akan perasaan sekertarisnya itu,dia tidak ingin memberi harapan lagi terhadap gadis cantik tersebut.
" Ada lagi mas yang akan di cansel ?" Tanya Arnetta dengan datar.Seolah-olah ia sedang menunjukan rasa kekecewaanya.
" Tidak !! saya rasa hanya itu saja." Jawab Banny acuh.
" Baiklah,kalau begitu saya permisi !" Pamit Arnetta seraya berjalan mundur.Banny hanya mengangguk dan kembali fokus kepekerjaanya berkutat dengan laptop dan berkas.
Arnetta berjalan keluar tanpa memperdulikan lagi akan ke adaan Bosnya tersebut.
Setelah bayangan Arnetta menghilang di balik pintu,Banny menarik napas panjang,ia berusaha untuk bersikap tegas terhadap gadis cantik itu,dia tidak ingin sikapnya menjadi boomerang bagi dirinya dan Pasangannya.
********
Siang ini Banny memutuskan memberanikan diri untuk menjambangi kantor perusahaan istrinya,ia berinisiatif untuk mengajak Mona makan siang tanpa memberi tahu sebelumnya.
Yaa dia rasa ini adalah kejutan yang akan membuat perasaan Mona membaik kepada dirinya.
Setelah memarkirkan mobilnya Banny lantas bergegas berjalan menuju lobi perkantoran,ada beberapa staf yang mengenalinya hingga menyapanya dengan penuh rasa hormat.
Dengan tanpa ragu lagi Banny segera berjalan menuju ruangannya Mona,ia yakin jika Mona akan bersedia makan siang bersama dirinya dan berharap hubungannya dengan Mona akan membaik.
Angkasa menekan tombol tanda panah di samping pintu lift tersebut,ia berharap Mona belum pergi keluar untuk makan siang.
Entah kenapa ia merasa punya ide untuk memberikan sebuah kejutan kepada istrinya tersebut,padahal Banny adalah sosok laki-laki yang tidak suka memberi kejutan apa pun,dan kesiapa pun,ia terkesan lebih cuek dan masa bodoh.
Pintu lift terbuka,dengan tidak sengaja Banny melihat Mona berada di dalam kapsul lift tersebut.
Mona terkesiap melihat keberadaan Banny di kantornya.
Mona yang sedang mencondongkan badannya ke arah salah satu staf kantornya langsung menegak dan menatap panjang ke arah Banny yang mulai beranjak masuk kedalam lift tersebut.
" Mas !! pekik Mona tertahan.
Aras yang ikut hadir di dalam lift tersebut berdiri tak jauh dari Mona,ia pun dengan sadar diri segera bergeser merubah posisin berdirinya menjadi lebih dekat ke pintu lift tersebut.
__ADS_1
Wajah Arash terlihat kaku atas kehadiran Banny,begitupun Banny menatap tidak suka ke arah pria tersebut.
" San laporannya kita cek lagi pas di ruangan !" Bisik Mona kepada salah satu pegawainya.
Staf tersebut mengangguk pelan,namun ia masih tetap mengamati beberapa lembar kertas di tangannya.
Banny berdiri tepat di antara Mona dan Arash sang Asisten istrinya.
Pandangan Aras lurus ke depan sehingga membiarkan Banny berbicara cukup pelan kearah Mona.
" Ada apa mas ke kantorku ?" Tanya Mona dengan perasaan heran.
" Apa aku tidak boleh berjumpa dengan istriku ?" Jawab Banny tersenyum kaku,suaranya setengah berbisik namun cukup terdengar oleh stafnya dan juga Aras.
Kedua alis Mona terangkat tinggi menampilkan lengkungan yang indah.Ia nyaris tak percaya dengan ucapannya yang baru saja di bisikan Banny ke arah telinganya.
Mona terdiam dengan beribu macam pertanyaan di benaknya.
Sejak kapan Banny berubah sebucin ini ?
Mona menatap pria itu tak percaya.
" Kenapa mas tidak hubungin aku dulu ?" Tanya lagi Mona dengan datar.
" Kurasa itu bukan kejutan jika aku harus memberi tahu kamu terlebihdahulu." Ucap Banny terlihat mengulas senyuman manis yang membuat Mona semakin linglung akan sikap hangat suaminya tersebut.
Mona menoleh ke arah Arash yang sama sekali tidak peduli akan kehadirannya Banny,namun diam-diam pria itu yakin sedang menyimak ibrolannya.
Raut wajah tampan Banny berubah lebih ramah,ia terlihat beberapa kali mengulas senyuman yang tak pernah Mona dapati sebelumya dan itu nyaris membuat Mona bertanya-tanya akan perubahan drastis yang di tampilkan oleh suaminya tersebut.
Seingat Mona,tadi pagi ia masih mengingat betul,jika Banny masih bersikap dingin kepadanya,bahkan senyuman manis itu tidak ada sama sekali tergores dari bibirnya,namun entah apa yang terjadi,sosok mahluk tanpa senyum ini berubah 180 derajat,sungguh membuat Mona kebingungan,ada apa gerangan yang telah menimpa otak pria tampan berwajah dingin tersebut.
Banny perlahan menggerakan tangannya untuk meraih tanganya Mona,sontak saja Mona semakin kebingungan atas sikapnya Banny.
Heyy !! apa yang sebenarnya sedang terjadi ??
Mona menatap tangan pria itu dengan heran.
Stengah repleks Mona menepis tangan pria tersebut,hingga tangan Banny terdorong kencang ke arah depan dan secara tidak sengaja terhempas tepat mengenai bokong staf perempuan yang berdiri di hadapannya.
Bukk....
" Aww !!" Pekik staf tersebut terkejut.
Sontak staf perempuan itu terhenyak kaget setelah merasakan bokongnya ada yang menepuk.Raut wajahnya menegang dengan perasaan yang sulit di bayangkan.
Mona terhenyak melihat kejadian tersebut,ia tak menyangka jika tangan Banny akan mengenai bokong stafnya tersebut.
Santana nama staf itu memberanikan diri menoleh ke arah Arash yang berdiri tak jauh dari Banny,sorot matanya berusaha menuduh pria itu yang menepuk bokongnya tersebut.
Merasa di pelototin oleh Santana Aras menoleh ke arah nya dengan tatapan terkejut,ia pun sedang berpikir jika Santana sedang menuduh dirinya.
Arash menggeleng dengan ekspresi wajah polos,raut wajahnya terlihat seperti orang bloon.
Banny menggeleng namun sekilas dia nampak tersenyum atas sikap konyolnya tersebut.
Santana menoleh ke arah Banny,pria itu tersenyum kecut,Santana pun segera menunduk dengan perasaan tidak enak.
" Bu !! " pekik Santana terlihat panik,menoleh Mona yang berdiri di belakangnya.
" Maaf San,Tanganku tak sengaja mengenai bokongmu,tanganku lagi pegal-pegal." Ujar Mona seraya menggerak-gerakan tangannya.
Mona terlihat tersenyum enteng,raut wajahnya terlihat konyol.Santana terlihat bernapas lega seraya mengelus bokongnya tersebut.
Mona mendilak ke arah Banny dengan penuh isyarat.
Ting....
Pintu Lift tersebut terbuka,dan berhenti di satu lantai,dengan cepat Santana segera keluar nyaris terloncat dari dalam kapsul lift tersebut,dia terlihat tidak nyaman atas insiden tersebut,masih terasa misteri baginya tepukan di bokongnya tersebut terasa kasar.
" Bu Mona,maaf saya duluan !" Pamit Santana penuh hormat.
Mona mengangguk pelan seraya tersenyum pasi.
" Oya bu Mona, saya izin keluar sebentar." Pamit Aras seraya berjalan mendahuluinya.
" Ok !" jawab Mona singkat.
Lalu tak lama Banny dan Mona pun keluar dari kapsul lift tersebut.
" Kenapa dia harus ijin keluar ?,so fropesional banget." Guman Banny terdengar sinis.
" Dia bawahanku mas,ya seharusnya dia ijin jika mau keluar dari kantor." Bela Mona dengan terlihat mulai kesal.
__ADS_1
Banny menghela melihat Mona terlihat sensi.
" Baiklah !" Balas Banny singkat,ia tidak mau mempersoalkan hal yang tidak penting baginya.
Tujuan dia ke kantor Mona hanya ingin makan siang bersama dan berharap Mona bisa berubah akan sikapnya,bukan menambah masalah atas sikap Asistennya Mona,akhirnya dia pun mengalah demi untuk menghindari sebuah perdebatan.
" Ada apa mas ke kantorku ?" Tanya lagi Mona menoleh ke arah Banny.
" Aku mau mengajak kamu makan siang." Jawab Bany to the point.
" Makan siang ?" Mona mengernyit.
" Yaa,sepertinya aku sudah lama melewatkan makan siang bersama istriku." Jawab Banny tersenyum lembut.
Mona kembali di buatnya semakin heran,atas sikap suaminya tersebut.Apakah ia sedang bermimpi ?
diam-diam dia mengigit bibir bawahnya,terasa sakit,ini adalah nyata.
Tapi kenapa pria es balok ini begitu hangat kepadanya ,kembali Mona sibuk dengan pikiranjya.
Banny benar-benar berubah dia mulai pandai bersikap manis kepadanya,ada angin apa ini ?
jenis angin apa yang telah menggoyahkan perasaanya Banny sehingga terkesan menyenangkan.
" Mas mau mengajakku makan siang ?lalu sekertaris mas ?" Tanya Mona dengan menatap dalam Banny.
Senyuman itu seketika menyurut,dan ekspresi wajah Banny pun kembali berubah setelah Mona menyinggung kembali sekertarisnya tersebut.
Namun dengan cepat Banny segera bersikap biasa saja ia tidak ingin terlalu sentimen menanggapi celotehannya Mona.
" Kamu masih mempersoalkan tentang Arnetta ?aku pikir kamu telah melupakannya,itu artinya selama ini sikap kamu berubah hanya gara-gara sekertaris aku ? " Ujar Banny tersenyum penuh arti,ia mencoba sabar menghadapi sikap Mona yang masih sensi terhadapnya.
Mona membuang pandangannya,menatap jauh ke arah lain.
" Mona,harus berapa kali lagi aku katakan jika di antara aku dan Arnetta sama sekali tidak ada hubungan apa-apa,hanya sebatas pekerjaan saja." Jelas Banny menyakinkan.
" Tapi seenganya mas pernah ada perasaan kan terhadap dia ?" Tanya Mona dengan terlihat merengut.
" Yaa !! dan itu dulu,sebelum aku mengenalimu,dan sekarang perasaan itu jelas sudah berbeda Mona." Ungkap Banny.
" Bisa saja itu semua terulang kembali ?" Sela kembali Mona,seolah-olah dia belum puas akan jawaban dari suaminya tersebut.
Banny menatap panjang gadis itu,sulit sekali menyakinkan perempuan ini hingga terasa berputar-putar menjelaskanya.
" Kamu berharap mau seperti itu ? " Suara Banny memelan,menatap dengan berbagai perasaan ke arah Mona.Rasanya dia sudah menyerah menjelaskan semua perasaanya terhadap Arnetta.
Mona terdiam,entah kenapa rasanya sulit sekali dia membuang perasaan curiganya tersebut.
" Aku tidak ingin berharap seperti itu,tapi aku hanya merasa jika perasaan itu akan terlahir kembali dan itu kapan saja." Ucap Mona dengan meredup.
" Itu artinya kamu takut akan kehilangan aku ?,dan aku berpaling kepada wanita lain." Ucap Banny dengan datar,ekspresinya mulai membeku kembali.
Mona mendelik,lalu membuang muka dengan menghela napas.
" Kenapa kamu diam ?kamu diam berarti membenarkan ucapan ku !" Ucap Banny dengan tersenyum menggoda.
Mona terlihat bergidik dengan ekspresi wajah engga banget.
" Sejak kapan mas berubah menjadi sepercaya diri itu ?" Nyinyir Mona menatap judes pria tersebut.
" Semenjak kamu mengabaikan perasaanku,dan aku bisa merasakan jika di pikiranmu Arnetta menjadi saingan berat kamu,he he " Banny terkekeh dengan terus menggoda Mona.
Mona mencibir dengan sikap manjanya,rasa-rasanya Banny semakin koyol,hingga ia berpikir belajar dari mana dia hingga bersikap sepede itu dalam berbicara.
" Jika aku berpikiran buruk tentang Arnetta,lalu bagaimana pikiran mas tentang pak Sultan ?" Tanya Mona mengalihkan pembicaraanya.
Sontak Banny tercekat mendengar pertanyaan istrinya tersebut,kenapa Mona harus mempertanyakan kembali tentang Sultan yang membuatnya hilang selera untuk mengajak Mona makan siang.
" Mona ! Aku kesini mau mengajak kamu makan siang,bukan mempermasalahkan masalah lain." Ucap Banny mulai terlihat dingin.
Mona terdiam,entah kenapa ia menyesali pertanyaanya yang meluncur begitu saja dari mulutnya.
" Tapi kenyataanya seperti itu,Mas tidak suka jika aku bekerja sama dengan pak Sultan,apa bedanya aku,aku juga tidak suka jika Mas terlalu care terhadap Sekertarisnya mas itu,adilkan ??" ujar Mona menatap lebar Bany.
Banny terlihat mengusap wajahnya dengan sedikit kesal,ia terlihat mulai tidak nyaman dengan perkataanku.
" Sepertinya aku sudah tidak tertarik lagi untuk makan siang !" Ucap Banny ketus.
Mona melongo mekihat sikap Banny yang langsung berubaj drastis.
Tak lama Banny pun melangkah pergi meninggalkan Mona yang hanya terdiam,merasakan kesalahan atas sikapnya tersebut.
Sepertinya Banny mulai kembali bersikap dingin terhadap Mona.
__ADS_1
Mona tertegun entah apa yang harus di lakukannya,seketika dia di landa kegelisahan akan sikap berlebihanya tersebut.
Mona melipat dalam bibirnya menatap pasrah langkah Banny yang telah menjauh meninggalkannya.