
SEORANG gadis dengan menggunakan gaun berwarna silver berkombinasi broken white yang menjuntai ke lantai itu nampak masih berdiri dengan raut wajah menegang,ia masih terdiam menatapi bayangannya di hadapan cermin,padahal sang perias wajah telah selesai meriasnya lima menit yang lalu,namun sepertinya ia belum berani beranjak dari posisi nya tersebut.
Ia menatap kian gamang dirinya ke arah cermin tersebut.Entah dari mana datanya ,tiba-tiba saja perasaan cemasnya kian membaluti persaan-nya.
Apakah acara ini akan berjalan lancar ?
ataukah tiba-tiba perempuan yang menjadi alasan ketakutnya itu akan muncul secara tiba-tiba lalu mengacaukan pesta tersebut?
Mona menggeleng frustasi dengan keresahan nya yang tak bertepi.
Tak lama pintu ruangan make up tersebut perlahan seperti ada yang mendorongnya dan tak lama di balik pintu tersebut pun muncul dua orang perempuan dengan salah satu perawakan nya cukup berisi dan yang salah satu nya lagi bertubuh jangkis dengan berponi pendek,dua orang perempuan itu pun menghampirinya dengan tersenyum semeringah ke arahnya.
Mona hanya membalasnya dengan menatap nya kaku ke arah kedua sahabatnya yang datang menghampirinya.
" Lo Mona kan? " Tanya gadis yang bertubuh padat itu menatap cemooh ke arah dirinya.
" Apa sih Mel." Balas Mona mendilak manja.
" Beneran ini Mona kan?sahabat gue ?" Tanya lagi Amel menatap takjub.
" Lo hari ini sumpah cantik banget,lo berbeda banget dengan Mona yang gue kenal." Ucapnya Amel seraya menggucang pelan pundak Mona yang telanjang.Mona hanya menatap keki ke arah sahabatnya tersebut.
" Udah deh gak usah berlebihan kaya gitu." Sela Mona dengan tersenyum kaku.
" Asli lo cakep banget,beda banget Mon,Mona yang gue kenal itu orangnya selebor dan selengehan gak secantik ini,karena gue sih yakin dia gak sepintar ini kalo dandan." Terang lagi Amel dengan sengaja membuat sahabatnya tesebut kesal.
" Lo lebay !" Sela Mona dengan ketus.
" Serius Mon,lo kalau gak percaya tanya si Tamara deh,iya kan Tam,Mona hari ini berbeda banget?" Imbuh Amel seraya menoleh Tamara yang tengah asik membenarkan poni pendeknya di depan cermin.
" Iya, lo hari ini memang terlihat sangat cantik,Luna maya aja lewat." Sela Tamara dengan mengibas-gibaskan tanganya.
" Ini lagi,ratu halu." Sela Mona tambah keki.
" Tapi,benar kata Amel Mon,riasan make up lo itu sangat sempurna.Gue aja ampe pangling." Tambah Tamara membenarkan ucapan nya Amel.
" Berarti gue cantik dong ? sekelas Luna maya aja bisa lewat." Sela Mona melirik sebal setelah mendengar lelucon kedua sahabatnya tersebut membuat ia merasa di atas angin.
" Tapi jujur,elo emang cantik banget hari ini,dan gaun yang lo pake pas banget di badan lo,pintar ya yang bikin rancangan baju lo." Ucap Amel menatap kagum kepada sahabatnya tersebut yang memang terlihat sangat berbeda di hari ini.
Mona hanya tersipu seraya merapihkan helayan rambutnya yang sengaja di buat berantakan oleh periasnya namun membuatnya semakin trlihat cantik.
" Tapi gue deg-degan." Ucapnya lirih.
Kedua sahabatnya saling betatapan dengan perasaan yang sama.
" Gue takut tiba-tiba acaranya berubah menjadi berantakan gara-gara ada tamu yang tak di harapkan datang." Jelas Mona dengan wajah resah.
Amel dan Tamara saling menatap bergantian dengan berbagai perasaan.
Ia sangat paham,tak mudah baginya menjadi seorang Mona,sahabat dekatnya itu,yang telah membulatkan tekadnya dalam mengambil sebuah keputusan yang orang lain belum tentu mampu mengambilnya.Belum lagi ia harus siap mental ketika sandiwara nya nanti akan berakhir dengan sebuah perceraian.
Memutuskan menikah karena di jodohkan dengan pengusaha kaya dan akan berakhir menjadi seorang janda bukanlah sesuatu yang patut di apresiasi apa lagi menjadi sebuah kebanggan.Butuh keberanian yang cukup besar untuk menerima cemoohan atau spekulasi yang buruk yang akan datang dari kanan kiri.,dan hal itu tak semudah membalikan telapak tangan,baginya hal itu sangat membutuhkan skil yang hebat serta ke yakinan yang kuat dalam mejalani kenyataan dari keputusan tersebut.
Amel tahu percis di balik keputusan sahabatnya tersebut ada hati yang di korbankan sekaligus masa depan yang akan di pertaruhkan,dari itu ia selalu memasang badan untuk sahabatnya tersebut,agar sang sahabag kuat dalam menghadapi kenyataan yang ada.
Dan ia pun adalah sosok yang paling selalu ada untuk Mona,karena dia tak mau melihat sahabatnya itu terluka.
Namun keputusan sang sahabatnya kali ini mau tak mau ia harus menghormatinya sekaligus merelakan kehidupan sahabatnya tersebut menjadi sebuah taruhan dengan hanya membalas kebaikan seseorang.
Terdengar naif memang,tapi itu lah kenyaataan yang harus di telanya walau perih.
Amel menghela napas dengan menatap dalam ke raut wajah resah itu.
__ADS_1
" Lo tenang saja,gue pastikan semuanya akan baik-baik saja dan aman terkendali." Balas Amel mencoba menenangkan hati sang sahabatnya tersebut.
" Lo ikutin saja alurnya seperti apa,toh nantinya pasti akan ada jalan keluar untuk permasalahan ini." Ujar kembali Amel berusaha memberi semangat serta motifasi,setidaknya ia bisa meringankan beban pikiran yang sedang di alami oleh sababat tersebut.
" Gue ngebayangin jika acara ini sungguhan,gue yakin lo akan lebih gugup dari ini." Tamara menyela dengan menatap polos.
Amel mengangguk pelan mengiyakan apa yang di ucapkan Tamara.
" Pokonya gue yakin ini akan baik-baik saja,lo gak perlu khawatir jika acara sandiwara ini tidak akan berantakan,semuanya akan lancar jaya." Tambah lagi Tamara menyela dengan sikap polosnya itu.
Amel melirik gusar ke arah kepolosan sahabatnya tersebut.
" Tam,lo gak usah di perjelas gitu juga kali kalimat sandiwara nya,kedengaran orang bisa berabe nanti." Sela Amel menyikut keras tubuh jangkis Tamara.
Sontak Tamara meringis saat sikut runcingya Amel mendarat kuat di dada sebelah kirinya,ia pun memekik dengan menutup mulut secara repleks.
" Oya Mel,Tam,ada yang mau gue ceritakan sama lo berdua." Ucap Mona seraya membagi pandangannya ke arah kedua sahabatnya itu.
" Masalah apa ?" Tanya mereka kompak.
" Ini masalah Nyokap gue." Ujar Mona dengan wajah resah.
" Nyokap lo ?ada apa dengan nyokap lo ?bukannya nyokap lo belum ada kabarnya kan ?" Tanya Amel dengan penasaran.
" Justru itu gue mau cerita banyak tentang nyokap gue." Terang Mona dengan menatap gantian ke arah kedua sahabatnya itu.
" Ok,nanti setelah acara ini kita janjian di tempat biasa kita ngumpul." Sahut Amel pelan,Mona pun mengangguk pelan.
" Gak mungkin cerita sekarang,gue itu ke sini mau jemput lo,bukan mau dengerin curhatan lo,yuk pak bos udah nunggu lo di bawah." Ajak Amel mengandeng tangan Mona.
Mona lagi-lagi hanya mengangguk pelan dengan raut wajah masih terlihat resah.
" Gue masih deg degan Mel,Tam." Sergah Mona dengan menatap tak pasti ke arah kedua sahabatnya tersebut.
" Ok,mendingan elo tarik napas,tahan, lepaskan, ulangi lagi.Tarik napas,tahan lepaskan." Ucap Tamara membantu Mona untuk lebih rileks.
" Yuk." Ajak Amel dengan mengadeng lembut tangan Mona.
Tak lama Mona beserta kedua sahabatnya pun keluar dari ruang make up tersebut.
Ketika Mona berada di bibir anak tangga tersebut entah kenapa perasaanya menguap entah kemana dan rasa gamang itu semakin menyergapnya saat pandangannya tertuju ke ruangan ballroom tersebut.
Di ruangan ballroom tersebut sudah hadir para tamu undangan menanti kehadirannya,meski para tamu undangan yang hadir tidak begitu banyak dan hampir ia kenal semua,namun tetap saja tak ayal membuatnya merasa gerogi dan gugup.
Mona menandang ke arah para tamu undangan tersebut dengan berbagaia perasaan.
Jantungnya berdekup kencang,terasa dag dig dug di buatnya.
Meski ini hanyalah sandiwara tapi baginya seperti sungguhan.
Mona sesaat tercenung menatap ke seluruh para tamu undangan yang hadir.
Yah...,kali ini mereka menatap dirinya dengan penuh rasa takjub sekaligus kagum,bagai mana tidak mereka hanya tahu jika dirinya telah beruntung mendapatkan hati seorang pengusaha yang nota bene nya anak dari seorang presdir.
Tapi esok nanti tatapan itu akan berubah menjadi tatapan cemooh serta hujatan ketika mereka tahu jika akhir dari sandiwaranya tersebut adalah sebuah perceraian.
Mona menghela lalu menatap nanar ke arah kedua sahabat nya berdiri tak jauh darinya.
Amel mengangguk pelan berusaha untuk meyakinkan sahabatnya tersebut.
Perlahan Mona menuruni tangga dengan langkah yang lambat berusaha menyingkirkan kegamangan di hatinya.
Setelah ia berada di pertengahan anak tanga tersebut,tiba-tiba pandangan para tamu yang hadir tertuju kepadanya,tak terkecuali Banny,si pria dingin berwajah tampan itu ikut menatap ke arah nya yang berjalan di atas tangga tersebut dengan berpenampilan sangat cantik.
__ADS_1
" Tersenyumlah Mona,semua orang menatap elo." Bisik Amel dengan sigap mebisikan ke pada dirinya.
Mona mendongkak lalu membagikan pandangannya dengan tersenyum tipis.
Ia berjalan dengan sangat egelan seraya menarik perlahan gaunya tersebut.
" Jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja." Sela lagi Amel dari ujung telinganya.
Mona mengangguk dengan terus menebarkan senyuman kakunya.berbagai perasaan berkecambuk di benaknya.
Ia menyisiri setiap ruangan dengan sorot mata yang resah ia takut jika seorang perempuan yang ia khawatirkan itu akan hadir tengah para tamu undangan yang lain.
Semoga saja perempuan sang Mantan itu tak hadir disini dan mengacau seperti bagaiamana dalam mimpinya.Pikirnya dengan terus membagikan pandangannya.
" Berjalan lah dengan elegan Mona,gue ada di belakang lo." Bisik lagi Amel menyemangati sahabat nya tersebut,agar Mona berjalan tanpa ragu.
Gadis berlesung pipit itu berusaha terlihat bahagia dengan pesta kepalsuannya tersebut.
Dari ujung tempat ia berdiri pria tampan itu menatap panjang gadis yang selalu di anggapnya remeh itu,yang kini mampu membuatnya terpesona.
Gadis itu berjalan dengan sangat anggun mendekati ke arahnya dengan tersenyum halus.
Banny membalas tatapan itu dengan seksama,memperhatikan betul setiap perubahan yang ada di penampilan nya gadis tersebut.
Dengan riasan wajah yang tak terlalu tebal namun mampu memancarkan aura kecantikannya.
Pria bertubuh tegap itu menatapnya dengan tatalapan yang berbeda,hatinya terhipnotis dengan kecantikannya yang di rasa kali ini sangat berbeda.
Debaran demi debaran membuncah di dalam hatinya yang semakin tak karuan di saat gadis itu semakin dekat berjalan mendekatinya.
Wajahnya yang cantik itu tak bosan nya ia pandangi.Dengan
sanggul rambut yang sengaja di bikin berantakan tersebut justru memberi kesan,sisi ke anggunan-nya gadis tersebut dan pria tersebut itu nyaris tak berkedip menatapnya.
Fixs......
Pria dingin itu terpesona dengan penampilan sekertarisnya itu.
Mona melangkah semakin mendekat,walau perasaanya tak karuan tapi ia berusaha tersenyum manis ke arah pria dingin tersebut.
Mona pun mengalihkan pandangan nya ke arah sang nenek yang berdiri tak jauh dari pria tesebut.Menatapnya dengan penuh rasa haru.
Lalu begitupun dengan seorang pria yang usia tak muda lagi tersenyum hangat ke arahnya,tergurat kebahagiaan yang terukir di raut wajah senjanya itu.
Yaa,,,dia lah orang yang sangat menginginkan perjodohan ini terjadi.Dialah sang Ayah dari pria dingin berwajah tampan tersebut.Mona menatap nya dengan tersenyum getir.
Lalu tak lama seorang Mc memulai acara tersebut dengan begitu khidmat layaknya sebuah acara lamaran sungguhan.
Banny masih menatap lekat perempuan yang berdiri di dekatnya itu dengan perasaan yang tak menentu.
Dari ujung pandangan,seseorang menatapnya dengan penuh rasa sesak menghimpit rongga dadanya,ia berusaha untuk tersenyum walau dalam balutan rasa kecewa,ia berusaha untuk mendamaikan perasaan-nya yang tak bisa memiliki sepenuhnya cinta sang gadis tersebut.
Dialah Zeanu yang sedari tadi menatapnya dengan penuh rasa haru sekaligus duka yang dalam atas pesta lamaran sahabatnya tersebut.
Meski ia tahu ini adalah sebuah acara sekedar sandiwara tapi sama saja tak akan membuatnya bisa bernapas lega. Harapan di hatinya terasa pupus mengingat dirinya adalah sodara laki-laki sambungnya gadis tersebut,baginya tidak mungkin ia mempertankan perasaan itu terhadap adik perempuan sambung nya itu.
Zeanu menggeleng lalu menatap kian nanar ke arah pasangan settingan tersebut.
Rasanya percuma saja selama ini iaberharap lebih dari gadis yang ia cintai itu,jika pada akhirnya takdir tidak jua mempersatukan mereka.
Entahlah.....
Pria berwajah tampan itu menatap antara cinta dan dilema yang membuatnya semakin tertekan.Sorot matanya menerawang penuh arti kepada gadis tersebut.
__ADS_1
Rasanya kandas semua harapan yang dimilikinya itu.
Tak terasa ada yang basah di bibir matanya menatapi jauh ke arah mereka.