
SETELAH hampir satu jam Mona menemani sang bosnya dalam sebuah acara pertemuan dengan beberapa koleganya,dalam rangka mempromosikan perusahannya yang kini mulai merambat di bisnis yang lain,yaitu berupa bisnis property.
Banny mencoba membuka peluang barunya itu untuk menjadikan perusahaannya mitra yang baik dalam berinvestasi di perusahan-perusahaan yang lainnya.Tak hanya di bagian logistik saja Banny pun mencoba menjajali bisnis barunya di bidang property.
Kesempatan memang tak pernah datang dua kali terlebih-lebih berbisinis property akan begitu banyak menjanjikan ke utungan yang sangat besar akan hasil yang di peroleh.
Di pertemuan pertamanya kali ini Banny mampu mengambil hati sang koleganya untuk berivetasi dan nyatanya Banny memiliki keahlian yang cukup di apresiasikan dalam hal lobi melobi.
Mona yang selama acara pertemuan itu berlangsung sempat memperhatikan akan gaya dan sikap sang bosnya itu.Ia menyimak dengan seksama bahkan sedari tadi ia berdecap kagum akan keahlian yang di miliki oleh sang bosnya itu dalam mengelola public speakingnya yang mampu menarik perhatian beberapa koleganya untuk bersedia berinvetasi dalam perusahaan property terbarunya.
Meski Banny terbilang pendiam serta terkesan jarang bicara namun untuk hal mempromosikan perusahannya rupanya dia paling lihai,bahkan sekilas seperti ketimpangan antara sikap aslinya yang terkesan lebih cuek dan dingin.Ada beberapa permasalahan yang di bahas tuntas dalam acara pertemuan itu.
Banny yang memiliki pembawaan tenang serta penuh percaya diri, mampu membawa setiap permasalahan yang muncul dalam pekerjaanya itu bisa terselesaikan dengan penuh perhitungan yang matang.
Selain pembawaanya yang berkarismatik sosok Banny juga sanggup mengambil hati setiap mitra yang akan berfatner menjadi mitra kerja di perusahaannya itu.
Banny merupakan sosok yang lihai dalam mengambil kesempatan yang di rasa sangat tepat untuk menjadikan perusahaanya semakin tinggi akan popularitasnya.Dan ia juga pandai menangani setiap permasalah yang menyangkut pekerjaannya dengan sangat cermat.
Banny memang sangat berambisi untuk bisa terus meningkatkan kepopularitasan dan kualitas kinerja dalam perusahannya itu,ia berharap bisa menjadi sosok putra satu-satunya yang menjadi kebanggan sang Ayahnya.
Perhitungan yang matang serta keputusan yang tegas dalam menentukan sikap adalah merupakan ciri khas tersendiri bagi sosok seorang BANNY PRATAMA WIGUNA putra tunggal dari mantan seorang rektor plus pemilik tunggal perusahaan TIRTA LOGISTIK.
Banny sendiri mampu membuat perusahan milik sang Ayah berkembang semakin pesat.
Di tambah sekarang ia mencoba melebarkan sayapnya di dunia property menambah kian panjang deretan aset masa depan sang pengusaha muda yang memiliki paras tampan itu.
Namun Semua itu tidak luput dari hasil kerja sama seorang sekertaris yang mampu mengimbangi di setiap pekerjaan maupun hasil dari keputusan akhir yang di tentukan oleh sang pemutus perkara,dukungan serta relationship yang terbentuk di antara dirinya dengan sang sekertaris menjadikan perusahan semakin kuat dan mampu di perhitungkan akan kesuksesannya.
Meski terkadang cara komunikasi sang sekertarisya itu terbilang suka nyeleneh tapi Mona mampu menghandle setiap urusan yang diberikan kepadanya.Adalah sebagian kecil Mona ikut andil dalam mengelola serta memajukan perusahan itu dengan penuh tanggung jawab.
" Baiklah pak,Selamat bergabung di perusahan property kami,semoga kita bisa menjalin hubungan kerja yang sangat baik." Ucap Banny seraya mengulurkan tanganya mengajak bersalaman dengan kolega barunya.
" Baik pak,saya senang bisa bergabung dengan perusahan bapak Banny ini,semoga kita menjadi patner yang setia dan saling menikmati ke untungannya." Balas sang kolega itu dengan tersenyum penuh bangga.
Tidak lama kemudian acara pertemuanpun itupun selesai Banny terlihat begitu bersemangat saat ia mendapat kembali kolega baru untuk berfatner dalam perusahaan barunya di bidang property.
Meski ini adalah pengalaman barunya tapi tidak menyurutkan semangatnya utuk terus maju.
" Oya Mona,kamu sudah konfirmasi kepada Zeanu untuk acara siang ini." Tanya Banny seraya merapihkan tas koper kecilnya dan beberapa surat penting di masukannya dengan rapih.
" Saya sudah mengonfirmasikannya via Wa pak." Ucap Mona seraya merapihkan laptopnya.
" Kenapa via Wa ?Seharusnya kamu telepon langsung dong." Balas Banny dengan menatap dingin.
" Maaf pak,tadi saya sudah mencoba menghubungi via telepon namun tidak ada jawaban sama sekali,makanya saya mengirim pesan via Wa siapa tau pak Zeanu nanti dapat membaca pesannya." Jelas Mona dengan menatap ragu sang bos.
" Gak,gak !Kamu coba telepon lagi sekarang.Takutnya Zeanu tidak tahu ada pesan masuk,kalau dia membacanya,kalo tidak gimana ?" Tanya Banny dengan nada mulai terdengar kesal.
Banny pantang dalam hal menunggu lama karena baginya menunggu itu hal yang hanya membuang waktu dengan sia-sia.
" Ba...Baik pak." Jawab Mona pendek.
Monapun segera mengeluarkan kembali gawainya dan mencari no teleponnya Zeanu tak lama ia pun menempelkan benda pipih itu di telinganya.
NUUUTTT....NUUUT......
Terdengar suara sambungan telpon cukup jelas namun tidak ada tanda-tanda panggilannya terjawab. Mona masih menunggu Zeanu mejawab panggilannya.
NUUUT...... " No yang ada tuju tidak menjawab." Jawab operator singkat.Membuat Mona semakin tak tenang.
" Gimana ada jawaban ?" Tanya Banny menatap lurus Mona.
" Operator yang jawab pak." Jawab Mona polos.
Banny menggeleng prustasi atas jawaban Mona yang cukup membuatnya semakin jengkel.
__ADS_1
" Kemana tuh orang ?Jangan-jangan ia membatalkan pertemuan ini lagi." Guman Banny terdengar cukup kesal akan nada suaranya.
" Mungkin pak Zeanu masih ada pekerjaan yang lain kali pak,jadi belum bisa mengonfirmasi kita.Lagian masih ada waktu beberapa menit lagi pak untuk menghubunginya lagi." Sela Mona seraya beranjak dari tempat duduknya.
" Seharusnya kamu konfirmasi lebih awal,jadi tidak menunggu tak pasti seperti ini." Ucap Banny bernadakan kesal.
Mona menghela,sebelum Banny mengusulkan seperti itu Mona sudah terlebih dahulu menghubungi Zeanu namun sayang Zeanu tidak mengangkat sedikitpun teleponnya.
Mona melirik kesal ke arah sang bosnya itu ia merasa Banny menuduhnya sedikit lalai.
" Kan tadi udah saya konfirmasi lebih awal terhadap pak Zeanu,namun panggilan saya tidak ada jawaban.Makanya saya konfirmasi lagi lewat Wa pak." Ucap Mona dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
" Berapa menit lagi kita akan menunggu dia ?" Tanya Banny dengan nada mulai tidak enak di dengar.
" Pertemuan pas di jam makan siang pak dan sekarang baru jam 11: 35 menit." Jelas Mona dengan mencoba bersabar menghadapi sikap keras kepalanya sang bos.
" Itu artinya sebentar lagi ke jadwal pertemuan dan waktu menunggu sudah tidak banyak lagi kan ?Karena saya paling malas kalau sudah menunggu,tepat waktu adalah prinsip hidup untuk sukses." Ucap lagi Banny kian terlihat sangat jengkel.
Mona memutarkan bola matanya dengan kesal berdebat dengan bosnya hanya dapat menambah banyak pertumbuhan ubannya.
Kedisiplinan yang di pegang teguh Banny terkadang sering menjadi boomerang baginya.
" Baiklah akan saya coba hubungin lagi." Sela Mona mengusulkan kembali menghubungi Zeanu.
" Tidak usah !Kamu mending cek beberapa laporan yang masuk ke email kita,dan tolong revisi ulang beberapa laporan barang yang kemarin masuk serta keluar,soalnya tadi saya lihat bu Ranti serta pak Hendra belum mengirimkam laporan tentang barang yang sudah terkirim kemarin siang." Titah Banny seraya meraih gawainya dengam tanpa dosa.
" Heeuuuhhh,selalu begini."
Guman Mona ngebatin.
" ........." Banny menatap Mona dengan datar,sepertinya bisa merasakan kekesalan Mona dalam hatinya.
Mona mengerutkan kulit dahinya hinggat menciut ia panik saat tatapan itu seperti mengisyartakan bahwa Banny mendengar kekesalan hatinya.
" Oopsss !!" Pekiknya pelan lalu ia pun tersenyum di paksakan dengan raut wajah ekspersi datar,berurusan dengan sang bosnya setiap hari benar-benar membuat ia mengalami penuaan dini lebih cepat.
" Hee...hee..."
Mona menyerengah lucu dengan apa yang menjadi pemikirannya tentang sosok sang bosnya itu.
Beberapa menit sudah berlalu.
Mona masih berkutat dengan laporan-laporan yang sudah masuk ke emailnya,ia tidak memperdulikan sang bosnya yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Banny sesekali memandangi Mona yang tengah serius di hadapan laptopnya.Betapa tidak sosok Mona baginya begitu sangat kompeten dalam masalah pekerjaannya meski terkadang Mona selalu bersikap konyol dan polos namun mampu membuat ia merasa nyaman bekerja sama dengannya.
Mona sendiri tidak menyadari akah hal itu. Banny yang sedari tadi diam-diam memperhatikannya sehingga mengaguminya dalam diam.
Bahkan Banny sendiri membandingkan kualitas kinerja Mona dengan mantan sekertaris yang dulu.
Mona memang sangat sederhana dalam berpenampilan namun lebih berkualitas dalam pekerjaanya sangat berbeda jauh dengan Manda,sekertaris sebelumnya yang benar-benar menomor satukan penampilannya ketimbang kinerjanya.
Ponsel Mona berbunyi nyaring lalu sebuah panggilan masuk ke panggilan teleponnya.Mona dengan sigap segera meraih ponselnya lalu di lihatnya Zeanu memanggilnya.
" Hallo.selamat siang pak !" Sapa Mona dengan ramah.
" Mon,sorry ya tadi gue gak sempat angkat telpon lo,tadi handphonenya ketinggalan jadi mau gak mau gue balik dulu tuh ambil handphone." Terdengar jelas Zeanu berbicara dari sebrang telepon.
" Oh iya pak,tadi saya sempat menghubungi beberapa kali namun tidak ada jawaban." Sela Mona dengan ramah.
Banny ikut menyimak obrolan Mona lewat sambungan telpon.
" Oya pak pukul 12:00 kita mengadakan pertemuannya,sekalian dengan jam makan siang,alamat tempatnya sudah saya kirim lewat Wa pak." Ucap Mona yang profesional memanggil Zeanu dengan sebutan bapak agar lebih formal.
" Baiklah !." Jawab Zeanu mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1
Mona pun segera meletakan gawainya di samping laptop lalu ia menoleh ke arah Banny yang sedari tadi menatapnya dengan penuh selidik.
" Apa kata Zeanu ?" Tanya Banny dengan tak sabar.
" Pak Zeanu bilang handphonenya tadi tertinggal,jadi tidak bisa menjawab panggilan saya."
" Pantas saja." Ucap Banny pendek.
" Ok.Kita langsung berangkat saja sekarang!." Ucap Banny seraya merapihkan barang-barang miliknya.
" Baik pak." Ucap Mona seraya mengecek ulang data-data laporan yang sudah masuk ke emailnya dan ia pun memastikan sudah terkoreksi dengan baik.
Banny pun melangkah keluar ruangan tanpa menghiraukan Mona yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaanya.
Beberapa menit kemudian Mona segera menyusul sang bos yang sedang menunggunya di depan lift.
Banny dengan bergaya memasukan tangan ke saku celananya dengan terlihat tak sabar menunggu lift naik.
Mona pun ikut berdiri tak jauh dari sang bosnya itu.Sedetik dua detik lift pun terbuka,Dan kebetulan di dalam lift ada Manda berdiri menatap lurus pintu lift yang terbuka.
Ia pun terhenyak setengah terkesima melihat Mona yang berdiri di belajangnya sang bos tampan itu.
Banny dengan penuh wibawa memasuki lift ia tidak memperdulikan akan kehadiran Manda yang berada di dalam lift itu.
Manda manggut dengan penuh hormat saat Banny mengalihkan pandanganya ke arahnya.
Mona dengan sedikit mengangkat dagu ia segera mengikuti langkah sang bos dan ia pun mengambil posisi tepat di hadapan Manda.
Manda menggeser posisi berdirinya dengan jutek matanya melirik tajam ke arah Mona yang sengaja membuatnya semakin kepanasan dengan bersikap so cantik.
Mona menoleh namun tidak menatap wajah Manda ia malah dengan sengaja menyibakan rambutnya dengan sok jadi model ternama iklan shampo.
Manda bergidik sebal lalu ia pun membuang wajahnya dengan penuh kebencian.
Mona dengan sengaja terus semakin membuat jengkel Manda.
" Hemm,suruh siapa lo selift sama gue,gue bikin lo gosong baru tau rasa."
Guman batin Mona seraya mendilak manja ke arah Manda.Yang di lirik membuang muka hingga bibirnya terlihat semakin mengerucut.
" Maaf pak,jasnya sedikit kotor." Ucap Mona seraya menyapu baju bagian pundaknya Banny berpura-pura sok perhatian,padahal jelas terlihat baju jasnya Banny bersih.
Banny menoleh ke arah Mona ia menatap heran akan sikapnya Mona.
Alisnya yang tebal terlihat naik turun lalu di lihatnya ke arah baju bagian pundaknya tak ada kotoran yang menempel lalu Banny pun hanya mengangkat bahu dengan tak pasti.
Mona tersenyum sinis ke arah Manda,rupanya Mona sengaja bersikap sok perhatian terhadap sang bos itu agar Manda terlihat semakin terbakar api cemburu.
Manda semakin enek melihat gayanya Mona yang semakin tengil di rasanya.Mungkin jika dada Manda terbuat dari kaca bisa jadi api cemburu yang membakar hatinya akan terlihat membara,karena dia sendiri pernah berharap jika Banny bisa meliriknya.
Mona bahagia bukan main setelah melihat ekspresi wajah cantiknya Manda berubah warna menjadi merah membara saat melihat gayanya yang sok perhatian terhadap Banny.
Lift terbuka di lantai dasar Banny dan Mona segera melangkah keluar lalu di ikuti Manda yang sudah tak sabar ingin segera enyah dari hadapan Mona dan Banny.
Dengan perasaan sejuta benci di benaknya Manda segera menerobos Mona yang sedang berjalan di belakang Banny,dan alhasil Mona menabrak tubuh kekar Banny yang sedang berjalan di depannya.
" O..oow !!" Pekik Manda terkejut lalu tersenyum penuh kebencian yang di alamatkan untuk Mona.
Mona memutar bola matanya melirik sebal ke arah Manda yang berjalan cepat menjauh darinya.Banny menoleh ke arah Mona yang tak sengaja sudah menabrak tubuhnya.
" Maaf pak." Ucap Mona memohon.
" Kamu bisa gak berjalan dengan hati-hati ?" Tanya Banny menoleh Mona dengan kesal.
" Manda barusan berjalan cepat pak,sehinga tidak melihat saya sebegini besarnya dia terobos." Balas Mona dengan menoleh Manda yang hanya terlihat pundaknya saja berjalan menjauh meninggalkannya.
__ADS_1
Banny terdiam lalu berjalan kembali ia memang sempat melihat langkah Manda yang berjalan cepat menuju loby utama lalu ia pun menghela mencoba memakluminya.Dan sepertinya Banny paham akan sikap mantan sekertarisnya itu yang masih menyimpan perasaan benci terhadap Mona.