
Mona berjalan menapaki satu persatu anak buah tangga itu dengan terus berpegang erat kepada tangan sang bosnya itu yang sedari tadi memeganginya dengan penuh perhatian.
Mona dibuat terheran dengan sikap yang baru saja ditunjukkan oleh boss nya itu terhadap dirinya,ternyata di balik sikap dingin dan angkuhnya yang selalu ia tampilkan, nyatanya Banny adalah sosok pria yang bisa bersikap hangat dan begitu peduli terhadap seorang perempuan .Pantas saja mantannya itu masih menyimpan banyak harapan agar kisah mereka bisa tersambung kembali. Mona pun berpikir keras, ia penasaran dengan alasan sebenarnya yang membuat boss nya itu selalu bersikap acuh dan dingin, terlebih jika itu pada wanita yang berusaha menarik perhatiannya?
Perasaan Mona kembali tersita akan permaslahan sang bosnya itu.
Yang jadi prasangkanya selama ini,ia menganggap jika sang bosnya itu telah mati rasa sehingga sering mengacuhkan perempuan-perempuan yang menaruh hati kepadanya.
Dan sepengetahuannya jika Banny bersikap seperti itu karena alasan utamanya adalah trauma.sang bosnya itu pernah mengalami kegagalan cintanya yang teramat tragis,sehingga sehebat itu akan trauma yang di rasakannya.
Tapi sepertinya asumsi itu di patahkannya lagi dengan kenyataan yang sedang terjadi,bosnya itu tidak tidak sedang mengalami trauma,ia hanya perlu waktu untuk menyakinkan hatinya untuk menerima cinta yang lain,dan buktinya saja Banny adalah sosok pria istimewa yang dapat memperlakukan seorang perempuan dengan caranya sendiri.
Mona mencoba menyingkirkan perasaannya itu lalu menatap panjang ke deratan anak buah tangga yang ad di hadapannya itu.
Mona mendesah,beruntunglah hanya lima lantai saja yang ia tempuh,tidak terbayangkan olehnya jika ia harus turun dari lantai 10 hingga lantai basement,bisa-bisa persendiannya rontok semua.
Dan nyatanya lantai 10 itu hanya dipergunakan untuk stok barang logistik.
Pikir Mona dengan terus memandangi tangan kekar Banny yang masih memegang kuat tangannya.
Lantai 3 terlewati Mona pun menghela,rasanya lutut kakinya terasa mau copot dari persendiannya lalu ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak.Banny menoleh ke arah Mona setelah merasa tangannya tertarik dan ia pun menahan langkahnya.
" Aduh pak,kaki saya tidak kuat lagi." Seloroh Mona seraya melepaskan pegangannya itu dan meremas lututnya.
Banny menatap jauh ke dalam wajah Mona.
" Istirahat dulu sejenak." Balas Banny pelan.
Lalu Banny mun duduk di salah satu anak buah tangga itu dengan mengatur laju napasnya.
Mona mengatur laju napasnya lalu ia pun menyenderkan badannya di sandaran tangga itu.
wajahnya terlihat pucat pasi menahan rasa ngilu yang mulai merontokan seluruh persendiannya.
Banny menatap kembali wajah polos itu dengan dalam.
Tak berapa lama akhirnya Banny bangkit kembali lalu mengajak Mona utuk berjalan kembali.
" Kamu sudah kuat berjalan lagi ?" Tanya Banny dengan menatap penuh arti.
Mona mengangguk pelan lalu ia melangkah kembali menuruni tangga dengan langakah lambat.Ia berharap rasa ngilunya sedikit berkurang dari persendian kakinya itu.
Banny memperlambat jalannya seraya terus memperhatikan langkah Mona dengan seksama.
Akhirnya lantai 2 dan 1pun terlewati dengan begitu penuh perjuangan.
Tubuh Mona tiba-tiba ambruk setelah turun dari anak buah tangga terakhir dan tubuhnya tersungkur dengan posisi bersujud di lantai,rasanya ia merasa tidak kuat lagi untuk berjalan,dadanya berdetak lebih kencang serta napasnya memburu cepat.
Banny tercekat setelah melihat tubuh Mona yang ambruk di lantai itu.
" Mona !!" Pekikinya seraya memburunya dengan perasaan shok,lalu ia pun segera menyangga tubuh mungil Mona itu.
" Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Banny panik.
" Kaki saya sakit banget pak." Ucap Mona meringis kesakitan.
Dengan cepat Banny pun segera melepaskan sepatunya Mona dari kakinya dan dengan spontan ia pun segera memijat pelan di bagian kakinya yang sakit.
Mona menatap tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya itu,bibirnya nyaris terbuka lebar setelah melihat sikap panik dan sigapnya sang bosnya itu terhadap dirinya.
Banny memijat perlahan kaki putihnya Mona yang di tumbuhi bulu-bulu halus di kulit mulusnya itu.
__ADS_1
" Gimana kakinya,udah agak enakan ?" Tanya Banny seraya mendongkak dan menatap ke dalam wajah Mona.
TAP.......
Tatapan mereka kembali saling beradu mengunci perasaan yang sulit diartikan oleh mereka.
Adengan pandang memandang kembali terjadi,dan itu membuat Mereka mau tak mau harus saling menatap dengan waktu yang tidak bisa di tentukan.
Entah kenapa desahan napasnya Mona itu memancing kembali perasaan Banny yang tak biasa.Meski Mona terlihat menahanya akan laju napasnya itu yang kian menekan dadanya hingga terlihat naik turun,setidaknya hentakan napas itu mendorong lebih kuat sehingga menonjolkan bentuk dadanya yang sempurna,dan hal itu mampu membuat Banny menatap dengan penuh hasrat.Sorot matanya kian menatap tak menentu ke arah Mona dengan tatapan yang sama.
Rasa cemas itu mulai menyergap ke dalam hatinya,adengan seperti ini pernah ia alami sehingga meninggalkan jejak indah yang sulit ia lupakan dengan hal apapun.
Betapa tidak adegan seperti ini akan berujung pada sebuah ciuman,yang pastinya itu akan membuatnya setengah gila melupakannya.
Banny masih menatap dalam ke wajah Mona yang terlihat menatap ragu ke arahnya,pijatan lembut di kakinya Mona perlahan membuat pikirannya tidak karuan.
Kenapa tidak kesempatan seperti jarang sekali ia temui,pikiran nakal mulai merorongrong jiwanya dan kenalurian laki-lakinya muncul menghasut pikirannya.
Perempuan yang ada di hadapannya mampu menggairahkan kembali hasrat yang terpendam selama ini,jika Banny adalah sosok pria pecundang maka ini adalah kesempatan emasnya untuk melepaskan napsu bejadnya.
Dengan cepat Banny menyingkiran pikiran negatifnya itu dan memotong cepat pikiran nakalnya untuk menjamah tubuh perempuan polos itu yang ada di hadapannya itu.
Banny pun segera melepaskan cekalan pijatannya itu dan memilih segera bangkit dari hadapan Mona yang terlihat ketakutan dengan sorot matanya itu.
Mona pun menudunduk kian dalam memandangi kakinya yang terasa semakin nyeri setelah Banny memijatnya.
" Kamu tunggu disini ! biar saya yang turun ke lantai basement dan akan saya pindahkan mobilnha ke parkiran lantai dasar." Ucap Banny dengan menatap kembali Mona.
Mona hanya terdiam tak bisa lagi berbicara saat kakinya semakin terasa semakin pegal dan linu,mungkin ini efek dari sepatu hak tingginya itu sehingga kakinya terasa semakjn nyut-nyutan.
" Kamu jangan kemana-mana." Perintah lagi Banny seraya berjalan cepat menuruni anak tangga itu.
Pikirannya kembali ke hal yang tadi,ia semakin yakin jika Banny sang bosnya itu memang pria bukan sembarangan yang bisa memanfaatkan situasi ini untuk melakukan hal di luar akal sehatnya.
Perlahan namun pasti Mona mengakui jika perasaannya semakin kuat tertuju kepada sosok sang bosnya itu.
Ia berharap jika sandiwaranya selama ini akan berujung pada sebuah kenyaatan yang bisa memiliki seutuhnya cintanya seorang Banny.
Mona menunggu dengan sabar rasa lelahnya sedikit berkurang dengan beristirahat sejenak, lalu ia menatap ke sekeliling ruang tangga darurat itu yang terasa pengap,dengan cahaya lampu yang tak begitu terang membuat ia merasa tidak nyaman berada di tempat itu dan pikirannya mulai berhalusinasi yang menyeramkan.
Seperti di cerita-cerita horor lainya ruangan tangga darurat adalah tempat paling seram,dan tempat ini juga tempat yang paling seram untuk kemunculan para hantu-hantu yang bergentayangan.
" Duh,pak bos kok lama sih ambil mobilnya,bulu kuduk gue udah discoan nih." Guman Mona pelan,matanya melarak lirik ke seluruh ruangan tangga darurat itu,dan lagi-lagi halusinasinya berkerja seolah-olah ia sedang membayangkan ada sosok perempuan berambut panjang sedang duduk di salah satu anak tangga itu.
" Ikhh gue jadi parno begini sih." Gumannya seraya bergidik.Lalu ia menatap kembali ke arah tangga atas yang telihat samar-samar akan cahanya.
Halusinasinya bereaksi lagi,kali ini ia membayangkan jika di sana ada sosok mahluk berwajah hancur sedang menatap galak dirinya.
Mona kembali bergidik dengan ekspresi sangat ketakutan dan memaksa dirinya untuk berusaha bangkit meski kakinya masih terasa lemas dan linu.
Pintu sebelah kiri menuju parkiran luar berdecit hebat seperti ada yang sedang mendorong dari luar,Mona menatap shok ke arah pintu besi itu yang perlahan-lahan bergerak.Yang ada di imajinasi pikirannya ia membayangkan akan sosok genderewo muncul di balik pintu besi itu dan menyergapnya.
Mata bulat Mona terbelalak sempurna saat pintu besi itu terbuka dan ternyata Banny menyembul dari balik pintu itu dengan wajah basah oleh peluh.
" Pyuhhh.., " Mona menghela lalu ia menekan pelan dadanya dengan perasaan lega.Ia pun berusaha menghilangkan perasaan tegannya dengan berkali-kali menarik napas panjang,ia pun menatap lega saat yang di lihatnya adalah sosok mahluk yang tampan,bukan mahluk meyeramkan.
" Kenapa wajah kamu tegang ?" Tanya Banny setelah mendapati sekertarisnya terlihat sangat tegang.
" Saya pikir,saya akan melihat mahluk astral yang menakutkan." Balas Mona seraya mengelus dadanya dengan lega.
" Mahluk astral itu tak perlu di takutkan." Balas Banny kembali dingin.
__ADS_1
" Tapi mereka sangat menyeramkan." Bela Mona dengan pelan.
" Lebih seram lagi seorang mantan yang meminta balikan." Balas Banny dengan nada kaku.
Mona menyeringah menatap datar ke arah bosnya itu,Tatapannya mengandung penuh pertanyaa.
Tapi apakah bosnya itu sedang menyindir dirinya sendiri? atau ini adalah selera humornya yang bar?tapi kapan sang bosnya itu memiliki rasa humor yang tinggi ?
tepatnya Mona merasa daya ingatnya mulai lemah.
" Ayo !Kamu mau pulang tidak ?" Tanya Banny menatap lurus Mona yang sedang sibuk dengan pikirannya itu.
" I iya pak." Jawab Mona dengan cepat.
" Kakimu masih sakit ?" Tanya Banny menatap dingin Mona.
" Sudah mendingan pak.." Jawab Mona seraya merasa-rasakan lagi rasa sakit di kedua kakinya itu.
" Berarti tak perlu saya pegangi lagi kan ?" Tanya Banny yang memilih berjalan terlebih dahulu ke arah pintu keluar itu.
" Tidak pak,tidak usah." Balas Mona pendek.
Lalu dengan masih tertatih-tatih Mona pun mencoba berjalan melangkahkan kakinya.
Sebuah mobil sport berwarna metalic terparkir tak jauh dari pintu keluar tangga darurat itu,Banny pun memanggil Mona cepat-cepat menghampirinya dan menyuruhnya segera masuk kedalam mobinya itu.
Dengan tak menunggu lama Monapun membuka pintu sisi penumpang,sementara itu Banny sudah berada di balik kemudinya.
Baru saja Mona menempelkan bokong di kursi Banny sudah menyela dengan nada bicara ketus.
" Kenapa kamu duduknya di belakang ?memangnya saya supir kamu ?" Ucap Banny dengan suara datar.
Mona menghela kesal ke arah bosnya itu yang mulai bersikap angkuh lagi.
Mona turun kembali dari kursi tempat duduknya dan beranjak pindah ke kursi depan.
Tak lama mobil mewahnya Banny pun melaju meninggalkan parkiran gedung itu.
hening....
Keduanya hanya saling membisu seraya memandangi ke arah luar kemudi.
Perasaannya saling tertahan untuk memulai sebuah obrolan.
Banny sesekali melirik ke arah Mona yang meluruskan pandangannya ke arah jalan.
" Kita makan malam dulu,saya yakin kamu lapar." Ucap Banny memecah keheningan.
" Saya hanya ingin beristirahat pak." Balas Mona singkat.
Banny menoleh ke arah Mona dengan menatap kaku.
" Saya tidak mungkin membiarkan kamu pulang dengan perut kosong." Ucap Banny menggeser bola matanya ke arah Mona.
" Tapi...."
" Saya tidak suka di tolak." Gertak Banny menyela dengan cepat.
Mona menggeleng pelan lalu ia pun membuang jauh pandangannya ke sebrang jalan,apapun itu perubahan sang bosnya tetap baginya Banny adalah sosok pria yang susah di prediksi akan mood serta pikirannya.
Walaupun sedangkal itu pikirannya tetap Mona tidak bisa menyelaminya,sosok misterius yang lebih menyeramkan dari mahluk penunggu tangga darurat.
__ADS_1