CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 162


__ADS_3

BANNY si pria tampan berwajah dingin itu menatap resah ke layar laptopnya,sesekali air mukanya berubah kesal setelah sebagian pikirannya tertuju kepada istri sandiwaranya yang bisa-bisanya sang Ayahnya memperkerjakan pria bernama Aras di perusahaannya tersebut.


Tentun saja Banny mengetahui betul karakter seorang Aras yang memiliki pesona tak jauh berbeda dengannya.


Banny mengelus-elus dagu lancipnya dengan mata elangnya tetap menatap tajam layar laptop miliknya.


Tok,tok,tok.


Suara ketukan di pintu mengalihkan antensinya,lalu ia pun sejenak mengarahkan pandangannya ke arah pintu tersebut.Arnetta muncul di balik pintu itu dengan tersenyum lembut.


" Ada apa ?" Tanya langsung Banny dengan datar.


" Ini berkas-berkas untuk anak cabang perusahaan bu Mona.


" Baiklah,tolong kamu simpan di atas meja.Nanti akan saya cek kembali.


" Baik Mas." Balas Arnetta membungkuk.


" Oya mas pak Angkasa mempertanyakan kembali pertemuan mengenai kerja sama untuk anak cabang perusahaan mas yang baru." Terang Arnetta menatap dengan seksama.


Banny terlihat menarik napas panjang.Perasaannya kian tah habis pikir atas sikap Angkasa yang bersikeras ingin menjalin kerja samanya dengan anak cabang perusahaannya tersebut.Ini adalah peluang yang sangat besar untuk dirinya dalam mensukseskan kembali perusahaannya tersebut.


Namun entah kenapa Banny meragukan penawaran pria berkarisatik itu yang kini sedang menjalin kerja sama dengan dirinya.Dan ia menyangkal jika penwarannya itu hanya untuk kepentingan pribadinya saja.


" Sepertinya saya perlu bebicara lebih fesonal dengan pimpinan perusahaan itu atas penawarannya untuk kerja sama dengan anak cabang perusahaan yang baru ini.Jadi kamu tolong jadwalkan pertemuan saya secepatnya dengan Direktur PT Angkasa." Ujar Banny dengan raut wajah penuh kekesalan.


Arnetta yang sedari tadi memperhatikan raut wajah pria tampan itu terlihat heran.Seperti ada sesuatu hal yang sedang di sembunyikan pria tampan itu dan hal ini bukan masalah pekerjaan.


" Note Mas,akan saya aturkan kembali." Balas Arnetta dengan sigap.


" Ada lagi mas ? " Tanya Arnetta menatap dalam.


" Tidak." Jawab Banny singkat


" Baik,kalau begitu saya permisi dulu mas." Pamit Arnetta seraya membungkuk penuh hormat.


Gadis cantik itu berjalan mundur lalu beralik dan melangkah keluar ruangan Direkturnya tersebut.


Banny menghela menatap seluit gadis itu yang menghilang di balik pintu.


Dia sangat yakin jika gadis cantik itu masih mengharapkan suatu perasaan darinya.Namun ia tak mau peduli karena kini seluruh dunianya teralihkan seluruhnya terhadap sosok seorang Mona.


Banny menatap jam tangan yang melingkar mewah di tangan berbulu lebat,pikirannya semakin tak tenang di buatnya terlebih kini Mona di sandingankan dengan seorang Asisten laki-laki yang sama sekali ia tidak menyukainya.Apa pun itu alasannya Banny menolak akan kehadiran Arash di anak cabang perusahaanya tersebut.


Ahh **** !!!


Rutuk batin pria tampan terlihat frustasi.


Perasaan resahnya kian membelenggunya membuatnya kian tak berkutik.


Kenapa dirinya seresah itu memikirkan keadaan gadis tersebut.Dan nama gadis itu berhasil mendominasi seluruh pikirannya.


Hanya ada Mona,dan Mona nama perempuan yang kini berada di otaknya.


Banny menangkup wajahnya lalu berakhir meremas rambutnya dengan perasaan berat.Rasa-rasanya perasaan ini semakin begitu besar akan takut kehilangan sosok gadis tersebut.


***************


" Bu Mona !!" Panggil suara itu menghentikan langkah gadis itu yang sedang berjalan menuju luar lobby perkatoran.


Mona menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil dirinya,lalu di lihatnya Aras si pria eksentrik itu tersenyum padanya dengan penuh pesona.


Gayanya yang perlente itu membuat Mona sedikit geli menanggapinya


Mona tersenyum enteng namun perasaanya sedikit terganggu dengan sikap so akrab asistennya tersebut.


" Bu Mona mau pulang ?" Tanyanya tersenyum manis.


" Ya. " Jawab Mona singkat.


" Bagaiamana jika saya mengantarkan bu Mona pulang ? " Pria itu menawarkan kebaikannya.


Belum saja Mona berkata untuk menolak ajakan pria itu tiba-tiba saja suara bariton cukup lantang menyapa di antara mereka.


" Sayang ! " Panggil suara itu seraya perlahan mendekatinya.


Aras menoleh ke arah pria bertubuh tegap dengan pahatan wajah yang begitu sempurna.


Lalu Arash pun melengos setelah melihat pria itu yang berjalan mendekatinya.


" Mas !" Pangil Mona tercengang dengan kehadiran Banny yang secara tiba-tiba.


Arash menatap dengan berbagai prasangka atas ucapan Banny yang memanggi gadis itu dengan ucapan 'Sayang'


" Sepertinya kamu tidak perlu mengantarkan istriku pulang.Karena dia akan pulang bersamaku." Ucap suara itu tandas yang membuat Mona terhenyak bukan main.


Dia mengakui jika dirinya adalah istrinya ??


Ada apa ?


Mona menatap penuh selidik ke arah Banny dengan tatapan yang sulit di artikan.


Banny berdiri tegak di antara posisi mereka berdiri.


" Mas !" pekik gadis itu luar biasa.


Aras mengernyitkan kedua alisnya lalu tersenyum sinis.

__ADS_1


" Istri ???" Arash mendengus.


" Yaa istri,atasan kamu ini adalah istriku.Bukan begitu sayang ?" Ujar Banny seraya menarik tubuh gadis itu kepelukannya.


Tatapan pria eksentrik itu menajam seolah-olah dia sedang meyakinkan apa yang di ucapkan pria tersebut.


" Hmm,sorry gue tidak mengundang elo di acara pernikahan gue.Lupa !!" Kembali Banny berucap dengan tersenyum penuh ejekan.


Arash terlihat menahan napas lalu menekan kuat rahang pipinya hingga menyembul sempurna.Ia tidak ingin mempermalukan dirinya di hadapan Mona atas sikap dan tindakannya Banny.


" Tidak masalah !!,gue ucapkan selamat semoga kalian bahagia." Jawab Arash tersenyum kaku.


Pria perlente itu berusaha menenangkan perasaanya.


" Thank's broo atas do'anya,gue harap pertualangan elo akan segera berakhir untuk mendapatkan cinta sejati." ungkap Banny tersenyum penuh arti.


Arash hanya mengangguk pelan dengan senyumannya yang sulit di artikan.Sedangkan Mona hanya terdiam menyimak obrolan kedua pria itu dengan raut wajah masing-masing terlihat menyeramkan.


Mona mengangkat wajahnya sekilas menatap wajah pria tampan itu yang kini sedang memperlihatkan sorot mata yang begitu penuh kebencian terhadap pria yang baru saja ia kenali sebagai asistennya tersebut.


" Gue rasa lo tidak perlu berpikiran buruk terhadap gue,karena gua tidak ada tujuan lain hanya sekedar menawari istri lo pulang bersama." Balas Arash dengan terlihat canggung.


" Itu tidak perlu lo lakukan.Setelah selesai waktu kerja itu artinya lo tidak perlu melakukan apa pun untuk atasan lo ini." Ujar Banny dengan menatap tajam.


" Ok.Sepertinya ini adalah sebuah ultimatum ?? " Desah Arash dengan gusar.


" Hanya mengingatkan !!" Ucap Banny seraya menggandeng tangan Mona yang masih bingung atas sikapnya tersebut.


Mona hanya bisa pasarah ketika pria tampan itu menariknya untuk berjalan.


Aras menghela napas panjang menatap kejadian itu dan ian pun hanya bisa terpaku menatap sikap seorang Banny yang belum bisa berdamai dengan dirinya.Terlebih dia tidaj menduga jika Mona adalah istrinya Banny.


Banny melangkah pergi dengan menarik perlahan tangan gadis itu agar mengikutinya menuju kendarannya yang terpakir sempurna di area pelataran gedung tersebut.


Mona yang sedari tadi hanya memperhatikan,dirinya benar-benar di buatnya bingung.Gengaman tangan pria tampan itu sebegitu eratnya di sela sela jari jemarinya.


Setelah membukan pintu untuk dirinya lalu kemudian Banny ikut masuk kedalam mobilnya,setelah memastikan gadis itu duduk dengan tenang ia pun segera menyalakan mesin mobilnya melaju meninggalkan sosok Arash yang masih menatapnya dari ke jauhan.


Mona masih menatap lepas ke depan jalananya,pikiranya sibuk dengan apa yang sudah Banny lakukan terhadap dirinya.Banny sesekali memperhatikan dalam diamnya ke arah gadis itu yang sedari tadi hanya terdiam tanpa bicara.


" Dia sering mengodaimu ?" Tanya Banny mengawali pembicaraanya.


Mona terhenyak sesaat pria itu membuyarkan lamunannya.


" Kamu memikirkan sesuatu ?" Tanya Banny dingin.


" Tidak." Jawab Mona pelan.


" Aku harap kamu bisa bekerja profesional dengan Assisten kamu itu.


Sontak Mona tercekat mendengar pernyataan pria tampan itu.Makna ucapnnya seolah-olah sedang mengintimidasi dirinya.


" Hanya mengingatkan tak lebih" Balas Banny dengan tetap fokus ke laju kendaraanya.


" Karena aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengan pria seperti dia.


" Itu alasan kenapa mas menjemput saya ?


Banny terdiam perasaanya setiba berubah atas ucapann gadis itu.Seolah-olah ia tahu apa yang sedang di raskannya saat ini.


" Aku hanya tidak ingin kamu kenapa napa." Ucapnya pelan namun cukup terdengar jelas di telinga gadis itu.


Mona menoleh ke arah Banny dengan perasaan yang tak menentu.


Benarkan ini bukan mimpi ?


Mona meraba kedua pipinya lalu perlahan sudut bibirnya menarik sebuah senyuman kecil yang melengkung manis.


Ucapan dasyat pria tampan ini mampu melambungkan hormon kebahagiaannya.


Pria gunung salju itu akhirnya menunjukan sikap peduli sebagai bentuk kasih sayang yang selalu di sembunyikan di balik sikap dinginnya tersebut.


" Kenapa Mas peduli akan ke adaan saya ?" Tanya Mona dengan begitu saja.


Banny melambatkan laju kendaraannya lalu menepi di tepi jalan.


" Apa saya salah bicara ?" Tanya Mona menatap aneh setelah melihat pria tampan itu menghentikan laju kendaraanya tersebut.


Banny terdiam merasakan gejolak perasaanya kian tak terkendalikan.Pria tampan itu menarik napas lalu menoleh ke arah wajah gadis itu yang sedari tadi menanti jawaban darinya.


" Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu itu ?" Pria itu justru malah bertanya balik kepadanya.


Mona melengos melihat sikap ke angkuhan dari seorang Banny begitu tinggi bak gunung salju yang membekukan setiap orang yang menjamah tempat tersebut.


Banny yang selalu gensi untuk mengakui perasaanya rasanya akan hilang famornya jika ia harus bersikap jujur.


" Sebaiknya mas tidak perlu menghawatirkan akan ke adan saya jika pertanyaan saya saja tidak mampu menjawabnya." Imbuh gadis itu seraya membuang muka.


Nada bicaranya seolah-olah sedang menyindirnya secara halus.


Raut wajah gadis itu terlihat merengut dengan perasaan yang kian sebal.


" Aku menyayangi mu Mona." Ucap Pria itu singkat,


namun mampu terdengar jelas di telinga gadis itu.


Air muka gadis itu seketika berubah sesaat setelah mendengar ucapan pria tampan itu yang mampu membuat hatinya berdebar-debar tak karuan.

__ADS_1


Dan ucapan singkat dari sosok Banny berhasil membuatnya tak percaya.


Entah apa sebabnya pria itu mengatakah hal sedemikian rupa kepada dirinya sehingga membuat tubuhnya mendadak menjadi kaku dan seluruh sarafnya bekerja di atas normal.


Ucapan ajaib itu ?


Mona melongo menatap tak percaya.


Yaaa akhirnya ucapan ajaib itu terucap dari mulutnya seorang Banny yang selama ini selalu di nantinya bak turun hujan di tengah-tengah musim kemarau yang panjang.


Mona tertergun menatap dengan perasaan shok ke arah depan dengan jantungnya berdekup lebih hebat.


Apa kah ini halusinasinya ?


Gadis itu terlihat meracau.


Perlahan Mona meraba kulit pahanya lalu mencubitnya kecil,sesaat ia pun dapat merasakan cubitan nya tersebut.Mona meringis atas cubitan kecilnya tersebut.


Gadis itu menoleh ke arah Banny yang masih menatapnya dengan berbagai perasaan yang sulit sekali ia gambarkan.


Bola mata gadis itu membulat mencoba meyakinkan apa yang telah di ucapkan pria tampan itu.


Tak hanya sampa di situ Ia pun kini mencoba meyakinkan hatinya untuk tidak percaya begitu saja atas apa yang di ucapkan pria itu kepada dirinya.Ia berharap jika pria tampan itu tidak sedang membuatnya terpana.


" Saya tidak mau percaya itu !!" Tungkas Mona seraya mengalihkan wajahnya menatap ke arah sisi yang lain.


Dia tidak ingin menjadi korban pemberi harapan palsu pria tampan tersebut.Banny melipatkan bibirnya berusaha menahan perasaanya yang kian sulit tertahan.


" Saya yakin,jika ini hanya pengalihan perasaan mas saja." lagi-lagi Mona menepis perasaanya tersebut dengan mencona menetralkan perasaanya.


" Pengalihan ??? " Banny menyipitkan matanya menatap penuh sarat makna ke arah gadis itu.


" Ya,hanya sebuah pengalihan saja." Gadis itu mendecih menatap dengan tersenyum ironi.


Lalu Banny pun mengalihkan sepenuhnya pandanganya itu ke arah wajah gadis itu yang sedari tadi terus menghidar dari tatapannya.


" Apa yang dapat aku alihkan dari perasaan ini selain dari perasaan ku yang sesungguhnya." Banny berkata dengan tandas.


" Agar saya menyetujui untuk menunda perceraiaan ini untuk dapat bertahan dalam sandiwara ini.Bukan begitu" Tanya Mona menatap nanar ke arah Banny yang kini tatapannya berubah lebih serius kepada dirinya.


" Aku sedang tidak bermain-main !" Gertak pria itu dengan terdengar lebih serius nada bicaranya.


" Dan saya pun tidak sedang bermain-main." Mona menyela dengan membalas tajam tatapan pria tampan itu.


" Maksud kamu ?? " Banny menahan helakan napasnya.


" Jujur saja,saya merasa apa yang di ucapkan mas itu hanya bisa menambah luka perasaan saya saja dengan berpura-pura kembali mencintai saya untuk sesuatu hal yang menjadi dasar ambis mas." Imbuhnya dengan suara sedikit bergetar.


Sontak pernyataan gadis itu membuatnya sedikit menohok perasaanya.


" Apa yang kamu katakan itu jujur saja aku tidak mengerti sama sekali." Ungkap Banny menatap semakin heran berusaha untuk tidak terbawa suasana.


" Apakah maas bisa mempertanggung jawabkan perkataan mas tadi itu? tentang perasaan sayang mas terhadap saya? sedangkan selama ini kita hanya berpura-pura dalam menjalani sebuah ikatan pernikahan ini ?" Mona menatap kian nanar perasaanya berubah campur aduk di dalam hatinya.


Rasanya ia ingin sekali mengungkapkan segala perasaaanya yang telah terjadi kepada dirinya selama ini.


Marah,kecewa bahkan putus asa ia rasakan atas perasaanya itu terhadap sosok seorang Banny.Lalu sekarang pria itu dengan mudahnya mengatakan sayang kepada dirinya.


Apa kabar hatinya selama ini ???


Harus membenam cinta dalam ketidak pastian seorang Banny yang sering bersikap angkuh.


" Aku tidak ingin bercerai." Ucap Banny dengan menatap kian tak biasa.


Mona tercekat nyaris lerloncat dari posisi duduknya.Namun sesaat kemudian ia hanya dapat tertegun,dirinya semakin tak berdaya dengan apa yang telah di ucapkan pria tampan itu.


Apa lagi ini ??


Berhentilah membuat semakin runyam perasaan ini !


Rutuk batin gadis itu dengan menatap penuh amarah terhadap pria tampan itu.


" Jangan mempermainkan harapanku dengan ucapan yang dapat melahirkan perasaan yang semu" Balas Mona mengelak dari ucapan pria tersebut dengan menatap resah.


Banny menghela,rasanya tak semudah itu ia dapat menyakinkan perasaan gadis itu terhadap dirinya.Bahkan ia merasa jika gadis itu masih menganggapnya semua itu hanya sandiwara belaka,terlebih gadis itu kini semakin terlibat jauh dalam hubungan sebuah pekerjaan,yang tentunya hal ini akan semakin mempersulit dirinya untuk bisa di percaya oleh gadis itu.


" Berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika perasaanku kali ini tak sekedar hanya sandiwara saja." Ungkap pria tampan itu manatap dengan penuh sungguh-sungguh.


Ada yang basah di bibir mata gadis cantik itu, lelehan bening mulai menganak sungai di pipinya.Rasanya ia harus memaknai apa tentang tangisannya kali ini.


Bahagia kah ?


Atau hanya berpura-pura bahagia atas ucapannya pria itu yang masih belum bisa membuatnya yakin seratus persen.


Dirinya masih belum bisa mempercayainya begitu saja apa yang menjadi ungkapan pria tampan tersebut.


" Dan saya pun perlu waktu untuk menyakinkan perasaan saya,jika semua ini tak hanya sekedar sandiwara saja,hanya bertujuan agar saya tetap bertahan dalam pekerjaan saya sekarang ini." Ujar mona dengan membenamkan kepalanya.Rasanya ia tak mampu lagi menahan lelehan tersebut yang terus menerus menyeruak.


Banny terdiam harapan itu diam-diam menguap entah kemana atas reaksi yang di tunjukan gadis itu terhadap dirinya.Namun terlepas dari itu perasaanya sedikit berkurang dari apa yang selama ini menjadi beban dalam hatinya.


Yaa pada akhirnya dia mampu mengatakan dari apa yang menjadi perasaan nya selama ini yang terus menerus menggajal hatinya.


" Aku akan membuktikan nya!" Imbuhnya tegas.


Tak lama pria tampan itu kembali menghidupkan mesin kendarannya tersebut dan melajukan nya kembali.


Mona masih terdiam dengan perasaan shoknya yang kian meresahkan perasaanya atas perubahan sikap pria tampan itu yang di rasainya berubah hingga seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


Antara bahagia sekaligus berprasangka buruk berbaur menjadi satu di benaknya.


__ADS_2