CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 193


__ADS_3

MONA duduk termenung menghadap cermin besar di kamarnya,ia masih memikirkan kenapa Banny tidak menjemputnya,alasan itu tak bisa ia dapatkan dari Banny di karenakan ponselnya mati kehabisan daya,sebelum peristiwa itu terjadi ponselnya Banny sulit di hubungi setiap ia menghubunginya suara sang operator yang selalu membantu menjawab panggilan tersebut.Hingga kejadian yang tak di inginkan terjadi ponselnya terjatuh hingga mati.


Entahlah ini kebetulan atau memang ponselnya kehabisan daya sehingga ponselnya tidak bisa kembali aktif.


Mona menghela napas panjang,semoga saja apa yang di pikirannya hanya perasaan yang berlebiha ,bisa jadi Banny tidak bisa menjemputnya karena memang sibuk atau tiba-tiba ada pekerjaan yang tidak bisa dia tunda.


Mona berusaha untuk menyingkirkan perasaan resahnya.


Mona mengalihkan pandangannya ke arah jam yang berada tepat di atas meja riasnya,dan waktu sudah menunjukan jam 11 malam,namun Banny belum pulang bahkan menghubunginya.Mona menatap resah,tak biasanya Banny terlambat hingga larut malam seperti ini.


Tak berapa lama tiba-tiba pintu kamarnya terbuka,Mona terhenyak mendengar deritan pintu kamar yang terbuka secara lebar ,Banny mendorong pintu tersebut secara kasar,lalu menatap tajam ke arah Mona yang menyambutnya dengan tersenyum tipis.


" Mas !" panggil Mona di tengah-tengah perasaanya yang campur aduk.


" Mas kok baru pulang ?" Mona menghela napas melepaskan perasaan resahnya,tak lama ia pun mulai melepas anting-antingnya.


Banny terdiam dengan raut wajah tak biasa,Mona melihat jelas akan perubahan raut wajah suaminya tersebut melalui pantulan cermin di hadapannya.


" Mona,Aku ingin berbicara." ucap Banny ketus.


Mona menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Banny.


" Ada apa mas ?" tanya Mona cukup terperangah melihat sikap Banny yang berbicara ketus kepadanya,sorot matanya begitu beringas menatapnya.


Mona masih belum mengerti dengan perubahan sikap Banny yang secara tiba-tiba.


Mona masih menatapnya tak mengerti.


" Jadi ini alasan ponsel kamu tidak aktif,dan kamu sengaja menonaktifkan ponsel kamu karena hal ini." ujar Banny terlihat geram.


Mona semakin terkejut mendengar nada bicaranya yang tak biasa.


" Mas,ponselku benar-benar mati,ponselku terjatuh." ujar Mona menatap semakin tidak percaya dengan sikap kasarnya Banny yang di tunjukan kepada dirinya.


" Jatuh ??? hingga ponsel itu tidak aktif ??" tanya Banny tak percaya.


" Benar mas,tadi ponselku terjatuh,tapi aku sempat menelpon mu mas pake ponselnya Aras,tapi nomor kamu berada di panggilan yang lain dan itu beberapa kali aku coba seperti itu terus mas." sergah Mona menatap lurus Banny yang masih terlihat marah,Banny tersenyum sinis mendengar nama Aras kembali di sebut entah kenapa justru hal itu memancing kemarahannya.


" Kamu tidak perlu mengalihkan semua alasan kamu itu !" ujar Banny tersenyum sinis,Mona yang masih belum mengerti maksud Banny berdiri dan menatap panjang ke arah suaminya tersebut.


" Aku gak ngerti maksud mas apa,tiba-tiba mas datang marah-marah sama aku,seharusnya aku yang marah sama mas,aku udah nunggu mas hampir satu jam mas,mas gak kujung datang juga." ucap Mona dengan kesal.


" Kurasa kamu terlalu pintar untuk mengalihkan semua persoalan ini,aku pikir kamu mendengarkan semua omonganku,nyatanya kau diam-diam bertemu dengan Sultan.Heh semua wanita sama saja pandai berkilah." desis Banny mendengus.


Sontak Mona terkejut mendengar Banny menuduh dirinya ada diam-diam bertemu dengan Sultan,ini adalah salah paham yang begitu besar jika Banny menuduh dirinya melakukan pertemuan dengan Sultan tanpa sepengetahuannya.


" Apa mas ??aku diam-diam bertemu dengan pak Sultan ??itu fitnah mas." elak Mona dengan terlihat shok.

__ADS_1


" Apa,katamu itu fitnah ??" tanya Banny seraya merogoh ponsel di saku celananya dan mengulik sebentar,lalu menyodorkan ponsel tersebut dengan kasar kehadapan wajah Mona.


" Lalu apa ini ?apa kau masih bisa berkata ini fitnah ?? Kau dengan Kinaya apa bedanya hah ?? sama-sama hanya menginginkan hartaku saja. !!!" luapan marah Banny kian tak tertahan.


Sontak Mona benar-benar tersinggung dengan perkataan Banny yang mengatakan diri sama dengan Kinaya.


Di tengah perasaanya sakit Mona mencoba menundukan kepalanya untuk mencermati beberapa gambar yang berada di dalam ponsel Banny yang di tunjukan di hadapannya.


Bagai disambar petir di siang hari,mata Mona membelalak lebar,serta merta lidahnya menjadi kelu melihat foto yang berada di dalam ponselnya Banny.


Bagaimana mungkin Banny bisa mendapatkan foto itu ?dari mana ?? Batin Mona mendongkak menatap dengan berbagai perasaan.


" Aku menyesal telah menyimpan dalam perasaan ini,jika pada akhirnya kau bersikap seperti Kinaya,perempuan yang tidak tau diri menjebakku dengan perasaan yang begitu halus!" hardik Banny dengan perasaan kian marah matanya menyalang hebat.


Mona menggeleng-gelengkan kepalanya.Tentu saja perasaanya tersakiti dengan ucapan Banny yang tengah di kuasai oleh marahnya tersebut.


" Mas aku bisa jelasin semua itu,tanpa harus dengan emosi seperti ini,mas salah paham." sergah Mona dengan nada hancur,perasaanya di liputi rasa sedih sekaligus penasaran atas poto-poto tersebut.


Kejadiannya tidak seburuk apa yang di tuduhkan Banny terhadap dirinya.


Banny menatap benci ke arah Mona yang berusaha untuk menjelaskan atas tuduhannya tersebut.Tetapi Banny sepertinya sudah tidak ingin peduli atas penjelasan istrinya tersebut.


" Mas,apa yang ada di poto itu tentu saja itu tidak benar,tidak seperti apa yang mas pikirkan,jika mas tidak percaya mas boleh tanya kepada Aras,dia ada percis di belakangnku ketika kejadian itu." sergah kembali Mona dengan berusaha untuk menjelaskan.


" Kau pikir aku akan bertanya kepada laki-laki itu yang memiliki sikap sama percis dengan sikap kamu ?kamu pikir aku setolol itu akan bertanya ke laki-laki brengsek macan dia?? Heh Justru foto-poto ini aku dapat dari DIA !!" balas Banny dengan seringai yang begitu sinis,di setiap perkataanya penuh dengan intonasi penekanan yang begitu kuat.


Mona kembali tercengang mendengar perkataanya Banny,sontak hal itu membuatnya semakin rumit akan pikirannya.


" Wow,jadi kamu sekarang berusaha melindungi Asisten bajingan kamu itu,bagus !!! luar biasa." ujar Banny mengangguk-anggukan kepalanya ia terlihat begitu kesal bercampur marah terhadap Mona.


" Cukup mas !!! Mas terlalu berlebihan,apa yang mas pikirkan itu terlalu buruk,aku tidak melakukan hal yang tak senonoh dengan pak Sultan,aku bertemu dengannya secara kebetulan,dan Aras pun saat kejadian itu tidak sedang memegang ponsel,mana mungkin dia bisa mengambil gambarnya." ujar Mona berusaha menjelaskannya.


" Secara kebetulan??? Itu secara kebetulan,tapi kok bisa ya terlihat begitu mesra,apa itu sebuah kebetulan ???" sindir Banny kian gencar menyindir Mona.


Mona menatap frustasi,tuduhan Banny kian menyudutkan perasaanya.


" Apa yang mas tuduhkan itu tidak benar,aku tidak melakukan apapun dengan Pak Sultan kami hanya...."


" Cukup ! Cukup ! Apa yang kau lakukan saat ini percis apa yang Kinaya lakukan kepadaku saat itu jadi...,Maaf sepertinya aku mulai tidak bisa mempercayaimu lagi Mona." ucap Banny lantang.


Mona terpana mendengar ucapannya Banny,tentu saja ini tidak adil baginya,Mona tidak melakukan hal buruk sekalipun dengan pria kaya raya tersebut.Adengan yang ada di dalam foto tersebut benar-benar murni bagian dari sebuah insiden kecil antara dirinya dengan Sultan.Ia tidak sengaja menumpahkan segelas minuman di bajunya Sultan akibat tersenggol oleh seseorang yang terburu-buru berjalan melewatinya hingga tak sengaja orang tersebut menyenggolnya cukup keras.


" Mas !!" sela Mona dengan nada sedih,ia mengiba dengan cara mendekati Banny.


" Aku akan menceraikan mu !!" ucap Banny singkat namun intonasinya begitu tajam menusuk hatinya Mona.


Seperti ada sambaran petir menyambar telinganya.

__ADS_1


Mona tercengang lalu menatap Banny dengan perasaan shok.Sepatal itukah kesalahan yang justru sebenarnya sama sekali tidak di lakukannya hingga Banny menalaknya dengan kejam.


" Mas,kenapa mas tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini? Sepatal itukan kesalahanku ini mas ?" raung Mona mengiba,ia berusaha untuk menjelaskan apa yang menjadi permasalahannya.Dia berusaha mempertahankan hubungan pernikahannya dengan pria yang menikahinya lewat sebuah perjodohan tersebut.


Banny terdiam ia tak ingin lagi berbicara ataupun mendengar semua penjelasan Mona,dirinya kini tengah di kuasai oleh amarah yang membutakan mata hatinya.


" Kurasa tak ada lagi yang harus di pertahankan,aku menikahimu karena perjodohan ini,maka akupun akan segera mengakhirinya." ucap Banny dengan suara bergetar ia menahan perasaanya yang bergejolak hebat di hatinya.


Perasaan cemburu buta itu berhasil menguasai hatinya hingga tak menyisakan ruang untuk mendengarkan semua penjelasan dari Mona.


Bibir Mona terlihat bergetar hebat merasakan ketidakmungkinan yang begitu nyata,tak ada mimpi buruk sebelumnya,hingga kejadian buruk ini berlangsung di hidupnya.


Banny hendak melangkah menuju keluar kamarnya,namun dengan cepat Mona segera menghadangnya dan berusaha untuk berbicara kembali.


" Apa yang mas lakukan mas ?? Mas dengarkan aku bicara,aku bisa menjelaskan semuanya,mas jangan asal memutuskan saja." Mona masih berusaha untuk menjelaskannya.


Banny menatap wajah gadis itu dengan perasaan muak,entah kenapa kali ini ia merasa jika dirinya sedang menatap sosok Kinaya yang telah menghianatinya dan hal ini tak ada bedanya dengan Mona,ia menganggap jika Mona telah menghianatinya.


" Cukup Mona,aku tidak bisa mendengar semua penjelasanmu,semua bukti sudah aku dapati,apapun yang terjadi nanti ku harap kita akan berpisah secara baik-baik." ujar Banny dengan begitu lantang.


" Mas sudah salah paham mas,sumpah demi Tuhan apa yang pikirkan itu tidak benar." Air mata Mona sudah luruh tak terbendung lagi,ia meraih tangan Banny dan menggenggamnya dengan erat.


" Aku mohon,mas dengarkan dulu penjelasan ku !" raung kembali Mona di tengah isakannya.


" Ini adalah sudah menjadi keputusanku !!" Banny menarik tangannya lalu menepiskan tangannya Mona,lalu ia bergegas pergi meninggalkan Mona yang masih terisak.


Sebelumnya ia menoleh dan berkata begitu dingin.


" Kemasi barang-barangmu dan pergi tinggalkan aku,aku tidak ingin melihatmu lagi." ucapnya seraya kembali pergi meninggalkan Mona seorang diri.Mona bahkan masih mendengar desisan amarahnya Banny yang begitu dalam,entah apa yang tengah meraksuki hati pria tampan tersebut hingga dengan tega menalak dirinya.


Hancurlah perasaan hatinya hingga berkeping-keping mendapati kenyataan pahit ini.


Mona terduduk lemas dikursi,sesenggukan menahan kehancuran hatinya,ia tidak pernah menyangka kejadian tadi di pesta salah satu karyawannya akan berujung sebuah perceraiam baginya,sungguh pesta ini petaka baginya sehingga mampu menghancurkan rumah tangganya dengan sekejap.


Baru saja tadi pagi ia merasa di bucinkan dengan sikap manisnya pria tampan tersebut,namun malam ini ia merasa di budakan setan oleh sikapnya,ia menangis menahan perasaan kian meluap di dalam hatinya,hari yang begitu naas belum juga reda hatinya atas kabar akan kehilangan salah satu sahabatnya,justru kini ia dapati akan kehilangan seseorang yang begitu berharga di hatinya.


Mona menengadahkan wajahnya berusaha menahan air matanya yang kian luruh di pipinya,menahan sesak yang begitu dalam.


Secepat ini dunianya berputar hingga ia kembali harus mengalami patah hati.


Akhirnya Mona menangis tersedu-sedu tanpa mempedulikan perasaanya lagi.Lama ia menangis hingga ia merasa lelah,sambil sesegukan ia berusaha untuk kuat dan tegar,ia berusaha untuk menyangkal perasaanya jika Banny sedang emosi hingga bersikap seenaknya kepada dirinya,dia yakin jika ini emosi sesaatnya.


Mona berusaha berdiri menguatkan tubuhnya yang usai di terjang oleh perasaan hancurnya,detak jantungnya mulai berdetak normal,dan perasaan hancurnya sedikit membaik.


Mona berjalan dengan tertatih-tatih mendekat ke sebuah lemari pakaian,dan tak lama ia mengeluarkan sebuah tas berukuran besar,satu persatu dia mengambil bajunya lalu di masukan kedalam tas tersebut.


Perasaan hancur itu kembali memompa jantungnya dan memaksa ia untuk menangis kembali,kenapa Banny begitu tega menuduhnya berselingkuh dengan Sultan hingga Banny tega menceraikannya.Mona menutup mulutnya rasanya suara tangis di dalam kerongkongannya memaksa minta keluar,ia tak mampu menahan kembali perasaannya dan akhirnya ia kembali menangis sesenggukan hingga baju yang berada di dalam tas tersebut ikut basah.

__ADS_1


Mona menatap bingung ke arah tas yang sudah rapih,malam semakin larut ia tidak tau harus pergi kemana,rasanya langkahnya begitu berat jika harus pergi malam ini meninggalkan Afartemennya.Ia tidak mungkin kembali ke rumah neneknya di jam seperti ini,dan pastinya sang Nenek akan merasa khawatir akan keadaan dirinya.


Mona menggeleng,tidak ! Tidak ! Ia tidak mungkin harus kembali ke rumah Neneknya dalam kondisi seperti ini,lalu ??? Aku harus pergi kemana ?? Batin Mona dengan perasaan yang tak menentu.


__ADS_2