
I HATE MONDAY......
Tiga kata tersebut merupakan sebuah yel-yel Mona dalam mengawali pagi di hari senin.
Meski faktanya di pagi hari senin ini cuaca begitu sangat mendukung untuk beraktivitas dengan penuh semangat.
Namun tidak bagi seorang Mona,jika hari senin adalah hari kutukan baginya yang selalu di padati dengan berbagai rutinitas yang padat.
Mentari bersinar lebih pagi,cahanya menembus hangat ke setiap jendela rumah antar penduduk kota.Gadis bermata belo dan berlesung pipit itu masih sibuk mempersiapkan segala keperluan kerjanya.
Jika hari senin tiba,ia merasa layaknya seperti anak sekolahan yang sibuk menyiapkan diri untuk sebuah upacara dan apel pagi.
Dan itu berlaku di setiap senin paginya tersebut selalu sibuk dan sibuk dalam mempersiapkan segala keperluannya.
Embusan angin pagi menerpa wajah Mona dan udara pagi yang masih menyejukan di tengah kota sebelum akhirnya asap knalpot mendominasi udara pagi Jakarta.
" Tunggu ya Mel,gue masih di jalan nih,bentar lagi juga nyampe." Ucap Mona kepada Amel,sahabatnya melalui sambungan telpon.
" Elo baru berangkat ?" Tanya suara perempuan dari sebrang telpon.
" Iya,padahal gue udah sepagi mungkin untuk bangun,tapi tetep aja gak keburu ritual." Ucap Mona dengan membenarkan kancing lengan bajunya.
" Lagu lama." Balas Amel sengit.
" Oya.Meeting jam berapa ?" Tanya Mona menatap ke arah jalanan.
" Jam 09.00 teng Mon,gue udah di konfimasiin oleh pak Banny." Jelas Amel dengan nada ragu.
" Kok dia gak konfimasi ke gue ?" Tanya Mona sedikit heran.
" Sepertinya meeting pagi ini bukan masalah investasi deh Mon, soalnya pak Hendra yang mimpin acara meetting pagi ini." Jelas Amel pelan.
" Terus pak Banny ?" Tanya Mona dengan penasaran.
" Dia ada urusan lain makanya pak Banny mewakilkan meeting tersebut kepada pak hendra." Jelas Amel.
" Ok,nanti kita bahas lagi di kantor ya Mel !,gue masih on the way nih."Ucap Mona dengan mengulas senyuman lalu merapihkan handbagnya.
" Ok gue tunggu yahh Mon." Balas Amel singkat.
" Sip." Ucap Mona seraya mematikan ponselnya.
Sesaat Mona masih penasaran dengan keputusan bosnya tersebut yang memilih mewakilkan meeting pagi ini ke pada pak Hendra selaku Menejer perusahaanya tersebut.Lalu ada keperluan apa bosnya itu hingga tidak bisa menghadiri meeting sekaligus pertemuan sepenting ini .
Raut wajah Mona terlihat berpikir keras mengenai permasalahan yang menyambut dirinya di pagi senin yang rumit ini.
Benar-benar I Hate Monday.Pekik hatinya semakin membatin.
Tapi mungkin saja bosnya ada keperluan pribadi yang tak bisa di tunda sehingga ia mengorbankan kepentingannya tersebut.Tapi bukankah meeting dan pertemuan ini lebih penting dari masalah apapun,karena hal ini menyangkut pelaksanaan pendatangan kontrak atas ter-Realisasinya Investasi perusahaan bosnya dengan perusahan lain.
Tapi ya sudahlah ia berusaha untuk berpikir positif terhadap bosnya tersebut.
Sebuah taxsi online berhenti tepat di pelataran gedung perkantorannya.
Mona segera keluar dari taxsi itu dan bergegas menunju loby perkantoran tesebut.
" Mon !" Panggil suara cempereng memanggilnya.
Mona menoleh ke arah pemilik suara cempreng tersebut.
" Tam,ada apa ?" Tanya nya setelah gadis jangkis itu menghampirinya.
" Lo udah tahu hari ini ada dua meeting ?" Tanya Tamara pelan.
" Tau." Jawab Mona mengangguk.
" Barusan Bu silvi sudah ke lantai dua menemui pak Hendra,tapi sepertinya pak Hendra belum datang." Ucap Tamara dengan wajah datar.
" Emang seluruh staff meetingnya ?" Tanya Mona menyelidik.
" Untuk metting pagi ini sepertinya begitu." Balas Tamara menatap resah.
" Ada apa sih ?" Kembali Mona bertanya dengan segelintir perasaan cemas.
" Ada perombakan staf di bagian ke uangan." Jelas Tamara singkat.
Sejenak Mona terdiam,untuk permasalahan ini jelas ia tidak mengetahuinya.Kenapa serba mendadak seperti ini? bukannya pagi ini ada meeting juga mengenai pembahasaan masalah investasi bersama perusahaan lain?
Mona menatap dengan perasaan rumit yang berkecambuk di benaknya.
" Kalau masalah ini gue belum tahu." Ucap Mona dengan menatap kecewa.
" Yaa gue di kasih tau meeting pagi ini masalah perombakan staff ke uangan,tapi ya sudah,kita simak aja lah untuk metting pagi ini pembahasan apa sebenarnya." Ucap Tamara dengan raut wajah tak berselera.
" Ok,kalau gitu gue ke ruangan gue dulu yah." Ucap Mona dengan hendak berjalan menuju ke arah lift dan Tamara hanya mengganguk pelan.
Sesampai di ruangannya,Mona pun segera mengecek beberapa file yang akan di tandatangi oleh bosnya tersebut.
Selisih beberapa menit kemudian pesawat telepon berdering nyaring sehingga mengalihkan fokusnya,tanpa menunggu lama Mona pun segera mengangkat gagang telpon tersebut dan menempelkan di telinganya.
" Selamat pagi,dengan perusahan Tirta Logistic,ada yang bisa saya bantu ?" Sapanya dengan ramah.
" Mona,ini saya.Tolong kamu nanti pending dulu beberapa menit untuk acara pendatangan kontrak saya dengan pak Angkasa ,dan tunggu hingga urusan saya selesai." Ucap suara pria bernada bariton dari ujung telepon.
" Baik pak,untuk pagi ini akan ada dua meeting ya pak.Satu dengan sejumlah staf perusahaan dan bapak mewakilkan meetting tersebut kepada pak Hendra,apakah itu betul pak ?" Tanya Mona dengan perasaan ragu,ia takut salah bicara kepada pria dingin itu.
" Ya, saya sebelumnya sudah mengkonfirmasi hal ini kepada pak Hendra sepenuhnya,karena meeting pagi ini akan ada perombakan di bagian staf ke uangan." Jelas suara pria tersebut dengan nada bicara datar.
" Baik pak,dan untuk meetting sekaligus pertemuan yang kedua dengan pak Angkasa saya alihkan ke jam berikutnya setelah meetting staff pagi ini, di sekitar tiga puluh menit-an setelah selesai meeting tersebut. ?" Jelas Mona dengan berusaha memberi laporan sedetail mungkin.
" Yaa.Tapi tolong kamu aturkan waktu meeting dan pertemuannya, jangan sampai kolega saya menunggu lama." Jelas pria itu dengan penuh wibawa.
" Note pak,ada lagi pak ?" Tanya Mona menatap lepas ruangannya.
" Oya,nanti kamu tolong aturkan ya pertemuan saya dengan Zeanu." Ucap Banny singkat.
" Note pak,saya akan atur di jam berikutnya selesai makan siang ?" Ucap Mona dengan lugas.
" Maaf pak,kalau boleh tahu pertemuan ini mengenai perihal apa ya pak ?" Tanya Mona dengan perasaan deg-degan.
" Saya akan membatalkan kontrak kerja saya untuk cabang perusahaan baru." Balas Banny singkat.
Deekkk....
Seperti ada benda keras menghantam kuat perasaanya dan itu nyaris membuat gadis itu tercengang.
Gadis itu memekik dengan sangat syok setelah mendengar keputusan bosnya tersebut akan memutuskan hubungan kerja dengan Zeanu.
" A APA pak ??" Pekikan Mona nyaris terdengar jelas oleh bosnya tersebut.
__ADS_1
" Tapi pak,Maaf kalau boleh tahu ada apa ya ?kok secara sepihak bapak membatalkan kontrak kerja ini,bukan kah sudah ada kesepakatan di antara bapak dan pak Zeanu? " Tanya Mona nyaris tak percaya akan ucapan bosnya tersebut yang terkesan mendadak berubah pikiran.
Mona masih menatap tak percaya dengan mulut masih menganga.
Lalu apakah ini ada hubungannya dengan kecemburuan Banny terhadap Zeanu?ah rasanya itu sangat berlebihan jika kecemburuan-nya itu berimbas pada hubungan kerja antara Zeanu dengan bosnya.
Mustahil jika Banny cemburu kepada Zeanu.mendadak berubah geer perasaan gadis tersebut.
" Ini urusan saya." Ujar suara pria di sebrang telpon terdengar membeku.Membuat Mona semakin kecewa atas keputusan yang secara sepihak.
" M maaf pak." Ucap Mona terbata.
" Baiklah saya ada urusan sebentar jadi kamu tolong handle pekerjaaan saya sebelum saya tiba,dan akan saya usahakan pukul sepuluh nanti saya sudah sampai di kantor." Jelas pria itu dengan nada bicara dingin membuat perasaan Mona beku.
" Baik pak." Jawab Mona dengan perasaan lesu.
Dengan cepat Mona pun segera menyimpan kembali gagang telpon tersebut lalu menatap ke arah ruangan sang bos dengan perasaan cemas berbaur syok.
Yaa,ia syok atas mendengar keputusan sang bosnya itu yang memutus hubungan kerja dengan Zeanu secara sepihak.
Ada apa dengan seorang Banny?
Adakah persaingan berat yang sedang terjadi di antara mereka dalam memperebutkan sesuatu yang berharga ?sehingga pria tampan berwajah dingin itu mensabotase hubungan kerja ini.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai berseliweran dalam benak gadis tersebut hingga mau tak mau perasaan nya di liputi kekacauan.
Tok,tok,tok.....
Suara ketukan di pintu mengejutkan dirinya dari rasa syok panjangnya,dengan terhenyak Mona menoleh ke arah pintu tersebut dengan perasaan tak menentu.
"Mon!" Sapa seorag gadis bertubuh sintal menyembul dari balik pintu dengan raut wajah tak kalah menengang.
Mona berusaha mengatur perasaanya supaya lebih tenang.
" Ada apa sih ini?,kok meeting kali ini agak berbau-bau menegangkan ? " Ucap Gadis sintal itu bertanya dengan risau.
" Iya,pagi ini semua staff harus ikut meeting." Balas Mona dengan ekspresi wajah tak kalah cemas.
" Ada apa sih ?" Tanya Amel menatap lurus.
" Gue juga gak paham,tapi sepertinya nasib si Tora ada di ujung tanduk." Terangnya sedikit ragu.
Mudah-mudahan ucapan nya salah.
" Maksud lo ? " Tanya Amel mengernyitkan matanya.
" Jika ada perombakan di dalam staff ke uangan otomatis Tora akan tersingkir karena insiden kemaren itu,jadi ada kemungkinan bagian ke uangan akan di ganti oleh staff yang baru." Jelas Mona menatap cemas.
" Oalah,sepertinya ini emang imbas dari permasalahan tentang kesalahan penginfutan soal data keuangan kemren Mon,selintas sih kaya sepele gitu.Tapi itu bikin patal di bagian keuangan perusahaan." Ucap Amel menatap semakin pasti.
" Dan yang gue takutkan justru pak Banny mencurigai hal buruk akan kinerja si Tora,yaa bisa jadi pak Banny berpikir si Tora korupsi gitu." Imbuh lagi Amel dengan menatap penuh keyakinan.Mona mengangguk ikut membenarkan pertkataan sahabatnya itu.
" Sepertinya begitu Mel,bisa jadi pak Banny krisis kepercayaan setelah terjadi insiden tersebut." Jawab Mona dengan pasti.
" Tahu sendiri kan pak Banny orangnya kaya gimana ?"Ucap lagi Amel menambahkan.
" Terus jam berapa meetting di mulai ? " Tanya Amel pelan sambil berjalan ke arah pintu ruangan sahabatnya itu.
" 08: 45." Jawab Mona seraya menengok jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya tersebut.
" Sebaiknya kita segera ke lantai dua,takutnya yang lain sudah pada menunggu." Ajak Mona seraya merapihkan berkas-berkas di atas mejanya tersebut.
Namun selintas Amel memperhatikan ke dalam raut wajah sahabatnya itu agak sedikit murung dan tertekan.
Amel menatap lekat ke arah wajah sang sahabatnya itu yang kurang bersemangat.
" Elo baik-baik aja ?" Tanya Amel menatap resah.
" Gue? yaa gue baik-baik saja." Jawab Mona dengan mengangkat kedua tangannya.
" Yakin ??? " Tanya lagi Amel memastikan.Mona mengangguk dengan mencoba mengulas senyuman tipis.
" Serius ?? " Tanya lagi Amel kian penasaran dengan jawaban dari Mona yang belum mengena di hatinya.
Mona menghela lalu mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain.
" Bener-bener sahabat gue satu ini,jika gue ada masalah dia selalu menaui perasaan gue,instingnya kuat gak ada bedanya ama bos gue."
Mona membatin seraya menatap kembali ke dalam wajah gadis sintal tersebut.
" Elo gak usah ngebatin,muka elo itu lagi tegang,pasti ada masalah." Ujar Amel kian gencar bertanya pada sahabatnya itu.
" Emang ya,bener apa kata si Tamara elo itu udah kaya mama lemon.Sekuat apapun gue nutupin perasaan gue,lo tetep aja ngendus juga." Ucap Mona tersenyum hambar.
" Sialan gue di bilang bisa ngendus, di kira gue A****g pelacak." Ucap Amel mendelik sebal.
" Hee....hee..,habisnya elo selalu menahui perasaan gue,wajar bila indra penciuman lo tajam kaya a****g pelacak." Ucap Mona tertawa lebar.
" Insting ini Mona,kenapa jadi indra penciuman sihh." Sela Amel dengan menyipitkan matanya.
Lalu mereka pun berjalan menuju lift.
Ting....
Dentingan lift terdengar nyaring dan tak lama pintu lift tersebut terbuka,dua orang pria menatap kaku kepada dirinya bersama sahabatnya,tak lama ia pun segera masuk kedalam kapsul lif tersebut dengan di ikuti Amel di belakangnya. Mona menekan tombol angka dua di lift tersebut dan lift pun bergerak meluncur.
" Ada masalah apa sih ?" Tanya Amel menoleh ke arah Mona yang berdiri di sisi kiri lift.
" Masalah agak sensitif Mel." Balas Mona dengan menatap lurus pintu lift.
" Hah sensitif ??elo hamil ?"Celetuk Amel dengan barbar.
Dua laki-laki dengan seragam OB tersebut menoleh secara bersamaan ke arah Mona dan mereka pun menatap dengan tatapan syok.
Mona segera menyikut tubuh sintal itu dengan cukup keras.
" Awww...... " Pekik Amel meringis.
" Elo jangan bikin gaduh seisi perusahaan ini dengan ucapan konyol lo itu." Ucap Mona dengan setengah berbisik dan menoleh ke arah dua pria itu yang terlihat menaik turunkan kedua alisnya.
" Elo bilang sensitif sih,yaa pikiran gue mau gak mau traveling kemana mana lah." Jelas Amel dengan terkekeh.
" Sensitif,bukan positif Mel,lagian sensitif di sini bukan berarti gue hamil Amel." Ucap Mona dengan penuh penekanan.
" Trus ?? " Tanya Amel dengan masih meringis.
" Nanti gue cerita,lo gak lihat ni ob pada pasang telinga ?" Bisik Mona hampir mendekatkan mulutnya ke telinga gadis di sampingnya itu.
Amel menoleh ke arah kedua laki-laki Ob tersebut yang sedang memasang telinganya untuk mendengarkan percakapan dua gadis tersebut.Dua pria itu berdiri dengan berpura-pura tak menghiraukan pembicaraan mereka
__ADS_1
" Telinga apatar,hihi....hihii..." Ucap Amel dengan terkekeh.
Lalu salah satu laki-laki berseragam Ob itu melirik Amel dengan perasaan tak enak hati setelah ke tahuan dirinya sedang menguping.
Pintu lift terbuka di lantai tiga.
" Mas mau ke lantai berapa ? " Tanya Amel menoleh ke arah dua pria tersebut.
" Tiga mbak." Jawab salah satu pria itu tersenyum canggung.
" Terus nunggu apa,kok pada bengong?ini kan sudah lantai tiga mas." Ucap Amel seraya menunjuk nomor yang menyala di dinding lift tersebut.
" Astagfirullah saya lupa." Pekik pria ob itu dengan kaget seraya menepuk jidanya.
" Makanya mas jangan suka nguping pembicaraan orang, jadi gak fokus kan." Ucap Amel mendelik judes.
Wajah kedua pria ob itu memias dan hanya bisa tersenyum bak kuda jantan yang sedang memperlihatkan barisan giginya.
" Maaf mbak." Ucap pria berseragam ob itu dengan penuh ekspresi wajah yang enggak banget.
" heeeumm...." Amel mengangguk dengan berlaga so wibawa.Mona hanya menggeleng menatap lucu.ketika melihat sikap sahabatnya itu yang selalu mengundang tawa.
" Dasar emang !!cowok-cowok sekarang suka kepo juga ya,nguping pembicaraan cewek." Ucap Amel berguman sebal.
Tak lama pintu lift terbuka Mona dan Amel pun menuju ke ruang meetting tersebut,dan di dalam ruangan sana pun sudah hadir beberapa staff perusahan yang sudah menunggu sedari tadi dengan wajah-wajah cemas,tak terkecuali Tora.Pria berambut cepak tersebut terlihat memasang wajah gelisah.
************
Pukul 09: 45 WIB acara meeting pun selesai dengan hasil keputusan yang sangat mencengangkan bagi seluruh staf perusahaan tersebut, jika pria yang memiliki nama lengkap Tora caksono kini tidak lagi menjandi staf ke uangan di perusahaan tersebut.Dan akan di ganti kan oleh seseorang yang masih di rahasiakan oleh pihak perusahaan.
Dan pak Hendra sendiri pun belum bisa menjelaskan secara gamlang siapa-siapanya yang menggantikan posisinya Tora.
Dengan ada nya pemberhentian Tora secara mendadak hal itu tentu saja menjadi sebuah kejutan pahit bagi banyak staff dalam perusahaan tersebut.
Sosok seorang Banny memang sangat di takuti dan di segani oleh seluruh staff di perusahaanya tersebut.
Setiap keputusan yang di ambilnya tak ayal membuat nasib para staf-staf perusahaan berada percis di tangan dinginnya pria tersebut.
Mona sendiri pun nyaris di buat syok setelah mengetahui secara jelas jika Tora memang di berhentikan.Sikap diktaktor serta tak kenal kompromi adalah ciri khas dari seorang Banny.
Sepanjang perjalanan dari lantai tiga menuju lantai lima perasaan Mona di gelayuti berbagai perasaan yang tak menentu sehingga ia sendiri pun sulit mendeskripsikan perasaanya sendiri.
Dan di sepanjang perjalanan itu pula gadis bermata belo itu tak bisa menyembunyikan perasaan gundahnya yang semakin bercabang kemana-mana.
Ada apa dengan bosnya itu hingga mengeluarkan Tora dari perusahaannya mendadak seperti ini,bukan kah kesalahannya tidak terlalu patal ?
Mona menggeleng dengan berbagai perasaan resah di dalam benaknya.
Lalu ingatannya kini bertumpu kepada Zeanu yang kemungkinan besar nasibnya akan sama denga Tora.
Ada apa ini ?
Pria berwajah dingin itu benar-benar ajaib dan sulit di tebak akan sikapnya serta kemauannya itu.
Langkah gadis itu terhenti saat melintasi lorong yang menunju ke ruanganya tersebut,dan tatapan nya tertuju ke pada sosok pria yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik.
Mona mencoba memperjelas penglihatannya berusaha untuk menyelidik sosok gadis yang ada di hadapan bosnya tersebut,Mata belo Mona menyipit saat pria itu adalah Banny bersama seorang gadis cantik.sekilas Mona bisa memperkirakan akan usia gadis itu yang lebih muda darinya.
Tapi.....,
Dengan siapa Banny berdiri ?Tanya dalam benak Mona seraya terus menatap lurus ke arah gadis yang ada di hadapan bosnya tersebut.
Seketika perasaan Mona di buat bertanya-tanya hingga menimbulkan perasaan tak suka melihat bosnya dekat dengan gadis lain.
Gadis yang ada di hadapan bosnya itu memang lebih muda dan terlihat sangat modis wajahnya terlihat begitu segar dan fress lalu Mona pun menatap resah ke arah gadis tersebut.
Tiba-tiba gadis itu memeluk sang bosnya dengan manja lalu dengan tanpa ragu di balas hangat oleh pria berwajah dingin itu seraya tersenyum lebar.
Perasaan Mona mendadak terbakar oleh perasaan tak sukanya,kenapa gadis itu terlihat begitu manja terjadap bosnya,sekilas Mona memiringkan wajahnya untuk memasang pendengarannya dengan baik agar bisa mendengar percakapan mereka.
Namun entah apa yang di bicarakan mereka Mona tidak terlalu jelas menangkap obrolan tersebut,hanya saja gerak tubuh mereka terlihat sangat akrab Mona berusaha menenangkan perasaan nya yang kian meresah.
Mona berpikir ketidak hadiran bosnya di acar meetting tadi pagi ada hubungannya dengan gadis cantik itu.
" Apa mungkin gadis itu merupakan pacar barunya sang bos?lalu nasib sandiwara gue ?" Mona sakin membatin.
Gejolak perasaannya membuat dia semakin menderita.
" Ahh dasar bodoh,seharusnya dari awal gue tau jika laki-laki setampan pak Banny itu pasti akan memilih seorang perempuan yang tak akan jauh dari sosok mantan-nya Kinaya.Kinaya saja cantik seperti itu,mana mungkin ia akan mencari cewek dekil macam gue." Guman Mona pelan dengan tersenyum pasi.
Entah kenapa perasaan menjadi tak rela jika bosnya tersebut berada dekat dengan perempuan lain.
Perasaanya menyimpulkan jika gadis muda cantik itu tak lain adalah pacar baru bosnya tersebut.Fixs.... !! jadi itu alasan kenapa bosnya hanya bersandiwara dengan dirinya hanya 100 hari,karena sang bos memiliki perempuan idaman lain.
Hati Mona bergetar hebat merasakan kekecewaan yang mengiris sembilu.Gadis itu menatap dengan berbagai perasaan ke arah pria tampan dan gadis cantik tersebut.
Mona menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan,ia mengulangi kegiyatan itu secara berkali-kali untuk mengusir perasaan sesak yang menghimpit rongga dadanya.
Perlahan Mona berjalan dan menghindar dari lorong ruangan tersebut,ia berjalan dengan perasaan yang kacau.Perasaan cemburu itu timbul dalam hatinya ketika Banny berada dekat dengan gadis cantik itu.
Dengan perasaan berat ia pun memasuki ruangannya lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu tersebut dengan ke adaan hatinya kecewa.
Bodoh !! Kenapa ia harus berharap lebih dari bosnya itu?dan berharap jika pria itu akan mencintai dirinya dengan sepenuh hatinya tanpa harus bersandiwara lagi.
Mona menggeleng frustasi.
Ingat Mona !! ini hanyalah sandiwara elo tak perlu berharap apapun lagi selain melaksankan tugas elo untuk membalas kebaikan seorang Ayah dari pria tersebut.
Mona mengangguk pelan dengan tersenyum pahit,rasa kecewanya kian terhimpit luka.
Seharusnya dari awal ia menyadari,jika tak semestinya menaruh perasaan apapun terhadap pria tampan berwajah dingin itu,sehingga ia tidak perlu mengalami sebuah kekecewaan yang dalam seperti ini,bukannkan seorang Banny tidak mungkin mencintai dia dengan begitu saja dengan hanya adanya sandiwara ini.
Lalu apa arti sebuah ciuman itu ?
Yang selalu membuatnya terlena.
Lalu tetesan air mata akan tangisannya tentang pria itu selama ini apa ?
Kalau bukan ia sudah mencintai sepenuhnya pria itu.
Cukup adilkah dia jika pada akhirnya ia harus menerima kekecewaan yang sepihak.
Rupanya Mona merasakan patah hati sepihak.Yaa patah hati dalam dua pihak saja sudah sangat menyakitkan,apa lagi ini hanya sepihak saja,ketidak pastian sikap bosnya itu dalam mencintai dirinya ini sudah membuatnya sangat patah hati.apa lagi dia yang hanya mencintai pria itu hanya sebatas sepihak.
" BODOH ! memang gue BODOH !!" Rutuk gadis itu dengan perasaan kian meracau.
" Benar-benar yah,nasib gue sekarang lebih menyedihkan!!" Guman kembali gadis itu dengan tertawa sumbang.
Jujur saja akhir-akhir ini Mona memang merasakan sebuah energi yang lain terhadap bosnya itu,terlebih-lebih bosnya itu sering memperlakukan dirinya layaknya seorang tunangan sungguhan,tapi perasaan itu,kini tiba-tiba menguap begitu saja entah kemana.
__ADS_1
Mona merasakan jika harapan nya sejauh ini mulai terasa sia-sia.
Tapi ya sudahlah ini adalah kesalahan dirinya yang terlalu berharap lebih dari seorang Banny atas sandiwaranya itu.