
MONA melirik ke atas nakas,waktu sudah menunjukan jam 05:00 itu artinya ia harus segera bangun untuk menunaikan kewajibannya sebagai seoarng umat muslim.
Setelah menunaikan kewajibannya Mona bergegas menjalankan rutinitasnya setiap paginya yaitu menyiapkan sarapan untuk Banny yang masih terlihat pulas dalam lelapnya.
Rutinitas yang sangat membosankan.
Setelah menyiapkan sarapan untuk dirinya beserta Banny Mona segera bergegas untuk membersihkan dirinya dan siap-siap berangkat ke kantor lebih awal.Karena hari ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai seorang Menejer di anak cabang perusahaan yang baru saja di resmikan dua hari yang lalu,ini merupakan pengalaman pertama kalinya dirinya menjadi seorang Menejer perusahaan dan cukup membuat seluruh adrenalinnya terpacu cepat.
Yaa,meski Banny hanya sebatas suami sandiwaranya namun Mona melayani pria itu bak suami sesungguhnya.
Pernikahan antara Mona dan Banny memang berbeda dengan pernikahan yang lainnya,berawal dari sebuah sandiwara yang di lakukan Mona dengan Banny hingga terjadi perjodohan hingga berakhir di pelaminan.Rumah tangga mereka baru saja berjalan tiga minggu dan selama itu mereka hanya berlaku seperti orang biasa saja,tidak ada juga hubungan layaknya suami istri yang penuh rasa cinta.
Cinta ?
Yaa ada cinta di dalam diri Mona semenjak dirinya terlibat dalam sandiwara itu percikan api asmara itu perlahan menghangatkan perasaanya yang telah lama membeku.Tetapi melihat sikap Banny yang sering acuh serta dingin padanya membuat perasaan gadis itu mengalami pasang surut terhadap pria itu,entahlah.....
Rasanya jika dirinya harus mempertegas perasaanya tentu saja ia takut jika cintanya hanya akan bertepuk sebelah tangan saja.
Baginya bisa melihat seorang Banny setiap harinya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.Walaupun kenyataannya ia menginginkan pria itu memperlakukan dirinya lebih dari sekedar hanya sandiwara,tapi sepertinya ia harus menyimpan dalam kembali harapan itu dan menyembunyikan perasaan cinta terhadap pria tampan itu.
Mona menghela napasnya dengan berat,selalu tidak ada yang istimewa di setia paginya,jujur saja ada terbesit dari pikirannya jika ia pun menginginkan hubungan ini lebih istimewa.Tapi sepertinya itu hanya ada di keajaiban cerita saja seorang pangeran tampan yang dingin dapat mencintai setulus hatinya.
Gadis yang kini sudah menginjak usia 28 tahun itu duduk di kursi yang selalu di dudukinya di setiap paginya.Di hadapanya sudah ada sepiring nasi goreng beserta segelas susu hangat favoritnya.
Gadis itu masih menunggu pria itu bangun.
Perlahan Mona mencicipi nasi goreng buatannya dengan menimbang-nimbang rasa di pengecapnya.
Nasi goreng ini ia sengaja buatkan atas permintaan pria itu,yaa walaupun rasanya tak seenak yang di buat oleh si abang nasi goreng tersebut namun ia berusaha menghidangkannya selezat mungkin dengan penuh rasa cinta.Mona tersenyum sendiri dengan terus mencicipi nasi goreng tersebut.
Mona menghentikan kunyaahannya setelah melihat Banny berjalan menghampirinya dengan menjingjing tas yang selalu di bawanya setiap pergi kerja.
Pesona pria tampan itu memang terpancar kuat tak bisa terelakan lagi,hanya saja sikap dingin serta juteknya sering membuatnya jengkel.
" Kamu jadi membuatkan nasi goreng yang aku minta ?" Tanya pria itu seraya membagikan pandangannya ke atas meja makan tersebut.
" Ya !" Jawab Mona singkat.
" Tapi sepertinya aku tidak bisa sarapan pagi bersama mu ,karena pagi ini aku sudah ada janji dengan klien." Ucap pria itu seraya meletakan tasnya di atas meja makan tersebut.
Sontak hal itu membuat wajah gadis itu memerah.Susah payah dia membuatkan nasi goreng permintaannya kini justru di tolak seenaknya.
Raut wajah gadis itu berubah drastis terlihat begitu memendam kekecewaan.
Perlahan Mona menghela lalu menyimpan sendoknya di atas piringnya tersebut, kini keinginannya untuk sarapan bersama pria itu lenyap seketika.
Tak ingin berdebat Mona pun segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tas jingjingnya yang sudah berada di atas meja,ia ingin segera enyah dari hadapan pria tampan itu yang paling meyebalkan versi dirinya.
Banny melongo melihat sikap gadis itu yang tak sedikitpun protes atau pun menanggapi ucapannya tersebut.
" Mona,kamu mau kemana ?" Tanya pria itu dengan cepat menyergah gadis itu yang melangkah melewatinya.
" Saya buru-buru." Balasnya acuh.
" Kita bisa pergi bersama ?" Ucap Banny menawarkan ke inginannya untuk berangkat bersama dengan gadis itu.
" Saya rasa tidak perlu ! Saya bisa sendiri." Cetusnya menatap dingin.
" Mona !" Panggil pria itu menatap heran atas sikap gadis itu yang terlihat marah padanya.Namun yang di panggil tak lagi menghiraukannya gadis itu tetap berjalan meninggalkannya seolah-olah ia sedang menunjukan kemarahannya terhadap pria tersebut.
Adakah yang salah pada dirinya ??
Banny menatap bingung ke arah dirinya setelah gadis itu meninggalkannya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
lalu pandangannya beralih ke arah sepiring nasi yang sudah terhidang di atas meja dengan menatap seksama.Apa mungkin gadis itu marah kepadanya atas sikapnya yang seenaknya mengatakan tidak bisa sarapan dengannya?Padahal sudah jelas jika gadis itu telah membuatkan sarapan nasi goreng untuk dirinya.
Peralahan Banny pun duduk dia atas kursi lalu tangannya tanpa di sadari mencoba mencicipi nasi goreng tersebut.
" Shiitt,bodoh !!" Rutuk pria tampan itu dengan sebal.
Dia paham jika gadis itu marah tanpa sebab kepadanya karena dirinya tidak menghargai pekerjaannya yang sudah rela susah payah menyiapkan sarapan untuk dirinya.Bukankah itu permintaan dirinya kepada Mona untuk membuatkan hidangan tersebut ?
Banny menghela napas perasaanya semakin di dera rasa bersalah dan ia pun hanya bisa meremas kepalanya dengan perasaan frustasi.
*********
MONA terlihat serius menata ruangan kerjanya yang baru hari ini di tempatinya.
Sebagai seorang istri sekaligus menejer di anak cabang perusaahan miliknya Banny pratama wiguna yang merupakan suami sandiwaranya tersebut tentunya ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk dirinya menjadi seorang wanita yang memiliki karir cemerlang.
Mona yang di tunjuk oleh sang mertuanya untuk ikut andil dalam mengelola anak cabang perusahaan tersebut membuat dirinya harus siap mental dalam menyikapi berbagai tekanan yang bisa muncul dari pekerjaan maupun dari pihak lainnya,tak terkecuali tekanan dari suaminya pun tidak akan luput darinya.
Mona di tuntut dirinya untuk tetap bersikap totalitas serta profesional dalam menjaga performa di perusahaan tersebut.
Mona menyapu seisi ruangannya itu dengan perasaan puas,berbagai fasilitas kerjanya sudah tersedia di ruangan nya tersebut.Di tengah-tengah keseriusannya tiba-tiba saja suara berat seseorang mengejutkannya.
" Siang bu Mona !" Sapa suara itu dengan lantang.
Seorang pria berdiri di ambang pintu ruangannnya dengan tersenyum hangat.
Mona menoleh lalu menatap penuh selidik ke arah pria asing tersebut.
" Siang !ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Mona menjeda kegiatannya lalu menghadap ke arah pria itu.
" Perkenalkan! saya Aras yanga akan menjadi asistennya bu Mona." Ungkap pria itu dengan ramah.
" Asisten ??" Kening gadis itu berkerut.
" Yaa,mulai hari ini saya bekerja di perusahan ini menjadi sekertaris bu Mona atas permintaan pak Wiguna,beliu menghubungi saya untuk bekerja kembali di perusahannya sebagai Asistennya bu Mona." Jelas pria itu tersenyum.
Wajah gadis itu hanya mengangguk pelan ia memahami apa yang di sampaikan pria itu kepada dirinya. Mona menatap dengan berbagai perasaan ke arah wajah pria itu.
Asisten ??
Apakah dirinya membutuhkan seorang Asisten ?
Tapi kenapa harus seorang lelaki yang akan menjadi Asistennya tersebut ?
Gadis itu terlihat berpikir sejenak.
" Jika bu Mona perlu sesuatu nanti bisa menghubungi saya." Ujar pria itu dengan tersenyum manis.
" Ok ! kita perlu kerja sama yang baik dan transfaran." Balas Mona dengan membalas senyuman pria itu.
Aras menilik gadis itu dengan menyeluruh bola matanya menatap dengan cemerlang.
" Tentu saja." Imbuhnya dengan tersenyum.
" Baiklah,kalau begitu saya permisi dulu.Ruangan saya tak jauh dari sini." Ujar Aras menunjuk ruangan yang berada di sampingnya tersebut.
" Ok !" Jawab Mona singkat.
Pria itu pun segera bergegas keluar dari ruangan gadis itu.Mona terdiam mencoba menghapal garis wajah pria barusan yang terlihat lucu di netranya.Sikapnya yang lincah serta humble sedikit pikirannya terigat akan sosok Angkasa.
Arass ???
__ADS_1
Tampangnya oke juga,lucu dan ramah.
Pikir gadis itu seraya tersenyum kecil.Gadis itu menggeleng lucu lalu ia pun kembali meneruskan kegiatannya, beberapa benda kesayangannya di pajang di atas meja kerjanya tersebut agar sedikit menambah semangat dirinya untuk menjalani pekerjaanya tersebut.
Melupakan perasan kecewa atas sikap Banny terhadap dirinya hal yang paling susah ia jalani.Dan Moodnya bisa saja berpengaruh buruk dalam pekerjaanya tersebut,namun sekali ini saja Mona tak ingin menanggapi masalah sepele ini terlalu dalam.Karena ini sudah menjadi hal yang biasa bagi sosok Banny yang selalu membuatnya kecewa.
Dia memang raja di atas raja yang paling menyebalkan di dunia ini dengan versynya.
Dan lagi-lagi dia harus menjadi korban perasaanya pria tampan itu.
************
Banny yang berjalan cepat di koridor kantornya hingga dirinya tak menyadari jika beberapa orang menyambutnya dengan ramah.Ada yang dengan cara menyapa ada pula yang hanya sekedar menganggukan kepalanya dengan penuh wibawa.
Namun reaksi pria berusia 33 tahun itu hanya dingin tak tersentuh.
Banny memang sosok yang cuek dan dingin itu berlaku bagi para pegawainya terkecuali satu orang yakni kepada Ayahnya dia bisa bersikap hangat.
" Selamat pagi Mas." Sapa Arnetta dengan ramah mendekati pria yang menjadi bosnya tersebut.
gadis yang bersusia 25 tahun yang belum lama ini menjadi sekertarisnya tersebut.
Banny menoleh gadis itu dan sapaannya menambah moodnya menjadi kian kurang baik.
Rupanya pikiran pria itu masih terpaut akan sosok Mona yang kecewa atas sikapnya yang secara tidak langsung.
" Pagi Ane !" Balasnya singkat.
" Mas,untuk pagi ini kita akan mengadakan persentase dengan perusahan PT makmur jaya.pihak perusahan mereka tertarik dengan tawaran yang kita ajukan beberapa hari yang lalu." Jelas gadis itu yang ikut berjalan di sampingnya.
" Tidak bisakah kamu sampaikan perihal ini setelah saya berada di ruangan saya nanti ?." Tegas Banny menoleh gadis itu.
Arnetta tercenung merasakan perasaanya kian tak nyaman setelah sikap dinginnya pria tampan itu membuatnya seketika membeku.
Ucapannya pria itu selalu tidak memperdulikan keaadaan perasaannya.
" Maaf !" Ujar Arnetta menunduk.
Banny yang berjalan setengah berlari itu segera memasuki ruanganya,Arnetta yang berjalan di belakangnya hanya mengekor tanpa berkomentar kembali.
Tak lama Banny pun memasuki ruangannya lalu menyimpan tas jingjingnya dengan sedikit kasar di atas meja kerjanya,sehingga sedikit mencuri perhatian gadis cantik itu.
Setelah duduk di atas kursi kebesaranya pria tampan itu menatap tajam ke arah gadis yang berdiri di depan meja kerjanya tersebut.
" Jam berapa persentasenya ? " Tanya Banny menatap tajam.
" Jam 09:00 Wib. " Balas Arnetta tak kalah singkat.
" Baiklah,ada lagi ? " Tanya pria itu menatap enteng.
" Pukul dua belas siang nanti akan ada acara makan siang bersama klien kita mas.Bapak Angkasa, beliu akan menawarkan kembali invetasinya untuk cabang perusahaan mas yang baru." Imbuhnya pelan.
" Apa ??" Banny tercekat.
Perasaannya kian berubah bad Mood setelah mendengar nama Angkasa kembali memenuhi pendengarannya.
Salutt !!!
Pria itu berhasil membuat rasa cemburunya bangkit kembali.Kenapa pria itu bersemangat sekali bekerja sama dengan dirinya.Tentunnya ada sesuatu hal yang sedang di incar oleh pria tersebut.
Pria tampan itu membatin dengan pikiran yang begitu buruk merongrong isi kepalanya.
" Saya ulangi lagi mas,bahawa... " Ucapan Gadis cantik itu terjeda setelah Banny dengan cepat motong kalimatnya.
" Tidak usah.Tidak perlu ! Tolong kamu cansel pertemuan makan siang tersebut karena saya sudah ada janji.Dan tolong kamu atur kembali jadwal yang lainnya,dan tolong kamu aturkan jadwal makan siang nanti bersama istri saya." Ujar Banny dengan tegas.
Seperti ada palu godam yang menghantam keras perasaan gadis cantik itu.
Sungguh permintaan ini begitu sangat melukai perasaanya secara perlahan.
" Tapi Mas !!" Sergah Mona.
" Ini perintah saya.Saya tidak suka jika perintah saya di bantah." Cetus pria itu yang memulai pekerjaanya berkutat dengan komputer dan berkas-berkas.
Gadis cantik itu hanya bisa menelan air liurnya dengan perasaan yang sedikit menegangkan.Menjadi sekertaris seorang Banny bisa mengakibatkan lumpuh total saraf-saraf otaknya.
Betapa tidak dia harus merasakan sikap tegas dan dinginnya pria yang selama ini selalu di pujanya tersebut.
Banny yang sekarang bukanlah banny yang dulu ia kenal.
Jika dulu sosok banny masih terasa hangat di hatinya lain halnya untuk saat ini yang begitu dingin serta acuh terhadap dirinya meski terkadang hangat tapi tetap perlakuannya itu tak sehangat dulu ia rasakan.
" Baik Mas !" Ucap Arnetta dengan perasaan kecewa.
" Kalau begitu saya permisi dulu Mas." Pamit Arnetta dengan perasaan canggung.
Sedikit kesal gadis itu berjalan dengan hentakan yang cukup kuat sehingga Banny dapat melihatnya.
" Dasar bos salju." Cibir Arnetta memutarkan bola matanya ke atas.lantas ia pun menutup kembali pintu ruangan Direktur tersebut.
Banny menghela napas lalu ia oun meraih cangkir berisi kopi susu favoritnya yang telah di siapkan sang Ob sebelum ia berada di ruanganya tersebut.Dia tidak suka jika harus memesan kopi dalam ke adaan dirinya sudah berada di dalam ruangannya tersebut.
Perlu di perhatikan jika sosok Banny benar adanya segala sesuatunya harus di perhitungkan dengan matang,tak asal hanya sekedar membuatkan kopi.
Dia harus memastikan kopinya tersebut tidak terlalu panas maupin dingin ketika dia berada di ruangan kantornya.
Bisa di bayangkan sang Ob harus menyiapkannya dengan ekstra perhitungan yang matang agar mereka menyiapkan tepat waktu dan tidak kena status yang menyakitkan dari mulut pria tampan itu.
Setelah menyesap pelan kopi susu favoritnya tersebut Banny pun meletakan kembali cangkir tersebut di samping laptopnya.Netra elangnya menatap intens ke arah layar laptop miliknya dengan kosong.
Sedari tadi pikirannya berusaha untuk fokus namun entah kenapa dirinya tidak bisa berfokus pada pekerjaan.Justru pikirannya terus menerus tertuju kepada sosok gadis yang menjadi istri sandiwaranya tersebut.
Gadis itu acap kali di buatnya kecewa oleh dirinya,entah kenapa masalah sepele ini terasa rumit baginya.
Banny mengusap wajahnya dengan perasaan frustasi kini perasaannya tidak bisa luput begitu saja dari sosok gadis itu.
Banny teringat kembali atas ucapan sekertarisnya yang beberapa menit lalu jika PT Angkasa akan kembali berinvestasi di perusahannya dan kali ini perusahaan itu akan berinvestasi di cabang perusahaannya yang di kelola oleh Mona istri sandiwaranya tersebut tentu saja hal itu membuatnya sedikit meradang.
Kenapa bisa hal ini terjadi kepada dirinya cemburu atas sikap beraninya seorang Angkasa yang seolah-olah keingianya untuk mendapatkan sosok Mona semakin kuat.
Banny menghela kasar perasaanya semakin di tumbuhi rasa cemburu yang kian membunuhnya.
********
Mona duduk termenung di kursi kerjanya pekerjaan yang sedari tadi di mulainya seakan-akan bemum mampu ia tangani.Entahlah sedari tadi ia mencoba memusatkan pikirannya dan berusaha mengsingkronkan hati dan pikirannya secara selaras namun hanya sia-sia saja rupanya.
Sebagian besarnya pikirannya bercabang,seharusnya ia harus bisa bersikap fropesional dalam mengenyampingkan permasalahan pribadinya.
Sejauh itu ia mengusir perasaan kecewanya sejauh itu pula perasaanya sulit untuk terlepas dari rasa yang terpendam.
Mempertahankan perasaan yang tak terbalaskan suatu hal yang bodoh.
Yaa bodoh !!! dirinya terlalu bodoh dan lemah.
Dia memang seperti wanita yang lemah dan juga putus asa.Semoga saja hal ini tidak membuatnya gila.perasaanya yang tak bisa tegas itu menjadi kian boomerang untuknya.
__ADS_1
" Bu Mona !" Panggil suara dengan nada cukup tinggi masuk kedalam liang pendengarannya Mona.Gadis itu terhenyak lalu menoleh ke arah asal suara tersebut.
Di lihatnya Aras berdiri tegap di hadapannya.
" Ya TUHAN kamu mengejutkan saya." Ucapnya dengan gugup.
" Maaf bu,saya dari tadi sudah memanggil ibu beberapa kali,tapi ibu rupanya sedang melamun." Ucap pria itu tersenyum menggoda.
" Oh maaf,saya lagi kurang fokus." Balas Mona dengan tersenyum enteng.
" Ada apa ya ?" Tanya Mona menatap dalam pria itu.
" Ini Berkas-berkas yang di butuhkan oleh bu Mona untuk perusahaan ini." Ujar Aras menyodorkan beberapa berkas di tangannya.
" Oh ya,terimakasih ya." Ucap Mona tersenyum.
" Oya bu Mona tidak makan siang? " Tanya Aras perhatian.
" Jam berapa ini ?" Tanya Mona seraya menoleh ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Ya TUHAN,ternyata ini sudah jam makan siang." Guman Mona pelan.Aras memperhatikan dengan seksama gadis itu.
" Hmm,lima menit lagi saya akan mengecek terlebih dahulu berkas-berkas ini." Ucap Mona dengan tersenyum ke arah Aras.
Entah kenapa sikap pria ini begitu hangat kepadanya dan secara tidak langsung ia pun begitu welcome atas sikap ramahnya seorang Aras.
Dengan waktu yang bersamaan tepat mereka menjeda obrolannya seorang pria menerobos masuk ke ruanganya tersebut.
Mona beserta Aras menoleh ke arah datangnya seseorang itu.
" Mass !" Panggil Mona sedikit terkejut setelah melihat kehadiran Banny di kantornya.
Banny menggeserkan bola matanya arah Aras lalu menatapnya dengan sedikit kaget sekaligus tidak suka atas kehadirannya.
" Selamat siang pak Banny !" Sapa Aras dengan santai.
" Siang .!!" Balas Banny dengan datar.
Rupanya mereka sudah saling kenal dan hal itu berhasil membuat Mona terheran heran.
" Kalian saling mengenal ?" Tanya Mona menatap heran.
" Tentu saja kita sudah saling mengenal,bukan kan begitu pak Banny ?" Aras tersenyum enteng.
Banny tersenyum sinis ke arah pria tersebut dan Mona dapat melihat jelas sorot mata pria itu tidak suka begitu terpancar dari tatapannya.
" Baiklah bu Mona,kalau begutu saya permisi dulu." Pamit Aras tanpa menjelaskan apapun akan hubungan apa atara dirinya dengan Banny.
Banny menatap dingin ke arah pria yang berjalan melewati dirinya.Mona memperhatikan kejadian itu dengan berbagaia perasaan tanda tanya.
" Kenapa dia ada disini ?" Tanya Banny dengan nada kesal.
" Dia Asisten saya.Kenapa memangnya ?" Tanya Mona cukup penasaran.
" Apa ???" Pekik Banny dengan terkejut.
" Siaapa yang memberi dia pekerjaan disini ?" Tanya Banny terlihat kesal.
" Ya Papah lah,tidak mungkin saya yang menyuruhnya bekerja." Jelas Mona menatap datar.
" Kenapa kamu tidak menginfokan ini ke bagian HRD perusahaan ku,pihak HRD akan mencarikan Asisten untuk kamu." Ujar Banny terligat gusar.
" Mas,papah yang memiliki kuasa dalam perusahan ini."
" Tapi aku berhak memutuskan segala keputusan yang papah buat." Ujar Banny menatap jengkel.
Mona terdiam melihat kejengkelan yang sedang di rasakan pria tampan itu.
" Kenapa rupanya mas begitu tidak suka terhadap Aras ? " Tanya Mona memancing.
" Jujur saja aku tidak suka atas kehadiran pria tersebut di perusahan ini." Cetusnya menatap sinis.
" Saya tidak tahu permasalahan apa yang sudah terjadi di antara kalian,tapi pria itu di tunjuk papah untuk bekerja di perusahaan ini." Jelas Mona mulai gusar atas sikap pria itu.
" Apa kamu merasa klop bekerja sama dengannya ? " Tanya Banny menatap penuh curiga.
" Saya belum tahu kinerjanya." Jawab Mona acuh.
" Aku harap papah bisa mempetimbangkan kembali keputusannya untuk memperkejakan pria itu di perusahaan kita." Jelas Banny dengan perasaan yang sulit di artikan.
" Sepertinya mas tidak menyukainya ? " Tegas Mona menatap kembali pria itu.
" Aku harap,aku tidak perlu memberi tahu hal ini." Cetusnya pelan.
" Tapi Mas.. " Mona menyela.
" Aku tidak suka di bantah !" Banny menatap dingin gadis itu.
Mona menghela lalu mengalihkan kembali pandanganya ke arah layar laptopnya.
" Lalu ada apa mas kesini ?" Tanya Mona acuh.
" Aku ingin mengajak kamu makan siang."
Mona menatap kaku saat mendengar pria itu mengajaknya makan siang bersama.
" Aku masih banyak pekerjaan." Jawab Mona enteng.
" Kamu menolak permintaan ku ? " Tanya pria itu tajam.
" Saya punya hak untuk menolak." Balas Mona tak kalah tajam akan perkataanya.
Banny menggeleng merasakan kedua pipinya memanas.
Rupanya gadis ini sedang membalas denam kepadanya.
" Kau membalas ku ?" Tanya Banny menatap kaku.
" Saya rasa saya bukan tife orang pendendam,hanya saja saya sedang memiliki banyak pekerjaan." Jelas Mona dengan sedikit acuh.
Banny mendecih lalu tersenyum sinis.
" Kamu jangan terlalu so sibuk.Aku yakin jika kamu sengaja melakukan ini semua supaya aku merasa hal yang sama,kecewa atas apa yang telak aku lakukan kepadamu." Bisik Banny mencibir.
Sontak Mona merasa tersindir dengan apa yang di ucapkan pria tampan itu kepada dirinya.
Mona mengangkat kepalanya menatap dengan sorot menentang.
" Syukurlah kalau mas sadar akan hal itu !!" Ucap gadis itu penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Banny menatap dalam gadis itu rupanya kata-kata Mona mampu membungkam perasaanya.
Banny menegakan kembali tubuhnya lalu berdiri degan tegak di hadapan gadis itu.Perasaanya kini di selimuti perasaan yang tak menentu.
" Baiklah !!,aku tidak akan memaksa mu !" Titahnya dengan dingin.Setelah itu ia pun mengalihkan pandangan matanya ke arah yang lain.Tepatnya ke arah jendela kaca ruangan kantor yang menunjukan kondisi cuaca di luar sana begitu sangat panas melebihi panas suasana hatinya.
__ADS_1
Mona terdiam larut dalam perasaan puasnya yang pada akhirnya bisa membuat pria salju itu kecewa atas penolakan dirinya.