
MONA berjalan dengan setengah berlari menuju pintu lift yang akan segera tertutup,namun beruntung nya seseorang menahan pintu lift tersebut dengan menekan tombol penahan pintu lift yang ada di dalam kapsul lift tersebut, sehingga pintu lift itu pun terbuka kembali.
" Terimakasih." Ucap gadis tersebut dengan terlihat masih ngos-ngosan.
Mona melirik dengan ujung matanya ke arah seseorang yang telah membantunya menahan pintu lift tersebut, dan mata bulatnya Mona terbelalak saat tahu yang menahan pintu lift tersebut adalah Banny,Bosnya sendiri.
Pria tampan berwajah dingin itu terdiam mengabaikan kehadiran gadis tersebut.
Sejenak suasana hening hanya ada perasaan masing-masing yang tertahan,termasuk Mona,gadis tersebut menatap tegang ke arah bayangan dirinya di pintu lift tersebut.
Pria tampan itu memasang wajah dingin sepuluh kali lipat dari yang biasanya.Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut pria tersebut selain hanya diam menatap lurus ke arah pantulan bayangan dirinya yang ada di pintu lift tersebut. Tatapannya dingin seolah-olah tak peduli dengan kehadiran orang di sekitarnya,termasuk Mona skertarisnya.
Mona tertunduk meremas ujung blezzernya dengan perasaan campur aduk perubahan yang tersirat di wajah bosnya itu tanpa alasan,sepertinya ada sesuatu hal yang sedang di pendamnya saat ini.
pintu lift terbuka di lantai dua,dan seorang staff perempuan memasuki kapsul lift tersebut.
Mona menggeser pelan ke arah kiri lift dan staff tersebut manggut penuh hormat setelah melihat keberadaan sang pemilik perusahaan tersebut berada di dalam lift.
Tak lama kapsul lift tersebut kembali melaju menuju lantai berikutnya dan....
Ting.....
Lift tersebut berhenti di lantai tiga, pintu lift terbuka.Pria tampan itu keluar dari kapsul lift tersebut tanpa menghiraukan sekertarisnya tersebut sehingga Mona menaikan salah satu alisnya dengan sikap heran atas sikap atasan nya itu yang benar-bebar acuh kepada dirinya.
Mona menghela melihat sikap dingin bosnya tersebut yang berpura-pura menganggapnya tak ada,staff perempuan itu menoleh ke arah Mona dengan ekspresi yang berbeda,namun nyalinya tak berani untuk mengungkapkan rasa keheran nya tersebut.
Mona paham akan tatapan staff perempuan tersebut yang menatap dirinya seolah-olah dirinya sedang mengalami perang dingin dengan pria tampan tersebut.
Henning.....
Kapsul lift terbuka di lantai lima lalu gadis itu pun tanpa menoleh lagi ke arah staff peremuan tersebut,ia langsung melangkah pergi keluar dari ketidak nyamanan nya.Rasanya ia ingin segera saja menghilang dari kotak sempit itu dan menghindar dari tatapan tapan yang menguliti perasaanya.
Mona berjalan dengan berbagai perasaan yang bergejolak di hatinya.
Meski ia terlihat baik-baik saja,jauh di lubuk hati yang paling dalam ia merasakan kegundahan hatinya yang kian tertekan atas sikap acuh bosnya tersebut.
Tekanan akan permasalah hidupnya tak kunjung usai dari kehidupannya.
Dengan setengah kasar gadis itu pun membanting daun pintu tersebut,seolah-olah ia sedang menunjukan kemarahan nya sekaligus kekesalan dirinya.
Mona menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya dengan perasaan yang semakin kacau.
Ia menarik napas panjang sesaat menahannya lalu menghembuskan-nya dengan lepas, ia sedang berusaha untuk terlihat setenang mungkin menahan amarah yang mulai merongrong rongga dadanya.
Gadis itu menatap jauh ke arah ruangan yang tersekat oleh dinding kaca,ahh....mengingat tentang pria berwajah dingin itu hanya membuatnya semakin frustasi dan bisa saja menjadi sosok crazy girls.
Haruskan ia mengatakan semua nya ini kepada bosnya tersebut,jika dirinya dengan Zeanu adalah sodara sambung !
Mona menggeleng,ia tetap dalam pendirian nya jika masalah ini cukup dia dan Zeanu beserta sahabatnya yang tahu.Biarlah ia menjadi korban prasangka buruk bosnya tersebut dan terpenting masalah ini tak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Bola mata Mona terarah ke layar laptopnya ia mencoba mengesampingkan permasalahan nya yang ada dan berusaha untuk tetap fokus ke pekerjaanya,mengecek kembali data laporan serta bebrapa pesan yang masuk ke email nya untuk pelayanan progres investasinya tersebut.
Baru saja di beberapa menit berlangsung saat ia mulai berjibaku dengan pekerjaannya tiba-tiba pintu ruanganya terbuka dan seorang pria dengan wajah dingin seding-dingnya itu masuk ke ruangannya tanpa permisi.
Mona menatap kaget ke arah kedarangan pria tersebut,lalu pria tersebut pun menghampirinya dengan raut wajah di selimuti penuh amarah.
Sekuat tenaga Mona menelan air liurnya berusaha untuk setenang mungkin menghadapi sikap kurang ramah bosnya tersebut.
" Maaf pak ada apa ya ?" Tanyanya dengan sedikit gugup seraya berdiri dari posisi duduknya dengan sikap kaku.
Prakkk !!!!
Sebuah map berwarna coklat terhempas di atas meja kerja nya.Sontak itu membuat gadis itu terkejut bukan main,tatkala pria tersebut mulai bersikap kasar kepadanya.
" Saya paling tidak suka jika pekerjaan itu tidak di lakukan secara tidak tuntas." Ucapnya dengan geram,gadis itu menatap kaku ke arah pria yang ada di hadapannya tersebut.
" Ma maksud bapak ?" Tanya Mona dalam ketakutannya.
" Kenapa kamu suruh Amel memberi laporan ini kepada saya ?lalu pungsi kamu di perusahaan ini apa ?,melayani keluhan masalahan orang,atau kamu jangan-jangan sekarang seorang konsultan yang siap membatu menyelesaikan permasalah setiap orang lain?"Tanya pria tersebut menatap marah ke arah gadis tersebut.
__ADS_1
Mona menatap dengan heran atas kemarahan sang bosnya itu yang di rasa tanpa beralasan terhadap dirinya,sejenak Mona berpikir atas kesalahan yang telah di perbuatnya hingga pria di hadapaan nya itu terlihat sangat murka ke pada dirinya.
Sorot mata pria itu masih menatap judes ke arahnya, Mona berusaha berpikir tenang dalam kepanikan nya itu,lalu ia pun baru menyadari atas kelalaian dirinya yang menyuruh Amel sahabatnya itu memberi laporan nya secara langsung kepada atasannya tersebut dan tidak melalui dirinya,tapi apa salah nya juga jika laporan tersebut langsung di berikan kepada bosnya itu? toh nanti juga ujung-ujungnya akan ia serahkan kepada bosnya tersebut,Mona menggeleng dengan perasaan kesal di rasanya pria berwajah dingin ini terlalu lebay dalam menyikapi kesalahan kecil nya itu,bilang saja bila bosnya itu memang ingin melepaskan amarahnya saja terhadap dirinya itu.
" Maaf kan saya pak,tadi siang saya.....," Ucapan Mona menggantung setelah pria tersebut menyela ucapannya dengan cepat.
" Tadi siang kamu buru-buru ingin menemui Zeanu,Iya ?" Sela Banny dengan cepat,sorot matanya terlihat sangat galak.
Mona tercekat,jika pria itu mengetahui dirinya pergi dengan Zeanu.
" Jelas kamu ini sangat tidak profesional." Ucap pria itu mendecih sinis.
" Tapi pak,laporan itu kan nantinya juga akan saya berikan ke bapak,jadi apa salahnya jika Amel memberi langsung kepada bapak." Sergah Mona membela diri,pertahanan sabaranya mulai kandas.
" Terus saya harus mengecek ulang laporan itu ?,sejak kapan saya harus bekerja di bawah perintah sekertaris saya ?" Ucapnya dengan menatap semakin sinis.
Gadis itu terkesiap mendengar ucapan pedas atasan nya tersebut.
" Maaf pak." Ucapnya lirih,lalu gadis itu pun tertunduk dalam.
" Perlu kamu ingat !bahwa saya tidak suka jika pekerjaan saya di nomor dua kan.Ingat itu !!! saya tidak suka." Ucap pria tersebut dengan gaya bicaranya penuh dengan penekanan.
Gadis itu terdiam menatap dirinya dengan perasaan yang benar-benar tak bisa lagi di gambarkan dengan apa pun akan suasana hatinya.Perasaannya berubah menjadi sangat down.
" Kamu paham ??" Ucapnya lagi dengan ketus.
" Baik pak." Balas Mona dengan suara terdengar serak.
Dagunya terlihat bergetar menahan sesuatu yang menyesakan di tenggorokannya.
Pria tampan berwajah dingin itu menghela napas panjang,ia terlihat sedang mencoba menaham amarahnya yang hampir membeludak dari dalam dirinya,entah kenapa pelampiasan rasa cemburunya itu berimbas pada kinerja sang sekertarisnya itu,padahal hal itu sangat,sangat sepele baginya,tapi entah kenapa kecemburuan nya itu menguasai dirinya sehingga amarah merasuki pikirannya dan bersikap arogan kepada sekertarisnya tersebut.
Mona terdiam ia pasrah harus mendengar segala bentuk perkataan yang menyakitkan perasaan nya itu,dan ia pun tak bisa berbuat apa-apa lagi.
" Nanti malam kamu harus ikut bersama saya pulang kerumah,papah saya ingin bicara dengan kamu,tak ada alasan lagi kamu menolak permintaan saya." Ujar pria tersebut dengan suara memelan,lalu menatap panjang ke arah wajah gadis tersebut yang sedang tertunduk.
Dadanya semakin berdekup kencang tak karuan.Kacau !!
Bagaimana bisa ia menolak akan permintaan bosnya tersebut jika ia di suruh hadir dalam anniversary pernikahan sang ibunya.
Lagi-lagi ia di hadapkan dengan pilihan yang sulit untuk di tentukan.Harus kah kejadian itu terulang kembali saat ia menolak keduanya atas permintaan kedua pria tersebut yang hadir secara bersamaan.?
Mona menghela pelan.
" Tapi pak....,"Selanya menggantung.
" Tapi kenapa lagi ?" Tanya pria itu dengan cepat menyoroti gadis tersebut melalui tatapan dinginnya.
" Apakah kamu ada janji lagi dengan pria itu ?" Tanyanya dengan tersenyum namun ekspresinya tetap dingin.
Mona terlihat semakin bingung menatap dengan berbagai perasaan yang sulit di bayangkan.
Leher kecilnya terlihat menegang menahan kegamangan di hatinya.
" Malam ini saya tidak bisa ikut pulang bersama bapak." Ucapnya dengan tandas.
Mata elang Banny membidik tajam ke arah wajah gadis tersebut.
" Ada apa lagi ?" Tanya dengan semakin terlihat geram,amarahnya muncul kembali saat mendengar penolakan itu.
" Maaf pak,saya ada sesuatu hal dengan....,"
" Zeanu ?Iya ?" Tungkas Banny dengan suara mulai meninggi.
Tulang rahang pria tersebut terlihat menyembul tegas menahan amarahnya yang nyaris pecah,pria itu menarik napas berat lalu di pandanginya wajah gadis itu dengan seksama.
" Kenapa kamu lebih peduli dengan pria itu,ketimbang permintaan papah saya ?" Tanya pria itu penuh telisik.Mona terdiam.
" Dan kenapa kamu lebih mengindahkan permintaanya dia ?,Kenapa Mona. ?" Tanya Banny dengan sedikit membentak,sontak membuat gadis tersebut terkejut di buatnya.
__ADS_1
Mona terlihat gentar menatap shok ke arah pria tersebut,dengan jelas ia melihat kemarahan pada raut wajah pria tersebut.
" Sebenarnya antara kalian itu ada apa ?" Tanya lagi Banny mendesak gadis tersebut agar gadis itu mengatakan yang sesungguhnya.Lagi-lagi Mona tak bergeming menatap kian tak pasti.
" Its ok jika ini adalah masalah pribadi kamu,tapi ingat ! saya tidak suka sahabat saya itu datang kesini hanya untuk menyelesaikan masalah murahan kalian sehingga itu menganggu pekerjaan kamu." Ucap Banny dengan menatap sinis.
Mona terperangah,entah kenapa perasaanya di buat panas setelah perkataan sang bosnya itu menganggap remeh akan masalah pribadinya tersebut.
" Masalah saya murahan ?,tolong ya pak,bapak tidak tahu akan permasalahan hidup saya.Jadi saya mohon bapak tidak perlu menghina masalah yang sedang saya hadapi sekarang ini." Bantah Mona dengan raut wajah tidak suka yang cukup ketara jelas di perlihatkan.
" Menghina ??" Tanya pria itu mendecih dengan raut wajah sangat menyebalkan.
" Yang menghina masalah kamu siapa ?,kamu sendiri yang tidak mau mengatakan hal permasalahan nya,jadi wajar saja saya menganggap permasalahan ini hanya permasalahan murahan tentang perasaan kalian satu sama lain.Iya kan ?"Tanya pria itu menatap remeh ke arah gadis tersebut.
Mona menatap wajah pria tersebut tanpa ekspresi.Tak tahan rasanya ia menghadapi sikap diktaktornya bosnya tersebut,dan ia pun memilih untuk menghindar dari perdebatan ini,gadis itu melangkah keluar dari meja kerjanya dan berniat meninggalkan ruangan nya namun dengan cepat tangan pria tersebut menyambar tangannya gadis tersebut dan mengahalau langkahnya.
" Saya tidak suka jika saya belum selesai bicara kamu pergi begitu saja,itu namanya tidak sopan." Ucapnya ketus. pria itu mencekal erat tangan sekertarisnya tersebut.
" Berdebat dengan anda hanya membuat otak saya semakin beku." Balas Mona dengan berusaha menepis kuat cekalan erat tangan pria tersebut.
Pria itu tersenyum namun tatapannya dingin.
" Kamu yang memancing saya untuk berdebat." Balas Banny menatap ke dalam wajah sekertarisnya tersebut.Mona membuang muka,di rasanya tatapan sang bosnya itu sangat menyebalkan bagi dirinya.
" Maaf pak,Lepaskan tangan saya." Ucap gadis cetus,meskipun ia merasa sebal namun ia tetap bersikap sopan kepada bosnya itu,padahal kejengkelannya sudah terasa di ubun-ubun nya.
" Saya tidak akan melepaskan tangan kamu,sebelum kamu mengatakan hal yang sebenarnya antara kamu dengan Zeanu?" Ucap pria itu menatap tegas.
Mona terdiam namun tetap berusaha melepaskan cekalan tangan bosnya itu yang di rasa semakin kuat.
" Saya mohon lepaskan tangan saya pak." Pinta Mona dengan wajah mengiba.
Namun sayang cekalan itu kian erat di pergelangan tangan nya dan pria itu semakin menatap bringas ke arah wajah gadis tersebut.
Dengan sekuat tenaga Mona berusaha melepaskan cekalan itu hingga menarik sepenuhnya tangannya itu.
Banny dengan perasaan kesal akhirnya menarik kencang tangan gadis tersebut hingga akhirnya tubuh gadis tersebut tertarik kedalam pelukannnya dan.......
Bleppp...
Tubuh gadis itu pun mau tak mau masuk kedalam pelukan pria bertubuh sixpack tersebut,bahunya yang lebar dengan bobot tubuh yang ideal membuatnya dirinya terlihat kerdil di dalam pelukan pria tersebut.
Tanganya yang kekar itu menggulung tubuh mungilnya sehingga gadis tersebut sulit bergerak.
Adegan itu kembali terjadi saat wajah mereka saling beradu kembali dengan jarak yang tak bisa di hindari lagi.
Mona merasakan pipinya mulai memanas jantungnya kembali berdekup kencang,dan perasaan nya sudah tidak bisa di ajak berkompromi lagi,meskipun pria yang tengah memeluknya ini sering membuatnya sebal dan jengkel,tapi ia tak bisa memungkirinya jika fakta nya pria yang sedang mendekap dirinya itu telah mampu menarik perhatian dan seluruh hatinya.
Pria yang sedang mendekap erat dirinya itu tidak akan percaya jika depakapaan nya tersebut membuat hormon kebahagiaanya di dalam diri sang gadis tersebut bekerja maksimal.
******* kasar itu menyapu kembali wajahnya,aroma khas dari ******* pria tersebut begitu menyeruak di luar nalar gadis tersebut,dirinya yakin jika hal seperti ini yang selalu membuatnya tak bisa berpaling dari sosok pria berwajah dingin tersebut.
Meski dalam ke adaan emosi,tapi pria berwajah dingin ini tetap memperlakukan gadis itu dengan lembut walau kadang caranya terlihat kasar.
Banny menatap lekat ke arah wajah gadis yang terlihat mulai menengang namun menikmati setiap detakan jantungnya yang berirama kencang di dadanya, sejenak mereka larut dalam buayan pelukan nya tersebut.
Tatapan demi tatapan pun tak bisa lagi mereka hindari,saling menikmati setiap inci ******* napas yang menyapu hangat kulit wajah mereka.
Dan mereka pun hanya saling terpaku menikmati getaran yang semakin mengalun kuat di hati nya masing-masing.
Banny semakin mendekatkan kembali wajahnya berusaha menikmati pergerakan yang hebat di dalam jiwanya,perlahan tangan gadis itu menahan di dadanya mencoba menolak namun tak mampu menolak hasrat untuk berkata tidak,dan bibir mereka pun tanpa menunggu lama saling berpagut mesra dalam buayan asmara.
Mona tersentak hebat setelah merasakan bibirnya terpagut lembut oleh pria tersebut dan debaran jantungnya semakin berdegup hebat dengan repleks ia pun mendorong kuat tubuh tegap pria tersebut,sehingga badan pria itu pun terdorong kebelakang menjauh dari tubuhnya.
Mona melangkah mundur raut wajahnya memerah menahan perasaanya yang kalut.
Gadis itu menutup mulutnya dengan repleks lalu membalikan badannya dan berlari ke luar ruangan dengan membawa perasaan yang semakin tak karuan,perasaannya berbaur dengan sebuah perasaan yang sulit di artikan oleh dirinya.
Yaa....,ia harus merasakan kembali hangatnya kecupan bibir pria tersebut yang selalu terjadi di luar kendalinya,gadis itu tetap berlari dengan membawa perasaan nya yang kian sulit di artikan.
__ADS_1