
MONA melangkah mengikuti langkah Banny yang berjalan menuju lobby perkantoran,setiap orang yang melihat ke arah mereka mengangguknya dengan penuh hormat.Tak terkecuali Arash pria penuh percaya diri itu ikut mengangguk pula ketika berpapasan di depan lift tadi.
Banny yang masih belum bisa berdamai dengan perasaanya terhadap pria penuh pesona itu hanya bisa bersikap dingin,baginya keputusan sang Ayah memperkerjakan kembali pria itu sangat tidak masuk di akal.
Orang yang jelas telah membuatnya kecewa kini harus ia jumpai dengan waktu yang tak bisa di tentukan.Dengan ekspresi sedikit kecewa Arash berusaha memperlihatkan sikap biasa saja terhadap Banny ketika bertemu.
Sedikitpun Banny tak ingin melihat ke hadirann pria tersebut secara sengaja maupun tidak sengaja,maka Banny pun dengan langkah cepat segera meninggalkan pria tersebut yang sedari tadi hanya bisa menatapnya dengan berbagai ekspresi yang mengganggu perasaanya.
Setibanya di luar perkantoran Banny tanpa menunggu ijin dari gadis itu ia segera menarik tangan gadis itu dan menggengam erat tangannya,menyisipkan jari jemarinya di jari-jari tangan gadis itu.
deg
Jantung Mona berdebar dua kali lipat lebih cepat.Entah kenapa setiap kali pria itu menggenggam erat tagannya Adrenalinnya selalu terpacu dengan maksimal,sedikit berlebihan memang.Tapi kalian pasti pernah merasakan bagaimana luar biasanya perasaan kita ketika seseorang yang kita cintai menggengam erat tangan kita hee hee..
Gadis itu tersenyum kecil di tengah-tengah perasaannya yang berbunga-bunga atas aksi kecil pria tampan itu.
Mona yang masih menatap Banny sudut bibirnya kian tergerak merasakan kebahagiaan yang diam-diam menyelinap di hatinya.Banny yang dengan fokusnya menggenggam erat tangannya tersebut,tangan tegapnya itu terlihat begitu kokoh menggenggam tangan mungilnya, itu dapat terlihat jelas karena kemejanya di lipat hingga mencapai sikut hingga otot cekalannya semakin terlihat kuat.Sedang kan tangan kirinya di gunakan untuk membawa jasnya.Mona masih lekat menatap pria tampan itu yang terlihat tetap maskulin meski di jam pulang.
Mona mengamati terus faras wajah pria itu dari samping dan Pria ini terlihat sangat tampan jika wajahnya seserius ini.
Sepasang mata menatap ke arah mereka dengan sorot mata yang tajam hingga tak berkedip, setelah melihat Banny melenggang keluar perkantoran itu seraya mengandeng mesra seorang gadis.
Yaa dapat di pastikan bahwa gadis itu adalah Mona.Wanita yang kini hadir terus menerus di dalam ingatannya tersebut.
Pria itu tiada lain Angkasa yang sedari tadi menunggu Mona untuk pulang bersama,Namun harapan tak seindah ekspetasi.
Pria yang sedang menjalin kerja sama sekaligus suami gadis itu telah kalah cepat darinya untuk menjeput gadis tersebut.
Raut wajah pria itu terlihat kecewa atas pemandangan yang sedang di lihatnya kini.Menatap dengan berbagai perasaan ke arah gadis yang berjalan tak jauh dari pria tersebut.
Mona hanya bisa tertunduk dengan perasaan bercampur aduk di benaknya.Rasanya ia tak ingin membuat pria berkarismatik itu terluka atas apa yang sedang di lihatnya kini.Namun ia pun tidak bisa menolak atas kuasa pria tampan itu yang memperlakukan dirinya memang kali ini sedikit berbeda.
Entahlah jika Banny sedang membuatnya pria itu cemburu kepadanya.
Mona berusaha mengeyampingkan pikiran jeleknya tersebut.
Banny yang berjalan di samping Mona tersenyum,lalu perlahan menghampiri ke arah pria itu yang berdi tepat di depan kendaraanya.
" Hallo pak Angkasa !Apa kabar ? senang sekali bisa bertemu anda kembali !" Sapa Banny dengan tersenyum penuh kepura-puraan.
Rahang pria berkarismatik itu mengeras lalu hanya tersenyum kaku di ujung sudut bibirnya.
" Kabar baik pak Banny,kebetulan kita bertemu disini." Balas Angkasa tersenyum datar.
" Bisa kebetulan begini yah kita bertemu di depan kantor istri saya." Ucap Banny dengan nada sedikit berbeda.
Sontak saja raut wahah pria berkaris matik itu berubah pucat setelah ucapan pria tampan itu mampu mengusik perasaanya.
" Haahaa... ini bukan sebuah kebetulan pak banny." Balas Angkasa berusaha tenang.
" Oya ?jika bukan suatu kebetulan,berarti ini sebuah unsur kesengajaan.Bukan begitu sayang ?" Ujar Banny seraya menoleh Mona dengan tersenyum mesra.
Air muka pria berkarismatik itu berubah tertekan sesaat Banny menatap gadis itu dengan penuh perasaan yang sedikit berbeda.
Entahlah...
Mungkin ini adalah sikap yang sengaja di perlihatkan Banny agar dirinya benar-benar cemburu.
" Hallo Mon !" Sapa Angkasa mengalihkan senyumannya ke arah Mona.
Rasanya ia enggan untuk menanggapi ucapannya Banny.
" Hallo pak,Angkasa." Balas Mona dengan sedikit menjeda lalu hanya mengangguk pelan.
" Lalu sedang apa pak Angkasa disini ?" Tanya Banny dengan tersenyum penuh cemooh.
Angkasa terdiam lalu menatap ke duanya dengan perasaan gamang.
" Ini bukan hanya kebetulan,karena setadinya saya berniat ingin pulang bersama Mona,namun sepertinya saya kalah cepat dengan anda." Ucap Angkasa tersenyum ringan.
Sebelum menjawab Banny terlihat mengangguk-nganggukan kepalanya seolah-olah paham atas apa yang di ucapkan Angkasa kepadanya.
" Tentu saja saya bergerak cepat,karena Mona adalah istri saya,jadi saya berhak menjemput dia pulang kapan pun." Ungkap Banny dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Wajah pria berkarismatik itu terangkat tinggi menatap lawan bicaranya dengan sorot mata yang tajam.
Angkasa melihat jelas akan sorot mata pria itu yang secara tidak langsung dengan mengingatkan dirinya sekaligus mengancam penuh akan perasaannya.
Angkasa menelan air liurnya dengan penuh perjuangan merasakan tenggorokannya di landa kekeringan.
" Ok."
Hanya kata itu yang terlontar dari mulut pria berkarismatik tersebut dengan datar namun ekspresi wajahnya terlihat sangat tertekan.
Mona berdehem pelan untuk menetralkan ketegangan tersebut.
Ia cukup paham akan kondisi hati mereka masing-masing.
Angkasa membuang jauh pandangnnya lalu mengalihkan perasaanya yang terasa kian down.
" Baiklah pak Angkasa,kalau begitu saya permisi." Pamit Banny tersenyum dengan penuh kemenangan.
Puas akan melihat ekspresi wajah pria tersebut.
Angkasa terdiam,ia terlihat enggan untuk menanggapinya setelah perasaan cemburunya kini berhasil mendominasi perasaannya.
Mona mengangguk untuk berpamitan,hanya dengan bahasa isyarat ia mencoba berkomunikasi dengan Angkasa.Dan ia pun hanya mampu tersenyum dengan rapuh ke arah pria berkarismatik tersebut.
Angkasa hanya mampu melongo membiarkan perasaanya terkikis oleh perasaan cemburunya setelah melihat Banny dengan congkahnya melewati dan berjalan menuju kendaraan yang terparkir tak jauh darinya.Mona hanya pasrah mengikuti langkah pria itu.Di tuntunya hingga menuju pintu mobil itu terbuka.
Angkasa melipat kedua tangannya di dada ,wajahnya berusaha untuk tetap terlihat tegar,menahan rasa kecewa yang menyesakan rongga dadanya.
Kedua matanya memicing sesaat ia menatap jauh langit senja yang mulai menenggelamkan sinar mentari menuju peraduan malam.
Hal yang tak seharusnya ia rasakan kini terpatri sudah di dalam batinnya jika dia telah benar-benar mencintai Mona yang bersetatus istri dari mitra perusahaanya tersebut.
**********
Hening
Banny masih tetap fokus mengemudikan laju kendaraanya,walaupun perasaan sedikit diliputi oleh perasaam kesal atas kehadiran Angkasa di kantornya Mona.
Tak hanya perasaan itu saja, justru kini dirinya mulai di hantui perasan was-was jika Mona kali ini mulai kelilingi oleh pria-pria yang cukup di perhitungkan.
Banny menghela napas pelan lalu melirik diam-diak ke arah gadis itu yang sedari tadi hanya termenung.
" Kamu sedang memikirkan pria itu ?" Banny mengawali obrolan di tengah deru mesin kendaraannya.
Mona tercekat lalu embenarka posisi duduknya dengan tenang seolah-olah menepis dugaan pria tersebut.
" Tidak !" jawab pendek.
__ADS_1
" Jangan berbohong ! " Tanyanya kembali Banny dengan nada sedikit tak percaya.
Mona melirik pria tampan itu mulai kesal.
Sejak kapan pria ini kembali bersikap menyebalkan.
Mona menelan air liurnya setengah terpaksa.
" Mas bertanya atau mengajak ku ribut ? " Ucap Mona dengan menatap jengkel.
Banny tersenyum sinis seraya masih fokus ke laju kendaraanya.
" Kenapa kamu harus sensi seperti itu,santai saja tidak perlu ngegas seperti itu,jika benar kamu tidak memikirkan pria itu. ??" Guman Banny pelan namun cukup terdengar jelas oleh gadis itu.
Bola mata gadis itu melirik keatas dengan perasaan yang semakin geram.
Rasanya Mona enggan untuk menanggapi gumanan pria tersebut,dan dia memilih diam dengan mengalihkan pandangannya ke hal yang lain.
Diam-diam entah kenapa perasaanya teralihkan begitu saja kepada sosok pria yang menatap nya kecewa ketika melihat dirinya bersama Banny beberapa menit yang lalu.
Hati kecil Mona berkeyakinan jika pria itu pastinya merasa kecewa atas sikapnya, namun apalah daya jika sesungguhnya ia memang tak mampu membalas perasaannya Angkasa.
" Aku tau,kamu merasa tidak enak hati atas apa yang aku lakukan tadi kepadamu.Dan asal kamu tau aku melakukan itu atas dasar perasaanku sendiri bukan untuk membuat pria itu cemburu." Jelas pernyataan pria itu dengan tetap fokus ke laju kendaraanya.
Pandangan Mona yang sedari tadi menyaksikan jalanan teralihkan secara utuh,dan lamuannya terpecahkan,ya terpecah dengan kekagetannya atas penuturan yang di ungkapkan pria itu terhadap dirinya.
Bola matanya membulat sempurna dengan mulutnya menganga lebar berusaha mencerna apa yang telah di katakan pria tampan itu.
Apakah pria tampan itu sedang baik-baik saja? sehingga telah berhasil membuatnya terpana.
Bukan karena tidak senang,justru ucapan inilah yang terasa begitu ajaib sehingga membuatnya sulit mempercayainya.
" Apakah kamu tetap masih meragukan perasaan ku ini ?" Sesaat Banny menoleh lalu kembali menatap laju kendaraanya.
Mona masih bungkam dengan perasaan yang sulit di gambarnya.
Setengah hatinya bahagia atas perkataan pria tampan itu.Namun separuh hatinya harus berusaha menahan gensinya.
Dengan dada berdebar Mona menoleh dan menatap ke arah wajah pria itu.Namun entah kenapa dia hanya bisa diam sepenuhnya tampa bisa merespon ucapan pria itu.
" Kamu tidak menjawab,aku yakin kamu masih ragu antara perasaan kamu terhadap prai itu."
Mona menyopitkan matanya.Pria tampan itu semakin membuatanya jengkel atas pernyataanya tersebut.
Mona tersenyum miring lalu menatap pria itu dengan seksama.
" Mas menuduh perasaanku ?
Banny mendecih.Ekspersi wajahnya terlihat jengkel.
" Menuduh antara menyimpulkan beda tipis.
" Ingin rasanya saya membungkam mulut mas ini,dan berhenti menuduhku."
" Membungkam dengan bibirmu." Tangtang pria itu sehingga semakin gadis itu membuat mengernyitkan dahi.Seolah-olah menantapnya dengan jijik atas lelucon yang di layangkan pria itu kepada dirinya.
Banny tertawa menggeleng-gelengkan kepala penuh kemenangan setelah melihat lirikan gadis itu terhadap dirinya begitu galak.Rasanya biarkan saja gadis itu merasa dongkol akan ulahnya.
Mona terlihat merengut dengan perasaan bercampur aduk di benaknya.
" Aku tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini." Ucap Banny justru semakin gencar membuat gadis itu semakin kian jengkel.
Banny menoleh lalu tersenyum penuh makna hingga
Sejak kapan pria angkuh itu tersenyum setulus itu kepadanya.
Heran sekaligus senang tercampur aduk di perasanya.
" Mas !! Pliss jangan membuatku kesal dengan prasangka murahan mas itu." Mona mendelik manja.
Namun entah kenapa justru Banny malah semakin senang melihat akan sikap gadis itu yang terlihat jengkel terhadap dirinya.
" Tapi prasangku beralasan." Balasnya kembali.
" Mas !" Sergah Mona dengan geram.
Dengan spontan tangan gadis itu refleks Memukul kecil tangan pria tampan itu hingga Banny terhenyak kaget.
" Maaf mas !" Ucap Mona dengan segera setelah melihat pria itu sedikit terkejut atas aksinya tersebut.
Mona menyadari jika spontanitasnya bisa membahayakan dirinya beserta Banny yang sedang mengemudi kendaraanya tersebut.
" Aku lagi bawa mobil,jangan membuatku terkejut." Sela Banny dengan cukup panik dan ia pun terlihat berkonsentrasi kembali.
" Baiklah aku minta maaf." Ungkap gadis itu dengan penuh sesal.
Banny hanya tersenyum melihat kepolosan gadis itu.Diam-diam perasanya kian dalam begitu tersirat di dalam hatinya.
Sementara Mona hanya bisa tersenyum di dalam hatinya dengan perasaan berwarna warni.
********
Arnetta terduduk menyepi seorang diri di tengah ke ramaian para pengunjung kafe yang hadir mewarnai hiruk pikuk malam di ibu kota.
Tatapannya kosong menerawang jauh ke ujung luar sana,mencoba menelisik harapan yang sampai detik ini belum dapat menuai kebahagiaan darinya.
Berat memang jika harus memendam perasaan yang kian hari kian tumbuh besar terhadap seseorang yang telah lama melupakannya.
Arnetta menghela napas lalu di alihkannya tatapan tersebut ke arah yang lain dan....
srett....
Seorang pria tengah berdiri tegak menatanp dirinya dengan sorot mata yang cukup dalam.
Pria yang di hadapannya itu terlihat sangat tampan dan begitu tegap,memiliki tubuh tinggi yang ideal sepertinua tidak berbeda jauh dari sosok seorang Banny.Bulu bulu tipis menghiasi dagunya yang putih dan bersih.Tubuhnya yang kekar itu di balut sweater hoody hitam yang nyaris membendung isinya.Demi apa pun mata Arnetta mendadak lumpuh tak berkedip sedikit pun.Namun Arnetta segera sadar diri bahwa pria di hadapannya itu adalah sahabat dari Banny.
Memang berbeda sekali akan pemampilan pria itu,yang sebelumnya terlihat urakan dalam penampilan justru kali kini terlihat lebih casual.
" Hallo Aneu ! " Sapa pria itu tersenyum lembut.
Arnetta tersenyum dengan segera mengalihkan pandangannya.
" Hallo mas Zean !" Balas Arnetta sedikit terlihat canggung.
" Apa kabar ? " Sapa Pria itu berdiri dengan menjulang di hadapan gadis itu.
" Baik,baik-baik saja mas." Arnetta menatap kaku.
Entah kenapa Pria ini sedikit berbeda,ia pernah mengenal dekat atas sosok pria ini.Sikapnya yang hangat serta perlakuaannya yang lembut.Jauh berbeda dengan sikap Banny yang dingin.
" Boleh gue duduk ? " Tanya pria itu dengan sigap.
__ADS_1
" Tentu saja." Mona mempersilahkan dengan kaku.
" Sedang apa di sini sendirian ? " Tanya pria itu menatap penuh selidik.
" Sepulang kerja tadi aku sengaja mampir kesini sekalian melepas penat aku juga mempelajari beberapa hal laporan tentang pekerjaan." Jelas Arnetta seraya menoleh ke arah ipadnya yang berads di hadapannya.
" Tanpa teman ? " Pria itu menggoda.
Arnetta melirik dengan penuh arti saat pria itu menggodanya.
" Ah !!" Gadis itu terlihat menepis perasaanya setelah tatapan pria itu membuatnya serba salah.
Pria itu tersenyum manis dengan menyugar rambutnya dengan santai.
" Ngomong-ngomong,gimana pekerjaan kamu?apa lagi setelah menjadi sekertarisnya Banny ?" Tanya Pria itu mengalihkan topik pembicaraanya.
" Saya rasa mas Banny masih tetap seperti itu dan belum bisa berubah mas ?" Ugkap gadis itu dengan pelan,nada bicaranya terdengan parau.
" Dia belum bisa move secara betul." Imbuh Pria itu menyela.
" Mas Banny masih mencintai mbak Kinaya ??" Tanya Arnetta harap-harap cemas.
" Hmmm...," Pria itu yang adalah Zeanu terlihat menghela.
" Gue tidak tau percis." Balas Zeanu acuh.
" Mas Zean boleh aku bertanya sesuatu ?"Tanya Arnetta memelas.
" Tentang apa ? " Zeanu bertanya.
" Ini masalah Mas Banny dengan bu Mona " Ucap Arnetta dengan ragu.
" Kenapa ?ada apa mereka ? " Tanya Zeanu menatap seriuss.
" Apa kah mereka benar-benar akan bercerai seusai sandiwara ini ?" Tanya Arnetta sedikit ragu.Ia tak yakin jika Zeanu mengetahui semua hal ini.
" Kamu tau darimana akan sandiwara Banny dengan Mona ?" Tanya Zeanu penasaran.
" Mas Banny sendiri yang cerita.Dan aku berharap jika mereka akan secepatnya..." Gadis cantik itu menjeda ucapannya setelah Zeanu segera memotong kalimatnya.
" Bercerai ?karena kamu masih mengaharapkan Banny ? " Sela Zeanu dengan cukup beralasan dalam perkataan tersebut sehingga mampu menohok perasaan gadis cantik itu.
Arneta tertunduk merasakan kata-kata Zeanu mengena di hatinya.
" Gue mengenal betul akan sosok Banny seperti apa ?dia pantang merubah keputusannya jika hatinya sudah merasa yakin.Dan gue merasa jika Banny sudah mulai mencintai Mona." Ungkapnya dengan perasaan pilu.
" Kenapa mas Zean begitu yakin jika mas Banny kini sudah mencintai bu Mona ? " Arnetta menolak akan pernyataan Zeanu.
" Aneu,gue mengenal Banny itu tidak hanya sehari dua hari,kita sudah saling mengenal hingga bertahun-tahun,sehingga gue tau percis akan sikap Banny itu seperti apa?apa yang dia gengam tak mungkin begitu saja dia lepaskan." Terang Zeanu dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Arnetta terdiam merasakan hawa panas mulai meraksuk kedalam rongga dadanya.
" Kita senasib Neu." Ungkap Zeanu dengan nada sedih namun bercampur nada jenaka.
" Maksudnya mas ?" Tanya Arnetta tak mengerti.
" Gue mencintai Mona sebelum Banny mencintainya." Ungkapnya pelan namun nada bicaranya begitu dalam.
Arrneta menggerecap dengan menatap panjang ke arah wajah pria itu,ia mencoba mencerna dari apa ucapan pria tersebut.
Sungguh kah itu?
Begitu hebatnya pesona seorang Mona mampu menarik hati dua pria hebat ini.
Dia sadar selama ini dirinya selalu memandang sebelah mata akan sosok Mona atas penampilannya yang sederhana itu.Namun tak ayal membuat kedua pria mapan ini merasa simpatik terhadapnya.
Arnetta menghela napas panjang lalu ia pun tersenyum dengan membawa sebuah ide yang cemerlang.
" Kenapa kita tidak berjuang bersama mas ?" Tanyanya menatap dengan pasti.
" Maksud kamu ?" Zeanu mengangkat wajahnya lalu menatap penuh empati.
" Yaa,Jika mas memang mencintai bu Mona,mas bisa berusaha mengambil hatinya bu Mona.Sementara,aku pun akan mencoba mengambil kembali hatinya mas Banny." Ucap Arnetta dengan penuh harapan jika Zeanu akan menyutujui idenya tersebut.
Zeanu memicingkan matanya lalu ia pun tersenyum ironi.
" Tidak semudah itu Aneu,ada hal yang tak bisa aku perjuangkan atas cinta ini." Ungkap Zeanu dengan menatap berat.
" Cinta itu harus ada pengorbanannya mas,jika memang bu Mona tidak menyukai mas Banny tentunya bu Mona akan menggugat mas Banny untuk menceraikannya." Arnetta tetap dalam pendiriannya.
" Mereka saling mencintai Aneu." Ungkap Zeanu dengan lirih sorot matanya terlihat semakin dalam.Ada hal yang begitu berat ia sembunyikan.
Arnetta tertegun menatap dengan berbagai perasaan.Kenapa pria ini terlihat begitu mengalah atas perasaanya tersebut.Kenapa ?
Pertanyaan itu mengitari isi kepalanya.
" Tak selamanya cinta itu harus memiliki.Membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain adalah bentuk sebuah pengorbanan yang tak mudah dalam sebuah rasa cinta Aneu." Ujar Zeanu dengan perasaan kian membiru.
Ah rasanya terlalu munafik jika ia harus melihat orang yang paling di cintai bahagia dengan orang lain.
Arnetta mendecih.Dia rasa pria ini sedang berdrama korea yang terlalu naif dalam mengekspresikan cintanya.
" He'uh !! tidak seperti itu mas,membiarkan perasaan kita menderita hanya orang lain itu bukan sebuah pengorbanan melainkan pembunuhan karakter mas.Cinta itu harus di pertahankan apapun itu perjalanannya." Ungkap Arnetta dengan perasaan menggebu.
" Itu menurut pandangan mu Aneu,tai tidak dengan pandangan gue saat ini." Ungkap Zeanu dengan tersenyum hambar.
Arnetta hanya menatap sebatas asa,ia tak habis pikir jika dirinya akan mendengar begitu jelas bagaimana sosok Zeanu mengalah dari rasa bahagianya hanya untuk melihat gadis yang di cintainya bahagia.
" Kamu masih berharap jika Banny akan menoleh kamu lagi ?tidak akan Aneu,jauh sebelum itu dia sudah melupakan perasaan itu terhadap kamu." Jelas Zeanu dengan tegas.
Gadis cantik itu tercekat,betapa tidak pernyataan itu berhasil membuat hatinya luluh lantah.Seorang Banny yang menjadi pusat perhatiannya kini telah sempurna melupakannnya dan berhasil membuat luka sempurna di hatinya.
Betapa bodoh dan tolol dirinya itu hingga di butakan oleh perasaanya.Kesalahan terbesarnya dia harus datang di kehidupan seseorang yang tak pernah mencintainya.Dan harapan itu jelas saja tak akan pernah terbalaskan dari pria yang telah melupakan seluruh perasaanya tersebut.
Arnetta terdiam melipatkan bibirnya dengan kuat,entah kenapa malam ini terasa begitu kelabu dunianya benar-benar runtuh seperti halnya perasaanya yang hancur berkeping-keping atas ucapan Zeanu yang menikam ulu hatinya.
Seharusnya dari awal dia menyadari jika perasaan terbesarnya yang membawanya ketempat ini keliru dengan harapan semu dari seorang Banny.
Dan seharusnya ia pun tak menerima tawaran sang Ayah untuk bekerja di perusahaan anak dari sahabatanya sang Ayah, jika pada akhirnya ia harus kecewa bahkan lebih dari kata patah hati.
Air mata yang mulai tergenang rasanya ingin segera tumpah membasahi kedua pipinya.Namun sebisa mungkin gadis itu menahannya sekuat tenaga.
" Aneu ! kamu baik-baik saja ?" Tanya Zeanu menatap penuh kecemasan setelah melihat sorot mata gadis itu memudar.Arnetta tergoyahkan dari lamunan panjangnya dan menatap nanar ke arah Zeanu.
" Tak ada yang melarang satu orang pun lo untuk mencintai seseorang.Tapi lo harus ingat satu hal, jika mencintai itu tak selamanya harus bisa memiliki." Ungkap Zeanu dengan tersenyum hambar,ia mencoba menguatkan hati gadis itu yang terlihat mulai rapuh.
" Terimakasih mas,sudah mengingatkan hal itu." Ucap Arnetta tersenyum hampa.
Sejak tadi pun perasaanya sudah terasa berat,dan kini sempurna sudah hatinya kian di landa gerimis sesaat kata yang di ucapkan seorang Zeanu mampu terngiang dalam di telinga.
Tak semudah itu ia harus melupakan perasaan terindahnya terhadap sosok Banny yang merupakan harapan pertamannya ia tambatkan,dan yah...., kini ia harus melebur semua rasa itu dengan atas nama cinta.
__ADS_1
Zeanu menatap iba terhadap gadis cantik itu,gadis yang pernah di beri harapan yang begitu berarti oleh sosok seoarng Banny,namun justru kini pria itu dengan mudahnya melupakan semua harapan itu.