
MONA duduk tak jauh di sampingnya Banny ia bersedia datang kerumah Banny atas permintaan pak Wiguna sang papah dari atasanya itu.
Dengan wajah berseri-seri pak Wiguna terlihat berantusias membahas rencana lamarannya Banny dengan Mona.
" Banny sudah menentukan hari dan tanggalnya pah." Ucap Banny seraya menatap lurus sang papah.
" Terus bagaimana dari pihak keluarga Mona nenek kamu sudah tahu akan hal ini ?" Tanya Pak Wiguna menatap lembut sang calon mantunya itu.
Mona tersenyum tipis seraya mengganggguk pelan.
" Acaranya tidak terlalu mewah pah,Banny sengaja membuat acara lamaran ini sesederhana mungkin karena yang terpenting adalah Banny sama Mona bisa melakasanakan lamaran ini dengan penuh makna.Iya kan sayang ?" Ucap Banny seraya menumpukan tanganya di atas tangan Mona yang berada di panggkuannya.
Mona tersentak kaget lagi-lagi Sang Bosnya itu selalu melakukan hal di luar perkiraanya,kebiasaan yang menjadi keharusan agar mereka terlihat seperti pasangan yang paling romantis meski Banny selalu melakukannya tanpa memberi isyarat terlebih dahulu kepadanya.
Mona memandangi tangan Banny yang tertumpu di tangannya lalu Banny pun meremas tangann Mona yang di gengamnya dengan erat tangan.
Mona tersenyum pasi saat Banny menatapnya dengan penuh cinta,ia selalu merasakan hal yang paling sulit di artikan setiap mendapatkan perlakuan dari sang bosnya itu dan hal ini tak ayal membuat hatinya terasa berdebar-debar tidak karuan.
" Lagian Banny rasa,kita bukan pasangan yang menginginkan sebuah moment yang wah karena hal yang terpenting adalah makna dari acaranya itu pah." Ucap lagi Banny dengan menoleh Mona yang masih terlihat kaku dengan raut wajah yang sulit di tebak.Lalu lagi-lagi Banny menatapnya cukup dalam dan menyunggingkan senyuman manisnya.
" Oh my GOD !! Bos gue kalau kaya gini cakep banget,sumpah lee min ho aja lewat di muka gue."
Pekik Mona dalam hatinya terus sibuk sendiri memuji sang bosnya itu.
Mona masih tersenyum tak pasti ia hanya bisa menganggukan kepalany saja tanpa bisa berkomentar banyak.
" Papah bahagia akhirnya kamu bisa mendapatkan orang yang tepat untuk menemanimu hidupmu,yaa meskipun ini semua atas perjodohan papah tapi ternyata kalian terlebih dahulu sudah saling mencintaikan ?" Jelas sang papah seraya membagi pandangannya ke arah Banny dan Mona dengan tatapan yang penuh arti.
Banny tersenyum lalu kembali menatap Mona yang terlihat raut wajahnya semakin tak menentu.Seolah-olah ia merasakan kegelisahan yang semakin lama semakin dalam.Perasaan ini antara bahagiakah atau sedihkan atas perjodohan ini.
" Oya pah,Banny setelah melamar Mona akan langsung menikah." Ucap Banny mengalihkan pandangannya ke arah sang papah.
Mona terhenyak apa yang di rencanakan sang bosnya memang benar-benar di luar perkiraanya lagi ia hanya berpikir jika sandiwara ini hanya akan bersifat sementara tidak mungkin jika harus sampai menikah.Kalau pun sampai pernikahan terjadi Mona ingat akan perjanjian sang bosnya yang meminta sandiwara ini di lakukan hanya 100 hari tidak lebih.
" Oya ??Bagus sekali itu.Papah sangat senang mendengarnya karena itu yang papah harapkan dari kamu saat ini.Karena papah sudah rindu ingin gendong cucu !" Jelas Pak Wiguna dengan senyuman yang mengembang.
Banny menghela napas panjang ia melihat dengan jelas akan sorot kebahagian yang terpancar dari raut wajah sang papah,yang berharap besar jika dirinya dengan Mona bisa bersatu secepatnya.
Banny kembali menoleh Mona yang raut wajahnya berubah kebingungan entah kenapa perasan Banny jauh dari hati yang paling dalam ia merasa berdosa jika sesungguhnya ia hanya memberikan kebahagiaan yang semu dengan berpura-pura mencintai Mona hanya untuk sang papah merasa bahagia.
Dan ini adalah dosa yang paling tolol yang ia lakukan saat ini.
" Mona ! Kenapa kamu sedari tadi tidak bicara ?Apa ada yang di pikirkan ?" Tanya Pak Wiguna menatap dalam Mona.
" Tidak Pak.saya baik-baik saja." Jawab Mona tersenyum manis.
" Gimana pekerjaanmu Ban ?" Pak Wiguna mengalihkan pembicaraannya seraya menatap sang putranya dengan penuh bangga.
" Alhamdulillah pah pekerjaan Banny lancar-lancar saja.Malahan Banny bulan depan nanti akan berencana untuk proses pembagunan lagi cabang perusahaan yang baru."
" Syukurlah jadi papah gak salah lagi mempercayakan sepenuhnya perusahaan ini sama kamu." Ucap Pak Wiguna tersenyum bangga.
" Punten !Bapak tuan sudah waktunya Bapak tuan minum obat." Bi yayah menyela di tengah obrolan dengan penuh hormat.
" Sudah di siapkan bi obatnya ?" Tanya pak Wiguna dengan lembut.
" Sudah Pak." Jawab Bi yayah dengan sopan.
" Antarkan saya ke kamar bi sepertinya saya mau istriharat." Ucap Pak Wiguna meminta sang asisten rumah tangga kepercayaannya itu untuk mengantarkan ke kamarnya.
" Mona.Papah tinggal dulu ya." Ucap pak Wiguna dengan tersenyum lembut.Mona menggangguk seraya tersenyum simpul ia baru sadar jika ucapan pak Wiguna barusan sudah menyebutkan dirinya dengan sebutan papah.
" Iya pak,Hmm bapak istirhata saja." Balas Mona dengan terlihat ragu serta canggung.
__ADS_1
" Banny antar pah !" Pinta Banny singkat.
" Tidak usah!,Kamu temanin Mona saja dan jangan lupa pulangnya jangan terlalu larut malam kasian Mona." Ucap sang papah dengan penuh perhatian terhadap Mona.
Lalu bi Yayahpun mendorong kursi sang majikannya itu untuk menuju kamarnya.
Banny terdiam masih menatap ke arah sang papah pergi sedangkan Mona masih merasakan debaran hatinya yang tak menentu kala tangan sang bosnya masih bertumpu di tangannya.
Mona segera menarik tangannya dengan repleks ia pun memilih menggeser duduknya dengan menjaga jarak antara sang Bosnya itu.
Banny menatap ke arah sikap Mona dengan heran.
" Kenapa ?" Tanya Banny datar.
" Sandiwaranya sudah selesai pak." Jawab Mona singkat.
Banny mengernyitkan alisnya lalu menatap aneh ke arah sang sekertarisnya itu.
" Jadi sekarang kamu mau pulang ?" Tanya Banny menoleh Mona.
" Ya iyalah pak,Gak mungkin saya nginep di rumah bapak,Mau di Rt' in nanti." Celoteh Mona dengan polos.
" Di RT'in memangnya saya ngapain kamu ?,Dasar aneh !" Guman Banny tersenyum sinis ke arah Mona yang terkadang sikapnya selalu membuat iia tersenyum geli.
Mona berdiri seraya merapihkan bajunya ia ingin segara pulang dan terlepas dari rasa ketidak nyamanannya ini.
Banny menyenderkan punggungya di sopa seraya melepaskan jasnya lalu membuka kancing atas kemejanya dengan santai.
Mona menatap heran ke arah sikap sang bosnya yang malah merebahkan badannya di sofa dengan penuh rasa lelah.
Mona semakin kesal melihat sikap sang bosnya itu yang dengan sengaja bermalas-malasan tanpa menghiraukan dirinya yang hendak pulang lalu Mona pun menatap lurus ke arah Banny dengan jengkel.
" Kenapa ?" Tanya Banny dengan datar menatap Mona yang hanya berdiri dengan menatapnya ragu.
" Sandiwara sudah selesai,Jadi kamu pulang sendiri saja." Ucap Banny dengan cuek.
Sontak Mona merasa semaput di buatnya Mona menatap frustasi ke arah Banny yang setega tidak mau mengantarnya pulang.
Amarahnya timbul tatkala sikap nyebelin sang bosnya kumat,apa lagi Banny berkata seperti itu dengan ekspresi wajah tanpa beban.
" Baiklah !!" Ucap Mona ketus ia tak bisa berbuat apa-apa lagi meski dia kecewa namun ia tidak ada hak untuk marah kepada sang bosnya itu meski ia sangat kecewa atas sikapnya.
Mona melangkah cepat meninggalkan Banny yang tetap acuh kepadanya.
" Kenapa see dia gak mau nganter gue pulang ?Aneh banget gue punya bos.Mana sudah malam lagi,tau kaya gini ujungnya gue nolak datang aja."
Gumannya jengkel seraya terus berjalan dengan memasang ekspresi wajah merengut kesal.
Begitu sampe luar Mona terkejut karena di luar hujan turun dengan sangat deras lalu ia pun menatap kesekelilingnya yang terlihat sangat sepi dan dingin.
" Kenapa harus hujan segala see ?Gue pulang gimana nih?" Tanyanya dengan semakin merengut kesal.
Mona membagikan pandangannya ke seluruh luar pelosok kediamannya Banny yang terlihat lengang dan sepi,serta di iringi hujan yang deras menambah kian terasa semakin mencekam,rasa kesal bercampur jengkel melanda dirinya.
" Masa iya gue nginep di teras rumah bos gue,kan gak lucu." Gumannya lagi seraya menatap pelataran rumah mewahnya Banny yang begitu luas.
Mona berdiri menatap lepas ke arah pintu luar pagar lalu ia berpikir gimana caranya ia bisa pulang tanpa harus ke hujanan.
" Hmm..,Coba gue pesan taxsi On line." Ucap Mona seraya mengeluarkan gawainya dari tasnya.
Mona tercengag saat melihat batre ponselnya itu.
" Yahh hape gue lowbet lagi." Pekikinya semakin mumet melihat gawainya dengan daya batrenya sudah lemah.
__ADS_1
" Sial amat see nasib gue !!." Gerutu Mona dengan nada sedih di lihatnya jam di tangannya waktu sudah menunjukan 22:00.WIB.Mona terdiam seperti sedang berpikir mencari cara untuk bisa pulang.
" Rumah semegah ini kok gak di jaga sama security sii,pelit amat !! ?" Guman Mona seraya melangkah menembus rinai hujan yang cukup deras.
Mona menggunakan tasnya untuk melindungi kepalanya dari air hujan yang mengguyurnya dan ia pun berlari kecil menuju pos keamanan yang berada tak jauh dari samping pintu pagar masuk.
Mona meneduh di pos keamanan itu lalu ia mengamati ke adaan di sekitarnya lampu pos keaman itu menyala namun tak ada security yang berada di sana.
Mona semakin cemas ia merasa kesal dan benci terhadap Bosnya itu yang membiarkan dirinya pulang sendirian tanpa di antar oleh Banny dalam keadaan hujan seperti ini.
" Awas aja gue balas nanti !" Ucapnya dengan geram lalu ia mengamati pintu pagar yang terlihat terkunci.
" Yahh gue kan mau balik kenapa pagarnya di gembok kaya gini,Mana sii yang jaga pintu ?" Tanya Mona clingukan mencari keberadaan seseorang di tempat itu.
" Apa perlu gue panjat pagar ini,kan gak lucu gue di sangka maling bonyok gue nanti." Ucapnya lagi ngebatin.
Mona menarik napas panjang lalu ia pun membiarkan badannya basah dengan air hujan dengan wajahnya terlihat mulai kuyup dengan air hujan.
Ketika ia tengah dalam kebingugan tiba-tiba sebuah payung melindunginya Mona teridam lalu dengan penasaran mendongkak menatap sebuah payung yang berada di atas kepalanya itu.
Mona memandangi sebuag tangan yang kekar sedang memegangi payung untuk dirinya lalu Mona pun perlahan menoleh ka arah orang yang sedang memayunginya itu.
Dilihatnya Banny berdiri dengan menatap dingin ke arahnya,Mona melengos dengan acuh dan ia bergeser keluar menghindar dari payungnya Banny.
" Percuma mayungin juga gue udah basah !"
Batin Mona seraya membuang wajah.
" Kenapa ??Kamu tidak suka ?" Tanya Banny dengan tersenyum sinis.
" Percuma sudah basah pak !" Balas Mona seraya membelakangi Banny.
" Memangnya kalau di payungin bisa bikin kering baju gue apa." Gerutunya pelan.
Banny memperhatikan sikap Mona yang berkomat kamit tak karuan.
" Sebelum kamu pulang sebaiknya kamu ganti baju dulu, dan kalau sudah reda hujannya baru kamu pulang.Nanti saya antar kamu pulang." Ucap Banny dengan datar.
Mona terdiam seraya memoyongkan bibirnya pertanda ia kesal terhadap sang Bosnya itu.
" Giliran sudah basah begini baru di antar pulang.Dasar aneh !!" Gumannya kesal.
" Ayok masuk lagi! Kok kamu malah ngomong sendiri gak jelas gitu." Ucap lagi Banny seraya mendekati Mona yang dengan sengaja membasahi tubuhnya dengan air hujan.
" Kamu sakit jangan salahkan saya." Ucap Banny yang masih bersabar memayungi Mona yang sudah basah di guyur air hujan.
" Enggak pak !Saya mau pulang saja." Balas Mona singkat.
Ia terlihat menahan gengsinya untuk mengiyakan ajakan sang bosnya itu.
" Kamu jangan keras kepala !" Ucap Banny cukup tinggi nada suaranya.
Mona terdiam lalu membalikan badannya menghadap ke arah Banny yang sedang menatapnya jengkel.
" Pak saya sudah basah mau ngapain saya masuk lagi kedalam percuma saja kan?" Tanya Mona menatap kesal sang Bos.
" Justru itu baju kamu basah jadi saya minta kamu ganti dulu di dalam nanti kamu masuk angin berabe." Ucap Banny menatap kian tajam ke arah Mona.
Bibir Mona tiba-tiba bergetar ia mulai menahan rasa dingin yang menyergap ke tubuhnya dan sekilas Banny melihat akan hal itu.
Dengan tanpa bicara lagi Banny menarik tangan Mona agar ia dapat mengikuti langkahnya untuk masuk kedalam rumahnya lagi.
Mona tidak menolak dan patuh karena ia mulai merasakan jika tubuhnya sudah merasa tidak enak akibat kedinginan.
__ADS_1