
MONA masih mengurung seorang diri di dalam kamarnya, ia patut bersyukur akan kebiasaanya sang nenek yang suka duduk berdzikir di atas sejadah selepas sholat magrib sembari menunggu isya tiba.Memudahkan ia menyelinap masuk kamarnya tanpa ketahuan oleh wanita yang sangat mengasihinya itu,ia tak ingin nenek melihat cucu kesanyangan nya pulang dalam keadaan sekacau ini.
Mona duduk tercenung di meja riasnya sambil menatapi pantulan wajahnya di cermin,menelusuri area mata yang nampak semakin sembab dan itu membuat ia semakin gelisah.Ia yakin itu akan bertahan hingga esok hari.lalu Mona mengusap lingkar matanya dengan lembut dan mengapit kedua pipinya dengan kedua tangan.
Berat rasanya apa yang di rasanya saat ini ia di hadapkan dengan dua pilihan yang sulit,tentu saja membuatnya ia merasa buntu untuk menentukan pilihan.
Ia mengacak rambutnya dengan frustasi lalu memejamkan kedua matanya pasrah.Lalu ia beranjak dari duduknya,berjalan mematikan saklar lampunya untuk menghindari neneknya mengetahui bahwa dirinya sudah berada di dalam kamar.
Mona melangkah mendekati jendela dan sengaja membuka dengan lebar,menengadah memandang lepas ke langit yang gelap.
Tetesan air dari langit tiba-tiba turun membasahi seisi kota sengaja datang tanpa memberi pertanda padahal Mona tahu sepanjang siang tadi cuaca masih lah teramat panas,mungkin sang langit mengerti akan suasana hatinya yang masih diliputi rasa gelisah yang tak kunjung sirna.
Mendudukkan diri di tepi jendela dengan setia menatap tetesan air hujan yang turun melalui jendela kamar,tangannya memeluk kedua lututnya,wajah Mona terlihat penuh kebimbangan ia tidak ingin melakukan apa-apa,padahal jelas ia masih mengenakan pakaian kerjanya.
Entah mimpi buruk apa yang akan terjadi di kehidupannya nanti,
Dulu memang iya adanya ia memimpikan suatu pernikahan yang sakral dengan seorang pria yang sangat ia cintai,namun sepertinya itu hanyalah sebuah mimpi di cerita dongen 1001 malam,kenyataanya ia akan menikah dengan pria yang ia cintai namun pria itu hanya menganggap pernikahannya itu hanya sebuah formalitas.
Yang hanya akan menyisakan sebuah luka yang tak akan pernah bisa ia sembuhkan dengan begitu saja.
Pernikahan bagi setiap perempuan adalah moment yang paling mereka di tunggu-tunggu dalam sejarah hidupnya,justru ini adalah moment yang paling menyeramkan bagi Mona setelah berakhir nanti dengan sebuah perceraian.
Mona menarik napas dalam lalu menatap jauh ke air hujan yang semakin deras.
Berpikirlah untuk dirimu sendiri Mona,apa kau rela dirimu menyandang seorang janda dari seorang pengusaha muda yang ternama,sepasrah itukah lo mengorbankan kehidupan lo ?
Lalu jika gue menolaknya,lalu apa kata pak Wiguna nanti? yang telah banyak menaruh harapan besar supaya gue bisa mendapingi anaknya untuk menjadi istrinya.Lalu bagaimana dengan nenek?yang berharap sama,agar gue bisa menikah tanpa harus di jodohkan, Pertanyaan itu bermunculan dalam benaknya.
" Aaahhh......" Gumannya lirih ia terus berperang dengan batinya yang benar-benar kesulitan menentukan sebuah pilihan.
Pandangan matanya mengabur tertutupi oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata gadis itu.
TOK TOK....
Suara ketukan pintu dari luar terdengar kencang lalu di susul suara sang neneknya memanggil nama sang cucu.
" Mona ! " Panggilnya dengan lmbut.
" Apa kamu sudah pulang ?" Tanya nya lagi sebelum Mona menjawab dari dalam.
Mona terperanjat lalu mengusap kedua pipinya yang masih basah oleh air matanya.
" Su sudah nek." Sahut Mona mencoba menetralkan perasaanya.
" Kamu tidak kehujan barusan pulang nak?" Tanya lagi sang nenek dengan khawatir
" Tidak nek," Jawabnya singkat.
" Syukurlah." Balas nenek dengan memelankan suaranya.
" Mona mau bersihin badan dulu ya nek." Ucap Mona berseru dari dalam kamar untuk berpura-pura bersikap baik-baik saja.
" Ya sudah,setelah itu kamu istirahat ya."
" Yaa nek." Jawab Mona singkat.
Lalu ia mencoba memastikan sang nenek sudah pergi.
Mona pun segera beranjak dari jendelanya dan menutup kembali daun jendela itu dengan rapat.
Mona menjatuhkan badannya ke kasur empuknya dengan pasrah lalu memejamkan matanya berharap kegelisannya berkurang meski hati tetap terjaga.
***********
Pagi kembali menyapa sinar mentari mengintip di balik tirai jendela kamar yang masih gelap,Mona terbangun lalu menggerecepkan kedua matanya yang terasa masih perih dan lengket karena masih ngantuk, ia melirik kesamping kanan dan kiri lalu menatap tubuhnya yang masih di dapatinya masih memakai baju kerjanya.Rupanya Mona terlupa hingga ia tidak sempat untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
Mona menatap jam yang menempel di dinding kamarnya,tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 07.00 WIB.Mona mengeryitkan kedua matanya untuk memastikan apa yang di lihatnya itu benar.
" Yaa TUHAN !" Pekiknya setengah terbangun.
Namun seketika moodnya berubah tak bersemangat untuk menyikapi keterlambatannya.
Dengan rasa malas ia pun memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Sesaat kemudian ia pun terlihat merapihkan tempat tidurnya terlebih dahulu.
Tak lama ia berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya di karenakan semalam ia melupakan hal itu.Terlelap dalam sebuah kepenantan.
Lima belas menit berlalu,Mona pun keluar dari kamar mandi dengan segera mengambil pakaian di lemari bajunya.
Ia ingat jika hari ini adalah hari jum'at ia pun memilih mengenakan stelan kemeja batik yang di paduin rok span pendek berwarna putih tulang,lalu ia pun duduk di meja riasnya, melepas handuk kecil yang masih melilit di kepalanya, tak lama menyalakan hair dryer yang tergeletak di atas meja tersebut.
Mona yang sedang mengeringkan rambutnya ia pun menatap lurus ke arah cerminya ia melihat matanya yang masih menyisakan sembab di bibir atas kelopak matanya.
Mona menarik napas panjang lalu mematikan alat pengering rambut tersebut dan menatap lurus bayangan dirinya di cermin,lingkaran hitam di matanya itu sedikit menggangu penampilannya hal ini dapat di pasti akan menjadi perhatian bosnya bosnya tersebut.
Mona pun mengoleskan pelembab lalu menempelkan sedikit bedak di wajahnya serta di sekitar kantung matanya,dengan sengaja di bagian itu ia sedikit lebih di pertebal supaya bisa menyamarkan lingkar hitam di bagian matanya tersebut,memberi sedikit polesan eye shadow dengan warna sedikit mencolok agar bibir matanya tidak terlalu terlihat sembab,dan terakhir ia pun mengoleskan liptint pada bibir mungilnya,dan tak lama ia ia pun beranjak dari meja riasnya.
__ADS_1
Mona berjalan mundur untuk mengambil tasnya yang masih berada di meja riasnya yang dari semalam belum pindah ke tempat dimana biasa Mona meletakan tasnya tersebut.
Mona mengambil ponselnya yang berada di dalam tas itu dan mengecek beberapa pesan yang masuk ke ponselnya tersebut.
Ada beberapa pesan singkat masuk,lalu terakhir ada sebuah panggilan masuk yang tidak terjawab.
" Pak Banny " Lirihnya pelan setelah melihat siapa yang memanggilnya tersebut.Mona mengernyitkan matanya lalu menatap dalam ke arah layar ponsel itu dengan seksama.
Ada apa atasannya itu menelepon dirinya sepagi ini?
Apa lagi yang akan di bahasnya?
Mona terus bertanya-tanya dengan berbagai perasan heran di benaknya.
Mona melipatkan dalam-dalam bibirnya dengan berusaha berpikir keras akan hal itu.Di tengah-tengah keseriusannya sang nenek memanggil.
" Mona !! " Cukup lantang.
" Kamu sudah bangun?ini sudah hampir jam delapan !apa kamu tidak kerja ?"Teriaknya lagi dengan nada suara cukup keras.
" Iya nek sebentar." Balas Mona dari dalam kamarnya dengan cepat.
" Udah mau jam berapa ini sayang ?sarapan pagi udah siap,nenek tunggu di meja makan ya!" Teriak Sang nenek kembali.
" Iya nek." Lagi-lagi Mona hanya menjawab pendek.
Sebelum ke luar kamar Mona terdiam,ia takut jika sang nenek akan melihat kondisi matanya yang masih terlihat sembab,dan pastinya sang nenek akan mempertanyakan hal ini,lalu ia pun berusaha berpikir sejenak untuk mencari cara agar ia tidak ikut sarapan pagi ini.
Beberapa detik kemudian Mona keluar dari dalam kamarnya,perlahan Mona berjalan menuju meja makan yang sudah ada sang nenek sudah menunggunya seraya menikmati secangkir teh hangat.
Mona meremas ujung roknya ia berusaha untuk terlihat tenang.
" Nek ! sepertinya Mona pagi ini tidak ikut sarapan,sebab Mona buru-buru sekali nek,udah jam delapan tapi masih di rumah nanti ke tahuan bos gak enak juga." Ucap Mona seraya menyambar sebuah roti yang ada di piring.
" loh,loh, Mon.Apa-apaan kamu,kok tumben pake kacamata hitam?" Tanya sang nenek heran setelah melihat penampilan cucunya tersebut yang pagi ini ia mengenakan sebuah kacamata hitam.
Mona menoleh lalu tersenyum enteng.
" Di luar sinar mataharinya sedikit menyilaukan mata nek." Terangnya seraya bergegas-gegas.
" Nek,Mona pamit kerja dulu ya,assalamualikum." Pamitnya seraya menarik tangan sang nenek lalu menciumnya.
" Mon !" Panggil sang nenek lagi.
Mona menahan langkahnya.
" Kamu baik-baik saja ?" Sang nenek melepaskan tatapanya dengan tajam.
" Tenang nek.Mona baik-baik saja !! kalau begitu Mona pamit dulu yah udah telat nek." Teriaknya seraya berjalan cepat menuju ruangan depan.
" Untung gue pake kacamata,seengganya nenek gak lihat aslinya mata gue." Gumannya seraya berjalan cepat lalu ia pun setengah berlari menuju jalan raya untuk menyetop sebuah taxsi.
**********
Mona berjalan memasuki pintu lobby gedung perkantoran tanpa sedikitpun melepaskan kacamata hitamnya tersebut.ia pun berjalan dengan pandangnnya lurus menuju lift.
" Pagi bu Mona.!" Sapa seorang security dengan ramah ketika berpapasan.
" Pagi pak eko." Jawab Mona singkat tanpa memperdulikan pak Eko yang sedang memperhatikan dirinya atas penampilannya tersebut.
" Gaya baru nih bu Mona." Pak Eko berseru seraya menyeringah melihat penampilan Mona yang di rasa cukup aneh baginya.
Mona hanya tersenyum kecut enggan untuk menimpalinya.
" Kalau udah jadi calon istri bos kaya gitu ya selera fashionya." Guman pak Eko geleng-geleng ia mengkhawatirkan keadan sekertaris bosnya tersebut.
Mona berdiri dengan memandangi pintu lift yang masih tertutup.
" Pagi bu Mona !" Tiba-tiba sapa seseorang dengan ramah.
Dengan perasaan enggan Mona menoleh dan tak lama kemudian ia pun hanya dapat memalingkan wajahnya ke arah suara yang menyapanya,Tora tersenyum ke arahnya namun pandangannya berubah heran setelah ia melihat kacamata hitam yang di kenakan Mona.
" Pagi Tor !" Mona membalasnya pelan di sertai anggukan kepala lalu menatap kembali ke pintu lift tersebut.
Mona melirik kecil ke arah Tora yang masih memperhatikan dirinya yang mengenakan kacamata hitam tersebut.
Ting......
Suara dentingan lift pun memecahkan kesunyian,Mona menghela napas dalam-dalam lalu mulai melangkah kan kakinya memasuki pintu lift itu,dan tak lama Tora serta staff yang lainnya ikut masuk.
Entah kenapa perasaan Mona menjadi risih saat mendengar suara bisikan halus di belakangnya yang sedang membicarakan penampilan anehnya tersebut.
Mona mendongkak lalu bersikap untuk lebih masa bodoh ia tak ingin menanggapi hal kecil yang bisa menjatuhkan reputasi dirinya.
Ting......
Lift terbuka di lantai dua beberapa staff keluar termasuk Tora.
__ADS_1
" Bu Mona saya duluan ya." Pamitnya pelan,Mona hanya mengangguk kembali seraya membenarkan kacamata hitamnya tersebut.
Kapsul lift kembali berjalan berhenti di tiap lantai hingga lantai lima ruangan kantornya Mona bersama sang bos.
Pintu lift terbuka kembali di lantai lima lalu Mona pun melangkah meninggalkan kaspul lift itu.
Mona berjalan dengan setengah berlari ia segera berjalan cepat menuju ruanganya tanpa memperhatikan ke ruanganyan yang lainya.
Setelah Mona berada di ruanganya ia segera menutup kembali pintunya dengan rapat dan tak lama ia pun segera melepas kacamata hitamnya dengan lega lalu meletakanya di atas meja.
Disandarkannya tubuh mungilnya itu pada kursi kerja miliknya,Mona menggeleng pelan dengan cepat ia menghempaskan pikiran-pikiran negatifnya itu.
tak lama ia pun memencet tombol sebuah panggilan.
" Pagi,ada yang bisa saya bantu?" Sapa suara OB dari balik pesawat panggilan.
" Lis,buatin moccallate ya untuk saya,bu Mona.Antar ke lantai lima." Titahnya dengan lembut.
" Baik bu." Balas sang OB ramah.
Mona membuka laptopnya lalu menatap tak bersemangat,pikirannya belum bisa lepas dari masalah yang sedang di hadapinya padahal ia sudah berusaha untuk lebih fokus ke pekerjaanya.
Mona mengambil kaca kecil dari laci meja kerjanya lalu di arahkan ke wajahnya,mata itu masih terlihat sembab meski sudah di bantu dengan warna eye shadow yang sedikit mencolok.
TOK....TOk....
Suara ketukan pintu mengalihkan pandanganya,Mona sejenak berpikir jika seseorang yang mengetuk pintu ruangannya adalah seorang OB yang akan mengantarkan pesananya tersebut.
Mona mempersilahkan seseorang yang berada di balik pintu itu dengan acuh dan ia pun memilih kembali memperhatikan wajahnya di cermin yang ada di tangannya.
" Mona !" Seorang pria menyembul dari balik pintu itu dengan suara berat.
Mona yang sedang membenarkan bulumatanya itu terhenti sesaat lalu perlahan menggeser bola matanya menatap ke arah seseorang yang berdiri dihadapannya tersebut.
Nada suara panggilan itu tak aneh di telinganya dan sangat fameliar.
Belum juga Mona menurunkan cermin di hadapan wajahnya pria berwajah dingin itu berbicara lagi kepadanya.
" Kenapa semalam kamu tidak mengangkat telepon dari saya ?" Tanya nya dengan nada datar.
Mona menurunkan cermin kecilnya lalu menatap lurus pria berwajah dingin itu yang tiada lain adalah Banny sang atasnya.
" Maaf pak,saya semalam ketiduran ?" Ucap Mona menundukan pandangannya agar Banny tidak memperhatikan ke arah matanya.
Akan tetapi,rupanya Banny sudah memperhatikan raut wajah gadis itu sedari tadi.
" Kamu ketiduran apa mau menghindari saya?" Tanyanya dengan ekpresi wajah semakin mengerikan.
Mona menghela lalu berusaha untuk tetap menstabilkan perasaanya yang mulai terasa ricuh di hatinya.
" Saya kelelahan,sehingga tidak memperhatikan posel saya,dan saya mengetahui hal itu tadi pagi." Jawabnya seadanya.
Banny menghela lalu menarik otot rahangnya dengan kuat entah kenapa ia merasa terganggu dengan sikap dingin sekertaris itu.
" Jam siang nanti,kita perlu bicara lagi.!" Ucapnya Tandas.
TOk...TOk....
Suara pintu terdengar kembali di ketuk,Mona menatap kearah pintu itu lalu mempersilahkan untuk masuk.
Seorang OB menyembul dari balik pintu itu dengan membawakan sebuah nampan berisi secangkir moccallate pesanannya Mona.
" Permisi bu Mona,ini pesananya bu Mona." Sang Ob berdiri di balik pintu dengan ragu setelah melihat kahadiran Banny berada di ruangan Mona.
" Oh iya Lis,makasih ya!" Ucap Mona tersenyum dengan kaku.
Lisa pun berjalan dengan terpogoh-pogoh menghampiri meja kerjanya Mona.
" Permisi pak," Sapa Ob itu tak lupa ketika dirinya melewati Banny.
Banny hanya mengangguk dengan penuh wibawa.
" Oya bu Mona,maaf ini tadi ada titipan dari pak Zeanu." Ucap ob itu dengan ragu.
Lisa sang ob itu menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang dengan aksen pita berwarna ungu lapender di tengah kotak tersebut.,Banny yang sedari tadi memperhatikan OB itu terlihat mengernyit dan menatap ke arah bingkisan kotak itu dengan berbagai terkaan.
Mona terheran-heran ketika Lisa menyodorkan kotak cantik itu kehadapannya.
" Pak Zeanu ?" Pekik Mona mengulang.Sang OB hanya mengangguk dengan pasti.
" Kalau begitu saya permisi dulu bu Mona." Pamit sang Ob dengan cepat melangkah keluar,jika di lihat sekilas raut wajah OB itu nampak terlihat cemas jika harus berlama-lama di ruangan nya,terlebih lagi ada satu ruangan dengan pak Banny di ruangan tersebut. Ada ketakutan yang sama sedang di alami oleh Ob tersebut jika berjumpa dengan seorang bos pemilik wajah dingin itu.
Mona meletakan kotak itu di atas mejanya,belum sempat juga ia memperhatikan baik-baik akan kotak tersebut Banny memutar badannya lalu pergi dengan begitu saja tanpa ada bicara sepatahpun kepada sekertarisnya tersebut.
Sontak saja hal itu membuat gadis itu melongo menatap heran atas sikap bosnya tersebut.
Yaaa terkadang dengan bersikap seperti itu tak ayal membuat pikiran Mona berperasangka lain,bisa saja kan bosnya itu merasa cemburu kepada dirinya?namun sayang Banny tidak pernah mau mengakui hal itu,dirasa terlalu besar rasa gengsi yang di miliki oleh seorang Banny sehingga selalu bersikap apatis terhadapnya.
__ADS_1