CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 182


__ADS_3

MONA terlihat serius melakukan presentasi di hadapan seorang CEO perusahaan yang cukup ternama.Menjabat sebagai seorang Menejer perusahan milik suaminya TIRTA Mas logistik,Mona mengajukan sebuah kerja sama kesalah satu perusahaan Logistik terbesar di ibu kota ini.


" Jadi kamu hanya seorang Menejer ?" Tanya seorang CEO itu menghentikan Mona yang tengah presentasi.


Mona langsung terdiam dan mengalihkan pandangannya dari layar monitor besar yang ada di ruangan rapat itu menuju kursi yang di tempati oleh sang CEO.


" Benar Tuan !" Jawab Mona tanpa ragu.


" Saya Ingin Atasan anda yang melakukan hal ini." Ujar CEO itu tersenyum enteng.


" Maaf Tuan,sudah saya katakan jika pekerjaan ini saya yang menghandle semua,karena perusahan MITRA logistic ini merupakan anak cabang perusahaan PT TIRTA mas logistic dan saya di percayakan untuk mengelola cabang perusahan ini." Jelas Mona dengan tenang.


" Bagaimana bisa seorang Manejer bisa menghandle sebuah pekerjan untuk proyek sebesar ini ? " Tanya CEO itu menatap lantang.


" Kenapa tidak Tuan.Saya memiliki keyakinan jika saya memiliki skil untuk mengelola perusahan ini dengan baik,serta saya pun memiliki kemampuan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan lainnya ,termasuk dengan perusahaannya anda." Jelas kembali Mona dengan lugas.


CEO itu menatap tajam,namun sekilas dia tersenyum penuh kagum ke arah Mona.


" Ya.Dan aku bisa melihat sisi itu,jika kamu memang memiliki skil dalam mengelola sebuah perusahaan.Buktinya dari hal kecil seperti ini saja saya bisa melihat,jika anda begitu profesional serta on time dalam memulai sebuah pekerjaan,karena saya rasa hal kecil seperti itulah yang akan memulai perusahaan ini lebih besar." Ucap CEO itu tersenyum penuh arti.


" Terimakasih." Balas Mona mengangguk hormat.


" Tapi.Saya tetap ingin berbicara langsung dengan Pimpinan perusahaan anda ini." Ucap CEO itu dengan ekspresi wajah tak biasa.


" Maksud Tuan,pak Banny ?" Tanya Mona menyeringah.


" Benar.Dan rasanya saya tidak puas jika hanya mendengar pembahasaan ini lewat anda saja nona,saya menginginkan pimpinan perusahaan ini berhadapan langsung dengan saya." Ucap CEO Itu menatap wajah Mona dengan sikap yang berbeda.


Mona terdiam.


" Dan aku tidak mau tau,perintahkan pimpinanmu itu jika memang benar benar mengingkan kerja sama ini." Ucap CEO itu menatap secara seksama.


Tentu saja dalam hal ini Mona memiliki kewenangan untuk memutuskan dengan siapa dia bekerja sama.Tak hanya itu saja,sang mertua yang baik hati itu memang telah mempercayakan dirinya untuk benar-benar totalistas dalam mengelola perusahaan nya.Namun Mona merasa ragu jika CEO ini memintanya untuk bertemu secara langsung dengan Banny dan melibatkan suaminya dalam urusan pekerjaanya tersebut karena seharusnya ini adalah tanggung jawabnya.


" Maaf Tuan,ada tidak perlu membicarakan masalah pekerjaan ini kepada pimpinan perusahaan ini,karena saya disini tak hanya sebagai menejer perusahaan tetap saya juga merupakan istri dari pimpinan yang tuan maksud,jadi apa bedanya ?saya memiliki kewenangan dalam urusan pekerjaan ini." Ujar Mona berusaha menyakinkan hati CEO tersebut.


" Istri ???,anda sudah memiliki suami ?" CEO itu memicingkan matanya menatap dengan tak percaya.


" Ya,saya adalah istri dari pimpinan perusahaan ini,jadi saya berhak untuk menentukan dengan siapa saya akan bekerja sama." Balas Mona tetap berusaha tenang.


CEO itu terlihat mengangangguk anggukkan kepalanya.Namun senyumannya terlihat penuh sesansi mengarah ke arah wajahnya Mona.


Mona terdiam menatap aneh ke arah CEO tersebut.


Beberapa orang staff yang melihat reaksi wajah CEO itu terlihat berbeda termasuk Aras yang sedari tadi menatap CEO itu dengan berbagai perasaan.


Mona menoleh ke arah Arash yang masih terlihat salah tingkah atas sikap CEO tersebut.


" Saya minta presentasi ini di tunda.Dan kamu nyonya,sampaikan kepada suami anda untuk menemui saya dan membicarakan tentang proyek besar ini secara langsung." Ucap CEO itu menatap tajam.


Mona langsung menundukan kepalanya,dia sama sekali tidak berani untuk sekedar menatap wajah CEO tersebut,ia merasa sorot mata pria itu terlihat menakutkan akan sorot mata yang penuh kegilaan.


" Aku tidak mau tau,perintahkan suami anda nyonya, jika menginginkan kerja sama ini." Ucapnya lagi CEO itu dengan penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu,CEO itu pergi begitu saja,di ikuti sekertaris pribadinya meninggalkan Mona yang terdiam mematung di tempatnya.


Setelah CEO itu menghilang di balik pintu,Mona baru bisa bernapas lega.Lalu di elusnya dengan lembut dadanya tersebut.


" Seharusnya memang Mas Banny yang melakukan ini." Gumannya pelan.


" Bu Mona,apakah bu Mona sudah konfirmasi sebelumnya terhadap pak Banny atas kerja sama perusahan ibu dengan CEO Tadi." Tanya Aras yang mengambil duduk di kursi tempat CEO duduk tadi.


" Saya rasa,saya tidak perlu minta persetujuan suami saya,dan saya hanya perlu sedikit tanda tangann izin kerja sama untuk perusahaan ini ." Jelas Mona terlihat bingung.


" Oya bu Mon.Bu Mona tau CEO barusan itu siapa ? " Tanya Aras menatap dalam atasannya tersebut.


Mona menoleh ke arah aras dan menatapnya dengan heran atas pertanyaan yang di lontarkan Asistennya tersebut.


" Dia adalah seorang pengusaha besar yang notabene perusahaannya ada dimana mana,tentu saja siapa pun orangnya akan mengenalinya.Termasuk suami saya,pasti dia sangat mengenali pak Sultan." jelas Mona secara gamlang.


Sejenak Aras menghela napas panjang lalu terdiam menatap dengan berbagai perasaan.dia bermonolog jika Banny tentunya akan menentang keras jika perusahaannya akan bekerja sama dengan seorang Sultan yang ceritanya sudah jelas mereka memiliki dendam yang tak bisa terselesaikan begitu saja.


" Kamu tau banyak akan pak Sultan ? " Tanya Mona seraya meraih ponsel di saku baju blezerrnya dan memindahkannya ke dalam tas pribadinya.


Aras membisu,entah kenapa ia merasa sesulit itu untuk menjelaskan siapa Sultan sebenarnya.


" Suami saya tidak mungkin menolak kerja sama ini,karena saya yakin di luaran sana perusahaan-perusahan lainnya sedang berlomba-lomba ingin bekerja sama dengan perusahaanya pak Sultan.Dan saya pun berencana ingin memajukan perusahaan ini melalui kerja sama ini." Jelas Mona dengan penuh keyakinan.


Aras tetap membisu ada banyak hal yang membuatnya terdiam dan bingung untuk menyampaikan sekedar opini atau pun tanggapannnya tengang seorang Sultan,apakah atasannya itu tidak sama sekali mengetahui apa yang telah terjadi antara Banny dengan sultan ?


Aras menggeleng menatap ragu.


Apakah kejadian sepuluh tahun yang lalu akan terulang kembali ?


Aras membatin dengan menatap wajah Mona secara. seksama.


Sultan adalah mantan suami adiknya Kinaya.Tentu saja selama persentasi tadi dirinya tidak berani untuk berbicara sedikitpun kepada Sultan,begitu pun hal yang sama di lakukan Sultan kepada dirinya.Baginya,berakhirnya pernikahan adiknya dengan seorang sultan maka berakhir juga hubungan pertemanan mereka.


Dia lah yang awal mulanya mengenalkan Kinaya kepada sosok Sultan hingga Kinaya berani meninggalkan Banny hanya untuk mengejar seorang Sultan.


" Aras !!,kamu baik baik saja ?" Taya Mona membuyarkan lamunannya.


" Tentu saja." Ucap Aras terbata dengan perasaan terkejut.


Mona memicingkan matanya lalu menatap wajah pria itu dengan ekpresi kurang percaya.


Aras terlihat membenam sesuatu hal yang terlihat serius.Mona masih menatapnya dengan menutut jawaban.

__ADS_1


" Saya hanya kenal biasa saja." ucap Aras dengan perasaan tak menentu.


Mona hanya membulatkan mulutnya dengan acuh.


" Kalau begitu saya permisi dulu bu Mona." Pamit Aras seraya bergegas beranjak dari tempat duduknya.


Mona hanya mengangguk dengan terkatup katup.Ada sesuatu hal yang sedang di sembunyikan oleh Asistennya tersebut dari dirinya.


Kenapa Aras begitu kaku ketika berhadapan dengan Sultan,CEO yang kini akan menjalin kerja sama dengan perusahaan dirinya.


Mona menatap langkah pria itu yang mulai menghilang di balik pintu.Mona menarik napas panjang lalu menggelengkan kepalanya.


Di lihatnya jam yang melingkar di tangannya.Seharusnya dia masih melakukan presentasi itu,namun sehubungan CEO tadi meminta bertemu langsung dengan pemilik perusahan,jadi mau tidak mau Mona harus menunda kembali presentasi nya tersebut hingga dua hari mendatang,dan Mona akan meminta Banny untuk ikut serta dalam rencananya tersebut yaitu bekerja sama dengan perusahaan nya Sultan.


Mona merogoh benda pipih yang ada di dalam tasnya,lalu membuka notifikasi layar benda tersebut.Menscroll beberapa nama kontak yang berada di benda tersebut.Tak lama kemudian ia pun menemukan nomor kontak yang akan di hubunginya.


Benda pipih itu pun menyambungkan nada sambung ke telpon yang lain.


Sejenak Mona mendengarkan nada sambung yang sedang terhubung,tapi....


Sepertinya tidak ada jawaban.


Mona menjauhkan benda pipih itu dari telinganya lalu mengamati nama kontak yang sedang di hubunginya kembali.


Berdering.....


Tapi kenapa dia tidak mengangkat telponnya ?


Mona menatap panjang ruangan tersebut.Dengan rasa penasaran dia kembali mengulang panggilannya tersebut.Namun hal yang sama dia dapati.


" Nomor yang anda tuju tidak menjawab." Balasan dari operator mengakhiri panggilannya.


Wajah gadis itu terlihat semakin tertekuk setelah beberapa kali ia mencoba menghubugi suaminya,Banny tak tersambung.


Sejenak Mona berpikir kenapa Banny tidak menjawab panggilannya.


Tak ingin buang-buang waktu dengan cepat dia segera menghubungi nomor telpon pihak kantor suaminya untuk menanyakan keberadaan Banny.


Telpon terhubung suara ramah menyapanya dengan lembut.


" Hallo selamat pagi !" Sapa suara bas dari sebrang telpon bergema.


" Pagi pak Hendra,saya Mona,mohon maaf saya bisa ganggu sebentar ?" Ucap Mona pelan.


" Iya bu Mona,ada yang bisa saya bantu? " Tanya pak Hendra ramah.


" Maaf pak Hendra saya mau tanya,pak Banny sudah tiba di kantor ? " Tanya Mona cemas.


" Oh,sepertinya beliau belum datang bu Mona." Jawab pak Hendra dengan sedikit ragu.


Mona terdiam sesaat ia mengetahui jika Banny belum ada di kantornya.


" Belum ada bu Mona." Jawab pak Hendra yakin.


" Baik lah pak Hendra,kalau begitu terimaksih atas informasinya ." Ucap Mona mengakhiri sambungan teleponnya tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya.


Tuuutt.....


Mona segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan perasaan kian tak menentu.


Pikiran mulai di landa kegelisahan.Dan tentu saja dirinya beranggapan jika Banny masih bersama Arnetta.


Ada apa dengan wanita itu ??sehingga Banny sangat menghawatirkan ke adaannya.


Mona terdiam menatap dengan berbagai perasaanya yang kian meracau.


_____________


Mona masih lekat memandangi hujan turun di sore hari.Entah kenapa sore ini tiba-tiba saja di guyur hujan yang begitu lebat.Ia memandangi setiap tetesan air hujan yang turun dengan begitu derasnya.


Namun pikirannya masih tertumpu pada keadaan suaminya yang hingga sore ini belum ada menghubunginya sekedar memberi kabar atas keadaanya.


Dan pikiran buruknya pun berhasil menguasai otak besarnya ia begitu keras tertuju kepada sosok gadis cantik sang sekertaris pria tampan itu.


Firasatnya mengatakan jika Banny mulai simpatik kembali kepada gadis cantik itu yang kini sedang berjuang mengambil hati suaminya tersebut.


Mona menghela lalu menatap sesak ka arah luaran sana.


" Aku tadi menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif,dan rupanya kamu sudah pulang,aku menjemputmunke kantor." Suara bariton menyela di antara lamunan Mona hingga membuyarkan lamunan panjangnya.


Mona menoleh ke arah pemilik suara tersebut dan di lihatnya Banny menatapnya dengan tatapan lelah.


Mona mengalihkan kembali tatapan dengan rasa malas.


" Aku pikir kamu tidak akan menjemputku lagi mas. " Gumannya pelan namun cukup sampai kependengaran pria tampan itu.


" Kok kamu berbicara seperti itu ?" Tanya Banny mengerutkan kedua alisnya.


" Ya karena kamu terlalu sibuk." Balas Mona acuh.


" Sibuk ? " Tanya Banny menatap bingung.


" Yaa sibuk dengan sekertaris kamu itu." Ucap Mona dengan tersenyum kecut.


Bany tersenyum enteng lalu menatap Mona dengan perasaan yakin jika istrinya ini sedang cemburu terhadap dirinya.


Banny mengambil duduk di samping gadis itu lalu menatap penuh cinta ke arah Mona

__ADS_1


" Aku peduli dengan Arnneta karena aku menghormati papahnya.Pak Mulya.Yang begitu solid dengan papahku Mona." Jelas Banny penuh kelembutan.


" Tapi bukan berarti kamu harus mengabaikan pekerjaanmu mas." Bantah Mona tidak suka.


" Untuk apa peruasahaan sebesar ini memperkejakan seorang Menejer,jika tidak bisa menghandle pekerjaanku ketika aku tidak berada di kantor." Jelas Banny dengan tersenyum penuh kemenangan.


Mona menoleh ke arah wajah pria tampan itu.Dan Banny tersenyum tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Sejenak Mona menatap wajah pria itu sangat intens.


" Kenapa kamu melihatku dengan seperti itu seolah-olah kamu sedang berasumsi lain di hatimu?" Tanya Banny dengan mengerlingkan matanya.


Mona membuang muka lalu menatap ke arah lain dengan perasaan sebal.


" Mas begitu peduli terhadap Arnetta hingga panggilanku saja kamu abaikan mas." Ucapnya pelan dengan suara tertahan.


Banny tersenyum dengan santai.Melihat Mona merajuk kepada dirinya.


" Maaf tadi ponsel ku tertinggal di mobil,dan aku minta maaf tidak menghubungi mu langsung."


Ucap Banny seraya meraih tangan Mona yang tertumpu di atas pangkuanya.


Mona hanya melirik kesal,rasanya hatinya mulai terasa luluh dengan sikap manisnya yang di tunjukan Banny terhadapnya.


" Bagaimana presentasi kamu ? " Tanya Banny mengalihkan pembicaraan seraya meremas lembut jari tangannya Mona ia mengalihkan topik pembicaraanya seolah-olah untuk menghindar dari pertanyaan Mona yang tak akan berhenti begitu saja.


Mona mengalihkan kembali pandangannya ke arah wajah pria itu yang terlihat begitu tenang.


Padahal perasaannya ingin marah ketika dia tahu Banny begitu peduli terhada Arnetta,namun rasa cinta itu mengalahkan rasa amarahnya.


" Persentasi di tunda." Jawabnya datar.


" Kenapa ? " Tanya Banny dengan heran.


" Pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan ku meminta bertemu langsung dengan kamu mas." Ungkap Mona menatap dalam ke arah bola matanya Banny.


Banny sejenak berpikir akan ucapan yang di sampaikan Mona.


" Itu urusan kamu,jadi kamu berhak mengambil keputusan apapun dalam perusahaan itu,karena sudah sepenuhnya perusahan cabang itu kamu yang tanggung jawab." Jelas Banny pelan.


" Tapi orang yang akan bekerja sama itu meminta untuk berbicara langsung dengan pemilik perusahaan aku mas.Yaah dengan kamu mas." Balas Mona ragu.


" Kamu akan menjalin kerja sama dengan perusahaan apa ?sepertinya detail sekali pemilik perusahaan itu memintaku untuk menemuinya." Tanya Banny penuh perhatian.


Pria tampan itu tersenyum lembut dan menatap begitu dalam sang perempuannya.


" Perusahaan logistik terbesar di ibu kota ini.pastinya mas mungkin pernah mendengar nama perusahan itu.Yang di kelola oleh seorang duda keren yang masih muda." Ucap Mona dengan ekspresi penuh kagum.


Banny memicingkan matanya menatap dengan berbeda saat melihat Mona begitu penuh kekaguman memuji pemilik perusahaan tersebut.


" Sepertinya kamu terkagum-kagum dengan pemilik perusahaan itu,tampan ya orangnya ?" Tanya Banny dengan nada bicara tertahan.


Mona tersenyum geli setelah melihat perubahan raut wajah Banny yang terlihat jengkel akan sikapnya.


Sebelum menjawab Mona tersenyum tipis.


" Dia tidak tampan,tapi rupawan." Candanya dengan pelan.


" Heu'euh....,kamu genit !" Ucap Banny dengan membuang mukanya menatap ke arah lain dengan wajah gusar.


" Tapi sepertinya masih tampan anda tuan Banny." Celoteh Mona dengan ekspresi genitnya.


Banny tersenyum kecut seletah mendengar istrinya menggombalin dirinya.


" Itu pujian seperti teror yang tak nampak." Balas Banny acuh.


" Dan aku ******* cintamu mas. " Balas Mona tak mau kalah.


Banny menggeleng menatap lucu,sebucin itukah seorang Mona.


" Katakan siapa pemilik perusahaan itu ?" Tanya Banny dengan tak sabar.


" Baiklah,sepertinya kamu sudah mulai jengkel dengan gombalanku ini." Balas Mona menatap serius.


" Katakan !" Sela Banny cepat.


" Wira Sultan,kalangan pembisnis memanggilnya pak Sultan ." Jelas Mona dengan tersenyum simpul.


Entah kenapa nama itu di sebut Mona membuat Banny tercekat,menatap tak percaya ke arah istrinya tersebut .


Bagaimana bisa seorang Sultan akan bekerjasama dengan dirinya,sedangkan dia memiliki dendam begitu dalam terhadapnya.


Raut wajah tampan Banny membeku menatap kaku ke arah Mona.


Setibanya saja Banny merasakan ketakutan yang teramat dalam akan kehadiran Sultan di kehidupannnya lagi.


What's.......


Kenapa ???


Nyaris Banny tidak mempercayainya.


" Mas !" Panggil Mona menatap Banny yang tertegun.


Banny mengabaikan panggilan istrinya,pikirannya tentu saja mulai terasa kacau balau.


" Mas !!!"

__ADS_1


Lagi-lagi memanggil suaminya tersebut.Namun Banny masih mengabaikan panggilannya.


Mona semakin heran melihat sikapnya Banny yang tiba-tiba saja terdiam sesaat dirinya menyebut nama pemilik perusahaan tersebut.


__ADS_2