
MONA masih menatap bingung kearah pantulan bayangannya di cermin toilet,ia menatap dengan perasaan bosan yang sedari tadi menunggu sang Bosnya yang masih ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan olehnya.
Wajahnya terlihat suntuk dengan meniupkan beberapa kali bibirnya ke atas hingga kriting.
" Mon kok lo belum pulang ?" Tanya Tamara yang baru saja keluar dari toilet.
" Gue di suruh nunggu sama pak Banny." Ucap Mona dengan bersikap malas.
" Lo mau pulang bareng Pak Bos ?" Tanya Tamara dengan ekspresi wajah serius.
" Hmmm sepertinya gitu." Ucap Mona datar.
" Iis is...,macam mana nih,sepertinya ada hot news." Ucap Tamara mulai tersenyum-senyum penuh arti.
" Apaan sih Tam.Jangan suka nyebarin gosip gak jelas deh." Ucap Mona seraya membasuh wajahnya dengan air.
" Tar lo cerita ya,gue udah kangen kumpul ni.Semenjak lo jadi sekertaris pak Bos ganteng itu udah gak ada waktu lagi bareng kita." Ucap Tamara dengan membenarkan poni pendeknya.
" Kerjaan gue sekarang lebih banyak di banding pas masih menjadi anggota.Gilaa aja tu Bos gue kalau ada apa-apa dikit-dikit gue,dikit-dikiy gue.Udah kaya Baby sisternya dia aja tau." Guman Mona terlihat jengkel.
" Namanya juga seorang sekertaris bos,yaa kerjanya ngurusin bos lah,masa ngurusin laki orang." Sela Tamara dengan cempreng.
Mona mendilak keki mendengar ucapannya Tamara.
" Gak apa lah yang penting lo bisa dekat-deket dengan Bos ganteng itu." Sela Tamara dengan melirik genit.
" Mudah-mudahan dia bukan jodoh gue.Makan hati gue kalau punya cowok macam dia,Ikkhh..," Ucap Mona seraya bergidik takut.
" Alahh jodoh gak ada yang tau loh." Ucap Tamara sembari meledek Mona.
" Eh Amel mana ?" Tanya Mona heran.
" Dia udah balik duluan.Gak enak badan."
" Kenapa ?"
" Lo ga tau sih Mon,semenjak lo jadi sekertaris pekerjaan kami semkin banyak pula,kemaren saja gue bareng Amel lembur ngecek barang keluar.Pusing gue." Ucap Tamara dengan bersungut.
" Yang sabar ya beb.Kita sama sama pusing lo berdua pusing ama pekerjaan ,dan gue pusing sama tingkah bos gue yang super judess gilanya,kalau lagi ngomong ngelebihin dari emak-emak datang bulan deh tuh judesnya."
" Haa..haa...,Lo bisa aja sih Mon.Dah gue balik duluan ya!." Ucap Tamara berpamitan seraya berjalan keluar meninggalkan Mona yang masih terlihat suntuk sekali.
" Bye!hati-hati beb." Balas Mona dengan acuh.
Beberapa menit kemudian Mona sudah ada di ruangannya lalu ia melihat jam yang ada di tangannya,waktu sudah hampir pukul lima sore dan itu artinya ia sudah telat satu jam dari waktu pulang.Ia pun segera bergegas merapihkan meja kerjanya sebelum bosnya memanggil dirinya.
" Saya tunggu kamu di parkiran basement ." Tiba-tiba saja Banny sudah berdiri di ambang pintu ruangan Mona dengan tatapan khasnya itu.
Mona menghela napas lega,karena ia sedari tadi ia sudah siap,dan feeling dia benar saja,bosnya itu selalu datang dengan tiba-tiba dan perginya tanpa kata,seperti sosok jaelangkung.
" Tapi Pak." Sergah Mona cepat lalu Banny menolehkan wajahnya tanpa melihat ke arah Mona.
" Saya tidak berani ke parkiran itu." Ucap Mona dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak berani ?takut ?" Tanyanya heran.
" Saya tidak enak saja pak jika harus pergi ke parkiran Basmant sendirian,takut bertemu dengan staff yang lain.Soalnya itu kan parkiran khusus buat para eksekutif pak, nanti saya malah di curigai lagi pergi ke parkiran basmant karena saya tidak pernah ke parkiran itu pak." Jelas Mona dengan tersenyum hambar.
Banny menghela napas rupanya ia mulai merasa jengkel dengan sikap bawahannya itu yang selalu saja protes akan perintahnya itu.Akhirnya Banny membalikan badannya lalu menghadap ke arah Mona dengan menatap gusar,rahang pipinya yang menonjol keras terlihat menyembul semakin tegas.
"Kenapa mesti gak enak di lihat orang.Kamu pergi ke parkiran memangnya ada yang merhatiin ?" Tanya Banny dengan bersikap dingin.
" Tapi sungguh pak saya tidak berani kalau pergi sendirian keparkiran besement itu, kecuali saya pergi bersama bapak."Protes lagi Manda dengan wajah mengiba.
Banny mengerutkan dahinyanya,benar-benar ujian akan sikap lugunya sang sekertaris barunya itu.
" Baiklah." Balas Banny menyerah.
" Yess !" Sorak Mona dengan puas dan itu cukup keras terdengar oleh Banny.
Banny menggeleng dengan frustasi dengan sikap sekertarisnya itu lalu ia pun menatap ke arah Mona yang masih menyunggingkan senyuman yang penuh kepuasaan.
Mona pun perlahan menjaga sikapnya ketika Banny menatapnya dengan tatapan tidak suka ke arahnya
"Sekali-kali gue ngerjain tu Bos.Boleh kan?"
Gumannya seraya menyambar tas yang ada di atas meja kerjanya itu lalu ia pun melangkah mengikuti bosnya yang sudah berjalan cukup jauh.
" Opss gue ngumpat dia.Tar denger lagi bisikan hati gue." Guman Mona berbicara sendiri seraya memastikan bosny itu tidak menolehnya lagi,ia pun hanya senyum-senyum sendiri.
Pintu lift terbuka di lantai besement Banny beserta Mona berjalan menuju mobil yang terpakir di area khusus bagian tertentu yang menjabat tinggi di perusahaannya itu.
Setelah tak berapa lama Banny menghampiri mobil mewahnya yang berwarna hitam metalik yang terparkir terpisah dari parkiran-parkiran mobil staff yang lainnya.
Mona berjalan di belakangnya dengan terpogoh-pogoh seraya menatap takjub ke arah kendaraan sang Bosnya itu yang kali ini berganti model dengan model mobil mewah kelas eropa.
Banny memencet tombol remot control mobil otomatisnya dan tak lama ia pun menarik gagang pintu mobilnya dengan sikap penuh wibawa, lalu ia pun memasuki mobil mewahnya itu.Sementara Mona masih tertegun seraya memandangi mobil barunya Banny yang tak kalah mewah dari yang kemaren.
Semenjak menjadi sekertaris seorang bos besar, Mona kini sering naik turun mobil mewahnya Bosnya itu dan hanya dia yang bisa melakukan hal itu.
TIN TIINNNN....!!!
Banny menekan keras klakson mobilnya seraya menurunkan kaca mobilnya.
" Kamu mau pulang tidak ?" Tanya Banny dengan wajah gusar.
" Ehh.I iya pak !" Jawab Mona gugup lalu dengan cepat ia membuka gagang pintunya mobil mewahnya Banny dengan hati-hati ia merasa takut ke gores oleh ujung kukunya.
Mona duduk di kursi penumpang sisi sebelah kiri,baru saja ia hendak menarik kembali pintu mobil itu Banny sudah berkomentar pedas terhadap dirinya.
" Kenapa kamu duduk di belakang ?Memangnya kamu naik mobil online?" Ucap Banny judes.
" Sayakan bukan supir kamu ?" Ucap Banny dengan nada ketus.
Lagi-lagi Mona di bikin serba salah dengan sikap judesnya sang Bosnya itu.Namun sayang dia hanya bisa ngebatin tanpa bisa berbicara lagi di dalam hatinya dikarnakan sang Bos akan mengetahuinya dengan pasti.
Mona keluar kembali,lalu berputar menuju pintu depan sebelah kanan meski ragu ia pun memberanikan diri untuk masuk dan duduk di samping pria dingin berwajah tampan itu.Entah bermimpi apa ia semalam sehingga ia bisa duduk berdampingan dengan bosnya itu di dalam mobil mewahnya,Mona membagikan semua pandangannya keseluruh interior mobil Mewah bosnya itu.Mona di buatnya takjub dengan penglihatannya itu.
Dalam hatinya ia ingin beseru kagum akan kemehanan mobil milik sang bosnya itu,namun ia tahu tempat dan keadaan jika ia sedang berada di samping orang terdingin di negri ini.
__ADS_1
Mona masih menatap tidak percaya,sungguh mobil yang sangat luar biasa mewahnya yang pernah ia naiki,sekelas mobil mewah ini adanya hanya di cerita-cerita fiksi belaka,atau hanya ada di drama korea,dan hal ini tak terpikirkan olehnya bisa duduk di mobil seperti ini.
" Sudah selesai ?" Tanya Banny menoleh sinis ke arah Mona yang masih terkagum-kagum memandangi seluruh isi mobil mewahnya itu.
" Eh iya pak !" Jawab Mona dengan tersipu-sipu.
" Kamu baru naik mobil semewah ini ya. ?" Tanya Banny seraya perlahan menjalankan laju kendaraanya itu.
" Yahh namanya juga pegawai pak,gak mungkin juga saya kebeli mobil semewah ini,kalau sampai kebeli mobil yang kaya gini, yaa saya gak kerja bareng bapak lagi dong." Ujar Mona dengan enteng.
Jawaban yang sangat polos memang sehingga bosnya itu mengernyitkan kedua alisnya seraya menatap lucu ke arah Mona yang sedang asyik menatap santai ke arah luar jendela mobil.
Banny menggeleng pelan dengan tersenyum geli melihat akan sikap sekertarisnya itu yang terkadang mengundang senyuman lucu baginya.
Banny membuang senyumannya itu keluar jendela mobilnya agar sekertarisnya itu tidak melihat jika dirinya tersenyum karena merasa lucu.
" Jawaban kamu terlalu polos." Sela Banny acuh.
Mona menolah Banny dengan sedikit tersipu.
Sejenak hening Mona menatap lurus ke arah depan tiba- tiba saja perasaanya menjadi tak karuan.
" Jadi kamu belom punya pacar ?" Tiba-tiba Banny memecah keheningan.Mona terperangah kaget mendengar pertanyaan sang Bosnya itu yang terlalu pribadi.
Banny menoleh ke arah Mona yang terdiam menjawab pertanyaan itu,lalu tak lama Mona menggeleng dengan tertunduk dalam.
" Kenapa ?" Tanyanya singkat.
" Hmm...." Ucapan Mona menggantung ia menoleh ke arah Banny yang masih menyetir.
" Tidak kenapa-napa Pak." Jawab Mona pelan.
" Apa kamu memang sudah siap di jodohkan ?" Tanya lagi Banny dengan menyeringah kaku.
" Kok Bapak tahu saya mau di jodohkan ?" Tanya Mona menatap tak percaya ke arah bosnya itu,lalu ia menatap cukup lama ke arah sang Bosnya itu menati akan jawabannya yang pasti dari bosnya itu.
" Dengar saja." Jawabnya singkat.
Mona hanya mengela ia berpikir akan mendapat sebuah jawabanya yang panjang tapi nyatanya bosnya selalu menjawabnya dengan singkat.
" Oya pak.Maaf bapak kerumah saya memangnya pacar bapak tidak marah ?" Tanya Mona dengan ragu.
Banny terdiam ketika Mona berbicara menyinggung masalah pacaranya,ia tidak menjawab hanya menoleh kaku ke arah Mona.
" Maaf pak,saya salah bicara ya ?" Tanya Mona meralat omongannya dengan penuh sesal.Banny kembali tak menjawab ia hanya tersenyum datar dengan penuh arti.
" Tenang saja!Nanti akan saya jelasin semuanyake nenek kamu bahwa kita tidak berpacaran,dan mengakhiri sandiwara ini." Jelas Banny pelan.
Mona terdiam penuh sesal atas pertanyaanya yang terlontar dari mulutnya itu perihal pacar sang bosnya, yang hingga sampai detik ini ia pun belum tahu juga akan keberadaanya,melihatnya saja tak pernah,apa lagi melihat bosnya membawa seorang pacar.
Selintas Banny menangkap raut wajah Mona yang berubah namun ia tak mau peduli baginya bersandiwara dengan Mona hanya buang-buang waktu saja.
Mobil Mewah Banny melaju dengat cepat menyusuri jalanan yang sepi.
Ada perasaan kecewa yang tiba-tiba menggelayuti hati Mona entah kenapa ucapan Banny berasa melukai perasaanya padahal Mona bukanlah siapa-siapanya dia.Dan kesalahan juga bukan ada pada dirinya justru Banny lah yang memulai permasalahan ini menjadi semakin rumit.
__ADS_1
Mona tersadar saat ia mengetahui perasaanya mulai terlibat dalam masalah ini.Semenjak Banny berpura-pura mengaku sebagai pacaranya ada harapan yang terusik di dalam hatiya.
Entah kenapa ada sebuah harapan yang begitu besar menyelinap diam-diam di dalam hatinya akan seorang Banny.