CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 32


__ADS_3

 


MOBIL mewah Banny berhenti di pelataran rumah yang sangat sederhana.Banny menatap lurus ke arah rumah Mona yang terlihat sederhana dengan halaman rumah yang tidak terlalu luas namun masih bisa menyimpan aman mobil mewahnya itu.


Banny perlahan memarkirkan mobilnya dengan sangat berhati-hati ia takut mobil mewahnya kena lecet.


 


" Ini rumah kamu ?" Tanyanya dengan terus mengedarkan pandagannya ketiap sudut halaman rumah Mona.


" Iya Pak.Yaa lumayan lah pak sangat sederhana dan ini baru saya tepati beberapa bulan yang lalu.Sebelumnya saya ada ngekos,malahan satu kosan sama Amel."Jelas Mona dengan panjang lebar meski bosnya tidak mempertanyakan hal itu.


" Amel ?" Tanya Banny melirik Mona.


" Bapak tidak kenal Amel ?" Tanya balik Mona menatap aneh Banny.


" Apa Perlu saya kenalan sama Amel?"Jawab Banny dengan ekspresi dingin.


" Itu pak,anggotanya bu Silvi yang dulu satu tim dengan saya." Jelas Mona mencoba menjelaskannya.


" Sekian banyak karyawan dan karywati di perusahan saya.memangnya harus ya saya kenal satu-persatu ?" Tanya Banny semakin dingin.


 


Mona menyandarkan punggungnya di sandaran kursi jok mobil bosnya itu dengan wajah tak berselera.


" Kamu gak turun ?" Tanya lagi Banny menatap Mona yang masih bersandar dengan malas.


" Oh iyaa.Maaf pak saya merasa pewe hee..hee.." Ucap Mona dengan tertawa polos.Banny menggeleng dengan tatapan jengkel dengan tingkah polosnya sekertarisnya itu.


Mona segera menghambur keluar dari mobilnya bosnya itu dengan tanpa menghiraukan bosnya yang masih sibuk mengecek keaman mobilnya jika terparkir begitu saja di pelataran rumahnya Mona.


Sejenak ia menatap lurus ke arah Mona yang keluar kembali dengan di temani oleh sang Nenek dengan wajah sangat ramah.


Banny masih terdiam ia memandangi perempuan separuh baya itu yang berada di samping Mona dengan berbagai perasaan yang meliputi hatinya.


Sosok perempuan setengah baya itu mengingatkan kembali dirinya akan sosok sang Nenek yang begitu sangat menyayangi dirinya,sang nenek lah yang selalu membelanya dulu ketika ia kena omel sang Mama atau sang Papah,tapi semua itu tinggalah kenangan yang terukir manis di ingatannya.


Entah kenapa ada kehangatan yang ia rasakan saat melihat keakraban Mona dengan sang Neneknya itu dan Banny hanya tersenyum lembut ke arah Mona serta sang Nenek yang berdiri menunggu dirinya di ambang pintu.


Mona perlahan mendekati ke arah mobil dan melihat dari balik kaca flm mobilnya Banny sedang menatapnya.


TUK TUK...


Pintu mobil di ketuk.


Banny segera membuka perlahan pintu mobilnya lalu ia pun keluar seraya merapihkan jasnya.


" Bapak berubah pikiran ya ?" Tanya Mona setengah berbisik dan menatap tajam bosnya itu.


" Tidak !saya lagi berpikir saja gimana cara saya bisa berbicara jujur terhadap nenek kamu." Balas Banny dengan suara pelan lali berpura-pura tersenyum ke arah Sang Nenek yang sedari tadi tengah menanti dengan penuh kebahagiaan.


" Tapi sebaiknya bapak masuk dulu saja." Ucap Mona dengan setengah berbisik.


Banny mengangguk kecil lalu melangkah menghampiri neneknya Mona.


" Malam Nek !" Sapa Banny dengan tersenyum kaku.


" Selamat malam Nak Banny !Apa kabar ?" Tanya sang Nenek dengan ramah.


" Baik Nek." Jawabnya seraya menoleh Mona.


" Nenek pikir kamu tidak bisa datang?ayo nak Banny masuk !.Nenek sudah masakin sesuatu buat nak Banny." Ucap Sang Nenek dengan berjalan tak jauh darinya.


Banny hanya menggangguk seraya menoleh Mona yang berdiri tak jauh darinya,Mona tersenyum pasi dengan kecemasan yang mulai meliputi hatinya.


" Ayo silahkan duduk ! Nenek yakin kamu sudah lapar,nanti saja kita ngobrol-ngobrolnya sekarang langsung makan saja ya!" Ucap Sang nenek dengan melangkah duluan menuju meja makan.


Ada kehangatan yang Banny rasakan atas penyambutan dari neneknya Mona yang dirasa begitu spesial baginya. Lalu Banny membagikan pandangannya keseluruh ruangan meski memang tak semegah rumahnya namun entah kenapa ada kenyamanan yang dia dapatkan di tempat itu seperti kehangatan yang telah lama ia rindukan.


 


" Ayo Mona !siapin piringnya buat nak Banny kita langusng makan saja ya." Ucap Sang Nenek dengan melempar senyuman hangat ke arah Banny yang masih terlihat canggung.

__ADS_1


" Ayo nak Banny silahkan duduk!kok malah bengong." Ucap Sang Nenek kembali sikap perhatian kepada Banny.


" Iya nek." Jawab Banny singkat.


Mona dengan resah ia mencoba mengusir rasa cemasanya yang mulai mengganggu pikirannya.Ia tidak bisa membayangkan jika Banny mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara Banny dan dirinya kepada neneknya itu, tentunya ini akan menjadi masalah besar antara dia dengan sang nenek.


Mona menyiapkan piringnya lalu mengambilkan beberapa hidangan yang sudah di sajikan oleh sang Nenek dengan sangat spesial hanya untuk Banny.


Sedangkan Banny,ia masih bergelut dengan pikirannya yang kian membuat merasa gamang,entah kenapa ia menjadi ragu untuk mengatakan hal yang menjadi kebenarannya.


Dan keraguan itu yang menghalangi dirinya untuk berbicara yang sejujurnya,tekadnya berubah setelah ia melihat dari ekspresi sang nenek yang begitu hangat menyambutnya serta ia juga tergugu ketika melihat hidangan yang begitu banyak tersuguhkan untuk dirinya,roma hidangannya tercium begitu sangat lezat.


Kembali pikirannya melayang tidak karuan memenuhi isi kepalanya.


Ada rasa rindu yang telah terobati terhadap sosok mendiang sang mamanya serta sang Neneknya yang sudah lama telah meninggalkannya. Sejadi-jadi perasaannya terenyuh didalam hatinya dan ia pum hanyut dalam kenangan masa kecilnya.


 


" Ayo makan Na Banny !kok malah bengong!nenek harap kamu suka ya dengan masakan nenek ini.." Ucap Nenek Mona dengan sigap menyiapkan sepiring hidangan di hadapannya Banny.


" Masakan Nenek sepertinya sangat lezat." Ucap Banny seraya melirik ke arah Mona yang baru saja selesai menyiapkan piring berisi nasi buat dirinya.


" Dan ini semua nenek yang bikin spesial loh buat Na Banny,dan nenek harap Nak Banny menyukainya." Ucap Nenek Mona tersenyum simpul sehingga membuat Banny larut dalam kehangatan.


Banny mengakui semenjak sang Nenek dan Mamanya meninggal momen seperti ini nyaris tak pernah ia alami kembali.Kesibukan akan bekerja membuat ia melupakan kebersamannya bersama keluarga terutama sang papahnya.nyaris ia melewati moment itu dengan sibuk pekerjaannya.


Kini hanya tinggallah sang Papah yang selalu menanti dirinya pulang,walau terkadang hanya bisa bertemu di tempat makan seraya berbincang-bincang seputar masalah pekerjaanya.


" Ayo silahkan Nak Banny di makan ya !" Lagi-lagi Sang Nenek mempersilahkannya untuk menyantap hidangannya. Dengan ramah Banny menggangguk dan tersenyum tipis.


 


Dari ujung samping Mona menatapnya dengan sorot mata yang berbeda,pertama kalinya ia membawa seorang pria kerumahnya,Mona menatap penuh haru, Bannypun membalas tatapan Mona dengan perasaan yang tak kalah menentunya lalu ia perlahan menyuapkan makananya kedalam mulutnya dengan ragu.


perlahan Banny mulai mengecap rasa makanan yang ada di mulutnya itu,dan ia cukup terhenyak akan masakan neneknya Mona yang sama percis akan kelezatannya dengan masakan yang di buat oleh sang Neneknya ketika masih hidup, sekarang entah kebetulan atau entah apa masakan yang di buat nenek Mona sama lezatnya.


" Gimana Nak Banny enak?" Tanya neneknya Mona melepaskan pandangannya ke arah Banny yang masih meresapi kelezatan setiap kunyahannya.


" Enak sekali Nek.Saya suka." Jawab Banny dengan singkat.


 


Banny melirik ke arah Mona yang sedang menatapnya dengan berbagai perasaan lalu ia mengabaikannya dan kembali menikmati hidangan itu dengan begitu nikmat. Entah lapar atau suka sulit membedakannya.


Mona menatap lucu ke arah sang Bosnya itu yang makan dengan lahap sehingga Banny lupa jika dia akan berbicara terus terang akan hubungan yang sebenarnya anatar dirinya dengan sekertarisnya itu.


 


" Oya Nak Banny,Sudah berapa lama pacaran sama Mona ?" Sebuah pertanyaan telonyar begitu saja dari mulut Sang Nenek sehingga terdengar sumbang di telinganya Banny,mengejutkannya di tengah keseriusannya menikmati hidangannya.Sontak saja pertanyaan itu membuyarkan konsentrasinya dalam mengunyah makanannya.


Banny terhenyak sehingga tak sengaja membuatnya keselek dengan makanan yang berada di dalam mulutnya yang nyaris tak tertelan.


Dengan sekuat tenaga ia pun segera menelan kuat makananya dengan ekspresi mata terbelalak, dengan spontan ia segera menutup mulutnya dengan tangannya itu.


Tak berbeda jauh dengan Mona ia pun merasa tersedak dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh sang neneknya yang membuat ia merasa mendadak menjadi mual serta vertigo.


 


" Maaf.Pertanyaan Nenek mengejutkan kalian yaa ?" Tanya sang Nenek dengan tersenyum hambar lalu membagikan pandangannya ke arah Mona dan Banny yang keduanya sibuk menetralkan kepanikannya.


Mona dan Banny bersamaan saling berpandangan,mereka saling bertatapan dengan dibsertai perasaan yang sulit di jelaskan.


 


" Hmm....,belum lama juga sih nek." Jawab Banny dengan melirik ke arah Mona yang melotot ke arahnya dengan penuh isyarat.


" Panjang lagi ini urusannya.Kenapa harus bohong lagi sih? katanya mau jujur ko malah di nambah lagi bohongnya."


Guman Mona ngebatin,ia pun menatap lurus bosnya yang masih menatapnya seolah-olah sedang mendengarkan segala gumanan di dalam hatinya. 


" Mmm....,Memangnya kalian tidak ada niatan untuk ke jenjang yang lebih serius lagi?Nikah gitu?" Tanya sang nenek memperjelas ucapannya.


 

__ADS_1


UHukkk.....


Akhirnya Mona benar-benar keselek dan terbatuk-batuk mendengar ucapan sang Neneknya itu.


" Mona, pelan-pelan dong makannya." Ucap sang nenek dengan menyodorkan segelas air putih kehadapan Mona yang masih terbatuk batuk untuk segera di minum.


Sementara Banny memesem menahan tawanya seraya membuang jauh wajahnya agar tidak terlihat oleh Mona.


 


" Mona baik-baik saja Nek." Ucap Mona seraya menyeka mulutnya dengan tisu sehabis minum air.


Mona menatap wajah Banny yang masih terlihat menahan tawanya tanpa memperdulikan dirinya,Mona pun merasa sebal dengan sikap sang Bosnya itu yang hanya bersikap santai seolah-olah ini hanya hal sepele baginya.


 


" Nek." Panggil Mona seraya menyeka kembali mulutnya dengan tisu.


" Ada apa Mona ?" Tanya Sang Nenek menatap Mona.


" Mmmm..., Banny mau bicara sesuatu sama Nenek." Ucap Mona dengan tertunduk Ia pasrah dengan apa yang akan di katakan oleh bosnya itu kepada neneknya.


Jujur saja ia tidak ingin lama berada dalam kebohongan itu dan pastinya nanti akan mempersulit di kehidupannya.


Dia sadar berpura-pura menjadi pacar seorang Banny hanyalah mimpi indah yang hanya di lakukan di siang bolong.


jangankan berharap untuk menjadi kekasih beneran menjadi kekasih bohongannyapun sudah cukup Bahagia buat seorang Mona,Tapi kenyataan itu tidak akan pernah terjadi jika Banny memang akan menjadi kekasih sungguhannya.


Banny menatap dengan ragu ke arah Mona yang berbicara tanpa memberikan kode atau isyarat untuk memulai penjelasannya.


 


" Oia, Ada apa Nak Banny ?" Tanya sang nenek menatap teduh ke arah Banny yang mulai terlihat gelisah. 


Mona berharap sang Nenek tidak murka dengan kejujuran yang akan Banny katakan kepadanya walaupun itu menyakitkan dan beresiko pada kepercayaan sang nenek terhadap dirinya. Tapi Mona juga tidak mau jika harus terus bersandiwara.


Banny menoleh Mona dengan tatapan penuh keraguan sedangkan Mona hanya membalas dengan tatapan kaku.Ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh dalam sikap Banny.Yang biasanya Ia selalu melihat sikap Banny yang selalu tegas serta kaku itu kini sikap itu nyaris tak nampak dari sosoknya.


 


" Hmm....Ini nek." Ucap Banny menggantung. 


Ia menatap lekat ke arah sang Nenek yang sedang menanti dengan rasa cemas begitupun Mona masih terpaku ia tak mampu menatap ke arah sang Neneknya.


 


" Mmm...,Banny berniat ingin memperkenalkan Mona kepada papah Banny nek ." Ucap Banny seraya melirik Mona dengan tak pasti.


Lagi lagi Mona di buat terperangah dengan kata kata yang di ucapkan oleh Banny dan hal itu tepat di luar dugaannya lagi.


Tatapan Mona menegang menatap ke arah Banny dengan sorot mata yang tajam ia tidak habis pikir dengan apa yang di ucapkan oleh sang bosnya Kenapa semakin kian menambah kebohongannya.


Mona menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal kedua alisnya terlihat bergerak gerak dengan naik turun.


" Oalahh kirain kamu mau ngomong apa,Yaa Nenek senang dengernya jadi hubungan kalian akan lebih serius lagi terus Nenek berharap dalam tiga bulan ini Mona bisa menikah dengan kamu Nak Banny." Jelas sang nenek dengan sedikit terharu dan begitu jelas terlihat oleh Banny sorot mata sang Nenek yang mulai berkaca kaca.


GLEKK.....


Mona menelan air liurnya dengan penuh perjuangan matanya melotot ke arah Banny yang menyunggingkan senyuman hambar ke arahnya.


" Sumpah ini orang maunya apa see ?Gue gak habis pikir ama ini orang. koh malah bersandiwara lagi see.?"


Guman Moma menatap tak berkedip ke arah Banny.


" Iya Nek,Banny serius ko sama Mona." Ucap Banny seraya menumpukan tangannya di atas tangan Mona yang masih melongo menatap ke arahnya lalu Banny perlahan lahan ia meremas tangan Mona dengan lembut.


Spontan Mona pun kembali di buat syok oleh sikap sang Bos yang di luar perkirannya.


Dan kali ini entah kenapasang Bosnya sudah berani menggengam tangannya dengan erat seraya menatap penuh misteri ke arahnya.


Mona tersenyum kaku dan menoleh neneknya yang sedang menatapnya dengan penuh haru.


" Kalian sangat serasi." Balas sang nenek dengan membagikan tatapan bahagianya.

__ADS_1


Banny dan mona saling bertatapan dengan senyuman hambarnya lalu merekapun larut dalam situasi yang menjebak mereka untuk kembali bersandiwara.


.........Bersambung


__ADS_2