CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 79


__ADS_3

MOTOR Zeanu berhenti di sebuah pelataran kantor lalu tak lama memasuki lobby gedung untuk menurunkan Mona agar tidak terlalu jauh dari area gedung,Mona pun segera turun dari motornya Zeanu.


" Makasih banyak ya Mon,atas waktunya." Ucap Zeanu membuka kaca helmnya.


Mona mengangguk seraya tersenyum tipis.


" Oya lo yakin hari ini ada lembur sama Banny ?"


" Sepertinya begitu." Jawab Mona pelan.


" Mon,lusa ada acara di rumah gue lo hadir ya !" Pinta Zeanu menatap penuh harapan.


" Acara ??" Tanya Mona mengernyitkan kedua alisnya.


" Pesta ulang tahun nyokap,meski kemaren hari ultahnya,nyokap memilih lewat dari tanggalnya untuk ngerayaainya karena nunggu bokap pulang juga see."


" Ow,nanti gue pikirkan lagi ya." Balas Mona pelan.


" Sekarang gue masuk kantor dulu ya !gak enak sama pak Banny kayanya dia sudah menunggu." Ucap Mona dengan tersenyum tipis.


" Ya udah lo Wa aja ya bisa apa engganya !" Ucap Zeanu seraya menghidupkan kembali mesin kendaraannya.


" Ok !!" Jawab Mona mengangguk pelan.


Lalu Zeanu pun menjalankan kembali motornya dan perlahan berjalan meninggalkan Mona yang masih mengantarnya dengan tatapan panjangnya.


Mona menoleh jam yang ada di tangannya hari sudah menunjukan jam tiga sore itu artinya ia sudah terlalu lama meninggalkan kantor.


Mona pun segera bergegas melangkah cepat memasuki pintu lobby perkantorannya tersebut.


" Mon !" Panggil Amel menahan langkah Mona yang sedang melintasi ruangan kerjanya.Mona menoleh lalu berhenti sejenak.


" Lo dari mana ?" Tanyanya dengan heran.


" Gue habis ada perlu dengan Zeanu."


" What ??,sama cowok tanpa nama itu ?ngapain ?" Tanya Amel mencecar Mona dengan penasaran.


" Nanti gue kasih tau,pak Banny sudah nunggu gue dari tadi,nanti bisa-bisa gue di diamin tujuh hari tujuh malam." Sela Mona seraya melangkah lagi dan mempercepat lagi langkahnya.


" Lagian lo sih kelayapan mulu." Seru Amel mengeraskan suaranya.


Mona tidak menggubrisnya ia pun segera menghambur menuju lift.


Setibanya Mona menoleh ke arah pintu bertuliskan Direktur utama yang berhadapan langsung dengan pintu ruangannya,pintu itu dalam keadaan tertutup rapat entah kenapa Mona merasa was-was jika Banny akan marah kepadanya karena terlalu lama pergi menemani Zeanu.


Sejenak ia menoleh ke ruangan Banny yang terlihat sepi


Mona tidak melihat bosnya itu berada di kursinya ia mengerutkan kulit dahinya dan menatap penuh penasaran akan keberadaan bosnya tersebut.


Mona menyimpan tasnya di meja kerja lalu tak lama ia berniat untuk ke ruangan sang bos memastikan bosnya baik-baik saja.


Dengan perlahan Mona mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam, dengan perasaan ragu Mona kembali mengetuknya namun tetap tak ada jawaban.Dengan perasaan ragu ia menyentuh gagang pintu itu lalu memutar dan mendorongnya secara perlahan.


Pintu tidak terkunci dan terbuka,Mona memberanikan diri melongo kedalam ruangan memastikan keadaan di dalam ruangan bosnya tersebut.Namun terlihat sepi,kursi sang bos terlihat kosong hanya ada jasnya yang tersangkut di sandaran kursi tersebut.


" Loh pak bos kemana ini ?" Tanya Mona mengerutkan kulit dahinya.


Mona masih berdiri di ambang pintu lalu di edarkannya pandangannya keseluruh ruangan itu dan....


TAP....


Mona melihat sang bosnya itu sedang tertidur pulas di sebuah sopa seraya memeluk sebuah map berwarna biru,Mona memiringkan kepalanya mencoba menyimak baik akan posisi tidur sang bosnya itu.


" Oalah pules banget tidurnya,tadi nelpon suruh buru-buru datang ke kantor,tau-taunya malah ngorok." Gumannya seraya perlahan mendekatinya.


Entah kenapa ada kekuatan lain yang menuntun dirinya untuk lebih mendekat ke pria dingin itu.

__ADS_1


Mona merasa peduli akan keadaan sang bosnya itu yang terlelap ketika menunggunya.


" Yaa ampun pak bos sepertinya kelelahan hingga pules seperti ini." Guman Mona seraya memperhatikan ke dalam wajah Banny yang sedang tertidur pulas.


Wajah yang dingin itu terlihat sangat teduh ketika terlelap,garis wajah yang tegas itu nampak begitu sangat gagah meskipun dalam keadaan tertidur,Mona menatap semakin dalam memperhatikan setiap inci bentuk wajah pria yang selalu di takutinya itu.


Jika melihat sekilas faras tampan Banny memang tiada duannya ketika sedang tertidurpun Banny masih memancarkan pesonanya yang begitu kuat.


" Kalau orang ganteng mau tidur mau melek tetep aja ganteng,yaa ampun mungkin sangat bahagia kali ya dapat suami seperti pak bos ini,andai semua ini bukan sandiwara,maka perempuan pertama yang paling beruntung di perusahaan ini adalah gue." Guman Mona pelan,matanya menatap lurus wajah sang bosnya.


Banny menggerakan tangan yang mendekap erat map itu sekilas gerakan tangannya itu memperlihatkan dirinya sedang merasa kedinginan,Mona terperangah saat gerakan itu terasa mengusik hatinya.


Ac di dalam ruangan itu memang terasa sangat dingin,lalu Mona pun mencari-cari keberadaan remot Ac,namun remot ac rupanya luput dari pandangannya.


Pandangan Mona kini malah mendarat di sandaran kursi sang bosnya itu yang terdapat jas milik Banny yang tersangkut.


Tak berpikir lama Mona pun segera bergerak mengambilnya dan berniat untuk menyelimuti tubuh Banny yang terlihat mulai kedinginan dan ia pun menyelimutkan jasnya tersebut ke tubuh sang bosnya itu yang masih terlihat pulas.


Mona tersenyum lembut setidaknya ia sudah bersikap baik kepada bosnya itu walau terkadang sang bos itu sering membuatnya jengkel tapi ia sangat peduli terhadapnya.


Mona sedikit membungkukan badannya untuk membenarkan jas milik bosnya yang belum sempurna menutup ke tubuh sang bos.


Baru saja tangannya menyentuh jas itu mata Banny terbuka secara perlahan-lahan lalu sejurus kemudian menatap wajah Mona yang ada di hadapannya itu.


Pandangan mata mereka saling bertemu hingga tak terelakan lagi dan mengunci satu sama lain tanpa bisa di hindari lagi.


" Maaf !!" Mona tersentak kaget,lalu ia pun segera menegakan kembali tubuhnya dan mundur satu langkah dari jarak dia berdiri.


Banny memperjelas pandangannya yang terlihat samar-samar, lalu ia pun mengusap wajahnya yang dengan rasa ngantuk yang masih menggelayutinya.


Banny pun menatap jasnya yang menutupi sebagian tubuhnya lalu ia pun perlahan merubah posisi badannya menjadi duduk tegak.


" Sudah jam berapa ini ?" Tanya Banny menatap dingin Mona yang berdiri di hadapannya.


" Jam tiga pak." Balas Mona dengan terlihat canggung.


" Sudah pak." Jawab Mona tak berani menatap bosnya itu.


" Tolong kamu rapihkan jas saya itu." Titah Banny seraya menuju kursinya.


Mona segera meraih jas Banny yang tergeletak begitu saja di sopa lalu mengantungnya di tempat biasa Banny menggantungkannya.


" Tolong kamu suruh Jepry untuk membawa berkas-berkas dari pak Hendra yang akan saya tandangani sore ini,karena dari kemaren laporan dari pak Hendra belum di serahkan." Ucap Banny dengan terlihat masih mengumpulkan nyawanya setelah tertidur pulas tadi.


" Baik pak." Jawab Mona membungkuk lalu ia pun memutar badannya dan melangkah menuju keluar ruangannya.


Banny menatap ke arah Mona yang melangkah keluar seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Banny mencoba memikirkan akan perlakuan sang sekertarisnya itu terhadap dirinya ketika ia sedang tertidur tadi.


Sejenak Banny berpikir keras seraya menerka-nerka apa yang sebenarnya sudah di lakukan sang sekertarisnya itu terhadap dirinya pada saat tertidur.


Banny mengetuk-ngetukan jari tangannya dia atas meja pikirannya terus menelaah jauh dan tak lama Banny pun bangkit dari tempat duduknya untuk segera menuju ke arah layar monitor CCTV yang terpasang di sudut ruanganya itu.


Lalu ia memutar ulang kejadian yang terkam di CCTV itu beberapa menit yang lalu.


Di menit terakhir Banny memutar kembali kejadian yang terekam.


Di dalam rekaman itu terlihat Mona sedang menyelimuti dirinya supaya tidak ke dinginan.Banny menarik napas panjang ia merasa ada yang menetes di perasaanya atas sikap peduli Mona terhadap dirinya.


Entah kenapa ia merespon baik atas sikap pedulinya Mona terhadap dirinya.Perlahan-lahan Banny menyunggingkan senyuman manis seraya terus menatap lekat CCTV itu dengan penuh perasaan yang tak bisa terlukiskan.


TOK,TOK,TOK....


Suara ketukan di pintu terdengar begitu nyaring sehingga mengalihkan fokusnya Banny dari layar CCTV.


" Masuk !" Jawab Banny dengan nada suara cukup keras.

__ADS_1


Pintu ruangan Banny terdorong pelan lalu Kinaya menyembul di balik pintu dengan tersenyum lembut.


Banny terperangah setelah tahu siapa yang datang ke ruanganya itu.


" Kinaya ?kamu ada apa kesini ?" Tanya Banny dengan menatap tajam Kinaya yang berjalan mendekatinya.


" Kenapa sih setiap kali aku datang ke kantor kamu,kamu selalu bersikap tidak suka ?memangnya kamu sudah tidak ingin bertemu aku lagi." Tanya Kinaya seraya duduk meski Banny belum mempersilahkannya.


" Lalu ada hal penting apa kamu menemuiku ?" Tanya lagi Banny dengan menatapnya semakin dingin.


" Banny,memangnya aku salah ya jika aku datang kekantor kamu terus merasa ingin ketemu sama kamu,dan itu artinya aku merasa kangen sama kamu." Ucap Kinaya dengan tersenyum menggoda.


Banny mengalihkn pandangannya ke hal lain lalu melipat tanganya di dada.Sepertinya Banny mulai mencurigai ada sesuatu hal yang kinaya rencanakan ketika kedatangan ke kantornya itu.


" Kinaya.Sebaiknya kamu tidak usah berbicara seperti itu,aku rasa di antara kita sudah tidak ada perasaan apapun lagi." Jawab Banny dengan datar.


" Kenapa ?kamu takut kedengaran tunangan palsumu itu,iya ?" Tanya Kinaya dengan tersenyum sinis.


Banny tersentak dan menatap tajam Kinaya.


" Mau kamu apa ?" Tanya Banny mendengus.


Kinaya tersenyum puas.


" Tidak berlebihan,aku hanya ingin kau menerima aku kembali." Ucap Kinaya tandas.


Banny menyeringai sinis tak habis pikir rasanya atas sikap mantanya itu yang bersi kukuh ingin kembali lagi padanya.


" Jangan bermimpi." Tukas Banny seraya membalikan badannya menghadap ke arah luar jendela kaca.


" Kenapa ?aku belum terlambat untuk memperbaiki atas kesalahanku dulu dan sekertaris tunangan palsu mu itu tak lebih hanya sebuah anyelir untuk kamu sembunyi dari perasaan kamu selama ini terhadapku." Jelas Kinaya menatap Banny yang membelakanginya.


Telinga Banny memanas saat ucapan Kinaya terasa begitu pedas mengyudutkan perasaanya yang berlindung di balik sandiwaranya dengan Mona sang sekertatisnya itu.


" Aku tidak pernah bermain-main dengan perasaan.Begitupun dengan sekertarisku ini." Balas Banny dengan suara bergetar.


" Kamu jangan bohong !aku sudah tau banyak tentang sandiwara kalian ini." Kinaya semakin mencecar Banny dengan bukti yang ia dapati atas sandiwaranya Banny yang selama ini.


" Kau tau apa tentang hidupku ?" Sela Banny seraya menolehkan kepalanya.


" Kamu melakukan semua ini bukan atas perasaan kamu sendiri,dan semua ini kamu lakukan hanya untuk papahmu saja,om Wiguna.!" Tungkas Kinaya menyorot tajam Banny.


Banny memejamkan matanya lalu ia menghela napas panjang ia tidak menyangka jika Kinaya akan setahu itu tentang dirinya.


" Apapun yang akan aku lakukan itu bukan urusan kamu lagi." Balas Banny dengan nada penuh penekanan.


" Apa kau merasa bahagia jika kamu menikah dengan seseorang yang hanya bersandiwara?" Sela lagi Kinaya bersikeras untuk membuat Banny semakin tertekan.


" Lebih baik seperti itu,daripada harus hidup dengan orang yang sudah jelas menghianati dan membuatku kecewa." Jelas Banny dengan tatapan dingin menatap kembali Kinaya.


Kinaya terdiam ia merasa ucapan Banny menghujam hatinya dan sepertinya Banny belum bisa memaafkan atas kesalah dirinya yang telah mencampakan nya hanya untuk orang lain,setiap kata-kata yang di ucapkan Banny seluruhnya mengandung sindiran yang halus untuk dirinya.


Banny yang dulu adalah sosok pribadi yang hangat kini justru seperti gundukan es yang begitu dingin baginya,entah kemana perginya akan sosok yang hangat itu dan kini setiap tatapannya terasa begitu dingin dan kaku.


Ataukah mungkin ia telah mati rasa dengan apa yang telah Kinaya perbuat kepada dirinya.


" Aku tau kamu ingin kembali ke padaku bukan hanya semata persoalan perasaan saja,kamu lebih menyoroti aku dengan keadaanku yang sekarang ini." Ucap Banny dengan menatap tajam Kinaya.


Kata-kata itu mengena di hati Kinaya,betapa tidak apa yang jadi prasangkanya Banny memang benar adanya ia tidak bisa mengelak lagi.


Banny yang telah meraih kesuksesan dengan pekerjaan ini membuat namanya kini mulai di perhitungkan di kancah perbisnisan,nama perusahaannya mulai di soroti oleh banyak perusahaan ternama lainnya.


" Kalau pikiran kamu ke arah sana, kamu keliru.Aku hanya ingin menebus kesalahan ku kepadamu dengan kamu memberikan kesempatan untuk aku memperbaikinya." Ucap kinaya mulai menatap lembut Banny ia mencoba mengambil kembali simpatinya pria itu.


" Bagiku kesempatan hanya datang sekali,dan kesempatan itu sudah berakhir." Jawab Banny pendek.


Kinaya hanya menahan sesak yang mendalam di dadanya,sepertinya ia mulai merasa sulit untuk mengambil kembali hati yang sudah tersakiti itu.

__ADS_1


Banny sudah berubah,pria ini sudah banyak mengalami perubahan dalam dirinya sepeninggalnya.


__ADS_2