CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 148


__ADS_3

WAJAH Mona dan kedua sahabatnya tercengang saat melihat kehadiran pria berkarismatik itu sudah berada di hadapan mereka,terutama Mona ia tak bisa lagi menyembunyikan perasaan keterkejutannya itu.


Kenapa pria ini selalu hadir di waktu yang tepat ??


Mona menatap pria itu dengan tatapan presfektif ia tidak mau bermonolog berlebihan akan kehadiran pria berkarismatik tersebut dalam setiap kesempatannya tersebut.


Tepatnya pria berwajah karismatik itu selalu hadir di saat yang paling di butuhkan.


Masih segar di ingatan gadis itu ketika awal mula perjumpaannya dengan Angkasa,pria berkarismatik itu menolong dirinya di sebuah minimarket beberapa minggu yang lalu,dan sepertinya ia pun tak akan begitu saja melupakan peristiwa semalam yang bagaimana pria itu hadir membuatnya tenang di tengah-tengah kegalauannya.


" Angkasa !" Pekik Mona nyaris tertahan.


Ada rasa bahagia sekaligus cemas campur aduk di benaknya.Tapi perasaan resah lebih mendominasinya,entah kenapa ia risau jika Angkasa mendengarkan sepenuhnya obrolan dirinya bersama kedua sababatnya tersebut.


" Aku boleh gabung ?" Tanya pria itu meminta izin untuk ikut duduk bergabung di antara mereka.


Amel dan Tamara saling mengangguk dengan sikap terlihat ragu,namun mereka berusaha saling menyingkirkan perasaan ragunya itu.sementara Mona terlihat semakin salah tingkah dengan kehadiran Angkasa yang secara tiba-tiba di tengah-tengah mereka.


Sejenak hening,saling terdiam dengan berbagai prasangka di benaknya.


" Oya,tadi siapa orang yang di maksud kalian,yang di berhentikan dari pekerjaanya ?" Tanya kembali Angkasa mengawali bembicaraanya,lalu ia pun membagi tatapannya ke arah Mona dan kedua sahabatnya.


Sebelum di antara mereka menjawab pertanyaan pria itu,ketiganya hanya saling berbagi tatapan dengan perasaan cemas satu sama lain.Sepertinya pria berkarismatik itu memang sedari tadi sudah menyimak jelas sebagian obrolan mereka,sehingga begitu berada di tengah-tengah mereka pria itu tertarik untuk ikut bergabung dalam obrolan yang sedang di bahas mereka bertiga,terlebih-lebih Angkasa sedikit penasaran setelah melihat raut wajah Mona yang tak biasa.


" Hmmm...," Mona terlihat gamang untuk menjawab pertanyaan pria itu dengan kembali menoleh ke arah kedua sahabatnya,seolah-olah ia meminta bantuan kedua sahabatnya.


" Mona yang akan di berhentikan dari pekerjaanya." Imbuh Amel dengan tegas.


Gatal rasanya jika dirinya harus menahan apa yang menjadi kekecewaan-nya terhadap peraturan yang di terapkan di perusahaan tempat mereka bekerja.


Sejenak ekpresi wajah pria itu terperangah,namun sesaat kemudian reaksinya berubah memudar,seolah-olah ia telah memahami sesuatu.Amel yang sempat memperhatikan perubahan air muka pria itu terlihat penasaran dan merasa ada yang menarik dari perhatian pria tersebut yang berhasil membuatnya berspekulasi bahwa ada yang tak biasa dari bahasa tubuh pria tersebut terhadap sosok sahabatnya itu.


" Kenapa Mona di berhentikan dari pekerjaanya ?" Tanya pria itu menatap tenang,memberi ruang untuk mendengar apa yang sesungguhnya terjadi.


Tamara yang sedari tadi terlihat tak sabar ingin cerita hanya bisa menahan diri setelah Mona mengistruksikan diam dengan bahasa isyaratnya.


Amel menoleh ke arah Mona,ia meminta izin secara tidak langsung untuk mengatakan hal yang sesungguhnya,dan Mona hanya tertunduk dengan pasrah.


" Di perusaahan kami tidak di perbolehkan ada hubungan pribadi antar staff perusahan,tak terkecuali dengan pimpinan perusahan,seperti halnya Mona dengan pak Banny,jadi salah satunya harus di mutasi atau di berhentikan." Jelas Mona menatap ragu Mona yang masih terlihat tertunduk.


" Tapi..... !" Sela Angkasa memotong pembicaraan tersebut seolah-olah ia protes atas aturan tersebut yang di rasanya tak ada logika.Jika pernikahan antara Mona dan Banny hanyalah settingan lalu kenapa aturan itu berlaku untuk pernikahan sandiwaranya itu.


Mona menatap semakin cemas,sepertinya Angkasa tak hanya akan membahas masalah pekerjaanya tapi tentunya ia pun akan membahas pernikahan sandiwaranya itu di hadapan kedua sahabatnya.


Amel menatap lurus,ia menanti kelanjutan ucapan pria itu yang dirasa membuatnya penasaran.


" Tapi apa pak ?" Tanya Amel mengernyit.


" Tapi bukannya pernikahan Mona dan pak Banny hanya permainan,tentunya pak Banny bisa mempertimbangkan masalah ini." Jelas Angkasa dengan seksama.


Sontak saja kedua sahabat Mona terkejut bukan main ketika mereka tahu jika Angkasa telah mengetahui akan sesungguhnya pernikahan sahabatnya itu.


" Pak Angkasa tahu darimana akan hal ini ?" Tanya Tamara dengan menatap penasaran.


Mona menarik napas panjang merasakan hatinya kian merasa pasrah,tak ingin lagi bersembunyi dari rasa lelah yang menggelayutinya selama ini.


" Kalian tidak perlu tahu,saya mengetahui hal ini dari siapa,namun perlu kalian tahu,jika saya merasa simpatik dengan apa yang sedang di alami sahabat kalian saat ini." Ucap pria itu tersenyum lembut,sehingga membuat melelehkan perasaan ketiga perempuan tersebut.


" Oh my GOD !!" Pekik Tamara seraya menatap haru sekaligus terpesona atas sikap bijak pria berkarismatik tersebut.Dan seketika bola matanya membentuk sebuah hati.


Amel menatap pasti ke arah wajah pria berkarismatik tersebut seraya mengangguk-ngangguk kepalanua, ia memahami atas segalanya,meski ia penasaran dengan sikap Angkasa yang mengetahui pernikahan nya sahabatnya itu,namun sepertinya timeing ini tak tepat jika dirinya harus bertanya banyak tentang hal itu.Lalu ia pun untuk sementara waktu hanya bisa mengeyampingkan rasa kepenasarannya tessebut.


" Gimana kalau kamu bekerja di perusahaan ku saja,kebetulan sekertarisku minggu depan nanti akan risent." Ujar pria berkarismatik tersebut menatap lurus wajah gadis itu dengan tersenyum ringan


" YES !!! pucuk di cinta ulam pun tiba." Guman gadis berponi pendek itu memekik histeria.


Hal yang sama di harapkan Amel untuk sahabatnya tersebut, tepatnya ketika pria itu menawarkan pekerjaan untuk sahabatnya Mona.Sepertinya pria ini hadir si saat waktu yang paling tepat.


Mona terperangah lalu ia pun menoleh ke arah Tamara yang masih mengekspresikan wajahnya dengan begitu bahagia mendengar pria berkarismatik tersebut menawarkan sebuah pekerjaan untuknya.


Amel tersenyum tipis menoleh ke arah Mona yang masih menatap tak percaya.Benar-benar pikiran mereka sejalan,dan terakhir si gadis berponi pendek pun tersenyum dengan merekah.


Mona terdiam di dalam hatinya mengagumi sikap tegas dan tindakan pria itu yang di rasa sangat gentle man dalam bersikap ,tak hanya berkarismatik sosok pria ini pun mampu bersikap apa adanya.


Kontras hal itu dengan sikap seorang Banny yang selalu bersikap gengsi dan tinggi hati dalam setiap mengemukan sesuatu hal.


" Gue orang yang pertama akan bilang setuju jika lo terima tawaran-nya pak Angkasa." Amel menimpali dengan menatap penuh arti ke arah Mona.


Mona terdiam lalu melipatkan bibirnya dengan perasaan gamang.


" Tapi,apakah perusahaan bapak menerapkan pelaturan hal yang sama, sebagaimana pelaturan yang di terapkan di perusahan kami ?" Tanya Tamara menyerigai di tengah-tengah kebahagiaanya dengan menatap cemas Angkasa.


Sebelum menjawab kembali Angkasa terlebih dahulu menampilkan senyuman khasnya yang mampu membuat ketiga gadis itu terpesona akan kesexsian senyumannya.


" Setiap perusaahan besar pastinya membuat segala bentuk pelaturan yang akan di terapkan,agar seluruh staf perusahan tersebut bisa bersikap di siplin dan profesional,tidak mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan itu hal utama yang harus di perhatikan.Tapi untuk masalah pribadi saya mempunyai cara tersendiri untuk membuat peraturan tersebut.Saya rasa itu semua tergantung dari kita cara menyikapi permasalahan-nya." Jelas Angkasa membagikan tatapannya ke pada Mona dan kedua sahabatnya dengan tersenyum hangat.

__ADS_1


Mona dan kedua sahabatnya saling berpandangan mendengar pernyataan pria berkarismatik tersebut cukup menenangkan suasana hatinya mereka.


Ketiga gadis itu saling bertatapan satu sama lain dengan berbagai perasaan yang berarti.


" Gue rasa,gue gak akan salah mendukung jika elo mampu membuka hati untuk pria ini." Bisik Tamara seraya melirik penuh arti pria tersebut.


Amel tersenyum lebar saat melihat sikap polosnya Tamara yang begitu antusias menanggapi sikap sahabatnya tersebut.


" Gimana Mon ?" Tanya Angkasa menatap tak sabar.


" Akan aku pertimbangkan kembali Kas atas tawaran kamu itu." Balas Mona tersenyum ragu.


" Iya aja sih Mon !gak usah pake acara di timbang-timbang segala,emang lo mau beli buah mangga apa,di timbang dahulu?" Celoteh Tamara dengan gusar.


Dengan repleks Mona menyikut tubuh gadis itu sehingga Tamara terlihat meringis menahan sikut Mona yang mendarat tepat di pingganya.


" Makasih banyak atas tawaran pak Angkasa,saya sih berharap Mona mau bersedia menerima tawaran dari bapak,yang pastinya tawaran ini adalah tawaran yang sangat berharga untuk dia." Amel menyela dengan penuh arti,seakan-akan ia memahami perasaan pria itu terhadap sahabatnya,Mona.


" Harapan yang sama saya harapkan." Tungkas Angkasa dengan melemparkan senyuman manis kepada Mona yang saat itu tepat sedang memandanginya dengan penuh seksama.


Dan mereka pun terlibat dalam aksi tatap-tatapan yang sanggup menggetarkan kedua hatinya masing-masing.


Ya Mona merasakan tatapan pria itu membekas di hatinya dan merasakan perasaan itu terasa begitu indah mengalir di setiap aliran darahnya hingga bermuara di hatinya,merasakan tiap debarannya itu menjadi kekuatan yang tak bisa ia gambarkan dengan apapun di dalam sanubarinya.


***********


EMPAT puluh lima menit yang lalu Mona sudah tiba terlebih dahulu di afartemenya,ia melepaskan sepatu pletnya lalu merebahkan sejenak badannya di sofa melepas lelah yang menggelayuti tubuhnya dengan menatap beberapa kantong belanjaan yang di belinya dari supermaket terdekat.


Sore ini ia sengaja pulang lebih awal untuk menyiapkan makan malam bersama bosnya tersebut.


Semakin sering ia menyiapkan sarapan pagi untuk bosnya tersebut,sepertinya sesering itu pula sang bosnya akan merasakan masakan yang di buatkan olehnya,dan hal itu akan menjadi kebiasaan mereka selama pernikahan sandiwara itu berlangsung.Tak merasa lelah atau pun malas ia pun menyingkirkan perasaan malasnya yang menggelayut di tubuh lelahnya,ia pun tanpa menunda lama lagi segera menuju ke ruangan dapur,dan mengambil apron lalu di tempelkan di tubuhnya,siap mengeksekusi semua belanjaanya untuk membuatkan hidangan makan malam nanti.


Tak lama Banny tibanya di afartemen,hal yang pertama ia lakukan mencari keberadaan sekertarisnya itu,entah kenapa ia merasakan sesuatu yang berbeda seusai gadis itu memberikan segala pernyataan yang telah mengubah segala perasaanya.


Di lihatnya gadis itu tengah asik dengan pekerjaanya.Tak lama ia beranjak lalu berniat untuk segera membersihkan tububnya.


Tak berapa lama pria tampan itu mendatangi kembali sekertaris sekaligus istri sandiwaranya tersebut yang masih berkutat dengan pekerjaanya.


Awalnya ia hanya menatapnya dari balik pintu ruangan tersebut,namun lama-lama ia mendekat,entah kenapa ada sebuah perasaan yang menuntunnya untuk lebih dekat lagi dengan gadis itu.


Wajah gadis itu terlihat begitu lelah,namun tetap bersemangat melakukan apa yang menjadi perintahnya tersebut.


" Kenapa Kamu tidak menukar terlebih dahulu pakaian mu?" Suara pria itu mampu membuyarkan konsentarsi Mona yang sedang asik menghidangkan masakan yang baru saja matang di meja.


" Kok kamu terkejut?apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya Banny menatap lurus gadis itu.


Mona terdiam,ia hanya tersenyum hampa ke arahnya.


" Tidak ada !" Jawabnya pendek.


Pria tampan itu sepertinya belum puas akan jawaban singkat gadis itu sehingga menatap kembali dengan tatapan penuh telisik.


" Mas mau makan sekarang ?" Tanya Mona seraya melepas apron yang melekat di tubuhnya.


" Saya siapin sekarang !" Ucap lagi Mona dengan tersenyum ringan.


" Tidak,aku ingin makan malam bersama kamu." Ucap Banny datar.


Sesaat Mona menatap wajah pria itu yang terlihat sudah frees dengan balutan kaos oblong putih serta celana pendek warna favoritnya.


" Saya belum menukar pakaiaannya,dan sekalian saya ingin mandi dahulu,jadi takutnya mas keburu lapar dan ingin makan duluan ?" Tanya Mona memastikan kembali.


" Saya ingin makan malam dengan kamu,apa kamu keberatan makan malam bersama ku ?" Tanya pria itu menatap tajam.


Mona menghela sesaat melihat wajah pria itu menatap gusar ke arahnya.


" Baiklah." Balas Mona singkat,tentunya dengan perasaan kesal atas sikap tampilan bosnya itu yang di rasa kumat kembali.


Tak membutuh waktu yang lama Mona pun keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos putih kebesaran yang di padukan celana pendek dengan warna senada.Rambutnya yang masih basah tampak di biarkan tergerai begitu saja.Banny yang sedari tadi menunggunya di meja makan sesaat memandangi ke arah gadis itu yang memasuki ruang makan,dengan berpenampilan terlihat sangat lebih santai.Wajahnya di biarkan polos tanpa sentuhan make up sedikitpun.


Mona mengambil tempat duduk di meja makan tepat di hadapan pria tampan itu yang masih menatapnya dengan tatapan panjang,seolah-olah ia sedang mempertajam penglihatannya.


Mona,sigadis sederhana itu entah kenapa kian hari kian terasa lain di pandangan pria tampan tersebut,membuat pria tampan itu mengagumi dalam diamnya.


Banny tidak bisa tidak untuk terus memandang wajah sisi cantiknya Mona yang sangat natural,berbeda dengan wanita-wanita yang dulu pernah dekat dengan nya.


Mona menatap heran setelah melihat sikap bosnya yang malah terpaku menatap dirinya,sementara dirinya sudah mau memulai makan malamnya.


" Mas !" Panggil Mona pelan,membuyarkan tatapan pria tampan tersebut.


Banny menggercep saat suara gadis itu mengagetkan dirinya.


" Kenapa Mas belum makan juga ?" Tanya Mona menatap ragu.


" Kenapa kamu tidak menyiapkan makanannya untuk ku ?" Balas pria itu menoleh ke arah piringnya yang masih terluhat kosong.

__ADS_1


Mona melongo dan akhirnya ia menghela napas pelan,


Rasanya ia cukup aneh harus melayani bosnya tersebut layaknya istri dia sesungguhannya.


Dengan penuh rasa sabar akhirnya ia pun mengambilkan makanan tersebut dan menghidangkan di hadapan bosnya tersebut.


" Makasih." Ucap Banny lembut.


Hal pertama kalinya ia mengucapkan terimakasih kepadanya dengan tersenyum sangat manis, setidaknya membuat perasaanya sedikit melayang.


Mona memperhatikan wajah tampan itu dengan seksama,pernah ia berhalusinasi tentang makan malam yang romantis dengan seseorang yang ia cintai,namun itu sepertinya akan hanya menjadi halusinansi saja,karena pada kenyataannya yang sedang terjadi,ia harus moment ini selalu terasa dingin dan kaku.


Meski ini adalah pernikahan sandiwara tapi ia berharap jika pria ini akan sedikit saja bersikap manis kepada dirinya, tak harus romantis tapi setidaknya pria tampan itu memperlakukan dirinya dengan layak.


Mona tak lupa mengambilkan segelas air putih lalu di sodorkannya kehadapan pria tampan itu yang sedari tadi tak lepas memandanginya sehingga menimbulkan spekulasi lain di hatinya.


" Terimakasih !" Ucap Banny dengan tersenyum tipis.


Mona mengangguk lalu membalasnya dengan sikap yang sama.


Banny merasakan suapan demi suapan makanan yang di buatkan gadis itu begitu enak,dan dapat di pastikan ia menyukai masakan sekertarisnya itu.


" Apa yang kamu buat ini ?" Tanya Banny menoleh ke arah Mona yang masih sibuk menikmati makan malamnya.


" Itu cumi saus tiram Mas." Jawab Mona seraya menyuapkan nasi kemulutnya.


" Cumi ???" Tiba-tiba Banny terhenyak mendengar jawaban sekertarsinya itu,lalu sesaat ia merasakan sesuatu yang aneh di badannya.


" Iya mas,kenapa ?" Tanya Mona dengan heran.


Banny menghentikan kegiatan makannya lalu segera mengambil segelas air putih lalu meminumnya.Mona menatap cemas ke arah bosnya tersebut saat raut wajahnya berubah panik.


" Aku alergi ikan Cumi Mona." Balas Banny dengan menarap risau.


" Masyallah,maaf pak,eh mas !saya tidak tahu kalau mas alergi terhadap ikan cumi." Ucap Mona menatap syok.


Dan tak berapa lama Banny pun berhasil merasakan gatal di sekujur tubuhnya.


Mona yang melihat kejadian itu langsung terlihat kebingungan,dan alhasil wajah tampan pria tersebut memerah.


" Tolong kamu ambil kan obat alergiku di dalam kotak obatku." Perintah Banny seraya mengaruk pelan bagian tangannya.


Tanpa menunggu lama Mona pun berlari menuju tempat kotak obat yang selalu di siapkan oleh Banny.


Lalu tak lama ia pun sudah membawa obat tersebut dengan cepat Mona segera menyodorkan obat itu untuk segera di minum oleh bosnya tersebut.


Dengan cepat Banny pun meminum obat tersebut,Mona yang duduk di sampingnya menatap dengan cemas ke arah wajah pria itu yang seketika kulitnya mengeluatkan bintik-bintik merah yang cukup banyak.


" Maas alergi cumi ?" Tanya Mona dengan repleks menyentuh lembut pipi pria tampan itu yang terlihat mulai memerah.


Sesaat hening saat mereka saling bertatapan dengan perasaan cemas satu sama lain,terlebih Mona,gadis itu menatap dengan sejuta perasaan khawatir yang menggelayuti perasaanya,ia merasa sangat bersalah atas kecerobohan dirinya yang mengakibatkan penyakit alergi bosnya tersebut kambuh.


Banny menatap lekat ke dalam wajah gadis itu yang kini sedang menghkawatirkan dirinya,tangan gadis itu pun masih melekat lembut di pipinya.


Perlahan pria tampan itu memegangi pergelangan tangan Mona yang masih berada di pipinya lalu menatapnya dengan berbagai perasaan yang sulit di kendalikan, perlahan entah kekuatan darimana tiba-tiba saja ia mengenyampingkan sikap gensinya.


Mereka pun terlibat dalam aksi tatap-tapaan dalam satu debaran, merasakan pergerakan yang hebat di dalam hatinya masing-masing.


Perlahan napas itu kian terasa dekat membelai wajah satu sama lain,dan entah kenapa sikap mereka sesaat saling tertahan tak sanggup menolaknya untuk tidak mendekat.


Banny kian menatap dalam menikmati setiap inci garis cantiknya wajah gadis itu,dan......


Wajah mereka saling mendekat dengan perasaan yang sulit di kendalikan,mereka kian mendekat dan lebih dekat lagi, sehingga tak menyisakan lagi celah sedikit pun di antara mereka dan akhirnya.......


Bleppp.....


Bibir mereka pun saling berpagut menikmati setiap pagutan yang berlawanan.


Mata gadis itu terpejam merasakan sensasi dingin namun begitu lembut di bibirnya ia merasakan setiap sentuhan lembut bibir pria tampan itu dengan penuh gairah.


Hal pertama kalinya ciuman itu ia rasakan kembali setelah menjadi istri seorang Banny,namun perasaan itu sama seperti dulu kala ia pernah merasakan pertama kalinya pria itu mencium lembut bibirnya,tetap hangat dan membuatnya terbakar oleh rasa yang sulit ia lukiskan dengan apa pun.


Kini hal itu terulang kembali di saat ia sudah sah menjadi istri bosnya tersebut,tentunya hal ini baginya tidak perlu di permasalahkan,meksi hanya statusnya sandiwara tapi pernikahan mereka di mata hukum adalah sah,dan sewajarnya bila mereka melakukan lebih dari itu.


Satu minggu sudah mereka menjalani sebuah pernikahan baru kali ini mereka melakukan adegan seromatis ini,membuat keduanya saling tertahan dengan perasaan yang begitu bergejolak didalam dadanya mereka.


Gadis itu semakin terpejam merasakan hal sesuatu yang membuatnya sulit untuk menolak, dan akhirya ia pun menikmati ciuman itu dengan perasaan pasrah.


Banny menarik perlahan wajahnya lalu di pandanginya dengan lekat wajah gadis itu,matanya yang masih tertutup rapat dengan bibir masih menganga seolah menantang kembali dirinya untuk melupat habis bibir sensualnya gadis tersebut.


Namun ke inginannya itu tertahan ketika gadis itu perlahan membuka matanya lalu menatapnya dengan tatapan yang lembut.


Sesaat gadis itu menundukkan kepalanya lalu merapihkan rambutnya yang terurai dengan membenarkan posisi duduknya untuk tidak menghadap pria tampan itu kembali,dadanya masih berdebar tak karuan berpacu dengan adrenalinnya yang semakin membuncah.


Banny seketika ikut terpaku menatap dengan berbagai perasaan yang tertahan,seketika mereka pun hanya saling tersenyum malu dengan meyembunyikan perasaanya satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2