
" APA yang kalian bicarakan tadi ?" Banny mengawali pembicaraanya.
Mona yang tengah menikmati makanannya terhenti lalu menatap lurus ke arah pria tampan itu.
Sesaat Mona merasakan jantungnya berdebar ketika pria itu mempertanyakan perihal dirinya dengan Angkasa.Namun sepertinya ia harus mengendalikan diri untuk tetap jual mahal di hadapan pria itu.
" Tidak ada !" Balas Mona dengan singkat.
" Aku perhatikan kamu semakin akrab dengan pria itu ?" Cecar pria itu tidak puasa dengan jawabannya Mona.
Mona terdiam mencoba mencerna apa yang di ucapkan pria itu.
" Saya rasa,saya berhak untuk berteman dengan siapa pun dan itu termasuk pak Angkasa." Ujarnya dengan tersenyum tipis.
Banny mendecih menampilkan raut muka tidak suka atas jawaban gadis itu.
" Ada masalah ?" Tanya Mona menatap curiga setelah melihat reaksi wajah pria itu terlihat meledek dirinya.
Pria tampan itu menggeleng dengan tersenyum palsu.
" Apa kamu tidak merasa jika pria itu mengharapkan sesuatu hal darimu !" Ucap Banny dengan datar.
" Saya tidak bisa melarang dia untuk suka terhadap saya.Jadi apa pun yang dia rasakan itu urusan dia." Jelas Mona dengan kembali melanjutkan kegiatan makanannya.
Banny terdiam merasakan ucapan gadis itu cukup menusuk tajam hatinya.
Dia sadar jika akhir-akhir ini sikap perempuan yang di jadikan istri sandiwaranya tersebut terkesan cuek serta dingin terhadap dirinya.Tatapan pria tampan itu membeku.
" Mona,aku akan mengundur waktu perceraia kita." Ucap Banny dengan suara melemah.
DI UNDUR ???
Gadis itu melotot ke arah pria tampan itu.Gelas yang berisi air minum itu posisinya masih menempel di mulut gadis itu,tertahan dengan kata-kata yang ucapkan pria tampan itu.
Perlahan gelas itu pun menurunkan gelas tersebut,hanya seteguk kecil air minum yang masuk kekerongkongan nya itu pun ia merasa jika air yang telah di minumnya berubah rasa menjadi terasa pahit di pangkal lidahnya.
Kenapa ???
Wajah gadis itu menatap dengan resah.
" Kenapa harus di undur ? " Tanya Mona tak percaya.
" Kamu keberatan ? " Pria itu balik bertanya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
" Tentu saja.Perjanjian yang kita sepakati kita hanya bersandiwara hanya seratus hari dan tidak lebih,bukankah itu yang mas bilang kepada saya ?" Ucpa Mona dengan suara cukup keras.
Banny menoleh ke arah sekitarnya dia menatap cemas jika ada orang lain mendengar percakapan mereka.
" Apa kamu tidak menyadari jika papahku justru memberi kepercayaan di luar perkiraanku.Aku tidak mungkin menceraikan kamu di saat kondisi seperti ini ! dimana posisi karirku lagi di atas." Ucap Banny dengan sedikit memelankan suaranya.
" Dan itu bisa membuat reputasi anda akan buruk." Ujar gadis itu dengan sarkastik.
Tulang rahang pipi pria tampan itu mengeras tegas setelah mendengar gadis itu menyela dengan ucapan yang cukup membuatnya terpojok.
" Sepertinya saya tidak bisa merubah kesepakatan yang telah kita buat." Ujar Mona tegas,ia berusaha untuk sok jual malah.Namun jauh di dalam hatinya ia merasa ragu akan tindakannya tersebut.
Banny tercekat seraya menarik napas panjang,menatap gadis itu dengan berbagai perasaan dia tidak tahu percis kapan sikap gadis ini mulai berubah keras kepala terhadap dirinya.
Raut wajah tampan itu menatap dingin.berbagai pikiran mulai berkecambuk di benaknya,tidak mungkin bagi dirinya jika harus menceraikan Mona dalam kondisi seperti ini,dimana performa perusahaan nya sedang atas puncak kesuksesannya.
Lalu apa tanggapan sang Ayah nya nanti jika dirinya menceraikan Mona tanpa alasan.Di tambah gadis itu kini mulai terlibat dalam pengelolaan anak cabang perusahaannya tersebut,tentunya ini akan menjadi masalah besar yang akan mengancam kesehatan serta kepercayaan sang Ayahnya.
Banny terdiam dia semakin dilema dengan sikap yang di tunjukan Mona terhadap dirinya.
Kenapa gadis itu begitu bersemangat bercerai dengan dirinya ??
Ah rasanya prasangka nya mulai tertuju akan kehadiran sosok Angkasa di hati gadis itu.
Apakah mungkin mereka merencanakan sesuatu ?
Tidak,tidak !!! tidak mungkin dia harus kehilangan gadis ini dengan hal seperti ini.
Banny menggeleng,perasaanya kembali di hantui rasa takut kehilangan yang semakin nyata.
" Aku yang berhak untuk memutuskan sandiwara ini,dan aku akan memutuskan untuk menambah....." Ucapan Banny menggantung kalimatnya langsung di potongnya oleh gadis itu.
" Mas." Sergah Mona dengan cepat.
Bola matanya membulat sempurna menatap tajam ke arah pria tampan itu.Inilah yang tidak Mona sukai dalam diri seorang Banny yang selalu bersikap diktaktor dan tak kenal kompromi.
" Jadi berapa lama lagi saya harus bersandiwara,dua bulan,tiga bulan,atau hingga waktu yang tidak bisa di tentukan ?kenapa kesepakatan itu mas tidak di tepati ?" Tanya Mona tak percaya sekaligus kecewa terhadap pria dingin itu.
Gadis itu tidak bisa lagi menahan emosinya kali ini,di rasanya seenak jidat saja pria tampan itu memutuskan sesuatu hal kepadanya.
" Kasih waktu aku dua bulan lagi." Putusnya pria itu pada akhirnya.
Mona menatap kian tak percaya dengan posisi bibir mungilnya menganga.
" Apa ?? Nggak,saya tidak mau selama itu ?" Ujar Mona dengan membuang muka merasakan kejengkelannya kian tertambah.
Banny mendekap tangannya di depan dada lalu menyoroti gadis itu secara intens.Berusaha untuk menelaah lebih jauh reaksi gadis itu.
" Saya sudah tidak ingin bersandiwara lagi,dan saya tidak mau menunggu terlalu lama lagi." Pinta Mona dengan tertunduk nada bicaranya penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Baginya bersandiwara dengan seorang Banny hanya akan membuat perang batin.Mencintai namun tak bisa memilikinya.
Banny mengerang dengan frustasi.
" Pokonya aku tidak akan menceraikan kamu pada akhir bulan ini. " Ujarnya dengan ketus.
" Kita bisa melakukan hal cara lain mas,agar kita terlihat masih bersama tapi tidak dengan menunda perceraian kita." Tekan Mona pada akhirnya.
" Tidak bisa,berikan aku waktu untuk merubah keputusan ku ini,untuk sesuatu hal yang lebih berarti." Ucap Banny dengab setengah berbisik.
Mona tertegun,kedua alisnya terlihat terangkat tinggi mencoba mencerna arti dari ucapan pria tampan tersebut.
Keputusan apa yang di maksudnya ?
Kulit dahi gadis itu terlihat berkerut cantik mengekspresikan dirinya yang tak mengerti akan ucapan pria tampan itu ia pun berusaha berpikir keras akan hal itu.
Tepat gadis itu akan berkata kembali Banny sudah menempelkan jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan gadis itu untuk tidak bicara lagi.
" Kita akan bicarakan kembali pembicaraan ini,papah memanggilku." Ucap Banny seraya menoleh ke arah sang Ayah yang memanggil dirinya dengan lambayan tangan.
Mona menghela kasar,menatap kecewa langkah pria tampan itu.gadis itu merasakan hatinya benar-bebar dongkol dengan keputusan Banny yang secara sepihak.Akan tetapi sejurus kemudian entah kenapa perasaannya tiba-tiba merasa bahagia bukan main atas ucapan misterius pria tampan itu yang meminta waktu kepada dirinya untuk merubah keputusan yang berarti.
Apakah mungkin jika pria tampan itu akan mempertimbangkan perasaan nya terhadap dirinya itu ??
__ADS_1
Atau.....???
TIDAK !!!
Rutuk Mona dengan kesal.
Jangan pernah lagi berharap lebih akan perasaan pria dingin itu,semua apa yang di pikirkannya tidak benar.
Mona menghela dengan perasaan frustasi.
" Gue tau apa yang elo pikirkan saat ini. " Suara pria mengejutkan gadis itu yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mona menahan tatapannya lalu dengan cepat gadis itu pun menoleh ke arah suara pria tersebut.
" Zean ?" Pekik Mona tersentak setelah melihat si pemilik suara itu,yang tiada lain Zeanu yang mengambil duduk sampingnya.
" Sorry !! gue tadi sempat mendengar sedikit obrolan lo berdua." Ujar Zeanu tersenyum enteng.
" Jadi elo menguping ? " Tanya Mona mengernyit.
" Hanya sedikit,dan itu tidak sengaja." Balas Zeanu tersenyum.
Mona merengut dengan sedikit manja atas sikap pria berwajah tenang itu,namun sejurus kemudian raut wajahnya terlihat menatap berat.
" Banny menunda perceraiann ini. " Keluhnya pelan.
" Gue tau itu." Ujar Zeanu dengan suara berat.
" Apa yang mesti gue lakukan ? " Tanya gadis itu dengan perasaan resah.
Zeanu menghela.
" Orang tua Banny terlalu sayang sama elo,sehingga beliau mempercayai elo untuk mengelola perusahaannya ini." Terang Zeanu tersenyum hambar seraya menegedarkan pandanganya ke seluruh pelosok tempat itu.
Mona tertunduk dengan perasaan kian tak terelakan.
" Percaya atau tidak,gue rasa beban ini akan terasa kian berat." Ungkap Mona menatap nanar Zeanu.
Pria berwajah tenang itu memahami atas apa yang sedang di rasakan gadis itu.
Ingin rasanya ia menyumbangsihkan separuh dadanya untuk jadi sandaran gadis itu sehingga memberi rasa tenang yang tak ia dapati dari seorang mana pun tak terkecuali Banny.
Tak mudah baginya untuk melewati sandiwara ini dengan tidak melibatkan perasaan nya satu sama lain.
" Gue tau jika elo saat ini sedang membatasi perasaan lo terhadap Banny,walau kenyataan nya elo tak mampu." Ucapnya dengan nada bicara berbeda.
" Elo tak hanya menguping,tapi elo juga pandai menerka-nerka perasaan orang." Ucap Mona dengan tersenyum penuh ironi.
" Logika saja,jika elo berada dalam satu ikatan yang mengharuskan diri elo satu atap dengan seorang pria,terelebih pria itu lagi sekelas Banny,tentunya perasaan elo akan terlibat meskipun itu hanya sandiwara.Cepat atau lambat engkau akan merasakan hal yang tak biasa." Jelas Zeanu dengan perasaan sakit.Sakit atas dirinya mengetahui perasaan gadis itu menyukai Banny yang sudah terlalu dalam.
" Dan elo menuduh gue sudah terlalu cinta dia ??" Tanya Mona memiringkan wajahnya menyimak wajah pria berwajah tenang itu dengan seksama.
" Meby yes meby no. " Zeanu mengangkat kedua tangannya dengan pasrah.
Mona tersenyum miris,tentunya ia memahami apa yang di rasakan pria itu dengan perasaan hatinya.
" Zean,lo selalu bersikap seperti itu !" Guman Mona dengan perasaan berat.
" Gue mengenal lo lebih dari itu !" Ucap pria itu dengan pelan.Ia menoleh ke arah gadis itu dengan sejuta perasaanya yang kian meresah.
TUHAN tidak adil rasanya harus mempertemukan dirinya dengan gadis ini hanya sebagai seorang kakak sambungn jelas ini pengalihan takdir yang tak adil bagi dirinya.
Mona terdiam merasakan sorot mata pria itu kian menusuk perasaanya.
" Tapi kadang elo suka bersikap so tahu atas perasaan ini. " Mona kembali mengelak,bola matanya yang belo mengerling dengan manja hingga membekas dalam di netra pria berwajah tenang itu.
Zeanu mendecih seraya tersenyum penuh ironi.Ia tahu jika gadis yang di sampinya itu sedang menutupi perasaan yang sesungguhnya.
" Jika terbukti lo mencintai Banny,apa yang akan gue dapat ? " Tanyanya dengan tatapan luar biasa sakitnya.
Mona menatap cepat membalas tatapan itu dengan kian resah.
" Zean,berhenti untuk tidak ikut campur perasaan gue. " Sergah Mona kecewa.
" Gue peduli Mon. " Balasnya pelan.
Mona menghela pelan merasakan hatinya terasa meleleh dengan sikap tulusnya seorang Banny.Jika ke adaanya tidak seperti ini tentunya dia tidak akan serumit ini menyimoan perasaannya di hati.
Zeanu tertunduk merasakan sesak menghimpit dadanya.Hingga saat ini ia belum mampu menghapus semua perasaanya terhadap sosok gadis ini,meski dirinya berusaha untuk menghapus rasa itu namun nyatanya semua itu hanya sia-sia.
" gue tidak suka jika harus membahas perasaan itu." Mona mengalihkan wajahnya ke arah lain dan.....
Tapp.....
Pandangannya terbentur ke salah satu meja yang terdapat seorang gadis berserta tiga pria yang dia kenal.
Mona menatap panjang ke arah tempat itu dan ia pun melihat dengan jelas Arnetta bersama tiga pria yang sedang asik bercengkrama,adalah ketiga pria itu tiada lain,Banny beserta Ayahnya dan pak wisnu Ayah dari gadis cantik itu.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan,rasanya itu tak perlu tahu bagi dirinya.
Mona tertunduk seraya meremas jari-jarinya dengan resah.
" Mona !" Panggil Zeanu pelan.
Mona menoleh.Tatapan mata pria itu begitu dalam seakan-akan menyiratkan kegundahan hatinya yang dalam.
" Gue tidak berharap Banny akan mencintai lo seutuhnya.Karena pastinya gue akan menangunggung semua rasa sakitnya atas cinta yang tak pernah gue miliki." Ucap pria itu dengan nada bicara yang sulit sekali Mona artikan.
Gadis itu terkesiap atas pernyataan pria itu yang menbuat hatinya kian terrenyuh.Ia melihat jika pria itu kini sedang tidak bercanda kepadanya.
" Zean,gue mohon jangan bahas masalah itu." Ungkap Mona menatap dengan berbagai perasaan dan ia dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah pria itu sulit sekali ia lupakan.
Kenyataanya benar jika pria yang ada di hadapannya ini begitu tulus mencintainya meski perasaanya terhalang dengan ikatan yang tidak memungkinkan dirinya membalasnya namun ia sadar betul jika dirinya mempunyai perasaan yang sama.
Tak dapat di pungkiri jika sosok Zeanu lah pria pertama yang mampu menggetarkan hatinya setelah sekian lama perasaanya mati suri.Dia adalah pria yang pertama memercikan bara api asmaranya namun......
Mona menggeleng ia tidak ingin menghadirkan kembali perasaan itu setelah tahu perasaan terbesarnya hanya tertuju kepada pria Angkuh itu.Mona menyapu wajahnya dengan tangan merasakan kegelisahannya kian meresahkan pikirannya.
" Elo harus melupakan perasaan itu selamanya. " Ucap Mona pelan tanpa menolehnya.
Zeanu menatap wajah gadis itu dari samping menyimak setiap inci garis wajah gadis itu,tak lama ia pun menarik napas panjang melepaskan perasaan penat yang bercokol di benaknya.
*************
" Monnalitta !!" Seru kedua sahabatnya antusias.
Mona langsung menutup telinganya ketika kedua sahabatnya itu menghampiri dirinya.Betapa cemprengnya suara yang di miliki gadis berponi pendek itu hingga lengkingan suaranya memenuhi gendang telinganya tersebut.
__ADS_1
" Kenapa sih kalian harus teriak-teriak kaya gitu manggil gue,bikin telinga gue budeg ?" Tanya Mona seraya tersenyum sebal.
" Akhirnya gue bisa juga ketemu sama elo setelah seharian elo nemenin paksu elo di acara peresmian anak cabang perusahaan elo,Opss maksudnya perusahaan mertua lo." Ralat Tamara dengan enerjik.
Mona menggeleng melihat kelakuan barbarnya seorang Tamara.
Amel menarik kursi lalu duduk di hadapan sahabatnya itu.
" Gimana Mon,apa jabatan lo di anak cabang perusahaan ini ?" Tanya Amel dengan menatap tak sabar.
" Staaf Menejer ! " Balas Mona pendek.
Bola mata kedua sahabatnya Mona terbelalak lebar menatap tak percaya ke arah sahabatnya itu.
" OH MY GOOD !!" Pekik keduanya histeris.
" Sstt !!,lo berdua gak usah ribut !" Pekik Mona menyuruh kedua sahabatnya untuk memelankan suaranya mereka.
Kedua gadis itu saling cekikikan menahan kelucuan yang di ekspresikan Mona melalui raut wajahnya.
" Gue rasa elo perlu banyak meneraktir gue. " Amel tersenyum dengan semeringah.
" Gue juga." Balas Tamara tidak mau ketinggalan.
Senyum gadis itu pun langsung terbit seketika melihat begitu besarnya antusias dari kedua sahabatnya tersebut.
" Tapi,kok elo kelihatannya gak bahagia bener deh atas jabatan yang mertua lo kasih ?" Tanya Amel menatap penuh selidik.
Mona menggeleng dengan perasaan yang tak menentu.
Kedua sahabat Mona saling berpandangan satu sama lain dengan perasaan mulai was-was.
" Kalian perlu tahu,jika pak Banny menunda percerainnya." Ujar Mona dengan suara tertahan.
" Whatt ??? " Seru kedua gadis kompak.
Beberapa tamu yang masih terlihat ngobrol-ngobrol menoleh secara refleks atas kegaduhan yang di ciptakan oleh kedua sahabat gadis tersebut.
Amel beserta Tamara tersenyum pasi saat beberapa pasang mata tertuju kepada mereka.
" Dengan alasan di karekan saat ini gue sedang terlibat dalam perusahaannya ini,jadi pak Banny beralibi untuk tidak menceraikan gue karena dia tidak ingin mengacaukan keinginan papahnya sementara waktu ini,sekaligus ia tidak ingin karirnya berakhir dengan adanya kasus perceraiann ini." Terang Mona dengan terlihat menahan emosi.
Tamara masih melongo menatap tak percaya sahabatnya.
Namun di balik pernyataan Mona,justru Amel terlihat tersenyum-senyum sendiri seolah-olah sedang menyakini sesuatu hal.
" Gue yakin jika itu seluruhnya bukan alasan utama dia semata saja untuk menunda perceraian lo." Imbuhnya dengan tersenyum sinis.
" Maksud elo ? " Mona menyela dengan cepat.
" Elo jangan memulai asumsi yang meresahkan Mona mau pun gue." Sergah Tamara mulai menolak akan asumsi sahabatnya itu.
" Yaah bilang saja jika pak bos itu mau memperpanjang perasaanya terhadap elo.hehehee " Sambung Amel dengan terkekeh.
" Shittt !!" Ucap Mona mendengus kesal.
" Gue rasa itu." Ucap Amel dengan pasti.
" No,no,no,no.Ingat Mona jangan dengarkan syaitan berbicara.Lo harus tetap fokus dengan ttujuaan elo menerima pekerjaan ini sebagian besar hanya untuk kompesasi atas perceraian lo ini,jadi jangan tergiur dengan iming iming yang di janjikan pria salju itu." Tamara berusaha menguatkan pertahanan keyakinan sahabatnya itu.
Bola mata gadis berwajah bulat itu melirik ke arah Tamara tanpa ekspresi.Rupaya salah satu sahabatnya ini belum bisa menyetujui akan pernyataanya tersebut.
" Ngomong apa sihh lo Tam?" Tanya Amel dengan gusar.
" Jangan membuat perasaan Mona labil." Sergah lagi Tamara dengan galak.
" Terserah elo deh Tam,gue kan hanya bersasumsi doang." Balas Amel dengan santai.
" Gue yakin itu hanya pengalihan asumsi doang." Tamara menimpali dengan gusar.Amel mengankat acuh pundaknya.
" Berapa lama lagi pak Bos akan menunda perceraian lo itu Mon ?" Tanya Amel menatap lurus Mona.
" Hingga dua bulan kedepan." Jawab Mona datar.
" Itu artinya lo di beri kesempatan kembali untuk....." Ucapan Amel terjeda sesaat gadis berponi pendek itu menyela dengan nada jauh lebih sewot lagi.
" Kecewa lagi ?nangis,nangis lagi.Rasanya itu terlalu lebay." Gadis itu pada akhirnya mendegus dengan kesal.
" Masalahnya yang memilki keputusan disini adalah pak Banny Tam,Mona tidak bisa berkuasa sepenuhnya.Yaa nikmati saja selama dua bulan itu,toh itu perkara yang tidak terlalu menakutkan lo hanya menemani pak tuan itu hingga misi elo berhasil." Balas Amel santai.
" Lambe mu !!! di pikir dengan satu atap satu rumah dengan tuan salju itu tidak pake perasaan." Lagi-lagi Tamara menolak keras akan usulnya Amel dengan sedikit marah.
" Lo masih ingat pepatah jawa kuno ? " Amel meledeknya.
" Kagak ! gue udah lupa dan gue sama sekali gak mau ingat." Bantah Tamara mulai terlihat jengkel.
" Mau gue ingatkan lagi ?" Pancing Amel semakin menyelbalkan.
Mona tersenyum geli melihat kelakuan kedua sahabatnya itu yang tiada dua kekonyolannya.
" Engak,enggak !!! " Tolak Tamara melengos dengan kesal.
" Kalian itu selalu saja ribut ujung-ujungnya jika gue sedang bermasalah." Mona menyela.
" Karena gue percaya pak Tuan itu ada rasa sama lo Mon." Amel membela diri mempertahankan asumsinya.
" Tahayull !!" Tamara menepis dengan ketus.
Amel tersenyum lucu melihat kegusaran yang di tunjukan Tamara kepada dirinya semakin ketara.
" Lo tidak yakin ?" Kembali Amel meledek sahabatanya itu.
" Gue lebih percaya jika pak langit biru lebih sayang sama elo." Ucapnya menatap serius.
Mona dan Amel saling berpandangan satu sama lain.
Rupanya kedua sahabatnya itu memiliki pandangan masig-masing tentang kriteria pria yang baik untuknya.
Mona tersenyum lembut mencoba mengapresiasikan pernyataan salah satu sahabatnya itu.
" Pak Angkasa Tam." Sela Mona tersenyum.
" Yaa siapa pun dia,gue respek sama dia." Gumannya pelan.
" Kenapa gak jadian aja sama lo ? " Ledek Amel tersenyum keki.
Mata gadis berponi itu menyipit menampilkan kerutan di kulit dahinya begitu rapat.
__ADS_1
" Kalau dia suka sama gue,udah dari kemarin gue ajak kawin !!" Ucap Tamara dengan cemberut,wajahnya tertekuk sempurna.Kesal bercampur emosi menjadi satu di benaknya bak gunung merapi yang siap meletuskan larvanya.
Sontak Mona beserta Amel tertawa lepas ketika melihat ekspresi wajah gadis berponi pendek itu begitu terlihat menakutkan namun sedikit menyebalkan.