
ZEANU menatap sepi ke arah langit malam yang kelam,dan malam ini sepertinya hanya bersenandung kesunyian,menampilkan sebuah lamunan panjang hingga menerawang menembus langit hitam.Nuansa malam ini memang terasa begitu melow, semelow hatinya,malak ini benar-benar terasa sunyi sepi yang hanya di terangi oleh samar-samar cahaya lampu di taman kota.
Zeanu masih duduk dengan termenung seorang diri merasakan kekecewaan mulai merasuk kedalam jiwanya, perlahan perasaan kecewanya mulai memupuskan harapanya untuk sebuah perasaan yang terdalam.Zeanu menatap jauh ke ujung langit sana pikiran dan perasaanya masih bercokol dengan perkataan sahabatnya yang akan melamar Mona dalam waktu yang dekat ini dan perempuan yang akan di lamar nya itu adalah perempuan yang selama ini ia cintai.
Di hembuskan napasnya kuat-kuat sepertinya rasa sesak itu tidak berkurang di dadanya malah kian bertambah menekan.
Di pandanginya gengaman tangannya yang bertumpu di pahanya dengan mata terasa perih, kenapa tidak ?perasaan itu harus terhenti dengan perasaan solidaritasnya terhadap sahabatnya tersebut dan ia sadar jika seorang Banny tidak mungkin bermain-main dengan perkataanya tersebut karena dia tahu siapa Banny sebenarnya.
Tapi tiba-tiba perasaanya gamang,bukankah Banny melakukan ini semua atas kehendak orang tuanya ?
apa mungkin ia berkata seperti itu karena mengetahui jika dirinya menyukai Mona,bisa saja kan Banny membuat ia cemburu.
Akh rasanya cukup rumit juga jika ia harus memikirkan hal itu,jika memang Banny mulai mencintai Mona kenapa tidak?bukankah sewajarnya sahabatnya itu mulai membuka hatinya untuk cinta yang lain ?
Pria itu menggeleng dengan perasaan kian sulit.
" Zean !!" Panggil seseorang itu dengan lembut.
Zeanu terhenyak lalu ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Mona !!" Pekik nya dengan kaget.
" Lo kok ada disini ?lagi ngapain ?" Tanya heran setelah mengetahui yang mengejutkan nya adalah Mona,gadis yang tengah di pikirkannya.
" Gue abis ada acara bareng sahabat gue,pas tadi lagi di taxsi gue lihat lo jadinya gue turun dulu dan nyamperin elo." Ucap Mona seraya duduk di samping Zeanu yang masih menatapnya dengan bingung.
" Lagi ngapain sih kok kaya orang bingung gitu ?mana bengong sendirian di taman lagi tar kesambet loh !" Ucap Mona menggoda pria berwajah tenang itu.
Zeanu tersenyum kaku seraya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Sejenak hening......
Mona menoleh ke arah Zeanu dengang canggung ia dapat menangkap kilasan raut wajah Zeanu memang berbeda tak hangat seperti biasanya.
" Gue ganggu yaa ?" Tanya Mona dengan ragu.
Zeanu menoleh lalu menggeleng seterusnya tersenyum tipis.
Tak lama ia kembali menatap kepalan tangannya yang berada dipangkuannya tersebut.
" Kenapa sih?Kok lo jadi diem gitu ?" Tanya Mona dengan penasaran melihat sikap Zeanu yang sedikit berbeda.
" Mon ! " Panggil Zeanu dengan gamang,sepertinya ia berat untuk mengatakan seseuatu.
__ADS_1
Mona menoleh dengan mengekspresinya wajah terlihat penasaran.
" Kenapa ?" Tanya Mona singkat.Zeanu lagi-lagi terlihat resah.
" Lo mau di lamar Banny ?" Akhirnya pertanyaan itu lepas juga dari mulutnya dengan meski penuh perjuangan.
DEG........
Mona terdiam lalu ia pun menarik badannya untuk bersandar di sandaran kursi taman tersebut dengan tatapannya lurus kedepan.
" Banny akan melamar lo atas sebuah sandiwara kan ?" Tanya lagi Zeanu menoleh ke arah Mona yang mulai terlihat gamang.
Mona kembali terdiam sepertinya ia pun kebingungan untuk menjawab yang sebenarnya, karena dirinya paham jika sikap Zeanu belakangan ini memang sudah terasa berbeda terhadap dirinya.
" Jujur saja ! Gue udah tahu semuanya Banny yang ceritakan hal ini." Ucap Zeanu mengalihkan pandanganya ke tangannya yang masih meremas jari jemarinya sendiri.
Mona menatap dalam ke arah wajah pria itu yang memilih tertunduk dalam.
" Yaa !! tapi lamaran itu hanya untuk sandiwara saja." Balas Mona dengan suara tertekan, ada perasaan yang sulit untuk dia jelaskan terlebih dengan perasaannya tentang sebuah balas budi kebaikan.
" Gue sebenarnya bingung dengan perjodohan ini,antara menolak atau menerima gue masih dilema." Jelas Mona dengan menatap lembut Zeanu.
" Sampai kapan lo akan bersandiwara dengan Banny ?" Tanya Zeanu menatap cemas.
" Terkadang perasaan itu harus kita kesampingkan ketika kita di hadapkan dengan kebaikan seseorang,terlebih orang itu yang telah berbuat baik kepada kita,Bahkan jika tidak mampu membalasnya maka perasaan kita lah yang akan menjadi taruhannya." Ucap Zeanu menatap sepi langit malam.
Mona terdiam ia meresapi kata-kata yang di ucapkan Zeanu yang benar adanya dan itu terjadi kepada dirinya kini dia harus merelakan perasaannya untuk di jadikan sebuah sandiwaraan saja.
" Tapi....;" Ucap Mona menggantung.
" Tapi apa ?"
" Gue di lema Zean,Pihak keluarga gue juga akan menjodohkan gue jika gua tidak mampu menemukan jodoh gue sendiri,Makanya gue pikir adanya pak Banny mau melamar gue bisa di jadikan alasan gue untuk menghindar dari perjodohan keluarga gue." Jelas Mona dengan tertunduk.
" Lo mau di jodohkan juga ?"
" Yaa,Nenek gue meminta gue untuk terima perjodohannya jika gue tidak bisa mendapatkan jodoh sendiri." Ucap Mona dengan meremas jari-jarinya.
Zeanu menarik napas panjang lalu ia membuang jauh pandanganya ke arah langit sana wajahnya menengadah frustasi,Jika seperti ini permasalahannya maka peluang dia untuk mendapatkan Mona semakin kecil tidak ada kemungkinan jika peluang itu dia bisa dapatkan.
Mona menatap ragu ke wajah Zeanu yang masih menatap lagi sepi jakunnya terlihat naik turun seakan akan Zeanu sedang menahan sesuatu rasa yang teramat dalam.
" Zean !" Panggil Mona dengan menatapnya lembut.
__ADS_1
Zeanu menurunkan wajahnya lalu menoleh ke arah Mona.
" Lo baik baik saja ?" Tanya Mona dengan menatap dalam ke wajah Zeanu yang terlihat menyimpan beban yang teramat mendalam.
Zeanu tersenyum tipis lalu menatap penuh arti ke arah Mona.
" Gue baik baik saja." Balasnya pelan dan singkat.
" Ok.Kalau gitu gue balik dulu yaa,Udah malam nii besok lo kerja kan ?" Ucap Mona seraya berdiri untuk berpamitan pulang.
" Mona !!" Panggil Zeanu cepat.
Tubuh Mona mengantung di udara dia menahan badannya untuk berdiri lalu ia kembali terduduk saat Zeanu menahanya.
" Kenapa Zean ?"
" Gue antar pulang ya." Ucap Zeanu menatap berat ke arah Mona.
" Tapi !!" Ucap Mona menggantung ia tidak meneruskan pertanyaanya setelah Zeanu meraih tanganya lalu mengajaknya untuk segera berdiri.
" Untuk yang terakhir kalinya gue anter lo pulang ya !" Ucapnya Zeanu dengan lirih seraya menuntun Mona untuk berjalan.
Sambil berjalan pelan Mona menatap langkah Zeanu yang menuntun dirinya berjalan.
" Yang terakhir ?,Emang lo mau kemana see ?" Tanya Mona dengan heran.
" Kalo lo udah di lamar Banny gue gak akan bisa nganter lo pulang lagi." Balas Zeanu dengan tersenyum hambar ke arah Mona.
Mona mengernyitkan kedua alisnya dan menatap heran dengan sikap Zeanu yang seolah-olah keberatan untuk merelakan dirinya dirinya di lamar Banny.Tetapi ia hanya bisa pasrah dan tidak bisa menolak lagi ketika Zeanu menarik tangannya dan berjalan menuntunnya.
Mona memandangi tangan Zeanu yang masih menggengamnya dengan erat dan berajalan menuju motornya Zeanu yang terparkir di tepi jalan.
Ada rasa yang tak biasa Mona rasakan dari gengaman tangan itu yang berujung sebuah perasaan dilema yang membuatnya semakin bimbang.
Setidaknya sebelum ada rasa di hati tentang seorang Banny terlebih dahulu Mona sudah merasakan hal yang lain terhadap Zeanu.
Yaa Zeanulah Ternayata lelaki pertama yang telah menggetarkan hatinya sebelum pada akhirnya perasaan itu jatuh di hati sosok seorang Banny.
Zeanu pun berpikiran hal yang sama gengaman tanganya ini adalah gengaman terakhirnya ia sebelum akhirnya Mona akan jatuh di pelukan Banny yang tiada lain sahabat baiknya.
Di dalam hatinya yang terdalam ia merasakan remuk hancur yang berkeping keping ketika asa ini tak akan pernah tersampaikan,Walau hanya sandiwara namun Zeanu mampu menebak kemana alur dari hubungan Mona dengan Banny karena ia sangat paham jika Banny telah perlahan lahan jatuh cinta terhadap Mona.
Kenyataan pahit ini harus di telan mentah olehnya perasaan yang belum sempat ia nyatakanan telah pupus dengan begitu saja dan kini perasaannya itu harus terkubur dalam asanya.
__ADS_1