CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH epidoe 77


__ADS_3

MOBIL Alparhd berwarna putih sudah terparkir di lobby utama perkantoran dengan berdiri di sampingnya pak Surya sang sopir pribadi perusahaannya itu,pak Surya sudah standby sedari tadi menunggu dengan setia selepas keluar perintah dari sang bos besar untuk dirinya.


Pak Surya dengan penuh hormat menyambut kedatangan Banny dan Mona sang sekertaris,dengan sigap ia membukan pintu mobil sisi penumpang untuk sang bos.


" Siang pak Banny !" Sapa pak Surya membungkuk dengan penuh hormat.


" Siang pak Surya." Balas Banny pendek.Lalu Banny masuk kedalam mobil.


" Siang bu Mona!Sudah sehat kembali bu ?" Sapa pak Surya dengan tersenyum ramah.


" Alhamdulillah pak saya sudah bisa ngantor lagi." Balas Mona seraya menyusul Banny dan duduk di sebelahnya.


Setelah melihat sang bos beserta sekertarisnya duduk nyaman pak Surya menutup pintu dan setengah berlari memutari mobil untuk masuk dan duduk di balik kemudi.


Tak lama pak Surya menekan tombol merah untuk menghidupkan mesinn mobilnya lalu perlahan mobil Alparhd putih itu pun melaju keluar pelataran lobby.


Banny dan Mona hanya saling terdiam dengan pikirannya masing-masing,sementara pak Surya sesekali memperhatikan ke arah mereka secara diam-diam dari balik kaca spionnya.


tiga puluh menit kemudian mobil yang di kemudikan pak surya memasuki area pelataran sebuah resotan elit.


Banny dan Monapun tiba di tempat duduk yang sudah booking sebelumnya oleh Banny.Mereka tiba lebih awal dari waktu yang sudah di janjikan.Karena bagi seorang Banny datang lebih awal merupakan hal penting ketimbang harus di kejar-kejar oleh waktu.


Mona duduk tak jauh dari kursi sang bosnya itu kemudian perhatiannya sudah mulai di sibukan dengan gadged di tangannya.


Bannypun sibuk dengan beberapa pesan singkat yang masuk melalui pesan Wa,dan isi pesan itu mengenai permasalahan pekerjaanya.


Tak cukup lama untuk menunggu selang seperkian detik Zeanu pun datang tepat waktu,meski dengan meminta bantuan sang pelayan resto untuk di antar ke tempat pertemuan yang telah di booking oleh Banny.


Setelah menemukan tempat duduk yang di maksud,Zeanu pun segera menghampiri Banny dan Mona yang sudah menunggunya dengan belum lama itu.


Zeanu berjalan gontai dengan raut wajah kurang begitu bersemangat lalu ia pun memilih duduk tepat berada di hadapan Banny.


" Hai Ban." Sapanya seraya duduk dengan setenang mungkin.


" Hai Zean!Sepertinya lo hari ini kurang begitu bersemangat." Ucap Banny seraya menatap Zeanu dengan seksama.


" Hari ini sedikit kurang menyenangkan." Balas Zeanu pendek.


Mona menatap lurus Zeanu, yang kebetulan penampilan kali ini terlihat sangat santai,Zeanu yang biasa terlihat formal dan maskulin nyatanya hari ini ia hanya mengenakan pakaianya casual tanpa jas dan tanpa dasi.


" Hai Mon,gimana kesehatanmu ?" Tanya Zeanu melirik Mona yang sedari tadi sedang memperhatikannya.


" Cukup mendingan,minum obat 3x udah vit lagi." Balas Mona tersenyum canggung.


" Jaga kesehatan lo ya." Ucap lagi Zeanu dengan datar.


Banny melengos memalingkan wajahnya ke tempat yang lain ia merasa kurang seneng dengan sikapnya Zeanu yang selalu perhatian terhadap sekertarisnya itu.


" Lo mau minum kopi ?" Tanya Banny menyela.


" Tidak,lambung gue lagi kurang enak." Jawab Zeanu dengan merogoh gawai di saku celananya.


" Ok Zean,gue ke inti permasalahan saja." Ucap Banny seraya menegakan posisi duduknya.


Zeanu tidak menjawab ia hanya mengangguk dengan pasti.


" Desain gue udah ada ?" Tanya Banny menatap tajam.


" Ada beberapa desain yang gue bikin dan itu terserah lo mau pake yang mana ?" Jawab Zeanu seraya mengeluarkan laptopnya dari tas rangselnya lalu membukanya.


Tak lama kemudia laptop menyala menampilkan beberapa gambar tentang sketsa di layar laptopnya dan di putarnya leptop itu menghadap Banny.

__ADS_1


Banny menatap lurus ke arah isi layar leptopnya Zeanu yang sedang menampilkan beberapa pilihan gambar sketsa dari sebuah desain karyanya.


Sejenak Banny mengamatinya dengan cermat lalu ia mencoba menentukan ke pilihan sketsa desain yang di rasa bagus olehnya.


" Gue ambil ya ini." Ucap Banny seraya mengklik salah satu sketsa buatan Zeanu.


" Ok,untuk desain ini butuh waktu kurang lebih sekitar beberapa bulan saja untuk proses pembangunannya,intinya sii kalau tidak ada kendalan di dana pembangunanya ini bisa di garap lebih cepat." Jelas Zeanu seraya mengembalikan laptopnya untuk menghadapnya kembali.


" Gue tidak terlalu menyukai hal yang berlebihan dalam menentukan pilihan karena untuk masalah desain pembangunan yang terpenting hasil dari pembagunan itu akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan." Balas Banny dengan wajah tenang.


" Tapi model tekstur pembangunan gedung sangat kuat untuk menunjang dalam sistem kinerja sebuah perusahaan Ban,yaa jika model tekstur bagunan yang keren serta nyaman itu bisa menghasilkan energi fositif ke seluruh sistem kerjanya." Jelas Zeanu dengan penuh keyakinan.


Banny menatap datar rupanya apa yang di katakan Zeanu ada benarnya,pembangunan yang megah bisa menjadi sebuah kebanggan tersendiri untuk memiliki pasilitas gedung yang mumpuni.


" Seharusnya lo lebih paham untuk permasalahan ini,secara lo kan pernah kuliah di jurusan Arsitek." Sambung lagi Zeanu menatap pasti.


" Tapi nyatanya lo lebih berbakat dengan hal ini,pokoknya untuk saat ini gue hanya ingin terima beres aja.Dan itu artinya gue mempercakan sepenuhnya ke elo,untuk masalah pembayaran lo gak usah khawatir masalah itu." Jelas Banny menatap dingin Zeanu.


" Untuk masalah pembayaran gue tidak membuat perhitungan,anggap saja ini adalah kerja sama seorang sahabat " Tungkas Zeanu melepaskan tatapanya ke arah Banny.


" Dalam berbisnis atau berpatner jangan melibatkan urusan persahabatan,karena itu bisa mempengaruhi sebuag hubungan." Balas Banny menyangkal.


Zeanu mengangkat kedua alisnya apa yang di telah di ucapkan Banny terasa menganjal di hatinya.


" Maksud lo ?" Tanya Zeanu menatap tak mengerti.


" Lebih ke profesional saja." Ucap Banny singkat.


" Jadi ?" Ucapan Zeanu menggantung ia merasa ragu dengan apa yang di katan Banny.


" Gue gak mau melibatkan urusan persahabatan kita di urusan pekerjaannya ini.Karena gue tidak mau hasil karya hanya di nilai dengan sebuah persahabatan karena gue yakin karya lo lebih tinggi nilainya dari rasa persahabatan ini,dan gue mengapresiasikan karya itu setara dengan nilai rupiah yang harus lo dapatkan." Jelas Banny menjelaskan tanpa merendahkan nilai persahabatan dirinya dengan Banny.


" Gue tidak mau jika harus melibatkan urusan persahabatan kita dalam sebuah hubungan kerja karena itu bisa membuat ketidak nyamanan dalam menjalin sebuah hubungan unguk bekerja sama.Jadi kita tetap harus profesional sebagai mana lo adalah fatner kerja gue dan gue membayar hasil karya lo tanpa ada nilai persahabatan di urusan ini ." Jelas Banny dengan panjang lebar.


Banny menghargai sepenuhnya antara hubungan kerjanya sekaligus persahabatannya yang sudah di bina sekian lama dengan Zeanu.


" Jadi gue ambil desain yang tadi gue tunjukin,Deal ya !!" Ucap Banny tersenyum pasti.


" Ok,nanti gue kirim ulang sketsanya via internet agar rencana pembangunan anak cabang lo yang kedua cepat terrealisasikan."


" Siap,gue berharap seperti itu." Balas Banny menatap pasti Zeanu.


" Oya Zean,gue sudah mengadakan pengembangan baru di bidang property.Baru saja gue mengadakan pertemuan dengan kolega yang bersedia berinvetasi di perusahaan gue." Ujar Banny melipatkan tangan di dadanya.


Zeanu menatap dengan semeringah ke arah Banny ia ikut senang mendengar kabar baik itu.


" Keren lo Ban,mempergunakan kesempatan lo untuk menambah aset hidup lo." Sela Zeanu menyeringah.


" Gue hanya mencoba mempergunakan peluang itu sebaik mungkin,jika lo mau bergabung gue siap merekrut lo,yaaa meskipun hal ini sangat baru buat gue tapi seengganya mencoba gak ada salahnya kan ?" Ucap Banny seraya tersenyum puas.


" Gue yakin lo akan menjadi pengusaha muda yang sukses." Balas Zeanu menatap bangga.


" Semoga ." Tungkas Banny dengan tersenyum simpul.


Mona hanya menyimak semua obrolan antara sang bosnya dengan Zeanu yang sarat penuh makna.


Memang Banny tife laki-laki yang cukup di perhitungkan akan ketotalitasannya dalam membawa perusahaannya kearah kesuksesan.


Seorang pelayan datang membawakan beberapa hidangan yang sudah di pesan sebelumnya oleh Banny.


Meletakannya di atas meja sebelumnya mempersilahkan mereka untuk menikmati pesanannya.

__ADS_1


" Sepertinya tak terasa sudah waktunya makan siang,pesanan sudah di antarnya." Ucap Banny seraya menggeser leptopnya agar tidak menghalangi hidangan yang sedang di atur oleh si pelayan itu.


" Lo belum ada makan siang kan ?" Tanya Banny menoleh Zeanu.


" Belum ! Sehabis mengambil ponsel yang tertinggal gue langsung menuju keisini." Balas Zeanu melirik Mona yang sedari tadi hanya terdiam dan menyimak obrolan antara dirinya dengan bosnya.


" Kok bisa tertinggal ?" Ucap Banny seraya memindahkan sepotong steak daging ke piringnya.


" Paktor U gue." Balas Zeanu singkat.


" Usia lo belum memasuki kepala empat,kenapa harus di salahkan." Balas Banny seraya memotong-motong steak danging dengan ukuran kecil-kecil.


" Yaah selain faktor U bisa juga kena faktor B." Sela lagi Zeanu tersenyum kaku.


" Ada faktor baru ?" Tanya Banny seraya menyuapkan potongan kecil steak danging itu kemulutnya.


" Faktor BEBAN kehidupan." Jawab Zeanu setengah bercanda.


Banny mengangkat tinggi pundaknya dengan ekspresi meledek Zeanu.


" Beban menunggu akan kehadiran seseorang." Celetuknya lagi Zeanu seraya melirik kecil ke arah Mona yang sedang menyesap minumannya.


Banny menghentikan kunyaahannya lalu menatap panjang Zeanu,seolah-olah ia paham akan kemananya arah dari ucapannya Zeanu.Meski selintas terdengar hanya sekedar candaan namun Banny yakin jika Zeanu mengatakan hal itu ada maksud tertentu.


Mona menatap ragu sang bosnya lalu melihat sekilas ekspresi aneh dari raut wajahnya setelah Zeanu berkata seperti itu.


" Menunggu adalah hal yang paling membosankan jadi dari pada menunggu seseorang yang tak pasti alangkah baiknya kita mencari yang pasti." Balas Banny dengan berusaha menyindir Zeanu dengan halus.


Zeanu tersenyum tipis lalu ia mengalihkan tatapannya ke arah Mona yang mulai bersikap pura-pura tak menyimak obrolan mereka berdua.


" Yang belum pasti itu bukan berarti tidak akan pernah pasti,dan yang tak pasti itu bisa saja gue dapatkan." Zeanu menyanggah dengan tak mau kalah dari argumennya Banny.


Banny terlihat mendecih ia merasa perkataan yang ucapkan Zeanu menggandung sindiran pedas untuk dirinya.


" Kalau gue di posisi lo,bisa jadi gue mencari yang lebih pasti,karena dalam dunia berbisnis saja jika salah satu mitra kita tidak ada kepastian dalam berinvestasi maka langkah yang paling tepat adalah membatalkanya tanpa memperhitungkannya lagi maka kita pun akan mencari kembali investor yang baru ." Balas Banny kian menajamkan setiap perkataanya.


Suasana berubah menjadi tegang, Mona menatap ke arah kedua lelaki yang ada di hadapannya itu dengan harap-harap cemas.


Kedua lelaki yang tengah mempersoalkan sesuatu yang tak di mengerti olehnya.Entah kenapa Mona mulai merasakan aroma persaingan yang ketat di tengah-tengah obrolan mereka berdua.


Persaingan yang begitu nyata di antara kedua pria itu, yang sama-sama memiliki daya tarik yang mempesona.


Mona tidak mau merasa percaya diri atau pun merasa geer dengan apa yang sedang di permasalahkan dalam obrolan yang mereka bicarakan.


Mungkin tidak atau iya ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Zeanu menyorot fatner kerja sekaligus sahabatnya itu dengan tajam.Usulannya mematahkan semangatnya untuk mempertahan perasaan yang dimilikinya saat ini.


Pria yang ada di hadapannya itu kali ini membuat ia merasa kesal atas persaingan yang secara tidak langsung di tunjukan oleh sahabatnya itu dalam memperebutkan hati seorang perempuan yang masing-masing dalam sebuah masa-masa pendekatan.


Zeanu tidak bisa marah terhadapnya karena ia sangat paham jika Banny berpengaruh penting dalam kelancaran karirnya tersebut,dan dia adalah satu-satunya sahabat yang selalu ada di belakangnya dalam menyuport dirinya hingga ada dalam situasi seperti sekarang ini.


Jadi untuk kali ini Zeanu mengabaikan rasa kesalnya itu terhadap Banny,ia mentolerir perasaanya terhadap orang yang mempuyai pengaruh penting dalam kehidupannya.


" Lupakan.Kita tidak pernah tahu akan takdir seseorang." Ucap Zeanu seraya mengelap mulutnya dengan tisu.


Banny hanya mengangkat bahu dengan acuh.


Sekali lagi Mona hanya menarik napas pasrah ia menilai kedua lelaki itu sangat istimewa di matanya.


Pria sekelas Banny memang bisa menjadi orang yang paling tidak berperasaan dalam hal mengambil keputusan tipekal orang yang tidak mau ribet dan ambil peduli namun sikap ia lebih banyak ke gensi untuk mengakui kebenaran seseorang.

__ADS_1


Sedangkan Zeanu pria tipekal yang penuh kebijakan dengan kelembutan serta perhatian yang di milikinya dan pastinya semua perempuan yang di temuinya itu akan merasa sangat nyaman bila berada di sampingnya Zeanu.


__ADS_2