CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 128


__ADS_3

MONA bergegas berjalan menuju ruangan sang bos yang sedari tadi pria tampan itu memintanya untuk membawakan berkas-berkas yang akan di tanda tanginya tersebut,setelah berjalan dari lantai tiga Mona berniat akan langsung menuju ruangan sang Direktur,dan menunda ke inginanya untuk mampir terlebih dahulu ke ruanganya.


Belum saja Mona sampai di depan pintu ruangan sang Direktur itu mendadak langkahnya tertahan saat melihat pintu ruangan itu terbuka cukup lebar.


Mona melongokan kepalanya ke arah dalam ruangan itu dan menyelidiki ke dalam ruangan tersebut.


Tapp.....


Pandangannya tertuju ke arah meja sang Direktur yang sedang berbicara dengan seorang perempuan.


Mona tahu betul akan sosok perempuan yang sedang di samping bosnya tersebut.Perempuan itu Arnetta yang sedang menunjukan beberapa lembar kertas ke hadapan pria tampan itu,dan entah kenapa gestur tubuh perempuan itu sedikit berbeda dari biasanya terhadap sang Direktur muda nan tampan itu.


Mona terdiam lalu berniat untuk mengurungkan keinginanya untuk tidak masuk ke ruangan sang bosnya tersebut namun tepat ia hendak memutar balik langkahnya,dengan bersamaan mata pria itu menangkap kilasan seluit bayangannya dari dalam ruangan.


" Mona !!" Panggil pria itu dari dalam.


Mona tertahan lalu kembali menggeser tubuhnya menghadap kembali ke arah ruangan tersebut.


" Iya pak." Ucapnya pelan seraya menatap lurus sang bosnya.


" Kenapa kamu masih di situ ?masuklah!." Ujar Banny menatap tajam.


" Maaf pak,setadinya saya mau memberikan berkas-berkas yang belum bapak tanda tangani,tapi berhubung bapak lagi bersama bu Arnetta jadi..." Ucapan Mona menggantung dan melirik ke arah Arnetta dengan perasaan tak menentu.


" Panggil aku Arnetta saja bu Mona." Ucap gadis itu dengan menatap cemerlang ke arahnya.


" Oh ya,baiklah Arnetta. Jawab Mona datar.


Perempuan cantik itu selalu menyunggingkan senyuman manisnya.


Menatap seorang Arnetta seperti menatap seorang Kinan perempuan masa lalu sang bosnya tersebut.


Bedanya saja Arnetta lebih hangat di banding perempuan jutek itu.Pada akhirnya ia pun hanya melemparkan senyuman penuh makna ke arah perempuan cantik itu.


Arnetta menyerahkan map itu kepada Banny dan berniat untuk kembali ke ruangannya.


" Ya sudah mas,aku balik ke ruangan aku dulu yah,nanti rekapan laporan keuangannya aku serahin secepat mungkin." Ucap Arnetta dengan tersenyum lembut ke arah Banny.


" Ok,nanti jika ada perlu sesuatu kamu bisa kontek Mona ya." Ucap Banny tersenyum lembut.


" Baik mas." Jawab Arnetta tersenyum simpul.


Mona menyaksikan jelas bagaimana sikap perempuan itu begitu sangat akrab dengan bosnya tersebut dan entah kenapa pria tampan itu begitu lain dalam memperlakukan Arnetta berbeda halnya ketika perlakuan dirinya nyaris tak ada senyuman atau pun ucapan manis seperti layaknya ia lakukan kepada Arnetta.


Jengkel pasti iya yang kini sedang di rasakan oleh gadis tersebut,jika good looking adalah faktor yang menjadikan sebuah perbedaan tentu saja ia pun mampu berpenampilan seperti gadis itu,yang elegan dan Modis,namun bagi dirinya be your self adalah keinginannya.


Ya Mona akui jika perempuan itu memang terlihat sangat cantik serta berpenampilan matang meski usianya lebih muda darinya,Mona yang polos tanpa make up tebal itu nyaris terlihat seperti seorang Ob di kantornya di banding dengan perempuan cantik itu.


Mona semakin merasakan perasaan fesimis yang kian membelenggu perasaanya betapa pun tidak hal itu terlihat sangat mencolok bagaimana bosnya memperlakukan staf barunya itu.


" Aku permisi ya Mas." Pamit Arnetta tersenyum manja.


Sebelum perempuan itu keluar terlebih dahulu Arnetta tersenyum ringan ke arah Mona yang sedari memperhatikannya dengan berbagai perasaan.


Perempuan itu hanya manggut seraya tersenyum lembut ke Arneta yang mulai berjalan menuju pintu.


Setelah memastikan pintu ruangan itu tertutup,Mona menghela lalu menatap lurus sang bosnya perasaanya berubah sebal saat pikirannya mulai di hantui perasaan cemburu atas sikap bosnya tersebut dalam memperlakukan Arnneta sungguh sangat berbeda dengan dirinya.


" Ada apa ?" Tanya prai itu mulai menatap dingin.


" Ini ada beberapa berkas-berkas yang belum bapak tanda tangani. " Jelas Mona seraya menyodorkan berkas-berkas tersebut di atas meja.


" Banyak sekali ?" Tanya Banny menoleh ke arah tumpukan berkas-berkas tersebut dengan keheranan.


" Seharusnya ini di kerjakan dua hari yang lalu,namun bapak kemarin meminta memending semua pekerjaan jadi hari ini ada banyak pekerjaan yang harus terlakasanakan. " Ujar gadis itu pelan.


" Ok,kamu temenin saya hingga selesai tanda tangan ini semua,dan kamu serahkan kembali berkas-berkasnya ke pak Hendra." Ucap pria itu dengan tenang.


Alis tebal Mona mengernyit saat pria itu memintanya untuk menemani mendatangani semua berkas itu.


" Tumben minta di temenin manja banget."


Guman Mona menatap lurus ke arah pria itu.


" Kamu tidak suka menemani saya ?" Tanya pria itu seraya mulai mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya.


Mona terhenyak menatap shok ke arah bosnya itu,rupanya bosnya itu belum berubah masih seperti dulu yang mempunyai telepati yang kuat.


" Tidak pak,saya dengan senang hati akan menemani bapak." Ucap gadis itu dengan tersenyum di paksakan.


Banny hanya menoleh sesaat,seterusnya ia membuka lembaran demi lembaran berkas-berkas yang akan di tandanginya tersebut.


Mona menunggu dengan seksama menatap lurus pria yang di hadapinya,selanjutnya ia pun larut dalam pandangannya yang mengamati seluruh garis wajah pria tampan itu.


Aroma parfum pria itu begitu menguar dari tubuhnya meski jarak mereka terhalangi oleh sebuah meja,namun aromanya begitu kental di indra penciuman gadis tersebut.


Bagaimana bisa dirinya move on dari pria nyebelin ini,jika pria tampan ini semakin hari semakin membuat perasaanya terpedaya akan pesonanya.


" Yaa TUHAN !!,bagaimana bisa hamba-MU ini berpaling dari mahluk ciptaan-Mu ini yang sudah melumpuhkan sebagian syaraf otakku untuk bisa berpaling,pantas saja perempuan sekelas Kinaya saja tak mampu move on dari sosok pria ini,jika kenyataanya pria ini mampu menghipnotis semua perasaan wanita.Dan salah satunya gue."


Umpat hati gadis itu sraya tak hentinya berdecap kagum menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya itu.


Ini adalah gambaran kesempurnaan seorang pria yang telah di Anugrahi wajah tampan rupawan.


Rasanya memang tak rela jika ia harus melepaskan perasaanya dan terkubur begitu saja.


" Gimana ceritanya nenek kamu tahu jika kita bersandiwara ?" Tanya Banny mendongkak lalu menatap wajah gadis itu yang tepat sedang menatap kosong dirinya.

__ADS_1


Banny heran atas sikap sekertarisnya itu yang sedang asik melamun memandangi wajahnya.


" Mona !!" Panggilnya cukup keras sehingga gadis itu terhenyak.


" I iya pak." Sahut Mona terkejut.


" Saya sedang berbicara,kenapa kamu malah bengong,ada hal lain yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya pria itu menghentikan tanda tangannya.


" Tidak ada pak !." Ucap Mona tertunduk,wajahnya terasa mau hilang saat bosnya mempergoki dirinya sedang menikmati wajah anugrah yang paling indah.


" Kenapa nenek kamu bisa mengetahui akan masalah ini ?" Pria itu mengulangi pertanyaanya.


" Ka karena saya rasa cepat atau lambat nenek saya akan mengetahui sandiwara pernikahan ini.


Banny menghela lalu menatap lurus sekertarisnya.


" Bapak keberatan jika saya memberi tahu nenek saya terlebih dahulu,karena saya tidak bisa melihat orang yang paling saya hormati dan sayangi harus kecewa dengan pernikahan palsu ini." Jelas Mona dengan sengaja memalingkan wajahnya ke sisi lain.


Pria itu menggerecap menatap dalam sekertarisnya itu.


" Saya sama sekali tidak keberatan,tapi saya berharap nenek kamu tidak mengatakan hal semua ini terhadap orang tua saya.


" Pak Banny tenang saja,nenek saya tidak sejahat itu membocorkan semua rahasia ini,karena nenek lebih paham arti sebuah menjaga perasaan.Dan ketika sandiwara ini pun selesai saya pastikan nenek saya tidak akan menuntut apapun dari bapak." Jelas Mona dengan penuh penekanan di sertai sikap yang tenang.


Pria itu mendecih sesaat setelah mendengar pernyataan dari sekertarisnya itu yang mengandung sebuah sindiran halus terhadap dirinya.Pria tampan itu sesaat berpikir tentang gadis yang ada di hadapannya itu,sejak kapan bisa memberinya perasaan terintimidasi seperti ini,bukannkah gadis ini selalu bersikap manut dan tidak banyak komentar.


Bahkan terkadang selalu bersikap polos serta labil.


Sejak kapan ia bisa terlihat setenang ini dalam berbicara seeprti sekarang ini ?


Mona mengalihkan pandanganya ke arah wajah pria itu dan menatapnya dengan tajam,iris hitam itu seperti bilah es yang mampu menembus hingga ke dalam jantungnya.


Pria itu membuang tatapan gadis itu,perasaan nya berubah tak karuan.


Tatapan perempuan itu telah berhasil membuat perasaannya berdesir.


Banny mencoba menyelami perasaan gadis itu yang kali ini memang terlihat berbeda dari cara menatap dirinya.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada sekertarisnya ini ?


Pria itu menggeleng seraya mengusap wajahnya dengan frustasi.


" Tenang saja,setelah saya menceraikan kamu.Saya akan memberimu kompesasi." Ucapnya dengan nada sedikit memelan.


Gadis itu terdiam dan membuang tatapannya jauh ke arah jendela kantor tersebut.


" Saya tidak akan meminta sepeser pun dari sandiwara ini,karena semua yang saya lakukan karena sebuah rasa bakti saya terhadap orang tua anda yang begitu dalam.Jadi jika bapak berpikiran saya menginginkan sebuah kompesasi,bapak keliru." Ucap lagi gadis itu dengan memberi penekanan di akhir kalimatnya sehingga semakin membuat dada pria itu kian merasa sesak.


WHAY....?


Gadis ini berubah bijak,ada apa ?


Benarkah ini sekertarisnya ?


Lalu kenapa dia bersikap sedingin itu kepadanya.Pria itu kembali menggeleng dengan perasaannya kian meracau.


Banny menarik napas panjang,berusaha menenangkan gejolak perasaanya.


" Sudah selesai tanda tangan nya pak ?" Tanya Mona dengan penuh senyum,membuat pria tampan itu semakin terheran-heran akan perubahan sikap gadis tersebut.


" Oh,satu lembar lagi." Ucapnya dengan terbata.


Pandangan pria itu kembali ke atas tumpukan berkas dan jarinya kembali menandatangani berkas-berkas tersebut.


Mona terdiam,menatap dengan perasaan puas jika dirinya bisa bersikap lebih tegas terhadap pria salju ini.


Beberapa menit kemudian berkas-berkas tersebut sudah siap di tanda tangani,tanpa menunggu lama Mona segera merapihkannya dan menyusun kembali berkas-berkas tersehut.


Pria tampan itu menatap dalam sekertarisnya itu,kali ini di gantian yang memandangi wajah gadis tersebut.


Jika dia melihat dari sisi perasaanya,yaa gadis ini memang nyaris tak secantik Kinan atau pun Arnetta,namun gadis ini lah yang justru menggetarkan kembali perasaanya yang sekian lama mati suri.


Gadis ini memang begitu sederhana namun jika sedikit saja ia menggerakan bibirnya untuk tersenyum maka dua lesung pipinya yang manis itu terasa menggodanya.


Yaah ada sesuatu yang istimewa dari sosok gadis tersebut.


" Kalau begitu saya permisi dulu pak." Pamit Mona dengan bersikap penuh hormat namun tanpa di duga Banny si pria tampan itu berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah sekertarisnya itu.


Mona membulatkan matanya melihat pria itu mendekati ke arah dirinya yang hendak keluar.


" Tunggu." Ucap Banny perlahan menahan langkah sekertarisnya itu.


Mona terdiam lalu menatap pria tampan itu.


" Nanti siang kamu temenin saya makan siang." Ucap pria itu menatap dalam wajah gadis tersebut.


Mona terhenyak lalu menatap kaget ke arah pria yang jaraknya sudah dekat dengannya.


Mona terdiam lalu menundukan pandangannya,rasanya ia tak kuasa jika harus berlama-lama menatap bola mata tajam itu.


Detakan jantungnya kembali terasa hebat memacu cepat adrenalinnya,meski ia berusaha untuk meleyapkan perasaan yang tak biasa itu tapi rupanya hanya sia-sia saja,karena rasa cinta itu semakin timbul kuat terhadap sosok pria yang pernah membuatnya menangis.


" Kamu bisa kan makan siang bersama saya ?" Tanya lagi pria itu semakin mendekat ke arah sekertarisnya itu.


" Insyallah pak,bisa." Ucap Mona kaku,lalu ia pun melangkah mundur untuk menghindar dari hadapan pria tampan itu.


Banny terdiam menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


" Ok !" Jawabnya singkat dengan melipatkan tanganya di dada.


" Permisi pak !" Ucap Mona segera berpamitan dan melangkah keluar tak lagi menghiraukan pria itu yang sedang menatapnya panjang langkahnya.


Banny menghela menatap langkah gadis itu yang menjauh dari ruangannya,jika egonya tak seburuk itu mungkin dirinya sudah jauh-jauh hari mengatakan perasaanya terhadap gadis itu,namun entahlah.Sulit sekali rasanya untuk menyampaikan persaannya yang selama ini di pendamnya hanya karena gengsi semata.


*******


Mona berjalan menuju sebuah koridor perkantoran yang terhubung dengan sebuah lift,di tengah keseriusan berjalan tiba-tiba ia berpapasan dengan Arnetta yang baru saja keluar dari ruangannya tersebut.


" Bu Mona. !" Panggil Arnetta tersenyum hangat.


Mona memperlambat langkahnya lalu menoleh ke arah suaranya yang memanggilnya.


Di lihatnya Arnetta yang sedang menutup pintu ruangannya dan berjalan menyusul dirinya.


" Iya Arnetta.Ada yang bisa saya bantu ?" Ucap Mona menoleh ke arah gadis cantik itu.


" Tidak ada apa-apa,aku hanya manggil saja." Ucap Arnetta dengan bersikap ramah Mona tersenyum dengan perasaan canggung.


" Bu Mona panggil aku Ane saja ya,biar akrab." Ucap gadis itu lagi-lagi bersikap hangat kepada dirinya.


" Ok,baiklah Ane." Balas Mona mengangguk pelan.


" Bu Mona mau kemana ? " Tanya Arnetta menatap panjang akan penampilan nya Mona.


Mona membalas tatapan itu dengan tatapan insecure seolah-olah ia merasa begitu kerdil di hadapan gadis yang berpenampilan menarik.


" Saya baru saja dari ruangan pak Hendra." Balas Mona dengan singkat.


" Pak Hendra staff Menjer itu ya ? " Tanya Arnetta seraya menyibakan rambut panjangnya yang terurai panjang.


" Yap." Jawab Mona mengangguk.


Rasanya ia ingin segera enyah dari hadapan gadis cantik itu yang seakan-akan sedang membadingnkan penampilan nya dengan dirinya.


" Oya bu Mon,saya boleh bertanya sesuatu ?" Ucap gadis itu dengan wajah mulai terlihat serius.


" Boleh,tentang apa ya ? " Tanya Mona menyeringah kaku.


" Hmmm,bu Mona tunangan nya Mas Banny ya ?" Tanya gadis itu menatap cemerlang kepadanya.


Mona tercekat dengan senyumannya sedikit mengantung dan entah kenapa pertanyaan itu cukup membuat dirinya merasa terganggu.


Apakah Arnetta tahu akan sandiwara nya ini?atau kah pertanyaan ini hanya sekedar memancing ?


Tidak !!


Dia harus bisa bersikap lebih tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Mona menatap dalam ke arah gadis cantik itu sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan nya.


" Ya.!" Jawab Mona singkat namun nadanya terdengar ragu.


Arnetta terlihat menghempaskan napasnya dengan kasar.


" Beruntung sekali ya,bu Mona ini bisa di cintai oleh seorang Mas Banny." Ujar perempuan itu menatap dengan penuh kagum.


Mona mengernyit sehingga kulit dahinya sedikit berkerut.


Pernyataan gadis cantik ini di rasanya cukup berlebihan.


" Ah,biasa saja itu Neu," Balas Mona tersipu,entah kenapa pujian itu seperti teror yang tak terlihat olehnya.


Dan rasa-rasanya hati kecilnya merasa yakin jika sesungguhnya perempuan cantik itu menyembunyikan suatu perasaan terhadap seorang Banny,yaa bohong saja jika perempuan se normal itu tidak mempunyai perasaan lebih terhadap sosok seorang Banny yang begitu memikat setiap pandangan perempuan normal sekelas dirinya dan Arnetta.


Meski ia baru mengenal akan seorang Arnetta tapi ia bisa menebak jika perempuan itu ada perasaan suka terhadap bosnya itu.


" Oya,kalau saya perhatikan kamu sudah kenal lama ya dengan pak Banny ?" Tanya Mona mulai memancing.


Entah kenapa ia merasa takut jika ia harus mendengar jawaban " Ya " dari mulut permpuan itu yang secara tidak langsung akan menghancurkan perasaanya.


" Aku kenal Mas Banny lumayan lama,dan kenalnya juga lewat papah.Papah sengaja mengenalkan aku dengan Mas Banny,dan pada akhirnya aku di tawarin kerja di kantornya oleh Om Wiguna." Jelas Arnetta tersenyum penuh arti.


Pernyataan yang wajib di perhitungkan oleh dirinya atas ucapan gadis cantik tersebut.


" Oh begitu." Ucap Mona menganntung sesaat kemudian ia terlihat mengangguk-ngangguk pelan.


Semoga saja tak ada ke inginan dari sang ayah gadis itu untuk menjodohkan anaknya dengan bosnya tersebut.


" Tapi papah aku tidak tahu jika Mas Banny sudah tunangan,karena setahu papah,mas Banny masing fokus di pekerjaanya.Tapi ya sudahlah mungkin Mas Banny sudah menemukan perempuan yang pas untuk dirinya,karena jujur saja,aku pernah mendengar sekelumit tentang percintaanya Mas Banny yang pernah di tinggal nikah oleh tunangannya itu beberapa tahun yang lalu sih,tragis yaa ?Wel Itu sih cerita masa lalu dan aku pun cuma denger ceritanya dari papah." Jelas Arnetta tersenyum hambar ke arah Mona.


Mona terdiam menatap dengan berbagai perasaan.Sejauh itukah seorang Arnetta mengenal sosok bosnya tersebut dan hal ini menguatkan dugaanya jika benar adanya gadis itu menyimpan perasaan yang cukup dalam kepada bosnya tersebut.


" Tapi ya sudahlah itu kan masa lalu Mas Banny,semoga saja hal itu tidak terulang kembali ya." Ucap gadis cantik itu dengan penuh intonasi.


Mona tersenyum kaku berusaha untuk tidak terlalu terbawa oleh perasaan hatinya yang mulai kacau.


Sejadi-jadi tubuhnya terasa kaku,dan syaraf otaknya menengang sepertinya Migren dan Vertigo datang secara bersamaan ke kepalanya.


" Baiklah,sepertinya saya harus balik ke ruangan ku dulu,takutnya pak Banny ada perlu sesuatu." Ucap Mona mengakhiri obrolannya.


" Oh iya,silahkan bu Mon." Ucap gadis itu tersenyum ringan.


Mona pun berjalan menuju sebuah lift,rasanya ia ingin segera hilang dari pandangan gadis itu yang selalu menatapnya dengan intens dan baginya tatapan itu serasa menguliti perasaanya hingga tak nyaman.


Perasaanya tak nyaman jika harus di pandangi sejauh itu oleh gadis cantik tersebut meski dia tidak mengatakan secara lisan namun penglihatan gadis itu di rasa berbeda kepada dirinya.

__ADS_1


Mona mampu menebak akan isi pikiran gadis tersebut jika dirinya memang tak secantik Arnetta.


__ADS_2