
MONA berjalan dengan langkah penuh irama,menikmati setiap pijakan kakinya dengan rasa penuh percaya diri,dengan ayunan tangnnya penuh energik.
Entah berapa banyak pasang mata menoleh ke arahnya yang berjalan dengan penampilan barunya yang lebih menarik,dan hal itu berhasil membuat setiap pandangan para lelaki berdecap kagum melihatnya.Di manjakan dengan senyuman yang merekah dari bibirnya,entah apa yang telah terjadi dalam diri gadi itu,sehingga membuatnya merasa ingin sedikit merubah penampilannya lebih menarik dan mempesona.
Ada perasaan yang tak biasa meraksuki jiwanya saat ini sehingga Mona bersedia meluang kan waktunya untuk memanjakan dirinya ke sebuah salon kecantikan.
Padahal jauh dari sebelumnya,ia tak pernah melkaukan hal seperti ini dan tak biasanya juga ia bersikap seperti itu,mau berlama-lama hanya sekedar untuk perawatan dirinya.
Dan hasilnya ia merasa senang setelah melakukan perawatan tersebut.
Tak hanya melakukan perawatan kecantikan, ia juga melakukan sedikit relaksasi untuk menjaga kebugaran tubuhnya.Wajar saja jika selama ia tinggal di kota besar seperti ini,rasanya ia tak pernah menginjakan kakinya di salon kecantik hingga berlama-lama seperti ini memanjakan dirinya dengan perawatan.Dan hari ini entah kenapa,merasa hal itu berbeda dari segi pandangannya tentang sebuah penampilan,yaa sebagai perempuan seeprti pada umumnya ia juga ingin tampil lebih cantik serta menawan sama halnya seperti perempuan di luaran sana.
Yaa....,terkadang memang ia masih suka merasa insecure dengan dirinya jika harus di bandingkan dengan perempuan lagi,dia sadar ia tidak akan mengungguli seorang mantan dari suami palsunya ataupun,Arnetta si gadis yang memiliki tatapan cermelang itu yang kini tengah dekat dengan bosnya tersebut.
keinginan dia hanya sederhana,ingin berpenampilan sedikit berbeda saja.
Setelah cukup lama ia menghabiskan waktunya utuk merubah penampilannya ia pun memilih mendatangi sebuah caffe yang sering di datangi oleh diriya dan kedua sahabatnya,hari ini merupakan hari pertama ia menjadi seorang pengangguran setelah bos sekaligus suami palsunya membethentikan dirinya.
Mona duduk sendiri di tengah keramaian pengunjung caffe yang datang dan pergi silih berganti di siang itu,ia menikmati kesendiriannya dengan di temani minuman favoritnya segelas es capocino yang di miks dengan susu.
Di tengah keseriusannya dalam menikmati minuman itu ia terlihat merenungkan sesuatu hal yang sudah terjadi tampa permisi di kehidupannya,tentang apa yang menjadi rahasia terbesarnya selama ini.
Apa,bagaimana yang harus ia lakukan olehnya setelah ini,ia masih mempertimbangkan tawaran pria berwajah karismatik tersebut atas pekerjaan kepada dirinya,sejauh ini Banny belum mengetahui hal ini.
Belum saya rasa gamangnya hilang dari pikiran utamanya,kini otaknya kembali di buat berpikir kerasa akan nasib perasaanya yang terlahir secara sepihak kepada pria tampan itu yang kini telah menjadi mantan bosnya tersebut.
Meski memang terkesan seperti mengemis-ngemis akan perasaanya terhadap sosok seorang Banny,tapi memang seperti itu lah kenyataan yang akan,dan itu rasanya tak bisa di pungkiri dengan perasaan apapun,mungkin tak hanya dirinya saja yang pernah menyimpan perasaan sedalam ini?
dan ia dapat memastikan jika seorang Arnetta merasakan hal yang sama dengannya.
Mona menghebuskan napasnya dengan kasar,menopang dagunya dengan perasaan gusar,mungkin ini lebay,atau pun dia terlalu naif,tapi cinta dan perasaan itu hanya dialah yang merasa bukan orang lain!toh sejauh apa ia mengusir akan perasaanya sejauh itu pula ia justru terperangkap semakin dalam atas cinta sepihaknya tersebut.
Sialll !!!
Desisnya seraya membuang jauh pandangannya,berharap dia bisa melupakan sosok pria tampan itu dalam hidupnya dengan sekejam mungkin.
Hidup yang selalu ia perjuangkan dari nol,kini tinggal sebuah gantungan asa yang terasa kian mengiris hatinya,bahkan menyayat dengan sembilu.
Harapan yang sederhana itu terlaksana,dan ia pun bangga menjadi seorang sekertaris di perusahaan bonavit tersebut,namun impian sederhana itu lenyap,kini hanya menjadi hantaran debu yang hilang tertiup angin.
Dan ini lah puncak terberat dalam permasalahan hidupnya yang akan segera di hadapinya dalam waktu kurang lebih dua minggu lagi,dirinya akan menyandang status baru,yaitu mantan istri seorang pengusaha muda ternama.
Dan sepertinya ia harus cukup mental untuk menjalani perkara tersebut.
Mona menghela seraya menyesap perlahan capucinonya.
Berusaha menetralkan semua perasaanya yang kian terasa pengap di dadanya.
Menyesal ??
tak akan membuat keadaan lebih baik,atau pun merubah ke adaan.
" Mona !!" Panggil suara lembut seorang pria membuyarkan lamunanya.
Mona sersentak lalu mendongk kan kepalanya dan menoleh ke asal sumber suara tersebut.
Seorang pria dengan tampilan sederhana tengah tersenyum lembut kepadanya,dengan raut wajah yang tenang menyambut gadis itu yang tengah di landa perasaan dilema.
" Zean !" Pekiknya pelan nyaris hingga tak terdengar.
" Apa kabar ?" Tanya Zeanu menatap lembut gadis itu.
Mona tersenyum dengan perasaan rapuh.
" Gue baik-baik saja." Ucap gadis itu dengan tersenyum penuh kepalsuan.
Sejenak pria berwajah tenang itu memperhatikan gadis itu dengan seksama,sehingga membuat gadis itu mengernyit heran atas tatapan yang di lepaskan pria itu terhadap dirinya.
" Apa gue gak salah lihat ?" Tanya Zeanu menyeringah,lalu sesaat ia mengamati Mona dari ujung kaki hingga kepala.
" Ada apa ?" Tanya Mona denang melirik datar.
" Lo hari ini sedikit berbeda,apa karena lo sudah menjadi nyonya seorang Banny merubah sedikit penampilan lo ?" Tanya Zeanu dengan tatapan penuh ledekan,dan intonasinya cukup terdengar sinis.
" Apa sih Zean,lo gak usah meledek." Ucap Mona merengut saat tatapan pria itu mengusik perasaanya.
" Any way,buat gue pribadi,lo gak merubah penampilan pun lo tetap cantik." Ucapnya dengan tersenyum penuh arti.
" Stop deh Zean,jangan bikin gue baper." Mona mendilak dengan sedikit kesal atas tingah kaka sambungnya itu yang mulai membuatnya merasa baper.
Sejenak pria itu terlihat menarik napas panjang lalu tersenyum dengan penuh ironi.
" Andai gue masih bisa mempertahankan perasaan itu,mungkin saat ini gue masih akan terus memperjuangkan perasaan ini." Ucap Zeanu menatap serius gadis itu.
Mona mengalihkan tatapanya ke arah wajah pria itu dengan berbagai perasan yang mulai menganggu pikirannya,tak perlu meminta penjelasan pun ia sudah memahami kemana akan arah pembicaraan pria itu.
" Lo gak usah berandai-andai,perasaan lo itu tak mungkin terbalaskan." Ucap Mona dengan tersenyum rapuh.Melupakan perasaan yang dalam itu memang hal yang sangat menyakitkan,seperti halnya ia yang harus melupakan perasaanya terhadap sosok pria yang bernama Banny.
Zeanu tersenyum miris dengan mengangkat tinggi kedua bahunya,jawaban telak gadis itu membuat hatinya berdenyut sangat menyakitkan.
" Semoga saja takdir akan merubah segalanya dengan caranya." Guman Zeanu pelan,seolah-olah perkataanya hanya di tunjukan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
" Oya mama gimana kabarnya?" Tanya Mona mengalihkan pembicaraan seraya melirik kecil pria tersebut.
" Mama baik-baik saja.Dia sering bertanya banyak hal tentang lo sama gue." Jawab Zeanu tersenyum lembut.
" Oya ?, semenjak pernikahan ini, gue belum ada ketemu mama ataupun nenek lagi." Ucap Mona seraya menatap sendu.
Zeanu tersenyum sinis,menanggapi ucapan gadis itu.
" Apa lo bahagia menikah dengan Banny,sehingga elo melupakan orang yang paling mengasihi lo ?" Tanyanya dengan datar.
" Sama sekali tidak !!jangan mengejek gue dengan pertanyaan seperti itu ?" Desis Mona dengan melepaskan tatapan kesalnya.
Zeanu tersenyum lebar lalu mengambil duduk,tepat di hadapan Mona.
" Apa perasaan tuan lo itu masih belum berubah juga ? so masih sok jual mahal dan sok tengsin ?" Tanya Zeanu dengan nada sedikit jengkel.
" Pertanyaan lo,seolah-olah menjebak perasaan gue ?" Balas Mona tersenyum miris.
" Menjebak ?,Mona gue tahu perasaan elo seperti apa terhadap Banny,dan gue pun tau perasaan Banny terhadap lo seperti apa ?,jadi untuk apa gue menjebak lo dengan pertanyaan seperti ini." Ucap Zeanu bersikap sedikit angkuh.
" Bisankah tidak membahas ini sekarang !" Mona menyela dengan mimik wajah mulah bete.
" Hei !! Lo lagi ada masalah ? " Tanya pria itu menatap lepas wajah gadis itu yang berubah tak biasanya.
" Jangan memancing ? " Ujarnya ketus.
" Hanya sekedar bertanya,lo sepertinya keberatan ?" Bukanya berhenti Zeanu semakin gencar bertanya.
" Berhenti bertanya,dan lupakan." Ucap Mona dengan menatap enggan,sorot matanya terlihat sangat tertekan.
" Ok,ok !" Ucap Zeanu dengan mengangguk-anggukan kepalanya.Ia memahami perasaan gadis itu.
" By the way lo sedang apa di sini,menyendiri dan.... ?" Tanya Zeanu menatap gadis itu dengan berbagai perasaan namun pertanyaany belum lah selesai gadis itu telah memotong cepat kalimat pertanyaan nya tersebut.
" Hanya duduk santai saja,dan berhenti bertanya yang aneh-aneh." Ucap Mona tersenyum enteng ia memastikan jika pria itu akan bertanya aneh lagi kepadanya.
" Sentimen banget sih Mon ?" Sela Zeanu tersenyum lebar saat melihat sikap juteknya gadis itu mulai muncul kembali.
" Lo tidak kerja ?" Satu pertanyaan yang cukup membuatnya tercekat.
Zeanu masih menunggu jawabannya dengan menatap heran.
Mona terdiam di rasa pertanyaan itu kembali membuat perasaanya kian tersakiti.
Sebelum akhirnya menjawab,Mona menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang sulit di artikan seolah-olah ia sedang menutupi kekalutan hatinya.
" Gue,gue sudah gak bekerja lagi di perusaahannya pak Banny." Ucapnya dengan terbata,suaranya berubah serak.
" Lo jangan bercanda,gue lagi serius ? " Desisnya dengan nada serius.
" Apa gue terlihat bercanda." Timpal Mona dengan ekspresi wajah tertekan.
" Maksudnya lo udah risent,kenapa ?? " Tanyanya dengan perasaan kian risau.
Mona menarik napas panjag lalu tersenyum miris ke arah pria tersebut.
" Ini adalah keputusan perusahaan ? " Ucapnya dengan tersenyum enteng.
" Maksud lo ? " Zeanu kian penasaran.
" Ada prosedur perusahan yang mengharuskan gue harus di berhentikan." Jelasnya dengan datar.
" Tapi seharusnya Banny mempertimbangkan permasalahan ini,lagian lo sama dia hanya melakukan pernikahan sandiwara saja ini gak ada sangkut pautnya dengan perasaan,dan pekerjaan ini bukan berarti harus kena imbas atas permasalahan lo dengan bos lo itu." Ujar Zeanu terlihat gusar menanggapi pernyataannya Mona.
" Perusahan tidak mau tahu,karena itu sudah menjadi pelaturan yang telah di terapkan dan tidak bisa di abaikan begitu saja." Sambung Mona dengan tersenyum hambar.
Zeanu terlihat kecewa atas keputusan Banny yang memberhentikan Mona dari perusahannya tersebut.
" Jujur saja gue ikut menyesali keputusan bos lo ini,memberhentikan lo dari perusahaan karena prosedur perusahaan tersebut,memangnya dia pikir setelah usai pernikannya dengan elo,dia terlepas dari bebannya,gue rasa bos lo itu tidak profesional. " Ucap Zeanu menatap kecewa menyayangkan atas keputusan sahabatnya itu yang di rasa tak punya hati memberhentikan Mona dari pekerjaanya.
" Itu sudah jadi konsekwensinya gue Zean." Ucap Mona tertunduk.
" Gue rasa itu bukan konsekwensi,Banny sudah jelas tidak bisa bersikap bijak,menyangkut pautkan pernikahanya dengan pekerjaan, seolah-olah pernikahannya itu sungguhan,jika pernikahan ini sungguhan gue masih bisa menerima keputusan ini,sedang kan ini ??Sepertinya gue perlu bicara dengan dia. " Ujar Zeanu dengan perasaan gusar yang tak tertahan lagi.
" Jangan !!" Sergah Mona dengan cepat.
" Kenapa ?" Tanya Zeanu menatap tajam gadis yang ada di hadapannya tesebut.
" Tidak usah Zean,ada baiknya juga gue tidak lagi bekerja di perusahaan itu,karena..... !" Ucapan Mona menggantung dia terlihat gamang untuk mengatakan sesuatu yang di sedang di pendamnya.
" Karena apa ?? " Tanya Zeanu dengan perasan kian resah.
Yaa dia resah jika harus melihat perempuan yang begitu ia sayangi harus bersedih.
" Karena,gue rasa percuma juga jika gue masih bekerja di sana,setelah percerai itu terjadi." Ujarnya dengan perasaan kian rapuh.
" Astagaa !! Kenapa ?apakah elo menyesali perasaan lo itu ?" Ucap Zeanu menatap kecewa,setelah ia melihat jelas rasa penyesalan itu begitu besar di sorot matanya.
" Tidak,tidak seperti itu,udah saatnya gue tidak berharap apapun dari sandiwara ini !" Ucapnya lirih.
Banny menghela merasakan sesuatu yang terasa menghimpit perasaanya.
__ADS_1
" Gue mengerti dengan apa yang lo rasakan saat ini. " Ucap Zeanu menatap pilu.Sesaat pria itu menatapi raut wajah gadis itu yang terlihat mulai sembab.
Mona tersenyum berusaha untuk terlihat baik-baik saja.Namun sesungguhnya hatinya telah hancur dengan perasaanya sendiri.
" Terimakasih Zean. " Ujarnya lirih.
" Gimana jika elo ngelamar di perusahaan teman gue saja,lo gak perlu interviw,bisa saja elo langsung kerja,karena gue kenal bagian HRDnya. " Imbuh Zeanu menatap cemerlang.
Mona terdiam,mencoba mencerna tawaran pria berwajah tenang itu dan entah kenapa ucapan pria itu berhasil mengingatkanya kepada sosok Angkasa yang melakukan hal yang sama kepada dirinya.Menawarkan bekerja di perusahaannya tersebut tak tanggung tanggung langsung menjadi sekertarisnya.
Kedua pria yang memilik karakter yang sama ini,begitu sangat peduli terhadap dirinya.Sebegitu besarnya rasa tulus yang terlahir dari hatinya mereka untuk dirinya.
" Gimana Mon ?" Tanya Zeanu dengan tak sabar.
" Saat inu gue belum memikirkan hal itu Zean. " Balas Mona dengan suara melemah.
" Gue tidak ingin kehidupan lo hancur hanya menjalani hubungan fake ini,elo sudah rela berkorban demi kebahagiaan orang yang tak peduli sama sekali terhadap elo.Gue kecewa jika lo harus mengemis atas perasaan lo itu. " Tegas Zeanu menatap dalam.
" Zean.....,!!" Ucapan gadis itu mengantung,tepat ketika seorang pria perwakan tinggi berjalan mendekatinya dengan tersenyum hangat.
Mona terhenyak sekaligus kaget melihat kemunculan pria itu yang selalu muncul secara tiba-tiba sehingga membuat dia selalu terkaget kaget di buatnya.Mengetahui Angkasa sudah berdiri di hadapaannya Mona dengan repleks berseru kecil sehingga membuat Zeanu menoleh ke arah tatapannya,dan dia pun dapat melihat jelas sosok lelaki yang tak di kenalinya itu sedang tersenyum dengan ramah.
" Hai Mon ! " Panggil pria berwajah karismatik itu tersenyum kian merekah,lalu tak lama ia pun menoleh ke arah Zeanu,lalu ia pun manggut penuh hormat.
" Hai Kas !" Balas Mona tersenyum canggung.
Zeanu menatap kaku ke arah pria yang terlihat menyapa gadis itu dengan begitu akrab.
" Oya Zean,ini kenalkan pak Angkasa,mitra perusahannya pak Banny. " Terang Mona mengenalkan Angkasa kepada Zeanu seraya beranjak dari duduknya.
" Hai,gue Zeanu !" Balas Zeanu seraya berdiri dan dengan serta merta Zeanu mengulurkan tangan untuk mengajak pria itu bersalaman.
" Angkasa." Jawab pria itu dengan penuh wibawa dan dengan senang hati ia pun menerima uluran tangan nya Zeanu.
" Kas ini Zeanu......" Ujar Mona menggantung kalimatnya terhenti saat ia hendak memeperkenalkan siapa itu Zeanu,tepat bersamaan dengan hal itu Zeanu terlebih dahulu memotongnya.
" Gue teman dekat Mona,dan kebetulan gue juga kenal dengan Banny!" Ucap Zeanu dengan cepat.
Entah kenapa Zeanu merasa berpikiran lain atas tatapan pria itu terhadap dirinya,bahkan Zeanu berpikir jika pria yang baru di kenalinya itu sedang berspekulasi tentang hubungan apa antara dirinya dengan gadis itu.
Mona tercekat setelah mendengar pernyataannya Zeanu yang menyebutkan dirinya sebagai teman dekat.
" Oya, ternyata anda kenal dengan Banny juga?" Tanya pria itu dengan menampilkan senyuman sensualnya yang sudah menjadi ciri khas tersendiri di bagian senyumannya itu.
" Heemmm,,iya kas,Zean merupakan sahabat dekatnya pak Banny." Jelas Mona dengan tersenyum canggung.
" Oya,senang sekali bisa kenal dengan anda pak Zeanu." Ucap Angkasa tersenyum ramah.
" Panggil gue Zean saja." Ucap Zeanu menatap lepas pria itu.
" Ok,ok,semoga kita bisa menjalin pertemanan juga,by the way anda bekerja di perusahaan apa ?"
" Gue tidak memiliki perusahaan,gue hanya menjual Desain gue untuk sebuah pembangunan.
" Oh jadi anda seorang arsitek ?? " Tuduh Angkasa kagum.
" Bisa di katakan seperti itu,dan Banny adalah salah satu yang sering mempergunakan desain gue." Ujarnya dengan bangga.
" Ya ya... itu pekerjaan yang sangat luar biasa." Puji Angkasa semeringah.
Zeanu hanya mengangguk pelan seraya melirikan bola matanya ke arah Mona yang terkesan menjadi pendiam.
" Oya,apa saya ganggu kalian ?" Tanya Angkasa dengan sopan membagikan pandangannya ke arah Zeanu dan Mona.
" Sama sekali tidak." Sela Mona tersenyum ringan.
" Tenang saja,lagian kita disini hanya ngobrol santai saja.Yaa kita lagi membicaraan masalah pekerjaan." Jelas Zeanu menatap tenang.
" Oya,ngomong-ngomong masalah pekerjaan,gimana kamu Mon,sudah ada keputusan untuk menerima tawaran dari ku ?" Tanya Angkasa menatap pasti ke arah wajah gadis itu.
Dekkkkk.....
Sontak Zeanu terhenyu,tepat ketika ia mendengar ucapan pria itu entah kenapa ada timbul perasaan yang tak biasa mengubah perhatiaannya menjadi rasa cemburu,Zeanu sekilas memperhatikan wajah pria itu dengan seksama,ia memastikan jika pria itu bukan lah pria sembarang yang mau begitu saja peduli terhadap Mona,instingnya berkata lain.
Dari semula ia melihat gelagad dari pria itu memang berbeda sekalipun dari tutur bicaranya.
" Hmmm.... "
Mona terdiam dengan tersenyum bingung ia harus menjawab apa,di satu sisi lain ia masih mencoba menjaga perasaan Zeanu yang sebelumnya menawarkan pekerjaan untuk dirinya.
" Zean,kebetulan pak Angkasa ini adalah salah satu orang yang menawarkan pekerjaan untuk gue,tapi gue masih mepertimbangkannya. " Imbuh Mona menatap ke arah Angkasa dengan ragu.
" Oh ya ??? " Seru Zeanu lirih namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah pasti.
" Ya ya,gue paham." Ucap Zeanu dengan tersenyum kaku.
Kecurigaan yang tak biasa ia rasakan kepada sosok Angkasa dan itu dapat ia rasakan sejak awal pertemuan,sikap pria tersebut memang tak biasa terhadap Mona,dari cara menatap hingga berbicara pun terlihat kontras.
Fixs......
Ia merasakan ada sesuatu hal yang berbeda.Wajah gadis itu terlihat berbeda,dan raut wajahnya pun tak setegang itu seusai pria berwajah karimatik itu hadir di tengah-tengah mereka.Zeanu hanya bisa tersenyum rapuh melihat kenyaatan jika gadis yang ada di hadapannya itu kini memang mampu menarik perhatian pria lainnya.
__ADS_1