
MONA terhenyak di buatnya ketika dia menyadari Banny membawa dia kerumah pribadinya dan tentunya ia sangat mengenali sosok lelaki yang berada di hadapannya saat ini,dengan ekpresi wajah linglung ia menatap haru sosok lelaki yang usianya nyaris sebaya dengan sang ayahnya.Seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar menatapnya dengam penuh makna.Dia berusaha menyimak baik baik wajah Mona yang berada lurus dihadapannya.
Mona pun tersenyum lembut ia berusaha menenangkan dirinya dari rasa kaget yang luar biasa.kenapa tidak ia sama sekali tidak menyadari kalo dirinya akan di bawa menemui orang yang pernah berjasa dalam hidupnya.
" *Yaa TUHAN gue baru ingat kalo Pak Wiguna adalah papahnya Pak Banny*."
Teriak dalam hati Mona dengan histeris entah kenapa pikirannya tidak ingat akan hal itu sejadi jadi ia merasakan panas dingin disekujur tubuhnya.
" Pak Wiguna.." pekik Mona cukup keras.
Begitupun Pak Wiguna tidak kalah terkejutnya melihat kehadiran Mona yang berada di samping Putranya Banny.Dan seketika raut wajah Pak Wiguna berubah dari yang kaget menjadi semeringah.
Banny yang memperhatikan perubahan raut wajah sang papah cukup membuat ia tanda tanya namun ia hanya bisa menatap dengan sedikit heran,Kenapa papahnya bisa mengenali akan sosok Mona padahal baru kali ini ia membawa Mona kehadapan papahnya.
" Oh jadi ini pacar yang akan di kenalkan kamu kepada papah." Ucap Pak Wiguna dengan tersenyum penuh arti.
Belum hilang rasa herannya yang Mona rasakan pak Wiguna sudah terlebih dahulu bertanya sehingga membuat Mona semakin kebingungan dan bercampur gugup.
Mona cukup tersentak mendengar penuturan pak Wiguna yang menyebutkan dirinya adalah calon yang akan di perkenalkan oleh Banny kepada papahnya.
" Kamu Mona kan,Bagaimana kabar kamu ?" Tanya Pak Wiguna menatap dalam Mona.
" Ya saya Mona pak," Jawab Mona dengan tersenyum tipis.
" Gimana kamu masih ingat bapak kan ?" Tanya pak Wiguna dengan terus menatap dalam Mona.
" Ten tu Pak " Ucap Mona terbata bata seraya mengangguk penuh hormat.
" Saya baik baik saja pak, Dan Gimana kabar bapak ?" Tanya Mona dengan penuh hormat. Lagi lagi Banny semakin heran dengan sikap Mona dan papahnya yang saling mengenal.
" Bapak baik baik saja,senang sekali Bapak bisa bertemu dengan kamu lagi,Bapak sangat tidak percaya jika Banny lah yang mempertemukan kita kembali." jelas pak Wiguna dengan nada suara bahagia.
" Papah kenal Mona ?" Tanya Banny dengan penasaran.
" Tentu.Mona adalah salah satu mahasiwi di Universitas papah dulu.Dan dia adalah salah satu mahasiswi yang punya bnyak prestasi,dan papah jugalah yang menyuruh ia kerja di tempat perusaan kita,sebelom akhirnya kamu ambil alih jabatan papah." Jelas Pak Wiguna dengan tersenyum senyum penuh arti.
Banny menoleh ke arah Mona yang terlihat menatap penuh hormat ke arah papahnya dengan sikap salah tingkah.
Sekian lama ia tidak bertemu dengan pak wiguna kini ia di pertemukan dengan cerita sandiwaranya.
" Jadi ??" Tanya Banny menggantung.
" Jadi sebenarnya papah ingin menjodohkan kamu sama Mona,Dan perempuan yang sering papah ceritakan ke kamu selama ini yaitu Mona.Papah ingin sekali kamu bisa menikah dengan Mona Tapi ternyata kalian sudah berpacaran yaa jadi papah tak perlu repot repot lagi kan menjodohkan kalian." jelas Pak Wiguna dengan tersenyum bahagia.
Banny menoleh ke arah Mona dan menatapnya dengan tatapan frustasi Mona hanya terdiam dia tak berani untuk membalas tatapan Banny yang berada tak jauh darinya.entah apa yang ada dalam pikiran Banny untuk seorang Mona saat ini namun tatapannya terlihat seolah olah mengisyaratkan penuh dengan kegelisahan yang luar biasa.
__ADS_1
Sedangkan Mona dia sibuk dengan pikirannya sendiri entah harus bersikap apa dirinya terhadap kenyataan yang benar benar telah di susun dengan sekenarionya TUHAN yang telah memberi takdirkan untuknya.
Banny berniat ingin lepas dari perjodohan papahnya akan tetapi kenyataan tidak beroihak padanya selama ini perempuan yang akan di jodohkan dengan dirinya tiada lain adalah Mona sekertaris dirinya sendiri.
Banny menarik napas panjang dan melirik kembali Mona yang saat itu tak sengaja sedang menatapnya juga dengan dalam.
Dua tatapan beradu cukup singkat namun cukup berbekas di hati Mona dan Banny. dengan cepat Mereka segera saling mengalihkan pandangannya masing masing.
Kenyataan memaksa mereka untuk berpura pura dalam perasaan Cinta yang sama sekali tidak mereka miliki oleh keduanya masing masing.
" Oya,Saking senengnya kita ngobrol makan malamnya sudah siap apa belom nii ?" Tanya Pak Wiguna sembari memutar kembali kursi rodanya.Dengan sigap Banny segera memapahnya dan membenarkan posisi duduknya dengan baik.
" Permisi Tuan !Hidangannya sudah siap." Tiba tiba Biyayah menyembul dari balik pintu yang sedari tadi sudah terbuka.
" Ayo kita pindah ruangan kita makan malam dulu,Anggap saja ini perayaan kecil sebagai penyambutan kamu Mona." Ucap Pak Wiguna dengan sorot mata yang berbinar binar menatap dalam Mona.
" Terimakasih pak,Atas penyambutannya saya jadi terharu." jawab Mona dengan tersipu malu.
" Ayo Ban!" Ajak Pak Wiguna menoleh Banny yang masih terlihat tercenung dengan setengah kebigungan.
Ia masih belom bisa percaya dengan ucapan sang papah jika perempuan yang akan di jodohkan dengan dirinya adalah Mona.
Padahal ia sudah mengatur strategi untuk menolak perjodohannya dengan sengaja mengajak Mona untuk bertemu sang papah dan berpura pura menjadi pacarnya Banny berharap dengan rencananya bisa membatalkan perjodohannya.Tapi ternyata rencana itu gagal berantakan justru dia malah terjebak dalam perangkapnya sendiri.
Mona berjalan tanpa bicara sepatah katapun ia pun masih tidak percaya dengan kenyataan yang sedang ia alami.Semulia itu Pak Wiguna ingin menjodohkan dirinya dengan anak tunggalnya yang akan menjadi pewaris seluruh harta kekayaannya.
Mona berjalan dengan berbagai perasaan yang tak menentu sepertinya ia merasakan sekujur tubuhnya panas dingin dan seolah olah rohnya tidak berada dalam raganya.pikirannya pun ikut melayang tak berarah tujuannya untung saja dia pandai menyembunyikan perasaan itu walaupun raut wajahnya terlihat pucat pasi seperti hantu palak yang berjalan di gurun salju.
Setibanya di meja makan Bi yayah dengan sigap menyiapkan hidangan untuk Pak Wiguna serta Banny serta tak lupa untuk Mona.
Dengan repleks Banny duduk di samping Mona dengan jarak lumayan dekat entah disadari atau tidak tiba tiba saja ia memilih untuk duduk di dekat Banny dan bersikap seolah olah Mona adalah pacarnya.
Bahasa tubuh Mona terlihat sedikit risih ketika ia duduk berdekatan dengan Banny,Rasanya ia ingin berpindah kursi untuk mengatur jaraknya namun ia tersadar jika dia sedang bersandiwara di hadapan papahnya Banny.
" Kalian sudah berapa lama berpacaran ?" Tanya Pak Wiguna menatap lembut Mona yang masih terlihat canggung.
Sontak pertanyaan itu membuat Banny nyaris menyemburkan air minumannya yang tengah berada di mulutnya.
" Pak Pelan pelan." Ucap Mona dengan refleks ia segara mengelus ngelus lengan Banny seraya segera menyodorkan tisu untuknya.
Banny menatap Mona yang masih menggantungkan tangannya dengan tisu di tangannya.
" Kalian sangat Romantis sekali,Tapi ko kenapa kamu panggil Banny pak ?" Tanya pak Wiguna dengan menatap heran Mona.
Mona dan Banny saling bertatapan pertanyaan yang cukup membuat Mona berpikir keras atas jawabannya.
" Karena saya suka kebawa dalam pekerjaan,soalnya Banny atasan saya jadi saya suka masih kebawa kalo manggil dia." Ucap Mona dengan tersenyum datar ke arah Banny.
__ADS_1
" Oia ?memangnya sudah berapa lama see kalian pacaran ? ko masih kaku saja." Ucap Pak Wiguna dengan mesem mesem lembut.
" Hmm....," Mona hendak menjawab namun Banny sudah terlebih dahulu menyela dan memotong ucapan Mona.
" Belom lama ini pah,Lagian kebetulan Mona adalah sekertaris barunya Banny pah ."
" Oyahh ?,Kok kamu gak bilang ada pergantian Sekertaris ?" Tanya pak Wiguna dengan tersenyum mengantung.
" Yah kan secara Jabatan udah Banny pegang pah,Jadi Banny berhak mengganti beberapa staf yang menurut Banny gak bagus dan layak Banny ganti." Jelas Banny sembari menoleh Mona yang tertunduk tidak berani menatapnya.
" Tapi keputusan kamu mengganti Manda tepat sekali,Dan papah tidak menyangka jika Mona yang akan menggantikannya,Banyak cerita yang menarik tentang Mona Ban." Ucap Pak Wijaya seraya melempar senyuman hangat ke arah Mona.
Mona tersenyum tersipu saat pak Wiguna menatapnya dengan penuh Haru ke arahnya, Banny pun ikut menoleh dengan menatap tajam ke arahnya sembari menyeka bibirnya dengan tisu pemberian Mona.
" Pah.Papah kenapa tidak bilang sama Banny kalo papah mengenali Mona."
" Kenapa harus bilang sama kamu,papah sengaja tidak memberi tahu tentang Mona karena papah ingin menjodohkan kamu dengn Mona jika nanti waktunya tiba.Tapi ternyata TUHAN telah menghendaki terlebih dahulu sehingga dengan apa yang menjadi niat baik papah selama TUHAN segerakan,Sehingga papah tidak perlu lagi membujuk bujuk kamu untuk di jodohkan." Ucap pak Wiguna dengan tersenyum lega.
" Kamu tau Mona,Banny ini adalah sosok laki laki yang sulit mencari pacar.entah trauma atau tidak berminat sehingga setiap ada perempuan yang suka padanya selalu tak ada respon." Jelas Pak Wiguna seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Pah hal itu tidak usah di ceritakan !" Ucap Banny dengan wajah mulai terlihat menahan malu campur kesal.
" Biar Mona tahu Ban,Dan ternyata Mona mampu membuka pintu hati kamu itu." ucap lagi pak Wiguna dengan semakin bangga.
" Papah yakin Mona bisa menerimamu apa adanya." Tutur Pak Wiguna seraya menyuapkan sepotong danging ke mulutnya lagi.
Mona dan Banny menatap secara bersamaan ada tatapan yang begitu syahdu di antara sorot mata mereka entah ini suatu kebetulan atau takdir mereka harus di persatukan meski lewat sebuah sandiwara.
Dan Tentunya ini adalah Restu sang papah yang akan menjadi masalah baru didalam kehidupan Mona dan Banny.
Minggu yang lalu Banny mengaku berpura pura menjadi pacarnya Mona untuk membuat sang nenek bahagia dan Minggu kali ini Mona yang berpura pura untuk menolong Banny agar terlepas dari masalah perjodohan papahnya.
Namun semua di luar ekspetasi mereka sandiwara ini sudah memasuki ke dua minggunya tepatnya 14 hari dari semenjak mereka melakukan sebuah sandiwara menjadi sepasang kekasih. Tapi justru mereka terjebak dalam sandiwara yang di ciptakan mereka sendiri.
" Papah lega.Akhirnya kamu bisa mendapatkan perasaan kamu yang dulu pernah hilang,Dan papah sangat berharap kamu bisa menjaga Mona,Karena papah pribadi sudah menganggap Mona seperti anak papah sendiri bahkan papah sudah tau banyak hal tentang Mona." Ucap pak Wiguna sembari menatap Mona dengan rasa haru.
Mona terdiam ia tak sanggup menatap siapapun termasuk pak Wiguna,Begitu besarnya kasih sayang seorang Wiguna akan menyayangi dirinya.
Pak Wiguna sangat baik terhadap Mona dan Bagi Mona pak Wiguna adalah sosok penganti dari sang ayah yang kini entah dimana keberadaanya.
Entahlah Mona merasa begitu terharu atas kalimat kalimat yang telah di ucapkan oleh Pak Wiguna akan dirinya.
Ia sama sekali tidak menduga jika diam diam Pak Wiguna berniat untuk menjodohkan dirinya dengan sang anaknya.
Mona mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah tenang pak Wiguna ia hanya mampu tersenyum tipis tanpa bisa berbicara sedikitpun.
Sementara Banny hanya menoleh kaku tanpa menimpali sedikitpun.ia melihat kekaguman yang sangat luar biasa anatara papahnya terhadap sosok Mona yang di anggapnya hanya perempuan biasa saja.
Banny hanya bisa memandangi dalam dalam gelas yang sedang ia pegangi sambil sesekali ia meminumnya entah apa yang ada dalam benaknya untuk saat ini tentang perjodohannya dengan Mona.
************
Bersambung
__ADS_1