
SUARA nada pesan singkat masuk ke ponsel miliknya Mona.
Mona menolehnya lalu meraih ponsel tersebut.Dilihatnya sebuah pesan singkat di layar notifikasi.
Amel :👩🦳 Gue bareng Tamara di kantin,gue tunggu ya." Isi Pesan singkat tersebut.
Mona melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang.
Sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi,gadis berlesung pipit itu menoleh ke arah ruangan sang bosnya yang nampak kosong,sesaat gadis itu pun bertanya-tanya dalam hatinya tentang keberadaan bosnya yang tidak ada di ruangan nya tersebut.
Namun Mona hanya mengangkat bahunya dengan acuh ia berpikir jika bosnya tersebut berkemungkinan sudah keluar dari ruangannya untuk makan siang,tak berapa lama ia pun segera merapihkan meja kerjanya dan berniat akan segera menyusul kedua sahabatnya yang sudah terlebih dahulu menunggunya.
Baru saja ia hendak melangkah, seorang pria dengan perawakan tegap menyembul dari balik pintu ruangannya.
Mona menatap lurus ke arah pria tersebut dengan wajah kaku.
" Zean." Pekiknya pelan.
" Sorry gue tidak ketuk pintu dulu !" Ucap pria tersebut yang berjalan mendekat ke arahnya.
" Tidak masalah.Ada apa ya ?" Tanya Mona seraya melangkah meninggalkan tempat duduknya.
" Lo ada waktu ?Mama ingin bicara dengan lo Mon." Ucap Zeanu menatap dalam ke wajah gadis tersebut.
Sesaat Mona membalas tatapan pria tenang itu dengan tatapan tak biasa.
" Please Mona,kali ini saja!!" Pinta Zeanu memohon dengan raut wajah mengiba,berharap hati gadis tersebut luluh.
Mona menghela napas lalu menggigit kecil ujung bibirnya seraya tertunduk,sementara Zeanu si pria berwajah tenang itu masih menatap tak sabar.
" Gue belum siap Zean!" Sela Mona dengan tertunduk kian dalam.
" Tapi Mama lo benar-benar ingin bertemu dengan lo Mona." Kembali Zeanu mengiba suaranya terdengar berat.
Mona menarik napas kembali lalu meremas ujung blezernya dengan resah, rasanya ini tak mudah bagi dirinya untuk mengiyakan permintaan pria tersebut.
Pria yang pernah membuatnya terkagum-kagum atas segala sikap dan perbuatannya itu kini sedang mengiba atas keras hatinya.
" Elo boleh benci sama Mama lo,tapi lo harus ingat ! gak mungkin akan ada lo tanpa adannya dia Mon." Ujar Zeanu menatap dalam gadis itu yang kini telah menjadi adik sambungnya tersebut.
Mona hanya menarik napas dengan ekspresi yang sulit di lukiskan.
" Gue masih perlu waktu untuk mendamaikan perasaan ini Zean,bukannya gue tidak ingin bertemu dengan Mama gue,tapi hati kecil gue selalu menahan gue untuk....."Ucapan Mona menggantung sesaat,dan pada waktu yang sama seorang pria tampan berwajah dingin itu tiba-tiba mucul di ruangannya menyoroti dirinya bersama Zeanu dengan tatapan lain.
Pria yang berada di hadapan Gadis manis itu menoleh ke arah tatapanya dan ia pun mendapati seraut wajah dingin menatapnya.
" Haii Ban !" Sapa Zeanu dengan tersenyum kaku.
" Hai Zean !" Balasnya dengan menatap acuh namun sekilas raut wajah pria itu berubah,dan air mukanya menunjukan ketidak sukaan nya terhadap kehadiran Zeanu di ruangan sekertarisnya tersebut.
" By the way,ada apa nih lo Ban tumben-tumbenan ke ruangan sekertaris gue ?" Tanya Banny menatap penuh selidik.
" Kenapa?gue gak boleh ya menemui sekertaris lo ini ? " Tanya balik Zeanu menyeringah datar.
" Yaa biasanya lo kalau ada janji sama gue atau perlu sama gue,lo akan kontek gue terlebih dahulu." Terang Banny seraya berdiri di samping gadis tersebut,bahasa tububnya kinin seakan-akan sedang membuat sahabatnya tersebut cemburu secara tidak langsung.
" Sepertinya lo sudah tidak membutuhkan gue lagi ?" Ujar Banny menatap tajam.
Zeanu menyeringah dengan menatap kaku ke arah sahabatnya tersebut yang sengaja membuatnya terasa terpojok dengan perkataanya itu.
" Gue sengaja tidak ngehubungin elo,karena gua ada sedikit urusan saja dengan sekertaris lo ini,jadi gue rasa gue tidak perlu bilang terlebih dahulu sama lo, Ban ?" Imbuh pria itu dengan tenang.
" Oyaa,jadi ada urusan apa antara lo dengan sekertaris gue ?" Tanya Banny menatap beku ke arah Zeanu.
" Hmm...,"
Sesaat Zeanu mengalihkan pandangannya ke arah Mona lalu tersenyum enteng.
" Ini adalah urusan di luar pekerjaan, dan ini bisa di bilang masalah pribadi gue dengan Mona." Ujar pria hangat itu tersenyum tipis,ia berusaha untuk tidak membuat salah paham sahabatnya tersebut.
Pria tampan itu mendecih pelan seraya bersikap penuh lelucon,lalu ia pun menatap sinis ke arah sahabat sekaligus fatner kerjanya tersebut.
" Heuh,sejak kapan lo punya urusan pribadi dengan sekertaris gue ?gaya lo seperti orang so sibuk saja man." Ujar Banny melirik dengan remeh.
Zeanu menghela lalu menatap ke arah gadis tersebut dengan berbagai perasaan.
" Memangnya ada urusan pribadi sepenting apa sih, hingga lo harus ketemu langsung dengan sekertaris gue,dan elo melupakan etika lo datang keperusahaan orang lain ?" Tanya Banny dengan sikap dinginnya menatap tajam ke arah sahabatnya tersebut.
Zeanu menelan kuat air liurnya,ucapan sahabatnya itu terasa begitu kuat kerongkongannya.
Untuk urusan menyindir secara halus Banny memang pakarnya.
" Maaf pak,saya dengan pak Zeanu lagi ada sedikit permasalahan pribadi saja." Mona menyela dengan ragu memncoba melakukan pembelaan terhadap Zeanu.
" Oya ?Pribadi ??memangnya kalian pacaran ?" Tanya Banny membagikan pandangannya ke arah Zeanu dan Mona.
Pria berwajah tenang itu tecekat dan langsung menatap sahabatnya itu dengan kurang nyaman atas ucapan yang di lontarkan kepada dirinya.
" Banny,ini masalah keluarga gue dan keluarganya Mona." Jelas Zeanu memasang wajah serius.
Pria tampan itu mendecih lalu mendekat dan berbisik pelan ke arah sahabatnya itum
" Elo gak usah munafik,gua tahu perasaan lo terhadap sekertaris gue ini !" Ujarnya dengan penuh penekanan hingga membuat Zeanu kian tertekan.
Zeanu menggeleng,ia tak ingin berdebat dengan sahabatnya tersebut.
" Itu terserah lo mau beranggapan apa tentang gue,karena untuk saat ini gue belum bisa cerita akan permasalahan gue ini bersama Mona Ban." Jelas Zeanu dengan datar.
" Apa sebenarnya yang sedang terjadi antara kalian ?,gue rasa.Gue gak bisa percaya begitu saja sepenuhnya sama ucapan lo,karena gue tahu pasti jika lo memang masih suka kan sama sekertaris gue?,lo tidak usah memberi alasan yang terlalu klise buat gue." Jelas Banny menatap sinis.
Mona menatap tegang atas sikap bosnya tersebut yang bersikap kurang ramah terhadap Zeanu.
Rahang pipi pria berwajah tampan itu menyembul menahan ketidak nyamanan atas kecurigaan yang di alamatkan sahabatnya kepada dirinya.
Berlebihan sangat orang ini menuduh dirinya,pikir pria tersebut menyipitkan matanya ke arah sahabatnya itu.
" Banny demi TUHAN !! gue udah gak ada perasaan apa pun terhadap sekertaris lo itu,karena gue dan dia......" Ucapan Zeanu menggantung setelah kalimatnya di potong langsung oleh Mona.
__ADS_1
" Pak Zean,sebaiknya kita membahas masalah ini di luar kantor saja,saya tidak ingin pak Banny berpikiran buruk terhadap kita.Untuk saat ini saya belum siap cerita akan permasalahan ini." Ucap Mona pelan.Bola matanya terlihat berkaca-kaca dan gadis itu berharap jika permasalahan ini tidak perlu di ketahui oleh bosnya tersebut.
" Kalian ada apa sih ?,kalian bisa cerita kan !saya paling tidak suka jika ada rahasia di antara kita." Banny menatap gantian ke arah mereka.
" Mohon maaf pak,untuk saat ini sepertinya saya belum bisa bercerita akan permasalahan ini kepada bapak." Sela Mona dengan cepat.Tepat gadis itu selesai bicara raut wajah Banny berubah dan menatap tidak suka ke arah Zeanu serta sekertarisnya itu,ada ketidak nyamanan yang ia rasakan atas perlakuan sekertarisnya itu.
" Saya tunangan kamu dan saya bos kamu juga,memangnya saya tidak boleh tau akan urusan kamu ?" Ucapnya dengan wajah datar.
Zeanu beserta Mona menoleh cepat ke arah Banny yang mengatakan dirinya mengakui tunangannya Mona.
" Ban,yang benar saja,lo cuman bersandiwara doang dengan Mona emang perlu semua urusan dia cerita ke elo." Ucap Zeanu menatap penuh selidik ke arah pria tampan berwajah dingin tersebut.
Sontak saja wajah tampan seorang Banny memias,apa yang di ucapkannya ternyata di luar kesadarannya sendiri rasanya ia ingin menarik kembali perkataanya itu namun sayang sudah terlontar begitu saja dari mulutnya.Lalu ia pun hanya bisa menoleh sahabatny tersebut tanpa ekspresi.
" Maaf pak,saya ke kantin duluan ya !jadi saya permisi duluan." Pamit Mona seraya melangkah melewati bosnya tersebut dengan penuh hormat.
Pria yang menjadi bosnya tersebut hanya terdiam dengan menatap pasrah langkah sekertarisnya itu yang mulai berani mengabaikan kehadirannya,rasanya baru kali ini ia merasa tak sewibawa itu di hadapan sekertarisnya.
" Sorry Ban,gue belum bisa cerita masalah ini ke elo." Ucap Zeanu menimpali dan ia pun berniat ingin melangkah keluar.
" Gue tahu apa yang sedang lo rencanain dengan sekertaris gue." Selanya dengan cepat.Zeanu menghentikan langkahnya lalu menoleh kembali ke arah Banny.
" Maksud lo apa ?" Tanya Zeanu mengerutkan kedua alisnya.
" Lo sedang merencanakan sesuatu setelah usai sandiwara ini." Ujar Banny menyeringah sinis.
Pria berwajah tenang itu tersenyum sinis,seolah-olah ia sedang melihat sebuah kecemburuan yang nyata dalam diri seorang Banny terhadap dirinya.
" Kenapa lo begitu yakin gue sedang merencanakan sesuatu dengan sekertaris elo ?" Tanya Zeanu menatap heran.
" Gue tahu siapa elo,karena loa tak mudah melepaskan perasaan lo terhadap seseorang,termasuk dengan Mona." Jelas Banny dengan penuh penekanan.
Zeanu menarik ujung sudut bibirnya lalu mendecih pelan.
" Dan gue juga tahu siapa lo,elo sudah merasa cemburu kan ?dan takut jika gue akan merebut sekertaris lo itu,karena lo diam-diam sudah menyimpan perasaan terhadap sekertaris lo itu.Cuman sayang elo terlalu angkuh saja untuk mengakui hal itu." Jelas Zeanu dengan menatap puas.
Raut wajah pria berwajah dingin itu semakin membeku tatkala apa yang di ucapkan sahabatnya itu mengena di hatinya.
Ia hanya tersenyum mengerikan lalu menggeleng pelan.
" Lo salah,gue tidak ada perasaan apa pun terhadap sekertaris gue,dan ini adalah murni dari perjodohan bokap gue." Ucap Banny berusaha mengelak.
" Elo gak usah munafik !" Sela Zeanu mendecih,rasanya ia tak percaya dengan apa yang di katakan sahabatnya tersebut.
" Kenapa ?,memang lo belum bisa paham juga dengan karakter gue ?
" Jutru itu gue gak percaya dengan ucapan lo,karena gue tau percis siapa elo,dan lo juga gak perlu menghindar dari perasaan lo sendiri,buktinya saja lo penasaran kan dengan urusan gue terhadap Mona sekertaris lo itu." Tanda Zeanu lagi-lagi membuat seorang Banny tidak bisa berkutik.
Apa yang menjadi ucapan sahabatnya itu memang benar apa adanya.
Banny menarik napas lalu menatap dalam ke arah wajah sahabatnya tersebut.
" Sekarang gue tanya sama lo,sampai kapan sandiwara ini akan berakhir ?"
" Itu bukan urusan lo !" Cetusnya pelan.
" Urusan Mona sekarang menjadi urusan gue !"
" Oh gue tau,mungkin elo akan menjadi pahlawan buat sekertaris gue itu dan elo dapat simpatiknya itu,iyakan ? gue paham Zean. ?" Ucap Pria tampan berwajah dingin itu semkin jauh menilai ucapan dari sahabatnya itu.
Zeanu menahan sesak napasnya yang mulai menghimpit ruang dadanya.Berdebat dengan seorang Banny memang membutuhkan hati yang tenang,salah menanggapi akan menjadi malapetaka baginya.Karena tak mudah jika berbicara dengan sahabatnya itu selain pembawaanya yang dingin tak ayal ia selalu mengeluarkan perkataan yang tidak nyaman di hatinya.
" Sudahlah gue tidak ingin berdebat dengan lo." Balas Zeanu seraya beranjak.
" Elo menghindar berarti lo mengiyakan perkataan gue." Serunya dengan keyakinan tinggi jika Zeanu seperti itu adanya.
Pria berkumis tipis itu menoleh sahabatnya dengan berbagai macam perasaan,setadinya ia tidak ingin teralalu jauh melibatkan dirinya dalam urusan sandiwara sahabatnya tersebut namun rasa kecemasannya terhadap adik perempuan sambungnya tersebut memaksakan dirinya harus terlibat,ia tak ingin sesuatu hal yang tidak di inginkan menimpa perasaan seorang gadis yang ia cintai.
Karena baginya mencintai gadis itu tak harus menjadi kekasihnya melainkan sebagai seorang adik kakak saja pun bagi dirinya sebuah kebahagiaan yang tiada tara.
" Kenapa elo diam ? " Tanya Banny menyadarkan lamuannya.
" Sorry,gue cabut dulu Ban gue ada pekerjaan lain." Ucap Zeanu memilih pergi dan tidak menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut,pria berwajah dingin itu hanya melengos sinis,rupanya ia kecewa dengam sikap sahabatnya tersebut yang memilih pergi mengabaikan pertanyaannya.
Banny menatap panjang langkah sahabatnya itu yang keluar dari ruangan sekertarisnya dengan perasaan yang mengganjal.
**********
Di kantinnn.
" Udah jam berapa ini Mon?lihat waktu istirahat bentar lagi habis ah lo payah deh." Sambut Amel dengan menekuk wajahnya menatap sebal ke arah Mona yang baru datang menghampirinya.
" Sorry,barusan gue ada urusan dulu sebentar." Balas Mona sambil duduk tak jauh dari kursi Amel.
" Urusan penting apa ?" Ucap Amel mendelik.
" Barusan Zeanu ada ke kantor ada urusan penting sama gue." Jelas Mona dengan raut wajah datar.
Kedua sahabatnya saling melempar pandangan nya dengan menatap heran.
" Mon,kok si cowok tanpa nama itu sekarang lebih intens ya ketemu sama lo,apa lo berdua jangan-jangan udah jadian lagi tanpa sepengetahuan kita." Tanya Amel menatap penuh selidik.Mona melepaskan tatapanya ke arah gadis bertubuh sintal tersebut dengan cuek.
" Apaan sih Mel,masih aja nyebut Zeanu dengan panggilan cowok tanpa nama terus." Ucapnya dengan sedikit keki.
" Yaa karena nama itu yang gue ingat." Balas Amel cuek.
" Tapi gue perhatikan emang sih lo akhir-akhir ini lebih deket sama si cow....." Amel terhenti saat Mona dengan cepat menyela.
" Zeanu.Amelia putri." Potong Mona dengan mendelik kesal hingga ia menyebut nama sahabatnya tersebut dengan nama lengkap.
Amel terkekeh melihat kejengkelan sahabatnya tersebut.
Lucu saja kalau Mona sudah memanggil namanya dengan lengkap.
" Itu belum seberapa kejengkelan lo Mon,di banding ke jengkelan yang gue hadapi dengan ni bocah." Jelas Amel seraya menunjuk Tamara dengan bibirnya.
" Loh kok gue lagi yang di salahin,dosa gue apa ?" Sela Tamara ikut protes.
__ADS_1
" Dosa lo gak kehitung bikin gue darah tinggi terus dan bikin imun gue menurun." Tambah Amel terekkeh kembali.
" Perasaan gue gak pernah bikin lo emosi deh." Bantah Tamara dengan polos.
" Ya ya,gak pernah bikin gue emosi tapi bikin darah tinggi iya sering." Balas Amel tak mau kalah.
" Sudah deh,kalian kalau udah ribut gak berhenti-henti,bikin urusan makin panjang." Sergah Mona menyela.
Kedua sahabatnya saling mendilak sebal.
" Mel gimana sidang lo dengan Manda?sorry ya gue belum sempet ngomong nih sama pak Banny akan masalah lo itu." Ucap Mona dengan raut wajah sedih.
" Gak apa-apa Mon,masalahnya udah kelar kok." Balas Amel menoleh sang sahabat.
" Serisu Mel,terus-terus lo gak di pecat kan ? " Tanya Mona dengan khawatir.
Amel menggeleng seraya tersenyum simpul.
" Buktinya gue masih disini." Jawab Amel dengan tersenyum semeringah.
" Yang di pecat itu si ratu nyamuk Mon." Tamara menyela dengan semangat.
Mata belonya Mona membelalak lebar dan ia pun nyaris terloncat dari tempat duduknya.
" Se se serius Mel ?" Tanya Mona penuh keterkejutan.
Yang di toleh hanya mengangguk bangga.
Sejenak Mona terdiam ia mengingat kembali akan perlakuan seorang perempuan yang selalu membuatnya sakit hati,tapi ketika ia mendengar perempuan itu di pecat perasaan nya mendadak iba.
" Yaa ampyun Mel,kasian juga ya si Manda." Ucap Mona dengan raut wajah muram.
Kedua sahabatnya melengos mendengar ucapan Mona tersebut.
" Hmmm,orang yang sudah jahat sama lo ngapain juga lo kasihani,syukur banget tuh orang enyah dari tempat ini,hidup lo akan aman sentosa selamanya." Ucap Amel dengan wajah bahagia.
" Tau Mel,tapi kalau di pikir-pikir lagi kasian juga dengernya." Tambah lagi Mona degan raut wajah kian mendalam.
" Alaaah...,,sekali-kali lo harus belajar tega,jangan mau di sakiti mulu." Amel menyergah ucapannya Mona.
" Betul tuh,kaya temen kita ini si raja tega." Sela Tamara dengan melirik Amel.
" Iya dong,hidup kalau gak tega akan di injak-injak Mon." Ucap lagi Amel dengan bangga.
" Iyaa..kaya sendal di injak-injak mulu." Sela Tamara polos.
Amel melirik ke arah sahabatnya tersebut yang mulai ada tanda-tanda sahabatnya itu bikin jengkel kembali.
" Dimana-mana sendal itu emang pakenya di injak tamara." Sela Amel yang gatal ingin berkomentar.
" Yang bilang di pake di atas kepala siapa ?" Balas Tamara cekikikan.
Bola mata Amel membulat lalu menggaruk kepalanya dengan tak gatal.
" Terus akhirnya Manda di pecat." Tanya Mona memastikan lagi.
" Yap.Gue sih berharap tak ada Manda-manda yang lain lagi,sudah lama juga gue mendambakan hal seperti ini,bebas dari ratu nyamuk itu." Jelas Amel dengan bernapas lega.
" Itu lah resiko orang jahat." Balas Tamara menimpali.
Lalu Mona pun hanya mengangguk-nganguk saja tanpa berkomentar lagi.
" Eh Mon,lo kemaren katanya mau cerita tentang nyokap lo,memangnya ada masalah apa ?" Tanya Amel mengalihkan pembicaraanya seraya menatapan ke wajah Mona yang air mukanya mulai berubah muram ketika pertanyaan itubterlontar.
Sejenak Mona terdiam raut wajahnya mulai berubah sendu.
" Ada apa Mon ?" Tanya Amel dengan terheran-heran saat melihat reaksi wajah Mona semakin muram.
" Mon lo baik-baik saja ?" Tanya Tamara cemas saat mendapati raut wajah Mona kian berat.
" Lo sudah menemukan keberadaan nyokap lo ?" Tanya lagi Amel dengan suara memelan.
Mona tersenyum kaku lalu mengangguk pelan.
" Serius Mon ??" Pekik Amel tak percaya.
" Syukurlah lo akhirnya bisa bertemu lagi dengan nyokap lo." Ucap Amel serta Tamara berucap bersamaan dengan rasa haru.
" Iya,tapi....." Ucapan Mona menggantung lalu membagikan tatapannya ke arah kedua sahabatnya dengan perasaan gamang.
" Tapi kenapa ?" Tanya Amel kian penasaran.
Mona terdiam kembali.Ketidak siapan nya untuk cerita membuat ia semakin ragu dan bimbang.
" Cerita saja Mon." Ucap Tamara penimpali.
" Masalahnya nyokap gue sekarang tinggal bersama bokapnya Zeanu." Jelas Mona dengan ragu.
" WHAT ??" Pekik kedua sahabatnya memekik bersamaan.
" Wait,wait...,gue belum paham." Sela Amel dengan menatap heran.
" Jelasin Mon,jangan sampei kita gagal paham nih,nyokap lo kumpul kebo sama bokap Zeanu ?apa gimana ?" Tanya Tamara ikut heboh.
" Kumpul kebo,ada-ada aja loh kalau ngomong." Sela Amel mendilak kesal ke arah Tamara.
Tamara hanya cengengesan dengan tersenyum polos.
" Mel,Tam,jadi gini.Nyokap gue udah nikah lagi sama bokapnya Zeanu."
" Oh,gitu dong kan jelas jadinya." Ucap Tamara menimpali.
" Ohhhh....!!"Amel ikut mengatakan hal yang sama.Namun
sesaat Amel terdiam lalu tiba-tiba wajahnya berubah shok.
" Jadi lo sama si cowok tanpa nama itu sodaraan dong ?" Seru Amel dengan menatap tak percaya.
__ADS_1
Amel dan Tamara saling melongo menatap satu sama lain.
Sementara Mona hanya mengangguk pasti.