
KAPSUL lift terbuka tepat di lantai lima,Mona berjalan keluar dengan langkah gontai, ia berusaha menetralkan persaan gelisah yang sedang di rasakannya.
Mona mendekati pintu sang Direktur utama lalu di ketuknya dengan pelan,dan terdengar suara sang Direktur menyahut dari dalam dengan intonasi berat.
Pintu terbuka Mona pun menyembul dari balik pintu itu dengan raut wajah tak bersemangat, lalu ia pun berjalan gamang mendekati meja sang Direktur.
" Maaf pak,bu Silvi rupanya sudah pulang jadi saya tidak sempat menyampaikan pesannya bapak ke beliau." Ucap Mona menatap datar Banny.
" Oh,besok saja kamu konfirmasikan kembali hal ini kepada bu silvi,dan tolong kamu usahain pekerjaan ini cepat beres,bila perlu besok.Karena besok siang saya mau cek kembali semua laporannya ." Ucap Banny dengan masih menatap layar latopnya.
Mona mengangguk pelan.
" Baik pak." Jawabnya pendek.
" Ada lagi pak ?" Tanya Mona dengan raut wajah terlihat lelah.
" Tidak !" Jawab Banny tak kalah pendek.
" Baik pak,kalau begitu saya permisi,saya kembali ke ruangan saya lagi pak."Ucap Mona seraya memutar badannya hendak melangkah.
" Tunggu !" Sergah Banny dengan cepat.
Mona menahan langkahnya lalu memutar kembali badannya untuk menghadap ke arah bosnya itu.
" Sebaiknya kamu tunggu di ruangan saya saja." Pinta Banny seraya menatap Mona sejenak, lalu perhatianya kembali ke layar laptopnya.
" Hah ??" Peki Mona tercengang.
" Kenapa ?" Tanya Banny melirik tajam ke arah ekspresi Mona yang terlihat shok mendengar titahnya.
" Ti tidak kenapa-napa pak." Sergah Mona dengan perasaan gugup.
" Kamu tidak suka jika satu ruangan dengan saya ?" Tanya lagi Banny dengan memicingkan matanya, sorot matanya terlihat tajam.
" Tidak pa !eh maksud saya baik pak." Jawab Mona terlihat gugup,Banny hanya menggeleng lalu tersenyum aneh melihat Mona yang terlihat tidak fokus.
" Tapi pak,ada beberapa pekerjaan yang belum saya kerjakan, jadi saya....." Ucapan Mona menggantung setelah Banny memotongnya cepat seraya menatap tajam.
" Sebaiknya pekerjaan kamu bisa di bawa ke ruangan saya !" Perintah Banny tegas.Mona mengatupkan bibirnya dengan rapat apapun yang di perintah kan Banny tidak bisa di tolaknya.
Mona pun bergerak cepat menuju kembali keruangannya untuk mengambil keperluan pekerjaannya tersebut,dan tak lama Mona sudah kembali ke ruangan bosnya tersebut dengan membawa laptop lalu ia pun duduk di sopa yang tak jauh dari meja kebesarannya sang bos.
Mona menempelkan bokongnya dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu konsentarsi bosnya tersebut.
Gadis tersebut menatap canggung ke arah sang bos yang masih fokus menatap laptopnya,bagaimana tidak kesempatan kali ini ia bekerja dalam satu ruangan dengan bos yang paling dingin sejagad raya ini.Pikir Mona melirik kecil.
Selang beberapa menit ia pun mefokuskan pikirannya ke urusan pekerjaan nya,padahal perasaanya sedang bergejolak akan kejadian yang telah terjadi berturut-turut menimpa dirinya beberapa saat yang lalu sehingga hal tersebut mengusik ketenangan jiwanya.
*******
Sementara di tempat lain.
Tamara dan Amel selepas pulang dari kantor mereka memilih untuk bersantai sejenak di caffe yang tak jauh dari gedung perkantornya tersebut.
Mereka sedang membahas tentang masalah yang sedang menimpa sahabatnya itu.
__ADS_1
Amel menyimak seluruh obrolan Tamara yang sedang di ceritakan kepada dirinya secara detail tak ada yang terlewat satu pun,mereka sedang membicarakan tentang sosok Kinaya yang notabene nya adalah seorang mantan kekasih dari sang bosnya tersebut.
" Ko mantan boskul bisa datang ke kantor kita sih?mau ngapain dia ?" Tanya Amel seraya menyesap minumannya.
" Mana gue tau,kalau masalah itu sebaiknya lo tanya pak Banny langsung deh." Balas Tamara dengan sangat polos menjawab pertanyaan Amel.
" Yaa kali aja gue punya nyali beton nanya kaya gitu sama pak boskul.Kadang-kadang lo ya, kalau di tanya suka ngaco jawabnnya." Sela Amel mendilak kesal.
" Lah lo nanya masalah itu sama gue, ya gue mana tahu." Balas Tamara tak kalah sengit.
" Kalau lo tahu,gue goreng kaya tahu bulat di goreng dadakan." Ucap Mona ngedumel sendirian.
" Salah nanya gue." Guman lagi Amel dengan suara pelan.
" Tapi Mel,yang gue anehkan itu,kok bisa ya mantan boskul tahu jika Mona sama boskul cuman sandiwara saja selama ini ?." Tanya Tamara menatap Amel dengan penuh seksama.
" Nah,tuh nyambung otak lo." Guman Amel pelan.
Amel menatap balik Tamara seraya menyuapkan potongan roti bakar berlapis caramel ke mulutnya.
" Lo ngerasa aneh juga gak Mel ?" Tanya Tamara dengan serius.
" Iya juga sih,kan setahu gue yang tahu urusan ini cuman kita berdua dan si Mona." Sela lagi Amel seraya mengingat-ngingat akan sesuatu.
" Berempat mel sama pak Banny juga." Sela Tamara cepat.
" Itu dari pihak kita,Tamara blusukan!" Ujar Amel dengan penuh penekanan.
" Tamara blusukan siapa ?" Tanya Tamara menatap heran Amel.
" Itu Tamara blezenki Mel." Tamara membenarkan nama seorang Aktris tanah air dengan mendilak manja.
" Giliran nama artis lo cepet konek." Sela lagi Amel seraya. mengerucutkan bibirnya hingga runcing.
Tamara terdiam tanpa ekspersi lalu membenarkan kembali poni pendeknya.
" Tam,secara yang tahu permasalah hubungan Mona dengan boskul hanya kita bertiga saja kan yang tahu percis?tapi kenapa mantan si boskul itu bisa tahu juga ya?Curiga gue ??" Tanya Amel seraya memicingkan matanya dan berpikir sejenak.
" Curiga sama siapa ? sama gue ?" Tanya Tamara cepat,ia yanh bertanya dia juga yang jawab sendiri.
" Lah, Emang gue nyurigain lo ?terus emangnya lo kenal sama mantan boskul itu?" Tanya Amel membulatkan matanya.
" Kagak ?" Jawab Tamara menggeleng acuh.
" Laa kalau kagak kenal lo ngapain gue curiga sama lo." Terang Amel dengan sengit,rupanya ia mulai merasa jengkel dengan sikap Tamara yang sering membuatnya snewen menghadapi kepolosannya tersebut.
Bagi Amel semakin jauh obrolannya dengan Tamara semakin itu juga peluang dirinya berkesempatan untuk mengidap penyakit hipertensi akut.
" Sabar gue." Guman Amel dengan mengelus-ngelus dadanya yang seakan terasa terkena serangan jantung atas kejengkelannya terhadap sahabatnya tersebut.
" Terus siapa dong yang sudah memberi tahu masalah ini kepada mantan kekasihnya pak bos?" Tanya lagi Tamara dengan berpikir keras.Begitupun Amel ia ikut turut serta memusatkan pikirannya.
" Tam,menurut lo si cowok tanpa nama itu ada sangkut pautnya gak sih sama hal ini ?" Tanya Amel menatap dalam Tamara.
" Zeanu maksudnya ?" Balas Tamara pelan.
__ADS_1
" Iyaa,siapa tahu dia juga mengetahui masalah ini,secara kan dia sahabat sekaligus fatner kerja boskul.Yaa setidaknya mereka pernah curhat gitu lah." Tanya Amel yang mencurigai akan kehadiran Zeanu ada sangkut pautnya dengan hal itu.
" Ternyata cowok suka curhat juga ya ?" Tanya balik Tamara pelan.Apa yang di bicarakan Amel lain pula yang di tanggapinya.
Amel menekan kuat rahangnya serta merapatkan barisan giginya dengan kuat.
" AMEL !! apa yang gue tanya lain juga yang lo jawab,pyuhhh !! nasib gue gini amat sih." Guman Amel dengan perasaan ngebatin,lalu di mengusap-ngusap wajahnya dengan frustasi.
Tamara hanya cengengesan melihat sikap jengkelnya Amel yang malah mengundang kelucuan baginya.
" Ketawa aja loh !" Cetus Amel dengan merengut.
" Lucu aja kalau lo lagi marah." Ucap Tamara masih tertawa renyah.
" Gue dan satu kampung mengucapkan BODO AMAT !!" Ucap Amel ketus.
" Haa,haa haa, lo makin,makin lucu Mel." Tamara malah tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Amel yang snewen melihat gayanya.
" TUHAN,kok bisa ENGKAU Ciptakan mahluk selugu dan sekonyol ini?" Rutuk Amel seraya menggeleng jengkel.
" Mel !" Panggil Tamara mencolek Amel.
" Kenapa sih ?" Tanya Amel dengan menyuapkan kembali rotinya dengan sedikit kasar ke mulutnya.
" Gue masih penasaran ini."
" Gue juga sama." Balas Amel singkat.
" Apa mungkin Zeanu kenal sama Kinaya ya ?" Tanya Tamara dengan menatap polos.
Amel mengernyitkan kedua alisnya lalu menatap makin dongkol ke arah Tamara.
" Kan itu yang gue omongin tadi sama lo Tamara." Ucap Amel dengan nada gemas campur kesal menjadi satu.
" Massa sih ?" Ucap Tamara seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
" Lama-lama gue kuncir juga bibir lo itu,kan tadi udah gue bilang sama lo !" Jelas Amel berusaha sabar menghadapi sikap terpolosnya Tamara.
" Nah,yang jadi feelling gue kayannya mantan boskul ada kenal sama Zeanu.!" Ujar Tamara seraya menyesap habis mocacino kesukaanya itu.
" Lo punya feeling darimana jika mantan boskul saling kenal sama si cowok tanpa nama itu.?" Tanya Amel dengan menatap dalam Tamara.
" Feelling gue aja." Balas Tamara singkat seraya menggerak-gerakan kadua alisnya naik turun.
" Hmm,." Sejenak Amel berpikir.
" Terus kalau mereka kenal lo mau ngapain ?" Tanya lagi Amel dengan penasaran.
" Yaa kalau mereka saling kenal berarti masalah ini ada sangkut pautnya dengan Zeanu,dan jelas siapa yang kasih tau permasalah ini kepada mantan boskul itu." Jelas Tamara dengan penuh keyakinan.
Amel menyeringah pelan lalu menatap lucu ke arah Tamara yang prasangka buruknya tertuju kepada Zeanu.
" Kadang-kadang feelling lo boleh juga tuh,Tamara,Tamara kadang-kadang lo emang suka bikin tensian gue naik turun." Ucap Amel tersenyum tipis.
" Bikin tensian turun naik emang gue senyebelin itu." Tanya Tamara menggeleng.
__ADS_1
" Yaa itu kadang-kadang makanya gue bilang." Balas Amel terkekeh, Tamara pun ikut tekekeh dengan lucu mengkitu gaya tertawanya Amel.