
WAKTU sudah menunjukan pukul 19:00.WIB,Banny beserta sekertarisnya itu masih berkutat dengan pekerjaanya masing-masing.
Banny mengangkat wajahnya dan sesaat menatap lurus ke arah Mona yang sedang fokus ke layar leptopnya.
Banny menatapnya dengan seksama,sejurus kemudian Mona terlihat mengusap wajahnya dengan frustasi lalu sejenak raut wajahnya berubah bengong dan menatap kosong ke layar laptopnya.
Banny mengernyitkan pandangannya dan sekilas ia melihat raut wajah Mona terlihat sedang gelisah,seperti ada yang sedang di pikirakan olehnya,Banny pun mencoba menelisik lebih jauh ke ekspresinya wajahnya meski Mona berusaha menyembunyikan perasaannya itu tapi entah kenapa Banny bisa merasakan hal yang lain meski tidak tahu percis akan permasalahannya.
Banny menopang dagunya dengan sebelah tangan lalu menatap lurus ke arah Mona yang masih menyadari sedang di perhatikannya sedari tadi.Pikirannya mulai sibuk menilai sisi baik pribadinya sang sekertarisnya itu, dan Banny pun diam-diam mengagumi akan sosok pribadinya,
Yang selalu bekerja dengan loyalitas tinggi.
Nyaris di setiap pekerjaanya Mona tidak pernah mengeluhkan sesuatu hal apapun yang berkaitan dengan masalah pekerjaan, ia tetap bekerja dengan totalitas serta fropesional.
Banny menatapnya dengan perasaan yang tak biasa kepada sang sekertarisnya itu,dan juga seorang perempuan yang di pilih oleh sang papah untuk di jadikan seorang istri baginya.
Perlahan tapi pasti akhirnya Banny mengakui akan kemampuan serta perfoma yang di miliki oleh seorang Mona begitu sangat kuat.Meski hanya berpenampilan biasa saja namun Mona berbeda sekali dengan perempuan-perempuan lainya,termasuk sang mantan kekasih serta sang mantan sekertarisnya itu,sungguh perbedaan yang sangat menonjol yang terlihat nyata dari sosok pribadi seorang Mona.
maka sepertinya tidak salah pilih jika sang papahnya menjodohkan dirinya dengan perempuan yang sedang berada di hadapannya itu.
Banny menarik tipis garis bibirnya lalu mengulas senyuman yang terukir manis di bibirnya dan perlahan senyuman itu mengubahnya menjadi senyuman bangga akan sosok perempuan yang sedang di pandanginya itu.
Mona mendongkak lalu dengan tidak sengaja ia mengalihkan pandangannya ke arah Banny yang tengah asik menatapnya.
TAP.....
Dua tatapan itu pun beradu dan tak bisa lagi di handari, Mona melihat dengan sangat jelas ke arah sang bosnya itu yang masih mengulas senyuman manisnya seraya masih lekat menatapnya.
Entah kenapa tatapannya itu sulit untuk di alihkan seolah-olah terkunci dengan pesona senyuman menawan sang bos berwajah tampan itu.
Banny tersadar jika Mona membalas tatapannya hingga dengan cepat ia pun menarik lengkungan senyumannya itu lalu berpura-pura kembali fokus ke layar laptopnya.
Mona menatap heran ke arah sikap Bosnya itu yang menghentikan senyumannya ketika ia mempergokinya.
Tetapi setidaknya senyuman itu telah membekas di penglihatan Mona membuat ia penasaran akan senyumannya itu.
Mona membayangkan kembali akan senyuman sang bosnya itu walau hanya samar-samar.
Seingatnya,selama ia bekerja di perusahaan Banny ia belum pernah melihat Banny tersenyum semanis itu.
Walaupun ia mencoba mengingatnya dengan sekeras mungkin namun di ingatan Mona tidak menemukan senyuman semanis itu.
Perlahan Mona kembali mencuri pandangan ke arah bosnya itu yang kembali fokus ke layar laptopnya.
Entah kenapa ada perasaan bahagia yang timbul di dalam hatinya setelah melihat senyuman manis seorang Banny yang membekas di hatinya.
Bagi mona senyum manis dari boss nya itu adalah salah satu hal paling langka yang bisa ia lihat di sepanjang ia berkarier sebagai sekretaris pria dingin berwajah tampan itu. Rasa bahagianya melebihi bahagianya saat ia mendapat doorprise.
Dan tanpa disadari ia mulai tersenyum sendiri seraya menggeleng pelan.
" Kenapa kamu tersenyum-senyum sendiri ?ada yang lucu ?" Tanya Banny dengan mata menyipit setelah mendapati sekertarisnya itu tersenyum-senyum sendiri.
" Tidak ada apa-apa pak." Ucap Mona seraya mengatupkan bibirnya dengan cepat.
Mata elang Banny masih menatap tajam ke arah sekertarisnya itu,rupanya sikap sekertarisnya itu mengundang rasa penasarannnya.
Banny menghentikan pekerjaanya saat perutnya terasa keroncongan.
" Sudah jam 19:45menit,sebaiknya kita pulang." Ucap Banny memecahkan keheningan.
" Kamu temenin saya makan malam dulu." Ujar Banny seraya menutup laptopnya dan merapihkannya.
Mona menoleh dengan ragu dan menyimak kembali ucapan Banny yang terdengar sangat singkat di pendegarannya itu.
" Dan tolong sekalian bawakan jas saya." Titah Banny seraya bangkit dari tempat duduknya.
" Baik pak." Balas Mona pendek,lalu ia pun dengan cepat merapihkan terlebih dahulu barang-barang miliknya, kemudian ia bergerak cepat menuju tempat penyimpanan jasnya sang bos yang tergantung di hanger.
Setelah itu Mona pun segera berjalan menyusul langkah Banny yang sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan dengan setengah berlari kecil.
__ADS_1
Banny berdiri di depan lift menatap dingin ke arah pintu lift yang masih tertutup,Mona pun beridri tak jauh dari sang bos.
Banny menekan tombol arah panah turun dengan berkali-kali,namun sepertinya lift sudah tidak beroprasi sehingga lampu indikator pemberitahuannya tidak menyala.
" Kenapa liftnya mati ?" Tanya Banny dengan menatap jengkel ke arah pintu lift.
Mona melongo ke arah lampu indikator lift yang tidak menyala dan menatap bingung.
" Bagaimana ini ?Mona,coba kamu hubungi pihak teknisi ! kenapa liftnya mati.Padahal tadi sudah di konfirmasikan bahwa saya akan lembur." Ucap Banny dengan nada mulai meninggi.
Wajah dingin itu terlihat menatap kesal ke arah lift yang sudah berhenti jam oprasionalnya.
" Bapak sudah konfirmasi sebelumnya ?" Tanya Mona dengan menatap ragu.
" Tadi sore saya sudah konfirmasi kepada pak Butong untuk mengoprasionalkan liftnya hingga saya selesai lembur." Jelas Banny menolehkan kepalanya tanpa menatap Mona.
" Saya tidak memiliki nomor telepon pihak teknisi pak." Sahut Mona setelah teringat ia tidak menyimpan nomor telepon pihak teknisi.
" Sekarang coba kamu hubungi pak Eko,apakah di ruangan teknisi masih ada staff yang bertugas ?" Ujarnya dengan bersikap mulai tak tenang.
" Baik pak !" Ucap Mona seraya terpogoh-pogoh merogoh gawai di dalam tasnya.
Beberapa menit kemudian Monapun terhubung dengan pak Eko sang security kantor.
" Baik pak Eko,makasih banyak ya pak Eko,maaf saya menganggu." Ucap Mona mengakhiri panggilannya.
" Lagi di cek dulu pak, ke ruangan teknisi oleh pak Eko." Ucap Mona pelan.
Banny terlihat gusar menanti informasi selanjutnya dari pak Eko.
Satu menit,dua menit,tiga menit dan empat menit pun beralu lift masih mati belum ada tanda-tanda menyala,Banny pun semakin gusar menunggunya.
Sementara Mona dengan sigap segera menghubungi kembali pak Eko tanpa menunggu komando dari sang bosnya itu.
" Gimana pak Eko ?Masih ada staff di ruangan teknisinya ?" Tanya Mona dengan harap-harap cemas.
" Maaf bu Mona,para teknisi sudah pada pulang semua,ruangannya sudah terkunci." Jawab pak Eko dari sebrang telepon dengan nada kecewa.
" Gimana Mon ?" Tanya Banny seraya membalikan badannya untuk menghadap ke arah Mona dengan tatapan semakin dingin.
" Pak Eko bilang,para teknisi sudah pulang semua pak, dan ruanganya sudah kosong."
" SHITTTT!!!!!" Banny menghempaskan kepalannya tangannya ke udara.
" Rupanya pak Butong tidak menyimak apa yang saya ucapan,dan dia sudah mengabaikan perintah saya." Ucap Banny dengan penuh penekanan, kilatan sorot matanya terlihat semakin memancar tajam.
Mona terpaku dengan merasa gemetar melihat akan kemarahan sang bosnya itu.
" Besok kamu urus surat pemberhentian kerjanya pak Butong,agar dia bisa mempertanggung jawabkan kelalaiannya itu." Titah Banny dengan berapi-api.
" Ba baik pak." Jawab Mona singkat.
Mona paham betul akan sikap tegasnya sang bosnya itu,terlebih menyangkut persoalan pekerjaan.
Jika menemui salah satu di antara staffnya lalai dalam melakasanakan perintahnya maka siap-siap saja sosok seorang Banny tidak akan kompromi serta mentolerin kesalahan bagi setiap para staff yang melanggar perintahnya dan aturannya,maka dengan tak segan-segan akan mendapat sangsi berat berupa menurunkan posisi jabatannya hingga sangsi pemecatan.Dan dalam hal ini Banny bisa berubah menjadi sosok yang tidak berperasaan dalam memutuskan suatu perkara.
Dan ini lah nasib buruk yang akan di alami oleh pak Butong seorang teknisi senior yang telah lalai mengabaikan perintah sang bos hingga ia harus berhenti bekerja akan kelalaiannya itu.
Maka dari itulah ferpoma perusahaan TIRTA LOGISTIK semakin meningkat tajam ketika Banny mulai menjabat sebagai Direktur Utama di perusahannya itu,karena bagi seorang Banny kedisiplinan dan ke fropesionalan dalam bekerja di nomor satukan di bawah kendali kepeminpinannya.
Banny berjalan ke arah sudut ruangan yang tak jauh dari lift ,di sudut ruangan itu terdapat satu pintu untuk keluar melewati tangga darurat.
Banny menarik kuat pintu besi itu hingga terbuka cukup lebar,Banny dengan tatapan panjang memandangi satu persatu lantai tangga itu hingga ujung lantai.
Entah setan apa yang sedang merasuki tubuhnya itu sehingga pria dingin berwajah tampan itu kini raut wajahnya berubah sangat menyeramkan.
Mona perlahan mengikutinya dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di benaknya,lalu ia pun melirik kecil sang bosnya yang sedang memandangi anak tangga darurat itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.
Padahal beberapa menit yang lalu baru saja ia menikmati senyuman sang bosnya itu yang terulas sangat manis di bibirnya,dan kini senyuman itu lenyap seketika tinggalah kilatan sorot mata yang galak serta garis wajah yang kaku menahan emosi yang tertahan.
__ADS_1
Raut wajah dingin itu terlihat memerah sekan-akan menggambarkan isi hatinya yang sedang marah.
Mona pun hanya memilih diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun,sekedar hembusan napasnya saja Mona mencoba mengatur sedemikian pelannya agar tidak terdengar oleh Banny.
" Kamu kuat berjalan di tangga darurat ini ?" Tanya Banny menoleh Mona.
Mona tidak menjawab ia hanya mengganggukan kepalanya dengan pelan.
Banny pun perlahan mulai menapaki satu persatu lantai tangga darurat itu dengan perasaan terpaksa.
Tidak bisa di bayangkan olehnya harus berjalan menuruni lantai demi lantai dengan berjalan menggunakan anak buah tangga yang cukup banyak menguras tenaganya untuk melaluinya.
Dengan sangat hati-hati Mona pun mulai ikut berjalan menuruni satu persatu anak buah tangga itu dengan memakai sepatu hak tinggi,dan benar saja baru beberapa saja anak buah tangga itu ia pijaki kedua lututnya mulai terasa ngilu.
Keringat dingin mulai bercucuran di tubuhnya wajahnya yang berubah pias,berapa buah anak tangga lagi yang harus ia pijaki untuk menuju lantai bastman.
Mona menggeleng frustasi saat kedua kakinya mulai terasa pegal.Dan ia baru terlepas dari lantai 4,masih ada lagi lanti 3, 2 ,1 dan ground floor hingga basement yang akan ia lewati.
" Pyuhhhh !!" Akhirnya ia terpaksa menghempaskan napasnya kuat-kuat setelah pinggangnya mulai terasa rontok setelah berjalan cukup jauh dengan menggunakan tangga darurat itu.
Pantas saja Manda pernah terjatuh di tangga darurat ini,karena terkadang keseimbangan kita bisa tidak stabil jika berjalan dengan cepat di tangga ini.
Pikirnya dengan terus berjalan menuruni anak buah tangga itu.
Banny menoleh ke arah Mona yang berjalan dengan tehenti-henti sepertinya Mona mulai terlihat kecapean.
Banny merasa khawatir melihat keadaan sekertarisnya itu yang dengan pasrah mengikuti dirinya untuk keluar dari gedung perkantorannya melalui tangga darurat.Karena hanya itulah jalan satu-satunya yang dapat di lalui.
Banny melangkah naik kembali lalu mendekati Mona yang mulai terlihat kecapean.
" Kamu baik-baik saja ?" Tanya Banny dengan menatap dingin.
Mona mengangguk pasrah seraya menuruni anak buah tangga itu dengan perlahan.
" Sini jas dan tasnya biar saya yang bawa." Pinta Banny seraya menadahkan tangannya untuk meminta jas serta tas koper miliknya itu.
" Tidak apa-apa pak,biar saya saja yang bawa ." Balas Mona dengan sedikit ragu.
" Jangan berpura-pura kuat,saya tahu kamu mulai lelah." Ucap Banny dengan masih menatap dingin Mona.
Dengan tidak mau panjang lebar lagi untuk mengelak akhirnya Mona pun menyerahkan jas dan tas koper kecilnya itu ke tangan Banny.
" Kamu masih kuat berjalan ?ini baru lantai 4." Banny kembali bertanya dan berjalan dengan masih bersemangat.
" Insyaallah pak." Balas Mona dengan pasti,hanya untuk menyakinkan sang bosnya saja.
Padahal dalam hati kecilnya ia meronta kesal akan situasi yang sedang berlangsung ini,andai ia punya kantong ajaib sang doraemon maka ia pun akan mengeluarkan pintu ajaibnya untuk menembus tempat.
Rasa pegal pun mulai menyerang keperesendian kakinya, Dengan tertatih-tatih Mona berusaha meneruskan langkahnya.
Banny mendongkak dan menoleh kembali ke arah Mona yang sudah cukup jauh tertinggal dari anak tangga yang ia pijaki,Banny menatap sekilas kedalam raut wajah Mona yang mulai terlihat letih.
Dengan terpaksa dan mau tidak mau Banny pun kembali menaiki anak-anak tangga itu dan menghampiri lagi Mona.
" Pegang tangang saya !" Pinta Banny seraya menyodorkan tangannya untuk Mona raih.
Sejenak Mona memandangi tangan Banny yang masih menggantung di udara dengan menatap ragu untuk menerimanya.
" Ayolah,ini sudah jam delapan malam,kita tak bisa lama-lama di tempat ini." Ucap Banny memaksa Mona untuk meraih tangannya.
Dengan ragu akhirnya Mona pun menerima uluran tangan sang bosnya itu,lalu di gengamnya secara perlahan dan kembali berjalan menuruni anak tangga itu.
Untuk kesekian kalinya Banny memperlakukan dia dengan baik,bahkan entah kenapa Mona merasakan sesuatu hal yang berbeda dari sosok seorang Banny,semakin hari ia semakin intens menunjukan kepeduliannya terhadap dirinya.
Banny berjalan menuntun Mona dengan sangat hati-hati.
Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia mengkhawatirkan keadaan sang sekertarisnya itu.ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap sekertarisnya itu.
Berjalan di anak buah tangga sebanyak itu dengan tempuh jarak lumayan cukup jauh antara lantai 5 hingga basement membuat ia merasa takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak dinginkan olehnya.
__ADS_1
Antara peduli dengan rasa khawatir jaraknya sangat tipis,ia sadar betul jika perasaanya kian kuat terhadap sekertarisnya itu.