CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 69


__ADS_3

MONA masih terdiam seraya memegangi kepalanya yang masih terasa berat namun ia mencoba untuk menguatkan dirinya agar terlihat baik-baik saja.


Banny masih ikut menemani di ruangannya dengan duduk tak jauh dari Mona.


" Gimana kamu sudah enakan ?" Tanya Banny menatap lurus Mona.


Mona tidak menjawab dia hanya menggangguk pelan namun rona wajahnya masih terlihat pucat.


" Sebaiknya kamu pulang saja dan beristirahat jangan di paksakan." Ujar lagi Banny dengan suara lemah lalu ia pun berdiri dan merogoh handphone di saku celananya.


Mona terdiam tidak menjawab.


" Akan saya telpon pak surya untuk mengantarkan kamu pulang !" Ucap Banny seraya menghubungi pak Surya via ponselnya.


" Tidak usah pak." Sergah Mona dengan cepat.


Lalu ia pun memaksakan berdiri walau masih terasa lemas.


" Kamu butuh istirahat." Balas Banny tak kalah cepat.


" Tapi schedule hari ini sangat banyak pak jadi....," Ucapan Mona menggantung.


" Ini perintah saya." Ucap Banny dengan cepat memotong kalimatnya Mona,Mona terdiam lalu menatap Banny seraya melipat ujung bibirnya dalam-dalam.


" Saya tidak mau kamu sakit parah." Ucap Banny singkat.


" Tapi pak bagaimana dengan pekerjaan saya hari ini ?" Sergah Mona dengan cemas.


" Urusan pekerjaan nanti akan saya urus sendiri." Ucap Banny seraya menempelkan ponsel di daun telinganya.


" Baiklah pak." Balas Mona dengan pelan.


Lalu tak lama kemudian Banny terhubung dengan pak Surya supir kantornya itu yang selalu sigap dalam menjalankan tugas.


" Hallo pak Surya tolong ke loby utama ya,Antarkan bu Mona untuk pulang." Ucap Banny dengan menoleh Mona yang tertunduk.


" Baik pak !" Jawab pak Surya dari ujung telpon terdengar sigap.

__ADS_1


Lalu tak lama Bannypun menutup kembali telponnya dan menghadap ke arah Mona.


" Pak Surya akan menunggumu di lobby." Ucap Banny menatap Mona yang sedang siap siap untuk pulang lalu ia pun mengambil tasnya yang berada di atas meja kerjanya.


Namun baru saja beberapa langkah tiba-tiba Mona terlihat meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya.


" Aduhh !!" Pekiknya pelan seraya menghentikan langkahnya.


Banny menoleh ke arah Mona yang merintih kesakitan.


" Mona Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Banny mulai cemas.


" Tidak apa-apa pak !" Jawab Mona dengan nada suara datar.


Namun sekiranya tubuh Mona mulai oleng sehingga ia ragu untuk berjalan kembali Banny dengan repleks segera mendekatinya lalu dengan cepat ia menahan tubuh Mona dari belakang agar tidak terjatuh.


Mona menggelengkan kepalanya dengan menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya sementara Banny masih berada di belakang Mona yang sedang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Mona masih memegangi kepalanya dengan meringis kecil


lalu kemudian Banny memiringkan wajahnya untuk memastikan Mona baik-baik saja lalu dengan secara bersamaan Mona pun mendongkak menatap ke arah wajah Banny.


Dua tatapan itu beradu tak bisa lagi di hindari ada rasa yang kesekian kalinya mendebarkan perasaan mereka masing-masing,perasaan yang sulit mereka artikan hanya dengan sebuah kata-kata.


Dan sepertinya perasaan itu bak dua ujung kutub magnet yang saling tarik menariknya untuk terus mendekat.


Mona masih menatap wajah tampan sang bosnya itu dengan hati yang semakin berdekup kencang.


Pesona tatapan dari sorot mata Banny yang dingin itu mampu menahan dirinya untuk terus menatapnya tak terasa tatapannya kian terasa mulai terasa hangat ia rasakan.


Banny terdiam ia terus mengikuti debaran-debaran yang membawanya ke sebuah perasaan yang kian mendalam ia memandangi seluruh wajah Mona dengan detail,Ujung dagunya yang bulat terlihat begitu menarik Lalu pandangannya beralih ke garis bibir munggilnya Mona yang sedikit menganga seolah-olah menggoda dirinya untuk berfantasi dalam sebuah hayalan nakalnya.


Sejenak mereka hanya saling terdiam menikmati setiap aliran perasaanya yang mulai mengalir deras menelusuri relung hatinya masing-masing,Mona sendirinya pun ikut larut dalam tatapan pesonanya sang bosnya itu.


Keduanya saling menikmati moment tatap menatap dalam keseriusan yang berubah terasa begitu menegangkan dengan tanpa ada suara yang keluar sedikit pun dari mulut mereka lalu Banny mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mona,Dan entah kenapa ada rasa yang menahannya untuk terus terdiam sedikit pun mereka tidak merubah posisi wajahnya.


Mona tetap dengan menengadahkan wajahnya ke arah wajah Banny dengan jarak yang semakin dekat lalu jarak di antara mereka pun hilang dan kini hanya ada desahan napas yang kian memburu di dadanya mereka meraskaan sentuhan yang begitu lembut menyapu kulit wajah mereka berdua.

__ADS_1


Bibir keduanya saling berhadapan Mona menatapnya dengan pasrah lalu ia membuka perlahan-lahan bibirnya seakan-akan ia sudah siap untuk di lum*t oleh Banny.


Lalu Banny pun tanpa di perintah memiringakan kepalanya dan sedetik dua detik tiga detik kemudian moment itu semakin mendebarkan deman yang di rasakan Mona kian bercampur aduk di rasanya ia semakin merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya.


Hening.....


Tatapan mata Banny kian teduh raut wajahnya yang dingin itu kian menggairahkan entah kenapa Mona melihatnya semakin membuatnya tak kuasa menahan sorot matanya yang semakin menggoda.


Ingin menolaknya namun hasratnya tak mampu hingga pikiran nakalnya tidak bisa lagi di bohongi jika dia menginginkan sesuatu hal yang indah yang akan di lakukan oleh seorang lelaki yang berwajah tampan yang ada hadapannya itu.


Mona memejamkan matanya seiring menikmati lum*tan bibirnya Banny yang terasa lembut di bibir bawahnya itu,entah kenapa ia memilih pasrah sekan-akan ia ingin merasakan sesuatu hal yang indah lewat bibir sang bosnya itu.


Perasaannya larut dalam dekapann erat yang membelenggunya dan hembusan napas hangat itu terus menyapu wajahnya seiring rasa yang terlepas dari dalam dadanya membuncah di dalam benaknya.Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya lalu bibir Banny melum*tnya kembali dengan perlahan-lahan menarik serta menekannya dengan penuh nikmat Mona semakin terdiam larut dalam setiap inci sentuhan manis bibir sang bosnya itu.


Banny menghentikan ciumannya lalu di tatapnya Mona dengan tatapan lembut entah kenapa ia merasakan seseuatu kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Meskipun dulu ia pernah melakukannya dengan Kinaya namun baginya ini adalah ciuman yang paling berkesan bagi dirinya hingga sanggup memicu adrenalinnya yang semakin bergelora,tentunya hal ini tidak akan pernah ia lupakan dengan begitu saja.


Perlahan-lahan Mona membuka kembali kedua matanya lalu menatap nanar ke arah Banny dan tiba-tiba saja perlahan-lahan matanya mulai berkaca-kaca seperti menahan sesuatu yang berat dari dalam hatinya sehingga membuat Banny terlihat gamang di buatnya.


" Ma maaff !!" Ucap Banny dengan lirih lalu ia menarik posisi wajahnya untuk menjauh dengan perlahan-lahan ia pun melepaskan tubuh Mona yang sedari tadi berada di pelukannya.


Tangan yang kekar itu bergetar seperti menahan sesuatu hal yang terus mendoktrinya.


Mona hanya terdiam dengan terpaku lalu menatap kosong ke arah Banny ia tak mampu lagi menyembunyikan persaannya antara kecewa dan bahagia.


Dengan rasa sesal Mona tertunduk kian dalam seraya menggigit kecil ujung bibirnya ia mencoba menenangkan perasaanya yang terus berkecambuk di benaknya.


Sepasrah itukah ia menerima ciuman pertamanya dari seorang lelaki yang bersetatuskan seorang Bos di kantornya itu dan itu jelas bukan seseorang yang spesial buat dirinya.


Berbagai pertanyaan terus mengitari pikirannya kenapa ia tidak mampu menolaknya di saat Banny menghadangnya dengan sebuah ciuman yang telah membekas di hatinya itu ia pun merasa yakin jika hal ini tidak akan bisa terlupakan olehnya dengan begitu saja.


Mona menatap kembali ke arah wajah Banny dengan mata mulai berlinang ada rasa sesal yang muncul dalam benaknya namun ia tak sanggup untuk menyalahkan sang bosnya itu, karena ia sadar apa yang di lakukannya itu atas kehendak perasaannya sendiri.


Perlahan-lahan Mona melangkah mundur raut wajahnya memerah menahan tangisnya yang mulai tak tertahan lalu ia pun menutup mulutnya dengan salah satu tangannya seraya berusaha melangkah cepat meski terlihat terseok- seok namun ia berusaha mempercepat langkahnya untuk segera menjauh dari hadapan Banny.


Banny menatap penuh sesal apa yang telah ia lakukan terhadap Mona memang di luar akal sehatnya dan hal ini merupakan murni keluar dari perasaanya yang terdalam.


Dengan perasaan tak menentu ia menghempaskan kepalan tangannya ke udara ia sendiri pun benar-benar merasa bersalah atas perlakuan dirinya terhadap Mona.

__ADS_1


Dipeluknya erat-erat kepalanya itu dengan kedua tangannya dengan frustasi kenapa sesal itu harus datang terakhir di saat ia telah menikmati sentuhan lembutnya bibir sang sekertarisnya itu ini bukti dosa terindah yang pernah ia lakukan terhadap sang sekertarisnya itu.


__ADS_2