
KEDUA sahabat Mona tampak tersenyum ketika melihat kedatangan Mona,dan gadis itu pun melangkah ke arah dimana kedua sahabatnya yang melambaikan tangan untuk segera menghampiri mereka.
Amel menilik akan penampilan sahabatnya itu yang di rasa sedikit berbeda.
Mona yang sering mengingat tinggi rambutnya atau pun menjepit bagian sisi rambutnya,justru kali ini rambut itu di biarkannya tergerai dengan indah menutupi bahu mungilnya.
" Wow sepertinya ada yang merubah dengan penampilan lo." Ucap Amel dengan berdecap kagum.
Tamara ikut menilik akan penampilannya sahabatnya itu dengan seksama.
Sekian lama ia mengenal sosok seorang Mona,baru kali ini mereka melihat penampilannya benar-benar membuatnya terlihat sangat berbeda.Setelah sekian lama sahabatnya itu selalu berpenampilan cuek dan biasa-biasa saja,namun kali ini memang terlihat lebih berbeda dan lebih casual.
Mona yang pada kesempatan kali ini mengenakan kemeja putih dengan stelan celana jeans belel,kalau sampai Mona mengenakan sepatu sneakers maka kedua sahabatnya itu akan benar-benar merasa kalau mereka sedang melihat Mona kembali menjadi anak SMA.
Mona tertawa renyah lalu melirik kecil ke arah Amel yang masih menilik seluruh penampilannya tersebut dengan ternganga-nganga,dan kedua sahabatnya itu pun berhasil menatap tak percaya dengan fashion barunya sahabatnya tersebut.
" Pakaian lo kali ini berubah to tallll. " Ucap Tamara menimpali setelah Mona memakai celana jeans tersebut.
" Gue hanya memperbarui selera fashion gue saja." Ucap Mona dengan duduk di antara kedua sahabatnya tersebut.
" Dan fashion kali ini gue sangat menyukainya, karena elo kali ini lebih kelihatan fress dan lebih mudaa,hee..hee." Ucap Tamara dengan terkekeh.
" Lo kira,selama ini penampilan gue tua apa ?" Mona mendilak saat komentar polos Tamara menyinggung perasaanya.
" Tua sih engga,kolot doang." Balas gadis berponi pendek itu menimpali lagi dengan tersenyum enteng.
" Any way,gue rasa ada hikmahnya juga ya, di balik pernikahan sandiwara ini,sedikitnya elo lebih sedikit melek akan selera fashion elo dan make up lo itu." Ucap Amel dengan tersenyum lebar.
" Shitt!!, " Mona mendesis setelah ucapan sahabatnya itu mampu mengena di perasaanya.
" Terus kalau gue gak nikah sama tuh bos,gue akan tetap berpenampilan norak seperti itu gitu ?" Mona menyela dengan perasaan jengkel.
" Tergantung dari mana lo ambil cara sudut pandangnya !" Jawab Amel dengan acuh.
" Yaa setidaknya hal ini bisa merubah sedikit penampilan lo lebih hitss la." Tamara ikut menimpali seraya menatap penuh bangga.Namu sesaat kemudian gadis itu tersenyum penuh rasa curiga,sehingga Mona paham akan senyuman dari sahabatnya tersebut.
" Gue rasa gue hanya ingin tampil berbeda saja,bukan kah ini hal yang wajar kan?bukan karena semata gue pengen terlihat menarik di mata pria angkuh itu." Ucap Mona dengan mendengus kecil ketika ia harus menyinggung masalah pria tersebut.
Amel dan Tamara saling bertatapan satu sama lain dengan perasaan yang berbeda.
" Kita rasa gak ada kepikiran ke arah situ deh,iya gak Mel." Ucap Tamara seraya menyikut tubuh Amel.
Amel hanya melirik denga pasrah.
" Menurut kalian gimana ? gak ada yang salah kan jika gue ingin tampil sedikit berbeda dari penampilan biasa gue ?" Tanya Mona seraya mencomot snak yang ada di hadapannya tersebut.
Dengan bersamaan kedua sahabat Mona saling menggelengkan kepala dengan penuh dukungan.
" Engga ada sih,justru gue setuju dan mendukung penuh akan keputusan elo untuk merubah penampilan lo itu,yaa siaapa tahu,dengan penampilan lo seperti ini elo akan mendapatkan hati pria lain yang lebih baik dari pak bos. " Jelas Tamara dengan penuh keyakinan.
" Heemm,kali ini gue lagi gak ingin membahas masalah perasaan,apa lagi membahas seorang pria." Ucap Mona menolak untuk tidak membahas masalah perasaan dirinya.
Kedua sahabat Mona saling menatap satu sama lain,ekspresi wajahnya terlihat penuh rasa penasaran sekaligus heran atas pernyataan sahabatnya tersebut. Dan mereka pun berhasil di buatnya cemas dengan sikap Mona yang menolak untuk membahas Banny maupun pria lain di kehidupannya sekarang.
" Elo ada masalah dengan pak Bos ? " Amel menatap dengan penuh tanda tanya.
Mona menggeleng dengan tersenyum pahit,rasanya ia tak ingin bercerita tentang pria itu untuk kali ini,yang hanya membuat hatinya selalu terasa tersakiti dengan segala bentuk sikap pria tampan tersebut.
" Gue kesini mau ketawa-ketawa sama lo berdua,dan gue gak mau cerita yang bikin gue mengeluarkan air mata." Terang gadis itu seraya membagikan tatapannya ke wajah para sahabatnya tersebut dengan sorot mata yang begitu dalam.
Lagi-lagi kedua sahabat Mona hanya biasa saling berpandangan dengan rasa penasaran yang begitu besar menganjal di hatinya satu sama lain.
" Jadi elo tetap gak mau cerita lagi sama gue ? " Tanya Amel mencoba memaksa.
" Kita Mel,masa elo doang." Sela Tamara dengan merengut membenarkan ucapan Amel yang di rasa kurang berkenan di hatinya.
Mona terdiam lalu menyibakan rambutnya yang menempel di pipi meronanya tersebut.
Entah kenapa saat ini ia ingin sekali menghindar dari perasaan frustasinya itu, akan permasalahan hidupnya yang kian hari semakin merumit.
Akan tetapi hanya kepada mereka jualah Mona dapat melepaskan segala penat serta unek-unek hatinya akan permasalahan hidupnya tersebut.
Mona menghela napas panjang mengawali perasaannya yang terasa berat,antara enggan dan tak enak hati bercampur sekaligus di batinnya.
Sesat hening....
Dua gadis yang saling memiliki karakter berbeda itu saling terdiam dengan menanti sahabatnya untuk cerita kepada mereka.
" Gue ingin segera menyudahi sandiwara ini dalam waktu yang dekat, gue berencana akan mengugat pak Banny untuk segera menceraikan gue." Akhirnya Mona dengan terpaksa kembali berujar dengan suara sedikit tertahan.Rasanya di ujung pangkal lidahnya terasa begitu kering.
Amel terdiam menatap tak bergeming mendengar atas keputusan sahabatnya tersebut.
" Apa ??? " Pekik Tamara ikut terhenyak atas pernyataan sahabatnya tersebut.
" Tapi waktu lo cuman dua minggu lagi kan Mon untuk menjalani sandiwara ini,untuk apa lo menggugat cerai duluan ?itu hanya buang-buang waktu lo dan energi lo saja." Sela Amel menimpali dengan raut wajah iba.
" Gue rasa omongan Amel ada benarnya Mon." Tamara membenarkan ucapan sahabatnya tersebut.
" Ada hal yang harus gue lakukan sebelum semuanya terlalu jauh gue rasakan.Merasakan hal yang tak wajar terhadap sosok pria yang sama sekali tak pernah memiliki perasaan yang sama terhadap gue." Jelas Mona dengan tertunduk menenggelamkan kepalanya dengan perasaan yang begitu dalam.
" Tapi perasaan elo tak akan bisa berubah begitu saja terhadap pak bos apapun itu caranya,sekalipun elo menggugat cerai pak bos Mon." Ucap Amel lirih.
Amel yang tahu betul akan perasaan sahabatnya itu ikut merasa iba atas apa yang sedang di rasakan sahabatnya itu.
" Lah !! elo kan emang dari awal sudah suka sama pak bos itu,sehingga elo merasa berat untuk menolak sandiwara itu." Jelas Tamara mengingatkan kembali ingatan sahabatnya jika Mona memang menyukai bosnya tersebut sejak awal sebelum perjodohan itu terjadi.
" Itu gue akui,tapi....," Ucapan Mona menggantung perasaanya kembali terasa tersayat-sayat jika ia mengingat kembali bagaimana sikap pria tampan itu kepada dirinya yang tak sama sekali memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.
" Tapi apa Mon ??" Tanya Tamara dan Amel menahan napasnya mencoba untuk tidak terlihat tegang menyikapi sikap sahabatnya itu.
" Tapi ...,kalian tahu sendiri kan jika pak Banny tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap gue ?" Ungkap Mona dengan terlihat kecewa.
" Dari awal gue selalu mengingatkan elo,untuk tidak melibatkan seluruh perasaan elo terhadap sandiwara ini !" Amel terlihat gusar sekaligus kecewa campur aduk di benaknya.
" Mel,perasaan itu tidak bisa di tentukan,kita tak pernah tau akan jatuh cinta kepada siapa ?sekalipun terhadap sosok super star,yaa siapa sih yang tidak tergoda dengan sosok seorang pak Banny,sebagai wanita yang normal gue juga merasakan hal yang sama,jika gue di sandingkan dengan pak Banny dalam sebuah sandiwara pasti benih-benih itu akan muncul seiring kita seringnya bertemu dengan waktu yang intens." Jelas Tamara mencoba untuk membela sahabatnya itu.
__ADS_1
Amel tersenyum sinis mendengar pernyataan sahabatnya itu yang bersikap seolah-olah bijak.
" Lagi lempeng nih. " Guman Amel dengan mengaruk kepalanya yang tak gatal.
" Dan gue lebih setuju jika elo jadian dengan pak langit Biru itu." Tamara berkomentar lagi dengan sangat polosnya.
Amel melengos menoleh ke arah Tamara dengan perasaan jengkel yang mendera.Baru saja ia memuji gadis berponi pendek tersebut akan ucapan bijaknya kini ucapannya malah berbalik lain.
" Masalah Pak bos aja belum kelar,lo mau nambahin beban derita sahabat lo pula dengan ngejodoh-jodohin si Mona dengan tuh langit biru !!! Tamara-tamara lo sahabat macam mana pula. ?" Ucap Amel mendengus kesal dengan logat khas daerahnya.
" Yaa kan gue cuman memberi dukungan terhadap sahabat gue ini,jika selama ini ada yang lebih mencintai dia ketimbang pak bos." Jelas Tamara tak mau kalah,ia tetap pada pendirian jika dirinya mendukung penuh atas sosok seorang Angkasa untuk hadir di kehidupannya Mona.
" Gue tahu itu Tam,tapi untuk saat ini beri kesempatan bagi Mona untuk menentukan perasaanya sendiri." Balas Amel berusaha memberi pengertian sahabatnya itu.
Mona tersenyum enteng ketika melihat kedua sahabatnya itu yang begitu tulus memperhatikan akan keadaan dirinya sehingga beradu argumen.
" Tapi sepertinya pak Banny akan memperpanjang sandiwara pernikahan nya ini Mel,Tam,setelah pak Wiguna meminta gue untuk ikut andil dalam pengurusan anak cabang perusahaan yang baru,dan hal itu jelas akan mempengaruhi proses perceraian antara gue dengan pak Banny." Jelas Mona dengan nada kecewa.
Sontak hal itu membuat kedua sahabatnya tercengan atas pernyataan sahabatnya tersebut.
" Waduhh !!" Tamara beseloroh dengan raut wajah shok.
" Maksud elo,elo akan menjadi salah satu staf penting yang akan ikut andil dalam mengelola cabang perusahaan barunya pak Banny ?" Tanya Amel yang belum bisa memahaminya bertanya sekaligus menyimpulkan sendiri pernyataan sahabatnya tersebut.
" Tepatnya seperti itu. " Ucap Mona mengangguk pasti.
" Yaa itu bagus dong,setelah elo di berhentikan jadi sekertaris nya pak Banny maka jabatan lo akan naik lebih tinggi menjadi menejer perusahan,atau mungkin direktur yang akan di sandingkan dengan pak bos nanti." Ujar Amel dengan raut wajah berbeda.
" Dan itu artinya perceraiaan lo akan tertunda sementara waktu,bisa jadi elo berdua tidak akan jadi bercerai." Amel kembali menyimpulkannya dengan raut wajah bahagia.
" Kenapa bisa begitu,kesepakatan sandiwara ini hanya berlaku hingga tanggal tiga puluh nanti,itu artinya sandiwara itu selesai.THE END !!! You know the end." Tamara dengan cepat ikut protes.
Amel mendilak ke arah Tamara yang terlihat merengut ke arahnya,ia merasa tak terima jika perceraian sahabatnya itu akan tertunda.
" Yaa gue tahu Tamara,masalahnya pak Wiguna sekarang ini memberikan mandat sebuah kepercayaan kepada Mona untuk mengelola perusaahan cabang barunya tersebut, yang sebentar lagi akan di resmikan.Itu artinya pak Banny bisa memperpanjang sandiwara ini hingga beberapa bulan lagi atau bisa jadi setahun lagi." Imbuh Amel dengan penuh keyakinan.
" Yaah itu mah bukan cinta seratus hari dong jika di perpanjang lagi hingga 360 hari kedepan,jadinya cinta tiga ratus enam puluh hari." Ucap Tamara dengan begitu polos.
" Sabar Amel,lo harus sabar !!" Ucap gadis bertubuh sintal itu menasihati dirinya sendiri seraya mengelus ngelus dadanya ketika melihat aksi polosnya salah satu sahabatnya tersebut yang merasa kecewa atas keputusan pak Wiguna yang akan memperkerjakan lagi Mona di perusahaanya tersebut.
" Bener dong !!! cinta seratus harinya akan di perpanjang lagi kontraknya hingga cinta tiga ratus enampuluh hari,sesuai kontrak kerja Mona di perusahaanya pak Wiguna." Tamara kembali berargumen.
" Up to you deh Tam,terserah elo,komentar elo malah jadi beban berat buat kehidupan gue dan meresahkan pikiran gue !." Amel menyela dengan nada jengkel yang tak terelakan lagi atas komentar sahabatnya itu.
Tamara tersenyum dengan penuh kemenangan sebab komentarnya tersebut mendapat apresiasi yang lebih daris seorang Amel,meski raut wajah Amel terlihat menggelap namun ia tak mau ambil pusing.
" Gue rasa,gue tidak akan mengambil kesempatan itu Mel." Mona menyela dengan nada suara lirih.
Amel menoleh cepat ke arah Mona dengan perasaan yang cukup terganggu.
" Kenapa ?" Tanya dengan perasaan resah.
" Jika gue menerima tawaran itu maka perasaan gue yang akan jadi taruhannya lagi." Ucapnya menatap dilema .
Pilihan yang sulit dalam menentukan keputusan yang akan di ambil oleh sahabatnya itu.
Posisi Mona memang benar-benar di zona serba salah,kesempatan ini memang tak akan datang dua kali dalam kehidupan sahabatnya itu,namun bukan berarti Mona harus kembali mengorbankan perasaanya demi kebahagiaan seseorang.
" Gue...,gue merasa tidak berhak untuk memilih di antara dua itu." Ucap Amel dengan perasaan sedih.
Tamara menatap dalam ke arah sahabatnya itu,kali ini entah kenapa otaknya terasa buntu untuk ikut berkomentar perihal keputusan Mona yang akan menolak tawaran dari seorang pak Wiguna yang telah menjadi mertuanya tersebut.
" Dulu,ketika masa-masa sekolah hal yang paling rumit itu adalah rumus matematika dan fisika.Nyatanya ada yang lebih rumit dari itu,kehidupan gue setelah dewasa ini." Ucap Mona dengan menatap penuh rasa yang dalam.
" Gue tidak akan pernah membiarkan elo sendiri untuk menghadapi permasalahan ini,gue yakin semua ini akan ada jalan keluarnya." Imbuh Amel menatap penuh semangat,mencoba menguatkan sahabatnya itu dengan caranya sendiri.
" Kalo menurut gue,semua mata pelajaran susah semua Mon,terlebih-lebih sekarang gue harus mencari mata pencaharian,hidup emang gak akan selesai-selesai di uji ama TUHAN." Ucap Tamara polos.
Amel melirik Tamara yang kehabisan kata untuk berkomentar sehingga memberikan pernyataan yang cukup membuat mereka sedikit tersenyum geli jika koneski otaknya mulai tak tersambung kembali.
" Kumat lo Tam ?" Tanya Amel tersenyum enteng.
" Sepertinya gue mulai eror,memikirkan mata pelajaran dan mata pencaharian." Balas Tamara dengan polos.
Amel terkekeh begitu pun Mona tersenyum lebar jika sikap salah satu sahabatnya itu mampu menghiburnya.
" Alasan apa yang akan lo berikan kepada pak Wiguna jika emang lo akan menolak tawarannya itu.?" Tanya Amel menoleh sahabatnya.
Mona terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke sebuah gelas yang sudah tak ada isinya lagi,lalu di putarnya gelas itu dengan perasaan bingung.
" Sorry Mon,jika gue kasih elo usulan sedikit." Ucap Amel menatap dengan seksama sahabatnya itu.
Mona mengangkat wajahnya lalu menatap dengan pasrah ke arah Amel.
" Gimana jika tawaran pak Wiguna itu elo terima ?"
Belum saja ucapan Amel itu terselesaikan dengan baik Tamara menyela dengan reaksi yang tak biasa.
" Gila kali yah Mel usulan lo itu !! " Seru Tamara dengan sewot.
" Kok elo yang sewot sih ?" Tanya Amel cukup heran.
" Yaa yang benar saja jika elo mengusulkan hal seperti itu dan itu artinya elo perasaanya Mona kembali jadi taruhannya." Ujar Tamara sontak terlihat kesal.
" Elo bisa denger penjelasan gue terlebih dahulu gak sih ?." Sela Amel dengan sedikit gusar melihat sikap Tamara yang sedikit kesal kapadanya.
" Apa yang membuat elo memberikan usulan seperti itu ?" Tanya Tamara menatap tajam.
" Gue tidak tahu rencana pak Wiguna seperti apa atas penawarannya ini,tapi entah kenapa insting gue merasa jika pak Wiguna itu melakukan semua ini,untuk hubungan elo dengan pak bos semakin erat,dan gue yakin jika perlahan namun pasti perasaan pak bos akan berubah terhadap elo." Jelas Amel menatap Mona dengan penuh keyakinan.
" Insting elo udah gak berlaku,gue serahkan semua keputusan ini terhadap elo Mon,dan apa pun itu keputusan elo gue akan dukung." Sela Tamara berusaha mematahkan usulan sahabatnya tersebut.
" Tam,ini adalah masalah perasaan nya Mona,lo harus bisa peka dong. ?" Amel mengubris.
Tamara terdiam lalu menatap ke arah Mona yang terlihat sedang mempertimbangkan usulnya salah satu sahabatnya itu.
__ADS_1
" Gue tau elo sudah terlanjur mencintai pak bos,dan itu artinya apa yang di lakukan pak Wiguna terhadap elo itu,bukti sebuah kesempatan lo untuk mendapatkan perasannya pak Banny." Jelas Amel mencoba meyakinkan perasaan sahabatnya itu.
Tamara terlihat menatap kurang suka terhadap sikap sabatanya itu yang selalu mendukung penuh atas perasaanya Mona terhadap seorang Banny.
" Tapi tidak dengan mempertaruhkan perasaannya Mona juga Mel,gue gak setuju jika Mona harus mengemis-ngemis atas perasaanya itu." Tolak Tamara keras
" Gue tidak menyuruh Mona untuk mengemis akan perasaanya tersebut,justru gue punya ide untuk membuat perasaan pria angkuh itu berbalik suka sama elo Mon secara perlahan namun pasti. !" Ujar Amel dengan penuh isyarat.
Kedua alis Tamara serta Mona terangkat tinggi setelah mendengar penuturan sahabatnya tersebut.
" Jika elo menggugat cerai begitu saja pak Banny,itu artinya elo tidak akan mendapatkan apapun dari sandiwara ini,dan elo hanya akan mendapat gelar seorang mantan istri saja.Mantan istri seorang pengusaha muda yang kaya raya.Selain itu elo tak akan mendapatkan sepeser apapun dari pernikahan sandiwara lo ini.Kalian ngerti kan apa yang gue maksud ?" Tanya Amel dengan membagikan pandangannya ke arah kedua sahabatnya yang terlihat menanggapi perkataanya dengan seksama.
Wajah Tamara terlihat berpikir keras mengupayakan seluruh otaknya bisa memahami maksud dari pembicaraan sahabatnya tersebut.
" Maksud elo sebuah materi ??? " Tanyanya dengan jujur sekaligus polos.
" Itu benar !!! seratus buat lo Tam.Dan lo Mona harus bisa mengakhiri sandiwara ini dengan tanpa tangan kosong,jadi lo pergunakan kesempatan elo itu untuk menerima tawaran pak Wiguna sebaik mungkin." Ujar Amel dengan menatap angkuh.
Tamara dan Mona saling perpandangan satu sama lain,rupanya mereka memebenarkan apa yang menjadi pernyataan sahabatnya itu.
" Setuju kan ?? " Tanya Amel dengan tak sabar.
" Hmmm,gak mau rugi banget sih lo." Gusar Tamara.
" Secara gitu,kita itu harus berpikir secara realistis saja." Ucap Amel dengan tersenyum bangga.Mona menggeleng pelan,menatap penuh haru akan pemikiran sahabatnya itu yang begitu besar mempertahankan dirinya.
Sejenak ia mecoba kembali mempertimbangkan usulan sahabatnya itu,jika ia terlalu cepat mengambil keputusan tersebut maka dirinya pun tidak akan mendapatkan apapun dari sandiwaranya ini dan itu benar adanya jika kerugian tentunya akan di dapatinya.
" Gue tidak akan menjerumuskan elo ke hal yang tak baik Mon." Ucap Amel kembali berkata.
Mona tersenyum menyikapi penuh rasa bangga atas pernyataan sahabatnya itu,wajahnya menunjukan ekspresi meminta maaf secara tidak langsung atas tuduhannya yang buruk terhadap Amel sahabat semasa SMAnya itu.
" Maaf kan gue,gue udah berpikiran buruk atas usul lo itu." Ucap Mona dengan tersenyum tipis.
Amel mengangkat tinggi jempolnya.
" Definitely,mulai sekarang lo harus ikutin saran gue untuk masalah ini,langkah apa yang akan lo lakuin setelah menerima tawaran nya pak Wiguna." Ungkap Amel dengan semeringah.
" Tapi,bukannya pak langit biru itu ada menawarkan pekerjaan juga untuk lo Mon ?" Tamara menyela mengingatkan Mona jika Angkasa pernah menawarkan pekerjaan untuknya.
" Lo berniat kerja dengan pak langit itu ? " Tanya Amel menoleh.
" Angkasa Tam,mel.Kenapa sih kalian itu seneng banget ganti-ganti nama orang ? " Gerutu Mona dengan kesal.
" Yaa biar gampang di ingat aja Mon." Amel mebalas dengan enteng.
" Sepertinya gue gak akan menerima tawarannya Angkasa,karena itu akan hanya menjadi boomerang buat gue." Jelas Mona dengan tatapan penuh terawang.
" Masalah lo dengan pak bos saja belum kelar,lo jangan main api,kebakar gosong nanti." Jawab Amel tandas.
Tamara melengos dengan perasaan kesal saat Amel menyarankan kembali Mona untuk tidak terlalu menanggapi akan pria berwajah karismatik itu.
" Jadi apa rencana lo seterusnya ? apa lo merasa baik-baik saja kan tinggal satu afartemen dengan pak bos,sebelum permasalahan ini kelar semua ?" Tanya Amel.
" Yaa untuk sementara seperti biasa gue akan mengorbankan perasaan gue lagi demi sesuatu hal yang gue harapkan." Jawab Mona dengan lirih.
" Kompesasi ?? " Tanya Tamara menyela.
" Tak hanya kompesasi saja yang lo dapatkan tapi setidaknya kepemilikan saham pun lo harus dapat bagiannnya." Balas Amel dengan menatap cerdik.
Tamara menggeleng,ia tak habis pikir jika ide Amel bukan main-main jika Mona bercerai dengan seorang Banny akan mendapatkan sesuatu hal yang bernilai tinggi.
" Sumpah,ide lo benar-benar biadab haa...haaa... " Ucap Tamara dengan penuh sarkastik,ia pun tertawa lebar ketika melihat gadis bertubuh sintal itu menaikan satu alisnya dengan penuh karakteristik.
" Itulah hebatnya seoarng Amel dalam bidang menarik ke untungan. " Mona menyela dengan ikut tertawa lebar.
" By the way,sekarang gimana sikap pak Bos terhadap lo ? " Tanya Amel menyesap minumannya hingga tandas.
" Sikapnya masih kurang baik,dan gue sedang berusaha untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengannya." Jelas Mona dengan datar.
" Demi menjaga perasaan elo ? " Sela Amel pelan namun mampu menusuk perasaanya.
Mona mendesah dengan perasaan berat.Salah satu sahabtanya ini memang ahli dalam menyelami perasaanya terhadap pria tampan itu.Amel menatap Mona dengan intens setelah Mona memesan croisant dan kopi.
" Sejak kapan elo sukap kopi ?" Tanya nya dengan menatap aneh.
" Sejak gue merasa frustasi." Jawab Mona dengan lelucon.
Dengan bersamaan kedua sahabatanya Mona saling tersenyum ironi saat mendengar jawaban lelucon dari sahabatnya itu.
" Makanan itu tidak cocok untuk makam siang lo,dan kopi itu tidak bagus juga buat lambung lo." Ucap Amel yang sedetail itu mengetahui kondisi dirinya.
" Lo sudah cukup kurus,jadi pilih makanan yang cukup mengandung karbo dan protein." Mona meraih menu tersebut dan membatalkan pesanannya Mona serta menggantinya dengan steak daging serta jus alfukat.
Mona menyeringah,sejak dulu hingga sekarang,sosok Amel tidak pernah berubah.
Tamara ikut menoleh ke arah Amel yang begitu sangat peduli terhadap sahabatnya itu.
" Gue kurus,gue rasa gue baik-baik saja."
" Lo emang gak bisa gemuk,kaya tusuk gigi." Cetus Amel.
" Sialan !!, boody kaya gitar spayol gini di bilang tusuk gigi." Semprot Tamara tak terima.
Amel terkekeh melihat wajah cantik Tamara berubah asam.
" Selera makan gue akhir-akhir inu menurun. " Ucap Mona seraya menatap kedua sahabatnya itu.
Amel menatap dengan tatapan prihatin namun tidak ketara,tanpa di jelaskan pun Amel paham akan situasi yang di rasakan sahabatnya itu.
Amel tersenyum ia paham betul apa yang tengah di pikirkan sahabatnya tersebut.
" Jika lo bareng kita gak ada alasan lo gak makan,nikmatin hidup selagi kita sehat." Balas Amel memberi dukungan penuh.Mona tersenyum lega.
Mona sangat beruntung memiliki sahabat seperti Amel dan Tamara yang selalu memberi warna dalam kehidupannya.
__ADS_1