
MONA mengusap-ngusap wajahnya dengan frustasi,seolah-olah ada kegelisahan yang sedang menderanya,betapa tidak ia masih tidak mempercayai jika bosnya itu memintanya untuk menemaninya ke acara pesta pernikahan sesama rekan bisnisnya.
Hal ini memang bukan yang pertama kalinya untuk dirinya di ajak ke acara di luar kepentingan pekerjaan.
Namun Momen kali ini sedikit berbeda,yakni ke acara yang begitu sangat formal dan pastinya acara tersebut akan terkesan lebih memah sehingga Banny memintanya memesan busana yang mewah di tempat Disainer pribadinya untuk dipakai olehnya.
Hampir saja semua pekerjaannya tersita dengan pikirannya yang bercabang dan hal itu memaksanya untuk berpikir keras atas alasan apa yang menjadikan bosnya itu mau mengajaknya kepesta.
Lalu ada renacana apa lagi yang akan di siapkan bosnya untuk dirinya.
Mona tidak mungkin juga menolak perintah sang bosnya itu dengan alasan apapun karena ia menyadari bahwa dirinya pernah di tolong oleh bosnya mengantar dia ke BANDARA untuk menjemput sang nenek.
Yaa hanya menemani kepesta apa salahnya?toh mungkin acaranya tidak terlalu ribet meski ini memang pengalaman yang nyaris tak pernah ia alami sebelumnya.
Ponsel Mona berdering membuyarkan dari lamunannya.
ZEANU is calling......
Mona mengernyitkan kedua alisnya dan menatap lekat kearah ponselnya yang masih berdering nyaring.
" Hallo !!" Sapa Mona dengan lembut
" Hallo Mon." Balas Zeanu dari sebrang telepon dengan nada suara ceria.
" Iya Zean,ada apa ?" Tanya Mona dengan ragu.
" Makan siang yuk ! gue tunggu di kantin atas ya." Balasnya singkat.
" Ada apa ?" Tanya Mona heran.
" Datang aja.Gue tunggu ya !" balas lagi Zeanu singkat dan..
TUT....TUTTT....
Sambungan telepon pun terputus.Mona hanya bisa menganga dengan kebingunan ada apa Zeanu memintanya untuk makan siang bersama.
" Ikhhh !! apaan sih ?Hari ini orang-orang bikin gue bingung semua." Ucap Mona setengah bersungut lalu meletakan poselnya dengan sedikit kasar.
Lagi-lagi Mona di buat semakin gelisah hingga tak karuan belum juga tuntas akan kegelisahannya antara bosnya kini ada persoalan baru yaitu sikap Zeanu yang meminta dirinya untuk makan siang bersama secara tiba-tiba.
Mona terlihat menatap strees ke arah layar laptopnya seraya menggerak-gerakan bibir mungilnya dengan ekspresi kebingungan.
.....................
JAM makan siang sudah berlangsung sepuluh menit yang lalu,setelah membereskan beberapa Map di meja Mona pun berniat menuju kantin menemui Zeanu yang sudah menelponnya beberapa menit yang lalu.
Ketika Mona hendak bergegas menuju pintu tiba-tiba pintu ruangannya sudah terbuka lebar dan bosnya berdiri tegak di ambang pintu dengan tatapan tanpa ekspresi.
Mona terhenyak lalu ia hanya bisa menatap kaku ke arah sang Bos itu.
" Bapak ada perlu sesuatu ?"Tanya Mona dengan menatap ragu.
" Temanin saya ke tempat Disainer,soalnya baju yang di pesan ukurannya sudah tak bisa di pakai lagi jadi harus ukur ulang." Ucap Banny dengan sorot mata yang tajam.
Mona menghela napas panjang mata buletnya melirik dengan enerjik raut wajahnya semakin bingung menentukan sikap.
Sebenarnya ini masalah di luar pekerjaannya tapi kenapa Banny memintanya untuk di temani.
" Kenapa kamu diam saja ?" Tanya Banny dengan sorot mata yang menakutkan.
" Hmm...Anu pak." Ucap Mona terbata-bata terlihat semakin bingung.
Suara nada panggilan berdering dari ponsel miliknya Moan,dengan raut wajah berubah pias Mona berusaha untuk tetap tenang.
" Kenapa kamu tidak angkat teleponnya." Tanya Banny heran setelah melihat sikap Mona yang tak bergeming terkesan mengacuhkan suara panggilan teleponnya.
Perlahan Mona merogoh ponsel yang berada di saku blazeernya itu lalu di lihatnya ke layar ponselnya itu Zeanu memanggilnya kembali, jantungnya berdetak lebih cepat seakan akan ia sedang di buru sesuatu.
" Siapa ?" Tanya Banny menatap lurus Mona tulang rahangnya semakin tegas dengan sorot mata yang semakin menajam.
" Pak Zeanu." Jawabnya pelan.
Banny mengernyitkan alisnya dengan tatapannya semakin tajam menatap Mona.
" Hallo....!" Sapa Mona dengan ragu.
__ADS_1
" Mon gue udah di kantin lo masih dimana ?" Tanya Lantang Zeanu dari sebrang telpon.
" Zean.Sory banget gue masih ada beberapa kerjaan yang harus deadline nee,Gak bisa di tunda soalnya." Jawab Mona dengan terus menatap tegang sang Bosnya yang ekspresi wajahnya berubah kecut saat ia tahu yang menelpon adalah Zeanu sahabat plus fatner kerjanya.
" Yahh..! Gue tadinya mau ngomong sesuatu sama lo" Balas Zeanu dengan nada kecewa.
" Ya sudah kalo lo gak bisa gak apa apa,Tar kalo ada waktu senggang gue ajak lo makan siang lagi deh." Ucap lagi Zeanu yang tanpa lagi menunggu Mona untuk membalas ucapannya.
" Ok Zean,Sorry banget ya." Ucap Mona dengan wajah penuh sesal.
" Ok ! Gue gak apa apa ko,Dan lo jangan lupa makan siang ya." Ucap Zeanu seraya mengakhiri teleponya.
Mona menghela ia menatap kembali ke arah Banny yang sedari tadi memandanginya dengan sorot mata yang tidak suka.
" Ada apa dia nelpon kamu ?" Tanya Banny dengan terlihat kesal.
" Hmmm...,Dia ngajak makan siang bareng pak." Ucap Mona dengan terunduk.
" Jadi itu alasan kamu ragu ikut sama saya ? Ya sudah. sebaiknya kamu temuin dia." Ucap Banny dengan wajah cemburu ia hendak melangkah pergi.
" Ehh engga pak.!" Ucap Mona repleks ia menarik tangan Banny dengan cepat.
Banny tertahan saat ia merasakan sesuatu yang menahan tangannya.Di tatapnya tangan Mona yang memeganginya dengan spontan lalu ia mengalihkan pandangannya ke wajah Mona yang tak jauh darinya.
" Opss.Maaf !" Ucap Mona seraya melepaskan pegangannya dengan cepat dan tersenyum dengan perasaan tidak enak.
" Saya akan temenin bapak." Ucap Mona sedikit gugup.
Lalu Banny membenarkan dan merapihkan lengan bajunya yang sempat tertarik oleh Mona.
Banny tak bicara lagi ia melangkah meninggalkan Mona yang masih terlihat serba salah.
......................beberapa saat kemudian
Di Boutik
" Hallo Boskuh yang ganteng !Apa kabar ?" Seorang laki laki dengan perawakan lemah gemulai menyambut Banny dengan manja.
" Hallo Yonce.Kabar baik." Jawab Banny seraya menerobos pintu kaca untuk segera duduk di sopa empuknya.
" Heeii....! Boskuh siapa yang Boskuh bawa ini ?" Ucap Yonce menatap Mona dari ujung kaki hingga kepala.Mona tersenyum dengan penuh hormat di samping sopa yang di duduki Banny.
" Dia Sekertarisku." Jawab Banny singkat.
" Ganti lagi ya Bosku,Perasaan dulu bukan yang ini deh.." Ucap Yonce dengan menghampiri Banny yang duduk dengan gaya bertumpu kaki seraya menatap angkuh seisi ruangan butik Yonce yang tak lain Disainer pribadinya.
" Yaa,Dia Sekertaris baru.Mona namanya." Ucap Banny dengan sikap wibawanya.
" Hai Mona ! Aku Yonce.Kamu duduk aja say silahkan." Ucap Yonce memepersilahkan Mona untuk duduk.
" Terimakasih." Balas Mona tersenyum manis.
" Oya Bosku kita ukur lagi ya ukuran bajunya soalnya aku takut jas yang ukuran lama tidak bisa di pake lagi." Ucap Yonce dengan genit dengan gayanya nyentrik abis.
Mona terlihat menatap lucu ke arah Yonce yang gerak geriknya sangat gesit dan luwes.
__ADS_1
Mona menyimak dengan kagum saat Banny sedang di ukur tubuhnya untuk prepare ke acara pesta pernikahan besok sore.
Mona sedang membayangkan suasana akan pesta itu Dan pastinya pesta itu akan begitu sangat meriah dan mewah yang akan di hadiri para tamu tamu undangan dari kalangan elit semua.
Diam diam Mona mencuri pandangan ke arah Banny yang sedang melakukan pengukuran bajunya.Ia menatap kagum ke arah Banny yang mempunyai tubuh tegap dan atlentis dengan wajah yang sangat tampan.
Di dalam hatinya Mona terus berdecap kagum akan ketampanan sang bosnya,Ia pun menghayal manis alangkah bahagianya seorang perempuan yang akan mendapatkan bosnya dan bisa jadi perempuan itu sangat beruntung sekali.
Mona tersenyum tipis saat membayangkan hal itu sehingga menarik perhatian Banny yang sedang di ukur tubuhnya oleh Yonce sang Disainer andalannya.
Banny menggeleng ia sudah merasa paham atas sikap Mona yang terkadang membuat ia merasa heran dan Aneh sendiri.
" Bosku ngomong ngomong Kapan ukur buat jas pernikahannya ? jangan ngukurnya buat pesta yang lain mulu deh.." Tiba tiba Yonce memecahkan kesunyian dengan suara manjanya.
Sontak membuat raut wajah Banny berubah memerah dan sedikit membuat tidak nyaman dengan celotehan Yonce.
Mona berpura pura memalingkan wajahnya ke arah kaca yang ada di hadapannya dan menatap Banny melalui pantulan cermin itu Mona mulai melihat sinyal ketidak nyamanan pada raut wajah sang Bosnya tatkala ucapan Yonce mengusik hatinya.
" Kamu kerjakan saja tugas kamu,Tidak usah bertanya ke hal yang lain." Jawab Banny ketus sembari membalas tatapan Mona lewat pantulan cermin itu.
" Aduh Bosku,Gak sabar deh rasanya aku buatin jas yang mewah nan elegan saat Boskuh menikah nanti." Balas Yonce dengan lirikan genitnya.
Yonce sudah paham betul akan watak dan karakter seorang Banny sang pengguna jasa Disainernya.
" Do'akan saja agar saya bisa bersanding dengan seseorang dengan secepatnya." Ucap Banny pelan.Lagi lagi ia menatap Mona lewat pantulan cermin itu.
Mona menggeserkan pandanganya dengan tersipu dan salah tingkah.Mona merasa risih saat Banny berbicara seolah olah di tujukan kepada dirinya, Ia pun Dengan cepat mengusir jauh jauh rasa geernya dan menjaga sikapnya ia tidak mau merasa salah paham atas ucapan sang bosnya.
" Duh sekian lama saya kenal dengan Bosku ini,Rasa rasanya belum ada Boskuh memperkenalkan seorang perempuan buat calon gitu yaa Secara kan Boskuh ganteng masa tidak ada yang tertarik see selama ini sama Boskuh ." Lagi lagi Yonce menggoda Banny dengan tatapan manjanya.
" Tidak mudah saya mendapatkan perempuan yang sesuai dengan kriteria saya." Lagi lagi Banny berbicara seraya memandangi Mona lewat cermin.
Mona tidak membalas tatapannya dia hanya memilih untuk menunduk,Baginya tatapan Banny membuat ia semakin membuat perasaanya tidak karuan.
" Haa..haa..,Sepertinya itu hal yang sangat sulit yaa...secara Bapak laki laki yang sangat sempurna,nyaris tidak ada kekurangan satupun." Ucap Yonce terkekeh.
Banny tidak menjawab dia hanya menyunggingkan senyuman sedikit angkuh.
" Sepertinya badan bapak semakin proposional deh,ukurannya sudah nambah beberapa centi pak." Ucap Yonce dengan mengukur kembali panjang dan lebar pundak Banny dengan detail.
Yonce tidak mau Banny kecewa dengan hasil Disainernya,Ia takut Banny tak nyaman ketika memakainya Karena ia paham betul jika Banny sudah merasa kecewa jangan harap Banny bisa kembali memesan Karya karyanya.
Banny tidak menjawab dia hanya terdiam dengan pandanganya masih lurus ke arah Mona yang asik dengan lamunannya sendiri.
" Oia Boskuh mau pake warna apa jasnya?" Tanya Yonce dengan memperlihatkan beberapa warna jas yang akan di pilih Banny.
" Mona.Kamu bisa pilihkan warnanya ?" Banny menyeru ke arah Mona yang masih terlihat melamun.
" Eh iya pak,Maaf saya lagi bengong." Ucap Mona dengan gugup.
" Kamu masih mikirin Zeanu."Tanya Banny dengan menatap tajam.
" Tidak pak." Sela Mona melirik kesal sang Bosnya.
" Lalu kenapa kamu dari tadi diam saja.?"
" Kan bapak lagi proses pengukuran,Gak mungkin saya ganggu bapak." Jawab Mona dengan menatap kesal Banny.
" Oke sekarang kamu tolong pilihkan warna yang cocok buat saya !" Ucap Banny dengan menatap kaku Mona.
Mona pun dengan sedikit terpaksa ia mencoba mengamati beberapa warna jas yang terlihat bagus bagus dengan berbagai pilihan warna.
" Saya lebih suka warna ini pak." Ucap Mona sembari menunjuk warna Metalik tua.
" Warna buat saya bukan buat kamu." Balas Banny dengan sikap dingin Mona memutarkan bola matanya dengan jengkel.
" Carikan yang cocok buat saya bukan menurut warna kesukaan kamu." Ucap Banny lagi dengan sikap juteknya.
" Ribetkan urusannya.di jawab salah gak di jawab salah banget."
Ucap Mona ngebatin seraya menatap penuh kejengkelan kearah Banny.Banny menoleh dengan angkuh lalu tak lama ia membuang jauh pandangya dari Mona yang masih menatapnya jengkel.
" Sis yang sabar yaa,Boskuh memang super perfect" Ucap Yonce setengah berbisik manja.
__ADS_1
Mona terlihat menahan kejengkelannya seraya tersenyum hambar akan sikap Banny yang selalu bersikap dan berbicara seenaknya.
......Bersambung.