CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 173


__ADS_3

BANNY mendesah pelan ia tengah membolak balikan sebuah map tanpa aturan di hadapannya.


" Ini adalah berkas berkas perceraian gue dengan Mona nanti." Ucapnya dengan datar.


Lalu ia pun melempar berkas berkas tersebut kehadapan Zeanu sang sahabatnya.


Zeanu menatap lurus map tersebut.


" Lo sudah yakin akan mengakhiri pernikahan ini?" Tanya Zeanu menatap intens.


Zeanu menarik napas pelan.Sebagai sahabat sekaligus orang yang pernah bekerja sama dengan Banny tentunya ia paham akan sikap sahabatnya tersebut.


Banny bukanlah tife yang bisa bersabar.Dia memang memiliki kemampuan analisa yang cepat tapi bukan tife seorang penganalisis yang sabar dalam banyak aspek.Segala sesuatu ia selalu di tuntutnya untuk bersikap cepat dan tepat dalam memutuskan berbagai perkara yang di hadapinya.


" Kenapa lo begitu cepat membuat keputusan seperti ini?bukankah lo menginginkan jika Mona akan menjadi istri sungguhan elo?" Tanya Zeanu.


Banny membisu menatap dalam sahabatnya tersebut.


" Lo masih meragukan perasaan Mona ?" Tanya Zeanu datar.


" Gue rasa seperti itu,setidaknya elo paham seperti apa gue ini ??" Balasnya dengan tersenyum sinis.


" Semua asumsi lo berlenihan boy,Mona menolak lo untuk mengantar kembali ke kantornya itu bukan berarti dia tidak ada lagi perasaan terhadap lo man,berhentilah bersikap sesentimen itu.Ayolah sedikit saja lo berusaha untuk mengerti perasaan dia." Jelas Zeanu berusaha meyakinkan perasaan sahabatnya tersebut.


Banny mengetatkan rahangnya.Memangnya selama ini pernah kah ada ia melakukan hal baik terhadap gadis itu,bersikap sedikit lebih pengertian terhadap gadis itu.Kalau pun ada itu hanya kebetulan saja sebagai rasa kepedulian dia terhadap gadis tersebut selama pernikahan sandiwaranya itu berlangsung.


Banny menepisnya,egonya kembali menampilkan kekuatannya sehingga di tepisnya jauh jauh perasaan ibanya tersebut.


Akan tetapi ketika gadis itu berubah sikap kepadanya tentu saja dia sangat keberatan dan menuding gadis itu berpaling darinya dan bersedia di jodohkan kembali oleh sang neneknya dengan Angkasa.


Sungguh egois perasaanya itu !!


" Sudah jelas dia akan menerima perjodohan itu." Guman Banny dengan tersenyum sinis.


" Darimana lo yakin akan hal itu ? sudah gue katakan berapa kali,Mona menolak perjodohan itu Ban." Jelas Zeanu dengan nada bicara yang tak biasa kembali memberi pengertian.


" Mona sudah banyak berubah akan sikapnya terhadap gue.Gue paham itu." Ungkapnya bernadakan kecewa.


" Elo selalu berpikiran buruk akan hal itu.Ok jika lo memang ingin menceraikan Mona,lalu kenapa lo masih terganggu dangan perubahan sikap dia." Zeanu bertanya dengan nada menyelidik.


Banny mendegus.


" Lo benar !seharusnya gue tidak usah terganggu dengan perubahan sikap dia.Toh pada akhirnya gue tetap akan bercerai.Pernikahan ini tetap akan menjadi pernikahan sandiwara gue." Jelas Banny terlihat gusar.


Zeanu mengangguk-ngangguk,namun untuk sesaat ia nampak berpikir.


" Jika ini adalah keputusan lo gue tidak bisa berbuat banyak lagi." Ujar Zeanu lemah.


Banny menatap lurus sahabatnya itu membiarkan perasaanya mengalir begitu saja.


" Tapi adakah kompesasi untuk Mona ?" Tanya Zeanu menyoroti sahabatnya itu dengan detail.


Banny tersenyum enteng dan menatap dengan segala rasa.


" Gue rasa gue tidak perlu memberikan kompesasi apapun terhadap dia.Anggap saja jabatan yang sekarang di dapatinya itu sebagai staff menejer di perusahaan gue sebagai bentuk kompesasi gue untuk dia." Ujar Banny dengan begitu enteng.


" Ah shittt !! itu terlalu menyakitkan man,hanya dengan sebuah jabatan elo korbankan perasaan Mona untuk kehidupan elo.Gue gak habis pikir !" Zeanu menggeleng kecewa.Kecewa atas sikap sahabatnya tersebut.


" Itu pantas untuk membayar segala upah kebaikan dia yang sudah bersedia menikah dengan gue.Untuk seukuran dia jabatan sebagai seorang Meneger jauh lebih baik.Huuhhh entah kenapa papah gue begitu menyayanginya hingga gue harus menikahinya.Konyolkan ?? " Ujarnya dengan tersenyum enteng.


" Itu bukan konyol,justru bokap lo lebih tau mana perempuan terbaik yang pantas buat mendapingi hidup lo.Jika gue ada di posisi elo,tentunya gue tidak akan pernah menganggap pernikahan ini hanya pernikahan sandiwara.Dan tentunya gue akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh sungguh." Jelas Zeanu dengan intonasi yang begitu dalam.


Banny terdiam menatap dingin wajah sahabatnya tersebut.


" Dari sudut pandang gue,dia memang terlihat konyol mau saja menerima perjodohan ini,tapi ingat dia adalah satu satunya wanita yang tidak melihat harta dan kekayaan lo.Jika dari awal dia melihat harta lo saja tentunya dia akan meminta persyaratan di awal pernikahan sandiwara lo ini dengan meminta kompesasi yang cukup tinggi setelah dia bercerai dengan lo nanti.Tapi nyatanya itu tidak sama sekali dia lakukan kan ?" Terang Zeanu menatap gusar.


Banny mendecih.


Lantas pria tampan itu terlihat menahan napasnya dengan begitu terlihat berat lalu menghembuskan nya kuat kuat.


" Lo mulai terdengar seperti kakek kakek yang sedang menasehati cucunya." Ucap Banny seraya meraih sebotol minuman berakhol lalu menuangkan nya ke gelas dirinya dan sahabatnya tersebut.


Zeanu melengos membuang wajahnya dengan perasaan jengah atas sikap sahabatnya tersebut.


" Terserah lo saja.Gue hanya memberi sedikit saran saja jika apa yang telah Mona lakukan itu lebih besar dari apa yang lo kasih sekarang ini terhadap dirinya itu,jabatan bisa saja dia cari,tapi perasaanya lo gak bisa cari dari wanita lain termasuk Arnetta.Gue hanya tidak ingin elo menyesali dengan apa yang menjadi keputusan elo itu." Ucap Zeanu seraya mengangkat gelas miliknya ke arah Banny kemudian meneguknya sekali habis.


Banny tersenyum sinis.


" Gue pastikan,gue tidak akan menyesali akan hal itu pak tua,sebesinar apapun dia nanti,di mata dunia nanti dia akan tetap menyandang gelar janda dari seorang Banny.hehe.. " Banny memutar mutar gelas minuman di tangannya dengan terkekeh.


Zeanu terdiam.ia malas untuk melanjutkan perdebatan ini dengan si tuan keras kepala tersebut.


Banny mengalihkan tatapannya ke arah pemandangan yang terhampar di jendela kaca kantornya.Entah kenapa wajah polos Mona muncul begitu dan berputar putar di dalam ingatannya.


Sejujurnya,Banny sendiri lupa kenapa begitu marahnya atas kejadian dua hari yang lalu sesaat dia menemukan pria berkarismatik itu berada di kediaman neneknya gadis itu.Seolah olah amarahnya memuncak sesaat prasangkanya mampu mendominasi perasaannya tersebut,sehingga membutkan akal sehatnya.


Banny mengingat kembali akan perasaanya tersebut yang tiba tiba saja berubah sebal terhadap gadis itu.


Tapi itu bukan hanya sekedar sebal saja,lebih tepatnya ia merasa takut akan kehilangan cinta gadis itu,sehingga perasanya tak terarahkan sehingga dia tak mampu mengutarakan hal itu.


Banny menggeleng perasaannya kian terbawa frustasi.


" Seandainya TUHAN tidak menakdirkan gue seperti ini,tentunya ketika lo menceraikannya nanti maka gue akan membawanya pergi dan gue jadikan dia ratu dalam hidup gue." Guman Zeanu pelan namun mampu terdengar jelas oleh pendengaran pria tampan tersebut.


Sontak pria tampan itu tercekat lalu menyoroti sahabatnya itu dengan tak biasa.Banny mendecih dengan tersenyum ironi.


" Dia hanya perempuan biasa yang...." Ucapannya mengantung.


" Yang mampu menarik semua perasaan para pria,tak terkecuali Angkasa.Itu tidak bisa di pungkiri kan jika Mona adalah sosok wanita yang begitu luar biasa." Ungkap Zeanu memotong pembicaraanya Banny.

__ADS_1


Kali ini Banny tertegun menatap tak berdaya ke arah wajah sahabatnya tersebut.Banny menggeleng berusaha mengusir hawa yang kian menelusup jauh ke dalam hatinya.Perkataan sahabatnya itu mampu membuka luas mata hatinya yang seperkian detik telah tertutup oleh kebencian yang tak beralaskan.


Belum dapat Banny membantah pernyataan sahabatnya itu wanita cantik itu tiba tiba sudah berdiri di hadapannya,entah dia terlalu fokus akan pikirannya entah memang tak menyadari akan datangnya Wanita cantik tersebut.


Tatapannya cemerlang dan penampilannya matang.


Zeanu menatap panjang wanita cantik tersebut.Bisa di pastikan jika wanita itu telah menghabiskan banyak uang atas perawatan kecantikannya tersebut.


Wanita cantik itu Arnetta yang berdiri sedari tadi dengan membawa map di tangannya.


" Mas !" Sapanya lembut.


Banny sedikit terhenyak atas kehadiran wanita cantik itu yang sudah berada di ruangannya.Zeanu menilik sahabatnya itu dengan heran,rupanya Banny memang sedang memikirkan sesuatu hingga tidak sadar akan kedatangan sekertarisnya itu kedalam ruangannya.


" Ada apa ?" Tanya Banny datar,ia berusaha untuk mengfokuskan kembali pikirannya.


" Ada beberapa berkas yang belum mas tanda tangani." Balas Arnetta pelan.


Banny menarik napas lalu mengulurkan tangannya untuk meminta map yang belum Arnetta serahkan.


" Ini mas." Ucap Arnetta seraya menyerahkan map berisi berkas berkas tersebut kehadapan bosnya itu.


Banny menerimanya lalu mulai membuka isi dari map tersebut,membuka tiap lembar berkas berkas yang belum ia sempat tanda tangani.


" Ane,tolong siapkan Agenda untuk besok nanti." Pinta Banny dengan masih mendatangi berkas berkas tersebut.


" Besok bukannya mas meminta meluangkan waktu untuk acara mediasi perce...." Ucapan wanita cantik terhenti sesaat ia harus menyebutkan agenda bosnya hari esok.


Banny menghentikan kegiayatan tangannya menandatangi berkas berkas tersebut lalu wajahnya terangkat dan menatap lurus ke arah sekertarisnya tersebut.


Zeanu ikut melakukan hal yang sama menatap dengan menutut berbagai pertanyaan di benaknya.


" Mediasi ??" Ucap Zeanu pelan.


" Gue hanya ingin permasalahan ini tertutup dan tidak untuk publikasi." Jelas Banny dengan cepat.


Zeanu tersenyum penuh ekspresi.Tak habis pikir akan otak licik dari sahabatnya itu yang tidak ingin terlihat buruk nama dirinya serta perusahaanya di mata dunia setelah perceraiannya nanti.


" Lo benar benar gak punya perasaan man." Guman Zeanu semakin tertekan.


" Maaf mas,pak Angkasa meminta saya untuk mengadakan kembali pertemuan dengan mas." Arnetta berkata dengan perasaan ragu.


Banny mengerjap lalu menatap lepas gadis itu setelah nama Angkasa di sebut kembali oleh sekeratisnya tesebut.


" Ada apa lagi dia ?" Tanya Banny dengan nada tidak suka.


" Beliau hanya menyampaikan akan menarik kembali semua investasinya yang ada di perusahaan nya mas." Jelas Arnetta dengan merasa degdegan.Tentunya dia perlu skil untuk menyampaikan segala informasi terhadap bosnya tersebut.


" APA ??" Banny menggertak dengan mengebrak meja kerjanya tersebut.


Sontak membuat Zeanu begitupun sekertarisnya terperanjat kaget.


" Itu lah permainan hati bisa melibatkan berbagai aspek di dalamnya..." Sela Zeanu tersenyum enteng.


Banny mengatur napasnya yang memburu, menahan amarahnya yang kian memuncak.


" Secepatnya aturkan pertemuan saya dengan pemilik perusahaan itu.Bila perlu malam ini." Gertak Banny menahan amarahnya yang nyaris meletup dari jiwanya.


" Sebaiknya elo tidak gegabah dalam menyelesaikan permasalahan ini ban,ini pastinya akan menyangkut nama baik perusahaan elo juga." Jelas Zeanu berusaha mengingatkan sahabatnya tersebut.


Banny menghela napas kasar mencoba meredakan amarahnya yang terus menguasai pikirannya.


Angkasa dengan sengaja melakukan hal ini pastinya untuk membuatnya murka.Pikirnya Banny membatin.


Yaa Banny sangat yakin jika apa yang di lakukan pria itu semata mata hanya ingin balas dendam terhadap dirinya.


" Sebaiknya mas harus bernegosiasi kembali dengan pimpinan perusahan tersebut mas." Bujuk Arnetta mencoba memberi masukan.


" Ini urusanku ! kamu tidak perlu menjadi tim penasehat." Ujar Banny memberi penekanan pada akhir kalimatnya.


Kalimatnya tajam namun sikapnya mulai terlihat santai.Banny hanya tidak ingin terpancing dengan amarah yang bisa merugikan dirinya dan nama perusahaannya tersebut.


Berbeda dengan Arnetta dia terlihat sesaat menegang,wajahnya tampak memerah menahan perasaan malu.Zeanu menoleh ke arah gadis itu yang terlihat menahan berbagai perasaan.


Arnetta menarik napas panjang berusaha menenangkan gejolak hatinya.


" Kalau begitu aku akan menelepon pak Angkasa untuk memberi tahu hal ini." Ucap Arnetta.


Sesaat Banny menimbang perkataan sekertarisnya itu.lalu memberinya ekspresi penuh.


" Tidak perlu,aku akan meneleponnya sekarang,jadi kita tidak perlu melakuan pertemuan lagi.Tolong kamu siapkan nomor yang akan di hubungi." Ucap Banny.Tangannya meraih ponsel yang ada di atas meja lalu menyodorkannya ke arah sekertarisnya itu.


Arnetta mengamati ponsel milik Banny,lalu ia pun segera mengambilnya dan memasukan nomer telepon yang di mintanya oleh pria tampan itu.


" Mas tidak memiliki nomer ponsel pak Angkasa ?" Tanyanya dengan ragu.


" Ini bukan seseuatu hal yang harus ku jelaskan kepadamu,masukan saja nomernya di ponselku." Jawab pria tampan berwajah dingin itu kian membeku.


Zeanu menggeleng sahabatnya itu tidak pernah bisa bersikap lebih manis,sekalipun lawan bicaranya seorang wanita.


Dengan perasaan gugup lagi lagi Arnetta di buatnya sabar dalam menghadapi ucapan pria angkuh ini.


Disisi lain,Angkasa menatap sesaat ke nomor baru yang baru saja masuk ke ponselnya.Ia baru saja selesai rapat dan sedang berada di ruang kantornya dengan moodnya yang belum stabil,benar benar jelek.


" Hallo !" Nada suara Angkasa terdengar datar saat menjawab panggilan tersebut.


" Hallo tuan Angkasa." Balas Banny dengan suara bariton khasnya cukup menggema.


Angkasa mengerutkan dahi setelah mendengar suara berat di sebrang sana.ia sesaat menatap nomor yang tertera di layar ponselnya untuk sesaat sebelum kembali menempelkan benda pipih mungil itu di telinganya.

__ADS_1


" Dengan siapa ini ?" Tanyanya dengan kaku.


Di tempat lain Banny berdiri tegak membelakangi sekertarisnya dan menatap ke arah jendela kaca luar sana.


" Anda lupa dengan fatner kerja anda ?"


" Maaf nomer ini baru di kontak saya,jadi saya tidak tahu dan ingat siapa anda ini.?" Jawabnya kian datar.


" Saya Banny " Balas Banny singkat.


Angkasa menganggukan kepalanya dengan rasa penasaran.


" Ada apa anda menelpon saya ? "


" Saya rasa,saya hanya buang buang waktu saja melakukan pertemuan dengan anda hanya untuk membahas permasalahan penarikan saham anda.Karena saya akan urus itu semua untuk penarikan dana investor anda.Jadi saya harap tidak perlu mengadakan pertemuan apapun untuk membicatakan permasalahan ini." Terang Banny dengan wajah penuh ke angkuh menangtang pria itu.


Angkasa terdengar mendesah setelah mendengar penuturan Banny dari ujung telpon sana.


Angkasa benar benar tercengang dengan keputusan yang telah di ambil oleh orang yang sedang menjalin kerja sama dengan dirinya tersebut.


Angkasa menggeleng sikap Banny terbilang tegas dan angkuh.


" He'h baiklah akan saya batalkan kontrak semua invetasi saya,dan saya berharap untuk tidak menjalin kerja sama lagi dengan perusahaan anda dalam bentuk apapun." Balasnya Angkasa dengan nada kesal.


" Untuk lain kali,anda harus profesional dalam melakukan kerja sama ini, tidak melibatkan urusan hati anda di dalamnya,bukankah itu hanya bisa membuat anda terkesan menjadi seorang pecundang ?" Ejek Banny dengan acuh.


Sontak rahang pipi Angkasa mengeras menahan kekesalannya.


" Ini bukan masalah pecundang,ini adalah sebuah persaingan mempertahankan sebuah perasaan.Jika pun anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan investor lain dengan sebuah perusahaan,maka berbeda hal dengan saya.Karena bagiku kesempatan untuk memiliki seorang wanita yang luar biasa tidak akan pernah datang 2x.Asal anda tahu saja,saya melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan seoarng wanita yang sedang anda jadikan istri bayangan anda." Jelas Angkasa dengan kian memberi penekanan di setiap kalimatanya.


Sontak hal ini membuat semakin geram perasaan pria tampan itu.


Berani berani nya pria ini masih sanggup mempertahankan peraaaanya terhadap Mona.


" Nyali anda lumayan cukup tangguh !!" Puji Banny tersenyum sinis lalu menatap Arnetta yang sedang menatapnya.


Zeanu menyimak secara seksama sepenuhnya pembicaraan sahabatnya itu dengan pria yang kini menjadi saingan terberatnya tersebut.


Sudah di pastikan jika Angkasa memang masih mempertahankan ke inginannya untuk mendapatkan seorang Mona.


" Saya hanya ingin menjadi seorang pria yang mampu mempertahankan satu cinta terhadap seorang wanita,apa pun itu keadaan wanita tersebut. " Ucap Angkasa dengan begitu tenang.


Banny membelalak tatapannya namun kemudian ia menahan dirinya,ia tahu jika ia bertindak gegabah akan fatal akibatnya.Dia tidak ingin bertindak lebih dari ini.


Pria tampan itu tersenyum sinis.


" Anda akan mempertahankan perasaan itu?maka dengan senang hati akan saya lepaskan,bagiku ini adalah perasaan sesaat saja." Jelas Banny dengan berusaha terdengar lebih santai namun jauh di dalam hatinya berkecambuk berbagai perasaan yang tak menentu.


Zeanu tercekat setelah mendengar kalimat yang terucap dari mulut sahabatnya itu .Tiba tiba amarahnya mendidih mendengar pernyataan sahabatnya tersebut yang begitu mudahnya melupakan perasaanya terhadap MonaJelas ini membuatnya tersinggung.


Bagaimana bisa Banny mengabaikan begitu saja perasaannya yang terdalam terhadap Mona,bukan kah ini hal yang bodoh!!


Dia tahu percis bagaimana perasaan Banny terhadap Mona.Semubafik itukahh ???


Zeanu menatap dalam sahabatnya itu.


Lain halnya dengan Arnetta,ketika dirinya mendengar ucapan tersebut perasaanya terasa begitu senang kesempatan dirinya untuk lebih dekat dengan bosnya itu akan terbuak lebar.


Angkasa tersenyum puas dengan terus memutar mutar bolpoinnya di tangannya tersebut.


" Dengan senang hati saya akan menerima seorang janda dari anda,Tuan Banny Wiguna !" Balas Angkasa kian mantap.


Degggg.....


Entah kenapa kalimat terakhir ini sontak membuat amarahnya kian tersulut.


" Kau......!!"


Angkasa menutup panggilannya,tidak membiarkan Banny menyelesaikan kalimatnya.Dia tahu jika pria itu sedang kesal kepadanya.


Lengkungan senyumannya terlihat begitu puas akan membayangkan bagaimana ekspresi wajah pria itu ketika menahan kekesalanya.ini tidak lah belum sebanding dengan apa yang telah membekas di hati dan pipinya dia bekas bogeman mentah sang Banny.Angkasa tersenyum dengan perasan puas,keinginanya semakin kuat untuk mempertaruhkan perasannya tersebut terhadap Mona.


" SHIIIIITTTT !!!, dia memutus begitu saja teleponnya.BERANI SEKALI DIA." Teriak Banny dengan geram.


Dengan perasaan jengkel yang berlebihan dia menggebrak keras meja kerjanga tersebut sehingga Zeanu dan Arnetta yang hadir di sana terperanjat.


" Tolong kamu kembali ke ruanganmu,dan tinggalkan pesan jika ada sesuatu hal,aku sedang tidak ingin di ganggu !!" Titah Banny terhadap sekertarisnya itu menyuruh pergi.


Dengan perasan panik gadis cantik itu pun segera beranjak dari ruangan bosnya tersebut dan berjalan menghilang di balik pintu.


Banny menatap kepergian sekertarisnya itu dengan perasaannya masih di kuasi amarah.


" Sepertinya elo butuh istirahat,lo akan banyak membutuhkan energi positif untuk menghadapi permasalahan ini." Ucap Zeanu seraya bangkit dari tempat duduknya.


Banny masih terdiam berusaha mengatur laju emosinya,kedua tangannya terkepal erat untuk beberapa saat lamanya,sebelum akhirnya ia memejamkan mata,mencoba kembali mengatur emosinya yang nyaris tak tercontrol.


Sungguh ini membuatnya sesak,berpura pura tidak memcintai itu hal yang menyesatkan.


" Pria B*******k itu masih mempertahankan perasanya terhadap Mona." Ungkapnya dengan suara serak.


" Dia tidak seb*******k itu,justru dia pria gantelman yang begitu gigih dalam mempertahankan perasaanya." Ucap Zeanu tandas.


Banny mengangkat tinggi wajahnya menatap wajah Zeanu dengan penuh tangtangan.Rasanya amarahnya kian tak terkontrol sesaat mendengar ucapan sahabatnya itu mampu menohok hatinya.


" Dan lo....?" Ucapan Banny tertahann.


Ia pun menghempaskan kepalan tanganya ke udara melampiaskan kekesalannya dengan tak berarah.


" Tinggalkan gue sekarang !!" Teriaknya dengan intonasi yang kuat.Zeanu mendengus melihat sikap brutalnya sang sabahatnya itu.

__ADS_1


Dan tanpa berbicara kembali Zeanu pun memilih untuk segera pergi dari ruangan itu,meninggalakan sahabatnya yang larut dalam amarahya.


__ADS_2