CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 75


__ADS_3

MONA terpogoh-pogoh memasuki ruangan kantor lalu ia pun mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan untuk memastikan tidak ada staff yang lain melihat kedatangannya yang terlambat beberapa menit.


Meski ruangan kantor masih terlihat sepi namun ada di antara ruangan yang sudah hadir para staff yang sudah memulai aktivitas pekerjaanya.


Mona berharap staff yang lainnya tidak mengetahui ia keterlambatannya,karena sebagai seorang sekertaris sang bos ia harus bekerja dengan profesional dan di siplin.


Karena ia tahu betul dengan peraturan yang berada di perusahaan itu sangat ketat dan penuh disiplin.


" Aman !!" Ucapnya lirih seraya mengelus dadanya.


Mona merasa lega dengan situasi yang cukup terkendali ini. Lalu ia pun segera berjalan hendak menuju ruangannya namun baru saja beberapa langkah ia di kejutkan dengan suara desisan yang cukup keras,Monapun menghentikan langkahnya lalu mencari-cari asal suara desisan itu.


" Sssut sssut !!" Desisnya cukup keras.


Mona menoleh ke arah suara itu.


" Amel !!" Pekik Mona terhenyak nyaris dia terkejut di buatnya.


" Niat kerja gak sii ?Jam berapa ini ?" Tanya Amel setengah berbisik.


" Sssttt lo jangan kencang-kencang,gue kesiangan." Bisik Mona dengan cepat membungkam mulut Amel agar tidak bicara lagi.


" Pak Banny sudah datang ya?" Tanya Amel seraya clingukan.


" Gue belum lihat." Jawab Amel seraya menepis tangan Mona yang menutup mulutnya.


" Syukurlah !!" Jawab Mona dengan lega.


" Lo memangnya sudah sehat ?" Tanya Amel seraya merapihkan rambutnya.


" Gue ada disini itu artinya gue udah sehat Amel." Ucap Mona melirik kesal Amel.


" Syukurlah,gue seneng lihatnya." Balas Amel semeringah.


" Eh Tamara mana ?" Tanya Mona menyisir ke arah ruangan lain.


" Adalah di ruangannya,gue habis dari ruangan OB bikin teh." Balas Amel seraya hendak melangkah lagi.


" Ok.Gue ke ruangan dulu ya,ngeri pak bos sudah datang dia kan kaya mahluk astral suka datang secara tiba-tiba." Ucap Mona dengan membalikan badannya.


" Mahluk astral yang paling tampan." Balas Amel seraya pergi melangkah menuju ruangannya.


Mona menggeleng lucu setelah mendengar celotehannya Amel.


Mona pun segera memasuki lift untuk menuju ruangannya ia merasa cemas takut berpapasan dengan staff yang lainnya.


Tapi sepertinya nasib baik sedang berpihak kepadanya,Mona sama sekali tidak berpapasan dengan siapapun pun hanya tadi ia sempat bertemu dengan pak Surya yang sama-sama memasuki lift.


Mona bergegas masuk ke ruangannya lalu dengan ragu ia menoleh ke arah ruangan sang bosnya masih terlihat sepi, Mona menarik napas lega lalu ia pun segera menuju meja kerjanya dan segera mengambil posisi duduk langsung menyalakan laptopnya tanpa menunda-menunda lagi.


Lalu Mona dengan sigap mengecek beberapa laporan serta data-data pekerjaan lainnya yang sudah tersusun rapi di laptopnya.


Ia khawatir jika laporan dan data-data yang ada di laptopnya itu bisa berantakan setelah seharian kemarin ia tinggalkan di karena kondisi badannya kurang vit.

__ADS_1


Mona memusatkan pikirannya ke layar laptopnya itu ia mengecek beberapa schedule yang kemarin sempat tertunda oleh kesehatan dirinya,ia merasa tenang saat melihat beberapa schedule sudah di kerjakan Banny meski tanpa ada dirinya lalu ia pun mengecek pekerjaan laporan yang masuk via emailnya.


" Laporan dari bu Widia dan Jefri belum ada masuk.Apa mereka lupa kali ya ?" Ucapnya bertanya pada dirinya sendiri.


" Ok gue cek via situs internet,kali aja mereka lupa kirim ke email gue." Gumannya lagi dengan terus mengotak-ngatik laptopnya dengan piaway.


" Tuh kan mereka lupa,disini gak ada laporan barang masuk dan keluar." Tanyanya lagi dengan mengerutkan kulit dahinya.


" Gue cek dulu agenda hari ini." Selanya seraya terus melototi laptopnya dengan serius.


Ada beberapa schedule yang sudah tersusun untuk hari ini dan itu beragendakan meeting pada jam sembilan pagi ini bersama kolega barunya pak Banny.Lalu Mona mengernyitkan kedua alisnya ketika ia melihat agenda makan siang nanti bersama Zeanu yang akan pembahasan permasalah pembangunan cabang anak perusahan yang belum rampung akan pembahasannya.


Entah kenapa itu membuat Mona merasa keberatan jika harus duduk bertiga dalam satu meja antara dirinya dengan Zeanu beserta sang Bosnya itu.


Ia sudah dapat memastikan bagaimana nanti suasana yang akan di rasakan olehnya.


" Gawat nii,kenapa agendanya harus makan siang dengan Zeanu lagi sii ?" Gumannya dengan sedikit kesal.


" Gue yakin nanti suasananya akan kaku seperti kanebo kering." Gumannya lagi dengan terus mengecek beberapa laporan yang sudah masuk ke emailnya itu.


Mona menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan pasrah lalu di tatapnya dengan lekat layar laptopnya itu,bagaimana tidak Zeanu dan Banny sekarang sudah jelas menduduki perasaan yang sama di hatinya dan itu artinya mereka berdua akan menunjukan ada perasaan terhadap dirinya,meski Mona tidak yakin tapi Mona merasakan jika perubahan sikap Zeanu dan sang bosnya itu bisa nilai secara tidak langsung terhadap dirinya.


Dan Monapun entah kenapa teringat kembali saat adengan yang paling indah bersama sang bosnya itu,di gigitnya ujung bibirnya itu dengan rona wajah yang mulai memerah entah kenapa ia merasa malu sendiri jika mengingat akan hal itu.


Perasaannya bisa di katakan bahagia walau hati kecilnya merasa menyesal akan adengan itu namun tidak menutup kemungkinan jika adegan itu adalah adegan yang selalu di bayangkannya ketika ia sedang menoton drama korea favoritnya itu.


Mona tersenyum tipis lalu merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat inosen entah kenapa hatinya berubah menjadi berbunga-bunga,perlahan ia menysukuri atas sandiwaranya itu dengan sang Bosnya.Sedangkan dengan jelas jika hampir seluruh staf perempuan yang bekerja di perusahaan itu mendambakan akan sosok kekasih seperti sang bosnya itu.Seorang Manda saja rela mati-matian mencari perhatian sang bosnya itu selama ia menjadi sang sekertarisnya.


Bahkan beberapa di antara koleganya terang-terangan meminta anak gadisnya untuk di jodohkan dan di pinang oleh sang putra pemilik perusahan TIRTA LOGISTIK yang kini perusahaannya tengah naik daun.


Dan kesempatan ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali untuk dirinya untuk berkesempatan menjadi seorang kekasihnya seorang Banny walaupun hanya sebatas sandiwara saja.


Meski memang hanya bersandiwara dalam sebuah perjodohan tapi Mona merasa jika Banny perlahan-lahan akan mencintainya meski memang belum bisa menerima akan kehadirannya.


Yaa Mona mengetahui jika Banny menerima perjodohan ini hanya untuk membuat bahagia sang papahnya itu.


Mona sudah tidak mau ambil pusing lagi dengan hal itu ia mencoba menikmatinya dan menjalani apa yang sudah jadi jalan kehidupannya,kalau pun toh Banny adalah takdirnya pastinya akan ada jalan untuk mempersatukan antara dirinya dengan sang bosnya itu dalam sebuah ikatan cinta yang suci.


Sandiwara yang membuahkan sebuah hadiah yang sangat spesial untuk dirinya.Mona tersenyum dengan penuh arti lalu ia pun menghela dengan perasaan yang lega.


Mona masih tersenyum malu-malu seraya mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan....


TAPP....


Banny berdiri menatapnya dengan tajam sedari tadi ia mencoba meneliksik ke dalam pikirannya Mona yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum sendirian.


Tatapannya semakin kaku saat Mona menghentikan senyumannya dan kembali berpura-pura mengamati kembali layar laptopnya.Banny menggeleng melihat akan sikap Mona yang di rasa aneh olehnya.


" Pagi pak !!" Sapa Mona seraya menatap ragu sang bosnya itu.


" Pagi." Jawabnya pendek.


Mona kembali menatap ke layar laptopnya dan berpura-pura sibuk.

__ADS_1


" Gimana kesehatan kamu?" Tanya Banny menatap kaku Mona.


" Alhamdulillah saya sudah baikan pak." Jawab Mona melirik ragu sang bos.


" Syukurlah,kamu sudah baikan,saya pikir kamu masih sakit sehingga dari tadi saya perhatikan kamu kok senyum-senyum sendiri.Apa mungkin urat syarafmu yang kena sehingga mengakibtakan kamu tersenyum-senyum sendiri." Ujar Banny dengan nada bicara yang sangat datar sekali.


Mona menatap jengkel ke arah Banny yang selalu berkata seenaknya terhadap dirinya.


" Gila kali gue keganggu sarafnya." Ucapnya ngebatin.


Banny menaikan kedua alisnya dan mata yang tajamnya menatap penuh arti ke arah Mona,seakan-akan ia bisa mendengar dari upan hatinya Mona.


" Hmm..,saya baik-baik saja pak." Jawab Mona singkat.


" Hati-hati jangan tersenyum-senyum sendirian." Ucap Banny seraya mengalihkan pandanganya ke tempat lain.


Mona tidak menjawab ia hanya tersenyum kaku melihat sikap sang bosnya yang masih saja bersikap garing terhadapnya.


" Tolong kamu atur tempat untuk meeting jam sembilan nanti." Ucap Banny seraya membalikan badannya untuk melangkah keluar ruangan Mona.


" Baik pak." Balas Mona dengan singkat.


" Saya tidak mau menunggu jadi harus cepat di persiapkan,ada waktu beberapa menit untuk persiapan."


" Baik pak nanti saya hubungi pak Hendra untuk pengaturan ruanganya." Balas Mona dengan memandangi pundak sang bosnya yang terlihat begitu bidang.


Banny tidak berbicara lagi ia pun segera melangkah menuju ruangannya yang berada di sebelah ruangan Mona,sementara itu Mona mengantarkan sang bos pergi dengan terus memandanginya hingga Banny terduduk di kursi kerjanya.


Setelah duduk Banny menoleh ke arah Mona ia merasa di awasi sedari tadi,dan benar saja Mona memang sedang terus memandanginya.Dengan cepat Mona pun berpura-pura mengalihkan pandangannya ke tempat lain agar Banny tidak beranggapan dia sedang memperhatikannya.


Banny menggelengkan kepalanya dengan sinis setelah melihat sikap sang sekertarisnya itu yang memiih berpura-pura tak melihatnya lalu tak lama ia pun membuka laptopnya dan mulai berselancar di media sosialnya.


Mona melirik kembali ke arah sang bosnya itu entah kenapa pandangannya tak bisa jauh dari sang bosnya itu,Banny memang telah banyak menarik perhatiaannya selama ini.


" Deuhh !! Kenapa sii tuh bos bikin gue deg-degan terus." Gumannya seraya melirik kembali Banny yang tengah serius memperhatikan laptopnya.


Mona mengucek-ngucek matanya ia berusaha untuk tetap fokus kepekerjaannya walau mata nakalnya terus melirik sang bosnya.


Memang sepertinya ada daya tarikan yang luar biasa dari sosok seorang Banny dan itu membuatnya ingin melirik terus sang bosnya itu,dan....


TAPP.....


Tatapan Mona kembali beradu dengan tatapannya Banny yang secara bersaman sedang menatap ke arahnya,Mona terhenyak setelah memperogoki sang bosnya yang sedang mencuri pandangan ke arahnya.


Banny menatap dengan datar namun raut wajahnya sedikit berubah manis tak sekaku yang tadi lagi,ada garis senyuman yang tipis terlihat dari ekspresi wajah yang dingin itu meski hanya samar-samar terihat.


Mona dengan cepat tertunduk berpura-pura kembali sok sibuk padahal jantungnya berdekup lebih kencang bak benderang yang akan mengajak berperang.


Ia cukup syok saat melihat ekspresi sang bos itu sedikit berbeda dari cara menatap dirinya.


" Tuh kan gue kaya orang kesetrum kalo liat ni orang." Bisik dalam hatinya dengan melirik ragu ke arah Banny.


" Terus kok dia makin menawan aja see gue liatin,pake ada acara senyum gitu lagi. ?" Ucap lagi Mona dalam batinnya.

__ADS_1


Mona semakin salah tingkah di buatnya sementara Banny hanya memperhatikan sikap lucu sang sekertarisnya itu yang tak ayal membuat ia merasa lucu sendiri.


Dengan sengaja Banny mempepanjang tatapannya sehingga Mona semakin salah tingkah dan ia pun berhasil di buatnya nervous atas tatapan serta senyumannya sang bosnya itu yang mampu membuat ia semakin tak karuan.


__ADS_2