
PAGI ini Mona sudah berada di kantor,beberapa staf menatapnya dengan sedikit asing,lalu mereka pun terdengar berbisik-bisik,seakan-akan mereka mengetahui permasalahan yang tengah di hadapinya,namun Mona berusaha mengabaikan sikap mereka yang mulai terasa menggangu pikirannya tersebut,kenapa mereka bersikap seolah-olah mereka tau apa yang tengah menimpa dirinya saat ini ?
Mona menggeleng dengan perasaan tak menentu.
" Benar-benar tak menyangka aja ya ?" bisik salah satu stafnya tersebut dengan sangat hati-hati,namun desas desus itu terdengar kian samar-samar di telinganya Mona,hingga Mona semakin tak nyaman.
Akan tetapi Mona tidak ingin peduli lantas ia pun terus melangkah menuju ruangan kerjanya,disana Aras sudah datang menyambut dengan tersenyum ramah namun terkesan di paksakan.
" Pagi bu Mona,selamat beraktivitas kembali." sapa Aras sedikit kaku.
Mona hanya tersenyum dengan wajah tak bersemangat.
" Tiga hari bu Mona tidak masuk kantor kami sangat kelimpungan,dan ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan adanya tanda tangan bu Mona jadi kami memendingnya." ujar Aras melaporkan ke adaan kantornya selama Mona tidak ada.
Mona hanya mengangguk-ngangguk dengan tersenyum hampa.
" Maafkan saya,tiga hari ini saya tidak bisa kekantor di karenakan kondisi saya lagi tidak vit." jelas Mona seraya duduk di kursinya.
" Dan saya pun tidak bisa menghubungi nomor ponselnya ibu ?" ucap Aras.
" Oh iya itu,ponselku tidak aktif karena ruksak." jawab Mona tanpa beban.
Aras hanya mengangguk dengan berbagai pertanyaan di benaknya,entah kenapa perasaan hatinya sedang berkata lain tentang alasan yang di katakan atasanya tersebut,ada yang tak biasa di raut wajah atasanya tersebut,Mona yang biasa berpenampilan fress itu,kini jauh lebih terlihat kuyu,dan raut wajahnya terlihat begitu muram,namun ia tak berani untuk mempertanyakan keadaan yang sesugguhnya,mungkin benar jika atasanya tersebut sedang tidak enak badan.
" Apakah selama saya tidak di kantor ada yang nelpon dan mencari saya ?" tanya Mona pelan.
Aras terlihat mengingat-ngingat kembali.
" Hanya ada beberapa custumer saja bu," balas Aras dengan pasti.
Mona terdiam,sepertinya Banny tidak sama sekali menghubunginya ataupun menayakan ke adaanya,dan itu di pastikan jika Banny memang benar-benar ingin berpisah dengannya.
" Oh ,!!" Mona hanya terkatup-katup tanpa ekspresi.
Aras menatap dalam wajah atasan nya tersebut dengan perasaan lain,ada resah yang terpancar jelas dari raut wajahnya.
" Oya Aras,kenapa para staf yang lain berkerumun ketika saya datang ? Apa ada yang aneh dengan penampilan saya kali ini ?" tanya Mona mengalihkan pembicaraanya.
" Mmm,maaf bu Mona sepertinya mereka mendengar kabar yang kurang menyenangkan tentang bu Mona melalui media sosial." jawab Aras sedikit ragu.
" Tentang saya ?" tanya mona kaget sekaligus penasaran.
" Yaa kejadian bu Mona jatuh tak sengaja ke hadapan pak Sultan di pesta beberapa waktu yang lalu foto-fotonya tersebar melalui media sosial." jelas Aras dengan perasaan tak menentu.
Sejenak Mona terdiam,dia tidak menyangka sekejam itu orang yang mengambil foto dirinya hingga menyebarkannya melalui media sosial,ini tidak bisa di biarkan.
" Oya Aras kebetulan saya mau bertanya sesuatu hal kepadamu mengenai foto saya yang beredar di media sosial sekarang ini,bahkan lebih parahnya lagi foto-foto tersebut sudah sampai ke tangannya mas Banny,apa kau yang mengirim semua foto-foto tersebut ?" tanya Mona dengan sorot mata yang begitu tajam.
Aras terkejut mendengar pertanyaan sekaligus tuduhan yang di alamatkan kepada dirinya.Sontak hal itu membuatnya terlihat gelagapan.
" Bu Mona menuduh saya mengambil foto-foto tersebut dan mengirimkannya pada suami bu Mona ? sungguh saya tidak melakukan hal itu,justru saya tau foto-foto itu dari beranda facebook saya bu,ada beberapa akun menandai akun facebook saya termasuk Santana." jelas Aras.
Mona menatap dalam ke arah pria tersebut,di dalam hatinya merespon setiap ucapannya namun belum bisa mempercayai sepenuhnya.
" Demi apa kamu berkata seperti itu ??" tanya Mona menegakan kepalanya menatap tajam pria tersebut.
" Demi Tuhan,saya tidak menahu perihal foto-foto tersebut,bu Mona lihat sendiri ketika bu Mona terjatuh ke hadapan pak Sultan saya berada di dekat bu Mona,mana bisa saya langsung mengambil kejadian itu lewat ponsel saya,sementara saya tidak sedang memegangi ponsel saya sendiri." jelas Aras terlihat begitu meyakinkan.
Mona terdiam mencoba mencerna semua ucapan Asistenya tersebut.
Aras benar-benar tidak tahu menahu akan permasalahan foto-foto tersebut,lalu siapa yang telah mengambil foto-fotonya lalu menyebarkan di media sosial sungguh ini pencemaran nama baiknya,Mona menggeleng frutasi.
__ADS_1
" Tapi yang mengirim foto-foto tersebut mengatas namakan nama kamu,seperti yang di katakan mas Banny kamu lah yang mengirim foto-foto tersebut." ujar mencoba dengan berusaha bersikap tenang,ia tidak ingin terbawa oleh suasana yang begitu panas.
" Saya sudah lama tidak memiliki nomor pak Banny." ucap Aras berseloroh.
Kedua alis Mona terangkat tinggi setelah mendengar ucapannya Aras.
'iahv
" Maksud kamu sudah lama tidak memiliki nomor mas Banny,maksudnya apa ?" tanya Mona dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
Sebelum menjawab Aras terlihat menyesali atas ucapannya tersebut yang terlepas begitu saja dari mulutnya.
Mona menyoroti pria itu dengan berbagai perasaan,entah kenapa ia merasa jika ada sesuatu hal yang sedang di tutupi oleh Asistennya tersebut.
Sejenak Aras terdiam dengan perasaan penuh sesal.
" Maaf bu Mona sebelumnya boleh saya bertanya sesuatu kepada bu Mona ?" ujar Aras terlihat ragu.
Mona mengangkat tinggi dagunya,ia terlihat berusaha untuk tetap tenang walau perasaanya di hantui rasa cemas yang tak berkesudahan.
" Apa ?" tanya Mona datar.
" Hmm,,bu Mona apakah pak Banny pernah memberi tahu tentang saya ke bu Mona ?" tanya Aras menatap dalam.
Mona menggeleng dengan sikap polos.
Aras menarik napas panjang,sepertinya ia begitu berat menceritakan siapa dirinya sebenarnya.Sehingga berkali-kali pria itu terlihat mengambil napas dengan resah.
" Bu Mona,sebelumnya saya dengan pak Banny memang cukup akrab,dulu saya adalah rekan satu perusahan denganya,sehingga pada akhirnya saya memperkenalkan adik saya Kinaya terhadap pak Banny dan....," ucap Aras tak lantas.
Mona segera memotong cetita tersebut,sepertinya Mona paham akan garis besar dari cerita Asistennya tersebut.
" Cukup.Saya sudah paham kemana arah pembicaraan kamu," tungkas Mona tersenyum pahit,Mona langsung mengerti ketika Aras menyinggung soal Kinaya dan ia pun paham akan sikap Banny selama ini jika kurang berkenan dengan kehadiran Aras di cabang perusahaanya cukup beralasan,namun kali ini Mona tidak ingin membahas masalah itu,baginya Kinaya adalah kisah masalalu Banny yang tak perlu dia ungkit.
Kali ini Mona terpana mendengar pernyataan dari Aras,tanpa ia harus mencari tahu siapa sosok Sultan kini akhinya terjawab sudah segala keresahaan dirinya tentang semua cerita ini,alur cerita yang begitu alot namun terungkap secara pasti dengan waktu yang telah di tentukan oleh Tuhan.
Mona melipat bibirnya tipis,semua terungkap dengan begitu saja,dugaannya selama ini ternyata benar,ketidak sukaan Banny terhadap Sultan bukan tanpa alasan,namun nyatanya Banny selalu menutupi semua hal itu dengan sikap dingin serta marahnya,bukan sekedar ingin cemburu,namun tak dapat di pungkiri perasaan Banny memang masih menyimpan rasa sakit yang luar biasa terhadap Sultan itu artinya rasa cinta itu masih begitu besar untuk sosok Kinaya.
Mona berusaha lepas dari rasa ketidaknyamanya tersebut,jujur dia bukanlah satu-satunya perempuan yang istimewa di hatinya Banny,jauh sebelum mengenalnya sosoknya Kinayalah yang mampu bertahan dalam sebuah tahta perasaanya seorang Banny Wiguna.Jika Banny memang sudah tidak mempermasalahkan perasaanya tentu saja ia akan menceritakan sosok Sultan kepadanya....tapi....
Ahh sudahlah !! Cukup sudah rasanya kepala ini nyaris pecah memikirkan sikap pria dingin tersebut,waktu telah menyadarkannya jika selama ini dirinya tak lebih hanyalah cinta sesaatnya.
" Bu Mona !!" panggil Aras mengulang kembali panggilannya setelah melihat atasanya termenung cukup lama.
" Bu Mona memikirkan sesuatu ?" tanya Aras merasa cemas,Mona tak bereaksi ia hanya tersenyum pahit namun terlihat begitu getir.
" Maafkan saya,saya tidak bermaksud membuat bu Mona menjadi merasa tidak nyaman dengan cerita saya." pinta Aras dengan menatap tak enak hati,ia sadar jika kini Mona telah menjadi istri dari seorang Banny.
" Tidak mengapa,saya akan baik-baik saja." balas Mona kembali tersenyum dalam kepahitannya.
" Jadi masalah foto-foto itu jujur saja saya kurang tahu,sebab hubungan saya dengan pak Sultan sedikit renggang akibat perceraian Kinaya dengannya." jelas kembali Sultan.
Mona kembali terlihat mengangguk-ngangguk,ada banyak misteri yang selama ini akhirnya terjawab sudah.
Mona menghela napas panjang Tuhan maha baik,selalu menunjukan sisi yang baik untuknya,maka dari itu lah, hal sekecil apapun dirinya selalu menyerahkan sepenuhnya kepada sang Khalik,hanya DIA lah yang mampu menolongnya dalam hal apapun.
" Saya akan mencobw cari tahu akan siapa yang telah menyebatkan foto-fotonya bu Mona." ujar Aras dengan penuh harapan jika dia mampu menguak kasus tersebut.
" Makasih banyak sebelumnya." balas Mona tersenyum hampa,ia berharap semoga saja Aras mampu membantu dirinya dalam memecahkan masalah ini,Aras hanya mengangguk dengam secercah harapan.
-----------
__ADS_1
Mona hanya bisa menatap prutasi ke arah layar laptopnya,seharian ini ia hanya dapat melamun melepaskan semua pikirannya entah kemana.
Sampai detik ini Banny tidak menghubunginya sedikitpun,meski ponselnya tak ada setidaknya Banny bisa menghubunginya lewat pesawat telpon kantor,tapi....
Yaa sudahlah ia tidak ingin berharap banyak untuk hal itu,kini ia akan mempersiapkan keberaniannya untuk berkata jujur kepada pak Wiguna perihal perceraiannya tersebut,Mona menarik napas panjang rasanya ia seperti terhimpit benda keras yang menimpanya.
Mona mengalihkan pandangannya ke ponsel bututnya yang kini di pergunakan kembali hanya untuk sekedar menelpon saja,tak ada Wa ataupun chat lainnya yang mampu masuk ke ponsel jadulnya tersebut,ponsel yang terjatuh kemaren belum sempat ia perbaiki justru ia tinggalkannya di Apartemen Banny dengan sengaja.
Meski raganya di kantor,tapi pikirannya tak lagi bersamanya melayang jauh ke berbagai masalah yang begitu rumit.
Semua berjalan dengan begitu pasti,dan selama ini Banny sangat tidak suka kepada Sultan karena ada dendam di masalalu.tanpa Banny jelaskan akhirnya ia mendapatkan sumber informasi yang begitu akurat.
Kringg....kringgg
Mona terhenyak setelah mendengar suara dering peswat telpon yang begitu nyaring,Mona menatap pesawat telpon tersebut dan ia memilih untuk tidak segera mengangkatnya, justru Mona hanya menatapi telpon tersebut dengan berbagai prasangka.
siapa yang menelpon ??
pikirnya dengan terus menatap telpon tersebut,bunyi pesawat telpon tersebut masih berdering keras namun Mona sengaja mengabaikannya dengan berbagai dugaan yang berseliweran di kepalanya.
" Bu Mona tidak mengangkatnya ?" tanya Aras dari balik pintu menyembul,setelah ia terganggu dengan suara pesawat telpon yang terus berbunyi namun Mona tak kunjung mengangkatnya.
" Sebaiknya kamu angkat saja,jika itu dari mas Banny tolong katakan saya tidak ada." balas Mona seraya menatap kembali layar laptopnya.
Aras mengernyit,ia merasa heran dengan sikap atasanya tersebut.
Dengan berbagai pertanyaan di benaknya akhirnya Aras mengangkat pesawat telpon tersebut.
" Hallo selamat siang,ada yang bisa saya bantu?" sapa Aras denga suara ramah.
" Saya ingin bicara dengan atasan kamu !" terdengar suara kasar dari ujung telpon berbicara dengan nada ketus.
Aras menjauhkan gagang pesawat telpon tersebut dengan ekspresi tidak nyaman.
Melihat sikap Aras terlihat terjejut Mona menatapnya dengan bertanya suara pelan,nyaris tak terdengar.
" Siapa ?" tanya Mona dengan sedikit memberi isyarat.
Aras menggeleng.
" Maaf,ini dengan siapa ya ?" tanya Aras memberanikan diri.
" Kamu tidak perlu tau siapa saya,saya hanya ingin berbicara dengan atasanmu saja." gertak suara di sebrang telpon makin jadi.
" Mohon maaf,atasan saya sedang tidak ada di kantor." jawab Aras berusaha tenang.
" Kemana ? " tanyanya lantang.
" Saya kurang tahu pak,mungkin ada pesan untuk di sampaikan kepada atasan saya?" tanya kembali Aras dengan masih sangat sopan.
" Tidak ada !!! " jawabnya ketus.
Tuuutt...
Sambungan telpon terputus begitu saja.Aras terkejut dengan sikap kasar sang penelpon tersebut,Aras menyimpan gagang pesawat telpon ke tempat semula.
" Sepertinya yang nelpon suami bu Mona." ujar Aras dengan wajah datar,ia cukup mengenali suara Banny mesku lewat sambungan telpon.
Mona menarik napas,menghindar dari nya adalah jalan terbaik untuk saat ini.
" Aras,tolong kamu kasih tau ke staf yang lainnya jika ada yang menelpon dan mencari saya tolong katakan saya tidak ada !" ujar dengan wajah memohon.
__ADS_1
Aras menatap dalam atasnya tersebut,sepertinya atasanya tersebut sedang tidak baik-baik saja bersama suaminya tersebut.
" Baik bu." balas Aras singkat.