CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 126


__ADS_3

PERLAHAN pria berwajah tenang itu menghela napas panjang lalu menahan rasa sakit yang memanas di wajahnya,Banny terdiam merasakan perih di ujung sudut bibirnya itu.


Kini ia tak bisa lagi mengelak dari kemarahan sahabatnya itu sehingga sahabat dekatnya itu menghadiahi dirinya dengan bogeman mentah tepat di wajah tampan nya tesebut.


Zeanu,sang sahabat tak lagi berbicara seolah ia membuka semua tentang penilaian Banny terhadap masalah yang sedang di hadapi-nya,dan tentunya apa yang di ucapkan sahabatnya itu akan menjadi sebuah pertimbangan yang cukup berat bagi dirinya .


Tanpa berbicara lagi, Zeanu pun memilih pergi dari ruangan sekertaris sahabatnya itu ,ia meninggalkan mereka yang masih menatapnya dengan tatapan penuh rasa tegang.


Rupanya Zeanu perlu menghindar dari hadapan mereka untuk mendinginkan otaknya yang kian memanas, sesaat ucapanya sahabatnya itu telah mampu memancing kemarahannya.


Sebelumnya dia menghilang,sesaat Zeanu melirik sekilas ke arah Mona yang masih memasang badan untuk melindungi pria tampan itu dari amukan emosinya,dan ia pun melengos sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dengan sedikit membanting pintu dengan begitu kasar,yang menandakan ia masih merasa marah terhadap pria yang tengah di lindungi oleh gadis itu.


Apa yang tertahan di hatinya selama ini akhirnya terlepaskan begitu saja, sehingga kepalan tangannya ikut bekerja sehingga mendarat manis di wajah tampan sahabatnya itu.


Mona terdiam merasakan kakinya masih bergetar hebat atas kejadian yang baru saja berlangsung dan itu berhasil membuatnya sangat shok,hal yang paling di takutkan pun terjadi Zeanu marah atas pernyataan bosnya tersebut.


pria tampan itu meringis kecil seraya memegangi ujung sudut bibirnya yang terasa pecah.


Mona menghela lalu perlahan membalikan tubuhnya dan kini mengahadap ke arah sang bos yang sedang menahan sakit.


" Maafkan sikap Zeanu pak.!" Ucap Mona dengan menatap penuh rasa bersalah ke arah bosnya itu.


" Kamu tidak perlu minta maaf atas nama dia." Balas pria dingin itu seraya memegangi ujung pipinya.Rupanya dirasa cukup keras hataman tangan sahabatnya itu di wajahnya.


Mona memandangi wajah pria itu dengan seksama dan ia pun dapat melihat darah kental keluar dari ujung sudut bibir sang bsonya itu.


" Bibir bapak terluka." Seru gadis itu dengan repleks meraih sebuah tisu yang berada di atas meja kerjanya,lalu tisu tersebut di arahkannya ke wajah pria itu.


Perlahan Mona menyeka darah yang berada di ujung sudut bibir pria tersebut.


Sesaat pandangan pria itu tertuju ke dalam wajah gadis itu yang sedang cemas akan luka pada wajahnya.


Yaa gadis ini memang begitu peduli kepada dirinya hingga,bahkan dalam kondisi seperti ini sekalipun.


Pria itu mengedarkan seluruh pandangannya kedalam wajah gadis tersebut,meski tak secantik Kinaya tapi gadis yang ada di hadapanya kini lebih memiliki segalanya yang tak di miliki oleh seorang Kinaya,dan gadis ini memiliki banyak yang di harapkannya.


Memutar ulang kembali pikirannya ke sosok sang Mantan,yaa Kinaya memiliki kesempurnaan dalam sebuah kecantikannya,bisa di katakan good looking.Namun lain hal nya dengan gadis ini yang memiliki hal yang tak pernah di miliki oleh seorang Kinaya,apa itu ?


yea innerbeauty.Jelasnya kecantikan pada hatinya mampu membuatnya merasa nyaman jika sedang berada di dekat gadis tersebut.


Bukankah itu yang dia cari selama ini jika kesempurnaan fisik hanya membuatnya kecewa dan menuju kepada kebahagiaan yang semu.


Mona tersadar saat tatapan mata elang itu sedang menyorotinya dengan tajam,dua tatapan pun saling bertemu tanpa bisa mereka hindari.Perlahan tangan gadis itu meraup wajah pria tampan itu dengan sangat lembut dan menatapnya penuh ke dalam wajah pria tampan yang tengah memperhatikan betul wajah dirinya.


Sejenak napas mereka saling tertahan dan larut dalam tatap-tatapan yang kian dalam.


" Kenapa kamu peduli ?" Tiba-tiba suara itu menghentikan tatapan gadis itu.


Mona terhenyak lalu menurunkan tanganya dari wajah pria tersebut.


Dirasanya pria ini memiliki kepribadian ganda kadang lembut terkadang kasar,meski bukan kasar secara verbal dan fisik,namun sikapnya terkesan terlalu dingin dan sikap egoisnya yang tinggi cenderung pria ini terkesan sangat misterius.


Mona terdiam lalu berusaha menyembunyikan perasaan sesungguhnya,gadis itu melangkah mundur untuk menjauh dari pria itu namun sebuah tangan dengan bergerak cepat menyambar tubuhnya dan kembali menariknya untuk mendekat.


Otak gadis itu mendadak buntu,tanpa bisa menghindar ketika pria itu mulai bersikap di luar kendalinya.Kedua tangan gadis itu repleks menempel di dada bidang sang pria tampan itu menahan semaksimal mungkin agar jarak di antara dirinya tidak terlalu kian dekat.


" Kenapa kamu begitu peduli dengan ke adaan ku ?" Tanya Kembali pria itu dengan suara kian tertahan yang di sertai dengan ******* napas yang menggebu dari seluruh pernapasannya.


Mona terdiam menatap kian kaku entah kenapa lisannya di rasa tak mampu untuk mengucapkan sepatah kata pun,kekhawatirannya memang cukup beralasan jika ia memang peduli terjadap bosnya itu.


Pria tampan itu terus mendesak sang sekertarisnya agar mengatakan alasan kenapa ia sangat peduli dengan keadaan dirinya.


Mona menggeleng pelan saat melihat suatu gairah mengurung perasaan pria itu,tatapannya seakan menelanjangi hasratnya dan pikirannya,namun sesaat matanya terasa mulai basah atas apa yang sedang di rasanya saat ini.


Rasa amarah serta kecewa berbaur menjadi satu dalam benaknya kenapa pria ini seperti tidak memiliki sebuah kepekaan yang maksimal sehingga ia harus menjelaskan secara gamlang akan perasaannya bahwa dirinya telah mencintainya.


Aah rasanya percuma saja jika ia harus menjelaskan tentang kekhawatirannya keadaan pria tampan tersebut.


Mona menghela lalu memberanikan diri menatap lebih lama ke arah wajah pria dingin berfaras tampan itu.


" Jika saya tidak mempuyai perasaan yang lebih maka saya tidak akan sepeduli ini." Ucap gadis itu seraya mendorong perlahan tubuh yang kekar itu untuk menjauh darinya.


Banny memejamkan matanya merasakan pernyataan gadis itu menggerakan perlahan hatinya yang membeku, seketika darahnya berdesir hebat mengalir ke seluruh urat pernadiannya.


" Sekiranya saya tidak perlu menjelaskan apa yang sedang saya rasakan, dan saya berharap sedikit saja bapak bisa memahami akan sikap saya." Ucap gadis itu dengan tersenyum getir.


Perlahan tubuhnya menjauh dari hadapan pria tampan tersebut,mencoba memberi jarak untuk tidak mengulang hal yang membuatnya terlena.Banny menatap nanar ke arah wajah gadis itu yang sudah terlihat basah dengan air matanya.


Banny memang sedang menikmati rasa perih luka di sudut bibirnya, namun ia merasakan ada yang lebih meyakitkan dari sekedar luka bekas hantaman tangan sahabatnya itu melainkan dirinya harus melihat gadis itu menangis di hadapannya.


Yaa gadis itu telah jatuh cinta kepada dirinya dan air matanya itu setidaknya bukti dari perasaan yang di pendamnya selama ini.


Banny menghela menatapi gadis itu dengan perasaan yang kian sulit di kendalikan.


Ingin rasanya ia mengatakan sebuah pernyataan dirinya bahwa dirinya pun telah mencintai gadis itu dan setidaknya hal ini membuat gadis itu tersenyum,namun sepertinya perasaan itu belum mampu sepenuhnya untuk bisa mengatakan akan isi hatinya.


Mona terdiam lalu membelakangi pria tersebut mencoba untuk tetap tegar walau perasaanya kian remuk,rasanya ia terlalu berharap banyak kepada pria tampan ini untuk bisa di cintainya,padahal tekadnya sudah bulat untuk mengubur semua harapan itu,namun jika perasaanya sudah di hadapkan dengan sosok pria ini,tekad itu pun menguap entah pergi kemana.


" Aku tunggu di parkiran biasa." Ucap pria itu mengalihkan pembicaraanya lalu berjalan meninggalkannya.


Mona menghela dengan kasar saat pria itu hanya berucap begitu saja.


Benar-benar tidak peka !!


Desis Mona sebal.

__ADS_1


Harapannya sangat lah besar jika pria tampan itu akan mengatakan perasaanya setelah kejadian ini,nyatanya tidak! Banny makin bersikap dingin kepadanya.


Mona menatap resah tirai otomatis jendela kaca ruanganya tersebut.


Memang benar-benar payah bosnya itu sehingga mengabaikan perasaanya yang sudah berimajinasi jika dirinya akan di bujuk rayu oleh pria dingin itu,nyatanya dia harus mengigit kembali ujung bibirnya saat di dapati bosnya memilih pergi.


Tak ada ucapan yang romantis selain kata " Aku tunggu di parkiran biasa."


Gadis itu meremas rambutnya dengan perasaan frustasi dan menatap dirinya dengan rutukan yang cukup kasar.


" Dasar Bodoh !!"


************


Pertemuan keluarga.


PERTEMUAN dua keluarga itu hanya di hadiri oleh sang nenek beserta sang ayah dari pihak si pria dingin berfaras tampan itu.


Mereka duduk bersama di ruangan tamu yang cukup istimewa dengan di suguhi beberapa hidangan yang luar biasa,layaknya jamuan sebuah tamu kehormatan.


Pak Wiguna selaku tuan rumah begitu sangat menghormati kehadiran pihak keluarganya Mona walau hanya seorang nenek saja.


Gadis yang mengenakan blezer berwarna gelap itu teridam dengan perasaan tak menentu menyaksikan sang nenek beserta pria berwajah wibawa itu berinteraski membahas tanggal serta hari pernikahan dirinya,begitupun sosok pria berparas tampan itu hanya dapat menyimak sepenuhnya tanpa sedikitpun ikut berkomentar menyerahkan semuanya atas keputusan sang Ayahnya.


Pria itu sesekali melempar pandangannya ke arah sang Ayah serta nenek sang gadis itu dengan mengabaikan rasa sakit yang masih berdenyut di pipinya bekas pukulan hebat tangan Zeanu.


Setelah berunding cukup lama akhirnya sang Ayah dari pria itu menyepakati pernikahan akan di selenggarakan dalam dua pekan mendatang.Meski terkesan secepat itu dalam menentukan sebuah tanggal pernikahan namun bagi seorang pak Wiguna ini adalah hal yang terbaik,karena di rasanya ia sudah tak sabar ingin melihat sang putranya bersanding bahagia dengan gadis pilihannya tersebut.


Banny dan Mona hanya saling melepaskan pandangannya satu sama lain.


Sesaat pikiran pria tampan itu teringat kembali akan ucapan dari seorang pria yang menjadi sahabat dekatnya begitu jelas mengatakan,jika sandiwara ini cepat atau lambat sang Ayah akan segera mengetahui permainannya.


Banny tertunduk rasa bersalah kian menyeruak dalam perasaanya ketika ia harus menyuguhkan sebuah kebahagiaan yang semua kepada pria yang paling di hormatinya itu.


Untuk saat ini pria yang menjadi Ayahnya itu tersenyum bahagia atas menyambutnya hari bahagianya nanti, namun esok atau nanti senyuman itu akan berubah menjadi sebuah guratan kekecewaan yang tidak bisa di pungkiri setelah tahu pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara saja.


Mona sekilas melihat raut wajah tampan itu meresah menatap kosong sang Ayah yang sedang bercengkrama bersama peremuan yang sosoknya selalu mengingatkan dirinya kepada sosok sang nenek yang sangat di kasihinya itu.


Perempuan itu menggeserkan pandangnya ke arah Banny dengan tatatapan yang sulit di artikan setelah calon besannya mengatakan rindu akan hadirnya sosok seorang cucu,seolah-olah perasaan perempuan separuh baya itu mengetahui apa yang seshngguhnya sedang terjadi.


Senyuman perempuan tua itu seakan-akan mengisyaratkan sebuah kegamangan yang dalam di benaknya.


Banny tertunduk menatap tak berarti setelah melihat sorot mata perempuan tua itu memudar.


" Papah berharap pernikahan ini akan menjadi sebuah pernikahan yang bahagia antara kamu dan Mona,dan semoga saja kalian segera di kasih keturunan secepatnya." Ucap pria itu membagikan senyumannya ke arah Banny dan Mona.


Sontak gadis bermata belo itu menoleh Banny dan menatap dengan berbagai perasaan tak terkecuali sang nenek yang telah mengetahui akan sebenarnya masalah ini hanya tertunduk mendapati sebuah harapan yang begitu besar dari calon pasangan suami istri ini.


Begitupun Mona tertunduk kian menatapi dirinya dengan perasaan resah,sang nenek menolehnya dengan perasaan yang sama.


Banny tersenyum ringan ke arah Mona yang tertunduk.


Bagaimana pun tidak perasaan bersalahnya akan terus menghantui pikirannya dan itu akan menjadi sebuah isyarat ketidak tenangan dalam kehidupannya.


" Semoga saja semua akan lancar hingga hari H nya,iya kan nak Banny ?" Ucap sang nenek sekaligus bertanya ke arah pria yang tampan itu dengan penuh arti.


Banny mengangguk dengan tersenyum pasi perasaan semakin tak menentu ketika ucapan neneknya Mona penuh dengan penekanan,ada banyak hal yang sedang mengganggu pikirannya.


Untuk menyakinkan hati sang Ayah beserta neneknya Mona lantas pria tampan itu merangkul pundak gadis itu dan di usapnya dengan lembut.


Mona menengadah lalu menatap dalam wajah tampan pria itu dengan berbagai perasaan.


Entahlah perasaan nya begitu sulit di artikan dengan apa yang di lakukan bosnya itu terhadap dirinya, apapun itu selalu membuat perasaan-nya kian bertambah.


Yaa Banny selalu menjelma menjadi sosok pria yang lembut penuh cinta ketika sedang bersandiwara tapi tidak pada kenyaataanya yang dingin serta kaku.


Mona dan Banny hanya saling terdiam dengan tersenyum kaku,masing-masing saling merasakan perasaan yang tertahan.


Pria berwajah wibawa itu hanya menggeleng pelan melihat ke canggungan putranya ketika memperlakukan gadis yang paling di sayanginya itu.


Sang Ayah yakin jika putranya akan bahagia mendapatkan sosok seorang Mona,karena ia paham betul akan sosok seorang Mona.


" Oya Ban,gimana dengan Arnetta ?,dia sudah bekerja di kantor kamu ?" Tiba-tiba sang Ayah mengalihkan pembicaraanya.


Mona terhenyak sesaat ia mendengar nama gadis itu di sebut oleh pak Wiguna.


Arnetta ???


Apakah pak Wiguna mengenal akan sosok perempuan yang masih jadi tanda tanya baginya.


" Sudah pak,Banny tempatkan di bagian admin perusahaan." Jelas Banny seraya melepaskan rangkulanya tersebut.


" Syukurlah,jika Arnetta mampu dalam melaksanakan tanggung jawab yang kamu beri,papah yakin jika kalian mampu membagun camestry yang baik dalam perusahaan ini." Jelas pak Wiguna terlihat semeringah.


Mona hanya menyimak dengan perasaan kian penasaran akan sosok seorang Arneta.


Apa Arnetta masih ada iktan persaudaraan atau kah.....???


Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di dalam benak gadis tersebut.


" Tapi ingat kalian harus bisa jaga sikap,secara kamu bentar lagi akan menikah." Jelas pria berwajah wibawa itu menambahkan.


Mona semakin menguat akan perasaanya terhadap sosok Arnetta jika gadis itu ada ikatan spesial dengan bosnya itu.


" Tidak lah pah,kita sama-sama bekerja dengan profesional." Balas Banny dengan menoleh ke arah Mona dengan berbagai perasaan.

__ADS_1


Mona tersenyum tipis dengan ekspresi wajah pura-pura baik.


" Mona, Kamu sudah kenal dengan Arnetta ?" Tanya pak Wiguna menatap lurus ke arah Mona.


" Su sudah pak." Jawab Mona dengan terbata.


" Arnetta adalah anak dari mitra perkuliahh bapak,ketika dulu Ayahnya Arnetta satu pakultas dengan bapak,Ayahnya Arnetta dosen di universitas bapak,kamu masih ingat dengan pak Mulya?" Tanya pak Wiguna menatap lurus Mona.


Sejebak Mona terdiam lalu mencoba mengingat sosok seorang dosen yang bernama pak Mulya yang sikapnya tak jauh berbeda dengan pak Wiguna.


" Oh ya,saya ingat pak,jadi Arnetta itu putrinya pak Mulya ya ?" Ucap Mona dengan tak percaya.


" Yaa putri bungsunya,kebetulan dia baru saja selesai wisuda S1 jadi untuk sementara dia kerja di perusahaan Banny sebelum ia lanjut kuliah lagi,yang rencananya akan lanjut ke S2 di SINGAPUR." Jelas pak Wiguna dengan penuh bangga menceritakan sosok seorang Arnetta.


Perasaan gadis itu semakin ciut setelah misteri tentang sosok Arnetta itu terpecahkan.Yaa apa yang menjadi pertanyaan nya selama ini terjawabkan oleh sang Ayah bosnya tersebut.


Mona menoleh ke arah pria tampan itu penuh dengan beban.Kesempatan untuk mendapatkan hati seorang Banny kian jauh.


Mona menoleh ke arah sang nenek dengan perasaan berat bagaimana pun tidak,sang nenek telah memahami perasaanya meski tak harus di jelaskan.


********


Setengah jam sudah berlalu Banny mengantar Mona dan neneknya untuk pulang.


Banny membuka kan pintu mobil untuk sang nenek dan memastikan sang nenek duduk dengan nyaman Banny kembali menutupnya lalu berjalan setengah berlari memutari mobilnya lalu masuk dan duduk di belakang kemudinya.


Mona yang sedari tadi duduk di samping sang kemudi menoleh ke arah pria yang sedang bersiap-siap menyalakan mesin mobilnya,sesaat pria itu menoleh ke arah dirinya yang sedang menatapnya sesaat mereka hanya saling terdiam dalam satu tatapan.


" Nak Banny !" Panggil sang nenek menghentikan tatapan mereka.


Banny menoleh dengan terkesiap ke arah sang nenek.


" Iya nek !" Balas Banny singkat.


" Nenek tidak berharap banyak kepada nak Banny,hanya saja nenek meminta sama nak Banny untuk tidak meninggalkan perasaan luka dalam di hati Mona atas perjodohan ini." Imbuhnya dengan suara tertahan.


Mona sekaligus Banny saling terhenyak mendengar ucapan perempuan tua itu.


" Nenek." Sela Mona dengan mengernyitkan kedua alisnya.


Perasaan mereka secara tiba-tiba menjadi tak karuan saat sang nenek berbicara begitu dalam akan artiannya yang sengaja di tujukan kepada Banny dan artian kata itu sungguh sangat ironi.


Mona terdiam menatap ke sisi lain.


" Apa maksud nenek ?" Tanya Banny seraya menoleh ke arah Mona dengan menatap heran.


" Nenek sudah tahu semua akan sandiwara ini,kalian melakukan pernikahan sandiwara ini karena kalian tidak ingin membuat kecewa orang yang kalian sayangi.Tapi nenek mohon jika memang nak Banny tidak mencintai Mona,nenek minta untuk tidak memperlakukan Mona lebih dari itu,karena perasaan akan timbul seiring perlakuan kecil yang sangat berarti." Jelas perempuan itu menatap nanar ke arah Banny yang duduk di belakang kemudinya.


Banny menghela lalu menatap dalam ke arah setirnya itu,apa yang menjadi pernyataan sang neneknya gadis itu mampu mengoyahkan perasaanya,bukannya ia tak mencintai seorang gadis itu,namun dirinya merasa tidak tak ada kemampuan untuk menyatakan hal perasaanya,entah itu karena rasa traumanya yang dalam atau hanya egosnya semata yang masih mempertahankan perasaan gengsinya.


Banny terdiam menatap lurus ke depan rupanya ia belum ingin mengemudikan kendaraanya sesaat ucapan perempuan tua itu mampu menohok perasaanya.


" Nenek." Sergah Mona dengan suara lembut menoleh sang sang nenek.


" Nek,kita tahu akan perasaan masing-masing kok,jadi nenek tenang saja Mona masih bisa membatasi perasaan Mona maupun pak Banny.Lagian pak Banny juga tahu kok kita hanya bersandiwara jadi masih bisa jaga sikap dan perasaan kita masing-masing." Ucap Mona mencoba menyakinkan perasaan perempuan terkasihnya agar tidak terlalu mengkhawatirkan perasaan nya.


" Iya kan pak ?" Gadis itu kembali menyela dengan tersenyum pahit ke arah pria itu.


Banny terdiam meski tak sepaham itu tapi ia mengerti akan posisi gadis itu seperti apa.


" Perasaan itu akan tumbuh seiring terjadinya perhatiaan kecil yang kita berikan,nenek pernah muda dan hal itu pernah teralami,jadi sehebat apa pun kita menjaga perasaan perasaan itu pasti akan tumbuh di hati masing-masing." Imbuh perempuan tua itu dengan pernyataan yang benar.


Mona dan Banny bungkam mereka mengiyakan apa yang menjadi pernyataan perempuan tua itu.


Semua itu sedang mereka rasakan dimana percikan asmara mulai membakar perasaanya masing-masing,namun hanya perlu waktu saja untuk menyatakan pernyaataan itu.


" Semoga saja saya bisa menjaga perasaan untuk Mona." Balas pria itu dengan singkat.


Mona menoleh dengan terhenyak mencoba menganalisa ucapan pria tersebut.


Menjaga ???


Dalam hal apa ??


Apakah dia akan menjaga perasaanya untuk tidak jatuh cinta atau menjaga perasaanya hanya untuk dirinya saja ?


Apa maksud dari ucapan pria salju ini?


Mona menoleh dengan berbagai pertanyaan di benaknya,namun ada yang membuat sedikit terkesan di hatinya saat melihat ekspresi wajah dari pria itu mengulas senyuman ke arah dirinya,dan hal itu tak pernah ia lihat sebelumnya.


Ingin rasanya gadis itu mempertanyakan perlihal pernyataan pria tersebut.


" Jika TUHAN berkehendak lain atas perjodohan ini,maka nenek berharap perjodohan ini adalah takdir kalian." Ujar perempuan berwajah bijak itu dengan tersenyum tipis.


Harapanya memang terdengar ringan namun syarat akan sebuah makna yang mengandung sebuah harapan besar jika perjodohan ini adalah Takdir untuk mereka.


" Nenek,kita berdua mempunyai impian masing-masing tentang sosok pasangan hidup,jika ini hanyalah sandiwara saja,tentu TUHAN sedang mempersiapkan pasangan yang terbaik buat kita berdua." Ucap Mona menoleh ragu ke arah pria yang duduk di sampingnya.


" Bukankah begitu pak ?" Gadis itu memperjelas pertanyaanya.


Banny terkesiap mendengar ucapan gadis itu,namun entah kenapa ia merasa tidak setuju dengan apa yang telah di katakan oleh gadis itu,lalu ia pun hanya tersenyum ringan tanpa ekpresi apa pun.


" Nenek percaya jika TUHAN akan menakdirkan yang terbaik untuk kalian." Tambah sang nenek pelan namun cukup kuat dalam penekanan nya.


Banny hanya menggeleng tidak berani untuk berkomentar selain hanya diam saja,Mona menoleh ke arah sang nenek dengan memberikan isyarat untuk tidak berbicara lagi dan perempuan tua itu pun menyutujuinya.

__ADS_1


Perlahan pria tampan berwajah dingin itu melajukan kemudinya dengan perasaan kian meracau dan tentu saja hal itu membuat perasaanya semakin tidak karuan,apa yang di katakan sang nenek jelas membuktikan jika perempuan yang sangat menyayangi cucunya berharap besar dirinya bisa bersatu dengan sang cucu dalam sebuah perjodohan.


__ADS_2