
PERLAHAN Mona menutup pintu kamarnya lalu menguncinya, membiarkan dirinya larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan seraya meratapi segala bentuk ketidak berdayaan nya.
Pikirannya kian bercabang kemana-mana hingga ke permasalahan lamaran nya pun tak luput dari pikirannya yang kini hanyalah tinggal hitungan hari saja.
Buliran bening itu berjatuhan di kedua pipinya sehingga wajahnya semakin terlihat sembab.
Mona masih terus meratapi dirinya yang begitu egois dalam mempertahankan perasaan yang telah tersakiti.
Ini bukan masalah sebuah kehinaan jika dirinya memaafkan kesalahan orang tuanya dulu,tetapi ini lebih menyangkut ke hal sebuah tanggung jawab seorang ibu terhadap anaknya.
Andai saja waktu bisa di putar kembali ia tak ingin meminta kepada orang tuanya untuk terlahir dari keluarga yang tak sempurna.Dan seandainya saja kekacauan itu tidak terjadi kepada dirinya,mungkin ceritanya tak akan serumit ini,pikir Mona dengan menatap resah bayangan wajahnya di cermin.
Kini ia terjebak dalam perasaan gamang yang membuatnya semakin terbelenggu oleh perasaan trauma yang mendalam.
Sepertinya ia perlu waktu untuk memulihkan perasaanya,karena baginya tak mudah untuk melunakan kembali perasaanya yang sudah mengeras.
Mona menangis kembali,kali ini ia membiarkan dirinya larut dalam tangisan sesalnya membiarkan ke egoisannya menguasai dirinya.
***********
Pagi kembali menyapa,seorang gadis dengan masih menggunakan dres tunik cantik itu terbagun dari lelapnya,dengan menggerecepkan kedua matanya ia berusaha membuka kedua matanya untuk menyimak pasti akan keadaan di sekitarnya.
Gadis dengan wajah sedikit sembab itu menatap lurus jam yang terpasang di atas nakasnya,lalu dengan seketika mata belonya itu membulat sempurna jika waktu sudah menunjukan 08:00 WIB.
Sontak ia terperanjat lalu segera terbangun dengan menatap silau ke arah jendela kamarnya yang tak terpasang tirainya, rupanya semalam ia amnesia sehingga melupakan segala hal.
Kepalanya terasa berdenyut di bagian sebelah kiri, lalu ia pun meremas kepalanya menatap enggan ke arah cermin.
matanya menyipit setelah melihat dirinya masih mengenakan baju pemberian Zeanu,dress tunik itu masih melekat cantik di tubuhnya.Namun sayang seperti nya ini adalah pemberian pertama sekaligus terakhir dari pria berwajah tenang itu,karena kini perasaan itu tak se spesial dulu lagi.Mona pun meremas baju itu dengan berbagai perasaan.
Mona menarik napas panjang lalu ia pun menjatuhkan kembali tubuhnya ke kasur dengan pasrah, pandangannya menatap jauh menerawang ke langit kamarnya.
Ia memang mencintai pria berwajah dingin itu tapi ia juga merasa nyaman jika berada dengan pria si pemilik wajah tenangnya yang kini telah menjadi sosok sodara laki-laki sambungnya tersebut.
Ia memang mengagumi sosok wajah tenangnya Zeanu yang membuat dirinya merasa begitu nyaman.
Mona menangkup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menghempas kuat napasnya dengan frustasi.
Sekiranya pupus sudah harapan tentang pria berwajah tenang itu yang sempat ia kagumi, perlahan tapi pasti ia harus merubah perasaanya dan itu hanya sebatas seorang sodara saja.
Padahal jauh sebelum ke jadian ini terjadi ia sempat berencana jika seandainya nanti sandiwara nya berakhir bersama bo dingin itu, maka Zeanu lah yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya.
Namun sayang TUHAN maha pemberi renacana,Mona menggeleng ketika perasaanya itu hanya sebuah ekspetasi saja.
Sebuah nada dering mengejutkan dari lamunan panjangnya, dengan rasa malas Mona pun terbangun kembali dan berniat mengambil poselnya yang berada di atas nakas lemarinya.
Mona menatap layar ponselnya dengan perasaan acuh.
Pak BOS is callingg.....
Mona mengernyitkan kedua alisnya setelah mengetahui siapa yang meneleponya sepagi ini,ia menatap heran ke arah ponselnya tersebut.
Ada apa bosnya sepagi ini menelpon dirinya ?
Bukannya hari ini hari libur,apa mau bertanya masalah pekerjaan ?
Memangnya tidak ada waktu lain lagi untuk bertanya masalah pekerjaan?sehingga harus menelponnya sepagi ini?
Pikirnya terus bertanya-tanya.
Tanpa pikir panjang ia pun segera mejawab panggilan tersebut sebelum akhirnya ia kena gerutuan dari bosnya nanti.
" Hall...," Baru saja Mona hendak mengucapkan kata hallo,dari ujung telepon sana sudah terdengar nada bicara yang meninggi.
" Kamu kemana saja?dari semalam saya telepon kamu tidak bisa ?apa ponsel kamu hanya untuk pajangan saja ?" Ucap Banny langsung menyambar dengan menggerutu kasar dari ujung telepon sana,membuat Mona shok di buatnya.
Sejenak Mona berpikir,kapan bosnya itu menelepon dirinya?
perasaannn.....??
dia mencoba mengingat nya.
Lalu ia mengingatnya kembali.
Pikirannya terus berputar-putar mencari kebenaran,kepalanya terasa semakin berdenyut kencang ketika ia di paksa untuk berpikir keras mengingat kembali apa yang di lakukannya semalaman.
yaa..... dia tidur,seusai cape menangis Mona memilih untuk tidur.
berharap besok pagi ia bangun hilang semua perkaranya,tetapi salah,justru kini semakin rumit.
" Oh my good !!" Pekiknya membatin,ia baru saja sadar jika semalam ia ketiduran sehabis menagis hingga tak tahu waktu.
" Ma maaf pak,handphone say...." Ucapan Mona kembali menggantung, bosnya dengan cepat mmemotong kembali ucapanya dengan lantang.
" Saya kasih waktu tiga puluh menit untuk kamu bersiap-siap,dan saya akan jemput kamu !!" ujarnya dengan nada ketus.
Ntuuuttt........
Sambungan telepon terputus.
Mona terperangah menatap shok,belum saja ia pulih dari kesedihan nya kini ia di kejutkan dengan sikap ajaib sang bosnya yang selalu tak tau waktu jika ada perlu terhadap dirinya.
Mulut dan matanya sama-sama membulat menatap tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh sang bosnya tersebut.
Dengan perasaan jengkel ia pun meleparkan ponselnya ke atas kasur dengan kasar,Mona tak langsung beranjak ia terduduk di tepi ranjang dengan perasaan semakin kacau.
Tak berapa berapa lama ia pun di paksa untuk segera bergegas menuju kamar mandinya setelah ingat perkataan bosnya di telpon. Seraya menyambar handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya Mona langsung bergegas masuk ke toilet.
__ADS_1
Limas belas menit berlalu Mona pun keluar dari kamar mandinya dan segera mengambil pakaian dari dalam lemari.
Setelah mengenakan kemeja putih bermotif bunga kecil yang di padukan rok prisket berwarna marron tua,Mona pun duduk di meja riasnya mengamati matanya yang masih terlihat sembab.
Sudah dua hari ini ia menangis terus mengeluarkan air matanya dengan cuma-cuma.Baginya tangisan nya itu seperti teman dalam hidupnya dan itu merupakan tangisan biasa saja jika di badingkan dulu, ia menangis dan meratap seorang diri dalam melewati segala bentuk kesusahan hidupnya, jadi hal ini sudah di anggapnya hal biasa saja.
Gadis itu melepaskan handuk kecil yang melilit di kepalanya lalu menyalakan hair dryer yang terletak tak jauh di atas meja riasnya,lalu ia pun memulai untuk mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah.
Ketika ia sedang asyik mengeringkan rambutnya itu tiba-tiba ingatanya terjaga,jika hari ini ia memang sudah ada janji dengan bosnya itu untuk membicarakan kembali masalah lamarannya bersama orang tua dari pria dingin berwajah tampan itu.
Mona terdiam lalu menatap kembali bayangan wajahnya di cermin.
Gimana jika nanti pak Wiguna melihat wajahnya yang kacau seperti ini ?
Lalu alasan apa yang harus ia berikan kepada pak Wiguna jika pria itu mempertanyakan keadaan dirinya.
Mona terdiam lalu membiarkan rambutnya dalam keadaan masih basah sementara pikiranya malah sibuk ke hal yang lain.
Tok tok !!
Suara ketukan pintu terdengar keras.
Mona menoleh ke arah pintu itu dengan ragu,pikiranya kembali semerawut.
Mona segera menuju pintu lalu membukanya sang nenek berdiri dengan tersenyum lembut.
" Selamat pagi Mona." Sapanya tersenyum hangat.
" Pagi nek." Balas Mona pendek.
" Nenek pikir kamu belum bangun !" Ucap sang nenek dengan menatap lembut sang cucu.
Mona tidak menjawab ia hanya tersenyum pasi.
" Semalaman kamu menangis ?" Tanya nya lagi dengan memperhatikan detail raut wajah sang cucu nya itu,lalu yang di tanya hanya mengangguk tanpa ekspresi.
" Nenek tahu,kamu masih marah sama mama kamu,tapi bukan berarti kamu harus mengurung diri seperti ini,semalam nenek beberapa kali mengetuk pintu kamar kamu,tapi kamu tidak menjawab, cemas nenek jadinya." Jelas sang nenek lembut.
" Maaf nek,Mona semalam ketiduran jadi tidak dengar apa-apa." Jelas Mona dengan mengacak rambutnya.
" Nak Banny sudah menunggu mu di luar." Ucap sang nenek memberi tahu jika Banny sudah berada di luar menunggunya.
" Hah ??" Pekik Mona terkejut.
Bosnya itu memang benar-benar sosok yang konsekwen dengan ucapannya.Tiga puluh menit berlalu namun dirinta masih belum siap.
" Kalian ada acara ?" Tanya sang nenek seraya masuk ke dalam kamarnya Mona lalu merapihkan selimut yang masih berantakan.
" Hmmm...." Mona terlihat bingung.
Yaa TUHAN serumit inikah hidup gue.......??
" Mona kamu baik-baik saja ?" Tanya sang nenek menoleh Mona yang sedari tadi terlihat seperti orang linglung.
" Hmm...,anu nek,Mona sama Banny hari ini mau prepare buat acara lamaran besok." Ucap Mona pelan.
Sontak perempuan berhati lembut itu tercengkat dan menoleh cepat ke arah sang cucunya.
" Loh,kok mendadak banget acaranya ?" Tanya Sang nenek shok.
" Maaf nek,Mona baru bilang.Mona lupa untuk bilang masalah ini keburu ada masalah yang lain jadinya Mona semakin ngebleng." Jelas Mona dengan menatap ragu sang nenek.
" Terus....?" Tanya nenek nya menggantung.
" Nanti akan Mona jelasin semuanya ya nek,sekarang Mona temui Banny dulu,kasian ia sudah terlalu lama menunggu,nanti dia jamuran nek" Ucap Mona terkekeh lalu ia pun meraih handphonenya yang berada di atas meja rias.
" Tapi,Mona tunggu....!!" Seru sang nenek menyergahnya namun Mona tetap mengabaikannya.
Sang nenek menggeleng pelan ketika melihat cucunya hanya berlalu tidak menghiraukan ucapannya itu.
Meski dalam keadaan tertekan Mona masih bisa-bisanya melucu di hadapan sang nenek nya itu.
Jiwa humorisnya abadi.
Mona segera menghampiri Banny yang sedang berdiri menantinya di depan teras rumahnya.Dengan perlahan Mona mendekati pria dingin itu yang hanya mengenakan kaos oblong dengan celana jeans belel,pria berwajah dingin itu terlihat lebih casual.
Rambutnya yang khas akan jambul klimisnya itu membuat ia semakin gagah perlente.
Hanya dalam jarak tiga langkah saja wangi maskulinya menguar dari badanya memenuhi seisi halaman rumah.
Bisa jadi farpum yang ia pakenya menghabiskan satu botol hingga dua botol,atau mungkin bisa jadi dia mandi farpum,pikir Mona seraya mengawasi pria itu di balik punggungnya.
" Pak." Sapa Mona terpogoh-pogoh mendekati bosnya itu.
Banny menoleh lalu membuka kaca mata hitamnya itu.
Seettt.....
Tatapan elangnya menatapndirinya.
" Alamak....,tampan sekali bos gue hari ini,Masyaallah !!"
Decak kagum Mona saat melihat wajah tampan Banny ketika melepaskan kaca mata hitamnya itu.
Serasa melihat lee min ho versi indonesianya hadir di hadapanya,lagi-lagi Mona terhipnotis dengan ketampanan garis keras sang bosnya itu.
" Saya bilang tiga puluh menit,kenapa jadi satu jam saya nunggu kamu." Sela Banny dengan gusar.
__ADS_1
" Ma maaf pak,saya tadi...," Ucapanya menggantung setelah melihat ekspresi wajah bos nya berubah aneh menatap dirinya.
Banny menatap panjang dari ujung kaki hingga ujung kepala memperhatikan seluruh penampilan sekertarisnya itu,yang hari ini memang terlihat lebih natural meski wajahnya sedikit sembab,namun itu membuatnya lebih suka melihatnya.
Ada yang lebih menarik dari perhatian nya itu,ketika ia melihat rambut Mona yang masih terlihat sedikit basah dan di biarkannya terurai begitu saja dengan wajahnya di biarkan polos tanpa menggunakan make up seperti pada saat ngantor,hanya ada polesan lip balm yang senada dengan warna bibirnya.
Entah kenapa Banyy malah menyukai hal seperti itu,baginya keseksiannya seorang perempuan tak di ukur dengan seberapa minim pakaiannya melainkan terletak pada penampilan yang kini sedang ia nikmati.Dia suka saja melihat perempuan berambut panjang terurai dalam keadaan sedikit masih basah itu,di rasanya itu sangat eksotic.
" Pak." Panggil Mona membuyarkan pikiran nakalnya Banny.
Banny terhenyak lalu membuang jauh pandanganya keluar jalanan sana seraya menetralkan perasaanya.
" Saya tidak suka orang yang lelet." Ucapnya tegas.
" Saya minta maaf." Ucap Mona seraya membetulkan helaian rambut yang menghalangi pipinya.
Tiba-tiba bola matanya membulat lalu di sentuhnya kembali helaian rambut itu hingga ke bagian yang lainnya.
Sekiranya dia belum selesai mengeringkan rambutnya.
Bibir mungilnya membulat,di rasa ia tak ada waktu lagi untuk merapihkan rambutnya itu,lalu dengan cepat ia pun merapihkan rambutnya dengan menyisir menggunakan jari-jari tangannya.
Banny menggeleng aneh melihat kekonyolan sekertarisnya itu,batin nya merutuk kesal melihat sosok perempuan aneh yang ada di hadapannya itu.
" Perempuan itu penampilan nya harus rapih,heh....,kamu seperti ini." Ucap nya pelan seraya mendecih.
Bola mata Mona melirik tanpa ekspresi lalu melengos begitu saja.
Ia tidak mau ambil pusing setiap kali sang bosnya itu berkomentar,terkadang membuat panas telinga nya itu.
Banny melangkah berjalan menuju Mobil sportnya berwarna metalic itu,lalu ia pun memasuk tanpa meperdulikan Mona yang masih sibuk merapihkan rambut nya,tak lama ia pun menyusul bosnya yang sudah berada di dalam mobilnya.
Banny segera menghidupkan mesin mobilnya setelah ia memastikan Mona sudah duduk dengan baik di sampingnya,lalu perlahan mobil sport miliknya itu melaju keluar dari halaman rumah Mona menuju jalan raya.
Untuk bebepa saat mereka hanya terdiam larut dalam keheningan.
Sementara Mona masih sibuk merapihkan rambutnya.
" Kenapa wajah kamu sembab ?" Tanya Banny memecah kesunyian.
Mona menoleh pria itu dengan menatap ragu.
" Tidak kenapa-napa." Jawabnya singkat.
" Saya tahu wajah normal kamu seperti apa ?" Tanya nya lagi dengan penasaran.
Mona melirik dengan ujung matanya,di rasanya bosnya itu mulai kepo dengan urusan pribadinya.
" Saya,saya hanya terlalu lama tidur." Balas nya lagi pendek.
Banny mendecih lalu menoleh sinis ke arah sekertarisnya itu.
" Heehh....,ada ya orang terlalu lama tidur matanya bisa sembab?" Tanya nya dengan menyeringah remeh ke arah Mona.
" Kenapa sih,bapak itu selalu gak percaya kalau saya bicara?" Tanya Mona terlihat mulai kesal.
" Logika saja,kalau orang kebanyakan tidur memangnya bisa mengakibatkan matanya bengak seperti itu?" Banny melirik lagi Mona dengan tatapan remeh.
Mona mengerucutkan bibirnya hingga membentuk segi tiga sama kaki.
Banny menoleh lalu menangkap sekilas ekspresi wajah kesalnya Mona.
Entah kenapa perasaan itu kian hari kian bertambah terhadap sosok gadis sederhana ini,setiap kali gadis itu berekspresi aneh semakin menangtangnya untuk terus membuatnya jengkel.
" Terserah bapak." Balas Mona berhasil di buatnya kesal.
Banny tersenyum kecut saat melihat ekspresi wajah sekertarisnya itu yang semakin keki melihatnya, lalu ia pun hanya menggeleng pelan.
" Oya,masalah lamaran itu saya hanya mengundang staff perusahaan saja tanpa ada pihak luar mana pun." Ucap Banny menatap fokus ke laju kendaraanya.
Mona hanya terdiam lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca mobil dengan polos.
" Dan sudah jauh-jauh hari saya sudah memprediksikan acara pernikahan kita akan seperti itu juga,hanya ada staff perusahaan saja yang hadir." Ucapnya lagi dengan nada bicara normal.
Mona masih terdiam hanya mendengarkan saja.
" Kok kamu diam saja ?apa kamu tidak suka ?" Tanya Banny menoleh Mona yang sedari tadi hanya terdiam.
" Kamu dengar saya bicara ?" Banny melirik dengan ujaung matanya.
Mona menoleh lalu tersenyum hambar.
" Maaf pak,saya hanya mengikuti kemauan bapak saja,dan dari awal sudah saya ketakan." Balasnya pelan dengan penuh penekanan.
" Ok !!"
Banny mengangguk pelam setelah melihat sekertarisnya itu hanya bisa pasrah menanggapi semua kemauannya tersebut.
" Lalu keluarga kamu ?" Tanya Banny menoleh Mona.
Yang di toleh hanya tercenung menatap gamang ke arah jalanan,entahlah bagi nya ketika mendengar kata keluarganya di sebut selalu merasa ada yang sakit di ujung hatinya itu,terasa perih seperti ada luka bekas sayatan yang tergores dalam.
Mona menggigit ujung bibirnya mencoba menahan sesuatu yang mulai merembes.
Banny sempat melihat ekspresi itu dan membuatnya merasa aneh sekaligus penasaran.
Setiap kali ia menyinggung permasalahan keluarga sikap Mona selalu berubah sedih sekaligus terkesan menghindar.
__ADS_1
" Saya hanya punya nenek saja." Balas Mona denga acuh lalu mengalihkan pandangan nya ke luar jendela berusaha untuk tidak terlihat jika matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Banny terdiam lalu memfokuskan kembali pandangan ke laju kendaraanya,dan ia pun mencoba untuk mengalihkan rasa kepenasaran nya atas sikap Mona yang sering tertutup jika membahas masalah keluarganya itu.