CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 164


__ADS_3

MONA terlihat berjalan menuju sebuah meja yang sudah terdapat kedua sahabatanya menunggu sedari tadi.


Mona melambaikan tangannya setelah kedua sahabatnya itu menoleh ke arah kedatangannya.


" Sorry kalian udah nunggu lama ya ?" Tanya Mona duduk di hadapan kedua sahabatnya itu.


" Tidak juga,kita juga baru nyampe kok." Balas Gadis bertubuh sintal seraya membenarkan posisi duduknya.


" Gimana pekerjaan kalian ? " Tanya Mona menatap penuh rindu ke arah kedua sahabatnya tersebut.


" Untuk saat ini masih lancar-lancar saja." Jawab Si gadis tubuh jangkis menimpali.


" By the way,gimana sekertaris cantik itu ?" Tanya Mona menatap sedikit lelucon.


Kedua sahabat Mona menyeringah lalu tersenyum dengan penuh arti satu sama lain.


" Lo nanyian dia pasti ada maksud tertentu." Sela Amel melirik genit.


" Situasi masih aman !" Celoteh Tamara tanpa beban akhirnya ikut menimpali.


" Maksud gue,dia itu bisa di andalkan apa enggak sama bos kalian ?" Mona mendelik dengan judess.


" Haaa haaa. elo speak-speak aja.Gua tau arah dan tujuan pertanyaan lo kemana." Amel menyeringah penuh candaan.


Mona tersenyum enteng dengan terlihat menahan sesuatu.


" jika lo mau tahu akan hal itu,tanya langsung saja sama pak Banny.Bereskan ??" Balas Tamara dengan tersenyum lebar memperlihatkan semua barisan gigi yang rapih.


" Gue pengennya nanya sama lo berdua,bukan sama pak Banny." Jawab Mona dengan merengut.


" Pekerjaan kita bukan merhatiin kan tuh cewekk !" Sela lagi Tamara dengan lincahh dan terlihat so paling benar.


" Sueee emang ni anak. !" Mona terlihat jengkel dengan sikap gadis salah satu sahabatnya tersebut.


Beberapa menit kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka dan mempertanyakan menu yang akan mereka pesan.Dan mereka pun sibuk memesan menu favoritnya masing-masing.


" Gue yakin ada sesuatu hal kenapa lo manggil kita kesini secara dadakan!" Amel membuka obrolan setelah beberapa menit yang lalu mereka fokus memesan makanan.


" Tebakan lo benar !" Balas Mona seraya membagikan pandangannya ke arah kedua sahabatnya tersebut.


" Pasti lo mau traktir kita makan siang,iya kan ? secara lo udah lama juga gak ada traktir kita." Ucap Tamara dengan semangat.


" Wajarlah,sekarang lo kan seorang Menejer perusahaann gue yakin lo gak bakalan traktir kita mie tek tek lagi.


" Bukan itu maksud gue." Balas Mona dengan masih tersenyum penuh arti.


" Lalu ?" Tanya Amel cepat.


" Apa itu kabar bahagia lo ?" Pertanyaan Tamara menyusul.


" Lebih dari itu." Mona membalas dengan sangat. antusias.Raut wajahnya terlihat begitu berseri-seri.


Dan hal itu berhasil membuat kedua sahabatnya merasa heran sekaligus penasaran.


Amel dan Tamara saling berpandangan satu sama lain dengan tatapan penuh kecurigaan.


" Ada hal yang ingin gue sampaikan ke kalian dan ini tentang bos kalian." Seloroh Mona dengan tersenyum-senyum.


" Pak Banny maksudnya ?" Tanya Tamara polos.


" Emangnya bos lo siapa lagi ?" Amel akhirnya menyela dengan ekspresi santuy.


Mona tersenyum lembut dengan raut wajah tersipu-sipu.


" Lo baik-baik aja kan Mon ?" Tanya Amel mengernyit heran setelah melihat sikap sahabatnya tersebut sedikit berbeda.


" Lebih dari sekedar baik-baik saja." Ucap Mona dengan menatapnya penuh arti.


Amel menoleh ke arah Tamara yang sedari tadi ikut terlihat heran,Tamara pun hanya mampu menggeleng dengan ekpresi pasrah.


" Kalian orang pertama yang akan gue kasih tau atas kabar ini ?" Imbuh Mona dengan tersenyum merekah.


" Jangan-jangan lo hamil ?" Celetuk Tamara dengan spontan.


Mona melotot dengan shok ke arah sahabatnya itu.


Gila saja !!! dia bisa hamil tanpa di jamah oleh pria tampan tersebut.


Memangnya bisa pake virtualacount ????


Mona menggeleng dengan gemas sesaat setelah mendengar celetukan sahabatnya itu.


" Denger ya teman-teman! gue ini masih perawaan jadi gak mungkin gue hamil." Ungkap Mona dengan penuh penekanan.


" Haaa...haaa... kali aja pak bos khilaf." Tamara terkekeh dengan tertawa lebar raut wajahnya terlihat tanpa dosa.


Amel diam-diam ia ikut terkekeh melihat kepolosan Tamara yang berbicara tanpa beban.


" Pria salju itu menyatakan perasaannya sama gue." Ucap Mona dengan singkat.


Kedua bola mata gadis itu terbebelalak lebar setelah mendengar penuturan Mona.


" HAAH !!"


Seru kedua gadis itu dengan kompak.


Mereka terlihat tercengang mendengar pernyataan sahabatnya tersebut dan itu berhasil membuat mereka terkejut bukan kepalang.


" Sungguh Mon ?" Pekik Amel menatap tak percaya.


" Apa gue gak salah dengar ? atau gue lagi bermimpi?" Tanya Tamara dengan cepat ia menepuk-nepuk kedua pipinya.


Pokkk....


Tiba-tiba Amel menepuk keras dahi gadis berbadan jangkis itu dan sontak saja gadis tersebut memekik kesakitan setelah tangan gempal Amel mendarat kuat di jidatnya.


" Maksud lo apa Mel,nepok jidat gue ? " Tanya Tamara sengit.


" Gimana rasanya ?" Tanya Amel balik tanya.


" Sakit lah mel,gila aja tangan babon lo ngehantam jidat mulus gue !!" Tamara mendelik dengan masih meringis.


" Itu artinya elo gak lagi bermimpi." Jelas Amel dengan kesal.


Mona sendiri memilih diam dengan menatap lucu ke arah kedua sahabatnya tersebut.


" Mon elo yakin gak lagi ngeprank kita ? dan pak Banny mengatakan itu semua sama lo lagi gak mabok kan ?" Tamara memberondong Mona dengan pertanyaan seraya mengguncang pundak mungilnya Mona.


Mona terdiam menatap dengan perasaan sebal.


" Tapi hingga detik ini sih gue belum bisa mempercayai hal itu." Jelasnya hambar.


Amel dan Tamara saling berpandangan lalu melengos dengan ekspresi enggak banget.


" Dan lo Yakin jika pak bos menyatakan isi hatinya atas dasar cinta sama lo bukan karena pekerjaaan lo semata ?" Tamara menyela kembali di atara ketegangan tersebut.


Amel melirik pasti ke arah gadis jangkis itu,kali ini pertanyaan sabatanya itu di rasa benar di pikirannya.


" Gue setuju atas pertanyaan si Tamara." Ugkap Amel seraya menolong memindahkan satu persatu pesananya dari baki sang pelayan.


" Lalu reaksi lo gimana ? " Tanya Amel kian penasaran.


" Gue belum bisa merespon atas sikapnya pak Banny.Terus menurut kalian gimana tanggapan akan hal ini ?" Mona kembali membagikan tatapannya dengan penuh intens.


Tamara dan Amel kembali saling berpandangan sepertinya mereka paham atas apa yang sedang ada di benaknya Mona saat ini.

__ADS_1


Bukan maksud mereka untuk meragukan atas niat serta keinginan bosnya itu,namun mereka hanya merasa ketakutan jika pria yang menjadi bos di perusahaannya itu justru akan memberi luka dalam terhadap sahabatnya itu.


" Kalau gue sih ragu yah ?" Ungkap Tamara denegan menatap resah.


Amel hanya terdiam mengankat tinggi kedua pundaknya,meski dia bahagia mendengar kabar tersebut namun perasaanya memiliki ke takutan yang beralasan jika seorang Banny hanya akan mempermainkan kembali perasaannya sahabat itu.


Mona terlihat menatap tak menentu atas sikap kedua sahabatnya tersebut yang terlihat enggan berkomentar.


" Mon !" Panggil Tamara dengan berat.


" Gue sebenarnya tidak yakin kalau itu adalah perasaan yang sesungguhnya pak bos,tapi gue sebagai sahabat lo pastinya akan mendukung sepenuhnya apa yang akan menjadi keputusan lo." Jelas Tamara dengan nada bicara sedikit berbeda.


Amel moneh ke arah Tamara dengan perasan yang sama setelah mendengarnya selesai bicara terhadap Mona.


Mona tersenyum ringan lalu akhirnya membawa gelas isi air putih itu ke bibirnya lalu menyesapnya perlahan air tersebut dengan sedikit terpaksa.


Amel menarik napas lalu menatap berat ke arah Mona.


" By the way lo masih cinta kan ama tuh bos ?" Tanya nya dengan penuh selidik.


Mona terdiam lalu meletakan kembali gelas tersebut tepat di hadapannya.


" Percuma jika sang sekenario cerita menghadirkan banyak cowok di kehidupan elo jika pada akhirnya perasaan lo itu tetap terpusat di pria kulkas tersebut." Amel terkekeh lalu memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan seksama.


Tamara yang sedang menyimak ikut terkekeh sesaat ucapan sahabatnya itu terasa menggelitik pendengarannya.


" Lalu rencana kita ?" Tanya Mona mengambang


" Itu terserah elo.Jika elo emang udah gak ada perasaan lo bisa tolak perasaan pak bos itu dan lo bisa fokus akan perceraian lo.Kan elo juga bisa mendapatkan kompesasi yang cukup fastastis atas sandiwara lo itu." Ungkap Amel dengan menatap pasti.


Tamara menarik napas panjang menatap dengan perasaa iba terhadap sahabatnya itu.Dia yakin jika Mona tidak mengingkan sebuah materi dari sandiwaranya tersebut melainkan perasaan yang terbalaskan.


" Awalnya sih gue lebih mendukung elo dengan pak Angkasa,tapi gue rasa perasaan elo itu tidak mungkin di paksakan terhadap siapa pun itu cowoknya." Imbuh Tamara menegaskan.


" Gue yakin elo akan menyudahi sandiwara ini dengan perasaan lo sendiri.Kita disini sebagai sahabat lo pasti akan mendukung penuh atas apa yang elo putuskan." Amel ikut menimpali dengan berusaha menyakinkan perasaan sahabatnya itu.


Mona mendesah berkali-kali ia sudah dapat memastikan jika kedua sahabatnya itu selalu mendukung penuh langkah keputusannya tersebuy.Ia pun sadar tidak akan bisa sepenuhnya dirunya itu melupakan tentang perasaan terhadap pria yang kini telah mengambil alih seluruh perhatian hidupnya.


Diam-diam kedua sahabatnya mencuri perhatian ke arah Mona yang terlihat bimbang.Perlahan gadis itu mencomot sepotong pisang keju lalu menyuapkan kemulutnya dengan ekspresi wajah yang tidak berubah sama sekali.


" Gue masih menyimpan perasaan itu !" Gumannya pelan namun mampu terdengar jelas oleh kedua sahabatnya tersebut.


Kedua sahabat Mona menarik napas panjang lalu selanjutnya saling bertatapan satu sama lain dengan ekspresi yang sulit di artikan.


" Gue juga bilang apa ?percuma TUHAN menghadirkan beberapa pria di kehidupan elo untuk mengalihkan perasaan lo itu.Jika endingnya lo tetap pada perasaan lo sendiri." Jelas Amel dengan menyeringah penuh kemenangan.


" Padahal pak langit biru itu sudah sangat sempurna loh jika lo mau jadi pacarnya." Sela Tamara dengan menatap kecewa.


" Sayang ya Tam,sepertinya pria yang jadi jagoan elo itu harus menerima kenyataan jika Mona lebih memilih mempertahankan perasaanya ketimbang membuka perasaan baru untuk orang lain." Amel menatap dengan penuh cemooh.


" Aahh siakeee emang !!" gerutu Tamara terlihat kesal.


Amel tertawa lebar ketika melihat ekspresi jengkel sahabatnya itu.


Tamara membalasnya dengan menatap sebal seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


********


Mona yang masih sibuk berkutat dengan pekerjaanya menatap serius ke layar laptopnya.Namun tak lama kemudiannya antesinya teralihkan ke arah suara pintu ruangan yang di ketuk kuat oleh seseorang.


" Masuk !"


Ucapnya dengan kembali menatap layar laptopnya tersebut.


Pintu terbuka menampilkan seorang pria berwajah tampan dengan gaya esentrik menatap penuh dirinya.


Mona menoleh sesaat setelah dirinya merasa ada yang mengawasinya.


" Ada apa Ras ?" Tanya Mona setibanya pria itu di hadapannya.


" Ok.maksih." Ucap Mona singkat seraya menerima fail tersebut.


" Oya,Tolong kamu siapkan saja beberapa arsipnya nanti saya akan cek kembali." Ucap Mona dengan acuh.


" Baik." Balas Arash singkat.


" Oya bu Mona,ada beberapa email yang sayabterika untuk sebuah pertemuan mengenai salah satu pimpinan perusahaan yang ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan ini,apakah bu Mona kira-kira Mona menerimanya ? " Tanya Aras dengan tersenyum penuh pesona.


Mona menoleh pria itu dengan tenang ia berusaha untuk tidak terpengaruh dengan sikap penuh pesonanya seorang Arash.


" Perusahaan apa saja ? " Tanya pelan.


" PT Angkasa salah satunya." Ungkap Arash singkat.


Sontak dahi gadis itu membentuk sebuah kerutan ketika mendengar nama perusahaan itu di sebut oleh Asistennya tersebut.


" Dalam agenda apa mereka meminta pertemuan dengan perusahaan kita ?" Tanya Mona sedikit penasaran.


" Pihak perusahaan mereka ingin berinvetasi dengan perusaah kita ini." Jelas Aras lugas.


" Tapi setauku,perusahaan itu sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan pusat,tentunya hal ini harus ada ijin dari pihak Direktur perusahaan pusat." Jelas Mona penuh keyakinan.


" Yaa untuk masalah ini bu Mona bisa bicarakan terlebih dahulu dengan pak Banny."


Mona menghela lalu menatap pria esentrik itu dengan seksama.


" Ok nanti saya akan bicarakan kembali dengan pak Banny,untuk saat ini jangan dulu konfimasi ke pihak pimpinan perusahaannya.Soalnya kita belum ada izin perusahan pusat atas kerja sama ini." Terang Mona dengan mulai terlihat gugup setelah melihat tatapan pria itu sedikit berbeda kepadanya.


" Baiklah." Balas Arash seraya mengangguk-ngangguk pelan.


" Ada lagi ?" Tanya Mona menatap panjang ke arah pria tersebut.


" Ku rasa tidak ada." Jawab Aras dengan santai.


" Lalu ? " Tanya Mona mengakat kedua alisnya tinggi-tinggi.


" Lalu apa ? " Tanya balik Arash seperti tidak paham dengan pertanyaan Menejernya tersebut.


" Lalu kenapa kamu masih disini ? " Mona mulai sedikit geram.


Arash tersenyum sebelum akhirnya ia mejawab pertanyaan gadis itu.


" Entah kenapa kursi ini seperti ada lemnya hingga aku tidak bisa bangkit dari tempat duduk ini." Ucap Arash tersenyum penuh arti.


" Jangan konyol.!" Mona melengos.


" Hahaa...haaa hanya untuk tersenyum saja,jangan di buat serius." Ucap pria itu dengan setengah mengerlingkan salah satu matanya dengan penuh pesona.


Mona menghela melihat sikap pria itu yang mulai meresahkan dirinya.


" Baiklah kalau begitu aku permisi dulu." Pamit pria itu bangkit dari duduknya lalu melangkah dengan begitu perlente.


Mona menggeleng ia merasa cukup terganggu dengan sikap percaya dirinya seorang Arash yang sedikit berlebihan.


Dengan perasaa masih kesal ia kembali menatap layar laptopnya setelah bayangan pria itu enyah dari hadapannya tersebut,namun selang beberapa menit kemudian layar notifikasi ponselnya tersebut menyala lalu menampilkan sebuah pesan singkat.


Mona menatap cukup lama ke arah layar notifikasi ponselnya tersebut atas pesan singkat yang masuk melalui What'Apsnya tersebut.


Perlahan ia pun mengambil ponselnya tersebut namun dengan bersamaan,kembali sebuah pesan singkat muncul di layar notifikasi ponselnya tersebut.


Salah satu pesan itu datang dari Banny,ia memberi pesan singkat jika pulang nanti ia akan menjemputnya.


Mona tercenung menatap layar ponselnya dengan berbagai perasaan.


Ada kemungkinan jika suami sandiwaranya tersebut mulai memperlihatkan keseriusan nya terhadap dirinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian dia pun menscroll pesan salah satunya yang masuk via whatsApp.


Pesan singkat itu ternyata dari seorang pria yang kini tengah dekat dengan dirinya.


Angkasa !!


pekiknya dengan lirih.


Dengan rasa penasaran ia pun mengklik pesan tesebut.


' Aku tunggu nanti usai jam kerja '


Pesan singkat tersebut mampu membuanya tercekat dari posisi duduknya.


Bola mata gadis itu membulat sempurna dengan tampilan raut wajah shok dan kini perasaan nya pun sulit di rasakan.


Kenapa harus bersamaan seperti ini ?


Mona membantin dengan terus menatap semakin tak karuan ke arah layar ponselnya tersebut.


Benar saja kedua pria ini memintanya untuk pulang bersama.


Gila !!!


Rutuknya dengan sebal.


Mona menoleh ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya,waktu sudah hampir menunjukan pukul 15: 00 WIB.Itu artinya beberapa menit lagi mereka akan datang menemuinya secara bersamaan.


Mona menghela napas panjang merasakan perasannya kian resah,betapa tidak dua pria itu akan datang bersamaam dalam waktu yang sama sekali tidak tepat seperti ini.


Oh my GOD !!


Mona mengusap wajahnya dengan frustasi kenapa menjadi serumit ini ?Apa yang harus ia lakukan atas balasan yang mesti ia berikan kepada kedua pria tersebut.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Belum saja hilang perasaan runyamnya ia pun di kejutkan dengan nada dering panggilan dan.....


Angkasa is Calling........


Gadis bermata belo itu berhasil di buat semakin tak nyaman.


Kenapa pria berkarismatik itu menelpon dirinya ?Mona menatap layar ponselnya dengan perasaan kian tak karuan.Sepertinya ia merasa bimbang sekaligus bingungan atas sikapnya untuk menjawab panggilan tersebut.


Jantungnya terasa bertalu-talu seakan-akan membuatnya semakin tak tenang.Dengan perasaan berat akhirnya ia pun memutuskan memberanikan diri mengangkat panggilan tersebut.


" Hallo !!" Panggil Mona ragu.


" Mon aku sudah di parkiran depan kantor mu yah." Suara ringan bengitu enteng terdengar.


Bola mata gadis itu kian semakin membulat sempurna.Yang benar saja Angkasa sudah menunggunya di depan perkantorannya ?lalu Banny ??


Mona terlihat panik dan itu menimbulkan keresahan bagi dirinya.


Mona baru saja akan membalas ucapan pria itu namun tiba-tiba seorang pria menyembul dari balik pintu dengan menampilkan seorang pria bertubuh tegap dengan wajah tampan tersenyum menyambutnya.


Kembali Mona di buatnya terkejut atas kehadiran Banny yang secara tiba-tiba berada di ruangan kantornya tersebut.


Seluruh tubuhnya kaku seketika tak bisa lagi ia berbuat banyak hanya selain diam dengan benda pipih itu masih menempel di daun telinganya.


Bola mata gadis itu semakin membulat napasnya tertahan seakan-akan dirinya sedang menatap hal yang sangat menakutkan.


Meski hanya lewat telpon ia berbicara dengan Angkasa namun ia sangat menjaga akan perasaan pria tampan tersebut.


" Haii Mona,kamu sudah siap,kita pulang sekarang ? " Sapa Banny mendekat.


" Hmm,euu tunggu saya lagi menerima telpon.." Sejadi-jadi gadis itu terlihat gugup.


" Kamu sedang berbicara sama siapa ?" Tanya Banny penuh selidik.wajah tampannya terlihat resah.



" Hmmm,saya....," Ucapan gadis itu menggantung.


" Hallo Mon,kamu baik-baik saja ?kok diam saja,gimana kamu bisa pulang bersama aku ?" Tanya suara pria itu di ujung sebrang telpon.


Mona terhenyak saat suara berat pria itu menyadarkannya dari rasa gugup.


" Maaf aku Kas,sepertinya aku tidak bisa pulang bersama kamu." Ucap Mona dengan terbata namun pernyataannya mampu membuat antesi pria yang di hadapannya cukup tersita.


Satu alis terangkat dengan sarkatik menampilkan ekspresi wajah penuh tanda tanya.


Banny cukup terkejut setelah mengetahui siapaa yang sedang menelpon istrinya tersebut dan itu membuatnya merasakan cemburu.


Tanpa menunggu lama lagi Mona segera mengakhiri sambungan teleponnya tersebut lalu segera meletakan ponselnya ke dalam tasnya tersebut.


Banny berdiri menjulang di hadapan meja kerjanya menatap dengan berbagai prasangka yang tertuju penuh ke arah wajah gadis itu seolah-olah menuntutnya sebuah penjelasan.


" Pria itu mengajak kamu pulang bersama ?" Tanya Banny menatap lurus ke arah wajah gadis itu.


Mona tersenyum hampa dengan perasaan yang tak menentu.


tak ada alasan untuk dirinya menghindar dari pertanyaan pria tampan tersebut.


" Ya,dia memintaku untuk pulang bersama. " Balas Mona dengan nada suara memelan.


Banny mendecih lalu berakhir dengan senyuman sinisnya.


" Sepertinya aku tepat waktu menjemputmu." Ujarnya dengan tetap menyunggingkan senyumam sinisnya.


Pria tampan itu melelangkah berjalan menuju kaca jendela ruangan tersebut lalu menatap ke arah luar jendela bawah sana.


Pandangannya terbentur di sebuah mobil SRV metalik yang terparkir percis di pelataran kantornya.Dan nampak seorang pria berkarismatik tinggi sedang berdiri tegak tepat di hadapan mobilnya tersebut dan sepertinya sedang menanti kedatangan seseorang.


Banny memperhatikan pria itu dengan seksama.Entah kenapa ia merasa tidak suka atas kehadiran pria itu harus yang begitu berani mendekati istri sandiwaranya tersebut.


" Sepertinya pria itu memiliki keberanian yang cukup besar dan itu perlu di perhitungkan." Ungkap Banny dengan terus mengamati pria yang berada di bawah sana.


Mona yang sedang sibuk merapihkan meja kerjanya menoleh ke arah pria itu yang terus mengamati pergerakannya Angkasa.


Mona terdiam berusaha mengabaikan perkataan pria tersebut.


" Apakah ini ada kaitannya dengan alasan kamu kenapa masih mempertimbangkan perasaanku ini ?" Ujarnya dengan nada bicara sedikit tertahan.


Mona tercekat menghentikan kegiatan beres-beresnya lalu terdiam tanpa mampu berkata.


Tak ada terbesit dari pikirannya untuk mengabaikan perasaan pria tampan itu hanya demi seorang Angkasa.Justru dirinya memang tak ingin perasaannya kembali di beri harapan yang semua atas perasaannya tersebut.


Mona mengangkat wajahnya lalu menatap pasti pria itu.


" Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria itu." Jelas Mona menegaskan.


Banny mendecih seolah-olah tak percaya dengan apa yang di katakan gadis itu.


Lalu prai itu membuang jauh pandangannya berusaha untuk tidak terlalu merespon akan ucapan gadis itu.


" Bisakah kita secepatnya pulang ?" Tanya Banny mengalihkan pembicaraanya dengan menatap ke arah jam yang berada di tangnnya.


Mona menghela pelan tak ada tanggapan yang membuatnya puas.


" Aku ingin makam malam di luar." Ucapnya dingin.


Mona hanya tersenyum pahit tanpa berkomentar apapun.


Ia melihat jelas jika pria itu tengah merasakan cemburu terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2