
MOBIl mewah berwarna metalic berhenti di pelataran rumah yang begitu sederhana.Lalu seorang pria dengan perawakan tinggi besar turun dari mobil mewah tersebut,raut wajahnya penuh harapan jika dirinya dapat di sambut dengan baik oleh si tuan rumah.
Pria berparas tampan itu terlihat mengedarkan seluruh pandangannya keseluruh area pelataran rumaj tersebut,dengan sorot mata yang begitu cemerlang,rasa rindu di dada semakin membuncah hebat.
Tak ada yang berubah dari pelataran rumah tersebut masih tertata dengan rapih.
Sosok pria itu menarik napas panjang lalu pandangannya tertuju kepada pintu rumah yang perlahan terbuka.
Raut wajahnya semeringah,ia yakin jika seseorang di balik pintu itu adalah Mona,tanpa menunggu lama,Banny segera berjalan mendekat ke arah teras rumah tersebut.
Nampak Mona membuka pintu tersebut lalu berjalan keluar.
" Mona !!" panggil Banny seketika begitu melihat Mona keluar dari dalam rumah.
Mona menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya,dengan rasa penasaran dia menatap lekat ke arah suara tersebut dan....
Alangkah terkejutnya Mona ketika ia melihat keberadaan Banny tepat di depan rumahnya.
Air wajah Mona langsung berubah,sorot matanya terlihat dingin menatap beku ke arah pria tersebut,Banny menantinya dengan tersenyum pasi.
Mona mengambil napas lalu menghembuskannya secara perlahan ia mencoba menetralkan perasaanya dari rasa keterkejutannya tersebut.
Dengan cepat Banny segera berjalan mendekatinya namun hal yang sama Mona segera melangkah berniat untuk menghindari pria tersebut.
" Tunggu Mona !! " Sergah Banny dengan cepat.
Mona terhenti,namun enggan untuk melihat wajah pria tampan tersebut.
" Untuk apa mas kesini ? " tanya Mona kaku.
" Aku ingin minta maaf sama kamu Mona." balas Banny lembut.
Mona menelan kuat ludahnya,perkataan yang cukup mengiris hatinya.
Mona memejamkan matanya berusaha untuk tetap kuat.
" Mona,beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini." ujar Banny lirih.
Mona tak bergeming ia masih tetap berdiri membelakangi pria tersebut.
" Aku datang kesini ingin membawamu pulang kembali." bujuk Banny pelan.
Mona memejamkan matanya,baginya ucapan itu seperti hujan turun di padang yang telah lama gersang,begitu menyejukan perasaan hatinya.
Tapi tidak !!!
Rasa sakit itu kembali menyelimuti hatinya,ia kembali kepada rencana semula jika ia bertekad untuk melepaskan diri dari perasaan yang membelenggunya selama ini.
" Maaf mas,aku tidak bisa.Aku sudah melayangkan surat gugatan cerai kita mas." ujar Mona tandas.
Banny tercekat,menatap punggung mungil gadis tersebut dengan ternga-nganga,apakah pendengarannya tidak salah mendengar ? Batin Banny getir.
" Apa ?? " desisnya sedikit tertahan,dengan perasaan yang begitu hancur Banny berusaha untuk kuat.
" Apa yang telah kamu lakukan ?" tanya nya dengan suara lirih.
" Surat perceraian kita sedang di proses dan kita tinggal menunggu waktu persidangannya saja,saya pastikan jika kita akan berpisah secara baik-baik mas." ungkap lagi Mona dengan suara bergetar.Baginya memberikan keputusan yang begitu tegas adalah hal yang paling tersulit dalam hidupnya,ini adalah antara cinta dan hidupnya.
" Tidak Mona,aku kesini ingin memperbaiki semuanya,selama ini aku akui,aku telah salah paham sama kamu,Arnettalah telah membuat kita berpisah." jelas Banny dengan nada begitu sedih,ia mendekat lalu menghadang di depan gadis terssbut.
Mendengar petkataan Banny yang menyinggung nama sekertaris cantiknya itu Mona terkejut bukan main.
" Arnetta ?? " desisnya seraya mengulang nama gadis tersebut.
Menatap lurus wajah pria itu dengan penuh rasa heran sekaligus penasaran.
__ADS_1
Kenapa Arnetta terlibat dalam permasalah ini ?
Mona membatin mencoba menyusun kembali ingatannya akan cerita kedua sahabatnya mengenai pemecatan sekertaris cantik suaminya tersebut.
Apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan permasalahan dirinya dan juga Banny ?
Mona menatap semakin bingung,entah darimana datangnya prasangka buruk buru ini sehingga otak besarnya beralibi jika yang menjebak dirinya adalah perempuan itu !!
Tidak !!!
Mona menggeleng ia tidak bisa menuduh sembarang dengan tanpa bukti,anggap saja jika Banny sedang mencari alasan untuk mengambil kembali hatinya sehingga ia mengalihkan isu.
lagi-lagi Mona cukup di rumitkan dengan permasalahan baru yang di hadapinya.
" Mas tidak perlu menyalahkan orang lain,bahkan menyeret nama orang lain dalam permasalahan kita ini mas,selama ini mas tidak butuh penjelasan dariku,bahkan mas tidak memberikan kesempatan untuk aku menjelaskan semua ini,sekarang mas percaya atas semua kesalah pahaman mas lalu mas Banny dengan mudahnya menyalahkan Arnetta,seolah-olah dialah di balik semua masalah ini ? Bukan kah mas lebih percaya dia ketimbang aku mas !" ucap Mona dengan penuh emosi,ia mengeluarkan perasaan uneg-unegnya yang selama ini tertahankan,namun logika dia masih sehat dan ia berusaha untuk tidak terbawa oleh perasaanya yang tiba-tiba membuncah di dalam dadanya,dia tak ingin berbicara lebih jauh dalam keadaan marah seperti ini.
Banny menggeleng,sorot matanya berusaha meyakinkan Mona,jika apa yang di katakannya adalah benar.
" Percayalah Mona,ini semua adalah rencana busuk Arnetta,dia menjebak kita karena dia ingin memisahkan kita.Aku kesini ingin mengatakan yang sebenarnya, kumohon Mona,beri aku kesempatan untuk memberbaiki semuanya." ujar Banny dengan memohon-mohon.
Mona terpaku nyaris tak bergeming ia menatap kosong dengan perasaan antara percaya atau tidak dengan atas apa yang di katakan Banny,ia perlu kesaksian yang lainnya jika itu benar adanya.
" Aku telah memecat Arnetta,dan aku tidak ingin melihat dia lagi,bagiku dia adalah orang yang telah menghancurkan pernikaham kita Mona." ungkap Banny dengan suara tak biasa.
Mona menghela,menelan kuat ludahnya,benar saja apa yang di katakan kedua sahabatnya,sekertaris itu telah di pecat oleh Banny.
Mona memejamkan matanya dengan rasa perih yang begitu mengiris hatinya,setega itukah sosok Arnetta kepada dirinya,merusak perasaan itu dengan mudahnya.
" Mona ,aku minta maaf,pliss aku mohon !! " Banny mengemis dengan harapan Mona akan memaafkannya.
Mona tetap diam dengan perasaan yang mulai merorong isi kepalanya.
" Mona jika kata maaf mu tidak bisa kau berikan untukku,maka hukum lah aku,tapi ku mohon jangan hukum aku dengan kehilanganmu,jujur saja aku tak mampu jika aku harus melewati hidupku tanpa adanya kamu.Aku mohon sama kamu Mona,kembalilah." ujar Banny dengan suara serak ia memohon untuk meyakinkan kembali perasaanya.
Mona kian terdiam dengan berbagai pikiran di benaknya.Selama ini Arnetta telah membuatnya menderita lalu apa yang harus dia perbuat ??
" Aku mohon Mona,percayalah atas penjelasanku ini,kita ini telah di jebak,dari itu aku ingin memperbaiki semuanya,kita mulai dari awal lagi Mona,aku akan mencabut kata talak itu dan...." ucapan Banny menggantung dengan cepat Mona segera menyela lalu melepaskan tangannya dari gengaman pria tersebut.
Banny terengah menatap kaku,sorot matanya terlihat penuh ketegangan sesaat perempuan itu melepaskan tangannya.
Mona menarik napas,berancang-ancang untuk berbicara.
" Mas !!" panggilnya lembut.
Banny menatap penuh wajah perempuan itu,kedua matanya terlihat merah menahan perasaan yang begitu sesak menghimpit rongga dadanya.
" Aku minta maaf mas,aku tidak bisa memberi kesempatan itu lagi.Bagiku semua ini telah berakhir." ucap Mona tandas. Sekuat tenaga ia berusaha berbicara Lantang dan tegas,sehingga begitu bergema suara Mona mencabik-cabik perasaanya Banny.
Hancur sudah hati dan perasaan nya Banny,sang pria berparas tampan itu harus menelan kenyataan yang begitu pahit,persaan yang kini terasa luluh lantah terhempas kenyataan yang begitu kejam baginya.
Banny tepaku membisu dengan menatap penuh rasa kecewa yang begitu dalam.
Harapanya untuk menjemput wanita terkasihnya kini tinggalah sebuah harapan kosong,Mona tak lagi memberikan dirinya kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahannya.
" Kamu tidak memberiku kesempatan ?" tanya Banny serak menatap tak percaya,kedua matanya terlihat berkaca-kaca tak sanggup rasanya ia mendengar keputusan yang telah Mona berikan kepadanya.
Tuhan harus di bawa kemana hati yang patah ini ?
Batin Banny,ia berusaha menahan tangis yang hendak luruh ke pipinya,keputusannya telah memporak porandakan seluruh isi organ tubuhnya,ledakan amarah itu bak sebuah bom yang telah meluluh latakan Hirosima.
Banny mengangkat kepalaanya,kedua kelopak matanya terlihat berkedip-kedip,ia berusaha membubarkan pasukan airmatanya yang mulai menyerang kedua pipinya.
Ahh rasanya pahit sekali kenyaataan ini,lebih pahit dari rasanya sebuah pil.
" Maafkan aku mas !!" ucap kembali Mona dengan suara bergetar.
__ADS_1
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia tak sampai hati melukai harapan indah pria tersebut,namun apalah daya semua ini harus ia akhiri,cinta tak seharunya menangis jika memang benar-benar di cintai.
Banny
Suara deru mesin sebuah kendaraan menghentikan aksi drama mereka,Mona menoleh ke arah suara kendaraan tersebut yang berhenti percis di samping mobil mewahnya Banny.
Mona segera menyeka air matanya,berusaha untuk tenang ketika tahu siapa pemilik mobil tersebut.
Hal yang sama di lakukan Banny,ia ikut menoleh ke arah kedatangan kendaraan tersebut.
Seorang pria dengan wajah tenang keluar dari mobilnya,menatap lurus ke arah Mona,lalu kemudian pria tampan itu berjalan mendekat dengan raut wajah biasa saja,ia tidak terlalu menampakan perasaan ketidak senangannya terhadap kehadiran Banny di tempat tersebut.
Banny terkejut bukan main setelah melihat kedatangan sosok pria yang pernah membuatnya cemburu.
Angkasa berjalan begitu tenang.
" Pagi Mon,gimana kamu sudah siap ?" tanya Angkasa tersenyum lembut.
Banny menatap panjang pria tersebut,entah kenapa ia benar-benar cemburu dengan kedatangan pria tersebut.Namun tenang ! ia harus tetap tenang,ia tidak akan bersikap gegabah lagi sebagaimana sikap dia ketika merasa cemburu,ia tidak ingin salah paham atas apa yang ada di pikirannya.
Angkasa menoleh ke arah Banny yang berdiri di samping Mona,lalu dia menyunginggkan senyuman yang berbeda.
" Halo Pak Banny apa kabar ?"tanya Angkasa menatap lekat.
Banny masih tertegun menatap pria yang pernah menjadi mitra perusahaanya dengan perasaan penuh tanda tanya.
" Baik !" jawabnya singkat.
" Hmm,senang sekali kita bisa bertemu lagi, terakhir kita bertemu di pembatalan kontrak kerja kita,bukan begitu pak ? " tanya Angkasa tersenyum enteng.
" Yaa,itu adalah pertemuan terakhir kita,tapi nyatanya kita di beri kesempatan untuk bertemu kembali.Kalau boleh tahu anda sedang apa disini?" tanya Bannya dengan tersenyum masam.
Jujur saja ia tidak suka keberadaan Angkasa di tempat ini.
" Saya mau menjemput Mona,kebetulan dia akan bekerja di perusahaan saya,jadi apa salahnya saya menjemput dia." ucap Angkasa tersenyum penuh kemenangan.
Pernyataan itu mampu membuat Banny tersentak,begitu cepat Mona melupakan dirinya sehingga berani menerima pekerjaan yang lain,hal yang sama di rasakan Mona,ia tidak menyangka jika Angkasa akan berbohong tentang dirinya,tapi sayang terlanjur berucap,ia tidak bisa meralat ucapannya pria tampan tersebut,dia hanya terdiam dengan berbagai perasaan di benaknya.
Banny menoleh ke arah Mona,Mona tertunduk membiarkan perasaan Banny makin terdalam atas kehadiran sosok Angkasa.
" Maaf Mas,sepertinya aku harus pergi dulu,nanti saya telat ke kantor." ujar Mona berpamitan melangkah melewati Banny dan mendekat ke arah Angkasa.
Jakun Banny terlihat naik turun,jiwa lakinya terasa terijak-injak atas sikap Mona yang menolak permintaan maafnya,lalu memilih untuk bekerja bersama Angkasa,ini adalah kenyaatan terpahit yang pernah ia rasakan.
" Senang bertemu anda lagi pak Banny." ucap Angkasa menyeringah,entah kenapa ada perasaan yang terlahir puas ketika melihat raut wajah Banny tertekan tak berdaya,ia menerima kekalahan itu dengan perasaan tak rela.
Banny mengangkat tinggi tulang rahannya ,menahan amarah yang kian memaksanya keluar,namun sebisa mungkin ia menahan itu,ia tak ingin memperlihatkan sikap arogansinya di hadapan Mona,karena itu mampu membuat Mona semakin berpaling jauh darinya.
" Sepertinya kita perlu sedikit bicara tuan Angkasa !" ujar Banny sedikit geram,rahangnya terlihat mengeras.
Angkasa menoleh,menatap lawan bicaranya dengan sarkatik.
" Mengenai permasalahan apa ya ??,saya rasa sudah tidak ada lagi pembicaraan mengenai masalah pekerjaan saya dengan anda,anda yang memutus semua kontrak kerja kita,so tak ada lagi pembahasan soal itu." ucap Angkasa dengan sedikit perlente.
Banny mengangkat tinggi wajanya,menatap lantang sosok pria yang ada di hadapannya.
" Kas,sebaiknya kita berangkat,nanti kita kesiangan." ucap Mona setengah berbisik,Mona tak ingin hal yang buruk terjadi antara Banny dan Angkasa.
Angkasa menoleh ke arah Mona lalu tersenyum begitu lembut.
" Baiklah pak Banny,saya permisi dulu." ujar Angkasa berpamitan.
Mona tak sedikitpun berbicara ia hanya menoleh ke arah Banny tanpa reaksi meninggalkannya dengan perasaan lepas,ia tak ingin terbelenggu dengan perasaanya sendiri.
Banny tercenung menatap kepergiann Mona bersama Angkasa,sosok laki-laki matang itu telah membuat hatinya teriris,mungkin kan Mona secepat itu beralih perasaan,sehingga membiarkan dirinya tanpa ada rasa lagi.Banny terdiam dengan perasaan hancur di hatinya.
__ADS_1