CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 80


__ADS_3

Hening.....


Banny masih terdiam menatap sepi ruangan-nya. sementara Kinaya terlihat ragu untuk mengajak berbicara kembali Banny yang sudah bersikap dingin padanya.


Pupus sudah harapan Kinaya untuk mengharapkan seorang Banny dapat kembali kepelukannya.


Ia sudah membayangkan akan rencananya berhasil untuk mendapatkan seorang Banny dengan cara mengetahui sandiwaranya itu dengan sang sekertarisnya,namun informasi yang di dapatnya tidak membuat gentar seorang Banny,justru ia malah terjebak dalam sebuah ekspetasi yang berbading terbalik dengan kenyataanya.


" Apa lagi yang kamu harapkan?semuanya sudah jelas aku tidak akan pernah menerimamu kembali." Ucap Banny dengan menatap dingin Kinaya.


Kinaya sesaat menatap jauh kedalam sorot mata yang dingin itu,tak ada lagi sorot mata yang hangat ia rasakan dari lelaki yang dulu sangat mencintainya itu,kini yang tersisa hanya tatapan dingin yang akan membuatnya semakin mematahkan asanya untuk mempertahankan perasaannya itu.


" Banny.Aku mohon,masih adakah rasa itu yang tersisa untukku ?" Tanya Kinaya seraya bangkit lalu mendekati Banny yang masih berdiri di hadapan jendela kaca.


Kinaya menatap dengan penuh harapan jika Banny bisa melihat kesungguhannya di sorot matanya itu.


Banny tidak menjawab dan ia pun tidak mau peduli, ia memilih dengan tetap menatap panjang ke jendela kaca ruangannya itu dengan tatapan yang menerawang jauh ke luar gedung kantornya.


Perasaan itu sudah lama ia abaikan jika ia harus membukanya kembali maka sama halnya ia membuka kesempatan untuk terluka kembali,karena sejauh ini luka itu sudah lama mengering.


Dulu ia begitu sangat mencintai sosok perempuan yang ada di sampingnya itu,ia telah banyak berkorban untuk mempertahankan kehadirannya,tapi semua itu hanya terbalaskan oleh sebuah luka yang hingga perlu waktu lama untuk memulikannya kembali.


Dan kini hanya tinggalah puing-puing rasa perih yang sudah lama terabaikan.


" Banny." Panggil Kinaya dengan lirih,lalu Kinaya menyentuh perlahan pundak datarnya Banny.


Banny terdiam membiarkan tangan Kinaya berada di pundaknya.


" Aku tau,kamu tak mungkin memaafkan aku,tapi aku yakin setidaknya kamu masih menyimpan perasaan itu terhadapku walaupun hanya setitik tinta." Ucap Kinaya lembut,lalu Kinaya mendekatkan tubuhnya ke tubuh Banny yang masih berdiri membelakanginya.


Kinaya mencoba berusaha membuat Banny percaya kembali akan segala usahanya untuk merebut hatinya.


Banny membalikkan badannya menghadap Kinaya lalu menatapnya lurus.


" Perasaan itu sudah tidak akan pernah ada lagi,SEDIKITPUN !!!" Ucap Banny dengan nada bicara penuh penekanan.


Iris hitamnya terpancar tajam menatap dengan sempurna ke wajah Kinaya yang tak jauh darinya.


" Aku sudah melupakan tentang semuanya." Ucap Banny yang perlahan bergerak mundur menjauh dari Kinaya berdiri.


Tangan Kinaya masih mengambang di udara.


Ia tertegun dengan atas apa yang sudah di ucapkan Banny kepada dirinya.


Banny telah melupakan dirinya dari kehidupannya.


Kinaya terdiam,sorot mata Banny terasa membuat dia semakin membeku,pria yang kini sedang di hadapannya itu benar-benar telah merubah akan semua perasaannya terhadap dirinya.


Kinaya benar-benar terganggu atas perubahan yang tejadi kepada mantan kekasihnya itu.


" Permisi pak !" Sapa Mona membungkuk seraya mengetuk pelan pintu yang setengah terbuka itu.


Banny menoleh ke arah suara Mona yang berdiri di ambang pintu menatapnya ragu.


Wajah Mona terlihat kaku saat menatap ke arah Kinaya yang masih berdiri tak jauh dari bosnya tersebut.


" Maaf pak,ini berkas-berkas yang bapak minta." Ucap Mona berjalan menuju arah mejanya.


" Simpan saja di meja,nanti akan saya tanda tangani." Ucap Banny melangkah menuju kursinya.


" Kalau begitu saya permisi dulu pak." Pamit Mona membungkuk hormat.


Banny mengangguk lalu perhatiannya tertuju pada berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Mona pun melangkah keluar sedikitpun ia tidak tertarik untuk menghiraukan kehadiran Kinaya yang masih berdiri dengan mematung.


Kinaya memperhatikan Mona dengan seksama ia menatap panjang gadis itu hingga menghilang tertutup pintu.


" Banny,apa tidak ada lagi perempuan yang lebih menarik selain dia untuk di jadikan peran dalam sandiwaramu itu ?" tanya Kinaya menatap remeh.


" Dia adalah perempuan pilihan papahku." Balas Banny singkat.


" Selera yang rendah." Cetusnya pelan,namun mampu terdegar jelas di pendengarannya Banny.


" Tapi dia memiliki apa yang tidak kau miliki." Balas Banny dengan tegas.

__ADS_1


Kinaya mengangkat dagunya lalu menarik napas panjang, sepertinya Banny memang sudah berubah sehingga ia selalu membela sekertarisnya itu,padahal jika di jadikan perbandingan,dirinya tentu lebih cantik dari sekertarisnya tersebut.


" Ada yang mau di bicarakan lagi ?" Tanya Banny menatap lurus Kinaya,Kinaya tidak mejawab ia hanya bisa mengangkat bahunya dengan tak pasti.


" Aku lagi sibuk.Jadi aku harap kamu bisa tinggalkan ruangan ini secepatnya." Titah Banny dengan dingin.


" Baiklah,tapi ingat sandiwara ini tidak akan berhasil membuat papahmu bahagia,karena aku mempuyai banyak cara untuk menggagalkan sandiwara kamu ini." Ucap Kinaya setengah berbisik dengan memasang ekspresi wajah penuh ancaman.


Rahang Banny mengeras ia cukup sabar dalam menghadapi perempuan ini yang selalu ada cara untuk berusaha merebut hatinya kembali.


Banny menatap benci ke arah Kinaya yang berjalan menuju pintu ruangannya dengan kedua tangan terkepal erat,lalu di gebraknya meja kerjanya dengan kasar.


Rasa kesal bercampur jengkel menyergap dalam dirinya.


******


Mona menatapi dirinya di cermin washtapel toilet,dengan wajah yang masih basah ia terus memperhatikan pantulan bayangan wajahnya di cermin itu dengan seksama.


Entah kenapa pikirannya bercabang kemana-mana setelah ia melihat keberadaan perempuan cantik itu berada di ruangan sang bosnya tersebut.


Ada apa Kinaya dengan pak bos ?


Sedang ngapain dia berada di ruangan pak bos ?.


Berbagai pertanyaan mengitari isi kepalanya,sehingga pikirannya semakin meracau sejak kapan ia peduli akan urusan bosnya itu,apa untungnya dia tahu tentang masalah pribadi bosnya dan itu baginya sangat tidak penting sama sekali.


Pikir Mona seraya membasuh kembali wajahnya,ia merasakan kesegaran di seluruh kulit wajahnya seusai menemani Zeanu keluar tadi siang.


Udara luar cukup panas hingga wajahnya terasa berbinyak serta lengket terkena paparan polusi udara luar.


Pikiran tentang sosok perempuan cantik itu tak mau pergi dari bayang-bayang wajahnya,ia terus-menerus menerkanya akan maksud dan tujuan mantan bosnya tersebut mendatangi kantor sang bos.


" Jangan -jangan dia mau minta balikan lagi ?terus pak Banny bersedia untuk balikan.Nah nasib lamaran gue gimana ?" Tanya Mona mencecar dirinya dengan pertanyaan-pertanyan yang tidak ada jawabannya sama sekali.


" Tidak.Tidak !!,gak mungkin pak Banny balikan lagi sama ratu model itu,memang sih dia cantik tapi kan pak Banny sudah di hianatinnya." Gumannya lagi dengan menatap bingung ke cermin washtapel.


" Mon,lo lagi ngapain ?" Tanya Tamara tiba-tiba mengejutkan dirinya yang sedang sibuk berargumen sendiri.


Mona melengos ketika melihat kehadiran sahabatnya itu.


" Gue lagi nyuci pakean,yaa cuci muka lah,gak liat apa?" Balas Mona dengan mengelap wajahnya dengan tisu.


" Lo mau kemana pake dandan segala ?" Tanya Mona menatap aneh ke arah Tamara yang sedang membetulkan riasan wajahnya.


" Gue mau pulanglah." Jawab Tamara singkat.


" Memangnya sudah jam berapa ini ?" Tanya Mona menengok ke arah jam yang ada di tangannya.


" Ini udah jam empat sore Mona,itu artinya waktunya gue pulang."


Jelas Tamara seraya memainkan bibirnya setelah di beri warna lipstik.


" Yaa TUHAN!!gue lupa antar balik berkas-berkas pak Hendra." Pekik Mona dengan terkejut.


Tamara menoleh dengan tatapan aneh.


" Mona,Mona selalu begitu." Ucap Tamara seraya menggeleng heran.


Mona dengan cepat ia pun merapihkan baju serta riasan wajahnya dan bergegas hendak keluar toilet,namun dengan bersamaan seseorang berjalan akan memasuki toilet dengan pandangannya fokus ke sebuah handphone yang di tangannya.


Braaakk.....


Dan tabrakan pun tak bisa di hindari lagi.Mona menabrak dengan sempurna orang itu hingga poselnya terlepas jauh dari genggaman tangan orang itu, dan sang ponsel pun terhempas ke lantai.


" OH MY GOD ! handphone gue." Pekik orang itu seraya menatap tajam ke arah Mona yang ikut shok menatap sebuah Handphone mahal tercecer pasrah di lantai.


" Ma maaf..!" Pekik Mona seraya menatap pemilik Handphone mahal itu yang tiada lain adalah Kinaya.


Kinaya menatap tajam ke arah Mona yang berdiri dengan wajah bingung.


Tamara yang melihat dari awal kejadian memekik kaget ke arah Mona.


" Waduuhh,lo dalam bahaya Mona." Pekiknya menatap cemas sahabatnya itu.


" Lo rupanya!!,heh lo punya mata gak sih ?kalau jalan lihat-lihat dong!" Teriak Kinaya dengan kesal, matanya membulat sempurna.

__ADS_1


" Maaf mbak, saya tidak sengaja." Balas Mona dengan terpogoh-pogoh.


" Lo harus ganti handphone gue,lo tau ?berapa harga handphone ini ? lebih besar dari upah kerja lo." Ucap Kinaya dengan menatap galak.


" Kok saya yang harus ganti?kan saya tidak sengaja mbak,lagian mbaknya jalan sembari liat-liat handphone yaa nabrak jadinya."


" Eh lo ko jadi nyalahin gue ?udah jelas lo yang nabrak gue!jangan mentang-mentang lo lagi dekat sama Banny lo seenaknya ngindar dari urusan gue.Lo pikir gue takut ?ingat ya,lo hanya tunangan palsunya Banny jadi lo jangan so kecakepan deh." Ucap Kinaya menatap tidak suka Mona.


Napas Mona tercekat setelah mendengar penuturan Kinaya yang mengetahui akan sandiwara cintanya itu bersama sang bos,lalu ia menatap tajam ke arah wajah Kinaya yang sedang menatapnya dengan penuh angkuh.


" Maksud mbak Kinaya apa ?kok bawa -bawa hubungan saya dengan pak Banny ?" Tanya Mona mendelik kesal.


" Kenapa?lo takut ya masalah ini kebongkar ?" Tanya Kinaya seraya mengambil handphonenya yang masih tergeletak di lantai.


" Itu bukan urusan mbak Kinaya." Balas Mona menatap bingung Kinaya.


Tamara yang sedari tadi memperhatikan Mona menatap cemas lalu ia pun segera menghampirinya dengan perasaan takut.


" Dengar baik-baik,lo gak usah belagu,gue tau semuanya tentang hubungan lo selama ini dengan Banny,karena lo itu hanya tunangan palsunya Banny ,jadi jangan berharap kamu bisa mendapatkan hatinya Banny seutuhnya." Jelas Kinaya seraya membalikan badannya dan membatalkan niatnya untuk masuk ke toilet dan memilih pergi meninggalkan Mona yang masih melongo pasrah menatapnya.


" Mon,siapa dia ?kok dia tahu hubungan lo sama pak Banny yang hanya sandiwara itu." Tamara mencolek Mona dengan heran.


Mona menghela pelan,mimpi buruknya mulai terasa nyata bagi dirinya.


Kinaya benar-benar akan menghancurkan acara lamarannya itu.


" Mon.Kok lo malah bengong ?" Tanya Tamara mencubit kecil pergelangan tangan Mona.


" Aww,sakit Tam." Wajah Mona melirih dan meringis kesakitan.


" Gue nanya di anggurin,gak sekalian aja gue di apelin." Balas Tamara dengan kocak.


" Apaan see Tam," Ucap Mona pelan.


" Cewek tadi itu siapa ?"


" Dia Kinaya mantannya pak Banny." Jelas Mona singkat.


" Waduh,kok lo bisa kenal ?di kenalin ya sama pak Bos ?" Tanya Tamara polos.


" Rajin banget pak Banny ngenalin dia sama gue." Ucap Mona menatap kesal Tamara.


" Tam,Mon kalian di sini rupanya!" Panggil Amel mengejutkan mereka.


" Lo berdua lagi ngapain ?" Tanya Amel menatap gantian wajah Mona dan Tamara.


" Ceritanya panjang Mel,barusan kita ketemu dengan mantannya pak bos,dan sempat adu mulut nih sama Mona."


" Loh kok bisa?ada apa?" Tanya Amel dengan penuh penasaran.


" Kayanya gue gak bisa cerita sekarang deh,soalnya gue udah di tunggu pak Hendra untuk antar kembali berkas-berkas laporan dari pak Banny." Ucap Mona dengan wajah terlihat linglung bercampur panik.


Amel dan Tamara hanya melongo mereka ikut kebingungan dengan sikap Mona.


" Ya udah gue balik ruangan dulu ya,gue janji nanti gue bakalan cerita." Pinta Mona seraya bergegas ke luar ruangan toilet.


Amel menatap kian penasaran atas sikap Mona yang menyembunyikan sesuatu.


" Ada apa sih Tam ?" Tanya Amel menatap dengan penuh pertanyaan.


" Ceritanya panjang !" Balas Tamara seraya membetulkan poni pendeknya.


" Intinya saja Tam." Sela Amel tersenyum terpaksa.


" Jangan sampe lo ngajak gue muter-muter lagi atas jawaban lo itu." Ancam Amel dengan memasang wajah galak.


" Ok.ok !" Jawab Tamara dengan wajah serius.


" Sebaiknya kita di luar kantor saja nyeritainya,takut ada yang denger soalnya banyak dingding bertelinga di sini." Ucap Tamara seraya menarik Amel untuk segera keluar toilet.Dan mereka pun bergegas keluar meninggalkan ruangan toilet.


Ternyata ada sepasang mata yang sedang mengitip mereka di balik sebuah dinding toilet,dan sepasang mata itu sedari tadi menyimaknya apa yang sudah terjadi di dalam toilet.


Lalu seseorang itu mengangguk-angguk pasti ia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara bos dan sekertarisnya itu.


" Jadi selama ini pak Banny bersandiwara dengan sekertarisnya itu,ya ya.ini kabar panas yang akan menggemparkan seisi perusahaan ini." Ucap seseorang itu tersenyum culas.

__ADS_1


" Tapi kenapa mereka bersandiwara ?untuk apa ?" Tanyanya sendiri dengan penasaran.


Lalu ia pun segera pergi dari tempat itu dengan perasaan yang penuh arti akan kabar panas yang ia dapati itu.


__ADS_2