CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 97


__ADS_3

MONA menatap dalam seorang pria yang ada di hadapannya itu yang usianya mungkin tak jauh dari usia Ayahnya,dan pria pemilik hati mulia itu tiada lain pak Wiguna.Papah dari sang bosnya yang takan lama lagi akan menjadi calon mertuanya.


Mona sendiri sangat menyangkan jika semua yang akan terjadi itu hanya sandiwara belaka saja,dan tak mungkin akan menjadi sebuah kenyataan.


Andai saja.......???


Mona menepis angan-angan nya dengan membagi pandangan nya ke seluruh ruangan yang megah tersebut.


" Mona gimana persiapanya untuk lamaran besok ?" Tanya pak Wiguna menatap dalam gadis yang ada di hadapannya itu.


" Hmm,,persiapan semua nya Banny yang mengurus nya pak,jadi saya hanya menerima beres saja." Ucap Mona dengan tersenyum tipis.


" Banny bersemangat sekali rupanya dalam mengurus acara lamarannya." Jelas pak Wiguna seraya mengangguk-ngangguk pasti.


" Bagai mana dengan perasaan mu Mona?" Tanya Pak Wiguna kembali bertanya dengan sorot mata penuh kasih sayang,layaknya perasaan seorang Ayah kepada anaknya.


Mona tersenyum pasi dengan raut wajah yang masih sembab mencoba untuk terlihat lebih baik-baik saja.


" Hmm,saya sangat bahagia bisa bersanding dengan putranya bapak,dan saya hingga saat ini masih belum bisa mempercayainya,jika bapak akan menjodohkan saya dengan putranya bapak." Balas Mona dengan menatap segan.


" Bapak sengaja menjodohkan kamu dengan Banny,karena kamu atau pun Banny harus mendapatkan pasangan yang tepat,dan kalian layak untuk bahagia.Jadi bapak berharap kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa kepada Banny semoga tidak terulang kembali makanya bapak sangat yakin,jika kamu adalah gadis baik yang pantas buat anak bapak." Jelas pak Wiguna menatap penuh arti ke wajah calon menantunya tersebut.


Mona menyeringah kaku betapa besarnya harapan seorang Ayah untuk bisa membahagiakan seorang anaknya,dan rasanya ia merasa berdosa jikabia tahu akan mempermainkan perasaan seorang pria yang telah tulus menolong dirinya di masa lalu.


Mona benar-benar merasa salah besar jika harus membuat pria yang ada di hadapanya itu pada akhirnya akan kecewa ketika mengetahui hungungan yang sesungguhnya selama ini dengan putranya itu.


Mona menunduk seraya meremas jari tangannya dengan perasaan yang gelisah.


" Oya ?Banyy tadi belum kembali juga ya ?,kemana dulu dia ?" Tanya pak Wiguna seraya menoleh ke arah ruangan yang lain.Mona mendongkak lalu ikut memperahtikan ke arah pandangannya pak Wiguna.


" Belum pak.Tadi hmm....,Banny bilang ada urusan sebentar untuk tambahan acara besok." Balas Mona ragu.


" Mungkin juga ada beberapa hal yang belum di urus sama dia untuk acara besok,tapi sayang juga Banny harus memilih acaranya di adakan dengan sederhana sekaligus Privasi lagi.Padahal papah ingin sekali moment seperti ini menjadi moment yang paling membahagiakan dalam hidup papah." Jelas pak Wiguna menatap jauh ke dalam wajah calon menantunya tersebut.


Mona hanya bisa tersenyum semu dengan menatap penuh rasa bersalah.


" Mungkin Banny mempunyai alasan tertentu sehingga memilih acaranya sederhana mungkin pak,jadi seengganya dia masih bisa menyimpan uangnya untuk hal yang yang lainnya lagi." Jelas Mona dengan judul bebas mengarang untuk memberi alasan kepada calon mertua settingannya itu.


Padahal pak Wiguna sendiri tahu betul akan karakter seorang putranya itu yang selalu tampil mewah di setiap mengadakan acara tertentu,tapi kali ini ia cukup merasa heran atas kemauannya yang memilih acara lamaranya tersebut bersipat privasi dan tidak di publikasikan.


Sempat ada perasaan heran dengan keputusan sang putra tunggalnya itu yang terkesan menutup-nutupi sesuatu darinya.


Tapi sebagai seorang Ayah yang bijak ia mencoba berpikiran positif dan tidak mau terlalu jauh dalam mengatur masalah pribadinya itu.Sang putranya sudah memenuhi ke inginan nya saja sudah membuatnya sangat bahagia karena Banny memang sosok anak yang bisa di atur olehnya.


" Banny memang sosok pintar dalam masalah perhitungan dan dia memang benar-benar ahli dalam matematika jadi segala sesuatunya ia perhitungkan sebaik mungkin jadi sehingga tidak berlebihan,tapi setau bapak,Banny itu orangnya royal loh serta senang dengan kemeriahan.Tapi tumben ya kali ini ia malah memilih pesta lamaran ini dengan moment yang sederhana?." Pak Wiguna menatap sedikit penasaran ke arah sang calon menantunya itu,barang kali Mona sebagai calon istrinya mengetahui alasan nya kenapa anaknya itu tidak ingin mengadakan acara lamarannya dengan mewah serta meriah.


Mona terdiam menatap ragu,ia paham alasan kenapa Banny memilih acaranya sesederhana mungkin,karena ini hanyalah acara settingan belaka saja.


" Ya Banny memang lebih pintar mengatur semuanya hingga se efesien mungkin,dan bagi kami yang terpenting adalah kesakralannya di moment tersebut." Jelas Mona dengan berbicara seadanya.


" Itu lah Banny.Makanya bapak tidak salah menyerahkan perusahan bapak untuk ia kelola, dan hasilnya sekarang perusahan bapak semakin terdepan." Ujar pak Wiguna menatap Bangga.


Mona hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataan pria yang pernah berperang penting dalam kehidupannya.


Tak lama terdengar suara hentakan sepatu di atas lantai melangkah menuju ke ruangan mereka,dan dengan bersamaan Mona beserta pak Wiguna pun menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut.


Mereka sudah memastikan jika suara langkah kaki tersebut adalah miliknya Banny.


Tak lama Banny menyembul dari balik dinding ruangan tersebut dan tersenyum hangat kepada sang Ayahnya.


" Maaf pah,Banny barusan ada sedikit urusan dulu jadi Banny suruh Mona duluan." Ucapnya dengan duduk di samping Mona.


" Tidak apa-pak Ban.Oya gimana sudah selesai semua persiapan nya ?" Tanya sang Ayah menatap antusias.


" Sudah pah,besok tinggal menggelar acaranya saja.


" Mudah-mudahan semua berjalan dengan lancar ya ?" Ujar pak Wiguna menatap keduanya.


Mona dan Banny bertatapan lalu kedua saling melempar senyuman tak pasti.


" Kamu sudah makan sayang ?" Tanya Banny tersenyum tipis ke arah Mona,yang di senyumin mulai memasang wajah ekspresi yang 'enggak banget'.

__ADS_1


" Heeuuhh...!@$#&¥ " Bola mata Mona membulat menatap aneh ke arah bosnya itu,Mona lupa jika dia sedang bersandiwara,jadi mereka di tuntut harus mesra jika di hadapan sang Ayah bosnya itu.


Tatapan Banny menajam lalu memberi sebuah kode agar Mona segera paham dengan isyarat nya itu,Mona tersenyum lebar ia harus kembali beradu akting dengan bosnya itu untuk menjadi pasangan kekasih di hadapan sang Ayah nya tersebut.


" Hmm,Belum sa sayang,tadi pagi kan aku gak sempat langsung kamu jemput." Balas Mona dengan ekspresi tak enak di lihat.


Dalam hatinya padahal ia serasa segera enyah dari hadapan pak Wiguna agar dia tidak bersikap manis terhadao bosnya itu.


Banny menggeleng pelan,ia merasa geli sendiri setelah melihat ekspresi sekertarisnya itu polos-polos gimana membuat dia merasa di hinggapi ulet bulu.


" Ini sudah siang.Memang nya kalian belum pada lapar?" Tanya sang Ayah menoleh anaknya dengan cemas.


Banny menggeleng seraya menoleh ke arah Mona yang ekspresi wajahnyan kian membuat dia terasa geli sendiri.


Dalam hatinya ia juga merasa tak tega melihat sikap sekertarisnya itu yang selalu terlihat idiot jika sedang bersandiwara,ia menggeleng dengan perasaan lucu.


" Kita makan siang di luar saja ya sayang,sekalian kita ke tempat butik Yonce untuk ambil pesanan baju kita." Ujar Banny seraya kembali menoleh Mona seraya meraih tangan gadis itu.


" Iya." Hanya itu saja yang mampu di ucapkan Mona ketika Banny mulai kembali menggenggam tangannya itu.


" Ingat jangan terlalu sibuk,kalian harus memperhatikan kesehatan juga.Bulan depan kalian akan menikah jadi harus tetap jaga stamina kalian." Timpal lagi sang papah dengan raut wajah bahagia.


Mona hanya bisa menalan ludahnya saat pak Wiguna mengingatkan dirinya beserta sang putranya itu untuk tetap menjaga kesehatannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan untuk menanti hari bahagianya mereka.Walaupun itu hanya sekedar sebuah setingan saja.


Tapi walaupun itu sekederan pernikahan settigan,pria berhati malaikat ini begitu antusias memperhatikan kondisinya mereka,apa lagi jika pernikahan sungguhan.....,


pikiranya meracau.


Mungkin ia tak akan segelisah ini.


Rasanya ia ingin menjatuhkan dirinya dari ketinggian apa bila mengingat batas waktu pernikahannya itu.


" Mona !" Panggil pria behati mulia itu mengejutkannya.


Mona terperangah lalu menatap pak Wiguna dengan berbagai perasaan.


" Iya pak ?" Jawab Mona menatap gugup sang calon mertuanya itu.


Belum saja Mona membuka mulutnya,Banny telah menyela nya dengan cepat.


" Tidak pah,Mona hanya sedikit kecapean saja,maklum kita ini cukup deg-degan dalam menghadapi acara besok.Iya kan sayang." Sela Banny seraya tersenyum hangat hingga membut sedikit hati Mona meleleh melihat pesona senyuman pria yang ada di sampingnya itu.


" Sumpah bos gue ini !! kalau udah bikin hati gue meleleh bikin gue gak bisa napas.Kenapa sih dia itu harus bersikap kaya gini,kadang jutek,kadang manis,PHP in gue terus,tega lo pak sama gue."


Guman Mona membantin,kali ini ia berharap bosnya itu tidak mendengar umpatan hatinya.


Sebuah tangan sudah melingkar di pinggang nya dan memeluk tubuh Mona dengan erat.Hampir saja Mona memekik jika tak ingat ia sedang berakting,perlahan Mona menoleh Banny yang kian dekat tubuhnya ke arah dirinya,lalu Mona mencoba merengangkan posisi jaraknya.


Namun sungguh di luar perkiraanya,Banny tidak memperdulikan penolakan bahasa tubuhnya itu.


Pria berambut lurus dengan kulit kekuningan dan mata sedikit sipit bak oppa korea versy indonesianya itu justru semakin mendekatkan tubuhnya menempel ke tubuh Mona.


Serta merta membuat Mona terlihat snewen atas sikap bosnya itu selalu di luar nalarnya.


Mona hanya tersenyum kaku lalu ia memilih menatap kembali ke arah pak Wiguna yang memperhatikan sikapnya dengan tersenyum-senyum penuh arti.


" Ya sudah,kalian makan siang saja,papah tadi sudah sarapan pagi,belum ada lapar lagi." Jelas pak Wiguna masih menatap bahagia ke pasangan settingan itu.


" Ya udah pah,Banny pergi dulu ya." Pamit Banny menatap lembut sang Ayah.


Sang Ayah hanya mengangguk dengan tersenyum simpul.


*********


MONA berjalan mengekor dari belakang sang bosnya menuju mobil yang terparkir di pelataran rumah mewah tersebut.


Banny sudah terlebih dahulu memasuki mobilbya lalu Mona berjalan cepat mengitari mobil bosnya lalu ikut masuk lewat pintu sebelah kiri.


Meski ragu Mona tetap harus bisa terbiasa bersikap masa bodoh.


Banny masih sibuk dengan memandangi layar telepon gengam miliknya itu.Sepertinya seseorang sedang menelepon.

__ADS_1


" Hallo !" Sapa Banny yang akhirnya memutusan mengangkat telponya itu setelah beberapa kali di abaikan olehnya.


Mona menoleh ke arah pria yang duduk di samping nya itu dengan wajah mulai berubah dingin.


" Halo !!" Sapanya dengan datar.Raut wajahnya berubah dingin.


" Banny,aku ingin bertemu sama kamu." Balas suara dari sebrang telepon terdengar.


" Maaf,saya lagi sibuk." Balas Banny singkat lalu ia pun mematikan kembali sambungan telepon nya itu dan menyimpan kembalinya telepon gengam nya di saku celana jeans nya.


Mona yang sedari tadi memperhatikan bosnya itu hanya bisa menatap penasaran.


Pikirannya mulai meracau menerka siapa yang menelepon sang bos itu hingga raut wajah pria itu berubah sangat menyeramkan.


Banny menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan mobil dia melaju meninggalkan pelataran rumahnya yang sangat luas sehingga bisa terparkir beberapa mobil,anggap saja ini adalah rumah sekaligus gedung perkantoran yang pelataran rumahnya muat dengan lima hingga sepuluh mobil,kebayangkan luasnya seperti apa ?mungkin seluas lapangan futsal?kurang lebih lah ya.


Suara nada dering ponselnya Banny kembali berbunyi memecahkan kesunyian yang hanya ada deru mesin mengisi ruang mobil tersebut.


Banny mengabaikanya seraya tetap fokus ke laju kendaraanya,Mona menoleh ke arah bosnya itu dengan heran.


Nada dering itu terus berbunyi hingga Banny merasa jengkel lalu ia pun mau tak mau menepikan mobilnya dan segera mengambil ponselnya yang berada di saku celananya itu.


Banny melihat ke layar ponselnya itu dan menatapnya dengan jengkel.


" Ada apa lagi sih Kin,aku katakan lagi,aku tidak bisa menemuimu." Ucap Banny sedikit membentak.


Mona mengernyit lalu berpura-pura tidak mendengar ucapan sang bosnya itu walau hatinya di penuhi tanda tanya.


" Kamu jangan konyol,mengacam aku dengan seperti itu." Balas Banny dengan raut wajah berubah galak.


Terdengar sayup-sayup suara wanita dari sebrang telepon itu berbicara sebuah ancaman.


Bola mata elangnya Banny menajam lalu menoleh ke arah Mona yang di samping nya dengan sorot maya yang mengerikan.


Mungkin orang ganteng jika sedang marah akan tetap menawan,tapi prasangka itu di patahkannya dengan kenyataan yang terlihat olehnya.


Pria dingin berwajah tampan itu berubah murka dengan raut wajah memerah.


" Kinaya,kamu jangan konyol,aku jelas tidak suka dengan cara kamu itu,kamu sudah sinting apa melakukan hal seperti itu!kan aku sudah bilang aku tidak bisa menemui kamu lagi,jadi kamu jangan ancam-ancam aku seperti ini." Gertak lagi Banny dengan nada mulai terdengar jengkel.


Mona menoleh dengan perasaan ciut saat mendengar nada bicara pria di sampingnya itu cukup meninggi akan nada bicaranya,terlebih bosnya menyebut nama Kinaya sang mantan kekasihnya itu.


Mona semakin penasaran di buatnya,berbagai stetmen di otaknya mulai bermunculan.


" Kinaya,stop kamu jangan gila!jangan melakukan hal bodoh seperti itu." Tambah Banny dengan nada marah.


Mona mencoba untuk menguping walau wajahnya ia alihkan ke arah yang lain.


" Ok.Ok !,aku akan segera kesana ! dimana kamu sekarang ?" Tanya Banny dengan wajah panik sekaligus jengkel.


" Baik,tunggu aku di situ,jangan melakukan hal yang bodoh,ingat itu." Ujar lagi Banny dengan nada kesal.


Lalu ia pun segera mengakhiri pembicaraanya dan meletakan kembali ponselnya.


Dengan perasaan gusar Banny menjalankan kembali laju kendaraanya dengan sedikit kasar,sementara Mona hanya terdiam dengan pikiran meracau tak karuan.


" Kita tidak jadi makan siang,kita ke afartemen Kinaya." Ucap Banny singkat.


" Ada apa pak ?" Tanya Mona dengan ragu.Ia takut jika Banny merasa keberatan dengan pertanyaan itu.


" Kinaya mau bunuh diri,konyol sekali dia." Guman Banny dengan melajukan kendaraannya di atas kecepatan.


Mona shok mendengar mantan kekasih bosnya itu akan bunuh diri.


Ini benar-benar konyol,kenapa Kinaya begitu nekad hanya untuk mencari perhatian bosnya itu dengan cara kekonyolan seperti itu.


Mona menarik napas lalu perlahan mengeluarkan nya ia berusaha untuk tidak berpikiran buruk tehadap wanita itu.


" Gilla !! nekad juga tu perempuan,masalah nya apa sih ?ampe nekad mau bunuh diri gitu.Segitunya dia mencintai bos gue,tapi...,seperti nya Kinaya memang masih mencintai bos gue."


Guman Mona didalam hatinya sibuk membahas tentang bosnya dan mantannya itu.

__ADS_1


Mona menatap kesal kearah jalan tersebut dengan perasaan resah.


__ADS_2