
HARI ini adalah hari minggu dan entah kenapa Mona merasa rindu akan jogging di pagi hari,setelah sekian lama ia tak melakukan hal itu, seusai merapihkan seisi kamarnya ia pun bergegas mengambil ponsel di atas meja riasnya dan ia pun menghubungi kedua sahabatnya untuk mengajak jogging bersama.
Setelah beberapa menit menghubungi kedua sahabatnya ia pun segera menukar pakaianya dengan pakaian olah raga.
Biasanya hari minggu dirinya selalu di gunakan untuk menambah waktu tidurnya hingga terbangun di jam siang,namun kali ini entah ada angin apa ia merasakan kerinduan akan berlari pagi.
Setelah berpamitan kepada sang nenek Mona mulai berlari di sepanjang trotoar jalan,rambutnya yang di ikat tinggi terlihat berayun-ayun mengikuti hentakan kakinnya yang berlari kecil.
Tidak berapa lama ia pun tiba di sebuah taman pesisi kota yang terlihat tertata rapih dan bersih,dan di taman tersebut pula telah hadir beberapa orang yang berlalu lalang sekedar untuk menikmati hari libur.
" Mon !!" Panggil seorang gadis bertubuh jangkis melambaikan tangan kearahnya.Mona terkesiap lalu membalas lambayan tangan sahabatnya itu.
" Tam,mana Amel ?" Tanya Mona menghampiri gadis jangkis itu.
" Beli gorengan tuh !" Ucap Tamara menunjuk dengan bibir mungilnya ke arah Amel yang sedang memborong banyak berbagai makanan dari adonan tepung terigu tersebut.
Mona menggeleng setelah melihat kelakuan salah satu sahabatnya itu.
" Cita-cita mau langsing hobbi beli gorengan mulu,nih anak bener-bener." Guman Mona menggerutu pelan.
" Gorengan itu tidak akan pernah bisa di pisahkan dari diri seorang Amel,Mon." Tambah Tamara seraya membenarkan poni pendeknya.
" Mon,elo mau gorengan gak ?" Tanya Amel setelah tiba di hadapan Mona.
" Enggak lah,,baru aja gue jogging bakar kalori masa udah di kasih amunisi gorengan lagi,sia-sia donk kalori gue yang terbuang tadi itu." Ucap Mona seraya menarik-narik handuk kecil di lehernya.
" Nih enak banget tau gorengan tempenya,renyahh." Ucap gadis berbadan sintal itu menawari gorengannya.
" Coba Mel." Sela Tamara seraya mencopot satu gorengan yang berada di kantong keresek tersebut.
Mona menggeleng dengan perasaan kesal.
" Kalau badan si Tamara makan sebanyak apa pun ia gak bakalan melar Mel,lah elo nyium dikit aroma tuh gorengan pasti naik lima kilo,hehe...hee..." Mona terkekeh menatap lucu sang sang sahabatnya itu yang sedang asik mengunyah gorengannya dengan semangat.
" Ini adalah anugrah." Sela Tamara dengan menggigit kuat bakwan yang masih hangat itu.
" Pyuhhh,,itu anugrah apa cacingan ?" Sela Amel dengan mulut masih penuh dengan makanan.
" Haha...haaa..." Mona tertawa lebar saat mendengar olokannya Amel terhadap Tamara,dan gadis super jangkis itu pun hanya mendelik dengan lirikan sebal.
" Eh,ngomong-ngomong elo ada angin apa nih tiba-tiba ngajak jogging.Tapi sih udah lama juga kita gak jogging,hmm..., terakhir pas elo masih jadi anak buah bu Silvi kan ?" Tanya Amel menoleh Mona yang masih berjalan-jalan kecil di tempat dengan sesekali merentangkan tangannya lebar-lebar.
" Gue lupa lagi,kayanya udah lama itu." Sela gadis bermata belo itu dengan acuh.
" Pokonya sebelum elo jadi sekertarisnya boskul." Sela Amel berusaha mengingat-ngingat.
" Lama juga yah ?" Sela Mona seraya menyapu keringatnya dengan handuk kecilnya.
" Ehh,ngomong-ngomong sandiwara elo gimana neh ?" Tiba -tiba Amel mengalihkan pembicaraan.Sejenak yang di tanya terdiam lalu menatap jauh ke arah lingkaran taman tersebut.
" Masih lanjut kan Mon?ini udah pertengahan bulan loh, belum ada kelanjutan lagi tuh episodenya ?" Sela Tamara ikut menyela.
" Entahlah,gue harap sih bos gue membatalkannnya secara sepihak,jadi gue tak perlu menjelaskan apapun terhadap pak Wiguna." Jelas Mona dengan wajah datar.
Kedua sahabatnya saling berpandangan dengan perasaan heran.
" Kok membatalkannya,memangnya ada masalah ?" Tanya Amel penasaran.
" Itu kan harapan gue Mel,karena akhir-akhir ini bos gue selalu bersikap aneh jika gue deket dengan Zeanu,padahal gue sama Zeanu gak mungkin bersatu,secara doi kan sekarang udah jadi abangnya gue." Terang Mona duduk di samping kedua sahabatnya.
" Tapi gak ada salahnya juga kalau pun lo tetep suka sama abang lo itu,masih bisa dipertankan kok,kan lo sama Zeanu hanya sodara sambung bukan kandung." Ucap Amel menatap dengan yakin.
" Gimana ceritanya adik kaka menikah Mel,mertuanya itu-itu aja dong." Sela Tamara menoleh Amel yang yang masih asik menikmati makanan gorengan kesukaanya itu.
" Tamara benar !" Sela Mona merengut.
" Tapi kalau elo memang benar-benar cinta kenapa tidak ?" Balas Amel dengan enteng.
" Tidak lah,gue rasa gue harus merelakan pria itu menjadi abang sambung gue,ketimbang jadi some one gue." Bantah Mona melirik.
" Yahh,patah hati dong." Sela Tamara nyeletuk.
" Cara ampuh mengobati patah hati,yaa gue harus jatuh cinta lagi." Sela Mona dengan enteng.
" Eh bambang,lo pikir Move one itu gampang ?apa lagi untuk jatuh cinta.Elo pikir ini bajay bisa putar balik seenaknya." Sela Amel dengan sewot.
" Kok elo yang sewot ??" Tanya Mona dengan heran.
" Yaa,bukannya gue sewot,cuman gue gak suka aja elo menganggap enteng jantuh cinta,bilang aja elo udah kebawa perasaan sama bos jutek itu,hingga lo dengan mudahnya merelakan si cowok tanpa nama itu." Ucap Amel dengan ekspresi wajah engga banget.
Mona menghela lalu menatap ke dalam wajah sahabatnya itu.
" Memang ya...,bukan elo kalau elo gak so tahu." Ucap Mona dengan menyoroti kesal ke arah sahabatnya itu.
" Gue bukan so tahu,tapi gue peka.Gue tahu elo sekarang lebih memilih perasaan lo terhadap bos jutek itu ketimbang mempertahankan perasaan lo sama si cowok tanpa nama itu,yaa secara sandiwara ini pasti mau tidak mau akan melibatkan perasaan elo,dan gue yakin lambat atau laun jika perasaan lo itu mulai tumbuh terhadap bos lo itu." Jelas Amel dengan panjang lebar.
" Gue setuju !! Mel sepertinya lo cocok jadi mama lemon."
Sela Tamara dengan raut wajah penuh ekspresi.
" Mama lemon ?? maksud lo gue sabun buat cuci piring." Amel mengernyit dengan sedikit ngegas.
" Kok sabun buat cuci piring,itu loh yang suka ngeramal nasib orang,dan suka menerawang-nerawang masa depan gitu." sanggah Tamara.
" Elo Tam,kalau ngomong suka gak jelas,itu bukan mama lemon,mama Lauren." Sela Mona membenarkan ucapaannya Mona.
Sontak Amel tertawa mendengar ucapan Tamara yang salah menyebut nama mendiang seorang peramal tanah air.
" Haa,,kocak nih anak." Sela Amel dengan tertawa renyah.
Udara semakin panas Mona mengambil sebotol air mineral yang telah di sediakan oleh Amel,lalu ia pun membuka tutupan botol mineral tersebut dan langsung minum hingga habis separuhnya.
" Aus Mon ?" Tanya Amel yang ikut mengambil sebotol air mineral melirik kearahnya.
Mona tersenyum dengan mengedarkan pandangannya kepelosok taman kota tersebut.Mona merasa ada sedikit perubahan dengan keadaan taman kota itu yang dulu sering di jadikan tempat sekedar nongkrong atau pun jogging,ada beberapa bangunan baru yang di bagun di sekitar taman tersebut.
" Mon,ada apa tuh kok rame-rame ?" Tiba-tiba Amel mencolek Mona yang sedang melepas rasa lelahnya,Mona menoleh lalu menatap ke arah tempat yang Amel tunjukan.
" Mungkin ada seleb lewat kali Mon,kok rame gitu sih ?" Tanya Tamara dengan penasaran.
" Seleb,mana ada sepagi ini seleb keluar." Balas Mona singkat.
" Yaa kali saja mau jogging juga." Balas Tamara menenggak habis air mineral nya.
Saat itu juga Mona langsung berdiri dan mengawasi ke arah beberapa orang yang berkerumun.
" Ada apa sih ?" Tanya nya dengan penasaran.
" Coba lihat Mon,di copet apa ya?" Tanya Amel kian penasaran.
__ADS_1
Kening Mona berkerut menatap aneh ke arah kerumunan itu,lalu ia pun perlahan berjalan mendekati ke arah kerumunan tersebut.
Beberapa orang sedang berdiri berkerumun mengelilingi seseorang yang tengah tergeletak begitu saja di atas rumput.Mona mencoba menerobos kerumunan itu dan ia pun dapat melihat jelas jika yang ada di dalam kerumunan orang-orang tersebut adalah seorang perempuan tengah pingsan tak sadarkan diri,lalu seorang pria sedang mencoba melakukan pertolongan pertama kepada si perempuan pingsan tersebut.
Mona semakin penasaran ke arah perempuan tersebut lalu ia pun berusaha memperjelas ke arah wajah perempuan itu.
Alangkah terkejutnya Mona dengan pandangannya tersebut.
" Kinaya ???" Pekiknya dengan suara tertahan,nyaris Mona tak percaya di buatnya.
" Mon,yang pingsan Kinaya ?" Tanya Amel heran.
Mona mengangguk dengan menatap tidak percaya sepenuhnya.
Kenapa Kinaya bisa berada di taman ini? dalam keadaan pingsan lagi.Pikir gadis itu dengan terus menatap wajah Kinaya yang pucat.
" Loh kok bisa ?" Tanya lagi Tamara tak kalah heran.
" Tapi itu cowoknya atau siapa nya ya,yang lagi nolongin dia ?" Tanya Amel menjulurkan kepalanya untuk meperjelas penglihatannya kepada seorang pria yang tengah mengecek pergelangan tangan perempuan itu.
" Kalau cowok berbadan tegap kaya gitu,biasanya punya wajah tak jauh dari kata ganteng." Bisik Tamara dengan terus menatap punggung pria tersehut.
" Ada yang bawa minyak angin ?" Tanya suara pria itu mendongkak lalu membagikan pandangannya keseluruh orang yang mengerumuninya.
" Ini Mas." Ucap Mona repleks menyodorkan botol kecil minyak angin kehadapan pria tersebut.
" Lo ngapain nolongin tuh perempuan ?" Bisik Amel melirik dengan kesal ke arah Mona.
" Bersikap baik itu tak harus pandang bulu,sekalipun dia adalah musuh kita." Balas Mona setengah berbisik.
Pria itu menoleh ke arah suara gadis yang tengah berbisik di belakangnya meski samar-samar suaranya.
Pria itu menoleh dan menyimak ke arah wajah gadis tersebut.
" Mona ??" Pekik pria itu setelah jelas melihat suara gadis di belakangnya itu.
Pria itu menoleh dan sesaat menatap dalam ke arah wajah Mona,Amel dan Tamara syok melihat sikap pria itu yang mengenali sahabatnya.
" Benerkan Mel,tuh cowok liat dari punggungnya aja udah bisa ketebak jika cowok itu ganteng." Bisik Tamara histeris.
" Masih gantengan bos gue kemana-mana." sanggah Amel dengan berbisik.
" Akas ??kok kamu ada disini ?" Tanya Mona dengan heran.
Kedua sahabatnya saling menatap kompak.
" Elo kenal Mon ?" Tanya Amel dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Mona mengangguk pelan dengan tersenyum simpul.
" Perempuan ini sepertinya hanya pingsan saja." Ucap Angkasa seraya mengoles minyak angin di bawah hidung perempuan cantik tersebut.
Mona menatap lega saat kedua orang pria itu menghampiri kerumuna tersebut,di lihat dari penampilannya sih kedua pria tersebut sepertinya dari dinas kesehatan.
" Permisi,permisi." Sapa seorang pria bertumbuh pendek menerobos kerumunan
" Bagaimana keadaan perempuan ini ?" Tanya salah satu pria betubuh tinggi bertanya kepada orang yang berada di sekitarnya.
" Sepertinya hanya pingsan saja pak,soalnya tidak ada hal yang mencurigakan dari keadaan perempuan ini." Balas salah satu seorang perempuan berdiri di dekat Angkasa yang masih menyanggah tubuh si perempuan tersebut.
" mbaknya kenal sama perempuan ini ?" Tanya lagi pria itu menatap penuh selidik.
" Tidak pak,saya kebetulan saja melihat perempuan ini sedang menangis tapi tiba-tiba saja dia pingsan begitu saja." Jelas perempuan itu menjelaskan apa yang di lihatnya.
Mona terdiam hanya mengangkat bahunya dengan acuh.
Namun perasaanya ia berkata lain tentang perempuan itu.
" Apakah ada identisasnya tentang perempuan ini ?" Tanya petugas kesehatan itu menatap dalam perempuan yang berbaju kuning,kalau di perhatikan perempuan itu sedang jogging juga di sekitaran taman kota itu.
" Saya kurang tahu pak,cuman ini dia ada bawa ponselnya." Ucap perempuan itu menyodorkan sebuah ponsel ke hadapan seorang petugas kesehatan tersebut.
" Tapi ponselnya pasti terkunci,dan kita tak tahu apa sandi kuncinya." Jelas Angkasa menyela.
" Yang pasti bukan kunci inggris atau kuncil L,dan M,N,O." Sela Tamara dengan cuek.
Amel menyikut keras tubuh jangkis tersebut,hingga si pemilik tubuh jangkis tersebut meringis.
" Lo gak usah ngelawak kalau lagi genting." Bisik Amel cukup keras.
" Saya kenal dia pak." Ucap Mona seraya berjongkok di samping angkasa.
Amel dan Tamara menatap kaget melihat sikap Mona.
" Dia teman saya pak." Ucap Mona seraya menoleh Angaksa.
" Kamu kenal dia ?" Tanya pria itu menatap dalam ke arah Mona.
Mona hanya mengangguk dengan tersenyum tipis.
" Ya sudah kalau begitu mbaknya bisa bawa temannya ke rumah sakit terdekat." Ujar petugas kesehatan itu meminta Mona untuk membawa Kinaya ke rumah sakit.
" Elo ngapain bawa-bawa perempuan itu ke rumah sakit,lo mau di maki-maki dia kalau dia udah siuman nanti." Sela Amel mencolek pundak Mona.
" Elo tenang aja,hal itu gak akan terjadi." Balas Mona seraya menoleh Angkasa.
" Kalau gitu kita ke rumah sakitnya pake kendaran aku saja,kebetulan aku bawa mobil." Ucap Angkasa.
Mona hanya mengangguk dengan tersenyum lembut.
" Gimana ceritanya jogging pake mobil,dasar orang kaya." Ucap Amel melengos.Sejurus kemudian Mona terlihat sibuk membereskan barang-barang miliknya Kinaya.
Lalu Angkasa beserta dua petugas itu membantu mengangkat tubuh perempuan itu menuju mobil miliknya.
Setelah sampai di rumah sakit terdekat dari taman kota tersebut Kinaya segera di bawa ke ruangan periksa untuk di diangnosa atas penyebab pingsang nya tersebut.
" Kenapa sih Mon lo harus repot-repot nolongin dia,udah jelas tu perempuan suka ngehina elo,elo masih aja nolingin dia,apa elo amnesia atas perlakuan tuh cewek." Ucap Amel membuka obrolan setelah Mona duduk di ruang tunggu.
" Gue setuju apa yang di ucapkan Amel." Balas Tamara mengiyakan.
" Gak gitu juga Mel,Tam,meski dia jahat sama gue,apa salahnya kita tolong dia dalam ke adaan seperti ini,kan kita tidak pernah tau apa yang akan di lakukan setelah tahu kita yang nolongin dia." Jelas Mona menatap resah kedua sahabtanya.
" Elo mau di ucapin terimakasih?terus elo ama dia baikan gitu?" Ucap Amel mendegus,Mona hanya menghela melihat sikap kedua sahabatnya tersebut.
" Mon,gimana kondisi perempuan tadi itu ?" Tanya Angkasa menghampiri Mona seusai memarkirkan mobilnya.
" Terus udah ada kabar dari Dokter ?" Tanya Angkasa seraya duduk di samping Mona.
" Dokter masih meriksanya." Balas Mona Menoleh angkasa sesaat.
__ADS_1
" Kamu kenal ya dengan perempuan itu ?" Tanya pria berkarismatik itu kembali menoleh Mona yang duduk di sampingnya.
" Iya Kas,aku sangat mengenalinya." Jawab Mona menatap lurus ke arah kedua sahabatnya yang sedang duduk dengan wajah gelisah.
" Teman kamu satu kantor ?" Tanya Angkasa pelan.
" Bu bukan Kas...," Sela Mona menggantung.
" Ehem !!" Amel mendehem cukup keras sehingga Angkasa menoleh ke arah suara dehem gadis tersebut.
Alisnya naik turun lalu menatap heran Amel.
" Saya teman yang satu kantor dengan Mona,Amel !" Ucap Amel seraya mengulurkan tangannya dengan begitu sangat pedenya.Gadis itu berniat mengajak salaman pria tersebut.
" Oh,maaf.Aku Angkasa." Jawab pria itu menerima uluran tangan gadis tersebut dengan ramah.
" Aku Tamara,sama teman satu kantornya Mona juga." Ucap Tamara seraya menarik tangan Amel yang masih bersalaman.
Mona menggeleng pelan menatap tingkah konyol kedua sahabatnya tersebut.
" Pliss dehh jaga sikap kalian berdua." Ucap Mona setengah berbisik ke arah mereka.
"Aduh Mon,jiwa jomlo gue meronta-ronta kalau liat yang berkarismatik kaya gini." Pekik Tamara seraya melirik ke arah pria tersebut.
Angkasa tersenyum lucu ke arah Kedua sahabat Mona yang saling berebut untuk bersalaman dengannya.
" Sorry ya Kas,sahabat gue emang pada konyol." Ucap Mona dengan ekspresi wajah tak enak hati.
" Gak apa-apa kali Mon,santai saja." Sela Angkasa tersenyum manis.
" Duhh,senyumnya gak pake gula aja manis apa lagi pake gula,di uber semut dehh." decap kagum Tamara seraya menatap dalam wajah pria tersebut.
" Yang ada di uber lo." Sela Amel tersenyum tak kalah menggoda.
" Wah teman kamu suka pada gombal juga yah." Sela Angkasa tersenyum lembut.
" Maklum,jiwa jomlo kita meronta-ronta." Sela Amel dengan tanpa canggung lagi.
Tiba-tiba seorang Dokter keluar dari ruangan periksa.
" Mohon maaf,Kalian sodaranya atau temannya pasien atas nama Kinaya?" Tanya seorang Dokter keluar dari ruangan periksa tersebut.
" Iya Dok,kita semua ini temannya pasien yang atas nama Kinaya." Sela Mona dengan cepat.
" Gimana keadaanya sekarang Dok ?" Tanyanya lagi menatap cemas.
" Alhamdulillah pasiennya sudah sadarkan diri,temannya mbak ini mengalami sedikit depresi sepertinya." Jelas Dokter itu membagikan pandangannya ke arah Mona dan kedua sahabatnya serta Angkasa.
" Depresi ??" Tanya Mona serentak dengan kedua sahabatnya.
" Maaf Dok,kalau boleh tau kenapa bisa sampai pingsan ya teman saya itu ?" Sela Amel bertanya dengan polos.
" Setelah kami melakukan diagnosa, sepertinya teman kalian itu terlalu banyak mengosumsi obat penenang jadi berakibat buruk pada kesehatannya." Terang Dokter itu dengan tenang.
Mona dan kedua sahabatnya saling berpandangan,sedalam itukan permasalahan yang sedang di alami oleh seorang Kinaya.
" Depresi dia Mon." Sela Amel menoleh ke arah Mona dengan setengah berseru.
Mona hanya menatap datar tanpa ekspersi.
" Silahkan Kalian sudah di perbolehkan untuk melihat ke adaan teman kalian." Ucap Dokter itu dengan ramah.
" Iya Dok.Makasih banyak Dokter." Sela Mona mengangguk.
" Sama-sama.Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit sang Dokter berniat meninggalkan mereka.
" Mari Dok,silahkan !" Ucap Angkasa mengangguk penuh hormat.
Setelah Dokter itu menghilang tertelan ruang tembok, Angkasa menoleh ke arah Mona yang masih terlihat resah.
" Sepertinya teman kamu lagi butuh seseorang untuk menenangkan pikirannya agar dia tidak larut dalam Depresinya itu." Ucap Angkasa mencoba menyelami ke dalam wajah gadis tersebut.
Mona terdiam menatap berbagai perasaan ke arah pria yang baru di kenalinya itu.
" Sepertinya begitu Kas." Imbuhnya dengan nada pelan.
" Gimana kalau kita lihat kedalam ?" Tanya pria itu membagikan tatapannya ke arah Mona dan kedua sahabatnya.Ketiganya hanya saling bertatapan tak jelas,ada kegamangan menyelimuti wajah mereka.
Gadis bertubuh sintal itu menoleh ke arah Mona dengan menatap penuh arti seakan-akan ia dapat menyimpulkan permasalahan yang sedang di hadapi oleh Kinaya.
" Gue tunggu di luar saja,jika lo mau jenguk,masuk aja." Ucap Amel dengan nada bicara datar.
Mona kian bingung menatap ke arah sahabatnya tersebut ia sudah memastikan jika Amel dapat membaca situasi yang akan terjadi nantinya.
" Gue juga tunggu di sini aja." Sela Tamara menambahi.
" Loh bukannya kalian temannya Kinaya ? " Tanya Angkasa menatap bingung.
" Dia teman Mona,bukan teman kami." Balas Amel terlihat ketus.
Angkasa mengernyitkan kedua alisnya lalu menatap dengan perasaan heran atas sikap sahabatnya Mona yang saling berubah sikap.
" Sorry sepertinya gue juga gak bisa lihat ke dalam Kas,soalnya ini udah siang juga,gue harus buru- buru pulang." Tiba-tiba Mona berubah pikiran.
Pria itu menatap dengan penuh pertanyan di benaknya atas sikap Mona yang ikut berubah seperti kedua temannya tersebut.
" Ada apa sih,kok kalian tiba-tiba pada berubah gitu ?takut ketularan Depresi ?" Tanya Angkasa tersenyum ironi.
" Tidak ada apa-apa Kas,tapi sorry nih aku emang harus pamit pulang." Ucap Mona denga membeku.
" Yah,kamu gimana sih,teman kamu butuh pertolongan,masa di tinggal begitu saja." Desak Angkasa menatap dalam Mona.
" Seharusnya sih gitu,tapi aku baru ingat jika aku ada keperluan lain siang ini,jadi sorry banget ya aku tidak bisa menemani kamu ke dalam." Ucap Mona dengan mengiba berharap Angkasa bisa memahaminya.
" Apa kamu mau aku antar pulang." Ucap Angkasa sesaat menatap dalam wajah gadis tersebut.
Kedua sahabatnya saling melemparkan tatapan penuh arti dan mereka pun tersenyum tipis.
" Makasih banyak Kas,aku pulang bareng mereka saja." Ucap Mona tersenyum lembut dan melirik ke arah kedua sahabatnya.
" Gak papa,sekalian aja kalian antar pulang bareng juga." Ucap Angkasa ikut berubah pikiran.
" Lah Kinaya ?" Tanya Mona heran.
" Dia kan udah sadarkan diri,jadi dia bisa urus sendiri juga." Ucap Angkasa cuek.
" Oow....!!" Desis Amel seraya mengalihkan pandanganya ke arah yang lain dengan ekspresi enggak banget.
" Bisa gitu yah ?" Bisik Tamara dengan terlihat cekikikan.
__ADS_1
" Kayanya ada udang di balik bakwan." Bisik Amel melirik pria itu dengan sorot mata berbeda.
" Mantap...,pake nasi anget tuh." Sela Tamara terkekeh.Kedua sahabat Mona tertawa lucu saat raut wajah pria kalem itu menatap lucu ke arah mereka.