CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episdoe 163


__ADS_3

MALAM ini Mona makan malam tanpa Banny,sepulang kerja tadi Banny memilih sibuk dengan dirinya sendiri.


Seusai makan malam Mona pun masuk ke kamarnya,suasana kosong tak di dapati sosok Banny berada di sana namun Mona melihat pintu menuju balkon terbuka.


Mona melangkah perlahan,dengan rasa penasaran di hatinya ia ingin mencoba memastikan apa yang sedang di lakukan pria tampan itu di luar sana.


Terlihat Banny sedang berbicara bersama seseorang melalui sambungan telepon gengamnya dengan setengah terlihat emosi.


Mendadak saja gadis menjadi penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan Banny bersama lawan bicaranya tersebut.


Mona bersembunyi di balik pintu kaca yang tertutup tirai,ia ingin tahu apa yang sedang di bicarakan oleh pria tampan tersebut.


" Banny tidak suka jika Arash kembali bekerja di perusahaan ini !" Ungkapnya dengan nada tinggi.


Sejenak pria tampan itu terdiam mendengerkan balasan dari lawan bicaranya tersebut di telepon.


" Banny tahu akan hal itu pah,Arash memang sosok yang berkualitas,tapi Banny sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan dia." Ucap Banny dengan tegas.


Banny kiranya sedang berbira dengan Ayahnya mengenai persoalan kehadiran Arash di anak cabang perusahaannya tersebut ia bersi keras untuk menolak kehadiran pria itu.


Sesaat Mona termenung mencoba menerka sesuatu hal yang telah terjadi di antara Banny dengan Asistennya tersebut sehingga Banny begitu keras menolaknya.


" Ada apa di antara mereka ?"


Tanyanya dengan tetap terus mengawasi pergerakan pria tampan itu.


" Banny tegaskan lagi pah.Banny akan mencarikan Asisten baru untuk Mona." Ujarnya dengan nada ketus.


Mona kembali di buat penasaran atas sikap Banny yang begitu bersi keras menolak ke hadiran Arash sosok Asisten baru di kantornya tersebut.


Tapi sayang terlambat.Keinginanya untuk menggali kebenaran itu lebih banyak harus terhenti sesaat Banny menyudahi sambungan teleponnya tersebut.


Banny terlihat menarik napas lalu menyimpan ponselnya tersebut di saku celana pendeknya.


Rasa penasarannya mulai datang menyelimuti perasaanya.Mona merasa ragu jika harus bertanya secara langsung akan urusan pribadinya Banny.


Perlahan Mona memberanikan diri menghampiri pria tampan itu yang tengah menengadah jauh ke langit sana.Dan dia pun berdiri percis di belakang pria tampan tersebut.


" Mas !" Panggilnya pelan.


Banny menoleh,raut wajahnya terlihat gugup setelah Mona setibanya sudah berada di belakangnya,dan ia pun menduga jika gadis itu telah menguping pembicaraanya di telpon.


" Ada apa ?"


Tanya Banny dengan menatap dingin.


" Mas tidak makan ?" Tanya Mona berbasa-basi walau sedikit ragu.


Banny mengalihkan wajahnya kembali ke langit sana.


" Aku belum lapar." Balasnya singkat.


" Mm.. Mas !" Mona kembali memanggil pria itu dengan lembut.


Kembali Banny menoleh gadis itu dengan perasaan tak menentu.


" Saya ingin bertanya sesuatu." Ucap Mona dengan lirih,dan gadis itu pun menatap ragu .


" Apa yang ingin kamu pertanyakan ?" Tanya Banny datar.


" Ini masalah Arash !" Balas Mona pendek.


Raut wajah pria tampan itu seketika membeku ketika gadis itu mempertanyakan akan sosok Arash.


Sorot mata pria tampan itu terlihat mulai tak tertarik untuk membahas sosok seorang Arash.Banginya sosok Aras tidak terlalu penting di dalam kehidupannya.


" Saya hanya tidak ingin ada kesalah pahaman dalam hal ini.Dia bekerja untuk ku dan perusahaan mas sendiri,setidaknya apa pun yang telah terjadi di antara mas dan Arash tidak mempengaruhi kinerjanya dia." Ujar Mona dengan perasaan kian tak menentu.


Dia tidak yakin jika Banny akan bersikap biasa saja dengan rasa ke ingin tahuannya.Tentunya dia akan merasa keberatan dengan pernyataanya tersebut.


Pria tampan berwajah dingin itu mendecih lalu menyungingkan senyuman sinisnya.Sepertinya gadis yang di hadapannya ini mulai simpatik terhadap sikap welcomenya seorang Arash.


" Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara mas dengan Aras.Namun saya minta mas bisa bersikap lebih profesional terhadapnya." Kembali Mona berkata.


Hening sesaat.Banny menelaah raut wajah gadis itu dengan seksama lalu menimbang kata-kata gadis itu yang telah berhasil membuatnya sedikit tersinggung.


" Kamu membela pria itu tanpa tahu siapa pria itu sebenarnya. ?" Ujar Banny dengan geram.


Mona terdiam.pernyataan pria itu terasa menguliti perasaannya.


Mona sadar jika dirinya tidak mengenal siapa Arash sebenarnya dan tentunya dia pun tidak berhak untuk ikut campur dalam permasalahan pribadinya seorang Banny.


Dengan perasaan kurang nyaman akhirnya Mona mengurungkan niatnya untuk tidak mencari tahu lagi akan permasalahan yang telah terjadi di antara Banny dengan pria esentrik itu.


" Maaf." Lirihnya pelan.


Mona tertunduk merasakan sebuah penyesalan atas sikapnya itu,dia pun berniat ingin segera beranjak dari tempat itu dan menghindari perdebatan.


" Tunggu !!"


Sergah Banny cepat.


Langkah gadis itu terhenti dengan raut wajah terlihat tegang.


" Aku belum selesai bicara.Sepertinya kamu membutuhkan penjelasan tentang pria itu." Imbuh Banny menahan langkah gadis itu.


Mona terpaku dengan menahan langkahnya.


" Aku akan menjelaskan kepada kamu tentang siapa pria so tampan itu." Imbuh pria itu dengan lelucon namun cukup menggelitik.


Mona terdiam,lalu berusaha untuk tidak terpancing dengan leluconnya banny yang terdengar penuh nada sindiran.


Mona perlahan membalikan kembali badannya dan menghadap lurus ke arah pria tampan itu.Kedua alisnya mengekspresikan penuh rasa keheranan yang begitu dalam.

__ADS_1


" Arash adalah kaka kandung Tania." Ujar Banny singkat.


Sontak saja Mona terhenyak lalu ia pun mengambil alih tatapannya dengan menatap lurus ke arah pria itu dengan tak percaya.


" Aku tidak ingin dia kembali kepurasaahan ini hanya untuk memperburuk ke adaan perusahaan ku ini." Jelas Banny dengan menatap berbagai perasaan ke arah gadis itu.


" Maksud mas ?" Tanya Mona menatap dengan tak paham.


Pria tampan itu terlihat menarik napas panjang seolah-olah ia sedang merasakan perasaanya yang begitu berat untuk menceritakan sesuatu hal yang sudah di anggap lalu di kehidupannya.


" Aku hanya tidak ingin jika Tania mengetahui hal ini,dan aku sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka apapun ke adaannya. " Ucap Banny dengan nada bicara pelan.Tak biasanya pria tampan itu terlihat mencemaskan sesuatu akan perasaanya tersebut.


Akan tetapi ada secercah kebahagian yang terselif dari pernyataan pria itu.Dan Mona merasa betul jika pria tanpan berwajah dingin itu mulai memperlihatkan sikap pedulinya terhadap dirinya.


" Tapi,tapi kenapa papah masih mau memperkerjakannya kembali ?" Tanya Mona menatap ragu sekaligus penasaran.


Banny menarik napas lalu perlahan menghembuskannya.


" Sayang sekali papah sangat menyukai kinerjanya Arash,dulu jika dia tidak ada masalah dengan ku mungkin hingga saat ini dia masih bekerja di perusahaan ku dengan jabatan yang lumayan cukup menjanjikan.Namun sayang dia ikut andil dalam perselingkuhan Tania dengan seorang pengusaha muda kaya raya." Jelas Banny menatap sepi langit malam itu.


Entah kenapa pikirannya di buatnya kembali ke masa itu dimana Tania memilih untuk menikah dengan seorang Sultan yang diam-diam merebutnya dengan sebuah materi.


Mona terdiam,entah mengapa dirinya ikut merasakan apa yang menjadi perasaan pria tampan itu,meski itu adalah masa lalu dari seorang Banny tapi kisah itu tak luput dari rasa sedihnya yang telah begitu dalam mencintai Banny dalam diamnya.Rasanya ia ikut meraskaan kekecewaan yang mendalam.


" Seharusnya aku lah yang berkuasa atas ijin perusahaan ini untuk siapa saja yang akan di perkerjakan dalam perusahaanku ini.Tapi papah terlalu egois segala sesuatunya harus dengan titahnya." Ujar Banny terlihat memendam kekesalan.


Mona menghela pelan,ia merasa apa yang di katakan Banny ada benarnya,namun ia tidak bisa menyalahkan siapa pun.Banginya Ayah dan anak sama saja memiliki sikap yang sama.Selalu bersi keras dalam segala hal.Dia sendiripun tak punya kuasa untuk menolak atau pun melarangnya.


" Mas !" Panggil Mona pelan.


Banny mengalihkan tatapanya kearah gadis itu dengan perasaan resah.


" Papah mungkin lebih tahu konseksensinya seperti apa memperkerjakan kembali Aras di perusahaan ini,jadi untuk saat ini kita ikutin saja kemauanya papah." Mona menatap penuh harapan jika pria tampan itu akan melunak dengan ucapannya tersebut.


Sesaat Banny menatap dengan intens ke arah gadis itu yang mengusulkan untuk mengikuti permintaan sang Ayah namun sekilas dari sorot matanya terlihat ada perasaan cemas yang begitu dalam yang tersirat.


" Seharusnya papah bisa berkaca dari kesalahan Aras dulu yang tentunya membiarkan Tania menghianatiku.Dan seharunya papah lebih memproitaskan perasaan aku ketimbang harus mempercayakan kembali pria itu di perusahaan ku ini." Ungkap Banny dengan nada kecewa.


" Apakah mas masih menyimpan perasaan itu terhadap Tania ?" Mona menatap dengan tajam memeperlihatkan sorot mata yang begitu dalam atas rasa ingin tahu terhadap perasaan pria tampan tersebut terhadap perempuan yang kini telah menjadi masa lalunya.


" Tentu tidak !! " Banny mendegus.


Dirinya merasa sedang terjebak dalam pertanyaan gadis itu.


Mona tersenyum datar entah mengapa ia merasa jika pria tampan yang sedang ada di hadapannya ini sedang menutupi perasaan yang sesungguhnya.Dia melihat jika Banny begitu sangat menjaga perasaanya tersebut.


" Baiklah,sebaiknya kita bicarakan kembali hal ini dengan papah dari hati ke hati,supaya tidak ada kesalah pahaman di antara mas maupun papah." Ucap Mona dengan tersenyum lembut.


Dan tentu saja senyuman lembut gadis itu diam-diam menggetarkan hati pria tampan itu yang sedari tadi tatapannya tak mau lepas dari wajah gadis itu.


Tentu saja hal ini membuatnya semakin nyaman berada di dekat gadis itu.


" Ini udah malam,sebaiknya kita beristirahat." Mona mengalihkan pembicaraan sekaligus ingin menyudahi obrolannya tersebut.


" Mona !"


Panggil suara berat itu dengan setengah tertahan.


Mona terhenyak setelah di rasanya tangan pria itu mencekal erat pergelangan tangannnya.


Mona mengangkat kepalanya lalu menatap wajah pria itu.


" Bisakah kita bersikap seperti layaknya suami istri ??" Ungkap Banny dengan suara lirih.


Sontak membuat gadis bermata belo itu terhenyak lalu ia pun menatap kaku ke arah pria itu mencoba mencerna apa yang baru saja di ucapkannya.


Tidak kah pendengarannya itu salah dengar atas ucapan pria itu yang di rasa sangat mengejutkan nya?


Perasaan campur aduk kini berhasil mendominasi perasaanya,sejauh itu kah perasaan Banny terhadap dirinya yang telah seutuhnya mengharapkan seutas harapan yang dalam atas perasaanya tersebut.


Mona terdiam terkesima dengan ucapan pria tampan itu.


" Kamu masih meragukan perasaan ku ? " Tanya kembali Banny yang menatap Gadis itu yang kini hanya dapat mematung di hadapannya.


Mona membuang pandangannya ke sisi lain lalu mencoba menghindari tatapan serius pria itu.


" Aku sedang berusaha menyakinkan perasaanku ini mas atas perasaan mas yang sesungguhnya terahadapku,dan ini bukan kuharap bukan hanya sekedar sandiwara saja." Mona berkata dengan perasaan yang sulit di gambarkan dengan apapun.


" Karena aku tak pernah tahu apa yang ada di dalam hati mas saat ini?" Ungkapnya dengan pelan.


Entah kenapa sejadi-jadi Mona merasakan kesulitan yang luar biasa hanya untuk sekedar menelan air liurnya.


" Kamu meragukan perasaan ku ini ? " Ucap pria itu dengan perlahan mendekat ke arah gadis itu.


Mona semakin gugup melihat pria itu semakin mendekat ke arahnya.


" Maafkan aku mas,aku masih tetap menganggap semua ini hanya sebuah sandiwara saja." Balas Mona dengan berusaha memberanikan diri untuk membalas tatapan pria itu.


Tap.....


Dua tatapan itu pun saling bertemu mengunci satu sama lain dengan tanpa bisa di hindari lagi.Menatap begitu dalam ke arah bola mata satu sama lain.


" Apa kamu mencintaiku ? " Tanya Banny dengan setengah berbisik,mendekatkan wajahnya kian tak berjarak.


Tentu saja hal itu membuat Mona terkesiap menatap dengan perasaan luar biasa shoknya.


Kenapa obrolan ini semakin dalam ?


Kenapa pria ini mempertanyakan sesuatu hal yang membuatnya sulit untuk menghindarinya.


Tentu saja aku mencintaimua mas ?


Dari mana saja kamu ?

__ADS_1


baru mempertanyakan hal seperti ini ?


Setelah perasaan dan hatiku telah lelah mengejarmu ?


Pertanyaan itu bermunculan di benak gadis itu.


Bola mata itu membulat sempurna dengan bibir bergetar begitu hebat ia berusaha untuk tersenyum walaupun terasa getir.


Pertanyaan yang tak bisa ia ababikan begitu saja.


Namun.......


Raut wajah gadis itu terlihat ragu setelah ia mengingat sesuatu yang menjadi tujuann dirinya bertahan.


Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa sulit sekali untuk mengucapkan sekedar kata 'Ya' rasanya itu menjadi perkataan yang tersulit untuk ia ucapkan.


Mona tertunduk merasakan hawa panas di dadanya.Entahlah !!!


Kenapa saat ini ia merasakaan perasaan itu memudar,apa mungkin ia terlalu lama menanti ?


Mona menggeleng merasakan perasaan kian tak menentu.


Antara ya dan tidak membuatnya enggan untuk mengakui perasaan ini.


" Kenapa kamu diam ?" Banny kembali bertanya dengan perlahan Banny bermaksud menarik tubuh gadis itu untuk masuk ke pelukannya.Namun sayang Mona terlebih dahulu menolak tarikan itu dan menahanya dengan kedua tangannya untuk menahan jarak itu agar tidak semakin dekat.


Banny menatap lekat wajah gadis itu yang perlahan menolaknya secara tak langsung,bola matanya begitu tajam menuntut sebuah penjelasan,Mona dapat melihatnya sekilas namun dirinya merasakan jika ada harapan besar yang tersirat di sepasang bola matanya yang hitam.


" Maaf." Mona melepaskan perlahan tangannya dari cekalan pria itu.


Menyadari sikap gadis itu berubah dingin Banny terlihat menatap kecewa adakah sesuatu hal yang salah dalam perkataanya tersebut?


Apakah semua ini terlambat baginya untuk mengungkapkan isi hatinya ?


ataukah Mona sudah memiliki perasaan lain?


Banny menatap semakin resah atas sikap gadis itu.


Pandangan matanya menatap penuh dengan rasa penasaran atas sikapnya yang berubah dingin.


" Maaf,mafkan aku mas.Sepertinya aku masih perlu waktu untuk menyakinkan semua ini,karena ku rasa tak semudah itu aku bisa percayai apa yang telah mas katakan kepadaku." Lirih.Lirih sekali gadis itu berkata.Dan itu membuat batin pria tampan itu tercubit atas pernyataan yang jauh dari harapannya tersebut.


Jika benar adanya gadis itu meragukan akan perasaanya tersebut.


Mona menatap lepas.Ia merasakan perasaan kecewa mendera di hati pria itu,namun ia tak peduli.Rasanya itu belum seberapa dengan apa yang telah pria itu lakukan terhadap dirinya.


Nyatanya Mona merasakan apa yang sedang di raskan oleh pria tampan tersebut di abaikan dalam perasaan yang dalam.


" Mona !" Panggil pria itu dengan serak.


Mona menoleh kembali,tak kuasa jika ia harus mengabaikan perasaan pria itu.Namun ia hanya bertekad tak ingin terlihat mengemis sehingga perlu waktu untuk menarik ulur perasaanya.


Tubuh Banny menjulang tinggi di hadapannya dengan menampilkan sorot mata penuh kekecewaan.


Wajah gadis itu menengadah.


" Aku tak akan mengulang untuk meminta.Jika kamu menolakku maka ini terakhir kalinya aku meminta atas perasaanku ini." Ujar Banny menatap dengan begitu dalam.Sorot matanya penuh keseriusan.


Mona menghebuskan napasnya dengan kasar,mencoba mengurai sesak yang menghimpit dada.


Kenapa harus sedilema ini dalam menerima perasaan itu ?


Bukankan saat-saat seperti ini yang selalu di mimipkannya di siang bolong ?


lalu kenapa ketika ini terjadi justru hatinya mulai meragu.


Ahh plisss Mona lo jangan so jaim !!


Katakan jika lo mencintainya juga,plis,pliss !!


Rutuk batin gadis itu terlihat begitu kacau.


Mona tau ini rasanya akan terluka dalam jika pria itu berubah pikiran.


Tapi entah kenapa nalurinya berkata lain,jika pria itu harus mengalami bagaimana rasanya berusaha menyakinkan dirinya dan tak semudah itu juga pria itu harus mendapatkan hatinya yang telah lama mendambakan kejujuran dari perasaan pria itu.


Bibir Banny tergerak untuk bicara kembali,namun dengan cepat Mona menggerakan tangan ke bibirny,menyuruhnya Banny untuk diam.


" Aku hanya perlu waktu untuk memastikan perasaan ini." Ungkapnya pelan namun begitu lirih.


Mona menunduk dengan berbagai perasaan yang mencekam perasaannya.


Demi Allah gue harus berusaha bersikap tegar dan so jaim !!


Ratapnya dengan tersenyum pahit.


Ia berusaha mengatur intonasi yang cukup setenang mungkin agar dirinya terlihat baik-baik saja.


Banny menatap sendu.Kilatan luka dan kecewa melebur jadi satu.Inginnya Banny memohon atas perasaanya itu namun Mona yakin jika Banny bukan sosok pria seperti yang ia pikirkan.


" Baiklah !!" Balas Banny dengan datar.Ucapannya seperti tak sungguh-sungguh namun matanya berbicara lain seakan-akan justru sedang menuduh bahwa gadis itu sedang menghindar dari perasaan yang sebenarnya.


Dan sorot mata pria itu mengisyaratkan lain terhadap gadis itu untuk tetap berada di sisinya.


Mona melangkah menuju tempat tidurnya meninggalkan pria itu yang tercenung dengan perasaan kecewanya.


Kecewa atas sikap yang di tunjukan gadis itu terhadap dirinya meragukan atas perasaanya.Dan menghindari atas rasa yang terdalam untuknya.


Banny menghela napas panjang lalu melipatkan bibirnya menatap jauh ke langit sudut kota yang berhiaskan kerlip bintang yang bertaburan.


Ternyata tak semudah apa yang di bayangkannya atas sosok seorang Mona yang telah berani mengabaikan perasaanya.


Padahal dalam kenyataanya dia yakin jika gadis itu benar-benar sangat mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2