
TIGA gelas minuman bersoda tersaji melengkapi menu makanan yang telah di pesan Mona dan ke dua sahabatnya tersebut.Berkumpul dengan kedua sahabatnya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Mona untuk membuatnya terasa lebih tenang dan nyaman di kala dia sedang merasa kondisinya tidak baik-baik saja.
Meski terlihat begitu akrab tapi hati dan pikiran Mona sedang tak ada bersamanya,pikirannya masih berputar jauh akan tentang permasalahan yang sedang menderanya.
Sepele memang,namun hal ini tidak bisa begitu saja di terima di hatinya,Mona belum bisa sanggup menegaskan jika di antara Banny dan sekertarisnya itu benar-benar tak ada hubungan yang spesial apapun.
Mona terlihat tidak berselera untuk menikmati makanan yang telah di pesannya,meski dia sudah memesan makanan favoritnya namun kali ini seleranya menolak untuk menikmatinya.
Amel yang sedari tadi menyaksikan perubahan raut wajah sahabatnya tersebut merasa heran dan penasaran atas apa yang sedang terjadi pada sahabatnya tersebut.
Amel perlahan menyikut perut ramping Tamara yang duduk tak jauh darinya.
Merasa ada yang menyikut Tamara menoleh ke arah Amel dengan ekspresi tidak mengenakan.Matanya melotot seolah-olah dia bertanya atas apa yang di lakukan Amel terhadap dirinya,sementara di mulutnya penuh dengan mie spagety kesukaanya.
Amel melirikan matanya ke arah Mona dengan penuh isyarat,Tamara pun dengan cepat mengeser pandangannya mengikuti apa yang di isyaratkan oleh Amel.Tamara menatap lurus ke arah wajah Mona.
" Lo kenapa Mon ? " Tanya Tamara tanpa basa-basi.
Mona menggeserkan bola matanya menatap Tamara hanya dengan ujung matanya saja.
" Lo ada masalah ?" Tanya Amel menimpali.
Mona menghela napas dengan masih memutar-mutar garpunya dengan tanpa arah.
Amel dan Tamara saling melempar tatapan satu sama lain dengan ekspresi bingung.
" Elo gak lagi masuk angin kan ? atau mules ??" Tanya Amel dengan kedua alisnya terangkat tinggi.
Mona menatap sahabatnya itu tanpa ekspresi.
" Tenang,gue selalu bawa minyak kayu putih kemana pun pergi kok bebs, kalau elo masuk angin lagi mah gue kasih deh ama botol-botolnya buat lo setok." Timpal Tamara dengan begitu polosnya.
Bibir mungil Mona mengerucut membentuk segitiga sama kaki.
" Kenapa sih bos kalian itu sebegitu pedulinya terhadap sekertaris cantik itu?." Jawab Mona dengan nada bicara begitu terdengar sangat kesal.
Amel dan Tamara kembali saling berpandangan satu sama lain,kini ekspresinya semakin terlihat kebingungan.
" Maksud elo si Arnetta ??kenapa lagi dia ?dia cari perhatian lagi sama pak bos ??" Tanya Amel memberondong Mona dengan berbagai pertanyaan.
Bola mata Mona memutar keras dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
" Yahh begitulah,siapa lagi kalau bukan sekertaris cantikk itu." Jawab Mona ketus,nada bicaranya terkesan menyindir.
" Arnetta maksudnya ?" Tamara menimpali dengan menyuapkan kembali gumpalan mie spageti ke mulutnya.
Amel menarik napas panjang sesaat melihat sikap telat mikirnya Tamara Angot kembali.
" Tamara !! yaa siapa lagi ?? kita kan emang lagi ngebahas si Arnetta bukan nenek lo !" Jawab Amel mulai kesal.
" Oh !" Jawab Tamara dengan enteng.Mona melengos melihat kedua karakter sahabatnya yang begitu sangat kontras.
" Gue heran deh lama-lama,kayanya pak Banny emang gak bisa nolak jika cewek itu minta tolong sama dia." Gerutu Amel dengan nada jengkel.
" Itulah yang sedang gue pikirkan." Sela Mona cepat.
" Oh,jadi dari tadi lo muter-muterin tuh garpu ampe balet tuh garpu sedang mikirin sekertarisnya pak bos." Celetuk Tamara kian polos.
Mona mengernyit dengan sebal mendengar ucapan salah satu sahabatnya tersebut.
" Yang sedang gue pikirkan itu bukan sekertarisnya bos lo,tapi sikap bos lo itu yang selalu patuh atas permintaan sekertarisnya." Jelas Mona mulai snewen dengan sikap lugunya Tamara.
" Gue rasa lo ngobrol ama taplak meja aja deh Tam !!" Tambah Amel tak kalah ikut kesal.
Tamara terlihat cengengesan melihat ke geraman kedua sahabatnya.
" Gue rasa itu hanya sekedar sikap kefropesionalan aja kali Mon,antara sekertaris sama bos." Tambah Amel menambahkan kembali.
" Seperti halnya dulu ketika lo jadi sekertarisnya pak bos.Pak bos perhatiann juga kan sama lo?" Tamara menimpali,kali ini ia berkomentar mulai di satu jalur.
Amel dan Mona saling bertatapan satu sama lain.
" Nahh itu artinya pak bos juga memiliki kesempatan memiliki hubungan spesial dengan tuh sekertaris." kembali Tamara nyeletuk dengan tanpa beban.
Uhukkk..........
Amel terbatuk setelah mendengar omongan sahabatnya itu.Ia yang sedang menyantap makanannya terlihat kesusahan untuk menelan makanan tersebut.
Mata belo Mona membesar menatap penuh dendam ke arah Tamara.
Amel menginjak repleks kaki sahabatnya itu.
" Aww !! " Pekik Tamara cukup keras.
" Elo gak usah berasumsi yang aneh-aneh,jelas itu pembunuhan harapan !!" Ucap Amel menggertak Tamara.
Tamara terlihat terkejut atas sikapnya Amel.
" Kok elo nginjak kaki gue ???ada yang salah apa ?" Tanya Tamara mendilak.
" Ucapan lo yang salah." Balas Amel sengit.
" Tapi bener kan bebs,awalnya dari rasa kefropesionalan ,lama-lama akan berujung pada kesimpatikan dan bermuara pada rasa yang spesial.nih korbannya masih idup." Ucap Tamara menunjuk ke arah Mona dengan mulutnya yang lancip.
" Elo berharap pak bos selingkuh gitu ?" Sela Amel dengan cepat.
" Engga juga bebs ,!" Tamara menimpali.
" Gue rasa mereka memang ada sesuatu hal yang spesial di antara mereka." Ucap Mona dengan raut wajah murung.
" Elo udah yakin dengan apa yang lo ucapkan itu? " Tanya Amel berusaha untuk mematahkan asumsi sahabatnya tersebut.
" Kalau tidak ada apa-apa di antara mereka,lantas kenapa mas Banny begitu peduli terjadap Arnetta,tentu saja ini bukan sekedar ke fropesionalan pekerjaan saja Mel,tentunya mereka memiliki perasaan satu sama lain." Jelas Mona dengan perasaan tak menentu.
" Elo udah tanya baik-baik akan permasalahan ini sama pak bos." Tanya Amel cemas.
__ADS_1
" Ya elahh mana ada sih maling ngaku." Tamara menimpali.
Mata Amel membulat sempurna ketika mendengar celetukannya Tamara.
" Jangan sampe piring ini melayang ke muka lo !" Gertak Amel dengan kesal.
" Kaya UPO aja melayang." Balas Tamara cengengesan.
Susana terasa hangat meski ke adaan hati Mona sedang tak menentu,namun atas kehadiran kedua sahabatnya tersebut menjadi warna tersendiri bagi kehidupnya Mona.
" Mas Banny selalu menjawab,bahwa dia hanya peduli saja,selayaknya bos sama bawahannya,dan jawaban itu tidak bisa di ganggu gugat." Balas Mona menegaskan.
" Dan elo percaya ?" Tamara kembali menimpali.
Amel melirik dengan judes ke arah tamara.
Mona menggeleng tak pasti.
" Jadi apa yang di bicarakan cewek-cewek laknat itu selama ini benar adanya jika pak bos ada some thing spesial dengan cewek so cantik itu." Tanya Amel dengan nada kesal.
" Buktinya semalam mas Banny pulang hingga larut malam hanya untuk menjemput Arnetta dari rumah sakit,dan lebih parahnya lagi,dia ada makan malam bersama keluarganya tuh cewek.Kan ngeselin Mel." Ucap Mona dengan mulai merengek bak anak kecil.
" Oh my god !!" Seru Tamara berserta Amel kompak mulut mereka terlihat menganga lebar.
Mereka nyaris tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Seriuss lo Mon ??sampe segitunya ??" Tanya Amel dengan tak percaya.
" Kapan gue berkata tidak benar kepada kalian ?" Tanya balik Mona dengan raut wajah begitu berat.
Amel menatap lepas ke arah Tamara.
Tamara menggeleng dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
" Kacau itu,kacau !!" Rutuk Tamara dengan ekspresi super lebay.
" Sepeduli itu pak bos ama tuh cewek ? benar-benar tak bisa di biarkan.Bisa jadi kan mereka memang memiliki hubungan spesial Mon,nyatanya pak Banny begitu peduli nya hingga bela-belain jemput cewek itu dari rumah sakit,memangnya siapanya dia ??" Amel kembali menggerutu dengan perasaan jengkel.
" Dia sekertarisnya pak Bos mel !" Sela Tamara dengan gaya memberi tahu.
Amel kembali menoleh sahabatanya itu dengan sentimen.
" Sejagad raya juga tau,jika cewek itu sekertarisnya pak Banny Tamara! yang gue pertanyakan itu ada hubungan apa antara tuh cewek dengan pak bos hingga pak bos bela-belain jemput dia ke rumah sakit." Amel terlihat begitu emosi menghadapi sikap ceplas ceplosnya Tamara.
Tamara terdiam,kedua alisnya terlihat turun naik.
" Gue rasa mereka benar-benar CLBK,seperti apa yang elo omongin jika dulu pak bos sempat dekat dengan tuh cewek,jadi siapa tahu sekarang mereka bersatu kembali." Ujar Tamara menduga-duga.
Amel menghela,begitu jauh pikiran sahabatnya ini hingga menuding atasannya itu CLBK dengan sekertarisnya.
Mona tercekat setelah mendengar ucapan dari salah satu sahabatnya tersebut.
Kenapa tidak jika asumsi Tamara memang ada benarnya jika Banny CLBK dengan sekertarisnya itu.
" Mel !!" Panggil Mona denga. lirih.
" Ah elo,udah kaya ahli tarot aja,sedalam-dalamnya lautan masih bisa di selami,lah hati ??sedangkal dangkalnya hati mana ada yang bisa menyelami." Sergah Tamara dengan so bijak.
Mona tersenyum tipis mendengar penuturan salah satu sahabatnya tersebut,kurasa otak Tamara lagi lempeng hingga bisa berbicara dengan beitu bijaknya.
" Kali ini gue setuju dengan petuah bu Tamara." Mona menimpali,meski ekspresi wajahnya masih menyisakan keresahan.
Amel melengos menatap kesal ke arah tempat lain.
" Gue jujur aja gak bisa berenang !!" ucap Amel menoleh kembali Tamara dan Mona.
Mona beserta Tamara kali ini bertatapan satu sama lain.
" Berenang ...??" Ucap Tamara heran sekaligus tidak mengerti apa yang di katakan Amel.
" Yang ngebahas berenang siapa sih Mel ?" Tanya lagi Tamara dengan begitu heran.
" Kata elo tadi nyelemin lautan,boro-boro nyelam,gue berenang aja masih di bantu ban pelampung,apa lagi buat nyelam." Jawan Amel dengan spontanitas.
" Oh my GOD Amel,itu cuman pribahasa doang mel,yang benar aja lo mau nyelemin tuh lautan.Artian dari pribahasa gue tuh,kita gak akan pernah bisa nebak isi hati seseorang." Jelas Tamara terlihat jengkel.
Amel terlihat terkekeh melihat sikap Tamara.
" Kok elo malah ketawa. ? gue lucu ?" tanya Tamara dengan nada kesal.
" Gak elo doang kan yang bisa gak nyambung kalau di ajak ngomong,gue juga bisa ! emang enak loh kalau ngomong gak nyambung,elo baru sekali aja udah kesel gitu,apa kabar dengan gue yang tiap detiknya ngadepin sikap lo yang gak pernah nyambung." Ujar Amel dengan masih tertawa keras.
Mona nyaris tertawa lebar melihat kelakuan kedua sahabatnya tersebut.
Tamara menggeleng dengan raut wajah merengut.
" Tapi felling gue emang ngerasa jika pak Bos itu bukan tife laki-laki seperti itu, yang mudah melahirkan perasaan lama terlahir kembali." Ucap Amel berusaha menyakinkan hatinya Mona.
" Itu kan hanya sebuah felling saja,toh pada kenyataanya bisa bertolak belakang dengan sebuah perkiraan." bantah Tamara semakin jadi.
" Jadi menurut elo pak Banny CLBK ??" tanya Amel menatap serius.
" Ini sebenarnya hanya prasangka kita saja,semua belum tau akan kebenarannya,yaah kita lihat saja kedepannya gimana tuh Bos ama sekertarisnya." Balas Tamara dengan jawaban yang semkinbijak.
" Sepertinya mie spagety ini sedikit mengubah arah otak lo." Guman Amel setengah berbisik.
Mona tersenyum lebar melihat tingkah hebatnya kedua sahabatnya itu,persahabatan yang begitu unik.
" Ini terlalu bertele-tele !" Ucap Amel seraya menyuapkan sisa makananya.
" Jika terlalu to the point kelar ceritanya." Sela lagi Tamara nyeletuk.
Alis tebal Amel terangkat satu lalu menatap Tamara dengan sakarstik.
" Kenapa ??ada yang salah lagi dengan ucapan gue " Tanya Tamara menunjukan jari telunjuknya ke arag wajahnya sendiri.
__ADS_1
Amel menggeleng lalu mengangkat tinggi kedua bahunya.
Mona mencoba melanjutkan selera makannya yang patah,perasaanya masih terganjal akan sikap Banny terhadap sekertarisnya tersebut.
" Udah sore pulang yuk !" Ajak Amel seraya menilik jam yang melingkar di tangan gempalnya.
" Sepertinya gue malas sekali untuk pulang." Jawab Mona dengan sikap acuh.
Amel dan Tamara saling berpandangan.
" Gue Malas harus membahas masalah ini lagi dengan mas Banny,tentunya gue belum bisa menghilangkan perasaan kesal ini gue ini." Ucap Mona seraya menyeruput minuman bersodanya tersebut.
" Itu artinya lo cemburu kan sama cewek itu ?" Ucap Amel menimpali.
Mona tidak menjawab dia hanya mengekspresikan perasaanya lewat bibirnya yang terkatup rapat.
" Udahlah... slow aja !! nanti kebenaran akan teungkap juga,yaah jika kenyataanya mereka saling memiliki perasaan satu sama lain,lo siap-siap mundur alon-alon." Ucap Amel kembali menuangkan perasaanya untuk sahabatanya tersebut agar tidak terlalu risau dalam menghadapi permasalahan rumah tangganya.
" Kaya lirik lagu Mel,mundur alon-alon." Tamara menimpali.
Amel hanya tersenyum kecut ketika Tamara kembali meledeknya.
" Enak banget,,, gue harus mundur alon-alon.Emangnya perasaan gue terbuat dari adonan bisa di bentuk bentuk sesuai cetakann." Guman Mona dengan kesal.
" Jodoh itu tak akan kemana Mon,percayalah !! jika jodoh,yang jauh merapat yang dekat makin rapat." Seloroh Amel dengan tertawa ringan.
" Elo kaya jualan obat Mel !" Sela Tamara pelan.
" Nah gue salah lagi,itu kan pribahasa Tam,lo aja tadi buat pribahas,yaa gue buat tandingannya lah." Balas Amel dengan sedikit ngegas.
Tamara hanya memesem dengaan raut wajah tertekuk.
" Lo yang nyetir ya Tam !" Ucap Amel seraya melempar kunci mobilnya ke arah Tamara.
" Loh kok gue yang jadi sopir." Jawab Tamara heran.
" Gue kalau kenyang males bawa mobil,gak fokus gue,alias ngantuk." jelas Amel seraya bangkit dari tempat duduknya.
" Makanya lo diet biar gak habis makan ngantuk mulu." Sela Tamara seraya menyambar kunci mobil tersebut.
" Ya udah gue ke kasir dulu ya Mel,Tam,sekalian gue ke toilet." Ucap Mona seraya berdiri.
" Bayarin aja dulu semuanya ya Mon !" seru Tamara cukup kerasa.
Mona mendengus.
" Kali ini gue yang bayarin dah,ga usah di ganti." Ucap Mona menyambar tasnya.
" Sip lah !!" Jawab mereka kompak.
Amel dan Tamara terlihat tertawa bahagia lalu mereka pun berjalan menuju tempat parkiran mobil.
Tak berapa lama.....
" Mas,total pesanan saya berapa ?" tanya Mona sambil menatap pria kasir tersebut.
" Meja berapa mbak ?" Tanya kasir tersebut ramah.
" 23 " jawab Mona singkat.
Tak lama pria kasir itu mengecek beberapa nota yang tersedia di meja kasirnya.
" Ini mbak,Totalnya 227.000." Jawab pria kasir itu menyebutkan nominal harga dari pesanannya Mona.
" Ok !" Jawab Mona singkat.
Mona merogoh sebuah dompet di dalam tasnya lalu membuka dompet tersebut.
Mata Mona sedikit membulat ketika mengetahui dompetnya tak berisikan uang.
" Kok gada duitnya ?" Guman Mona pelan.
" Hmm bentar mas,saya cek dompet saya dulu." Pinta Mona saat melihat kasir itu sedang menunggunya.Sang kasir hanya mengangguk dengan penuh hormat.
" Waduhh duit gue kok gak ada !" Mona semakin panik.
Ia mencoba mencari kartu ATMnya dan berniat akan membayar makannya tersebut secara debit.
yaa TUHAN.....
sepertinya gue salah bawa dompet !!" Rutuk Mona membatin.
wajahnya berubah pucat setelah ia semakin yakin jika dirinya salah membawa dompet.
Isi domper tersebut hanya ada uang recehan dan struk-struk belanjaan.
" Mas,sebentar ya,saya panggil dulu teman saya,soalnya dompet saya tertinggal." Ucap Mona dengan wajah kian memias menahan rasa malu.
Sang kasir Restoran tersebut terlihat menatap curiga.
" Teman mbaknya dimana ?" tanya kasir itu dengan penuh selidik.
" Tenang saja mas saya pasti bayar kok,soalnya teman saya sudah ke parkiran ." Ucap Mona berusaha tenang,ia tidak mau sang kasir tersebut beranggapan buruk terhadapnya.
Mona melihat jika sang kasir tersebut mulai terlihat memasang wajah tidak enak terhadapnya.
Matii guee !! kalau si Amel ga bawa duit juga bisa-bisa gue cuci piring disini.Rutuk Mona dalam batinnya kian meracau.
Di tengah-tengah kepanikannya Mona terlihat untuk tetep terlihat tenang.
" Berapa mas total smuanya ?"
Tiba-tiba suara Maskulin seorang pria meyela dari arah belakang Mona.
Mona dengan cepat menoleh ke arah asal suara tersebut.
__ADS_1
Mona begitu sangat terkejut setelah tau siapa pemilik suara tersebut.