CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH Episode 211


__ADS_3

MONA menatap sepi ruangan kamarnya yang telah lama ia tinggalkan,dimana ruangan itu salah tempat yang paling istimewa untuk dirinya melepas semua kesedihannya setelah tempat kosan salah sahabatnya,dulu di ruangan ini ada gelak tawa canda kedua sahahatnya yang selalu ada menemaninya hingga tak lupa waktu.


Kini semuanya terasa berbeda semenjak ia menikah dengan seorang Banny,ruangan kamar ini nyaris tak di huni lagi olehnya,melewatkan segala kenangan bersama kedua sahabatnya yang begitu sholid.


Kini dia kembali merindukan suasana yang tak akan pernah bisa kembali dalam bentuk apapun,canda tawa itu seakan memoles cantik kerinduan tentang dirinya dimasa lalu,dimana masa-masa itu ia tidak pernah mau mengenal sebuah perasaan tentang cinta,yaa cinta perasaan yang kini telah menghancurkan segala harapan serta perasaan nya,rasa cinta itu telah meninggalkan kesan yang perih di hatinya.


Mona tersenyum pahit,apa yang di takutkannya selama ini justru tengah di jalaninya perpisahan karena perceraian menyisakan duka yang begitu dalam.


Jika dulu ia bermimpi bahagia tanpa seorang pria,justru kini di hancur oleh sosoknya yang selama ini ia agungkan.


Mona menarik napas ia berusaha untuk menenangkan dirinya.


Apa yang terjadi kepada orang tuanya justru tertimpa kepadanya.


Perceraian itu tak bisa di hindari kenyataan yang begitu pahit.


Ting


Sebuah nada pesan masuk ke ponselnya membuyarkan semua lamunannya.


Mona melihat notifikasi chat di Hpnya,pesan itu masuk di Group Sambel dower yang berisikan dirinya dan kedua sahabatnya.


[ Ngumpul yuk ! ]


Amel terlihat nge WA terlebih dahulu.


[ Dimana ?] Tamara menimpali tak lama.


[ Di tempat biasa lah,emang ada tempat baru yang lebih asik dari tempat nongkrong kita itu.?] Amel menimpali.


[ Mona,Mona ]


Panggil Amel membuat Hp Mona berisik seketika.


[ Gue hadir !] Mona menimpali dengan singkat.


[ Kumpul di tempat biasa ?? bukannya itu dekat kantor masa lalunya bu Mona.]


sambung Tamara dengan memberi emot penuh lelucon.


[ SUE kau Tamara !!]


Mona mengumpat kesal memberi emot murka.


Tak lama kedua sahabatnya memberi emot tertawa.


[ Gue tunggu kalian di rumah nenek gue.]


Mona membalas.


[ Gila !! Itu jauh bebs] sanggah Amel cepat.


[ Buat apa punya mobil jika lo gak pake.] balas Mona cemberut.


[ Cari waktu yang pas Mon.] tambah Amel.


[ Gak mau tau.] balas Mona singkat.


[ Ah elo gak lucu Mon.] Amel menggerutu.


[ Katanya bestie forever ?? masa ke kesini aja elo gak bisa.]


Mona membalas dengan emot kesal.


[ Ok gue skejulkan.] balas Amel tenang.


[ Sekarang lah bebs.] paksa Mona.


[ Astaga nih anak kalau udah ada maunya sulit di kendalika n.] Amel membalas tak kalah kesal.


[ Eh ada kabar yang mengemparkan di kantor gue.]


Tamara menyela.


[ Ah paling-paling bos lo ngadain saembara,bagi siapapun yang melihat istri saya,saya kasih imbalan duit 100 juta.] Amel terkekeh.


[ Gue kasih ujuk langsung kalau imbalannya duit segitu.] balas Tamara semangat.


[ Elo tega mempertaruhkan keberadaan gue demi duit 100 juta.] Mona memberi emot marah.


[ Haaa haaa kapan lagi.] Tamara tertawa lebar.


[ sahabat macam apa kau !] umpat Mona kesal.


[ So !! Kita kumpul dimana ?] tanya kembali Amel.


[ Ada tempat baru yang begitu pas buat kita nongkrong,kali ini gue traktir.Nanti gue kirim alamatnya dan Google-map nya.] balas Mona.


[ Waao sepertinya ada perayaan nih,ada acara traktir.Gue pastikan tidak akan datang terlambat.] lanjut Tamara di akhiri emot tertawa senang.


[ Pastinya begitu ya lo,dimana ada gula di situ ada semut,dimana ada traktiran di sana pasti elo nangkring paling depan.] Amel menimpali dengan di akhiri emot sebal.


Tamara hanya membalas emot menari.


[ Ok kalian WA gue kalau sudah siap.] ujar Mona mengakhiri chatannya.


[ Sekarang Mon ?] tanya Amel kaget.


[ Ya !! gue tunggu !!] balas kembali Mona singkat dan padat.


Mereka hanya membalas Ok tanpa ada pembicaraan lain.


 


Sesampainya di tempat yang sudah di tentukan oleh Mona,kedua sahabat Mona nampak mencari-cari keberadaan Mona dimana,mereka mengedarkan seluruh pandangannya ke tempat tersebut.Dari luar tempat tersebut nampak begitu sangat sederhana bahkan terbilang cukup biasa saja.


" Nih anak gak salah pilih tempat ?" tanya Amel seraya terus menyisisir keberadaan sahabatnya tersebut.


" Google-map gak salah nunjukin nih ?" Tamara menimpali seraya ikut mengamati tempat tersebut.


Setelah memarkirkan mobilnya dan di rasa cukup aman akan kendaraanya Amel pun segera bergegas turun dari mobil tersebut lalu mengecek kembali ke layar ponselnya akan tempat tersebut.


Selintas bangunan itu tidak seperti caffe-caffe pada umumnya,atau mungkin tempat-tempat nongkrong lainnya,lebih ke Restoran yang begitu sederhana.


Dengan rasa penasaran akhirnya Amel dan Tamara berusaha untuk masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


" Kok sepi sih Mel ?" tanya lagi Tamara kian ragu.


" Apa kita salah tempat." lagi-lagi Amel memeriksa kedalam layar ponselnya memeriksa alamat yang di kirim Mona beberapa jam yang lalu.


" Tapi bener kok ini nama tempatnya." jelas Amel.


Mereka pun perlahan berjalan menuju pintu ruangan tersebut.


Amel dan Tamara mengamati ke seluruh pelosok area tersebut,mereka terpana setelah melihat area dalam ruangan tersebut,viewnya terlihat begitu estetik,sekilas tempat itu memang terbilang biasa saja namun setelah memasuki ruangan demi ruangan netra mereka di kejutkan dengan penataan serta desain ruang itu yang begitu natural dan terkesan sangat sederhana,ada daya tarik tersendiri ketika melihat ke adaan ruangan tersebut hingga mata mereka begitu di manjakan dengan dekorasi yang begitu alami,Nuasa alam yang begitu kontras dengan hingar bingar kota tersebut.


" Waaa keren bangett ini tempat." decak kagum Tamara dengan tak henti-hentinya mengedarkan padangannya tersebut,ternyata bimsalabim adakadabra....!! Ruangan itu justru di penuhi banyak pengunjung yang sedang asyik menikmati hidangannya bahkan ada di antaranya menikmati obrolan panjang tentang cerita hidup yang terjadi di setiap hari-harinya mereka.


" Gila pengunjungnya ramee bener,tapi mereka parkir kendaraanya dimana,perasaan tadi sepi-sepi ajah tuh di parkiran." guman Amel clingukan.


" Asik bener nih tempat !" puji Amel kembali dengan terkagum-kagum.


" Huh tapi Perjalanan yang cukup membuat kaki gue pegel." gerutu Tamara seraya menjinjit-jinjitkan kakinya.


" Cuman duduk manis doang aja elo pake pegel segala." balas Amel terlihat menyindir.


" Asli kaki gue pegel banget." Tamara memelas.


" Tapi ngomong-ngomong si Mona mana sih ?" gerutu Amel seraya menyimpan ponselnya ke dalam tasnya.


Tak berapa lama Mona terlihat melenggang berjalan medekati mereka.


" Hai bebs !!" serunya dengan semeringah.


" Gila perjalan menuju lo sangat jauh banget bebs." guman Amel sedikit kesal.


" Itu belum seberapa di banding perjalanan keluar negri !!" kilah Mona tertawa kecil.


" Kita bela-belain nyamperin elo loh !!" ujar Tamara.


" Thank's ya atas pengorbanannya kalian I love you.hehe " ucap Mona terkekeh.


Kedua sahabatnya melengos.


" Tapi pegal gue terobati sih dengan nuansa tempat ini,benar benar menarik." sela Tamara berseru.


" Keren kan tempatnya ?" ujar Mona seraya melempar jauh pandangannya keseluruh ruangan tersebut.


" Asli keren,tapi kok gue heran banyak pengunjung begini memangnya gak pada bawa kendaraan ?? di luar parkiran sana perasaan gak terlalu banyak kendaraan.


" Kalian salah ambil pintu,pintu utama disana,lo berdua masuk lewat pintu belakang,itu kan parkiran cadangan jika di depan pinuh yaa otomatis belakang solusinya." jelas Mona ceria.


" Oalaahh pantesaann gue pikir kita nyasar !" tambah Tamara garuk-garuk.


" Jadi ini tempat baru tongkrongan lo !" ucap Amel.


" Engga juga sih,gue juga baru kedua kalinya kesini,hanya kebetulan saja." balas Mona seraya berjalan ke arah tempat duduk yang sudah dia pesan.Kedua sahabatnya berjalan mengekor di belakangnya.


Tamara terlihat terkagum-kagum dengan ke adaan tempat tersebut,nuansa tempat ini tak di dapatinya di ibu kota.


" By the way lo dapat rekomendasi dari siapa bisa dapet tempat sesederhana ini tapi begitu istimewa ?" tanya Amel seraya duduk.


" Dua hari yang lalu gue habis ketemuan dengan Yola." ucap Mona.


" Yola ?? " Amel mengernyit.


" Marisa ,?? " lagi-lagi Amel mengernyit.


" Iya Marisa,cewek model yang simpenannya pak Ruslan." jelas kembali Mona dengan sabar.


" Pak Ruslan ?? " kembali Amel mengernyit pikirannya mencoba mengingat-ngingat sesuatu.


Mona terhenti lalu raut wajahnya berubah jengkel sabarnya mulai terbatas.


" Elo jangan minta gue untuk ngejelasin siapa pak Ruslan !!" gerutu Mona habis kesabaranyaa..


Sejenak Amel terlihat mengingat-ngingat sesuatu dengan wajah tanpa dosa.


Tamara hanya menyimak obrolan mereka,karena dirinya berteman dengan Mona dan Amel setelah bekerja.


" Oh ya ya,,Pak Ruslan yang anggota Dewan itu ya ??? yang gagal nyaleg." seru Amel barbar.Nada suaranya cukup terdengar meninggi sehingga berhasil membuat para pengunjung yang lain tersita akan perhatiannya.


" Elo gak usah di perjelas,nanti kedengeran orang gak enak." desis Mona setengah berbisik,Amel menutup mulutnya dengan repleks.


" Terus,terus ngapain tuh si Yola ketemu sama elo ?" tanya Amel memelankan suaranya.


" Sekarang dia kan udah jadi Dokter Mel,dan dia menawari gue sebuah pekerjaan." terang Mona.


Kedua alis Amel terangkat tinggi menatap penuh tanya.


" Pekerjaan ?? Tapi kok lo bisa ketemuan sama dia gimana ceritanya ?? " tanya Amel penasaran.


" Eh sebaiknya pesan dulu makan deh ! perut gue udah teriak-teriak nih." Tamara menyela dengan mengelus-ngelus perut rampingnya.


Amel melirik keki ke arah Tamara yang setiap kali nongkrong bersamanya selalu menjadi si paling lapar.


" Eh iya gue lupa !" ucap Mona tertawa tipis.


" Abis menempuh perjalanan jauh gue nih." sambung Tamara cuek.


Mona memanggil seoarng pelayan,lalu memesan salah satu menu yang menjadi pavorit di tempat tersebut.


" Si Yola ada nge Dm gue Mel,kebetulan gue berteman sama dia di Istragram,entah ada angin apa tiba-tiba dia nge Dm gue dan nyain kabar gue,yaa gue balas aja." terang Mona.


" Terus elo terima tawaran pekerjaannya dia ?" tanya Amel antusias.


" Yah dari pada gue nganggur kan apa salahnya gue terima tawaran dia." balas Mona santai.


" Iya sih,nganggur itu gak enak,gue juga belum ada kerjaan lagi." guman Amel sedih.


" Kalau mau lo bisa kok Mel balik lagi ke kantor Pak Bos," sela Tamara enteng.


" Tidak !!! Harga diri mau di kemanain !! " balas Amel ketus.


" Dari pada elo nganggur !! " sela Tamara.


" Mendingan gue nganggur." balas Amel sengit.


" Lah kata elo tadi bilang,nganggur itu gak enak,gimana sih." celoteh Tamara dengan polos.


Bola mata Amel membulat,selalu ada perselisihan di antara mereka jika tengah berkumpul,tapi ada benarnya juga sih ucapannya sibTamara,Amel membatin dia terjebak dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


Mona menatap lucu ke arah kedua sahabatnya tersebut dimana mereka jika berkumpul selalu beda pendapat.Itulah sebabnya dia selalu merindukan sosok kedua sahabatnya,meski mereka seperti api dan air yang selalu bertentangan tetapi mereka selalu kompak dan selalu ada untuk dirinya.


" Ya kan ??" tanya Tamara kembali memaksa Amel untuk menyetujui perkataanya.Amel terdiam dengan raut wajah cemberut.


" Kalau sekelas sultan mau nganggur sampe lebaran monyet pun gak masalah,lah kita nganggur berabad-abad wasalam,kita gak makan harga diri,makan nasi." guman lagi Tamara dengan sok bijak.


Amel mendecih melihat sikap sahabatnya tersebut.


" Gampang gue bisa cari kerjaan yang lebih baik dari ini,emang gak kaya elo,lo milih-milih kalau cari kerjaan." balas Amel tak mau kalah.


" Udah deh,udah !! Kalian kalau ketemu pasti kaya kucing dan anjing." sela Mona melerai.


" Tapi kita masih kompak kan,iya gak Mel ??" sela Tamara seraya menggerak-gerakan kedua alisnya dengan lincah.


Amel melengos dengan sebal.


" Eh,by the way lo katanya ada kabar yang menggemparkan di kantor lo,kabar apa ?" tanya Mona mengalihkan topik pembicaraan.


Tak lama makanan pesanan mereka datang.


" Cie cieee.. ! rupanya lo penasaran yahhh dengan kabar dari gue." ujar Tamara meledek Mona.


Sontak Mona melengos dengan raut wajah menahan rasa malu atas candaanya Tamara.


" Gue nanya kabar itu bukan berarti gue nanyain kabar bos lo ya !!" desis Mona kesal.


Tamara tertawa kecil dengan menatap penuh arti ke arah sahabatnya tersebut.


" Pak bos kemaren di rawat di rumah sakit." ujar Tamara nyeletuk.


" Kenapa ?" sontak Mona terkejut mendengarnya.


Ia repleks bertanya dengan nada khawatir.


Tamara tersenyum-senyum penuh arti.


" Ciee yang khawatir ,," godanya dengan mesem-mesem.


Mona terdiam dengan raut wajah tak enak hati,entah kenapa perasaan repleks mendengar Banny di rawat di rumah sakit,rasa khawatir itu masih ada.


" Ehem !!" Amel mendehem dengan mendilak ke arah Tamara.


" Pak bos makan mie kadaluarsa,hehee... Secara istrinya kan sekarang gak ada jadi dia sembarang makan aja,alias gak ada yang masakin." ucap Tamara setengah berbisik.


Mona menghela napas,ia merasa kasian mendengar kondisi Banny saat ini,kepergiannya merubah keadaan hidupnya.


Tapi tidak,ia tidak ingin merasa iba lagi,karena itu hanya akan menganiyaya perasaanya sendiri.


" Gue rasa elo gak perlu iba terhadap pria yang udah ngusir elo,dia harus menikmati resikonya akibat mengusir elo dari kehidupannya." bantah Amel membuyarkan lamunannya Mona.


" Tapi kalian belum berpisah secara resmi kan ?" sela Tamara.


" Kesempatan itu sudah tidak ada lagi." bantah lagi Amel.


" Itu menurut elo,tapi berbeda dengan perasaan nya si Mona, ?" sela Tamara.


" Hanya perempuan bodoh yang terlalu mengemis-ngemis atas nama cinta,dan mempertahankan perasaan yang seharusnya tak di pertahankan lagi." ucap Amel begitu tandas,ia merasa tak gentar jika harus berkata pedas terhadap Mona.


Mona terdiam,perkataan Amel benar-benar menusuk kalbunya.


" Gue tidak akan mempertahankan nya lagi." balas Mona menimpali


" God job !" puji Amel terlihat setuju.


Tamara melengos,dirinya yakin jika di hati Mona sahabatnya itu masih ada perasaan yang begitu besar terhadap sosok Banny.


" Eh elo sebenarnya jadi cerita gak? Malah curhat." gertak Amel ikut kesal.


" Sabar dong besti." goda Tamara semakin menjadi.


Andai jika ada granat di samping Amel mungkin dia sudah melemparnya tepat di hadapan Tamara.Kesalnya mulai naik ke ubun-ubun.


" Hmm kalian pasti syok terus bertanya-tanya jika gue ceritakan kabar ini." imbuh Tamara dengan wajah serius.


" Elo gak usah banyak pantun Tam,buruan elo cerita aja." ujar Amel terlihat gereget.


Tamara tertawa lebar melihat reaksi kedua sahabatnya tersebut.


" Lama-lama gue sop juga nih orang !!" cetus Mona ikut kesal.


Tamara semakin senang melihat kekesalan kedua sahabatnya tersebut.


" Yo wis,yo wis gue cerita nih." ucap Tamara seraya membenarkan poni pendeknya dengan gaya khasnya.


Tamara berdehem lalu membenarkan posisi duduknya,kedua sahabatnya menanggapi dengan penuh rasa sabar padahal keduanya nyaris meletus rasa sabarnya seperti balon hijau.


" Oke !!" ujar Tamara.


" Apa yang ok TAMARA !!" sela Amel geram.


" Ok gue mau cerita maksudnya." balas Tamara tersenyum-senyum genit.


Kesabaran Amel dan Mona mulai meleleh bagaikan es cream yang di simpan di jalan tol yang panas,meski tak sesabar siti Maryam tapi kesabaran mereka cukup di acungi jempo.


" Sekertaris cantiknya bos di pecat !!" ucap Tamara tersenyum bahagia.


Taarrrr


Ada yang meleruss di hatinya Mona mendengar pernyataan salah satu sahabatnya tersebut.


Dengan bersamaan Amel dan Mona saling berpandangan dengan reaksi keras dari satu sama lain.


" Di Pe cat ?" Mona terbata mengulang perktaanya Tamara,ia mendengarnya sungguh tak percaya.


" Ada kasus apa ?? Kok bisa ? " Berondong Amel tak sabar.


" Hmmm,,ada gosip yang begitu hangat yang sedang viral di kantor gue." ucap lagi Tamara dengan begitu antusias.


" Kok lo gak cerita ke gue dulu jika ada gosip secanggih ini." ujar Amel menghalau.


" Yeee gue juga baru tau tadi,pas gue setor laporan barang,bu Silvi bilang jika bu Arnetta yang so cantik itu di pecat bos." balas Tamara sengit.


Mona semakin penasaran,kenapa Banny memecat sekertarisnya tersebut,bukankan Banny selalu membela perempuan itu jika dirinya menyudutkan sekertaris cantik tersebut.


Mona terdiam ia mencoba beropini dengan logikanya.

__ADS_1


__ADS_2