CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CRH Episode 214


__ADS_3

BANNY berjalan memasuki ruangan Apartemennya dengan langkah gontai,meletakan jasnya di atas sopa dengan begitu saja.


Tubuhnya terasa penat,tak ada lagi tegur sapa bahkan sambutan hangat dari seorang perempuan ketika ia tiba di Apartemen nya,semua terasa sepi.


Hingga detik ini ia belum bisa mengetahui keberadaan Mona dimana,usaha pencariannya pun belum membuahkan hasil.


Banny menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan pasrah, menatap jauh ke langit kamarnya,kesepian ini semakin terasa kian mencekam.


Rasa rindu yang begitu membuncah di dalam dada terasa membunuhnya secara perlahan,sosok wanita bernama Mona telah berhasil membuat dunianya kelabu.


sejenak pria dingin berwajah tampan itu melepaskan rasa letih yang mengelayuti pikirannya.


" Mas !" panggil suara lembut memanggilnya secara tiba-tiba.


Banny terperangah ketika mendengar suara lembut memanggil namanya, ia terbagun lalu mengambil posisi duduk matanya mencoba mencari-cari suara sosok perempuan tersebut.


" Mona,kau kah itu ?" serunya dengan tercekat.


" Mona kamu sudah kembali ? " desisnya semeringah,seketika rona wajah sedihnya berubah bahagia.


Entah datangnya darimana,tiba-tiba sosok perempuan itu muncul di hadapan Banny.


" Mas,maafkan aku !" ucap gadis itu seraya berlari kepelukannya.


Dengan sedikit bingung sekaligus heran Banny menatap tak percaya ke arah perempuan yang kini sudah berada di pelukannya.


" Aku minta maaf,aku salah telah meninggalkan mu mas." rengek Mona pilu.


Banny memejamkan matanya,perkataan itu seperti angin segar di tengah kemarau panjang.Rasa bahagia ini tak bisa lagi ia ungkapkan dengan kata-kata.


" Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi." ujar Banny melepaskan rangkulan nya lalu menangkup wajah perempuan tersebut,rasa bahagia itu tak bisa lagi ia pendam,pecahh ketika perempuan yang setengah mati di rindukannya kembali.


Mona membenamkan kepalanya di pelukan pria bertubuh tegap tersebut,merangkulnya kembali dengan penuh hangat.


Banny masih terpaku rasa bahagia itu terasa seperti sebuah mimpi,perempuan ini kembali tanpa harus dia cari.


Bibir pria dingin berwajah tampan itu menyunggingkan senyuman yang begitu hangat,menatap ruangan tersebut dengan rasa bahagia merangkul erat tubuh wanita tersebut dan tak ingin melepaskannya lagi.


Dengan memejamkan mata Banny tersenyum-senyum seorang diri,namun secara bersamaan sayup-sayup seseorang memanggil namanya.


Banny melisik,merasakan kedua pipinya terasa ada yang menepuk-nepuk hingga terasa perih.


Perlahan Banny membuka matanya lalu mempertegas apa yang di rasakannya,matanya penyipit ketika ada sosok bayangan di hadapannya namun tidak begitu jelas,terlihat seperti blurr dan sedikit samar-samar.


Banny mengucek matanya,mencoba memperjelas pandangannya, sosok bayangan itu kini nampak terlihat jelas dimatanya,dan sosok mahluk yang ada di hadapannya itu tengah tersenyum-senyum dengan penuh lelucon,menatap dirinya dengan tatapan lucu.


Sontak Banny tersentak ketika di lihatnya Zeanu,sang sahahat menatap dirinya dengan jarak begitu dekat.


Banny terperanjak lalu mengusap penuh wajahnya dengan kasar.


Banny menghela napas.


" Mona !!" desisnya dengan linglung.


" Gue Zeanu !! Bukan Mona." balas Zeanu tersenyum penuh ledekan.


Banny kembali menghela napas dengan perasaan kecewa.


" Oh my God ,!" pekik Banny menggeleng lemas,rupanya pertemuan itu hanyalah sebuah mimpi yang tak nyata,Mona kembali dengan begitu bahagia kepelukannya tapi semua itu adalah bunga tidurnya.


Zeanu berdiri tepat di sopa tempat Banny tertidur.


" Sial !!" umpat Banny terlihat murka.


Zeanu berpangku tangan seraya menggeleng.


" Gue bermimpi jika dia kembali." guman Banny lirih.


Zeanu mendecih dengan tersenyum sinis.


" Bermimpilah,siapa tahu mimpi lo akan menjadi kenyataan." ujar Zeanu sedikit meledeknya.


" Ini seperti nyata,dia datang memeluk gue dan meminta maaf,dia berjanji tidak akan meninggalkan gue lagi." ujar Banny lirih,sepertinya ia masih terbawa dengan pengaruh mimpinya.


" Semua itu hanya mimpi Ban." decih Zeanu tertawa hambar.


Banny menghela napas panjang,sungguh itu membuatnya semakin depresi,hingga saat ini dirinya belum mendapatkan kabar dimana Mona berada.


Banny menegakan badannya lalu membenarkan posisi baju toxedonya yang mewah.


" Lusa ada proyek baru,apa perusahaan elo masih berminat untuk bekerja sama ?" tanya Zeanu menatap tenang Banny.


" Sepertinya kali ini gue tidak berminat,gue fokus mencari Mona,dan gue berniat mencari dia ke Surabaya." ujar Banny pelan dengan menatap kosong ke arah lain.

__ADS_1


Zeanu mengernyit menatap fesimis.


" Mona pasti kembali kerumah neneknya dan gue akan menjemput dia untuk pulang bersama gue." balas Banny terlihat penuh rasa yakin.


Zeanu menatap kaku sahabatnya tersebut,meski tak seoftimis itu ia berharap Banny tidak menemukan Mona.


Terkesan jahat,namun perlu sedikit pelajaran bagi sahabatnya itu yang selalu bersikap semena-mena.


" Lo yakin jika dia akan bersedia ikut pulang bersama lo ?" tanya Zeanu menatap hampa.


" Gue akan memohon,dan meminta untuk di beri kesempatan sekali lagi." ujar Banny mengalihkan pandangannya ke arah wajah Zeanu.


" Ada hal yang tak bisa ia kembalikan dengan begitu saja." sela Zeanu menimpali dengan suara parau.


Banny menoleh sahabatnya tersebut lalu menyorotinya dengan tak biasa.


" Rasa sakit atas kekecewaan yang begitu dalam,lo tuduh dia berselingkuh hingga lo mengusirnya,lo buat harga dirinya hancur sehancurnya,lalu lo minta maaf dengan begitu saja,lo pikir perkara mudah mengembalikan perasaan wanita jika sudah terluka." imbuh Zeanu pelan.


Banny terpana menatap ke arah Zeanu,pernyataan yang mampu menampar keras hatinya.


Banny tertegun memandangi sepuluh jarinya.


" Apa dia mampu memaafkan lo begitu saja,tanpa melupakan bagaimana perlakuan elo terhadap dia ?" kembali zeanu berucap.Banny tak bergeming membiarkan sahabatnya itu memojokannya.


Zeanu mendecih dengan perasaan hampa.


" Apa reaksi Mona jika dia tau semua ini rencana busuk Arnetta,ucapan maaf saja tak mampu mengembalikan perasaannya menjadi utuh. ." ucap Zeanu dengan suara nyaris tertahan.


Lagi-lagi Banny bungkam menatap sembilu,ia tak mampu lagi berkilah atas kesalahan yang begitu saja ia lakukan kepada Mona.


Tapi bukan berarti ia harus kehilangan kesempatan.


"Cukup !! Elo tidak perlu menambah beban rasa bersalah gue." ucap Banny lirih,suaranya terdengar bergetar.


" gue hanya mengingatkan saja,tak mudah bagi se ekor burung yang telah terbang jauh bisa kembali dengan begitu saja." ujar Zeanu menatap penuh arti.


Bany terdiam,apa yang di ucapkan Zeanu sepenuhnya memang benar,Mona pergi tidak meninggalkan jejak sedikitpun,bahkan dia kehilangan segalanya sepeninggal Mona.


Banny mengangkat tinggi wajahnya menahan perasaan yang bergemuruh di hatinya,menatap langit ruangan itu dengan mata mulai memerah menahan rasa tangis yang begitu pahit ia tahan.


" Gue tahu,gue salah !" lirihnya seraya tertunduk dalam.


Zeanu menarik napas panjang,selama ia berteman dengan sosok Banny,baru kali ini dirinya melihat sahabatnya itu mengalami hal se down ini.


Suara klakson sebuah kendaraan terdengar keras membuat Mona sedikit terganggu dengan suara bisingnya,Mona yang tengah berjalan menoleh ke arah suara klakson tersebut memastikan jika dirinya berjalan di trotoar jalan bukan di bahu jalan,perlahan Mona memperlambat langkahnya lalu memperhatikan ke arah kendaraan tersebut.


Kendaraan tersebut itu mulai menepi tepat di sampingnya,Mona memperhatikannya dengan seksama ia cukup penasaran dengan kendaraan tersebut.


Kaca jendela mobil tersebut perlahan turun lalu seseorang memanggil namanya.


" Mona !! " panggil seorang pria dari dalam mobilnya dengan tersenyum manis.


Mona tersenyum kaku ketika tahu siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


" Kamu mau kemana ?" tanya pria itu menatap cemerlang.


" Aku mau pulang !" jawab Mona datar.


" Aku antar ya." pinta pria tersebut.


" Tidak perlu kas,terimakasih." balas Mona ramah.


" Ayolah,kali ini saja kamu jangan menolak ke baikannku." ujar pria itu yang tiada lain Angkasa berusaha membujuk Mona.


" Tapi....," sela Mona menggantung.


" Kau takut aku menculikmu ?" ujar Angkasa dengan sedikit bercanda.


Mona menggeleng.


" Tidak,bukan seperti itu." sanggahnya pelan.


" Lalu ?" Tanya Angkasa menatap tak biasa sehingga berhasil membuat Mona sedikit kikuk.


" Soalnya aku hendak mampir dulu ke toko mart,yaa ke toko mart dulu ada yang mau aku beli." jelas Mona,kali ini ia memberi alasan agar pria itu tidak memaksanya untuk mengantar pulang.


" Oh,kalau begitu kita kebetulan,aku sebenarnya akan belanja ke toko mart depan juga,ada yang mau di beli." ujar Angkasa tertawa kecil.


Wajah Mona terlihat bereaksi,lelucon apa ini? Kenapa pria ini justru akan ke toko mart juga ?,itu hanya sebuah trik dia saja untuk menghindari tawaran Angkasa,namun di luar perkiraanya,justru pria itu akan melakukan hal sama denganya.


Batin Mona menggeleng,gagal ia mengeles kali ini.


" Tapi.... " lagi-lagi Mona mencoba menolak secara tak langsung.

__ADS_1


" Tak ada alasan untuk kamu menolak ajakanku,so kita akan pergi ke tempat yang sama jadi apa salahnya kita mampir bersama.Simple kan ?" ucap Angkasa tersenyum hangat.


Mona memutar bola matanya ia berusaha mencari alasan lain,namun sepertinya pikirannya terasa buntu tak ada lagi alasan untuk bisa menghindar dàri tawaran pria berparas tampan tersebut,justru pria itu semakin gencar mengambil kesempatan baik ini.


" Baiklah !!" ujar Mona setelah mempertimbangkan.


" Nah gitu dong." balas Angkasa tersenyum ceria.


Mona mendekati mobil pria tampan tersebut,lalu ia pun masuk dan duduk percis di belakang sang kemudi.


" Aku berasa jadi supir kamu Mon,kenapa gak duduk di depan aja sih ? " tanya Angkasa menoleh Mona yang baru saja menutup pintu mobilnya.


" Tapi, " sela Mona canggung.


" Ayolah !! jangan sampe orang ngira aku ini sopir taksi onlie." ujar Angkasa,membuat Mona sedikit terkesima dengan sikap ramahnya.


" Tapi kas," lagi-lagi Mona terlihat ragu.


" Duduklah bersamaku di depan." titah Angkasa dengan tersenyum lembut.


Mona menggeleng,baginya pria ini sungguh sangat menyebalkan namun sekaligus menyenangkan.Mona tersipu-sipu menahan malu perasaanya.


Mau tak mau Mona pun kembali keluar dari mobilnya Angkasa lalu berjalan memutari mobil tersebut, membuka pintu depan sebelah kiri.


Dengan sedikit canggung ia pun dengan hati-hati duduk di samping Angkasa.


Pria tampan itu tersenyum penuh arti ke arah Mona yang baru saja duduk di sampingnya.


Angkasa kembali menjalankan kendarannya dan melaju dengan kecepatan rendah,ia tak ingin melewati kebersamaanya dengan Mona begitu saja.


Sejenak hening,kendaran yang di tumpangi Angkasa dan Mona melaju membelah jalanan.Mereka terlihat sibuk dengan perasaanya masing-masing.


Tak berapa lama kemudian.


" Oya Mon,kamu jadi terima tawaran teman kamu itu ?" tanya Angkasa mengawali pembicaraan.


" Iya,baru saja aku selesai di interview." balas Mona menatap kedepan.


" Kenapa kamu tidak menerima tawaranku saja Mona,dengan senang hati aku akan menerima kamu langsung tanpa harus interview.Soalnya aku lagi membutuhkan orang yang begitu ber profesional dalam bidang pekerjaan,yaa seperti kamu inilah." ujar Angkasa seraya sesekali menoleh ke arah Mona.


Merasa dirinya sedang si puji Mona banya terlihat tersenyum kaku,semua perkataan pria memang manis,namun di baliknya menanti sebuah jebakan.


" Kurasa kamu terlalu berlebihan,aku hanya bekerja sesuai dengan tanggung jawabku saja,jauh dari kata fropesional." ujar Mona menolak pujian tersebut.


" Tapi itu benar,kau memiliki kuantitas yang bagus,bahkan hard skill,kamu memiliki tanlenta yang luar biasa dalam sebuah pekerjaan,bahkan kamu mampu memenejemen waktu serta ke uangan sebuah perusahaan,hingga perusahaan itu memiliki progres yang bagus,yaah contohnya saja waktu kamu menjadi sekertaris perusahaan suamimu,kamu begitu lihai dan pandai dalam melobi semua mitra perusahan suami kamu,kamu cerdas bahkan berwawasan tinggi,kurang lebih aku suka tife tife pekerja seperti kamu ini." ungkap Angkasa seraya tetap fokus ke laju kendaraanya.


Pujian yang begitu melambungkan perasaanya,namun Mona tak ingin terhipnotis dengan pujian tersebut,Tanpa di sadari Mona menoleh ke arah wajah pria tampan tersebut,selintas ia melihat jika wajah pria tampan itu memang begitu menyenangkan,selain memiliki sikap yang begitu hangat sosok pria ini pun memiliki sikap peduli kepada dirinya perkataanya selalu membuatnya terasa tinggi melayang pandai dalam menyanjung hati seorang wanita.


Mona mengalihkan pandangannya ia hanya tersenyum hampa mendengar sejuta pujian dari pria tampan tersebut yang di tujukan kepada dirinya.


" Itu hanya kebetulan saja,awal bekerja aku pun tidak selihai itu,ada banyak hal yang aku harus pelajari dalam sebuah pekerjaan." imbuh Mona pelan.


" Tapi yang kurasa kau adalah wanita yang begitu sempurna,nyaris tidak ada kekurangan apapun dalam darimu,jadi sangat di sayangkan jika ada orang yang begitu bodohnya menyia-nyiakan dirimu." ujar Angkasa menoleh sejenak,tatapannya sedikit penuh misteri ke arahnya.


Mona menelan slavinanya kuat,ia begitu terpana mendengar ucapanya Angkasa,secara tidak langsung pria itu tengah menyindir keras akan suaminya.Banny.


" Jika aku di takdirkan bisa memiliki perempuan seperti kamu,tentunya aku akan menjaga semua apa yang ada pada dirinya,apa lagi hatinya,aku tidak akan pernah melukai hatinya bahkan menyia-nyiakan cintanya." imbuh lagi Angkasa dengan penuh rayuan.


Mona terdiam memandangi jari-jarinya dengan berbagai perasaan di pikirannya.


" Tapi sayang,aku hanya bisa memimpikan sosok perempuan itu,tampa mampu memilikinya." ujar kembali Angkasa dengan nada sedih.


Mona menarik napas pelan,ia sadar jika dirinya bukan perempuan lugu yang tak tau arti dari ucapannya pria tampan tersebut,bukankah pria ini pernah akan menjadi calon suamimya atas perjodohan sang neneknya,tak ada yang salah dari ucapannya,jadi wajar saja jika kini pria itu mulai mencari kesempatan untuk mendapatkan dirinya,ini bukan masalah percaya diri yang terlalu tinggi,namun Mona mampu merasakan jika pria itu sedang tidak menceritakan sebuah harapan,melainkan ke inginnnya secara tidak langsung untuk bisa mendapatkan dirinya.Mona menggeleng pelan,ucapan Angkasa tanpa alasan.


Tentunya kalimat itu begitu banyak artian yang mengarah kepada hatinya.


Melihat Mona tidak berbicara hanya diam saja pria tampan itu segera melambatkan laju kendaraanya.


" Mon." panggilnya pelan.


Mona menoleh dengan raut wajah sedikit murung.


" Aku salah bicara ya ?" tanya Angkasa dengan perasaan bersalah.


" Oh,tidak.Tidak sama sekali." bantah Mona tersenyum datar.


" Jujur saja aku bukan tife laki-laki yang selalu menahan perasa gengsiku,aku mengatakan apa yang aku rasakan,dan aku tidak suka bersembunyi di balik perasaan yang mengekangku,jika aku suka aku akan cepat mengatakannya." ujar Angkasa dengan intonasi yang berbeda.


Mona tertegun,begitu pleksibelnya sikap yang di miliki oleh seorang Angkasa mampu membuat pikirannya terbuka,selama ini ia hanya mampu bersembunyi di balik perasaan yang membelenggunya, bukanlah hal yang menyenangkan atas perasaan ini melainkan sebuah penderitaan yang tak ada akhirnya.


" Aku akan katakan ya,jika aku mau,dan aku katakan tidak jika aku tak suka,hidup semudah itu,menjalani yang kita suka,menjauhi apa yang kita tidak sukai." ujar kembali Angkasa dengan terus fokus ke laju kenadaraanya.


Mona terdiam,mendengarkan kata-kata pria itu dengan seksama,dia yakin jika pria itu tidak sedang menyindir dirinya melainkan sedang memeperkenalkan jati dirinya,Mona menghela,begitu banyak kejutan dalan hidup ini.

__ADS_1


Jiwa yang bebas akan menghasilkan sikap yang begitu pleksibel dalam menghadapi berbagai permasalahan,seharusnya ia mampu bersikap sesimpel itu,dan mengiklaskan apa yang bukan menjadi takdirnya.


__ADS_2