
HARI pertama kerja Mona sebagai istri seorang Banny pratama Wiguna sudah di sibukan dengan berbagai tugas pekerjaanya yang di serahkan sepenuhnya oleh bos sekaligus suaminya tersebut terhadap dirinya.
Dan untuk pekerjaan ini ia di pusingkan dengan beberapa laporan mengiriman jasa yang saat ini belum terkonfirmasi akan keberadaanya dan itu membuat seluruh perhatiannya tersita penuh dengan permasalahan baru itu.
Prak !!!
Selembar kertasTiba-tiba mendarat di hadapannya dan itu membuyarkan ke fokusannya,perlahan Mona mendongkak dan sesaat ia menatap ke arah orang yang tengah berdiri di hadapannya itu.
" Dokumen yang di kirimkan beberapa hari yang lalu belum sampai di tangan pemiliknya,sehingga pemilik Dokumen itu mengkonfirmasikan keterlambatan atas Dokumen tersebut kepada saya.Memangnya di perusahan ini tak ada staf yang bisa menghandle permasalahan ini sehingga saya harus turut serta." Ujar pria itu menatap dingin gadis itu.
Mona menghela lalu mengambil lembaran kertas itu yang merupakan sebuah resian pengiriman barang.
" Saya sudah konfirmasikan masalah ini ke bagian pihak pengiriman barang pak,dan masalah ini sedang di tangani oleh staf pengiriman.Dan pengiriman Dokumen tersebut memang mengalami keterlambatan atas pengirimannya jadi,sudah saya usulkan ke pihak pengiriman jasa untuk mengupayakan agar Dokumen tersebut tidak mengalami keterlambatan lagi dalam proses pengirimannya.
" Kenapa bisa ada keterlambatan ? " Tanyanya dengan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja sekertarisnya itu.
" Ada sedikit masalah di bagian trans pengirimannya. " Ucap Mona seraya memperhatikan kembali layar laptopnya tersebut.
" Saya tidak ingin masalah ini harus melibatkan si pemilik perusahan dalam menanganinya,lalu untuk apa fungsinya para staff di perusahaan ini jika masalah sekecil ini harus melibatkan atasanya.Dan satu hal lagi, jika pun ada keluhan atau pun saran serta kritikan saya harap tidak melibatkan saya untuk menanggapinya,karena saya selalu menegaskan jika komitmen perusahaan ini selalu mengedepankan kenyamanan serta pelayanan yang sangat totalitas." Ucapnya dengan tegas.
" Baru beberapa hari saya tinggalkan semua urusan menjadi berantakan." Gumannya dengan menggeleng kesal.
Mona melipatkan bibirnya lalu menatap lurus ke arah pria itu yang tengah duduk dengan salah satu kakinya terangkat di atas lututnya.Ia duduk percis menghadap ke arah gadis itu.
" Pak,saya tahu komitmen perusahan ini selalu mengedepankan kenyamanan serta pelayanan yang totalitas,namun kita tidak akan pernah tau kendala apa di luaran sana ketika jasa pengiriman kita mengalami sebuah gangguan,dan saya berharap bapak bisa memaklumi untuk kelalaian ini." Jelas Mona berusaha menengahi situasi ini setenang mungkin.
Menghadapi pria sekelas Banny ketika marah atau jengkel selalu menjadikannya simalakama.
" Sudah berapa kali kejadian ini terjadi ?" Tanya dengan menatap dingin sekertarisnya itu.
" Kejadian seperti ini baru kali ini saja pak,sebelum-sebelumnya proses pengiriman tidak pernah mengalami keterlambatan atau pun kendala lainnya,walaupun ada terlambat itu hanya di permasalah perbedaan waktu nya saja yang di perkirakan." Sahut Mona dengan lugas.
Pria tampan itu melipatkan kedua tangannya di dada lalu mencoba mencerna apa yang di katakan sekertarisnya itu.
" Oke baiklah untuk kali ini saya masih memberi kalian toleransi, dan saya harap untuk kedepannya tidak akan ada lagi kejadian seperti ini sampai terulang. Dan sore ini akan ada pengiriman logistik untuk wilayah luar pulau Jawa, sekali lagi saya ingatkan tolong cek kembali mesin kendaraan transportasi yang akan di gunakan, saya ingin barang bisa sampai sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan, saya tidak ingin perusahaan ini di cap buruk oleh para konsumen hanya karena kalian terlambat dalam mengantar pesanan mereka." Ucap Banny seraya membuyarkan lipatan kakinya dan beranjak berdiri meninggalkan tempat duduknya.
Bola mata Mona melirik kesal ke atas,ia tak habis pikir dengan sikap berlebihan sang bosnya yang terlalu berlebihan dalam memerintah sebuah titah yang bagi dirinya itu teralalu sangat berlebihan mengaggap semua pekerjaan baginya mudah, tidak memikirkan hal-hal yang tak di inginkan bisa terjadi dengan begitu saja.
Yang mengirim barang itu memang kedaraan tapi tentunya kendaaraan itu tidak akan bergerak sendiri tanpa manusia yang menggerakan dan hal itu pastinya setiap orang akan mengalami kendala di luar perkirannya.
" Untuk masalah itu bapak bisa menyampaikan nya lewat pak Luky staf bagian pengiriman." Mona menyela dengan nada sedikit kesal,kesalahan perusahaan salalu ia yang harus bertanggung jawab.
" Saya meminta kamu untuk menyampaikannya,kepada pihak pengiriman." Balas pria itu menatap tajam sang sekertaris.
" Saya pak ??? " Tanya Mona shok.Sejak kapan ia di tugaskan untuk memberi himbauan atau peringatan kepada staff yang lainnya.
" Iya kamu !! apa kamu keberatan ?? " Tanya pria itu dengan memicingkan matanya.
" Tidak." Jawab Mona menunduk merasakan kejengkelan mulai melandanya.
" Lakukan apa yang saya perintahkan." Ucapnya menatap dingin.
" Tapi pak,kalau boleh saya usul, apa sebaiknya kita sampaikan permasalahan ini di meeting nanti siang,karena di meeting siang nanti akan ada beberapa permasalahan yang akan di bahas mengenai jasa pengiriman ini,terlebih sekarang kita menyediakan pengiriman berupa Dokumen juga." Usul gadis itu menatap dengan tatapan cemerlang.
Banny melirik lalu memasukan kedua tangannya ke saku celananya dan berdiri menatap lurus sekertarisnya itu.
Sesaat pria itu berpikir mempertimbangkan apa yang menjadi usulan sang sekertarisnya tersebut.
" Ok !!! dan untuk pertemuan dengan pak Angkasa tolong kamu aturkan di untuk schedule besok.
" Tidak hari ini pak ?" Tanya Mona dengan ragu.
Wajah pria itu menatap penuh telisik atas pertanyaan sekertarisnya itu yang bagi dirinya terasa berbeda.
" Kenapa memangnya jika hari besok ?,apa kamu ingin segera bertemu dengan pria itu ?" Ucap Banny dengan datar,entah kenapa sorot matanya berubah semakin dingin menatap gadis itu.
Tentu saja perkataan bosnya itu terasa begitu menyentil perasaanya,seolah-olah jika bosnya itu sedang mencurigai dirinya secara tidak langsung.
Mona menghembuskan napas kasar,berusaha sabar.
__ADS_1
Berhadapan dengan seorang Banny memang perlu jiwa yang ekstra sabar,tak hanya sering bersikap dingin,ia juga sering berkata seenaknya jika ada yang kurang berkenan di hatinya,terlebih perubahan sikapnya yang akhir-akhir ini membuat sedikitnya gadis itu merasa aneh.
" Bukan itu maksud saya pak.Sore nanti schedule bapak kosong jadi tidak ada salahnya jika acara pertemuan itu bisa di laksanakan sore ini,guna sediktnya mengurangi schedule bapak untuk besok.Dan itu sama sekali saya usulkan tidak ada maksud tertentu." Ucap Mona tertunduk.
" Tidak !! masuk kan saja pertemuan itu ke schedule saya besok .Dan sekarang tolong kamu konfirmasikan jika hari ini kita tidak melakukan pertemuan dengan siapapun." Ucapnya dengan nada penuh penekanan.Tegas sekali berkata A pantang bagi seorang Banny untuk merubahnya.
" Baik pak." Jawab Mona tanpa berkomentar lagi.
Ia menghindari perdebatan yang sering membuat otaknya terasa kram.
Lalu ia pun mengambil ipad yang tak jauh dari laptop-nya lalu ia pun menambahkan beberapa schedule yang akan di susunnya besok hari.
" Kita akan makan siang bersama." Ucap pria itu yang mulai berjalan menuju tempat duduknya yang kini tak jauh dari sekertarisnya tersebut.
Mona terdiam semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap bosnya tersebut yang terkesan lebih perhatian terhadap dirinya walaupun tak di perlihatkannya secara tidak langsung.
Bekerja sama dengan seorang Banny memang tak mudah,dari hal terkecil hingga hal yang besar dengan penuh kesabaran,dirinya sepenuhnya mengatur semua jadwal kerja Banny yang penuh.Namun sampai detik ini pun Banny belum bisa mengapresiasikan kinerjanya itu dalam bentuk apappun.
Mona mengangkat tinggi bahunya dengan mengekspersikan wajah masabodoh ia tak mau larut dalam perasaan jengkelnya.
" Tolong kamu siapkan berkas yang kamu ambil dari pak Hendra tadi !" Banny menoleh Mona yang sedang asik menatap kembali layar laptopnya.
Mona menoleh ke arah bosnya itu,lalu tak lama ia menga
**********
Pria tampan berwajah dingin itu duduk sendirian menatap jauh ke arah luar kantin kantornya,ia memilih duduk di sudut ruangan yang sedikit jauh dari keramaian para staff lainya yang sedang menikmati makan siang.
Pandangannya menatap satu persatu orang yang berlalu lalang di hadapannya,dengan perasaan gusar ia menanti sekertaris sekaligus istri sandiwaranya itu untuk makan siang bersama.
Selang tak berapa lama tiba-tiba pandangannya tak sengaja terbentur pada sosok gadis cantik yang tengah berjalan mengarah kepadanya dan benar saja jika gadis cantik itu memang mendekat ke arahnya tempat dimana ia duduk dengan menampilkan senyuman manisnya.
" Siang Mas !" Sapa gadis cantik itu begitu tiba di hadapan pria tampan itu dengan ekspresif.
" Siang Ane." Jawab pria itu pendek.
" Ya,kebetulan aku lagi menunggu istri ku untuk makan siang bersama." Ujarnya tersenyum enteng.
" Oh,mas lagi nunggu bu Mona ?" Ucap gadis itu pelan namun nada bicaranya terdengar sumbang.
" Kamu mau makan siang ?" Tanya Banny menatap hangat gadis cantik itu.
" Tapi aku bingung,soalnya gak ada teman buat di ajak makan siang bersama." Imbuhnya dengan tersenyum canggung seolah-olah kode keras yang cukup peka untuk pria tampan itu.
" Atau kamu mau gabung dengan kita ?" Tanya pria itu menatap gadis cantik itu dengan tatapan mempesona hingga membuat gadis cantik itu terasa tersengat arus listrik yang sanggup membuat jantungnya berdekup lebih kencang.
Namun entah sejak kapan senyuman pesona pria tampan itu terasa menyakitkan baginya jika mengingat perasaanya tak bisa memiliki seutuhnya cinta pria tampan tersebut.
Bola mata yang cermelang itu terlihat berbinar,lalu sesaat kemudian ia melirik dengan genit memperlihatkan sisi bola mata yang begitu indah.
" Gak enak lah mas,masa aku ikut gabung sama kalian.Dan pastinya bu Mona juga akan merasa tak nyaman jika aku ikut makan siang bersama." Ucapnya dengan ekpresi wajah mencari simpatik.
" Itu biasa saja Ane,lagian istri saya tahu jika kamu adalah bagian staf perusahaan ini,jadi wajar saja jika kamu ikut gabung makan siang bersama." Ucap pria itu membela.
" Tapi tetap saja mas aku merasa tidak enak hati dengan bu Mona mas." Ucap kembali Arnetta semakin mencari perhatian sang pria tampan itu.
" Kenapa ? " Sambut Banny tersenyum lembut.
Sesaat gadis cantik itu hanya terdiam,lalu raut wajahnya terlihat berubah drastis.
" Kamu ada masalah ?" Tanya pria tampan itu menatap lurus setelah melihat raut wajah gadis itu berubah.
" Mas !" Panggil Arnetta dengan menatap tak menentu.
Banny menatap kian heran atas sikap gadis cantik itu yang berhasil membuat perasaanya berubah resah.
" Ada apa ?" Tayanya dengan menatap tajam.
" Sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaan ku ini masih terasa mengganjal di benak ku." Ucap gadis itu dengan menatap ragu.
__ADS_1
" Pertanyaan ?,memangnya pertanyaan apa yang akan kamu pertanyakan kepada ku ?" Banny tersenyum enteng namun perasaanya berubah sedikit cemas.
" Masalah perasaan mu ini mas." Jawabnya singkat.
Banny menghela lalu menyandarkan punggunya di sandaran kursi tersebut dengan tenang.
" Ada apa dengan perasaanku Ane ?" Tanya pria tampan itu menatap dengan penuh selidik seolah-olah ia sedang melupakan apa yang pernah ia rasakan terhadap gadis cantik itu.
Gadis cantik itu tertunduk dengan meremas ujung blezernya,ia merasakan ke cemasan di dalam hatinya yang tiada tara.
" Sepertinya mas Banny memang sudah melupakan perasaan itu ?" Tanya dengan perlahan menatap lepas wajah tampan itu.
Sebelum pada akhirnya menjawab pria tampan itu hanya tersenyum manis hingga membuat gadis cantik itu merasa heran atas sikap dinginnya pria tampan tersebut,entah apa yang akan di katakan pria itu sesungguhnya kepada gadis cantik itu sehingga Banny terlihat sesantai itu menyikapinya.
" Ane,sebelum perjodohan ini terjadi,aku sudah melupakan perasaan itu terhadap kamu." Jawab pria itu dengan singkat namun cukup membuat hati gadis itu tercekat dan
sontak saja pernyataan itu membuat hati nya itu seketika gerimis merasakan apa yang menjadi jawaban pria itu meluluhkan perasaanya,bahwa dengan jelas jika Banny telah melupakan perasaanya terhadap dirinya dengan begitu saja.
Lalu....?
Pengorbannya selama ini ?
Ahh segampang itu dia melupakan perasaanya yang dulu pernah di gaungkan di dalam hatinya.
Raung hati kecil gadis itu dengan tatapan tertekan.
Namun sesaat kemudian raut wajah gadis itu berubah setelah menelaah kembali ucapan pria itu yang mengatakan di awal kalimatnya menyinggung sebuah perjodohan,dan kata itu berhasil membuatnya terkejut sekaligus penasaran.
" Perjodohan ?maksud mas Banny ? " Tanya Arentta menatap tak mengerti.
" Aku menikah dengan Mona karena sebuah perjodohan." Jelasnya menatap datar.
Bibir gadis itu menganga menatap tak percaya,Beruntung sekali seorang Mona di jodohkan dengan pria sekelas banny.
Kenapa bukan di yang di jodohkan nya dengan pria tampan ini,bukankah orang tua mereka saling berhubungan erat.
" Mas,apa alasan om Wiguna menjodohkan mas denganbu Mona ?" Tanya Arnetta dengan raut wajah datar.
" Papah mengenal lama sosok Mona jauh sebelum kita di pertemukan,dan papah juga begitu menyukai akan kepribadiaan yang di miliki oleh seorang Mona,tepatnya Mona adalah salah satu mahiswi terbaiknya papah pada saat itu,Jadi papah menginginkan Mona menjadi bagian dari keluarga besarku." Jelas Banny menatap dengan seksama.
Arnetta terdiam,penilaian dirinya terhadap sosok seorang Mona selama ini memang memandang rendah,namun ternyata di balik penampilan-nya yang sederhana justru gadis itu mampu memikat hati seorang Wiguna sehingga menjodohkan putranya dengan perempuan biasa-biasa saja..
" Itu alasannya mas melupakan perasaan itu terhadap ku ?" Tanya gadis cantik itu menatap nanar.
Bany melepaskan pandangannya ke arah wajah gadis cantik itu,tak terpikirkan olehnya jika ia harus membuat hati gadis itu terluka dengan penuturan dirinya tentang sosok Mona.
" Aku memang pernah merasakan hal yang tak biasa kepada mu,namun itu hanya sebatas kagum akan kecantikan serta ke cerdasaan mu,namun jika kamu kini mempertanyakan perasaan itu,maaf aku telah melupakannya,maafkan aku Arnetta." Ujar pria tampan itu dengan suara sedikit sumbang.
Tak terbesitkan olehnya jika gadis cantik itu ajan mempertanyakan kembali perasaannya itu.
" Aku paham itu mas." Ucap gadis itu dengan tersenyum pahit.bola matanya terlihat bergerak-gerak menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
" Dan kini aku sedang belajar untuk bisa mencintainya !" Banny berucap lirih.
" Jadi selama ini Mas tidak pernah mencinta bu Mona ?" Tanya Arnetta menatap dengan perasaan tak menentu.
" Mas hanya ingin melihat papah Mas bahagia,bisa melihat mas menikah dengan perempuan pilihannya." Imbuhnya kembali.
Dan kalimat tersebut berhasil membuat gadis cantik itu semakin terluka.
Ingin rasanya ia menawarkan kembali perasaanya yang masih tersimpan dalam untuk dirinya,namun ia sadar akan kuasa restu orang tua nya Banny yang lebih setuju kepada gadis sederhana itu.
" Semoga Mas bisa mencintai bu Mona dengan segenap hati Mas." Ucap gadis itu kian tersenyum pahit.
Banny mengangguk dengan menatap datar Arnetta.
Tepat saat gadis cantik itu selesai berbicara,sepasang mata sedang mengawasinya sedari tadi,menatap dengan berbagai prasangka di benaknya.
Mona yang sedari tadi mengawasi pergerakan bosnya bersama gadis cantik itu mencoba untuk tidak mengikuti perasaan nya dengan cemburu buta yang perlahan menguasai jiwanya.
__ADS_1