
PAGI Ini Mona sudah siap dengan aktivitasnya menyiapkan sandwich untuk Banny dan seperti biasa menunggunya di meja makan.
Namun saat ia melihat Banny keluar dari kamar dengan mengenakan kemeja putih yang terlihat belum rapih maksimal membuat Mona menghela napas,entah kenapa keinginanya untuk membetulkan kemeja pria tersebut muncul di hatinya.
" Kamu buatkan sarapan apa hari ini ?" Tanya pria itu dengan membagikan pandanganya ke atas meja makan tersebut.
" Saya buatkan sandwich untuk....,hmmm." Ucapan gadis itu menggantung ia terlihat ragu untuk mengucapkan sebuah panggilan kepada pria tampan itu.
" Untuk siapa ?" Tanya pria itu memancing ucapan gadis itu seraya membalas tatapannya dengan lembut sehingga gadis itu terlihat semakin kikuk.
" Untuk,uuntuk Mas." Akhirnya dengan penuh kekuatan gadis itu sanggup mengucapkan panggilan tersebut.
Pria tampan itu tersenyum enteng namun sejurus kemudian lirikannya berubah sinis setelah melihat sikap sekertarisnya itu masih terlihat canggung memanggil dirinya dengan sebutan Mas.
" Sepertinya lidah kamu tak rela jika harus memanggil aku dengan sebutan itu." Imbuhnya dengan menggeleng.
Mona terdiam menundukan kepalanya dengan perasaan malu,tapi dengan bersamaan entah kenapa ada perasaan bahagia diam-diam menyelinap ke dalam hatinya tersebut.
Pria tampan itu untuk sementara menggulung sedikit lengannya bajunya agar tidak terkena dengan makanan tersebut.
" Kamu pandai juga membuat sandwich dan aromanya sepertinya enak." Ucap pria itu dengan segera memotong dua sandwich tersebut.
" Saya hanya membuat sandwich telur dengan tambahan mozarella saja pak,maksud saya Mas." Ucap Mona meralat kembali ucapannya dengan tersenyum tipis,sepertinya ia tetap saja terlihat masih kikuk.
Banny mengigit separuh dari ujung sandwich tersebut lalu menikmati setiap kunyahan-nya yang terasa begitu enak di lidahnya.
" Sejak kapan kamu bisa melakukan hal ini,makanan buatan kamu lumayan enak,aku rasa pas di lidahku." Ucap pria itu memuji hasil olahannya tangan gadis itu.
Mona tersenyum,namun tetap ia masih penasaran dengan sikap ramah bosnya tersebut,yang pagi ini tak menampilkan kembali sikap dinginnya tersebut.
Adakah hal yang sedang di rencanakannya ??
Pikir gadis itu membatin.
Ah sudahlah dia tidak ingin berpikir buruk akan hal itu.
" Nanti malam aku ingin kamu buatkan makan malam untuk ku." Ucap pria itu tersenyum manis namun sorot matanya masih tetap terlihat dingin menatap gadis itu.
Mona cukup terhenyak atas permintaan bosnya itu yang meminta dirinya untuk membuatkan makan malam untuknya.
" Makan malam ??" Ucapnya mengulang kembali ucapan bosnya itu.
" Ya makan malam,kamu bisa kan membuat masakaan yang enak untuk makan malam kita." Pinta Banny dengan tersenyum hambar.
Mona terdiam ia tidak mengiyakan atau pun menolak permitaan bosnya tersebut.
" Aku tunggu di mobil." Ucap Banny menyeka mulutnya dengan tisu,lalu tak lama ia pun beranjak dari duduknya berniat meninggalkan Mona yang masih menyantap sarapan paginya.Namun dengan repleks gadis itu tiba-tiba menahan tangannya,sehingga membuat pria itu terheran-heran atas sikap gadis tersebut terhadap dirinya.
Banny menoleh ke arah tangan gadis itu yang menahan langkahnya.
" Ada apa ?" Tanya Banny pelan.
" Mas,baju kemeja Mas masih berantakan." Akhirnya ucapan yang tertahan itu terlontar juga dari mulut gadis tersebut.
Banny menghela lembut ketika perhatian kecil itu mampu mendebarkan perasaanya.Perlahan tangan gadis itu menggapai bagian kerah leher pria itu lalu membetulkan nya dengan hati-hati,sejurus kemudian tangan mungilnya itu bergerak cepat membenarkan posisi dasinya pria tersebut.
Sesaat Banny menatap penuh arti ke arah wajah gadis tersebut,tanpa di sadari hatinya terasa tersanjung atas aksi kecil perhatian sekertarisnya itu yang begitu peduli akan penampilannya tersebut.
Mona menyadari jika dirinya sedari tadi di pandangi secara intens oleh bosnya tersebut,meski ia merasa ragu untuk menatapnya namun entah kenapa ada perasaan yang tak biasa mendorong dirinya untuk membalas tatapan pria itu dan....
Tapp....
Pandangan mereka pun saling bertemu tanpa bisa di hindari,bola mata yang indah terbentuk sempurna menatap pria tampan itu,Banny melihat jelas jika gadis itu memang memiliki sorot mata yang unik,hal yang tak di miliki oleh gadis mana pun,tak terkecuali Kinaya atau pun Arnetta.
Yaa gadis ini memiliki mata yang begitu syahdu jika di pandangi akan membuat dirinya merasa begitu nyaman dan terbuai dalam ke indahannya.
Yaa sorot matanya mampu menenggelamkan perasaan kerasnya.
Kenapa ?
Lalu kenapa ia belum mampu mengumbar perasaan-nya itu,jika sesungguhnya ia tak perlu lagi berlajar dalam mencintai gadis ini,sebagai mana ia pernah mengatakan hal itu kepada Arnetta,sesungguhnya dirinya sudah benar-benar telah mencintai sepenuh hati sekertarisnya itu.
lalu ????
Apa yang harus di tunggunya lagi untuk perasaan nya itu ?
Menuggu seseorang merebut perhatian gadis itu ?
Banny semakin dalam memandang wajah gadis itu.
" Maaf !!" Ungkap Mona seraya tersenyum hampa lalu dengan cepat ia melepaskan tangannya dari dasi pria tersebut dan melangkah mundur dari hadapannya dengan wajah tertunduk.Ia tak ingin melihat wajah tampan itu semakin mendebarkan perasaanya.
Banny mendesah merasakan kekecewaan atas sikap gadis itu yang menghidar dari jarak posisinya tersebut,selangkah lagi padahal ia ingin mendekap gadis itu dan mengucapkan sebuah kata Terimakasih atas perhatian kecilnya tersebut.
Namun gadis itu secepat itu menghindar darinya.
" Terimakasih." Ucap pria itu pelan.
Mona hanya mengangguk dengan tersenyum tipis dan tak lama pria itu pun menyambar jas yang sebelumnya telah Mona siapkan untuk dirinya.Banny berjalan menuju pintu afartemen lalu keluar dengan begitu saja.
Mona terdiam membayangkan kembali kejadian tersebut,masih terasa hangat di ingatannya akan ekspresi wajah pria itu terlihat sangat berbeda kepadanya.
Apakah pria tampan itu sudah berubah sepenuhnya atas sikap dinginnya itu terhadap dirinya ?
Ah rasanya ia merasa pusing sendiri atas perubahan kecil bosnya tersebut.
Mona,Mona,bos berubah manis saja jadi beban juga buat hidup lo!
Gadis itu bermonolog dengan perasaan bingung.Bingung atas perubahan sikap bosnya tersebut yang biasa sering bersikap jutek dan dinginnya kali ini sikap itu berkurang sedikit dari dalam sosok pria itu.
*******
" Selesai jam makan siang kita akan ada pertemuan dengan pak Angkasa Mas !" Ucap Mona dengan meletakan vas bunga cantik di meja kerja bos sekaligus suaminya tersebut.
Pria tampan itu menoleh ke arah sekertarisnya lalu menghentikan sejenak pekerjaannya tersebut.
" Ada beberapa kegiyatan yang akan di tunda hari ini,salah satunya pertemuan dengan pemilik PT Angkasa." Jelas Banny menatap dingin sekertarisnya itu.
__ADS_1
" Tapi Mas pertemuan itu sudah masuk di schedulenya Mas hari ini,dan saya rasa kita tidak bisa menunda lagi karena ini menyangkut ke profesionalan perusahan kita Mas." Jelas Mona dengan perlahan menata cantik bunga mawar yang baru saja ia ganti dengan bunga yang baru,dan tentunya lebih frees.
Sejenak pria tampan itu terdiam mencoba mempertimbangkan kembali pernyataan sekertarisnya tersebut.
" Setadinya usai makan siang nanti saya akan mengadakan pertemuan kembali dengan kolega yang kemarin sore sempat tertunda mengenai pembahasan kemitraan perusahaan kita,namun dikarenakan ada sedikit kendala jadi kemarin pembahasannya tertunda,jadi siang ini rencana-nya saya akan melanjutkan pertemuan itu." Jelas Banny dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya tersehut.
" Bagaimana kalau saya aturkan kembali schedul Mas hari ini,ya setidaknya pekernya Mas yang lainnya bisa terlaksana maksimal tanpa harus menunda pekerjaan yang lain." Usul Mona menatap cemerlang.
Banny mengangkat tinggi kedua alisnya mencoba mempertimbangkan usulan sekertarisnya tersebut.
" Ok,aku minta kamu susun kembali semua schedule saya dengan baik." Ucap pria itu seraya mengusap-ngusap dagu runcingnya yang di tumbuhi bulu yang halus.
" Baik pak." Sahut Mona mengangguk.
Dan ia pun melanjutkan kembali pekerjaanya merapihkan bunga yang baru saja di rangkainya untuk di masukan satu persatu ke dalam vas bunga tersebut.
" Oya Mona aku ingin bicara sesuatu sama kamu." Ucap pria tampan itu menatap serius.
" Mengenai apa Mas ?" Tanya gadis itu terlihat cemas.
Sejenak Banny menarik napas panjang lalu menatap wajah gadis itu dengan berat.
" Ini masalah pekerjaan kamu Mona." Ucap Banny dengan suara datar.
Deekkk....
Pergerakan tangan gadis itu meragu ketika akan memasukan rangkaian bunga terakhir kedalam vas bunga tersebut.
Raut wajahnya yang semula biasa-biasa saja kini berubah kaku.
" Sepertinya pelaturan perusahaan ini tidak bisa di rubah lagi,aku minta maaf dengan berat hati aku harus memberhentikan kamu dari pekerjaan ini Mona." Ucapnya dengan pelan,namun begitu dalam penekanan di setiap kata-katanya tersebut.
Sontak ucapan pria itu membuat separuh nyawanya menghilang,seperti butiran debu yang tertiup angin.Gadis itu melipat bibirnya kuat-kuat seraya melirik kecil bosnya yang masih menatap dirinya dengan seksama memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di raut wajah tampanya tersebut.
Namun ada yang tak biasa di dengar olehnya di antara kalimat yang di ucapkan bosnya tersebut,dan itu merupakan sebuah kata ajaib yang terselif serta jarang ia dengar.Ucapan yang nyaris tak pernah Banny ucapkan sebelumnya kepada dirinya,yaitu kata......
Maafkan aku !!
Yaa kata itu terlontar tulus dari mulut seorang Banny.Sekian lama gadis itu berdampingan dengan seorang Banny,dapat di pastikan jika pria tampan itu jarang mengucapkan kata maaf,sekalipun kesalahan ada pada dirinya.Mengucapkan kata maaf seolah-olah mempunyai nilai tinggi di matanya.
Namun kali ini ucapan itu terasa begitu tulus yang tertuju kepadanya tanpa ada raut wajah dingin ataupun kalimat pedas lainya.
Mona terdiam merasakan seluruh aliran darahnya berhenti,dan pikirannya pun bermonolog kembali.
Kenapa akhir-akhir ini bosnya bersikap lain kepadanya?
dan ini lah alasan di balik perubahan sikap bosnya tersebut yang seakan-akan ingin memberi kesan manis atas keputusannya tersebut dalam memberhentikan dirinya dari pekerjaan nya tersebut.
Apa yang selama ini menjadi kecurigaannya pun terbukti jika bosnya bersikap manis kepadanya hanya pengalihan saja.
Mona paham betul akan konsekwensi yang harus di terima oleh seluruh para staf perusahan jika melakukan hal yang bebenturan dengan aturan yang di sudah di tetapkan.Kejadian seperti ini bukan hal yang pertama kalinya terjadi di perusahaan tersebut,ada beberapa staff di antaranya yang harus merelakan pekerjaanya demi mempertahankan salah satunya pasangannya untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut.
Yaa kondisi ini lah yang sedang di alami oleh Mona,gadis sederhana ini pun harus menerima kenyataan pahit,jika dirinya harus kehilangan pekerjaan-nya imbas dari pernikahan sandiwaran nya tersebut.
Mona yang menjadi istri dari seorang Banny pratama wiguna anak pemilik sekaligus Direktur utama perusahaan PT tirta logistic dan PT Mitra logistik,sepertinya harus rela hati jika dirinya benar-benar di berhentikan secara terpaksa dari pekerjaan nya yang selama ini di jalani dalam waktu yang cukup lama.Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat ia jalani pekerjaan itu dan demi mematuhi pelaturan yang telah di tetapkan perusahaan ia pun rela melepaskan pekerjaan yang sudah lama ia jalani,memang tak mudah bagi dirinya melepaskan perkerjaan yang menjadi sumber kehidupannya berserta sang nenek.
Mona meraskaan jiwanya terasa kian hampa ada sebuah gelenjer hebat di dadanya sehingga membuat se sisi dadanya terasa sesak.
Lalu bagaimana kehidupannya nanti setelah ia tak bekerja ?
Gadis itu hanya terpaku dengan menepekuri setiap benda yang terpajang di atas meja kerjanya bosnya tersebut, dengan berbagai pikiran yang berseliweran di kepalanya.
" Mona !" Panggil Banny terlihat resah setelah melihat reaksi sekertarisnya itu hanya mematung seolah-olah ke habisan kata untuk menanggapi keputusannya tersebut.
" Kamu baik-baik saja ?" Tanya pria itu menatap kian cemas.Mona menggeserkan bola matanya lalu menatap hampa wajah bosnya tersebut.
" Sa Saya baik-baik saja mas." Ucapnya dengan tersenyum tipis,berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Untuk saat ini ia masih bisa tersenyum namun perlu di ketahui jika hati gadis itu sudah menyusut sampai ketaraf tak tertolong.
" Sekali lagi aku minta maaf." Ucap pria itu datar membuat perasaan gadis itu semakin membeku.
Gadis itu hanya membalasanya dengan senyuman hambarnya,rasanya tak sanggup lagi ia menyembunyikan perasaanya yang kian merapuh.
Tak ingin berlama-lama dirinya ada di hadapan bosnya tersebut,gadis itu pun berniat ingin segera menghilang dari pandangan pria tampan itu,dan berniat ingin kembali ke meja kerjanya menenangkan perasaan-nya yang terguncang atas keputusan bosnya tersebut.Namun ke inginan itu tertahan saat tangan pria itu mengapai tangannya serta menahan langkahnya.
Mona meragu dengan pikiran semakin kacau ketika tangan pria itu kembali meraih tangannya.
" Mona,sekali lagi aku minta maaf." Ucap pria itu kembali mengulang kalimat permohonan maafnya dengan begitu lirih.
Lagi-lagi gadis itu hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit di artikan.
" Sepertinya Mas tidak perlu minta maaf,karena ini adalah konsekwensi dari pelaturan yang sudah di terapkan perusahaan.Meski ini sebenarnya pernikahan settingan tapi perusahaan tidak mau tahu akan hal itu,jadi untuk sebuah totalitas sepertinya saya terima konsekwensi ini dengan sebuah ketulusan." Ujar gadis itu seraya tersenyum rapuh.
Banny menghela merasakan perkataan gadis itu cukup menohok perasaanya.
Sesaat ia larut dalam pernyataan gadis itu yang membuatnya semakin menghadirkan rasa bersalah di hatinya.
Pengorbanan yang cukup besar di lakukan gadis itu untuk dirinya,tak hanya demi membuat orang tuanya bahagia gadis itu pun rela kehilangan segalanya demi sebuah totalitas yang jelas-jelas sudah merugikannya,merampas segala kebahagiaannya,termasuk perasaanya.
Pria itu mendesah merasakan perasaanya kian di liputi rasa berdosa akan keputusannya tersebuy, dan entah kenapa hati kecilnya melahirkan perasaan iba terhadap gadis sederhana itu.
" Perkataanmu seolah-olah menyindir ku secara tidak langsung Mona." Ucap Banny dengan tatapan memudar.
Sebelum Mona menjawab gadis itu tersenyum rapuh mencoba tegar dalam balutan kesedihannya,lalu ia pun mengalihkan wajahnya ke sisi lain menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
" Seharusnya kita bisa lebih peka lagi terhadap pengorbanan seseorang yang telah di lakukan-nya,seperti halnya orang tua Mas pernah meperjuangkan kehidupan saya,maka saya sebagai manusia yang tahu diri sangat mengapresiasikan pengorbanan tersebut dengan cara saya sendiri, mengorbankan perasaan saya demi sebuah kebahagiaan orang yang telah banyak berbuat baik kepada saya." Jelas gadis itu dengan raut wajah mulai memerah.Banny terdiam mencoba mencerna atas apa yang sedang di sampaikan gadis itu kepadanya.
" Hal yang tersulit dalam kehidupan saya,adalah ketika saya harus memutuskan menikah dengan seseorang yang tak pernah mencintai saya,karena saya sadar,saya harus membalas kebaikannya seseorang itu,maka dengan cara mengorbankan perasaan inilah saya bisa membalasnya.Dan di balik keputusan ini tentunya saya harus mengorbankan seluruh perasaan saya untuknya. Ucap Mona dengan menatap dalam pria tampan itu yang seketika pria itu hanya bisa tercenung mendengar pernyataan sekertarisnya itu yang terasa meluluhlantahkan perasaan hatinya yang terdalam.
Dia baru menyadari jika gadis itu begitu sangat kuat dalam menghadapi kenyataan yang pahit ini,tak terpikirkan olehnya jika ke inginannya untuk membahagiakan orang tuanya malah akan menjadi beban sekaligus duka dalam bagi seseorang Mona yang sudah bersedia dengan tulus mengorbankan perasaanya demi dia dan orang tuanya.
Egoiss.....
Yaa ia merasakan perasaanya begitu kerdil di hadapan gadis itu,betapa mulianya perempuan ini jika ia mau sedikit membuka mata hatinya untuknya.Perlahan namun pasti apa yang di ucapkan gadis itu menampar keras hatinya.Selama ini terus menutup mata hatinya dengan sikap egoisnya tersebut.
" Maaf !" Ucap Mona seraya menepis pelan tangan yang masih di tahan oleh bosnya itu,lalu ia pun beranjak dari melangkah menuju ke meja kerjanya kembali membiarkan bosnya tersebut larut dalam sebuah makna yang dalam atas segala ucapannya tersebut.
__ADS_1
Banny tak bergeming merasakan ucapan sekertarisnya itu menjadi duri di hatinya yang kian menusuk dalam sanubarinya,menyadari segala sikapnya dan perbuatannya selama ini terhadap gadis itu terlalu dingin dan egois.
***********
Dengan perasaan sedih Mona berusaha untuk menenangkan jiwanya di tengah-tengah kemelut yang sedang di hadapinya tersebut,dan satu-satunya cara menghilangkan perasaan kekalutannya tersebut ia mencurahkan semuanya kepada ke dua sahabatnya dan di hati mereka lah dia menumpahkan segala bentuk kesedihannya.
Wajah gadis itu masih terlihat murung dengan di sertai sorot matanya yang masih memendam kesedihan dalam.
Gadis itu harus kehilangan sesuatu hal yang menjadi kebanggaanya dalam hidupnya,yaitu pekerjaannya sebagai Sekertaris di sebuah perusahaan yang cukup bonavit di ibu kota tersebut,pekerjaannya yang menjadi impiannya selama ini harus berakhir karena sebuah status palsu.
Kedua sahabatnya saling menatap bingung ke arah dirinya mereka ikut merasakan apa yang sedang di rasakan olehnya.Mereka tak punya kuasa untuk menolak apa yang menjadi keputusan dari perusahaan tersebut.
Amel gadis si pemilik tubuh sintal itu menghela napas panjang begitu tau Mona akan segera di berhentikan dari pekerjaanya,namun apalah daya ia hanya bisa menatap iba sahabatnya tanpa bisa berbuat banyak.
" Maafin gue ya Mon,kali ini gua gak bisa bantu permasalahan lo ini." Ucap Amel dengan lirih
" Kita sebagai sahabat elo,gak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan elo di perusahaan ini." Ucap gadis berponi pendek menimpali dengan merangkul erat pundak sahabatnya itu.
Sementara Mona masih terdiam entah apa yang sedang di pikirkannya tersebut.
kedua sahabatnya saling melempar tatapan iba dengan atas apa yang menimpa sahabatnya itu,amarah mereka terasa mendidih namun sekaligus tak berdaya bercampur aduk di benaknya mereka masing-masing.
" Gue akan kehilangan segalanya." Balas gadis itu dengan menggigit bibir bawahnya,ia berusaha memendung air matanya yang tak lama lagi akan tumpah ruah di pipinya.
" Seharusnya pak Banny bisa mempertimbangkan keputusannya itu untuk memutasi lo Mon,lagian ini pernikahan elo kan cuman settingan,setelah lo bercerai dengan bos lo,tentunya keadaan akan kembali kesmula,lo bekerja lagi seperti biasa walaupun lo harus menyandang mantan bos bekerja di satu perusahaan." Usul Tamara kian terlihat menatap sedih.
" Masih mending di mutasi Tam,bisa saja kan Mona di tempatkan di cabang perusahaan lainnya,tapi ini sudah jelas jika Mona sudah di berhentikan dan itu artinya dia tidak lagi bekerja di perusahan pak Banny lagi." Jelas Amel sedikit gusar ketika Tamara menprotes keputusan bosnya tersebut.
" Lalu kerja elo apa,setelah di berhentikan seperti ini ? " Tanya lagi Tamara cemas.
" Untuk sementara jadi nyonya Banny Pratama Wiguna. " Jawab Amel dengan tersenyum ironi.Ia ingin suasana ini tidak terlalu tegang.
" Heeuh !!,jadi nyonya Banny?percuma !!hanya dalam kurung dua puluh lima hari lagi Mona akan menjadi istri bos,setelah itu dia akan menjadi pengangguran sekaligus menyandang janda muda pengusaha kaya raya ." Ucap Tamara mendecih sinis dengan sorot mata penuh sindiran.
" Memang tidak semua perusahan menerapkan pelaturan seperti ini,bahwa tidak di izinkan nya seluruh staff memiliki hubungan pribadi di dalam perusahaan tersebut sekalipun itu bos,karena mereka tak mau mencapur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan,dan itu masuk di logika.makanya itu perusahaan tempat kita bekerja ini memang menerapkan pelaturan seperti itu dan peraturan itu harus di taati Tam." Jelas Amel dengan penuh penekanan.
Tamara menarik napas panjang,merasakan pernyataan sahabatnya itu benar-benar menyesakan dadanya.
" Andai waktu itu lo gak ambil keputusan ini,mungkin elo gak akan kehilangan segalanya seperti ini Mon." Guman Tamara menyayangkan keputusan sahabatnya itu yang telah menerima keputusan mau menjadi istri bosnya tersebut.
" Menyesal tak akan bisa mengembalikan ke adaan menjadi lebih baik,Tam" Sela Amel mencoba memberi pengertian sahabatnya itu.
" Waktu itu elo sempat gak setujukan dengan keputusan yang di ambil Mona,hingga elo dengan Mona bersi tegang,tapi pada akhirnya kita menghormati keputusan yang elo ambil,dan seperti ini lah kenyaataanya,tak hanya perasaan elo yang hilang,pekerjaan elo pun lenyap." Guman Tamara dengan perasaan penuh sesal.
" Kita tidak berhak menyalahkan siapa-siapa Tam,Mona maupun pak Banny sama-sama berada dalam posisi serbasalah,dan gue juga gak akan menyalahkan sepenuhnya keputusan elo itu karena gue yakin,semua ini semata-mata takdir kehidupan elo Mon." Ucap Amel menatap sahabatnya itu dengan bijak,ia berusaha tetap menjaga perasaan Mona untuk tidak merasa tertekan dengan kejadian ini.
Mona masih terdiam membiarkan air matanya meleleh membasahi kedua pipinya.
" Sudah lah,elo gak usah larut dalam kesedihan elo ini,gue yakin akan ada masanya jika elo akan bahagia,mendapatkan segalanya dari rasa sakit elo sekarang ini." Imbuh Amel menguatkan sahabatnya tersebut.
" Ini masalah hati Mel,elo gak bisa menganggap enteng masalah ini." Tamara menyela seraya bersikap tidak setuju atas pernyataan salah satu sahabatnya tersebut.
" lalu mau sampai kapan kita terpaku dalam perasaan seperti ini,sehingga mengabaikan kesempatan lainya yang berharga untuk kita." Ujar Amel menatap sedikit kesal ke arah Tamara.
" Tapi tidak akan secepat itu kesempatan bagus bisa datang dengan begitu saja Mel." Sergah Tamara tetap pada pendapatnya.
" Justru itu,semakin kita cepat move on,maka itu akan lebih baik.Bangkit dari permasalahan ini." Terang Amel meyakinkan kedua sahabatnya dengan semampu dirinya.
Mona dan Tamara saling berpandangan satu sama lain,apa yang di ucapkan Amel itu di rasa benar,dia tidak bisa hanya terpaku dalam kesedihannya yang bisa menjadikan dirinya akan menyesal untuk yang kedua kalinya.
" Lalu,kapan elo akan di berhentikan dari pekerjaan lo itu ? " Tanya Tamara menatap kembali Mona.
" Mungkin akan di perkirakan akhir minggu ini,masih ada beberapa pekerjaan yang harus gue selesaikan." Balas Mona dengan lirih.
" Gue akan bantu elo untuk mendapatkan pekerjaan lain,jadi gue harap elo jangan terlalu larut dalam kesedihan ini." Usul lagi Amel dengan menatap penuh perhatian.
Mona hanya mengangguk pelan dengan menatap kedua sahabatnya itu dengan penuh bangga,ia beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang tak hanya hadir ketika dia bahagia tapi mereka pun hadir di saat ia merasa down.
" Thak's ya Mel,Tam,elo berdua selalu ada buat gue,dan kalian berdua selalu bantu gue." Ucapnya dengan rasa haru yang kian membiru di dadanya.
" Selama gue mampu dan bisa,pasti akan gue lakukan,apapun itu Mon." Balas Amel tersenyum pasti,gadis itu mencoba menguatkan sahabatnya dengan caranya.
" Entah kenapa jika keputusannya kaya gini,pikiran buruk gue jadi berkembang." Ujar Tamara dengan memalingkan wajahnya ke luaran caffe sana.
" Maksud lo Tam ?" Tanya Amel melirik heran ke arah sahabatnya itu yang terlihat tak tenang.
" Gue merasa tak tenang,dan kira-kira pikiran lo berdua sampei gak ?jika Mona bener-bener keluar dari perusahaan ini,otomatis kan yang gantiin posisi elo adalah Arnetta,si admin baru itu." Jelas Tamara dengan sedikit berpikran sentimen.
Amel membeliakan bola matanya ke arah Tamara tercekat atas pernyataan-nya yang bermonolog begitu menyeramkan.Dan tak terbesitkan olehnya jika Tamara akan berpikiran sejauh itu.
Bukannya mengademkan suasana hati sahabatnya itu lebih penting agar perasaan nya stabil.Namun justru gadis berponi pendek itu malah membuat keadaan semakin mencekam.
Mona menoleh ke arah sahabatnya itu dengan raut wajah yang berbeda,tentunya sahabatnya itu berkata dengan apa yang sedang di pikirkannya.
Hal yang serupa di rasakan oleh Mona, dia pun diam-diam membenarkan ucapan gadis berponi pendek tersebut.
" Apa yang di katan Tamara benar Mel,bisa saja kan pak Banny merekrut si Arnetta menjadi sekertarisnya dan menggantikan posisi gue Mel." Ucap Mona dengan wajah kian pilu.
Sebelum akhirnya menjawab Amel menarik napas panjang ketakutan itu muncul jelas di benak sahabatnya itu.
" Elo gak usah berpikiran separno itu,gue yakin jika pak Banny akan mencari sekertaris baru untuk perusahaanya itu,tidak mengangkat Arnetta jadi sekertarisnya.Lalu apa gunanya HRD kalau perusahaan hanya geser-menggeser staf-staf penting lainnya untuk menggantikan jabatan yang di berhetikan." Jelas Amel dengan bijak,ia tetap menginginkan sahabatnya itu tidak mengalami ketakutan yang membuatnya semakin frustasi.
" Tapi buktinya saja elo juga menggantikan posisi Manda,pak Banny tidak meminta bantuan HRD untuk mencari penganti Manda,lalu apa bedanya dengan Arnetta yang menggantikan posisi Tora dengan begitu saja,jadi ada kemungkinan jika posisi Mona di gantikan dengan staff yang lainnya." Terang Tamara dengan gamlang.
" Bener juga sih !! Tumben otak lo encer !!" Amel mengernyit dengan tersenyum engga banget.
" Otak gue encer akibat pemanasan global dan otak gue pun meleleh,asal kalian tahu,gue begitu denger Mona di berhentikan dari pekerjaannya,otak gue terasa mendidih." Ucap Tamara dengan berapi api.
" Siapa yang di berhentikan dari pekerjaan nya ?" Tiba-tiba suara bariton menyela dari arah belakang mereka.
Sontak Mona dan kedua sahabatnya menoleh cepat ke arah sumber suara yang menyelanya tersebut.
Mona nyaris saja terloncat dari tempat duduknya setelah melihat dengan jelas si pemilik suara itu.
Angkasa tengah berdiri di belakangnya dengan menatap penuh selidik ke arahnya,entah lah datang nya dari mana pria itu begitu misterius tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
Amel dan Tamara maupun Mona saling berpandangan dengan berbagai perasaan yang tak menentu,wajahnya kian memucat atas kehadiran pria berkarismatik tersebut.
__ADS_1