CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 151.


__ADS_3

MONA baru saja tiba di afartemennya pukul 17:00.WIB,dengan gontai ia berjalan menunju dapur,sebelumnya ia menghempaskan tasnya dengan kasar di atas sofa dan berjalan menuju lemari pendingin.


Mona membuka pintu kulkas tersebut dan mengambil air mineral dingin lalu meminumnya dengan tandas, rasa dahaganya pun sirna seketika setelah setengah air di botol tersebut pindah kedalam tubuhnya.


Seketika dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan bersandar dengan berbagai pikiran yang kini sedang memenuhi isi kepalanya.


Betapa tidak pertemuannya dengan kedua pria yang sama-sama berharap lebih padanya menjadikan dirinya berpikir ulang untuk mempertimbangkan segala bentuk penawaran mereka kepada dirinya.Dan sosok dua pria itu pun berhasil berputar putar dalam pikirannya.


Angkasa memang tidak memiliki paras tampan,namun pesona karismatiknya mampu menenggelamkan perasaanya,dan Zeanu,pria berwajah tenang itu memiliki hal yang sama,ada banyak kelebihan yang mereka miliki untuk menjadi daya tarik tersendiri.


" Kamu baru pulang ?" Tiba-tiba suara bariton menyapanya dengan menatap dingin.


" Mas !" Ucap Mona pelan lalu mengambil duduk di kursi meja makan.


" Darimana saja kamu,jam segini baru pulang ?" Tanya Banny semakin membeku.


Mona terlihat kaget mengetahui mantan bosnya tersebut sudah ada di sampingnya,dan ia pun berpikir jika Banny sepertinya sudah berada di afartemennya sebelum dia sampai terlebih dahulu,Mona memang mengetahui password pintu afatemen tersebut agar dia bisa leluasa masuk atau keluar tanpa harus menunggu Banny,mantan bosnya itu datang.


Sebelum menjawab pertanyaan pria itu Mona terlihat mengamati botol air minum tersebut dengan seksama.


" Saya hanya pergi kesalon saja,sekaligus melepas penat saja.Jangan terlalu berpikiran buruk tentang saya." Ucap Mona menoleh ke arah tempat pria itu berdiri,lalu tak lama tangannya mengambil toples ukuran kecil yang berisikan keripik kentang.


" Aku melihatmu tadi di luar bersama Zeanu." Ucap Banny dengan suara datar.


Dek...


Mona menghentikan kegiayatan mengunyahnya lalu terdiam merasakan keripik kentang tersebut terasa hambar di indra pengecapnya.


Jadi Banny melihatnya dia bersama Zeanu,apa berarti ia melihat juga Angkasa ? Mona bertanya dalam hatinya.


Mona masih terdiam memperlambat kunyahaanya tersebut.


" Jadi,jangan mentang-mentang kamu hanya istri sandiwara saya,kamu boleh berbuat seenaknya,keluar pergi dengan tanpa aturan." Ujar pria tampan itu dengan ketus.


Kalimat yang terlontar dari mulut pria itu seketika membuat indra pendengarannya memerah,tentu saja mantan bosnya ini tidak ada hak melarang dia bertemu dengan siapa pun,termasuk Angkasa dan Zeanu.


Mona memejamkan mata,ia mencoba menetralisir hawa panas yang menyelusup di dadanya.Marah ???


Tentu saja ia ingin marah dan protes atas ucapan mantan bosnya itu berkata demikian.


Mona menoleh kembali ke arah pria itu dengan menatap jengkel.Lalu di tatapnya dengan seksama pria yang kini sedang menatapnya dengan tajam,ada aura kemarahan yang terpancar dari raut wajahnya.Tapi entah kenapa itu tak membuatnya merasa takut,dan sekuat tenanga gadis itu menahan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya.Kata-kata mantan bosnya itu terasa begitu sangat tajam menusuk hatinya.


" Saya hanya mencari kesenangan saja." Ucap gadis itu dengan suara bergetar.


Banny mendecih dengan menatap sedikit sinis.


" Kesenangan,kesenangan hanya dengan merubah penampilan kamu saja,dan berharap kakak sambung kamu itu akan..... ?? " Ucapannya menggantung setelah Mona memotong cepat kalimatnya tersebut.


" Saya bertemu dengan Zeanu hanya kebetulan saja,lagi pula Mas tidak berhak juga melarang saya untuk bertemu dengan siapa pun,termasuk Zeanu." Ucap Mona dengan tandas.


Banny tercekat saat gadis itu mulai berani memberikan pernyataan yang tegas kepadanya.Dan pria itu pun berhasilnya di buat bungkam,menatap dengan perasaan yang sulit di artikan.


Rahang pria itu menyembul sepertinya ia sedang menahan sesuatu yang membuatnya marah.


" Tapi setidaknya kamu harus menjaga reputasi pernikahan kita ini,jangan sampai kamu mempermalukan aku atas sikap kamu yang seenaknya itu." Ucap Banny dengan suara kian berat.


" Kamu bertemu dengan pria lain tanpa sepengetahuanku,bagaimana jika ada orang lain melihat akan keberadaan kamu dengan pria lain,lalu ini akan menjadi kabar buruk bagi papah ku. ?" Ucapnya lagi dengan menatap tidak suka.


Mona terperangah ketika ucapan mantan bosnya itu terasa menyakitkannya kembali.


Kenapa pria ini memintanya untuk menjaga reputasi pernikahan nya itu ?,sementara dia sendiri (Banny ) tidak pernah menjaga perasaanya sendiri,ahh rasanya ingin sekali ia memaki kasar pria yang ada di hadapannya ini.Namun di rasa itu hanya percuma saja.


Mona terdiam meraskaan buliran airmatanya mulai terasa penuh di kolam matanya.


" Kenapa saya harus menjaga reputasi pernikahan ini,jika pada akhirnya pernikahan ini akan..... " Mona tidak meneruskan kalimatnya,ucapannya tiba-tiba saja tehenti,merasakan buliran bening itu yang sejak tadi di tahannya akhirnya jatuh juga.


Dan pertahanan nya pun tak bisa lagi di pertahankan air bening itu menetes ke pipinya.


Banny terdiam mendapati ucapan gadis itu terasa membuatnya penasaran.

__ADS_1


" Akan berkahir ?? Tentu saja pernikahan ini akan segera berakhir dengan waktu yang sudah aku tentukan. " Sela pria itu menatap tidak suka.


" Sudah cukup Mas,saya tidak ingin berdebat,itu hanya membuat beban saya semakin berat.Saya akan mempercepat perceraian kita ini tidak akan menunggu sampai akhir bulan nanti." Ucap Mona seraya beranjak dari tempat duduknya lalu berniat hendak melangkah pergi.


Sontak pernyataan gadis itu membuat Banny tercekat dengan menatap kaget ke arah Mona.


" Apa.Apa kamu gila ????" Tuduhnya dengan menatap gusar.


" Saya tidak gila,justru saya akan menyudahi kegilaan ini." Ucap Mona dengan nada ketus.


Sudah cukup rasanya dia harus menanggung beban ini yang membuatnya seperti hidup segan matipun tak mau.


Dan kali ini sikap yang ia tunjukan di rasa sudah cukup benar,ia pun bisa menolak ke ingin pria tampan itu.Dan ini adalah saatnya untuk dirinya untuk lebih mementingkah kehidupan pribadinya ketimbang harus menjaga perasaan orang lain,termasuk perasaan dari orang tua pria tampan itu.


" Mona,kamu jangan bertindak gegabah !aku akan menceraikan kamu setelah aku mendapat alasan yang tepat,agar papah bisa menerima alasan perceraian kita ini." Jelas Banny berusaha menahan langkah gadis itu yang mencoba ingin melewatinya.


" Maaf mas !saya rasa saya tidak bisa menunggu lagi untuk mencari waktu atau pun alasan yang tepat untuk masalah ini,lebih cepat maka akan lebih baik." Terang Mona dengan membuang muka.Ia tak ingin menatap wajah pria tampan itu yang selalu membuatnya tak berdaya.


" Kenapa ? " Tanya Banny melemah.


" Saya rasa,saya sudah cukup rela harus kehilangan segalanya demi sandiwara ini." Balas Mona dengan segaja tidak menghiraukan pria itu yang terus menerus menghalangi langkahnya tersebut.


Banny dengan kesal segera menarik tangan gadis itu dan menariknya dengan kasar hingga gadis itu masuk kedalam pelukannya.


" Jangan bersikap konyol !!" Ucap Banny marah.


Mona terkejut,lalu menatap wajah pria itu dengan tajam.


" Ini bukan masalah kekonyolan,ini masalah harga diri saya dan perasaan saya." Ucap gadis itu dengan penuh penekanan.


" Harga diri,?perasaan ?,sejak kapan kamu mempermasalahkan perasaan itu ?" Tanya Banny dengan menatap sinis.


" Saya masih punya harga diri dan saya berhak bahagia dengan perasaan saya sendiri." Ujar gadis itu dengan lantang.


Banny menatap tajam ke dalam wajah gadis itu yang kini auranya terlihat sangat marah kepada dirinya.


Banny benar-benar terganggu dengan ucapan gadis itu,lalu di tatapya dengan tajam gadis itu yang kini cukup berani membalas tatapanya.


" Aku tidak suka kamu bertindak semaumu." Ujar pria itu seraya mendekatkan wajahnya ke a arah wajag gadis itu.


Mona terlihat berusaha menjaga jarak dengan mendorong sekuat tenaga tubuh tegap pria tampan itu.


" Jangan bersikap kamu bisa melakukan hal itu,semua keputusan aku yang buat !!" Rahang Banny mengeras menahan kemarahan yang tertahan.


Banny menatap perubahan wajah gadis itu yang kini terlihat flawes,dan wajahnya terlihat cantik dengan penampilan rambutnya yang baru,dan seketika hidung mancungnya mencium aroma farpum segar yang menguar dari tubuh gadis itu.Dan itu berhasil memhuatnya semakin yakin jika Mona berubah karena Zeanu,sahabatnya.


Mona mendorong tubuh Banny menjauh.


" Saya punya hak untuk mengambil keputusan saya sendiri tanpa harus menunggu titah anda !" Mona memperjelas perkataanya.sorot matanya kali ini terlihat kesal.


Banny terdiam,menatap gadis itu dengan bingung.Sejak kapan gadis ini seperti ini ?berani melawannya ?


Adakah semua ini campur tangan Zeanu yang mempengaruhi akan keputusannya itu ? ah rasanya kepalanya itu terasa berdenyut kuat saat ia harus mencari tahu atas perubahan sikap mantan sekertarisnya tersebut.


Mona berbalik badan meninggalkan Banny begitu saja namun dengan cepat Banny segera mengejarnya dan kembali mencengkram pergelangan tangan Mona.Kali ini seberapa kuat pun Mona memberontak,ia tetap tidak bisa melepaskan diri.


" Kenapa kamu bersikap seperti ini ?" Tanya Banny dengan nada cukup tinggi.


" Lepaskan saya Mas !" Mona memberontak.


" Aku tidak akan melepaskan kamu,sebelum kamu memberi tahu alasan kenapa kamu ingin mempercepat perceraian ini ?" Rahang pria tampan itu mengeras dan wajahnya memerah.


" Saya hanya ingin mempercepat urusan ini segera selesai dan saya terbebas dari beban perasaan ini,karena saya berhak untuk bahagia. " Ucap Mona dengan meringis setelah merasakan cengkaraman pria itu begitu kuat di pergelangan tangannya hingga berdenyut sakit.


" Heuh !!" Banny mendecih dan menatap galak gadis tersebut.


" Aku rasa bukan itu alasan kamu mem per...." Ucapan Banny melambat saat bunyi ketukan di pintu terdengar nyaring,lalu Banny pun menjeda ucapannya dan menoleh ke arah pintu tersebut.


Dengan bersamaan mereka pun terdiam memperjelas pendengarannya masing-masing,akan suara ketukan pintu tersebut.Dan bunyi ketukan pun masih terdengar nyaring membuat Banny perlahan melemahkan cengkraman tangannya.

__ADS_1


Mona segera menghempaskan tangan pria itu dan berlari meninggalkan Banny yang perhatiannya kini tertuju ke arah pintu afartemenya tersebut.


Dengan setengah di banting Mona menutup pintu kamarnya dan itu sangat jelas terdengar oleh Banny membuat ia sedikit shok mendengarnya.


Banny menyapu wajahnya dengan tangan,Apa ini ? kenapa ia harus merasa sangat terganggu dengan perubahan sikap gadis itu terhadap dirinya.


Bukankah hal ini mempermudah untuk menceraikannya ?


Banny menggeleng lalu segera menghampiri pintu afartemenya yang masih terdengar jelas oleh seseorang di ketuknya.


Banny melongo ke lobang kaca yang terpasang di pintu tersebut lalu mengintip di balik lobang tersebut,tiba-tiba ia terkejut bukan main setelah tahu siapa yang mengetuk pintu tersebut.


Dua orang laki-laki yang sangat ia kenal berdiri menunggu di bukakan pintu tersebut.


" Papah !" Pekiknya setengah panik.


Ada apa sang Ayah datang tiba-tiba ke afartemennya dengan waktu yang tidak tepat ?


Banny terdiam menatap bingung,rasanya ia tidak mungkin menolak kedatangan Ayahnya dengan begitu saja.


Tanpa menunggu lama ia pun segera membuka pintu tersebut dan menyambut kedatangan Ayahnya dengan tersenyum hangat.


" Papah ! " Sapanya dengan merangkulnya dengan hangat.


" Gimana kabar kamu ?" Tanya pak Wiguna membalas pelukan putranya dengan hangat.


" Baik pah,kenapa papah tidak kabarin Banny jika mau ke afartemen,kan bisa Banny jemput." Ucap Banny melepaskan pelukannya.


" Papah tau kamu sibuk,jadi papah minta sopir antar ke afartemen kamu,papah ingin tahu ke adaan kamu,Mona mana ?" Tanya Pak Wiguna seraya masuk dan duduk di sofa.


Sang sopir ikut duduk di samping pak Wiguna dengan tersenyum hangat ke arah Banny yang terlihat wajahnya sedikit berbeda.Sang Ayah bertanya akan ke adaan menantuya tersebut.


" Mona ada di kamar ." Jawab Banny yang ikut duduk di hadapan Ayahnya.


" Papah mau minum apa,dingin panas ? " Tanya Banny pelan.


" Tidak usah,nanti jika mau papah minta buatkan sama Mona." Jelas sang Ayah dengan tersenyum.


" Panggil Mona !" Pinta sang Ayah menoleh ke arah Banny yang terlihat menatapnya kosong.


Wajah tampan itu serta merta berubah bingung atas permintaan Ayahnya yang ingin bertemu dengan Mona.


Banny terdiam terlihat seperti kebingungan.


" Sebentar Banny panggilkan dulu." Ucapnya seraya melangkah menuju kamarnya.


Perlahan Banny membuka pintu kamar tersebut,yang kebetulan pintu tersebut tak terkunci.


Mona menoleh ke arah Banny yang berjalan mendekatinya dan duduk di tepi ranjang tersebut.


" Papah ku datang,dan ingin bertemu dengan kamu.Hapus air matamu dan temui dia." Ucap Banny dengan suara datar.


Mona terdiam merasakan perasaan nya masih marah terhadap pria tersebut.


Banny beranjak lalu meninggalkan Mona yang masih menenangkan perasaanya.Gadis itu menghela menatap selulit bayangan pria itu menghilang di balik pintu.


Benar-benar situasi yang sangat di bencinya,ia harus berpura-pura baik-baik saja dalam kekalutan seperti ini.Andai ada pintu ajaibnya Doraemon tentu ia ingin menghilang dan menghindar dari situasi yang rumit ini.


Mona menyeka air matanya lalu mencoba menarik napas panjang,di ulanginya hingga beberapa kali dia mengulanginya.


Rasanya ia ragu harus menemui mertuanya tersebut dalam kondisi hatinya sedang kacau.


Ahh andai saja dia bisa menolak kenyataan ini,tentu dia akan menolaknya mentah mentah.


Lagi-lagi di harus di hadapkan dengan sebuah pilihan yang mengharuskan dia kembali berpura-pura.


Pura-pura bahagia dalam kondisi seperti ini hal yang cukup sulit,hati terluka namun bibirnya harus tetap tersenyum.


Harus berapa kali lagi ia mengulang aksinya membuang napas panjang,ketika keraguan itu mulai menyergapnya.Rasanya sesak itu tak sedikitpun berkurang dari rongga dadanya.

__ADS_1


__ADS_2