
" Kita akan pulang bersama !" Ucap suara bariton itu memecahkan kesunyian.Mona melirik ke arah pria itu yang tengah serius menatap layar laptopnya.
" Sepertinya saya pulang sendiri saja mas." Sergah Mona dengan suara cukup pelan.
" Kenapa ?" Tanya Banny memicingkan matanya menatap aneh gadis itu.
" Saya mau mampir ke toko buku sebelah." Balas Mona menatap datar wajar pria itu.
" Jadi ?? " Tanya pria itu mengantung,di tatapnya wajah gadis itu secara intens.Lalu ia membuyarkan tanganya yang semula di gunakan untuk menopang dagunya.
" Jadi saya pulang lebih dulu,karena saya mau mencari buku cerita yang baru.?" Ujar gadis itu yang tengah bersiap-siap beranjak dari posisi duduknya.
Banny mendecih pelan.
" Kaya anak kuliahan saja masih mencari-cari buku,so sibuk." Guman pria itu dengan mlengos namun cukup terdengar jelas di pendengaran nya gadis itu.
" Saya suka membaca,jadi wajar jika saya mencari kesenangan saya melalui itu." Balas lagi Mona dengan mendilak kesal.
Pria tampan itu tersenyum sinis ketika gadis itu menolak ke inginannya untuk pulang bersama hanya mencari sebuah kesenangannya.
" Kalau begitu kita ke toko buku bersama." Ucapnya seraya beranjak berdiri meninggalkan tempat duduknya lalu berjalan mendekat tempat duduk gadis tersebut.
Banny melangkah beberapa langkah lalu mendudukan tubuhnya di atas meja kerjanya dan menatap Mona dengan seksama.
" Tapi....!" Sergah Mona dengan menyipitkan matanya.
" Jangan menolakku,nanti aku bisa berfikiran buruk atas penolakan ini." Ungkap pria itu dengan tersenyum sinis.
Mona menatap sarkatik ke arah wajah pria itu yang di rasa menyindirnya secara tidak langsung.
Selalu bersikap seperti itu ! Desus Mona di dalam batinya dengan kesal.
Pria tampan itu berdiri kembali lalu berjalan mendekati Mona dan berhenti tepat di hadapan gadis itu.
Kedua tangannya di masukan kedalam saku celananya lalu menatap wajah gadis itu dengan sangat intens.
" Jadi kita pulang bersama !" Ucap pria itu menegaskan.
" Tapi mas, jam pulang masih lama.Dan saya pun gak mungkin menunggu seperti ini di kantor mas,jadi alangkah baiknya saya ke toko buku sebentar dan membeli buku yang sedang aku cari." Jelas Mona dengan mengangkat wajahnya membalas tatapan pria itu.
" Aku akan pulang sebentar lagi,dan sekalian kita akan makan malam di luar." Ucap Banny dengan tersenyum datar.
Mona cukup terperangah atas sikap pria tampan itu yang selalu bersikap di luar perkiraannya.Perubahan yang cukup membuatnya bertanya-tanya.
Bibir mungil gadis itu terangkat,ternganga mendengar ucapan pria itu.Rasanya lebay banget jika pria ini mengajaknya makan malam di luaran.
" Kamu keberatan ? " Tanya Banny menatap dengan ekspersi penuh selidik atas reaksi sikap gadis itu yang terlihat bingung atas sikapnya.
" Tidak. !" Jawab Mona dengan perasaan tak menentu.
Tok,tok,tok.
Tiba-tiba suara ketukan di pintu terdengar nyaring,sehingga mengalihkan antensinya Banny beserta Mona yang berada di dalam ruangan tersebut,lantas mereka pun bersamaan menoleh ke arah pintu tersebut.
" Masuk !" Sahut Banny singkat.
Pintu terbuka dan seorang gadis cantik menyembul dari balik pintu tersebut.
Mona menghela napas pelan setelah tahu siapa yang muncul di balik pintu tersebut,dan entah kenapa tiba-tiba saja ada perasaan yang tak biasa menyelinap di dalam hatinya ketika ia bertemu kembali dengan sosok gadis cantik itu,dan kehadiran gadis cantik itu di rasa cukup menganggu kenyamanannya.
" Ada apa Ane ?" Tanya Banny setibanya gadis itu di hadapannya.
" Maaf Mas,tadi saya lupa konfirmasi jika sore ini akan ada pertemuan dengan perusahaan PT Angkasa." Ungkap Arnetta seraya bola matanya melirik ke arah Mona yang masih duduk tanpa menghiraukannya.
" Yaa Mas sudah tahu itu.Tadi pak Hendra sudah menyampaikannya." Ucap Banny dengan menatap datar.
" maafkan saya mas,tadi saya lupa untuk menyampaikan hal itu." Imbuh Arnetta dengan tertunduk.
" Lain kali jika ada sesuatu hal yang penting mengenai masalah pekerjaan, kamu harus secepatnya mengkonfirmasikan nya kepada saya,karena saya tidak suka terhadap orang yang terlalu santai,dan mengabaikan kepercayaan yang sudah saya berikan." Tungkas pria itu menatap dingin gadis cantik itu.
Arnetta mengangguk penuh hormat merasakan malu yang tertahan atas teguran kecil Banny yang secara tidak langsung di saksikan oleh Mona mantan sekertarisnya pria tampan itu.
Tentu saja hal ini membuat dirinya terasa begitu kerdil akan harga dirinya di mata gadis yang selalu di pandang remeh olehnya tersebut.
Arnetta sendiri memang mengakui akan kelalayannya di awal pekerjaanya sebagai sekertarisnya Banny.
Mona yang sedari tadi memperhatikan gadis cantik itu berusaha menatap gadis itu dengan perasaan biasa,ia tidak ingin menunjukan reaksi apapun yang dapat mengganggu perasaan Arnetta,dan dia pun berusaha bersikap baik demi untuk menjaga perasaannya gadis cantik tersebut.
Arnetta hanya tersenyum ketika pandangannnya terarah kepada Mona.
" Ke lalaian ini cukup sekali dan jangan terulang kembali." Ucap Banny dengan menatap dingin.
Perasaan gadis itu membeku setelah melihat begitu nyata jika Banny memperlakukan dirinya tak pandang bulu dan itu profesional sekali.
" Baik mas." Ucap Arnetta dengan suara nyaris tak terdengar.
" Dan untuk pertemuan sore ini saya minta kamu untuk menundanya." Titah Banny jelas.
" Tapi mas pertemuan ini sudah saya aturkan di shcedule mas sore ini." Sergah Arnetta mencoba memberi penjelasan.
" Kenapa kamu tidak klarifikasikan dulu sebelumnya terhadap saya ?kamu baru bekerja tapi sudah berani mengatur saya ? " Tanya pria itu menatap kaku gadis cantik itu.Arnetta tertegun lidahnya terasa kaku tertahan oleh perasaanya yang sulit di terima.Sikap pria tampan ini terasa menguliti kulit wajahnya.
Wajah gadis itu memerah,sektika saja gadis itu hanya bisa menelan air liurnya dengan kuat.
" Maaf mas." Pintanya melemah.
" Sekarang tolong kamu konfirmasikan kembali kepada pihak perusahaan PT Angkasa atas penundaan pertemuan ini." Ujar Banny tanpa kompromi.
Arnetta terdiam merasakan perasaanya kian bimbang.
__ADS_1
Mona yang sedari tadi diam menyimaknya kali ini ia memberanikan diri untuk ikut beromentar,setelah melihat sikap Banny mulai meresahkan perasaan gadis cantik itu.
Ia dapat melihat jelas bagaimana ekspresi wajah gadis cantik itu sangat luar biasa tertekannya.
" Kenapa mas menunda pertemuan ini?" Tanya Mona menyela lalu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di samping pria tampan tersebut.
Banny menoleh ke arah gadis itu dengan sorot mata yang berbeda.
" Aku tidak suka jika harus di di pertanyakan alasan kenapa aku menunda pertemuan ini,tentunya ini sudah menjadi keputusannku yang tidak bisa di ganggu gugat." Ujar pria itu dengan nada tegas.
" Tapi mas, Arnetta sudah memasukan pertemuan itu di shcedulenya mas sore ini,meskipun dia telat mengkonfirmasikannnya bukan berarti mas harus menunda pertemuan nya juga kan ?,atau tidak mas bisa mewakilkan pertemuan ini kepada pak Hendra." Usul gadis itu yang di rasa tidak terlalu buruk baginya.
Namun bagi seorang Banny hal yang sulit untuk merubah keputusan yang sudah terlontar dari mulutnya tersebut.
" Pertemuan ini tetap akan di tunda !!, jadi Arnetta tolong kamu atur kembali schedulenya,dan pertemuan ini anggeda untuk jadwal besok." Imbuh Banny menoleh Arnetta yang masih terpaku dengan wajah mulai terlihat berkeringat.
Arnetta menatap ke arah Mona dengan penuh isyarat,namun Mona hanya mampu mengangkat bahunya dengan acuh,Ia sangat paham bagaimana tatapan gadis cantik itu yang kini sedang berhadapan dengan karakternya seorang Banny, jika sudah berkata A tidak mungkin ia merubahnya menjadi B ataupun C.
" Baik Mas." Ucap Arnetta dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Mona bisa menduga akan perasaan gadis itu yang sedang menyimpan seseuatu perasaan yang tertekan,namun ia memilih untuk tidak memperhatikan akan sikap gadis cantik itu,Mona memilih abai karena ia memahami bagaimana perasaan Arnetta saat ini pernah ia rasakan sebelumnya,dan hal itu serasa tak langsung seperti de javu,yang seakan-akan mengembalikan kembali ingatannya akan dirinya di posisi gadis cantik saat ini. Dimana ia di hadapkan di situasi yang tidak sama sekali membuat dirinya nyaman ketika pertama kalinya ia menjadi seorang sekertaris pria tampan berwajah dingin itu, yang tentunya ia tak ingin mengulang akan keadaan seperti itu lagi,bagaimana perasaannya harus merasakaan perasaan yang tertekan dengan situasi yang dapat membunuh perasaanya tersebut.
Cari duit tak se indah shopingnya,Mona tersenyum miris seraya menggeleng pelan.
Mona pun mengalihkan pandangannya ke sisi yang lain perasaanya berubah tak tega melihat ke adaan gadis cantik itu yang terlihat mati gaya di hadapan pria tampan itu,apa kah dia masih tetap akan mengagguminya setelah sikap balok es muncul ke permukaan ?lagi lagi Mona hanya bisa tersenyum sendiri.
" Saya permisi dulu!" Pamit Arnetta dengan suara melemah.
Banny tidak menjawab ia hanya mengangguk dengan wajah tanpa eksprsi apapun.
Pria tampan itu melipatkan tangannya di dada lalu membalikan badannya dan menghadap ke arah Mona yang masih berdiri di belakangnya.
" Kita pulang sekarang ? " Ajaknya.
" Mas,kenapa mas tunda pertemuan ini?ini kan menyangkut loyalitas perusahaan mas,dan.....," Ucapan gadis itu melambat sesaat ketika melihat pria itu menatapnya dengan cara berbeda.
Tatapan Banny dan Mona bertemu,membuat wajah Mona memucat saat tatapan mata pria tampan itu terlihat begitu tajam menyorotinya.
Menyadari raut wajah gadis itu memucat,Banny hanya mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum namun raut wajahnya masih terlihat dingin.
" Apa kamu ingin bertemu dengan pria itu ?" Tanya Banny menatap semakin dingin.
Sontak pertanyaan itu membuat Mona tercekat,tak terpikirkan olehnya jika Banny akan mempertanyakan hal itu di saat ia mempertanyakan alasan kenapa mantan bosnya itu menunda pertemuannya dengan mitra perusahaanya tersebut.
Mona mendengu,di rasa pertanyaan Banny menjebaknya.
" Sebaiknya saya tunggu di luar saja, dan sekalian saya akan mencari angin segar.Disini lumayan pengap." Ucap Mona mengalihkan pembicaraanya lalu ia pun berniat akan mengambil tasnya yang berada di atas sofa.
Baru saja ia tangannya memegangi tali tasnya tersebut sebuah tangan kuat mencekalnya dengan erat di pergelangan tangnnya dengan,Mona terkejut bukan main saat tangan pria kekar itu tiba-tiba mencengkramnya dengan kuat.
" Kamu belum menjawab pertanyaanku ?" Tanya pria itu menatap dingin gadis itu.
Mona menarik tubuhnya lalu menoleh ke arah pergelangan tangannya yang masih di cekal kuat oleh pria tampan itu.
" Aku rasa bukan itu yang aku maksud,kamu begitu kekeh membujuk aku supaya tidak menunda pertemuan ini,ada apa ?" Tanya Banny menyeringai.
Mona menggeleng,dia rasa pria yang ada di hadapannya ini terlalu bersikap kekanak-kanakan yang selalu berpikiran buruk tentang dirinya.
" Mas,mas ini terlalu berpikiran buruk akan pertanyaanku ini." Sergah Mona berusaha menepiskan tangan pria itu.
" Kenapa tidak ?,secara pria itu ada menawarkan pekerjaan untuk kamu,itu artinya pria itu ada sesuatunya terhadap kamu,wajar bila aku mempertayakan hal itu." Ujar Banny dengan tersenyum penuh ironi.
Mona menjeda napasnya lalu menghepaskannya dengan kasar.Sikap Banny kali ini benar-benar berlebihan.
" Saya rasa mas terlalu berlebihan menuduh pak Angkasa,dia hanya menawari saya pekerjaan dan itu tidak lebih." sergah Mona seraya menarik tangannya dan meminta pria itu untuk melepaskan cekalannya.
" Aku tidak yakin !" Tolak Banny mendegus,lalu melepaskan cekalannya dengan begitu saja.
Mona menarik tangannya dengan meringis kecil,cekalan tangan pria itu membekas sakit di pergelangan tangannya.
Wajah pria tampan itu terangkat mencoba menerima alasan gadis dengan ekspresi yang sulit di artikan.
" Mau kemana ?" Tanya Banny menatap langkah gadis itu yang tengah melangkah menuju ke arah pintu.
" Masih ada tiga puluh menit lagi,saya mau ke toko buku di samping gedung ini."
" Aku antar !" Banny menyela.
Mona menghentikan langkahnya lalu sesaat menghela napas panjang merasakan tingkah pria ini semakin aneh dan tentunya tingkah ini di rasa ajaib baginya.Ada apa dengan pria ini ?
apakah hari ini dia ada salah minum obat ?
Mona meratapi pertanyaannya yang terasa meresahkan jiwanya.
Ini ke toko buku !kenapa pria ini mulai menyebalkan baginya.
Anehh !!
Batin Mona meracau.Perlahan ia pun membalikan badannya dan menghadap kembali ke arah posisi pria tampan itu.
" Kamu tidak suka jika aku mengantar kamu ke toko buku itu ? " Tanya pria itu sebelum gadis itu mempertanyakan sesuatu hal kepadanya.
Kedua alis gadis itu terangkat tinggi.
Oh my god !!! Ada apa lagi dengan manusia satu ini ???
Rutuk Mona dengan menatap penuh ekspresi akan sikap pria tampan tersebut yang di rasa cukup membuatnya frustasi.
Belum juga dia menjawab pertanyaan pria tersehut,Banny pun segera menyela kembali.
__ADS_1
" Dari toko buku kita langsung pulang." Ujarnya seraya berjalan mendekatinya.
Gadis itu terheran heran dengan menampilkan ekspresi wajah yang engga banget.Lalu ia pun menghela merasakan posisi kedua pundaknya merosot lemah dengan menatap pasrah kepada wajah pria keras kepala tersebut yang semakin dekat mendekatinya.
***********
Banny melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum,sedari tadi ia hanya mampu terdiam menatap fokus ke laju kendaraanya dengan sesekali ia memperhatikan gadis yang tengah asik menepekuri buku novel barunya,karya seorang wanita yang nama penulisnya tak asing di telinga penikmat baca novel-novel,Ia sendiri tidak terlalu suka harus beralama-lama berada di lembaran kertas tebal itu hingga menghabiskan waktunya hanya untuk menikmati cerita yang di rasa membuatnya jenuh.Pria tampan itu hanya tersenyum aneh ketika melihat sikap gadis itu yang seluruh perhatiannya tercurahkan ke buku novel barunya tersebut.
Mona yang terlihat asik dengan novelnya baruya itu tidak sama sekali ia memperahtikan di sekitarnya.ia begitu tertarik dengan isi cerita di novel tersebut.Dirinya selalu terinsfirasi dengan cerita-cerita novel karya tersebut.
" Kamu pencinta novel ?" Tanya Banny menoleh gadis itu dengan datar.
" Ya. !" Jawab singkat gadis itu acuh.Sesaat Banny menoleh Mona yang duduk tepat di samping kemudinya dengan tidak menghiraukannya.
Entah kenapa rasanya ia begitu candu melihat wajah gadis itu ketika dari samping,meski wajahnya tak secantik itu tapi entah kenapa dirinya merasa tak jemu jika terus memandanginya.
Mona membuka perlahan kaca mobil tersebut.
" Kenapa kamu buka kacanya ?" Tanya Banny heran atas sikap gadis itu.
" Hidungku sakit kena Ac." Ujar gadis itu seraya mengosok-gosok hidungnya.
" Payah !!" Banny mendengus dengan menggeleng pelan.
" Tapi kan kau bisa di kurangin suhu Acnya." Sergah lagi Banny pelan.
" Apa saya tidak di perboleh membuka kaca mobilnya ?" Tanya gadis itu menatap jengkel.
Banny menghela,menatap datar sikap gadis ini yang mulai menjengkelkan.
Banny pun perlahan mengecilkan suhu Ac mobilnya tersebut dengan perasaan gusar.
" Aku rasa kamu bisa membaca novelnya di afartemen nanti." Pinta Banny menoleh Mona.
Mona yang asik mengamati buku tebal itu mengangkat wajahnya lalu melirik ke arah pria tampan itu dengan jutek.
" Saya rasa Mas sekarang sudah banyak berkomentar akan sikapku." Ucap Mona menatap jengkel.
Mona mendilakan matanya dengan sedikit manja dan itu mampu menjadikan kerlingan yang membekas di netra nya pria tampan itu.
Diam-diam Banny tersenyum dengan perasaan yang sulit di artikan,rasa rasanya tingkah gadis ini semakin membuatnya candu jika berada di dekatnya.Gadis itu menutup buku tebalnya itu dengan kasar seoalah-olah ia menunjukan rasa kekesalannya lalu Mona pun menatap ke luar jendela mobilnya dengan mengedarkan seluruh pandangannya ke setiap arah yang di lewatinya.
Mobil mewah Banny perlahan melambat ketika lamu merah itu menyala dan kendaraan itu pun berhenti tepat di samping sebuah mobil sedan mercy hitam.
Mona masih menatap lurus ke arah jalanan mengamati setiap kendaraan yang melintas di hadapannya.
Dengan waktu bersaamaan dua pasang mata pria yang usianya masih terlihat muda tengah memperhatikan ke arah wajah Mona,mereka saling berbisik satu sama lain.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan,namun yang pasti tatapan mereka sedang mengagumi akan wajah gadis manis yang sedang duduk di samping pria tampan tersebut.
Banny yang tak sengaja menoleh ke arah mereka cukup terganggu dengan sikap kedua pria itu yang tampak tersenyum-senyum menatap panjang ke arah wajah Mona.
Mata elang pria tampan itu membulat sempurna seakan-akan ia tidak suka akan tatapan para pria tersebut yang terus menatap gadis di sampingnya dengan penuh goda.
Tanpa bicara banyak lagi Banny segera menaikan kembali kaca mobil tersebut hingga tertutup sempurna.
Mona terhenyak setelah melihat kaca mobil bagian sisi dirinya tertutup,lalu ia pun menoleh aneh ke arah Banny yang sudah menaikan kembali kaca mobil tersebut tanpa permisi.
Dengan rasa penasaran Mona melirik kecil ke arah sisi kirinya dan pria pria itu masih tetap penasaran memperahtikan dirinya di balik kaca gelap mobilnya Banny.
Mona berpikir,apa alasan pria tampan ini menaikan kaca mobilnya,apa karena.....,
Otak besar gadis itu bekerja cepat,segera mengartikan sikap pria tampan itu dengan fositif.
Benarkah dia tidak suka jika dirinya di perhatikan pria lain ?
Tanya batinnya dengan penuh ekspresi.
Entah tiupan angin surga dari mana begitu menyegarkan perasaannya,dan rasa rasanya hati kecilnya melayang jauh tinggi ketika melihat sikap cemburunya pria tampan itu begitu jelas di matanya.Meski Banny tidak memperlihatkan seutuhnya akan sikapnya itu namun Mona merasakan jika di balik acuhnya seorang Banny tersimpan perasaan yang dalam kepada dirinya.
Banny menatap lurus arah laju kendaraanya dengan ekspersi wajah yang tak biasa,dari raut wajahnya terlihat kekesalan yang teramat dalam kepada dua pria itu yang masih saja menatap kagum ke arah Mona.
" Aku tidak suka debu !" Ujar pria itu dengan menjalankan kembali mobilnya ketika lampu hijau sudah menyala.
Mona membuang wajahnya ke luar jendela kaca sana dengan perasaan yang sulit di lukiskan.Apakah ia sedang bermpimpi ?
Ataukah ini hanya halusinasinya ?
Mona membenamkan senyumannya dan perlahan dia mencubit kecil pahanya hingga cukup membuat dia meringis kesakitan,merasakan cubitannya sendiri mengena di kulit pahanya tersebut,jelas ini bukanlah halusinasinya.
Mona terdiam membiarkan fantasinya bertepi di benaknya hal kecil yang mampu membuatnya melayang jauh dengan perhatian kecil pria tampan tersebut.
Hentikan Mona !! Jangn membiarkan perasaan geer elo menguasi diri lo,ingat apa yang menjadi tujuan lo saat ini !!!
Batin gadis itu berperang dengan egonya.
Banny masih menatap lurus laju kendaraanya perasaan jengkelnya sedikit berkurang setelah ia pergi jauh meninggalkan dua pria tadi yang telah berhasil membuatnya cemburu terhadap mereka.
Jelas ini bukanlah sikap dirinya yang bisa begitu sangat berlebihan atas reaksi ketidak sukaanya terhadap dua pria tadi yang memperhatikan Mona dengan tatapan liarnya.
Jujur saja ia tidak suka jika harus bersikap sebucin ini.
Banny berusaha mengusir perasaan lebaynya itu,dia sadar jika dirinya kali ini menjadi budak cinta terhadap gadis itu.
Mona melirik kecil ke arah pria itu,mencoba mencuri perhatian akan ekspresi wajahnya
,keberuntungan sedang berpihak padanya.Pria tampan itu pun sedang melakukan hal yang sama melirik kecil ke arahnya dan....
Seerrr.....
__ADS_1
Mereka pun saling terkejut,lalu berusaha mengalihkan pandangannya ke arah satu sama lain.
Mereka saling merasakan perasaan yang tak karuan di dalam hatinya masing-masing.